Archive for the ‘Softcore’ Category

The Sad Love Story

The Sad Love Story

Somewhere, suatu waktu..

Kamar itu gelap. Sinar bulan tampak menyentuh kisi-kisi jendela kamar kecil itu. Membayangkan silhouette tubuh yang meringkuk di sudut kamar. Rena menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya yang memeluk lutut-lututnya. Bahunya yang bergerak-gerak menandakan bahwa gadis kecil itu sedang menangis. Rena mengangkat kepalanya, mengutuk sinar bulan yang menerpa wajahnya yang ternoda jejak-jejak air mata dalam hatinya. ‘Bagaimana aku bisa memaafkan dia..’

“Rene.. ah.. Rene..” mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.

Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.

Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati.
‘Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..’
Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.

Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.

Rina mengeraskan suara walkman-nya. Membiarkan lantunan musik kesayangannya memenuhi rongga telinganya. Tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran literatur dihadapannya.
‘Ah, aku harus belajar giat supaya cepat lulus.. lalu..’
Matanya memandang ke bingkai foto di atas meja disamping tempat tidurnya. Tangannya mengambil bingkai foto itu, dan bibirnya mencium wajah cowok yang sedang tersenyum kepadanya lewat foto di hadapannya. Cup.. cup.. Rina mencium foto itu berulang-ulang, membayangkan kehangatan cowok itu saat memeluknya, menciumnya, mencumbunya.. belajar.. belajar.. Rina mengingatkan dirinya sendiri sebelum tangannya mulai gatal.

Dua purnama yang lalu.

Cowok yang hanya mengenakan kaus oblong itu terlihat sibuk membersihkan mobilnya. Tangannya menggosok permukaan mobil itu dengan cermat, sesekali menyeka peluh yang keluar dari dahi dan pelipisnya.
‘Ah.. panas sekali’, umpatnya dalam hati.
Rene meraih selang yang tergolek di sebelah kakinya, bangkit berdiri dan menekan knob penyemprot di tangannya. Dicobanya untuk mengarahkan air itu ke wajahnya, ahh.. segarnya. Dibilasnya mobil itu dengan hati-hati, memastikan semua kotorannya luluh ke jalan. Mendadak telinganya menangkap suara bertubruknya sesuatu. Matanya mencari-cari, sementara tangannya yang memegang selang tetap mengarahkan semprotan air ke mobilnya.

Setengah jam sebelumnya.

“Kaak.. mana.. katanya mau ngajak aku jalan-jalan?”, suara gadis ABG itu terdengar manja dan memaksa.
Gadis yang lebih tua berkata dangan malas, “Sekarang? Tanggung nih..”.
Remote TV itu masih dalam genggamannya.
“Kaakk..!!” Rena memegang pundak kakaknya, merayu-rayu supaya kakaknya bersedia mengatakan janjinya.

“Iyaa.. udah sono!” Rina tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang manja.
‘Yah beginilah’, pikirnya, jika hanya punya adik semata wayang, yang sangat kebetulan manja dan pemaksa.

Rina menyusuri jalanan kecil itu melewati rumah-rumah yang terlihat sepi. Adiknya yang duduk di belakang seakan menikmati suasana panas di siang hari itu, sementara kakaknya sesekali mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Rina merasakan sebutir keringat mengenai matanya.. aduh..

Rene melihat seekor kucing lari terpincang-pincang dan menghilang dibalik pagar sebuah rumah. Rene tertawa, bukan pada tingkah gugup kucing itu, tapi pada kedua gadis di seberang jalan yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.

“Makanya kalau jalan hati-hati..”
Rina kaget mendengar suara itu dan menghentikan pertikaiannya dengan adiknya yang masih cemberut.
“Rene..” matanya hampir tak berkedip memandang sosok cowok yang cengar-cengir di hadapannya, yang kemudian membungkuk untuk membantu menegakkan sepeda motornya.

“Reneehh..”, Rina menahan desahan nafasnya ketika bibir Rene mengecup mesra bibirnya.
“Ada adikku loh.”
“Biar saja, biar cari pacar.. hehehe.. mm..”, Rene meneruskan ciumannya, sementara tangannya bergerak meremas-remas payudara Rina.
“Akhh.. Rene!” Rina menyingkirkan telapak tangan Rene dari dadanya, meninggalkan ruang tamu dan Rene yang tertawa-tawa, menghampiri adiknya yang mengomel panjang lebar di luar rumah.

“Nih.. awas.. sakit.” Rina mengusapkan kapas yang basah oleh Betadine itu ke luka di lutut adiknya.
Rena mengerutkan alisnya, menahan nyeri dari reaksi Betadine yang menyapu pori-porinya. Rene keluar membawa segelas air.
“Nih, minumnya..”. Rena meraih gelas itu dari tangan Rene dan meminumnya, tak sempat melihat tangan Rene yang menyusup masuk ke dalam baju kakaknya, sempat meremas sejenak, sebelum Rina menggerakkan sikutnya.

Rene tersenyum-senyum ketika melihat kakak beradik itu melambaikan tangan kepadanya, sebelum sepeda motor mereka oleng lagi dan kali ini hampir saja naik ke trotoar. Rene masih sempat mendengar erangan si adik yang memaki panjang lebar sebelum sepeda motor itu akhirnya menghilang di kejauhan.

Dua minggu kemudian, di sebuah malam minggu.

“Aduhh..”, Rina memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Otot-otot keningnya menegang. Rina dapat merasakan pegangan tangan Rene di bahunya.
“Rina, tahan dong.” Rene berkata panik.
“Apotik.. obat.. hhggnn..” Rina mengerang-erang kesakitan.
“Hah? Apotik mana? Obat apa?”
“Rena..”, telunjuk Rina mengarah ke ruang tengah.
Rene langsung berlari, mendapati Rena yang sedang tiduran di depan TV.
“Ren, kakakmu kumat tuh..”.
Rena langsung berlari dan memegangi perut kakaknya yang masih meringis.
“Duhh.. mana Papa Mama nggak ada, lagi..” nada suaranya terdengar panik.
“Beli.. uang.. di atas meja..” Rina berkata terengah-engah.
Rena langsung berlari ke dapur, mengambil segepok uang yang terletak di atas meja makan.
“Ayo..” Rene mendahului keluar

“Bangsat!” Rene melayangkan tinjunya ke rahang salah seorang anak muda yang berdiri paling dekat dengannya, membuat anak muda itu terjatuh.
Orang banyak segera berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si anak muda menjadi reseh dan ngeloyor pergi sambil membawa teman mereka. Rene tak menghiraukan pertanyaan orang-orang di sekitarnya, memegangi bahu Rena yang terguncang dan membuka pintu mobil.
“Kamu sih, keluar duluan. Makanya.. lain kali..” Rene tidak meneruskan omelannya, merasa iba melihat tangis gadis kecil di sebelahnya.
Rene menghentikan mobilnya.
“Sudah.. jangan nangis lagi. Jelek.”, Rene mengulurkan tangannya memegang pundak Rena, dan menekan tubuh gadis kecil itu ke dadanya.
Rena menangis sejadi-jadinya, merasakan ketakutan yang membuka pori-porinya saat tangan-tangan iseng tadi mendadak memegang buah dadanya. Rene membiarkan gadis itu membasahi bajunya, sebelum ingatan tentang Rina memaksanya untuk melepaskan pelukannya dan melajukan mobilnya secepat mungkin.

Seminggu setelahnya.

Rene membelokkan mobilnya dengan gerakan seminimal mungkin, berusaha tidak mengubah posisi kepala Rina yang berada di pangkuannya.
“Ahh..” Rene mendesah saat ujung penisnya masuk semakin dalam ke rongga mulut gadisnya.
Tangan kirinya menindah perseneling ke gigi dua, membiarkan laju mobil tetap stabil. Rena menghisap penis di mulutnya, menikmati rasa anyir dan asin itu bercampur di lidahnya. Dikeluarkannya sejenak penis itu dari mulutnya, memandangi dan menikmati air liurnya yang membasahi batang penis di depan matanya. Bibirnya turun dan mencium ujung penis itu dan kemudian menelannya lagi ke dalam mulutnya.
“Mmmhh..” Rene menikmati gerakan lidah gadisnya yang menyapu kulit batang penisnya dengan gerakan liar.
“Yang..keluar nih..” Rene berkata lirih.
Rina mengulurkan tangannya ke kotak tissue yang ada di jok belakang, mengambil segenggam tissue, menghisap penis Rene sekuat tenaga, mengeluarkannya dari mulutnya, dan menutup bibir penis itu dengan tissue.
“Aarrgghh..” Rene mengerang saat spermanya keluar membasahi tissue yang menutupi ujung penisnya.

Rina tersenyum melihat ekspresi kekasihnya. Rene merasa sakunya bergetar. Diambilnya HP dari sakunya, membiarkan Rina sibuk membersihkan cairan sperma yang tersisa, dengan tissue.. dengan kecupan bibirnya.. dengan lidahnya..

‘Sial, jangan sekarang.’

Rene menekan tombol merah di HP-nya.
“Siapa?”
“Ah.. anak-anak, pasti deh ngajak jalan.”
“Ya udah, kita pulang saja, aku ngerti kok.” Rene tersenyum dan merasakan kancing celananya terpasang kembali.
“Oke.. thanks, love you so much”, Rene mengecup bibir Rina dan merasakan sisa-sisa sperma di ujung bibir gadisnya.
“Ada apa?”
“Ngga pa-pa.. aku sedih saja..”
Rene tertawa kecil, “Hahaha.. ada apa sih?”
“Ntar.. ada kakak..” Rena menutup speaker telpon dengan telapak tangannya, menunggu sosok Rina yang bersiul-siul menghilang dari hadapannya.

“Halo?”
“Iya.. ada apa adik kecil?”
“Aku ngga kecil lagi!”
Rene tertawa, matanya menatap ke depan, menghindari sebuah sepeda motor yang melaju kencang.
“Iya deh, adik besar..”
“Ngga mau besar.. tua..” Susah.
“Ada apa sih..?”
“Ngga pa-pa, pingin aja ngobrol ama kamu..”
“Hahahaha.. masih ngga berani keluar?”
Rena merasa wajahnya merona, “Iya..”
“Besok kujemput pulang sekolah?”
“Iya.. eh.. kutunggu loh.. bener ya!”
Rene merasakan ketidak sabaran yang lazim dari seorang gadis ABG, tertawa kecil dan berkata, “Oke, tungguin aja.”

Rene tertawa melihat tubuh Rena yang tenggelam dalam baju yang kebesaran itu. Rena mengerang dari balik baju, “Jahat. Masa aku disuruh pakai yang begini..” Rene tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Rena kembali masuk ke dalam kamar pas, dan keluar beberapa saat kemudian sambil cemberut, mengembalikan baju hip-hop itu ke gantungan, tanpa memperdulikan pandangan Mbak penjaga stan yang mencemooh. Rene mengusap kepala Rena dengan buku jarinya. Membiarkan Rena menggelengkan kepalanya dengan sebal. “Makan yuk.”

Rene memperhatikan Rena menyantap paha ayam itu dengan penuh perhatian.
‘Ah, desahnya dalam hati’, ini sudah yang kedua kalinya, tapi getaran ini.. sejenak Rene terngiang sebuah pepatah Jawa ‘tresno jalaran soko kulino’.. dan bibirnya tersenyum.
“Apa liat-liat?” Rena menyerang bertanya.
“Ge-er deh.. aku ngeliatin ayammu, kalo ngga abis..” Keduanya tertawa dan menghabiskan makanan mereka.

Seminggu setelah kejadian terakhir.. di tengah hujan lebat..

“Mmmhh..” Rena mengeluh lirih, “Rene.. hh..” Rene mengecup bibir gadis kecil itu dengan perlahan, membiarkan gadis itu mengeluh.
“Rena.. aku sayang kamu..” Tangannya menyingkap baju si gadis, memegang buah dada si gadis yang terasa kencang di telapak tangannya.
“Ahh..”, Rena memejamkan matanya, merasakan untuk pertama kalinya disentuh oleh seorang lelaki, seorang lelaki yang menjadi idolanya sejak kejadian di depan apotik tempo hari.
Rene menempelkan bibirnya lebih keras.. menenggelamkan lidahnya ke dalam rongga mulut si gadis kecil.. memaksa lidah si gadis untuk bergerak mengiringinya.
“Mmmhh..” Rena mengeluh lagi saat tangan Rene masuk ke dalam bra-nya, memainkan puting buah dadanya, mengangkat lengannya untuk merangkul leher pahlawannya.
Rene memainkan puting si gadis dengan gerakan yang lembut, menahan gejolak nafsunya sendiri, menundukkan kepalanya, dan mengecup puting itu dengan perlahan, merasakan lengkungan tulang punggung si gadis seiring dengan desahannya.

“Rene.. sudah dong.. ahh.. hh..” Rene menghentikan hisapannya, memandang mata Rena yang mulai berkaca-kaca, mengembalikan bra si gadis ke posisi semula.
Rena membiarkan Rene mengecup bibirnya, menikmati kasih sayangnya yang menggebu, dan memeluk kepala Rene yang tenggelam di dadanya. Kehangatan yang mereka rasakan saat itu membuat kaca mobil mengembun, dan mengingatkan mereka akan seseorang yang dengan sabar menunggu kedatangan McDonalds pesanannya di rumah tanpa curiga.

Dua hari kemudian, di sebuah hotel kelas menengah.

“Ahh.. ah.. Rene.. hh..”, Rina mengerang, menggigit bibir bawahnya, merasakan keperihan yang ditimbulkan oleh tekanan penis kekasihnya yang semakin dalam ke kemaluannya.
Rene merasakan nafasnya mulai memburu. Ia mengangkat tubuhnya dan melihat batang penisnya yang sudah setengah tenggelam dalam kemaluan gadisnya, digerak-gerakkannya pinggulnya, menekan penisnya lebih dalam, untuk kemudian menariknya keluar supaya dapat mendengar gadisnya mengerang di bawahnya.
“Ahh..” Rene mengeluh penuh kenikmatan.

Rina mengulurkan tangannya, merangkul leher Rene, menempelkan bibir kekasihnya ke ujung buah dadanya, menggerakkan pinggulnya untuk menikmati penetrasi kekasihnya, sementara rasa perih yang semula dirasakannya perlahan menghilang, berganti dengan kegelian dan kenikmatan yang luar biasa, yang memaksanya mengeluh dan mengerang dalam nafsu yang membara di benaknya.
“Ahh.. Rina.. ah.. hh” Rene merasakan nafsunya yang mulai beranjak ke ubun-ubun.
Pinggulnya bergerak semakin cepat, menggesek dan menusuk kemaluan gadisnya. Rina menjerit tertahan, memeluk dan mencakar punggung Rene, merasakan sedikit sakit saat liang vaginanya menelan seluruh batang penis kekasihnya, gesekan-gesekan itu menambah rasa geli dan nikmat di seluruh tubuhnya.

“Rene.. ahh.. ahh.. hh..” Rene mencabut keluar penisnya, mengeluarkan spermanya yang berwarna kemerahan di atas permukaan perut gadisnya.
Rina mengulurkan tangannya, menggenggam dan meremas batang penis yang menempel di perutnya, menikmati ciuman kelelahan Rene di bibirnya dan dadanya, dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka air matanya.

Awal minggu kedua, purnama kedua, di dalam mobil.

“Trus.. diapain?” Rene tertawa melihat kepolosan gadis kecil ini.
“Nih.. digini’in..”
“Oke.” Rene mendesah lirih saat jemari Rena memainkan batang penisnya yang menegang.
Tangannya terjulur meremas buah dada si gadis yang menggantung saat si gadis kembali membungkuk. Rena menikmati desahan pahlawannya, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu bentuk batang penis dalam genggamannya, ujungnya yang kemerahan, uratnya yang menonjol dari kulitnya..
‘Ah.. jadi begini wujudnya.’ Rina menggerak- gerakkan tangannya sesuai yang dicontohkan Rene kepadanya, sedikit terhanyut oleh sentuhan-sentuhan Rene pada payudaranya.
“Awww.. ihh..” Rena menarik kepalanya ke belakang ketika semburan sperma itu nyaris mengenai wajahnya.
“Ahhkk.. sori.. sori.. maaf..” Rene sempat kikuk setelah sadar dari buaian kenikmatan ejakulasinya.
Menatap mata Rena yang bertanya-tanya, mengambil tissue dari jok belakang, dan menyeka ujung kemaluannya, sedikit geli melihat ceceran sperma yang mengenai permukaan tombol klakson mobilnya.
“Lengket..”, Rena bergumam sambil memainkan sperma yang terselip di jemarinya.
Rene tertawa lirih dan membersihkan jemari gadis kecilnya dengan tissue.
“Itu yang namanya sperma..”, Rene nyaris terbahak melihat mulut Rena yang meringis dan alisnya yang berkerut.

‘Aku sayang kamu gadis polos..’, ucapnya dalam hati.

Rena mengamati Rene membersihkan tangannya, dan melihat penis pahlawannya perlahan mengecil.
Tanpa dapat ditahannya, Rena tertawa, “Ihh.. kecil.. cuman segitu rupanya..”, Rene tersipu dan bergegas membenahi celananya

Akhir minggu kedua, purnama kedua.

Rena mengeluh panjang lebar. Menunggu di tepian jalan seperti perek bukanlah tipe pekerjaan yang disenanginya. Dilihatnya matahari yang sudah naik tinggi di atas kepalanya. Sial. Dihampirinya box telepon di belakangnya, dan setelah memasukkan koin seratus terakhirnya, jarinya memencet-mencet nomor telepon rumahnya.
‘Brengsek’, umpatnya dalam hati mendengar suara penjawab telpon, “Disini rumah keluarga Ta..”, Rena membanting gagang telpon itu, membiarkan beberapa pasang mata pengunjung warung menatap heran ke arahnya. Rena melangkah ke pinggir trotoar dan melambaikan tangannya.

“Awas.. yah! Jalan melulu.. lupa sama adiknya! Kuberitahu Mama dan Papa kalau sudah pulang!”, Rena menggeram dan mengomel selama perjalanan.
Sopir taksi itu menatapnya geli dari balik kaca spion. Rena melengos dan mengalihkan pandangannya keluar jendela

Sementara itu, sepuluh menit setelah Rena menyetop taksi.

“Ahh.. ahh.. ahh.. ahh..” Rene memegang kedua payudara kekasihnya, menciumi punggung kekasihnya yang putih dan mulus.
Pinggulnya bergoyang-goyang ke depan ke belakang dengan irama yang penuh nafsu. Rina mengangkat pinggulnya, merasakan gerakan pinggul Rene yang agresif, menikmati batang penis yang keluar masuk di liang vaginanya.
“Ahh.. ah..”, Rene mengerang dan mengeluh penuh kenikmatan, merasakan setiap himpitan liang kemaluan kekasihnya.
Rina merasakan kulit dada kekasihnya menempel di punggungnya, gerakan pinggul Rene semakin cepat, Rene melepaskan pegangannya pada buah dada Rina dan memeluk pinggangnya dengan kencang, merasakan kepalanya yang terangkat dan peluhnya yang mengucur saat menekan penisnya lebih dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya.
“Ahh.. ah.. ah.. ah.. ah..”, Rina mengeluh seiring irama pergerakan pinggul Rene.

Rene melepaskan rangkulannya, membiarkan tubuh kekasihnya jatuh menelungkup di pinggir tempat tidur, menggunakan tangannya menarik keluar penisnya dan menyemburkan spermanya ke permukaan pinggul kekasihnya.
“Ahh..”, Rene menyeka peluhnya, menindih tubuh Rina yang tertelungkup, membiarkan penisnya menempel di celah pinggul si gadis, dan menciumi belakang kuping dan leher gadisnya yang kelelahan.

“I love you.. honey-bunny..” Rina tertawa lirih.
Dan betapa sepasang mata yang berurai air mata itu menyaksikan setiap adegan tanpa berkedip.

Tangisan Cintaku

Tangisan Cintaku

Lirikan iri terlihat di wajahku. Hari itu hari valentine, di mana biasanya insan memadu cinta, menyingkirkan duka dan dendam. Semua toko bunga diwarnai oleh bunga rose merah. Tiap pasang berjalan dengan bergenggaman tangan erat. Tetapi kenapa ada perasaan iri yang tidak lari dari hatiku, aku hanya merasa dunia tidak adil. Kenapa hanya orang lain yang boleh merasakan itu semua?

Pesta valentine kali ini meriah sekali, dengan sebuah perayaan sederhana dan acara parodi yang lucu aku merayakan bersama dengan teman-teman. Perayaan ini diadakan oleh sebuah organisasi student indonesia di sini. Mereka yang jauh dari keluarga saling berkumpul dan bersenang-senang sembari mencari kenalan baru. Pada saat itu aku hanya mengenal beberapa di antara mereka saja. Hanya bermodal undangan di email yang kuterima 2 hari sebelumnya aku datang dan ikut bergabung. Mama ikut senang melihat aku ikut kegiatan mereka. Mama ikut meminjamkan gaun yang langsung kutolak. Aku ingin tampil sederhana dan seadanya. Hanya dengan jeans dan sweater merah muda aku merasa tidak berbeda dengan teman-teman yang lainnya.

Pada saat aku datang seorang diri aku menangkap adanya pandangan yang aneh dari ujung, seorang pemuda yang berlipat tangan dan duduk seenaknya tidak melepaskan pandangannya kepadaku. Aku sudah beberapa kali salah tingkah, merasa malu dan takut. Beberapa temen wanita yang sudah kukenal menyambutku dengan senang, sambil menarik tanganku agar aku duduk di sebelah mereka. Tidakk, dalam hati aku tidak ingin menjauhi pemuda itu. Tiba-tiba aku kehilangan bayangannya. Dia hilang entah kemana, hingga waktu perayaan akan dimulai tidak kutemukan dia lagi. Perayaan pun dimulai dan tiba tiba aku disadarkan oleh sebuah paduan suara merdu yang diiringi piano. Dia berada di sana. Dia dengan tubuhnya yang tinggi berada di antara orang yang memadukan suaranya. Selama perayaan itu aku merasa mimpi. Kami saling bertukar pandang dan senyum. Biarpun dia di depan dan aku duduk di belakang tapi aku merasa kalo dia pun bisa melihatku dengan jelas. Demikian denganku, setiap tarikan napasnya bisa kurasakan, setiap nada yang dia nyanyikan pun ikut kunyanyikan. Selesai perayaan, di saat aku mengambil minum dia pun mendekati aku.

“Hi, anak baru yah? Baru datang ke Jerman?”
Aku hanya menjawab dengan senyum simpul. Dia pun melanjutkan lagi,
“Gue Arry, loe siapa namanya?”
Pada saat itu teman-teman yang lain sudah datang mendekati kami, hingga kesempatan itu pun hilang. Tapi di matanya aku bisa menangkap pesan dari Arry, dia menunjuk teras yang terbuka. Akhirnya ketika ada kesempatan akupun keluar ke teras dan melihat ada Arry di sana. Dia menjulurkan tangan kanannya sambil tersenyum,
“gue Arry, baru sekarang bisa resmi kenalan, elo siapa?”.

Kubalas juluran tangannya sambil menyebutkan namaku. Itulah awal segalanya. Kami tidak berhenti mengobrol tentang segalanya. Dia pun sedikit malu setelah mengetahui bahwa aku sudah 2 tahun lebih tua. Dia mengira kalo aku berumur sama dengan dia, tapi itu semua tidak menghentikan obrolan kita. Sampai akhirnya waktu juga yang memaksa kita untuk berpisah. Dengan sedikit berjanji bahwa akan selalu kontak dan akan segera bertemu lagi, kami berpisah malam itu. Aku pulang dengan membawa janji dan harapan kecil.

Hari pertama tahun 2001, dingin dan sepi. Mama dan frank sedang liburan. Aku seorang diri di rumah setelah sehari sebelumnya merayakan pergantian tahun baru bersama teman-teman di dekat rumah. Cape, malas, tapi lapar akhirnya aku melangkahkan kakiku ke bawah, mencari sesuatu untuk bisa di makan. Sambil menuang susu di gelas aku menyalakan radio. Tiba-tiba bel rumahku berdering. Dengan perasaan heran aku melangkah ke depan dan melihat Arry berdiri d idepan rumah seorang diri. Kubuka pintu masih dengan perasaan kaget yang belum hilang. Dia menjulurkan tangannya lagi sambil mengucapkan selamat tahun baru dan tangan sebelahnya membawa sebuah kotak makanan.
“Kemaren Arry coba bikin bakwan jagung, kan Nana pernah cerita kalo suka makan bakwan jagung? Tapi jangan marah kalo engga enak ya?”
Aku hanya bisa tertawa, dan membalas uluran tangannya sambil mencium sebelah pipinya mengucapkan selamat tahun baru. Ketika menarik kembali pipiku, tanganku ditariknya lagi,
“kalo orang belanda sun nya harus 3 kali,” katanya sembari melanjutkan acara sun pipi itu.

Ada yang berbeda dari dirinya dibanding teman-teman pria yang kukenal. Dia lugas, jujur, konyol, bawel, dan tidak tahu malu. Hanya 5 hari setelah dia datang ke rumahku dia sudah berani mengucapkan kata cinta, yang saat itu sudah hambar di bayanganku. Di mobilku dia mencoba menciumku dengan gaya ciumannya yang mengingatkanku kepada ciuman pertamaku 7 tahun yang lalu. Cara dia memegang tanganku seakan-akan dia takut bila aku lepas dan lari meninggalkannya. Hingga suatu saat dia meminta lebih dariku.

Sore itu aku mampir ke tempat tinggalnya. Dia hanya mengenakan celana pendek dan kaos menyambutku dengan celotehannya yang ramai. Dia memamerkan video yang baru dia beli, dan memaksaku untuk menontonnya saat itu juga bersamanya. Sambil duduk di lantai, dia meletakkan kepalanya di pangkuanku.

Ketika film setengah berjalan, Arry mencoba untuk menyentuh tubuhku lebih. Dia menggesekkan kepalanya di dadaku, sambil mendesah manja. Dia berbisik,
“Na, minta sun donk,”
suatu permintaan yang tidak menbutuhkan jawaban tetapi tindakan. Kami pun segera berdekap erat, saling meraba, dan saling membuka baju. Dia menggendong tubuhku dan meletakkan di atas ranjangnya. Selimut dan bantal semua dia buang ke lantai.

Dia membuka celana jeansku, sambil berdecak kagum. Dia memulai dengan menciumi perutku, menjilati buah dadaku, mencari bibirku. Sebelah tangannya membuka celana dalamku dan meraba-raba vaginaku. Tiba-tiba dia diam saja, sambil menatap mataku dia bertanya,
“Na, begini bener tidak?” Hanya ketawa dan ketawa yang mengiringi percintaan kami saat itu.

Hubungan kami sangat cepat berkembang. Arry seorang student yang jauh dari keluarga sedangkan aku sedang dalam usaha menjauhkan diri dari keluarga. Kami saling membutuhkan dan saling melengkapi. Aku merasa bahwa ini adalah jalan yang memang disediakan supaya aku membiarkan kehidupan mama mengalir dengan tenang. Semakin hari semakin aku merasa Arry adalah orang yang tepat untukku, dan tiba saatnya aku merasa harus menceritakan semua masa laluku kepadanya.

Aku ini aib, aku ini pendosa tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan. Aku hanya membutuhkan dukungan dan rasa cinta untuk bisa bertahan hidup. Aku tidak menuntut banyak dari seorang Arry, bahkan ketika aku menceritakan semua yang kualami aku mencoba tidak berharap dia akan bertahan di sisiku.

Tetapi setelah dia pergi, rasa sakit itu muncul. Aku menyesal atas kejujuranku. Akankah semuanya masih seperti yang dulu apabila aku tidak menceritakannya?
Arry telah menjadi sebuah cerita di hatiku, sebuah cerita pendek yang menorehkan rasa sesal yang mengakar. Aku terhempas di kehidupanku yang lalu, tetesan air mata semakin beralasan. Bagaimana harus kuhentikan tangisan ini?

TAMAT

Selamat Pagi Cinta (5)

Selamat Pagi Cinta (5)

“Kok ngeliat kayak mau makan orang?”

“Cemburu kali?”

“Sialan,” Lenvy mendesis. Lalu senyumnya kembali mengembang.

“Ray,” kata gadis itu, “nanti malam..”

Ray menyela, “Aku capek. Pasti capek.”

“Kok begitu? Kamu marah tentang waktu itu?”

“Aku? Ngga kok. Aku cuma ingin istirahat.”

“Kamu pasti marah. Ya sudah, aku pulang saja.”

“Hey,” ucap Ray, “dua minggu lagi, bagaimana?”

“Dua minggu? Lama sekali?”

“Aku ke Bali minggu depan.”

“Bali? Ngapain?”

“Liburan. Seminggu. Jadi?”

Senyum Lenvy kembali mengembang.

“Oke, tapi aku boleh telepon kan?”

“Iya lah,” sahut Ray, balas tersenyum. Lenvy melirik ke kanan dan ke kiri, lalu sambil menggigit bibirnya, gadis itu melambai dan berbalik tanpa mengatakan apapun. Ray menyeringai. Lenvy pasti ingin bercinta dengannya saat itu juga. Tertawa sendiri, Ray menenggelamkan diri dalam kesibukannya. Ia harus menyelesaikan semua sisa pekerjaannya sebelum akhir minggu.

Siang yang panjang itu dihabiskan Ray untuk berbelanja di mall. Seperti biasa, Ray hanya sendirian saja. Pemuda itu benar-benar menikmati kebebasannya. Ia keluar masuk berbagai toko, mencoba-coba pakaian, parfum, bahkan topi pet. Gayanya yang cuek dan cengengesan benar-benar mengundang perhatian.

“Berdandan yang keren. Kamu butuh itu, selain mulutmu,” begitu kata Pak David sebelum ia pulang tadi. Ya, Ray memang membutuhkannya untuk minggu depan. Ada apa dengan minggu depan? Minggu depan Ray ke Bali. Itu saja? Tidak. Ray ke Bali dengan misi. Misi untuk merebut hati seorang gadis cantik. Gadis yang akan menjadi sumber dana bagi Pak David, dan tentu saja sebuah keuntungan tertentu bagi Ray. Hanya saja, Ray mengeluh panjang lebar saat Pak David memberinya sangu enam juta, yang hanya seperseratus nilainya dibandingkan dengan keuntungan yang akan mereka peroleh dari si gadis. Tapi enam juta sudah nilai yang lumayan untuk membeli perlengkapan. Lagipula itu membuktikan bahwa Pak David yang pelit sayang padanya, meskipun pemuda itu mengacaukan semua peraturan di kantornya.

Untuk Pak David, Ray tidak hanya punya ide-ide imajiner yang unik, namun juga kemampuan bernegosiasi dengan orang lain. Ray menyihir setiap orang yang berbincang dengannya, kata Pak David pada semua orang, dan pemuda itu membuat semua orang berjalan sesuai kehendaknya. Kalau ada yang menanyakan pada Ray tentang hal itu, Ray akan berkata, “Ah, aku tidak menyihir. Aku hanya memahami apa yang mereka butuhkan, mencoba menawarkan apa yang bisa kuberi, dan aku percaya orang akan melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan itu.”

Itulah Ray. Ia akan melakukan persis seperti apa yang pernah dilakukannya waktu masih kuliah, saat ia mengobrak-abrik dewan senat fakultas hanya karena Jay, sahabat karibnya, berkata, “Tolong, Ray. Aku mau jadi ketua senat.”
Walaupun saat itu Jay gagal karena kesalahannya sendiri, namun Ray tak urung berhasil membuat sepuluh gadis gila dalam sebulan, dan kekasih-kekasih mereka, para pengurus dan calon ketua senat itu, gila selamanya.

Hanya masalah wanita? Tentu saja. Bagi Ray, hanya tiga hal yang mengontrol dunia ini, yaitu: harta; tahta; dan wanita.

Cuma satu problem yang menantinya. Cuma satu beban yang ada di benaknya. Resiko dari para perayu yang menggunakan kemampuannya untuk memperoleh uang dan kekuasaan, bukan sekedar kenikmatan. Yaitu cinta.

Cinta??

Selamat pagi cinta..

Makna dari cinta yang di pahami oleh Ray, hanya sebuah sebutan singkat untuk rasa memiliki, rasa sakit, dan keperihan. Beberapa orang puitis mengatakan cinta itu indah, namun merintih saat cinta itu mengkhianati egonya. Ya, hanya ego yang ada dalam cinta. Ray, seumur hidupnya mencoba untuk membentuk arti lain dari kata cinta. Membentuknya menjadi satu kata yang lain, yaitu kasih sayang. Banyak orang melupakan arti kasih sayang, dan malah berbalik mengubahnya menjadi kata ‘cinta’. Ray tak ingin demikian. Ray ingin menghayati kasih sayang seperti apa adanya. Sesuatu yang tak menuntut balas. Sesuatu yang murni. Seperti seorang ibu yang menyusui anaknya, begitulah pancaran kasih sayang yang seharusnya keluar di antara manusia. Sesuatu yang merelakan. Sesuatu yang memahami dan mengerti. Seperti senyum sang nenek kala usia mengalahkan kokohnya sang kakek..

Tapi gadis yang pagi-pagi buta itu membuka pintu rumahnya, ia adalah salah satu yang mengerti apa yang ada di dalam benak Ray. Itu yang membuat Ray menghabiskan dua hari dalam seminggunya, khusus untuk gadis itu.

Namanya Moogie.

Moogie tidak mencintai Ray. Ia juga tak berusaha membuat pemuda itu mencintainya. Orang bilang gadis itu bodoh. Orang bilang dia gila. Tapi bagi Moogie, hanya kasih sayang yang membuat Ray merasa nyaman, dan kasih sayang pula lah yang membuatnya pagi itu membungkuk di samping tempat tidur si pemuda, dan mengecup pipinya.

“Selamat pagi, cinta,” bisik Moogie lembut. Ray menggeliat, dan membuka matanya. Pemuda itu tersenyum dan balas berbisik, “Kamu Cinta. Namaku Rangga. Dan aku merindukanmu.”

Moogie tertawa, menangkap guyonan yang sekarang sedang menjadi trend di kalangan anak-anak muda itu.

“Ray, aku bikinkan sarapan? Atau kamu masih mau tidur?” bisik gadis itu lagi, sementara jemarinya menyisiri rambut kusut Ray.

“Sarapan saja. Seminggu sudah aku kelaparan,” sahut Ray, memejamkan matanya.

Tersenyum, Moogie bangkit berdiri. Gadis itu melepas jaketnya, dan menaruhnya di atas komputer yang masih menyala. Moogie memandangi huruf-huruf yang berjejer di layar monitor, sesaat kemudian gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dan melangkah keluar kamar.

Ray tersenyum saat bau makanan dan suara teletik minyak memaksanya bangun. Pemuda itu beranjak dari tempat tidur, melangkah gontai menuju dapur. Di sana ia melihat Moogie sedang sibuk menggoreng sesuatu.

“Hmm,” Moogie menggumam, saat merasakan Ray memeluknya dari belakang. Pemuda itu mengecup daun telinga si gadis, membuat gadis itu tertawa beberapa saat kemudian.

“Kenapa? Geli? Mau diterusin?” bisik Ray.

“Terusin, maka kamu akan kehilangan nasi goreng kornetmu,” ucap Moogie tersenyum. Ray terkekeh, melepaskan pelukannya dan melangkahkan kaki menuju kulkas. Pemuda itu meraih kotak susu Anchor dan membiarkan cairan kental putih itu membasahi kerongkongannya.

“Bagaimana Jakarta?” tanya pemuda itu, setelah membuang kotak kosong ke dalam tong sampah.

“Baik-baik saja. Baru ada perayaan besar-besaran. Sayang kamu ngga ada di sana.”

“Shoot. Aku ngga suka keramaian.”

“Ralat, kamu ngga suka bergabung dengan komunitas yang kamu ngga kenal.”

“Hahaha,” Ray tertawa, dan menarik kursi. Sambil duduk, pemuda itu memandangi Moogie memindahkan nasi goreng dari penggorengan ke piring.

“Kenapa hanya satu?” tanya Ray begitu Moogie meletakkan piring di atas meja, berikut segelas air putih.

“Aku sudah makan tadi di jalan. Masih kenyang,” sahut Moogie, mendudukkan tubuhnya di kursi samping Ray. Ray mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sudah hendak meraih sendok saat Moogie mendahuluinya.

“Sini, aku suapin. Aku lagi pingin manjain kamu,” ucap Moogie sambil tersenyum. Ray terkekeh, dan membiarkan gadis itu menyuapinya. Beberapa butir nasi jatuh dari mulut si pemuda. “Kamu tuh. Dasar bayi besar,” ucap Moogie, menjumputi satu demi satu butir nasi di pangkuan Ray.

“Yiyayin, yamaya yuya yapay,” gumam Ray tak jelas. Moogie tertawa, satu jitakan lembut melayang ke kening si pemuda. Ray menggerutu, sesaat kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.

“Jadi, ceritakan tentang gadis-gadismu seminggu ini,” ucap Moogie, setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Ray.

“Hmm,” Ray mengunyah, menelan dan mulai bercerita tentang Cynthia, Lenvy, Reni dan Ella. Moogie mendengarkan, sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulut Ray. Empat kali Moogie mengomel, menjumputi nasi dari pangkuan Ray, sebelum nasi goreng di piring dan cerita Ray berakhir.

“Kasihan mereka,” ucap Moogie, bangkit berdiri dan membawa piring kosong dan sendok untuk dicuci.

“Entahlah. Menurutmu aku kejam?”

“Ngga tahu. Kan kamu yang bisa jawab. Aku sih cuman bisa bilang, kalau maksudmu baik, dengan menemani mereka menjalani hidup. Tapi, kadang-kadang kamu lupa kalau wanita punya perasaan. Yah, sukur-sukurlah kalau kamu mengerti,” Moogie berkata, sembari tangannya sibuk memainkan busa penggosok piring.

“Tentang Ella, aku cuma bisa bilang kalau dia korban situasi. Yah, yang kamu katakan ke dia memang benar. Tapi semoga saja ia tidak berubah terlalu cepat. Kan perubahan cepat yang tak disertai akal sehat sama saja dengan impulsif. Ngga banyak orang lho, Ray, yang bisa tahan dengan efek sampingnya. Kalau kamu sudah bisa kasih nasihat ke dia, berarti kamu harus membimbing dia, supaya ngga salah jalan,” lanjut Moogie.

Ray menenggak kembali air di gelasnya, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, “Aku tahu tentang semua itu.”

Moogie berpaling dan tersenyum, “Kamu tahu, tapi kamu masih saja lupa. Ngga ada salahnya kan aku mengingatkan kamu?”

“Iya. Mirip jam weker,” celoteh Ray.

Moogie membalikkan tubuh, melempar busa-busa sabun ke arah Ray. Pemuda itu terkekeh, tak berusaha menghindar, lalu dengan cepat berdiri dan memeluk si gadis. Tatapan mata mereka bertemu. Ada sejuta rasa yang tak terungkap di sana. Di dalam Ray, dan di dalam Moogie. Tak terlalu lama waktu yang dibutuhkan, untuk keduanya memejamkan mata dan membiarkan bibir mereka beradu.

“I miss you,” bisik Ray, melepaskan bibirnya. Moogie membuka mata, tanpa tersenyum gadis itu balas berbisik, “Aku lebih dari itu.”

“Sampai ke tulang sumsum?”

“Sampai ke mimpi yang terburuk.”

“Buruk?”

“Mimpi saat aku menikahimu.”

Ray tertawa, melepaskan pelukannya, “Kenapa itu buruk?”

“Sebab kebaikan tanpa kepastian lebih buruk dari sesuatu yang buruk tapi pasti.”

Ray tak menyahut, membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan dapur.

“M,” panggil Ray beberapa langkah kemudian. Moogie berpaling dengan alis terangkat.

“Nanti kalau sudah, ke kamar ya. Aku mau peluk kamu sampai siang nanti.”

Moogie tersenyum dan mengangguk.

“Aku pasti cepat datang,” sahut si gadis. Tapi pemuda itu sudah menghilang.

Moogie menggeleng-gelengkan kepalanya, meneruskan membersihkan penggorengan. Dalam perjalanan menuju kamar, Ray mendengar gadis itu bersenandung. Ada sesuatu yang perih di hati Ray, namun segela hilang ditelan lembutnya tempat tidur.

Sepuluh menit berlalu, pintu kamar terbuka. Ray membalikkan tubuh dan melihat Moogie melangkah menuju lemari. “Aku pinjam kausmu, aku lagi malas buka tas,” ucap Moogie.

“Kenapa ngga pakai kaus?” ucap Ray. Moogie berpaling dan mencibir.

“Aku capek.”

Ray tertawa, “Hahaha. Lalu kenapa kalau capek?”

Tersenyum, Moogie melepas kemeja biru mudanya, menyusul celana jeans yang dikenakannya.

“Kalau begitu,” kata si gadis kemudian, “aku ambil selimut dari lemari, dan..”

Moogie membuka lemari pakaian Ray, mengeluarkan sebuah selimut, lalu sambil mengeluarkan seruan kecil, gadis itu melompat ke atas tempat tidur. Ray terkekeh-kekeh, menyambut gadis itu dalam pelukannya. Moogie menyambar bibir Ray, lalu berbisik, “Aku benar-benar kangen.”

“Iya. Aku juga,” sahut Ray. Mereka berciuman lagi.

“Ray, geser agak sana,” ucap Moogie, melepaskan bibirnya dan mendorong tubuh Ray agak kesamping. Tertawa, Ray membiarkan gadis itu meletakkan kepala di dadanya. Tangan Ray terangkat, menyusup ke dalam selimut yang dikenakan Moogie, dan mulai mengusap lembut punggung gadis itu.

“Ray, kenapa ya, kalau dekat kamu aku pasti ngantuk?” tanya Moogie setengah menggumam.

“Itu namanya hangat,” bisik Ray, mendekap tubuh si gadis erat-erat. Moogie mengangkat lengan Ray, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan pemuda itu.

“Mmm,” gumam Moogie lagi, merapatkan tubuhnya.

“M, kamu tahu ngga? Minggu depan aku ke..” tanya Ray.

Tak ada sahutan.

Ray melirik ke bawah, dan melihat mata Moogie sudah terpejam, dan nafasnya naik turun dengan lambat.

“Ya. Kamu pasti capek,” bisik Ray, menekan ujung hidung Moogie, “istirahat saja. Aku akan cerita untuk minggu depan. Satu cerita saja.” Ray lalu membiarkan matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Entah mengapa, pemuda itu mulai merasa matanya membasah. Sesuatu yang tak pernah ia mengerti, setiap saat ia menidurkan Moogie di dadanya. Dalam pelukannya.

Saat-saat perih itulah, saat-saat dimana Ray mentransformasi semua cinta yang ada dalam dirinya menjadi sebuah kasih sayang.

Sudah pukul lima seperempat di hari keenam itu.
Ray tak ingin bangun sampai Moogie bangun.

TAMAT

Selamat Pagi Cinta (4)

Selamat Pagi Cinta (4)

Sambungan Dari Bagian 3

Sore menjelang saat Ray melangkah menuju ruangan Pak David sambil menenteng map merah di tangan. Pemuda itu mendapati ruangan itu sudah kosong. Tak berapa lama setelah Ray masuk, Ella muncul di depan pintu.

“Pak David sudah pulang, Ray.”

“Wah, kok aku ngga tahu ya?” gumam Ray, lalu mendekati Ella dan menyerahkan map merah di tangannya, “Ini, aku ngga tahu apa salahnya. Mungkin cuma perlu penambahan sample buat mahasiswa. Lagipula itu kan ngga ada hubungannya denganku. Dasar Pak David saja yang kelewat baik liat aku nganggur.”

Ella tersenyum dan menerima map yang disodorkan Ray.

“Oke, aku saja yang masukkan ke lemari arsip.”

“Thanks,” sahut Ray pendek, lalu melangkah keluar. Baru selangkah di luar pintu, pemuda itu membalikkan tubuh.

“La, kamu nganggur malam ini? Semoga tidak. Soalnya aku nganggur. Dan kayaknya aku butuh teman buat ngobrol sambil makan malam. Bagaimana?”

Ella menoleh dan membetulkan letak kacamatanya.

“Huh? Malam ini. Iya.. eh, aku ada acara. Sori, Ray.”

Ray tersenyum, “Bohong. Tapi ya sudahlah. Omong-omong, kamu pakai bra warna putih ya? Bagus tuh. Sayang terlalu berenda, kamu jadi nampak tua.”

“Ha? Kurang ajar benar,” maki Ella, tanpa sadar merapikan kaus dalamnya yang memang sedikit turun. Ray terkekeh dan melambai sambil melangkah pergi.

Suasana kantor benar-benar sudah sepi saat Ray selesai merapikan mejanya, bahkan Yossi tak tampak batang hidungnya. Pemuda itu baru saja hendak menekan tombol elevator, saat elevator itu membuka dan sosok seorang pria melangkah keluar dengan terburu-buru. Ray menoleh dan melihat pria berjaket kulit hitam itu berjalan cepat dan menghilang di balik lorong menuju ruangan Pak David. Ray melirik sekilas ke arah jam di dinding lorong. Pukul enam kurang seperempat. Ray mengeluh, mungkin ia harus benar-benar berburu lagi malam ini. Atau sebaiknya ia pulang dan menikmati sehari berlibur dari wanita? Bingung sendiri, Ray masuk ke dalam elevator, tepat sebelum elevator itu menutup.

“AA!!”

Ting-tong.

“Hey! Hey!!” Ray menahan pintu elevator sekuat tenaga. Gagal, pemuda itu lalu mulai memencet tombol pembuka di panel samping pintu elevator. Begitu pintu itu membuka, Ray langsung berlari menuju ruangan Pak David.

Pria itu menubruknya. Ray mengaduh dan sempat terhuyung.

“Minggir!” Ray mendengar suara yang serak dan berat. Saat pemuda itu kembali pada keseimbangannya, pria berjaket kulit hitam sudah berlari menuju elevator.

“Monyet!” umpat Ray, lalu ia tersadar sesuatu. Cepat Ray berlari menuju ruang Pak David. Di sana ia mendapati sosok Ella
terduduk di atas kertas yang berceceran. Sanggul kecil di kepala gadis itu tertarik lepas, membuat rambut-rambut panjang kusut menutupi wajahnya.

“La? La? Hey!” Ray menekuk lututnya di samping Ella. Sedikit terkejut pemuda itu melihat darah segar di sudut bibir si gadis.

“Uhh,” Ella terdengar menggumam. Sesaat kemudian, seperti tersengat arus listrik, lengan gadis itu mendorong tubuh Ray
sampai terduduk.

“Ray? Jangan!”

Ray hanya bengong melihat Ella meraba-raba lantai, mencari kacamatanya. Ray melirik dengan matanya, dan melihat kacamata yang pecah itu di bawah meja kerja Pak David.

“Di sana, di bawah meja,” ucap pemuda itu. Ella hanya mengerang, lalu mengulurkan tangannya. Si gadis tampak sedih saat memegangi benda yang lebih mirip ayam penyet daripada kacamata itu.

Sesaat kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Ray sambil memicingkan mata. Sekejap Ray merasa risih, karena raut gadis yang ada di depannya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia adalah Ella, si sekretaris kolot. Ray jadi teringat serial Betty la Fea, novelatina idola ibu-ibu rumah tangga itu.

“Sori, aku membuat kamu jatuh,” ucap Ella. Ray mengangkat bahunya.

“Heran. Aku lihat kamu habis dipukulin sama monyet hitam tadi. Kok kamu malah bisa-bisanya sana seperti itu?”

“Iya, orang tadi adalah mantan suamiku.”

“Ha? Aku ngga pernah tahu kamu pernah punya suami?”

“Iya. Sedikit sekali yang tahu. Bagian dari masa muda.”

“Mau cerita?”

“Kamu ngga pulang?”

“Toh aku nganggur.”

“Percuma juga. Ngga ada yang perlu kamu ketahui.”

“Hey? Aku sudah melihat apa yang terjadi. Setidaknya aku terlibat sampai sejauh kamu mendorong aku jatuh. Masa aku ngga boleh tahu?”

“Kamu..”

“Iya. Aku memang rewel sejak lahir. Usil juga sejak lahir. Omong-omong, ini sapu tanganku. Lap dulu bibir kamu,” Ray berkata, lalu melempar dasi yang semenit lalu sudah dirogohnya dari saku celana.

“Ray, ini dasi.”

“Wah?”

Ella tersenyum.

Ray terpesona.

“Oh, jadi umur enam belas tahun?” tanya Ray, sementara tangannya menarik keluar cangkir dari cofee-maker. Ella mengangguk. Saat itu ia sudah kembali menjadi Ella yang membosankan, lengkap dengan sanggul kecilnya, meskipun kacamata sudah tak menghiasi wajahnya lagi.

“Bodoh, kan? Dan hanya tiga tahun. Sebelum Eko pergi dengan gadis lain, karena aku mandul,” ucap Ella, matanya menemukan mata Ray, menanti respon si pemuda. Ray tak menunjukkan sikap terlalu terkejut, tidak pula memandang dengan pandangan mencemooh atau sok simpati. Untuk Ray, masalah mandul atau tidak bukan menjadi suatu masalah yang patut diperbincangkan. Pemuda itu selalu berpendapat bahwa manusia tak ada yang sempurna, dan untuk itu semua orang harus bersyukur pada bagaimana ia diciptakan. Tak perlu dicaci, tak perlu juga dikasihani.

“Wah, sorry ’bout that,” ucap Ray datar,” Lalu kenapa dia ada di sini?”

“Itulah, Ray,” ucap Ella, nadanya berubah menjadi lebih rendah, “Suatu saat ia datang dan merasa bahwa dirinya ngga bisa hidup tanpa aku. Ia meninggalkan wanitanya yang baru, dan memintaku kembali padanya.”

“Oh. Kapan itu?”

“Sekitar enam bulan yang lalu.”

“Hmm,” Ray menggumam, menghirup kopi dari cangkir di tangannya.

“Lalu? Kamu ngga mau, pasti?” tanya Ray kemudian.

Ella menganggukkan kepalanya.

“Aku sudah delapan tahun berpisah dengannya. Aku ngga ngerti kenapa ia bisa kembali setelah sekian lama.”

“Coba kutebak,” sahut Ray, “ia pasti pengangguran sukses, dan melihat kamu berkarir, ia mulai merasa menyesal mengapa ia menyia-nyiakan kamu.”

“Mungkin.”

“Memang kamu dulu begitu cinta padanya?”

“Aku baru enam belas tahun.”

Ray tersenyum, melepaskan pengikat rambutnya dan berkata, “Menakjubkan kalau kamu bisa survive di umur sembilan belas, saat banyak orang lebih cenderung impulsif dengan bunuh diri karena cinta.”

“Kan ngga semua orang, Ray. Apalagi aku sudah pasrah waktu aku tahu kalau aku ngga bisa kasih keturunan padanya.”

“Iya, aku bisa ngerti. Tapi pria memang begitu, La. Begitu ia tahu ada seorang wanita yang begitu mencintainya, meskipun itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, meskipun ia sudah membuat hati wanita itu hancur lebur, tetap saja ia yakin ia bisa membuat wanita itu kembali padanya.”

Ella tersenyum. Ray tahu bahwa itulah senyuman getir seorang wanita.

“Lalu acara pukul-pukulan itu?” Ray bertanya, menangkap perubahan pada raut wajah Ella. Gadis itu tampak sedikit gugup.

“Itu.. ah, dia memang suka memukul.”

“Aku kok ngga percaya?”

Ella memalingkan wajahnya menatap jam di dinding ruangan.

“Ray, sudah jam tujuh. Kita pulang, yuk? Ada Yossi di depan?”

Ray tertawa, “Yossi sudah kukasih uang sepuluh ribu buat jajan di soto depan. Hehehe, bercanda kok. Memang ada apa sampai kamu ngga bisa cerita?”

“Kenapa kamu mesti tahu? Aku saja sudah heran kenapa aku bisa berbincang dengan kamu segini lamanya tentang masalahku.”
Ray menatap wajah Ella, memaksa gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

“La,” Ray berkata, “semua orang butuh seseorang untuk bercerita. Okelah, kalau kamu memang tak ingin orang itu aku.

Tapi, apa kamu sudah punya orang lain? Kalau sudah punya, baguslah. Kalau belum? Aku bukan orang yang susah diajak berbincang, kan? Aku juga bukan ember yang kalau diketok suaranya sampai ke negeri seberang.”

“Aku..,” Ella menggumam.

Ray tak mengalihkan pandangannya dari Ella. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap Ray.

“Aku tak percaya sama kamu, Ray.”

“Ngga? Hey, terserah kamu.”

Mereka berdua saling tatap, sebelum akhirnya Ella menghembuskan nafas.

“Hhh. Oke. Aku kasih tahu.”

Ray diam menunggu.

“Aku adalah simpanannya David. Eko tahu itu. Dia memerasku.”

“Whups!!” Ray berseru, nyaris saja kopinya tumpah ke meja.

“Wawawawawa!! Tunggu dulu,” Ray berseru, meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan merogoh Marlboro-nya.

<
“Aku sudah bilang, kamu ngga perlu tahu.”

“Sori. Aku cuman terkejut,” ucap Ray, menyalakan rokoknya.

“Kenapa? Karena aku Ella? Kesannya nggak mungkin, kan?”

Ray merasa sedikit malu, tapi pemuda itu lebih memilih jujur dengan menganggukkan kepalanya. Ella terdengar tertawa sinis.

“Iya. Aku ngga mau merusakkan citra David. Aku ngga mau siapapun tahu.”

“Aku?”

“Kamu.. aku juga ngga tahu kenapa bisa cerita ke kamu.”

Ray tersenyum, Ella bukan orang pertama yang mengatakan demikian padanya.

“Ya anggap sajalah aku seorang saudara yang baik.”

Ella tersenyum, “Iya lah. Lagipula aku memang butuh orang untuk berbincang. Seperti kata kamu tadi.”

“Lalu, kamu jatuh cinta pada David? Sori, Pak David?” tanya Ray mengembalikan topik pembicaraan. Ella menggelengkan kepala.

“Wah? Lalu kenapa pakai jaga citra segala?”

“Ray. Aku juga butuh uang untuk hidup. Aku jaga itu.”

Ray terdiam sesaat. Kata-kata Ella memang pendek dan tak lengkap, tapi Ray bisa menangkap sejuta kata yang menyembur keluar dan terangkai menjadi sebuah cerita yang cukup mengundang simpati.

“Iya. Kamu salah seorang survival yang pakai otak.”

Ella mengangguk, “Keadaan memaksaku demikian.”

“Sayang kamu ngga pakai otak musuh mantan suamimu.”

“Hmm. Aku tak mempermasalahkan uangnya, tapi..”

“Susah kan? Aku bisa lihat dari wajahmu, kalau itu susah.”

“Aku sendiri ngga mengerti.”

“Saat kamu mencoba untuk menjadi satu sosok yang tough, saat kamu merasa tak seorangpun bisa mengalahkan kamu, ternyata ada saja yang bisa buat kamu down,” Ray berkata sambil tersenyum. Ella kembali menganggukkan kepalanya.

“Lalu apa yang akan kamu perbuat?” tanya Ray lagi, “Aku yakin kamu tak pernah punya niat untuk melapor ke polisi.”

“Aku ngga tahu,” jawab Ella, wajahnya terlihat sedih. Ray menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mendekati Ella.

“Mari,” kata pemuda itu, “aku akan menjadi orang berikutnya setelah mantan suamimu. Sini aku bilangin sesuatu. Ya, kamu orang yang bodoh. Kamu sama sekali tidak tough. Kamu lemah. Dan kamu adalah seorang pecundang.”

Ella tak menyahut, kepalanya menunduk.

“Ada lagi?”

“Ada,” ucap Ray, “kamu akan tetap menjadi pecundang apapun yang kamu lakukan.”

“Ada lagi?”

“Sudah. Kamu ngga tanya kenapa?”

“Kenapa?” tanya Ella, suaranya yang lirih lebih mirip sebuah bisikan.

Ray mendekatkan bibirnya ke telinga Ella.

“Karena kamu hanya punya otak seorang wanita.”

Diam. Tak ada satupun kata yang terucap. Beberapa lama, sampai Ray melihat tetes-tetes air membasahi rok yang dikenakan Ella. Pemuda itu tersenyum, sedikit kagum menyadari bahwa tak ada isak yang keluar dari bibir gadis itu, tak pula bahu yang berguncang. Hanya urat-urat yang semakin menonjol dari jemari yang mencengkeram tepian kursi.

“Aku.. ya.. aku seorang wanita..”

“Kamu tak tega pada mantan suamimu, kan? Meski apapun yang telah ia perbuat padamu lebih jahat dari seekor binatang?”
Ella mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetes-tetes air semakin banyak jatuh ke pangkuan gadis itu.

Ray melangkahkan kakinya sampai ke depan Ella. Pemuda itu menarik keluar rokok dari jepitan bibirnya dan membungkuk, sampai ia bisa melihat air mata itu jatuh dari wajah si gadis.

“Ella yang gagah. Ella yang tegas. Ella yang ditakuti banyak lelaki,” bisik pemuda itu, “Ella yang lemah. Ella yang kebingungan. Hanya satu hal yang kamu harus sadari untuk memecahkan segalanya.”

Ella tak menyahut.

“Kamu.. wanita.. asalnya dari laki-laki juga. Satu bagian kecil dari otak dungu kewanitaanmu, itu adalah pikiran lelaki yang tersisa saat Tuhan menciptakan wanita. Orang-orang seperti kamu, memang punya getir hidup untuk membangkitkan pemikiran di atas ambang rata-rata wanita. Tapi tetap saja, saat kamu membatasi dirimu dengan mengatakan bahwa semua lelaki adalah sama, itu tak ada bedanya dengan menutupi bagian kecil yang tersisa itu dengan ego wanitamu. Dengan rasa sakitmu. Dengan getir yang kamu kira adalah mahaguru dari segala pengertian tentang hidup. Bukannya tambah perkasa, kamu semakin lemah tak berdaya. Kewanitaanmu yang semakin besar, hari demi hari.”

Ray mengangkat tubuhnya.

“Aku dulu juga seperti kamu. Dan satu wanita membuatku lemah tak berdaya, saat aku merasa bahwa aku adalah pria yang kuat dan perkasa untuk setiap wanita. Sama seperti kamu beranggapan bahwa kamu bisa membodohi David untuk uangnya, ternyata kamu mandah terima dipukuli mantan suamimu. Lalu apa yang kuperbuat? Jika semula aku menantang, maka sekarang aku berlari. Bukan berlari lintang pukang. Tapi berlari, memutar ke belakang, dan menyerang tanpa diduga. Untuk itu aku berjuang. Setiap hari memahami wanita-wanita di sekelilingku. Mengetahui apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka benci, mengingat semua karasteristik unik yang ada di dalam diri mereka.

Lalu saat aku sudah mengerti. Saat itulah aku merasa benar-benar perkasa. Tak ada satupun wanita yang bisa membuatku sakit hati. Tak ada satupun.”

Ella mengangkat kepalanya, matanya yang basah menatap Ray.

“Kamu bisa bilang begitu. Kamu laki-laki!” desis Ella. Ray tertawa.

“Tak ada bedanya! Hanya jika kamu tahu apa yang harus kamu pahami untuk menang!”

Ray membungkukkan badannya lagi. Matanya menatap mata Ella dalam-dalam.

“Wanita, punya perasaan yang berbeda-beda. Kalau aku paham, aku bisa memainkannya. Pria punya ego yang berbeda-beda pula. Kalau kamu paham, kamu bisa memainkannya. Ngerti?”

Ella terdiam.

“Aku jadi kamu, kuancam suamimu dengan niat untuk mengadukannya pada polisi. Kalau dia mengancam untuk bercerita masalah David, biarkanlah. Katakan padanya, kalau kamu dipecat, dengan kapasitas otak kamu yang baru takkan susah mendapatkan pengganti David. Kuberitahu sebuah bocoran tentang ego mantan suamimu, dan kamu harus mencarinya sendiri pada setiap lelaki yang kamu temui kelak. Mantan suamimu merasa ia bisa menguasaimu, jadi lenyapkanlah perasaan berkuasanya atas kamu.”

“Kalau ia memukulku lagi?” Ella bertanya. Ray tersenyum girang saat mendapati nada suara gadis itu sudah kembali seperti biasa, walau masih agak sendu.

“Jangan jatuh. Tetaplah berdiri dan tatap matanya dalam-dalam. Buktikan bahwa kamu sungguh-sungguh.”

“Tapi aku..”

“Ngga tega? Itu yang kumaksud dengan melenyapkan. Lupakanlah semua tentang dia. Mungkin itu susah, tapi itulah resiko untuk menjadi orang yang kuat. Tak ada perasaan. Matikan otak wanitamu, dan kembangkan otak priamu. That’s all. Kalau kamu tidak bisa, yah, aku doakan selamat beruntung menjalani hidup. Oh, jangan lupa besok pakai bedak tebal ke kantor.”

Usai berkata demikian Ray mengangkat tubuhnya dan melangkah menuju meja dimana tas dan jaketnya berada.

“Ray,” panggil Ella sebelum Ray menekan tombol elevator. Ray menoleh dan melihat Ella tersenyum padanya.

“Thanks anyway.”

“Sure,” sahut Ray, masih sempat melihat kepala Ella yang kembali tertunduk sebelum pintu elevator menutup.

Ray melangkah menelusuri basement sambil menyeringai. Malam yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Ray merasa lebih memilih untuk tidur daripada berkeliaran tak tentu arah.

Mungkin ia tadi telah menanamkan sesuatu di benak Ella. Mungkin juga sesuatu itu adalah sesuatu yang salah. Mungkin berguna, mungkin tidak. Kalau Ella memahami semua doktrin-nya, gadis itu akan berubah menjadi sosok yang lebih menyenangkan. Juga menakutkan. Siapa yang bakal membantah, bahwa wanita yang paham tentang seluk beluk pemikiran lelaki adalah wanita yang paling berbahaya untuk didekati?

Ray tak sabar menunggu hal itu terjadi.

Dan saat itu, mungkin hanya Ray sendiri yang bisa mengatasinya. Seperti seorang guru silat, Ray memang tak pernah mewejangkan jurus pamungkasnya. Apa itu?

Bersambung Ke Bagian 5

Selamat Pagi Cinta (3)

Selamat Pagi Cinta (3)

Sambungan Dari Bagian 2

Gadis itu lalu melangkah mundur dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya menemukan mata Ray. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan menyeringai.

“Kukira kita akan pergi makan di luar?” gumam Ray.

Tak ada sahutan. Ray mengangkat kepalanya, tak lagi menemukan sosok Reni. Tertawa sendiri, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju teras. Ia bukannya tak tahu apa yang diinginkan Reni darinya saat itu. Bahkan ia sudah menduganya sejak melihat Reni hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Bercinta, seperti yang diinginkan gadis-gadis lain darinya.

Seperti pula kata Jay suatu saat padanya, “Kukira gadis-gadis itu cuman rindu sama penismu. Tak lebih dari itu.” Dan meskipun Ray yakin bahwa dirinya punya lebih dari sekedar permainan seks yang memuaskan, tetap saja kata-kata Jay terngiang di telinganya setiap saat seorang gadis mengajaknya bercinta.

Ray mendapati Reni bersandar di dinding samping pintu ruang tamu. Satu dekapan dan lumatan di bibirnya, Reni lalu berbisik, “Jangan di sini. Nanti dilihat si Mbok.”

Gadis itu lalu merangkul lengan Ray dan mengajaknya lebih masuk ke dalam rumah. Tak ada orang sama sekali hari itu selain si Mbok yang entah di mana. Semua sedang berlibur ke Bali. Hanya Reni yang tertinggal, menghadapi ujian akhir semester, dan tentu saja.. menunggu kedatangan Ray.

Bagi Ray, Reni termasuk salah seorang gadis yang paling menyenangkan. Dibandingkan dengan yang lain, Reni memiliki jiwa lebih besar. Gadis itu bisa menerima keadaan seburuk apapun yang terjadi dalam hubungan antara dirinya dengan Ray. Seperti yang terjadi malam itu, saat handphone Ray mendadak berbunyi.

“Ugh, siapa sih,” gumam Ray, mengulurkan tangannya meraih handphone di lantai. Gerakan pinggul pemuda itu terhenti, dan Reni, yang masih tertindih berat tubuh Ray membuka matanya.

“Halo? Ah, wazzup, Yen? Kapan? Oh, okay. Lalu?”

Reni terlihat menunggu dengan sabar, matanya menatap mata Ray yang saat itu memandang lurus ke depan.

“Hmm. Lalu? Eh, sebentar,” Ray menundukkan kepalanya, tersenyum menatap seringai di wajah Reni. Pemuda itu lalu mengecup bibir gadis di bawahnya dan berbisik lirih setelah menjauhkan handphone, “Kamu bandel.”

“Ssshh,” Reni berbisik, “terusin dulu teleponnya, aku pijatin dari sini.”

Ray terkekeh pelan, lalu mengangkat kepalanya kembali. Reni masih tetap terlihat tak bergerak. Hanya senyuman nakalnya yang tersungging di wajah.

“Halo? Oh, sori. Ada teman. Iya, cewek. Nah? Hahaha. Lanjutin ceritanya.”

Ray melanjutkan perbincangannya, sementara mata Reni tampak perlahan memejam. Bibir bawah gadis itu tergigit beberapa saat kemudian, dan dua lengannya terangkat memeluk pinggang Ray. Lima detik sebelum tubuh gadis itu menegang, erangan tertahan keluar dari bibirnya.

“Oh. Bisa. Bisa. Udah dulu, ya? Oke, minggu depan? Iya. Sip. See ya!”

Ray mematikan handphonenya. Pemuda itu menatap wajah Reni, tersenyum saat menyaksikan butir-butir kecil keringat di kening si gadis.

“Gadis bandel,” bisik Ray, “kamu ngga nyisain buat aku.”

Reni membuka matanya, balas tersenyum tipis.

“Siapa suruh telepon?”

“Terus. Sudah licin begini?” Ray berkata sambil menyeringai. Reni tertawa, menarik kepala Ray ke dadanya. Ray menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan.

“Ray..”

“Ya?”

“Ngga usah keluar kalau ngga mood.”

“Hmm? Kenapa bilang begitu?”

“I know you, lah. It doesn’t matter, kan?”

Ray tertawa, mengangkat tubuhnya dan berguling ke samping tubuh Reni. “Yah, it doen’t matter at all,” bisik pemuda itu,
lalu memejamkan matanya. Reni beringsut, meletakkan kepalanya di atas dada Ray.

“It’s my birthday..,” Reni berbisik. Ray menggumam mengiyakan.

“Kamu ada di sini..,” Reni berbisik lagi. Ray tak menyahut, hanya memainkan jemarinya di punggung si gadis.

“Dan kamu ngga ejakulasi..”

Sampai di situ Ray membuka mulutnya dan terkekeh.

“Hahaha. Katanya you know me? Mestinya aku yang merasa bersalah, soalnya kamu klimaks waktu aku sedang teleponan.”

“Aku sengaja kok.”

“Wah? Hahaha. Emang bisa disengaja?”

“Bisa, lah. Tapi kamu ngga masalah, kan?”

“Jujur aja, enaknya jadi kurang. Trus..”

“Trus kamu jadi ngga mood. Trus akhirnya kamu malah jadi gila gara-gara kepaksa dan ngga pingin membuat aku ngerasa bersalah. Trus akhirnya kamu bikin aku sakit. Trus kamu bakalan minta maaf. Gitu kan?”

Ray terkekeh sekali lagi, tapi tak menjawab tuduhan si gadis padanya. Mereka berdua terdiam beberapa saat lamanya. Reni meraba penis Ray, dan tersenyum tipis saat menyadari penis itu sudah melemas.

“Bisa ya, orang kok ngga punya rasa?” tanya Reni, memecah keheningan.

“Siapa?” sahut Ray, “Aku? Aku punya kok.”

“Bertaruh, kamu ngga pernah make waktu sedang make love.”

Ray terdiam beberapa saat dan berkata, “Mungkin. Terkadang ngga juga.”

“Kamu menikmati ngga sih?”

“Tentu saja.”

“Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu nikmati?” tanya Reni sekali lagi, mengangkat tubuhnya dan berbaring miring sambil menatap wajah Ray. Mata pemuda itu masih terpejam, tapi bibirnya tersenyum.

“Aku? Aku merasa enak. Itu saja. Apa yang aku nikmati? Aku menikmati raut wajahmu. Erangan kamu. Desahan kamu. Respons kamu. Itu menyenangkan.”

“Hanya itu?” Reni tersenyum, “Kalau kamu ejakulasi? Apa artinya?”

“Artinya?” Ray berkata, membuka matanya dan mengangkat lengan, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pelipis,

“Artinya itu adalah sensorik. Bukan motorik. Manusia kan punya saraf yang tak bisa dikontrol oleh otak.”

“Jadi kalau ngga salah, kamu sebetulnya ngga mau ejakulasi?”

Ray tertawa sebelum menjawab, “Bagaimana kalau dikatakan, aku tak pernah mempermasalahkannya? Kurasa itu lebih baik.”

“Apa itu? Gengsi? Atau memang kamu..”

“Katakanlah aku lebih bisa mengontrol diriku sendiri,” sela Ray, matanya melirik mata gadis di sampingnya. Senyuman masih tersungging di bibir pemuda itu. Reni menghela nafasnya dan kembali meletakkan kepalanya di dada Ray.

“Perbincangan yang ngga mutu. Toh semuanya akan kembali pada pertanyaan, siapakah aku buat kamu,” bisik Reni lirih. Ray tak menanggapi pernyataan itu.

“Ray..”

“Apa?”

“Boleh aku minta hadiah ulang tahunku?”

“Hmm..oke. Apa itu?”

“Sesuatu yang ngga pernah kamu berikan sama gadis lain. Kalaupun pernah, aku ingin jadi yang kedua setelah gadis itu.”

“Ren..”

“Ngga. Bukan hubungan yang terikat. Aku tahu kamu ngga suka. Aku juga ngga yakin aku bakal jadi nomor dua.”

“Aku sudah bisa menduganya.”

“Oh ya? Apa sih?”

“Celana dalamku?”

Reni terkekeh, menggigit dada Ray manja. “Bukan itu, bego.”

Ray ikut tertawa, “Hahaha. Lalu apa?”

“Perasaan kamu. Semalam saja.”

“Hmm,” Ray menggumam, “itu susah.”

“Bahkan untuk hadiah ulang tahunku? Walaupun hanya semalam?”

“Yap.”

Reni terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gadis itu menekan tubuhnya lebih merapat ke tubuh Ray.

“Kalau begitu, peluk aku sampai jam dua belas. Jangan lepaskan aku?”

Ray tersenyum dan berbisik, “Tentu.”

Lima belas menit lamanya, sebelum Reni berbisik.

“Ray, bersyukurlah aku bukan cewek yang keras kepala.”

Ray menganggukkan kepalanya.

“Kamu telepon aku besok?” tanya Reni dari balik pagar.

Ray menganggukkan kepalanya, “Iya. Tapi kalau ngga sibuk, ya?”

“Aku tebak, pasti besok malam kamu ada kerjaan sama cewek lain.”

Ray terkekeh dan mengangkat bahu, “Ngga tahu.”

“Iya. Apa urusanku juga,” senyum Reni, “sudah, pulang sana.”

“Ren..,” Ray memanggil sebelum masuk ke dalam mobil.

“Apa, Ray?” Reni mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.

“Kamu tunggu setengah jam?”

“Buat apa?”

“Lihat saja nanti,” senyum Ray, mengedipkan mata nakal, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Reni termangu.

Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Ray berhenti di depan rumah Reni. Ray tersenyum saat mendapati gadis itu masih menunggunya di teras. Reni menghampiri Ray dengan senyum di bibir, tapi Ray masih bisa melihat kantung mata milik si gadis yang membesar.

“Reni,” ucap Ray, menatap mata gadis itu dari balik terali pagar. Beberapa lamanya mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Ray menyeringai. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan mengeluarkan sekuntum bunga mawar berwarna merah darah yang masih segar. Bibir Reni sedikit terbuka saat Ray menyodorkan bunga itu melewati terali.

“Ini,” ucap Ray sambil tersenyum,” sesuatu yang hanya pernah kuberikan pada satu orang gadis sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, tak ada seorangpun yang layak menerimanya.”

Reni meraih bunga itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Ray sekarang bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi si gadis. Ah wanita, pikir Ray dalam hatinya, seberapa keras kepalanya kah kalian dalam urusan cinta? Seberapa luas hati kalian dalam menghadapinya?

“Aku ingin dipeluk..,” bisik Reni, memainkan tangkai bunga mawar di tangannya.

“Jangan,” bisik Ray, mengulurkan tangan dan meraba batang hidung Reni.

“Ray.. kenapa aku?”

Ray terkekeh dan berkata, “Katakanlah kamu satu dari sekian banyak gadis yang berulang tahun bersamaku, tapi satu-satunya yang berani meminta sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya.”

Usai berkata demikian Ray membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil. Reni tak mengatakan apapun, tak juga menatap kepergian Ray.

Di dalam mobil, sepuluh menit kemudian, Ray mendengar handphone-nya berbunyi lagi. Tersenyum, pemuda itu menyapa, “Halo, Ren.”

“Ray brengsek! Kamu buat aku jatuh cinta! Ayo! Balas cintaku!!”

“Ren, tunggu sampai tahun depan.”

“Sialaann!! Awas kalau ketemu lagi!!”

Ray tertawa tebahak-bahak.

Reni juga terdengar tertawa dari seberang.

Tertawa bahagia, kah, Reni? Atau tertawa sedih? Atau bahkan dua-duanya?

Ella, girl with brain

Kamis kelabu, setidaknya itu yang ada di benak Ray siang itu. Langit masih mendung di atas kepalanya. Semua pekerjaan sudah selesai, bahkan sebelum waktu yang diharapkan Ray untuk menyelesaikan segalanya. Pak David tadi sudah menyuruhnya pulang dan istirahat, tapi Ray mana mau duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bagi Ray, duduk diam dan menunggu sebuah peristiwa terjadi dalam hidup adalah sebuah kesia-siaan, sementara dengan mencari seseorang akan mendapatkan lebih banyak. Itu berarti hari ini ia harus memburu salah seorang dari sekian banyak teman wanitanya, sebab hari itu ia tak ada janji.

Dari jauh Ray bisa melihat Rusdi, lagi-lagi, berkoar pada Ruri, pegawai customer service yang baru itu. Ray mencibir dan menebak-nebak, apa yang sedang dibualkan Rusdi pada gadis malang itu. Mungkin masalah penisnya yang sebesar meriam? Atau kekasihnya yang berjumlah ribuan?

“Hei, Ray, kenapa tertawa?” seseorang menyapanya, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Ray menoleh dan melihat Ella sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak manis dengan kaus krem berkerah rendah dan jas hitamnya.

“Itu, si Rusdi. Aku heran kok ada saja yang betah diajak ngobrol sama dia.”

Ella menoleh ke arah Rusdi, lalu menutup mulutnya dan tertawa.

“Iya. Tapi biarlah. Si Rusdi kan butuh pelampiasan juga.”

Ray terkekeh, “Paling-paling efeknya sebulan. Namanya juga omong besar.”

“Jangan begitu, Ray. Si Rusdi ada benarnya juga kadang-kadang.”

“Kadang-kadang, kan?”

Ella tertawa lagi, sebelum meletakkan sebuah map berwarna merah di meja Ray.

“Ini, kamu coba nilai konsepnya Joko.”

“Wah, kenapa aku? Pasti deh ulah Pak David.”

“Siapa suruh kamu bengong duluan.”

Ray tersenyum, “Iya. Ngga ada kerjaan juga. Okelah. Untuk kapan?”

“Mestinya sih sudah kelar. Tapi biasalah, Pak David, pasti tanya kamu dulu.”

“Heran, memangnya aku dukun?”

“Dia kan cinta mati sama kamu.”

“Siapa? Pak David? Amit-amit. Mending sama kamu.”

Ella melirik dengan senyum dikulum. Sesaat kemudian gadis itu menepuk pundak Ray dan berkata, “Jangan begitu. Kamu kan bukan Rusdi.”

“Eh, maksudnya apa?”

“Ya, kamu kan ngga pernah omong kosong.”

“Hahaha,” Ray tertawa, “masa kamu jadi ge-er gitu?”

“Ngga. Siapa juga yang mau sama kamu, Ray?” cibir Ella.

“Lalu maksudnya aku bukan Rusdi tadi?”

“Ya, kalau-kalau saja kamu ngomong sama gadis lain selain aku.”

“Kenapa dengan kamu?”

“Ayolah, Ray. Sejak pertama kali kamu bekerja di sini, aku sudah tahu kalau kamu punya tato di atas kepala, yang tulisannya: MAUT,” Ella berkata sembari telunjuk kanannya menulis di udara.

Ray terkekeh, “Hahaha. Jadi itu yang buat kamu yakin kalau kamu ngga bakalan ge-er sama kata-kataku?”

“Yap. Benar sekali.”

“Tapi mau make love?”

“Hih. Sopan sedikit, Ray. Sudah, ah,” Ella membalikkan tubuh dan berlalu dengan alis berkerut. Ray tersenyum, memandangi punggung si gadis beberapa saat lamanya. Setelah itu Ray mengangkat bahunya.

“Huh, aku juga ngga mau dengan kamu,” gumamnya lalu mulai memeriksa arsip di dalam map merah. Sesaat kemudian pemuda itu sudah sibuk dengan imajinasinya. Lagipula itu pekerjaannya. Berimajinasi.

Ella adalah seorang gadis berjiwa konservatif, setidaknya itu yang didengar Ray saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor barunya. Sebetulnya Ray merasa sayang, sebab tanpa kacamata minus empatnya, Ella sebenarnya cukup manis. Kulit gadis itu cokelat muda, tidak terlalu terang, dan tidak terlalu gelap. Wajahnya bulat dengan hidung arabic yang mancung. Kalau orang bisa melihat lebih cermat, maka mereka pasti bisa menemukan lingkaran hitam halus yang mengelilingi mata Ella. Bibir gadis itu tipis, dan dua gigi kampaknya yang tampak saat ia berbicara menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, sifatnya yang serba tertutup dan cenderung sinical membuat banyak orang kehilangan hasrat untuk mengenalnya lebih jauh. Bagi orang-orang di kantor, Ella cuma seorang sekretaris penerus kata-kata Pak David, itu juga diterima karena ketegasannya menyampaikan mandat Boss.

Siapa sih yang tidak memikirkan sosok sekretaris sebagai sosok yang cantik, supel, dan pandai bercinta? Melihat Ella, mungkin orang-orang yang berpikiran demikian terpaksa merevisi pendapatnya. Bahkan Rusdi, yang dikira Ray sebangsa omnivora wanita, pernah berkata, “Ella? Gampangan ngedapetin Nana.”

Itu memang katanya Rusdi, sebelum ia dan Ray mendapat tugas ke Jakarta untuk mengawasi salah satu syuting iklan yang ‘kebetulan’ dibintangi sang artis. Buktinya, Rusdi hanya cengengesan, sementara Ray langsung berhasil mengajak si artis jalan-jalan seharian. Yang pasti, semua orang bakal berkata, “Ella? Wah, ngga napsu!”

Tak terkecuali juga Ray.

Bersambung Ke Bagian 4

Selamat Pagi Cinta (2)

Selamat Pagi Cinta (2)

Sambungan Dari Bagian 1

“Sori, Ray. Jalanan macet benar tadi,” ucap Lenvy, gadis di belakang kemudi, pada Ray yang sibuk menyeka wajahnya dengan tissue.

Ray masih juga tersenyum-senyum, “Ah, ngga apa-apa.”

“Kenapa? Kamu nampak senang?”

“Tidak. Malah kecewa, soalnya aku ingin memamerkan kamu pada rekan-rekanku.”

Gadis itu tertawa dan berkata, “Konyol benar kamu.”

“Biar saja. Kan asik, ngenalin cewek cakep.”

Lenvy tak menyahut ucapan Ray. Saat itu jalanan memang lebih padat dari biasanya.

“Jadi, bagaimana kerjaanmu hari ini?” tanya Lenvy, memecah keheningan.

“Ah, baik-baik saja. Kamu?”

“Aku? Parah. Orderan begitu banyak, sementara anak-anak maunya menikmati liburan,” dan Lenvy mulai bercerita tentang agen modelling yang dikelolanya bersama sang kakak. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Lalu, kamu saja yang turun,” ucap Ray kemudian. Lenvy tertawa.

“Aku? Ngga ah. Aku lebih suka menikmati liburan.”

“Nah loh?”

“Iya. Sama kamu,” ucap Lenvy, sembari matanya melirik ke arah Ray.

Pemuda itu hanya tersenyum dan berkata, “Jangan begitu. Aku tahu kamu orang sibuk. Aku ngga mau jadi pengganggu.”

“Pengganggu? Siapa bilang kamu mengganggu?”

Ray tertawa, memilih untuk tidak meneruskan perbincangan itu.

“Jadi, Ray. Kemana kita sekarang? Ke rumahmu atau ke rumahku?”

“Wah? Aku menangkap nada yang bandel di sana.”

Lenvy terkekeh. Saat itu lalu lintas sedang macet total. Lenvy memalingkan wajahnya pada Ray, menatap mata pemuda itu sambil tersenyum. Sesaat kemudian gadis itu memiringkan tubuhnya.

“Kiss me?” bisiknya lirih. Ray menggerakkan kepalanya, menemukan kelembutan bibir gadis itu tak berapa lama kemudian. Bahkan Ray bisa merasakan Lenvy lebih bergairah daripada biasanya. Gadis itu melumat bibir Ray, sambil sesekali memasukkan lidahnya ke dalam mulut si pemuda.

Tet-teett!!

Lenvy menarik bibirnya dan tertawa. Ray memandang ke arah jalanan yang lengang di depan mereka, dan kepalan tangan yang keluar dari dalam mobil di belakang mereka, lalu ikut tertawa.

“Ke rumahku ya, Ray?” bisik Lenvy tanpa menoleh.

Ray tak menyahut. Ia memang sedang jenuh setelah bekerja seharian. Dan seks sudah pasti merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kejenuhan, seperti yang Ray yakin benar sama dengan yang ada di pikiran Lenvy.

“Kamu yakin?”

“Sini, kamu yang nyetir,” Lenvy berkata, membelokkan mobilnya ke salah satu gang pinggir jalan dan menghentikannya. Ray tertawa, membuka pintu mobil dan bergegas menuju sisi mobil yang lain.

Selalu saja begitu, Ray menyetir sampai ke rumah, sementara Lenvy memuaskan hobi seksualnya. Foreplay, begitu Ray dan Lenvy menyebutnya, dan tentu saja orang-orang yang lain juga.

Ray dan Lenvy pertama kali berjumpa di sebuah seminar, tepat sebulan yang lalu. Waktu itu Ray ditugaskan untuk mewakili kantornya, mendengarkan semua omong kosong para pakar periklanan ibukota. Ray yang memang tak pernah ambil pusing dengan ide-ide brilian orang lain, lebih suka menghabiskan waktunya dengan melirik gadis-gadis eksekutif yang banyak berseliweran selama seminar berlangsung. Satu lirikannya menemukan sosok Lenvy, dengan bibir bawah si gadis yang tergigit saat beradu pandang dengannya. Beberapa lirikan lagi, dan sebuah senyum menggoda, gadis itu tak menolak saat Ray melangkah mendekatinya.

Lenvy, sosok wanita karir jaman millenium. Muda, cantik, dan penuh gairah. Usianya yang sebaya dengan Ray, membuat semua perbincangan terasa lebih menyenangkan. Gayung bersambut saat Ray menyinggung masalah sex after lunch, euforia kalangan eksekutif muda yang workaholic. Bahkan Lenvy, yang semula mengatakan bahwa ia ‘tidak terlalu’ menyukai hal itu, bukan ‘tidak pernah’ melakukannya, terpaksa mengakui bahwa Ray membuatnya ketagihan, setelah pemuda itu menyetubuhinya seharian suntuk di sebuah kamar hotel.

Ray tahu, penilaian Lenvy padanya tak jauh berbeda dengan penilaiannya sendiri. Khusus kalangan orang muda, Ray adalah sosok yang didambakan semua gadis. Mapan, mempesona, dan memabukkan. Hubungan mereka pun berkembang menjadi mutualisme, saat Lenvy menyanggupi untuk menyediakan models agency-nya sebagai partner bayangan biro periklanan tempat Ray bekerja.

Semua senang, tak ada yang merasa dirugikan.

Anik hanya melongo, seperti biasa, saat menyaksikan majikannya masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan Ray.

“Ayo, Ray,” desis Lenvy tak memperdulikan tatapan bertanya dari Anik. Nafasnya terengah. Ray menurut saat gadis itu menariknya menuju kamar tidur. Lenvy punya hasrat yang besar, bahkan terkadang Ray merasa gadis itu mengerikan di tempat tidur. Lima menit yang lalu, Lenvy masih mengulum penisnya dengan ganas di dalam mobil, dengan sentuhan luar biasa yang nyaris saja membuatnya ejakulasi di dalam mulut si gadis. Sekarang pun Ray harus mempertahankan nafsunya yang bergolak hebat, saat Lenvy menciumi seluruh bagian tubuhnya sambil melucuti pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.

Tak berapa lama kemudian, hanya erangan Lenvy yang terdengar di dalam kamar.

Ray terbangun, mendapati suasana kamar yang remang-remang. Pemuda itu mengeluh dalam hati, saat merasakan sekujur tubuhnya yang penat. Matanya lalu memandang ke sekeliling kamar. Tak ada sosok Lenvy dimanapun. Bangkit dari tempat tidur, Ray menyambar celana panjangnya di lantai. Sedikit terkejut juga ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum pernah ia berada di rumah Lenvy sampai selama itu.

Ray memandang kemeja yang tersampir di meja dekat pintu. Pemuda itu tersenyum geli. Lenvy nyaris saja membuat kemeja Kenzo kesayangannya sobek tadi. Gadis yang luar biasa, pikir Ray lalu melangkah mendekati pintu. Baru saja hendak meraih kemejanya, mendadak pemuda itu menangkap suara-suara ganjil dari luar kamar. Ray mendekatkan telinganya pada daun pintu. Alisnya berkerenyit.

“Kamu!! Jangan!!”

PRANG!!

Nyaris saja Ray melompat saking terkejutnya. Apa yang tengah terjadi? pikir pemuda itu dalam hatinya. Sedikit curiga, Ray memutar gagang pintu. Pintu membuka sedikit, tapi Ray hanya bisa melihat ruang tamu.

“Beb. Jangan, Beb. Aku mohon. Jangan,” terdengar suara seorang gadis. Ray yakin seratus persen kalau itu adalah suara Lenvy.

“Apanya yang jangan-jangan?” Kali ini suara seorang pria, berat dan kasar. Tanpa sadar Ray mengulurkan tangannya ke samping, meraba permukaan meja, sedikit kecewa saat hanya menemukan sebuah vas bunga.

“Aku cinta kamu, Beb. Hanya kamu. Sumpah! Sumpah!”

Ray menunggu, melacak lagi dengan matanya sosok-sosok yang mungkin terlihat dari tempat di mana ia berada.

“Cinta! Cinta! Lalu siapa yang sama-sama dengan kamu siang tadi? Setan?”

Ray terperangah. Rupanya Lenvy dan orang itu tengah membicarakan dirinya. Dan Ray tak bisa memperkirakan kalau pria itu tahu bahwa ia masih ada di dalam rumah Lenvy. Bagus, pikir Ray dalam hati, sekarang ia dalam kesulitan. Ray menoleh dan menatap jendela kamar. Ia menggerutu dalam hati, seandainya saja ia masih remaja, jendela dan pagar setinggi apapun bukan halangan baginya. Sekarang? Saat rokok dan seks sudah meracuninya terlalu banyak?

Tapi, Ray, bisik hatinya lagi. Kamu akan lari dari masalah?

“Aku cek kamarmu!” Ray mendengar pria itu berkata-kata lagi. Ray menggenggam vas bunga erat-erat di tangannya dan merapatkan pintu kamar.

“Beb! Kamu kok ngga percaya sih? Beb!! Beb!!”

Lalu sebuah pemikiran lain melintas di benak Ray. Kalau ia melibatkan dirinya dalam masalah ini, lalu masalah apa lagi yang akan menantinya? Siapa orang itu saja ia tak tahu. Lenvy juga bukan gadis yang layak untuk ia bela dengan mempertaruhkan nyawa. Berpikir demikian, Ray mengambil keputusan bulat. Ia harus cepat! Pemuda itu meletakkan vas bunga kembali ke atas meja, lalu dengan secepat kilat ia menyambar pakaian, dasi, dan sepatunya.

Ray merinding saat mendapati semak-semak di bawah jendela. Nyaris saja ia menjerit saat salah satu ranting tanaman menusuk telapak kakinya.

“Busyet,” desis pemuda itu, lalu terpaksa menundukkan tubuhnya saat terdengar pintu kamar membuka.

“Kan? Aku sudah bilang kalau tak ada siapa-siapa?” Ray mendengar suara Lenvy, tertangkap nada lega di sana. Ray merasa gusar dalam hati, coba saja ia tidak terbangun tadi.

“Tapi mereka semua bilang kalau mereka melihat ka..”

Kata-kata pria itu terhenti. Ray tak bergerak sedikitpun. Beberapa saat lamanya, tak terdengar suara apapun. Lalu lamat-lamat Ray mendengar suara retsleting ditarik. Pemuda itu tersenyum seketika.

Ray menunggu beberapa menit, sebelum akhirnya memastikan bahwa situasi cukup aman baginya untuk berlalu dari tempat itu. Masih sempat Ray mendengar suara desahan nafas dari dalam kamar, sebelum kakinya melangkah. Mereka pasti sudah terlalu sibuk untuk mendengarku, pikir Ray geli. Pemuda itu melangkah menuju teras. Kurang beberapa langkah, di sudut yang tak terkena lampu, Ray mengenakan kembali pakaiannya.

Ray tak terkejut mendapati Anik di depan pintu. Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak. Ray mengedipkan matanya dan menghampiri pembantu rumah tangga yang tampak gugup itu.

“Tolong, bilang Nona kalau tas saya masih di mobilnya,” ucap Ray sambil tersenyum. Pembantu itu hanya mengangguk.

“Lalu, tolong bukakan pagar?”

Sebelum berlalu dari rumah Lenvy, Ray masih sempat melirik plat dua digit di bumper Jaguar yang diparkir di depan pagar. Melihat ke dalam mobil, Ray tak menemukan siapapun. Ray tersenyum getir. Dari pergaulannya yang luas, ia bisa menebak siapa kira-kira yang berada di dalam rumah Lenvy saat itu. Ray bersyukur ia tak melibatkan dirinya dalam masalah yang lebih besar daripada sekedar bercinta dengan WIL konglomerat metropolis.

“Edan,” gumam Ray, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan mulai melangkahkan kakinya menelusuri trotoar yang belum kering. Entah ia harus merasa bangga, atau merasa bodoh, atau bahkan kecewa. Ray tak tahu. Yang ia tahu ia harus menyiapkan rencana untuk kelangsungan hubungannya dengan Lenvy. Bukan hanya seks, tapi juga urusan kantor.

Reni, girl with flower

Semalaman tidur nyenyak tanpa gangguan, dan hari yang menyenangkan di kantor. Tak heran raut Ray tampak cerah sore itu. Saat ia melangkah keluar dari lift, seorang pemuda menghampirinya, memberikannya keceriaan tambahan dengan mengatakan,

“Mas, mobilnya sudah selesai. Sudah saya ambilkan. Ini kuncinya.”

Ray menyeringai. Akhirnya, pikir pemuda itu dalam hati, setelah selama seminggu ia menggantungkan dirinya dengan pertolongan orang lain. Ray menepuk pundak office-boy itu dan berkata, “Yos, kamu adalah berkat hari ini.”
Usai berkata demikian, Ray meninggalkan Yossi, si office-boy, yang termangu-mangu. Jemari Ray memainkan gantungan kunci sambil kakinya melangkah.

Di basement, Ray melepaskan ikat rambut dan dasinya. Matanya segera menangkap sosok kesayangannya diparkir tak jauh dari pintu keluar. Wardoyo, Satpam empat puluhan tahun yang juga merupakan teman setia Ray saat lembur, berdiri di dekat mobilnya. Wardoyo mengangkat sedikit ujung topinya saat Ray tiba.

“Wah, Mas Ray. Akhirnya si kuda balik juga.”

Ray tertawa dan berkata, “Iya, Pak. Masa kesatria ngga punya kuda.”

Wardoyo tertawa. Ray memang sosok yang paling ramah yang pernah ia temui selama ia bekerja sebagai satpam di gedung itu. Saat semua orang hanya memandang kepadanya dengan ujung mata, pemuda itu muncul di basement pada hari pertamanya bekerja sambil membawa dua cangkir Nescafe panas. Saat semua sosok yang dilihat Wardoyo mengingatkannya pada orang-orang yang telah berandil merusakan negeri Indonesia tercinta, Ray malah mengingatkannya pada Cak Giyanto, gerilyawan pembela Kota Pahlawan, idolanya saat masih kanak-kanak. Gondrong dan penuh semangat hidup.

Ray berdiri di samping Wardoyo, menatap mobilnya dengan bangga. Ia masih ingat pada kejadian minggu lalu, saat sahabatnya Hendro meminjam mobilnya dengan alasan menjemput ibunya yang datang dari Lampung.

“Yakin, Ray. Aku pasti pelan-pelan.”

Semula Ray tak percaya, mengingat Hendro bukan tipikal orang yang bisa menghargai suatu barang. Tapi melihat wajah Hendro, pemuda yang sudah menipu ibunya dengan berkata bahwa ia sukses di Surabaya itu, Ray akhirnya tak tega dan melepaskan mobilnya dibawa Hendro dengan sejuta wanti-wanti.

Toh akhirnya ia terpaksa membayar mahal kepercayaannya, dengan meringis saat Hendro memberikan kwitansi perbaikan mobilnya. Ray tak perduli darimana Hendro dapat uang, Ray juga tak perduli bagaimana sahabatnya itu memberikan segudang alasan untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah. Yang ia tahu, ia harus menjalani hidupnya tanpa mobil kesayangannya. Itu sudah cukup untuk membuat hidupnya tambah susah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana girangnya perasaan Ray saat menatap mobilnya.

“Bisa kencan lagi nih, Mas Ray?” celetuk Wardoyo. Ray menoleh dan meleletkan lidah, “Kok bisa bilang begitu, Pak?”

Wardoyo menepuk bahu pemuda itu dan tertawa, “Mas Ray, kayak Bapak ngga tahu sampeyan saja.”

Ray terkekeh dan berpikir dalam hati, seandainya saja Wardoyo tahu bahwa ia tak selalu membutuhkan mobil untuk memperoleh teman kencan.

Tapi bicara tentang kencan, hari itu memang Ray ada acara. Dan itu salah satu penyebab juga mengapa ia sangat bersyukur mobilnya kembali. Mungkin Reni sudah menawarkan untuk menjemputnya malam itu, tapi Ray tentu saja lebih suka pergi sendiri.

Ray tiba di rumah Reni tepat pukul setengah delapan malam. Tersenyum pemuda itu saat melihat si gadis sudah menunggu di teras rumah. Ray melangkah turun dari mobilnya.

“Hai,” sapa Reni, gadis mungil berambut sebahu itu dari balik terali pagar.

Ray mengangguk, menolehkan kepalanya ke arah kanan. Ia tahu, lima rumah dari tempatnya berdiri saat itu, sahabat karibnya Jay pasti sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya.

“Kenapa? Takut dilihat temanmu?” tanya Reni, membuat Ray merasa kikuk.

“Ah, ngga kok,” sahut pemuda itu, menggaruk-garuk kepala, “aku cuman pingin mampir sebentar nanti sebelum pulang.”

“Pulang? Apa yang ngebikin kamu berpikir kalau aku bakal ngasi kamu pulang?”

Ray tertawa. Saat itu Reni sudah membuka gerbang pagar. Satu genggaman erat di pergelangan tangan, Reni menyeret Ray masuk ke pekarangan.

“Jadi, ada yang ingin kamu katakan?” tanya Reni, berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap Ray. Saat itu jarak mereka hanya satu meter. Ray bisa menghirup aroma melati yang keluar dari tubuh si gadis.

“Apa ya?” Ray terlihat berpikir sejenak, lalu sambil menjentikkan jari ia berkata, “Oh iya, mobilku sudah kembali. Itu
berita yang menyenangkan.”

Reni meruncingkan bibirnya, “Bukan itu.”

“Lalu?” gumam Ray, sementara matanya menatap langit.

“Sayang, memang jawabannya ada di atas?” ucap Reni, menirukan gaya iklan shampoo. Ray menyeringai. Satu gerakan, pemuda itu meraih dagu gadis di depannya dan melayangkan sebuah kecupan lembut.

“Selamat ulang tahun, maaf terlambat dua hari. Tapi aku kan sudah telepon,” bisik Ray di bibir si gadis.
Reni membuka matanya yang sempat terpejam dan tersenyum.

“Not as I expected. But it’s alright. It’s sweet.”

Bersambung Ke Bagian 3

Selamat Pagi Cinta (1)

Selamat Pagi Cinta (1)

Hanya satu membran elastis yang membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Sahabat Ray, Dita, pernah berkata, “Orang hanya bahagia saat duka itu tiada, dan berduka saat bahagia itu hilang. Tak ada bahagia, maka tak ada susah, begitu pun sebaliknya. Hukum alam yang mudah dicerna. Tapi apa yang terjadi bila ada seseorang yang ingin dan bahkan mampu berada di ambang batas antara keduanya?”

Orang itu adalah orang paling cerdas di dunia. Sekaligus menjadi orang terdingin di dunia. A human without soul. A zombie.

Cynthia, girl with love

Yang bilang kalau Ray adalah maniak seks, berarti ia salah besar. Ray bukan maniak. Ia tidak pernah mencuri pakaian dalam, ataupun mengoleksi ribuan film dan gambar porno. Ia tidak masturbasi tiap sepuluh menit. Dan ia tak pernah memperkosa. Tapi yang mengatakan Ray menggemari seks, berarti ia benar. Ray menikmati seks, seperti ia menikmati makan dan minum. Hanya tidak terlalu, secukupnya saja.

Cynthia hanya tertawa, bangkit dari tempat tidur, lalu setengah menyeret selimut melangkah menuju kamar mandi. Ray menatap punggung mulus gadis itu dengan tersenyum. Cynthia memang pasangan yang menyenangkan, setidaknya sampai tadi pagi. Gadis itu tak pernah mengeluh dan tak pernah menuntut lebih dalam hubungan mereka. Just sex, itu yang mereka sepakati saat pertama kali mereka bercinta sebulan yang lalu. Dan Cynthia cukup bisa memegang komitmennya, meskipun Ray tak jarang mendengar gadis itu mengigau dalam tidur dan berbisik,

“Jangan pergi..”

Gadis-gadis itu mencintainya. Mencintai kehangatannya. Bukan just sex, meskipun itu yang mereka setujui mula-mula. Mereka yang sudah pernah dipeluknya semalaman tanpa bercinta. Ray tahu itu. Tapi terikat bukan sesuatu yang diinginkannya, dan ia selalu menekankan pada gadis-gadis itu untuk paham bahwa ia tak bisa membalas cinta mereka. Terkadang Ray merasa bersalah, tapi itulah dirinya.

Ray bangkit dari tempat tidur, mematikan rokok yang masih tersisa setengah. Tadi pagi, setelah Cynthia membangunkannya dengan mengulum penisnya, setelah mereka bercinta, gadis itu memulai perbincangan yang menyedihkan.

“Ray, I think I’m stupid.”

“Stupid?”

“Ya. Sometimes you make me feel like I can’t live without you.”

“Wajar.”

“See? Bahkan aku ngga bisa marah walau kamu cuman nanggapin begitu.”

“Lalu? Aku bukan seorang yang romantis. Dan kurasa perasaan itu wajar datang setelah make love.”

“Oh ya? Kamu juga begitu? Kurasa tidak. Kamu punya banyak sekali wanita di hidupmu. Aku mungkin cuman salah satu teman semalam. Mungkin akulah si Senin, dan si anu jadi si Selasa. Lalu si Kamis.”

“Lalu di mana stupid-nya?”

“Stupid-nya? Because I let it be.”

“What? The feeling? So don’t be.”

“How? Aku bukan kamu. Aku ngga punya segudang harem. Aku cukup satu.”

“Ya, blame me for that.”

“You talk like it’s an easy thing to do.”

“Semua mudah kalau mau.”

“Aku bukan maniak.”

“Aku juga bukan.”

Dan Cynthia terdiam, memainkan jemarinya di dada telanjang Ray. Sebelum akhirnya mengatai Ray sebagai maniak seks.

Ray cukup kecewa dengan perbincangan itu. Itu berarti Cynthia sudah memakai perasaannya sebagai seorang wanita, dan bagi Ray tak ada yang paling merepotkan daripada mengalihkan perasaan itu dari si gadis. Lalu hanya tersisa dua jalan, yang pertama adalah meninggalkan Cynthia sebelum gadis itu bertambah bodoh, dan yang kedua membicarakan baik-baik dengan resiko mengarah ke jalan pertama. Bagaimanapun juga, kehilangan Cynthia adalah sesuatu yang patut disayangkan.

“Cyn, boleh ikut?” Ray berbisik di balik tirai plastik.

“Jangan,” terdengar suara Cynthia di sela gemerisik air dari shower.

Ray tak mengatakan apapun. Lalu perlahan ia mendengar suara isak tangis dari balik tirai. “Cyn, jangan begitu,” ucap
Ray, meraba tirai dengan jemarinya.

“Kenapa ngga pulang saja. Aku sedang bodoh. Aku ngga mau dilihat siapapun.”

“Cyn..”

“Seks nikmat, kan? Aku hanya pemberi kenikmatan, kan? Iya. Begitu juga kamu. Tapi aku sedang bodoh, sampai lupa hal itu. Jangan tertawa, Ray. Jangan tertawa..”

“Kamu kenapa sih? Dulu-dulu ngga pernah seperti ini?”

Lama tak ada sahutan dari balik tirai. Suara air dari shower dan isak lamat-lamat menjadi pengisi kesunyian antara Ray dan Cynthia.

“Ray..Albert ngelamar aku ke Papa. Kamu kira apa yang harus kukatakan?”

Ray hanya diam. Pemuda itu membayangkan Albert, pemuda bertubuh tambun bermata sipit, yang cinta buta pada Cynthia. Tidak bahkan Albert menjauhi Cynthia, setelah si gadis mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan sejak SMA. Bahkan Albert semakin bertekad untuk menunjukkan cinta tulusnya pada Cynthia. Dan sikap keras kepala Albert pula lah yang membuat Cynthia lebih memilih menghilang bersama Ray, daripada menghadapi Albert di rumahnya.

“Katakan apa yang ada di hatimu,” bisik Ray, merasa sedikit kecewa.

“Apa yang bisa kukatakan? Kalau aku sudah punya kamu? Kalau aku akan membayar semua hutang budi Papa padanya kelak? Ray, aku tidak berasal dari keluarga yang bebas. Tidak se-naif itu.. tidak se-naif itu..”

“Cyn..”

“Lagipula, siapa kamu? Who the hell are you?”

“Kamu kok jadi bodoh seperti ini sih?” ucap Ray, nadanya sedikit keras, “Kamu punya kehidupan! Dan tak ada seorang manusiapun yang berhak untuk mengaturnya! Kalau kamu mau, semua bisa! Kamu cukup bilang..ugh!!”

Cynthia menyingkap tirai, memutus kalimat Ray dengan menempelkan bibir basahnya di bibir pemuda itu. Ray membiarkan matanya tetap terbuka. Pemuda itu menyaksikan kedua mata Cynthia yang terpejam, dan sungai air mata yang menyatu dengan basah air di wajah si gadis. Refleks, Ray mengangkat kedua lengannya dan memeluk tubuh Cynthia. Gadis itu menarik kepalanya beberapa saat kemudian.

“Aku cinta kamu! Aku cinta.. aku ngga mau munafik..,” isaknya.

Ray memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Tak ada nafsu di sana, meskipun ketelanjangan tubuh mereka saling beradu. Cynthia tersedu di dada Ray, jemarinya meremas lengan Ray.

Ray membiarkan Cynthia menangis beberapa menit, sampai akhirnya pemuda itu mendorong tubuh si gadis sedikit menjauh.

“Cyn, aku pulang.”

Cynthia menyeka matanya dengan punggung tangan.

“Jangan pergi, Ray..,” isak si gadis.

“Kalau aku ngga pergi sekarang. Nanti kamu tambah bodoh.”

“Aku suka jadi bodoh,” bisik Cynthia. Ray menghela nafasnya.

“Semua orang suka jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.”

Cynthia tak menyahut, lengannya berusaha merengkuh Ray, tapi pemuda itu melangkah mundur. Cynthia menatap Ray, dan pemuda itu tersenyum padanya.

“Cyn,” ucap Ray, “aku ngga suka cewek bodoh.”

“Ray..”

“Aku pulang.”

“Ray..”

“Kalau sudah pintar, telpon aku di kantor.”

“Ray..”

Ray melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu di belakangnya. Ray memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia tak suka terlibat dalam urusan semacam ini. Ia tak pernah menginginkan seorang gadis untuk jatuh cinta padanya. Ray tak ingin seorang gadis menjadikannya sebagai penentu dalam memilih jalan hidup. Ray tak ingin menerima tanggung jawab sebesar itu. Ia tak suka kebodohan yang ada dalam kata cinta.

Ray baru saja selesai mengenakan kemejanya, saat pintu kamar mandi terbuka. Pemuda itu menoleh dan melihat Cynthia dengan berbalut handuk tersenyum padanya. Ray membalas tersenyum, melangkah mendekati gadis itu. Cynthia meraih dasi di tangan Ray, lalu mulai mengalungkannya di leher si pemuda.

“Mungkin aku akan menariknya, membunuh dirimu, lalu membunuh diriku sendiri,” bisik Cynthia, seraya jemarinya bergerak lembut merapikan simpul dasi.

“Oh, silahkan saja. Tak ada bedanya antara hidup dan mati. Orang bersyukur karena hidup penuh warna. Dan orang mati bersyukur karena warna-warna hidup tak semuanya indah, bahkan terkadang terlalu buruk untuk dilihat.”

Cynthia menekan simpul dasi ke atas, sementara satu lagi tangannya menarik ujung dasi ke bawah. Ray memejamkan matanya sambil tersenyum.

“Aku serius,” desis Cynthia.

“Aku juga,” balas Ray berbisik.

“Tapi aku memilih untuk tidak jadi orang bodoh,” bisik Cynthia. Dan ikatan di leher Ray mengendur. Pemuda itu membuka matanya, melihat senyuman tersungging di bibir Cynthia.

“Cepat sekali berubahnya?” tanya Ray sambil menyeringai.

Cynthia menarik tangannya dan berkata, “Mungkin bodohku membuat aku pintar. Aku bodoh karena mencintaimu. Kamu tak suka orang bodoh. Jadi kupikir aku lebih baik tetap berusaha untuk pintar.”

Ray tertawa.

“Aku takkan pernah bisa miliki kamu ya, Ray?”

“Ngga.”

“Suatu saat nanti?”

“Ngga juga.”

“Oh s’well, what sould I do about you?”

“Be smart.”

Cynthia meraih bibir Ray dengan bibirnya.

“Jangan pergi sampai siang nanti..” desah gadis itu.

“I won’t,” bisik Ray, lalu menarik handuk yang menutupi tubuh Cynthia.

Mereka bercinta. Lagi.

Ray terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Pemuda itu menoleh dan mendapati Cynthia berbaring memunggunginya. Ray tersenyum dan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut pundak gadis itu.

“Good bye, lover,” bisik Ray. Cynthia tak bergerak.

Ray lalu mengangkat tubuhnya, bergerak selembut mungkin turun dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian Ray sudah berada di depan gedung apartemen Cynthia. Menatap silhouette gadis itu di balik jendela, Ray tersenyum. Firasat pemuda itu mengatakan bahwa itu lah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di tempat itu.

Lenvy, girl with passion

Tetes-tetes air hujan masih juga deras menerpa bumi kala Ray berhasil menyesakkan tubuhnya di antara kerumunan orang yang berteduh di emper toko alat-alat olahraga itu. Pemuda itu mengeluh, membersihkan tetes air yang menempel di wajahnya. Beberapa pasang mata memandangnya dengan rasa ingin tahu. Ray memang mencolok di antara kerumunan orang itu. Wajahnya yang bersih tak menunjukkan ciri khas pejalan kaki, begitu pula pakaian necis yang ia kenakan. Hanya rambut gondrongnya yang membuat ia tampak sedikit kumuh, namun tetap saja berbeda dengan orang-orang yang berteduh bersamanya.
Ray mengerti, bahwa beberapa orang masih menyimpan keberadaan jurang kesenjangan sosial itu dalam hati mereka. Apalagi sejak terjadinya krisis moneter di akhir 1997. Banyak kejahatan yang terjadi berdasarkan hal itu. Tak ada yang bisa disalahkan dari pola pemikiran yang demikian, hanya sistem pemerintahan yang buruk, itu saja, yang membuat perbedaan begitu mencolok di antara lapisan masyarakat. Yang miskin terjun bebas, yang kaya cuma terpeleset. Yang kaya melarikan diri, yang miskin memprotes dengan menaikkan angka kriminalitas. Suatu kewajaran sekaligus kenyataan yang menyedihkan. Dan Ray tak bisa memungkiri bahwa ia termasuk salah seorang yang ‘cuma’ terpeleset gara-gara krisis moneter tersebut, walaupun ia bukan termasuk yang melarikan diri.

“Permisi, Pak, bisa pinjam korek?” pemuda itu bertanya sambil tersenyum pada salah seorang bapak di sampingnya.

Bapak itu, tentu saja, memandang penuh selidik, namun begitu matanya bertemu dengan senyum simpatik Ray, si Bapak merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak korek api.

Ray menerima kotak itu dan sudah bersiap menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, saat seseorang mendesak tubuhnya dan membuat rokoknya terjatuh.

“Hey!” Ray berseru, lebih pada dirinya sendiri. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dan memungut batang rokok yang untungnya tidak terkena genangan air.

“Sial, untung ngga basah. Rokok mahal,” gumam pemuda itu, menyelipkan kembali batang rokok itu ke sela bibirnya.

Sikapnya yang wajar, bahkan cenderung kocak membuat beberapa pasang mata yang semula menatap iri menjadi lebih hangat.

“Ini, Pak,” ucap Ray, mengembalikan kotak korek api pada Bapak di sebelahnya, yang menerima sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.

Ray menatap tirai hujan yang membatasi emper toko dengan dunia luar. Lirikannya berusaha menembus tirai tersebut, mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di depan halte bis. Ray berpikir kesal, seandainya saja ia tadi tidak berusaha melarikan diri dari Rusdi, mungkin ia lebih memilih menunggu di halte tersebut, bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi tentu saja ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Rusdi, pria yang selalu punya semangat berlebih untuk membanggakan dirinya sendiri itu, yang tak pernah mau mengaku kalah darinya dalam urusan wanita. Tadi, tepat sebelum Rusdi mulai berceloteh tentang pengalaman seksnya bersama Ida, yang Ray tahu bahwa hal itu tak mungkin terjadi karena ialah yang sudah meniduri gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun, Ray melarikan dirinya ke emper toko alat sepatu. Malas benar ia menanggapi omong kosong Rusdi.

Ray memang begitu, ia sangat membenci orang-orang yang hanya bisa omong besar tanpa bisa membuktikan omongannya sendiri. Bahkan Ida pernah berkata,

“Siapa? Rusdi? Gila apa? Orang itu kasar dan menyebalkan kalau diajak bicara. Bukan tipe cowok yang enak diajak kencan.”

Padahal kalau dihitung-hitung, Ida bukanlah gadis nomor satu di kantor, dan mendapatkan Ida bagi Ray jauh lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Dari jauh, Ray bisa melihat raut tak senang orang-orang yang berdiri di sebelah Rusdi. Merasa geli sendiri, pemuda itu menatap arloji di pergelangan tangannya.

Ini sudah lebih dari lima belas menit, pikirnya dalam hati. Kemana gadis itu?

Senyum Ray mengembang saat melihat sebuah sedan ungu berhenti di halte bis. Pemuda itu mengangkat tas kulitnya ke atas kepala, dan berlari menembus tirai hujan. Ray hanya tersenyum sinis, saat melihat Rusdi menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Pintu mobil terbuka, dan semua orang bermata awas pasti bisa melihat seraut wajah ayu dengan senyum mempesona di belakang kemudi.

“Ciao, Rus,” ucap Ray, memasang seringai terbaiknya.

Rusdi terdengar mendengus, sementara matanya tak lepas dari sosok di belakang kemudi. Ray sebetulnya ingin memamerkan gadis itu pada Rusdi, sekedar ingin menyatakan bahwa ‘kamu tak ada apa-apanya, boy’, namun kondisi alam tak mengijinkannya untuk berbuat demikian. Begitu Ray menutup pintu, gadis ayu itu menekan pedal gas.

Bersambung Ke Bagian 2

Pro Di Kelasnya

Pro Di Kelasnya

Perburuan terhadap pasangan hidup, selamanya berjalan adil, atau setidaknya begitulah seharusnya yang terjadi. Mungkin lebih mudah kalau kita menengok kepada sistim yang diterapkan dengan adil dalam pertandingan tinju, walaupun bercinta memang bukanlah tinju. Tapi bagaimana jika seorang Mike Tyson dihadapkan pada Wibowo? Nah,..siapa pula Wibowo ini? Jawabnya adalah bukan siapa-siapa alias ‘nobody.’ Lantas bagaimana reaksi penonton?
Banyak juga kukenal cowo petualang jenis Mike Tyson itu. Seorang pria, katakanlah termasuk eksekutif muda yang cukup dewasa dari segi umur saja, tidak dengan ‘hati’nya.
Petualangannya berkali-kali selalu menghasilkan, begitu menurutnya.
Satu sukses yang sebenarnya terjadi di luar kesadarannya, yang satu ini menurutku.

Di luar kesadarannya, yang kumaksud adalah dalam mencari lawan. Instingnya selalu mengatakan padanya mana yang merupakan target yang empuk, selalu menghindari target yang seimbang apalagi yang lebih berat. Karena he just can’t afford to lose. Bermain hanya di pertandingan yang diyakini dapat dimenangkannya. Tanpa ada perbandingan dengan yang target yang berat. Terus begitu, hingga lama-lama tertanam kuat di hatinya bahwa, itupun satu pertandingan yang fair, seperti; Minggu lalu dia berhasil meniduri seorang penjaga stand dari satu dept store yang berpenghasilan 300 ribu sebulannya dan dia merasa hebat. Ke esokkannya dia akan berjalan bagaikan dewa. Merasakan dirinya sebagai yang terutama, no 1 dalam permainan ini. Dialah Mike Tyson itu.

Aku tidak terlalu tertarik untuk menuliskan cerita seperti di atas panjang-lebar, membuatku merasa seperti type itu, walaupun hanya dengan mengkhayalkannya. Cerita yang lebih menarik, tentu saja dari kelas yang sama. Katakanlah kita melirik ke kelas bulu junior dalam pertandingan tinju, kelas berat terlalu glamour, lebih banyak mengaburkan cerita dengan kemewahannya. Kisah ini dimulai dengan memasuki sekaligus mengenal satu lapangan permainan yang memang ada, di mana di sana lahir juga banyak pro.

Senja, sepertinya sudah ada dalam surat perjanjian kontrak kerja para pembantu rumah tangga di sekitar rumahku. Bahwa senja adalah satu moment penting yang harus diperjuangkan, seperti halnya ‘hak’ yang harus dituntut. Mereka harus diperbolehkan untuk keluar berleha-leha, atau biarlah tidak usah bekerja saja kalau permintaannya ditolak. Entahlah, kenapa senja itu menjadi begitu penting bagi mereka, ataukah mereka juga pecinta alam sejak dari desanya. Karena matahari sunset memang terlihat juga dengan indahnya dari komplek rumahku.

Akhirnya karena tuntutan itu, suasana senja memang sangat ramai di depan rumah. Semua pembantu keluar dengan pakaian yang bersih, berjejer di depan pintu rumah majikannya masing-masing, memamerkan senyumnya, saling menggoda. Dan akan lewat disana, bujang-bujang penjual ketoprak, rujak, sate, juga penjual kembang tahu. Seorang tukang roti keliling dengan mobil. Dia menjadi lebih special, karena tidak mengusung atau mendorong dagangannya, tidak berkotor-kotor dengan debu maupun lumpur di kaki cakar ayamnya, pakaiannya rapi berseragam logo perusahaan. Dia datang dengan bermobil, lengkap dengan speaker terpasang di atasnya yang berfungsi untuk menjajakan roti yang dibawanya. Tapi sekali lagi, ini adalah senja tuk bersenang-senang, senja untuk babu-babu bercinta. maka hampir dipastikan tidak ada yang benar-benar terjual. Sebaliknya di-nyanyikannya juga lagu dangdut melalui speaker itu sebagai penghangat suasana, yang bagiku akan terdengar seolah menjerit minta perhatian lebih.

Pembantu yang menikmati kebebasan sore hari setelah tidur siangnya, karena pemilik rumah disibukkan oleh kerja kantor, memang menikmati suara penyanyinya. Tukang roti memainkan perannya, dengan bermodalkan mobil roti itu, dia merasa lebih berhak ketimbang tukang baso, ketoprak ataupun tukang kembang tahu, bahkan tukang bangunan di depan sana. Hanya satu yang akan mendapat keberuntungan untuk dicintai si tukang roti, dan yang lainnya cuma boleh memandang dengan perasaan iri.

Kejadiannya terjadi tepat didepan rumah, dengan aku sebagai saksi, karena aku juga menikmati drama manusia itu. Hanya dalam sekejap, pilihan telah dijatuhkan, dan pilihannya adalah pembantu sebelah rumahku. Si pembantu yang beruntung itu bergelayut manja pada pintu mobil yang tanpa kaca itu. Tukang roti duduk di dalamnya tidak sudi bergeser, apalagi keluar meninggalkan mobilnya. Mungkin khawatir kalau pembantu-pembantu yang ramai berkumpul itu tidak tahu bahwa dia datang dengan mobil. Bagaikan seorang raja kecil di singgasana, menggelayut manja di sisinya seorang selir, asik bermesraan, hingga tiba-tiba; tukang roti tergerak juga hatinya untuk turun dari kursi kebanggaannya. Ada apa gerangan?

Akupun tertarik, dan bergeser untuk tahu lebih lanjut. Sial, dia menuju tanaman yang memang kuurus dengan baik di halaman depan itu. Ups,..setangkai lily putih yang memang selalu mekar 4 kelopak bersamaan dalam satu tangkai itu dipotesnya. Memancingku untuk menghardiknya dengan kejam, tapi tidak kulakukan. Masih juga dia merasa tidak cukup dan bergerilya menyusup dalam rimbun tamanku.Tapi kemudian kupikir bahwa, melodrama yang disajikannya, pantas pula untuk dibayar, mungkin seperti ketika kita menonton sebuah pertunjukkan teater di TIM.

Sementara pikiranku berusaha menguasai kemarahan itu. Si tukang roti sudah dengan cepat kembali ke singgasana-nya sebelum dikudeta oleh kneknya yang ikut serta dalam mobil. Kembali pembantu itu bergelayut, lebih manja kali ini, karena dilihatnya sang pujaan hati sudah memetikkan setangkai bunga. Hanya dengan melihat setangkai itu, hatinya pun seketika berbunga. Jantungnya berdebar, kakinya melemas, dan semakin dia bergelayut manja di sana.

Pandangannya yang penuh cinta kepada tukang roti, disambut dengan uluran tangan tukang roti, setelah memisahkan satu kelopak lily yang kini berada dalam jepitan jarinya, perlahan sebelum sumringah pembantu itu reda, ditambatkannya pada satu telinganya, tentu dengan sebelumnya menyibakkan rambut panjang terurai itu. Satu di kiri, dan satu lagi di kanan.

Bah, apakah ia sengaja ingin mempermainkan kekasihnya dengan itu, karena dalam pandanganku, kelopak besar bunga lily di kanan-kiri, menjepit hidung besar yang mekar karena bangga itu bukanlah pemandangan yang ingin kita lihat dari kekasih kita. Tindakannya itu jelas merusak semua ide tentang nilai romantis dari bunga, membuatku semakin anti terhadap jurus bunga yang satu ini. Walaupun memang ada yang melakukannya dengan anggun, dengan style. Tapi dengan satu contoh seperti itu melekat kuat di benakku, bagaimana aku dapat melakukannya lagi dengan style? Whatever, pilihannya dalam beromantis, bukanlah aku yang berhak menentukan.

Dua kelopak yang tersisa, diserahkan langsung ke dalam genggaman jemari yang lentik juga baginya. Rupanya pandai pula dia menghitung bunga yang dibutuhkan untuk satu moment percintaan ini. Belum cukup dengan itu, masih juga setangkup bunga melati yang juga berasal dari halaman depan rumahku berpindah tangan. Wah, rupanya bunga melati itu yang dicarinya tadi, sekedar pewangi untuk suasana romantiskah? Tidak begitu jelas bagiku, ilmuku belum lagi mencakup pengetahuan tentang itu.:

PTCO

PTCO

Aku terbangun kedinginan. Selimut sudah jauh di bawah kakiku. Aku tidak tahu pukul berapa saat itu, yang pasti dari celah-celah jendela langit masih terlihat kelam. Aku mendengar dengkurannya yang lembut, mirip anak kucing. Senyumku mengembang, dan sejuta rasa sayang yang sudah kupupuk selama dua puluh tahun terakhir mengalir bagai anak sungai.

Aku beringsut mendekatinya, merapatkan tubuhku. Kuraih tepian selimut dengan ujung kakiku. Kuselimuti kami berdua. Dengkurannya berhenti, ia bergerak sedikit, hanya untuk mengangkat lengannya dan membiarkanku masuk dalam dekapannya. Aku tersipu, sadar kalau ia belum tidur.

“Sudah dua puluh tahun, Sayang. Tepat hari ini,” kuberbisik padanya.
Ia bergumam lembut, “Aku tahu. Aku tahu.”
Kurapatkan tubuhku, dan ia memberiku kehangatan.

Kalian tahu bagaimana aku dulu ‘menemukan’ suamiku?

*****

Aku benci laki-laki semacam dia. Ya! Dia yang sekarang sedang menggelutiku. Meraba sekujur tubuhku seperti singa kelaparan. Bagiku semua lelaki sama saja. Seks dulu sayang kemudian. Tidak ada seks, tidak ada sayang. Apakah memang tidak ada satu orang pun laki-laki yang tidak memikirkan seks sebelum ia sayang padaku?

Aku meninggalkan Henry setelahnya. Setelah ia berusaha merayuku untuk menyerahkan keperawananku malam itu. Aku menendangnya dari atas tempat tidur. Ia hanya meringis, seolah menganggapku seorang cewek murahan yang tidak layak menolak dirinya. Esok harinya, gossip hangat sudah menyebar ke seluruh sekolah. Bukan gossip bagaimana aku mencampakkannya, melainkan gossip bagaimana ia sudah menjilat buah dadaku. Gossip yang buru-buru (kurasa) disebarkannya pagi-pagi buta. Biasa, lelaki memang begitu.

Akhirnya, seharian itu aku jadi bahan lirikan seluruh penghuni di sekolah. Aku benar-benar benci. Tapi aku tetap saja tidak dapat menolak saat Jerry mendekatiku, dan mengajakku makan malam. Entah mengapa, aku merasa membutuhkan pria di sisiku. Menyedihkan, tapi itulah kenyataan seorang gadis sepertiku. Gadis yang terbiasa hidup dalam pergaulan ‘anak-anak gaul’. Yang seolah tidak afdol bila tidak terlihat berpasangan dengan seseorang.

Tapi yang terjadi selalu seperti itu. Aku meninggalkan mereka, pemuda-pemuda itu, setelahnya. Itulah resiko yang harus kuambil apabila aku ikut dalam arus pergaulan ‘anak-anak gaul’, sementara aku sendiri tidak menganut free-sex-life-style.

“Kamu itu bodoh,” kata Yonas kepadaku suatu hari.
Yonas adalah teman sebangkuku yang paling sering mengkritik apa saja yang kulakukan.
“Iya,” lanjutnya, “Aku heran, kamu kok masih mau saja kumpul dengan orang-orang aneh itu. Sementara kamu tahu sendiri, kan? Kalau kamu memang tidak bisa mengikuti gaya main mereka, seperti yang sering kamu keluhkan padaku.”

Memang, Yonas adalah satu-satunya tempatku bercerita. Bukan karena aku suka dia (mengingat tubuhnya yang tambun dan bukan tipeku sama sekali), melainkan karena Yonas lebih dapat mendengarkanku daripada orang-orang yang lain.

“Ya, asik lagi. Kamu saja yang tidak pernah tahu rasanya ‘gaul’,” sahutku seperti biasanya pula.
Dan ketika aku berkata demikian, Yonas pasti terdiam dan berlalu. Aku mungkin kasar padanya, tapi aku tahu, bahwa ia akan tersenyum lagi saat aku memberikannya sepotong coklat kegemarannya. Yonas memang gembul. Dia anak yang baik. Aku menyukainya.

Hari itu, Jerry datang ke kelasku, BIO 2, dengan wajah ganteng dan senyumannya. Ia mendorong Yonas yang malang ke samping.
“Minggir, Ndut, ada urusan.”
Yonas dengan bersungut-sungut beringsut ke meja belakang. Aku hanya tertawa geli melihatnya.
“Apa, Jer..?” tanyaku kemudian.
“Ini,” katanya, “Besok lusa, ada pesta ulang tahun Vonny. Kamu ikut?”
Aku berpikir sejenak.

Vonny, adalah salah seorang anak pejabat yang terkenal suka menghamburkan duit bapaknya. Sahabatnya banyak, dari kalangan menengah ke atas. Berteman dengan Vonny, sama saja layaknya berteman dengan artis.

“Ikut..!” kataku.
Kudengar Yonas menggeram di belakang.
Jerry tertawa dan berkata, “Oke, aku jemput besok pukul setengah delapan. Dan, oh ya..!”
Jerry bangkit berdiri, membalikkan tubuh, dan mengelus kepala Yonas.
“Kasihan, jangan menggerutu dong, Ndut. Fitness dulu, baru ikutan.”
Aku terkekeh geli mendengarnya. Sementara Yonas menepis lengan Jerry yang tertawa-tawa. Yonas yang malang, pikirku.

Esok lusanya, sekitar pukul enam sore, Yonas meneleponku.
“Kamu jadi berangkat?”
“Kenapa, Nas? Mau ikutan?”
Aku mendengar Yonas tertawa. Aku juga terkekeh, membayangkan bagaimana reaksi Vonny saat melihat si gendut Yonas datang ke pestanya.

“Ngga, Cher. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aduh, Nas,” sahutku geli, “Kamu tuh ya. Jangan terlalu khawatir sama aku.”
“Hmm, ngga. Aku mendengar beberapa gossip.. tentang Jerry.. dan..”
“Ah, Nas..,” tukasku tanpa ingin mendengar lagi, “Kamu tak perlu iri begitu dong. Lagipula kan kamu bukan apa-apaku. Nggak usah larang-larang.”

Beberapa saat aku hanya mendengar suara napasnya.
“Nas..? Nas..?” Mau tidak mau aku merasa sedikit bersalah juga, menyentaknya seperti itu. Yonas bagaimanapun salah seorang sahabat terbaikku.

“Cherry..! Ada Jerry di depan..!” seruan Mama memaksaku meletakkan gagang telepon.
Aku berpikir untuk menelepon Yonas besok pagi dan meminta maaf. Dia akan suka kalau aku membawakan coklat kesukaannya.

“Kamu cantik sekali,” kata Jerry sambil tersenyum.
Aku merasa bangga. Tidak salah tadi Mama memilihkanku gaun malam merah ini. Baju terusan, tanpa lengan, dengan punggung sedikit terbuka. Aku akan jadi istimewa malam ini.

Suasana di rumah Vonny terlihat meriah. Semua tampak bergaya malam itu. Baju-baju mahal dimana-mana sejauh mata memandang. Semua cantik-cantik. Semua tampan-tampan. Aku merasa senang. Inilah duniaku. Dunia anak muda jaman sekarang. Penuh gemerlap dan suka-suka. Jerry menggandengku selama acara berlangsung. Vonny juga menyambutku dengan mengecup kedua pipiku. Aku bangga karenanya. Semua orang akan lebih mengenalku lagi setelah malam ini berlalu.

Tepat pukul sembilan, Jerry menggandengku ke teras rumah. Beberapa pasangan tampak di sekitar kami, saling menikmati suasana meriah. Jerry menuntunku sampai ke sebuah kursi taman, di bawah sebuah pohon cemara. Di sana, Jerry menggenggam tanganku erat. Aku merasa jantungku berdegup. Kejadian seperti ini, aku mungkin sudah dapat menebak ke mana larinya.

“Cher, kamu tahu kalau aku sayang kamu.”
“Hmm,” anggukku mengiyakan.
“Aku ingin malam ini sedikit lebih panjang untuk kita.”
“Hhh..,” aku mendesah.

Aku tahu apa yang ia mau. Sama seperti perayu-perayu lainnya. Apa lagi kalau bukan sexual embracement. Mungkin di mobil, di jok belakang. Atau bahkan di rumahnya. Dasar lelaki. Jerry akan menjadi yang kesekian kalinya yang kutinggalkan, pikirku dalam hati.

“Terserah..,” bisikku sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
Wajah Jerry tampak cerah seketika. Ia mengecup bibirku.

*****

“Rumah kamu..?” tanyaku setelah mobil yang kami naiki berhenti.
Jerry tersenyum dan mengangguk. Pemuda itu lalu melangkah turun dan membukakan pintu mobil untukku.
“Ayo, masuk..!” katanya kemudian seraya menggandeng lenganku.
Aku menurut saja. Pikirku, aku pasti dapat mengontrol diriku sendiri. Paling-paling juga sama seperti pemuda-pemuda yang lain.

“Cher, hh..,” Jerry mendesah dan mengecup bibirku di ruang tamu, sementara lengannya memelukku erat.
Aku memejamkan mata dan menikmatinya. Tidak berapa lama kemudian, kakinya melangkah dan mendorong tubuhku hingga terduduk di atas sebuah sofa empuk berwarna coklat tua. Aku sempat berpikir, kenapa tidak ada seorang pun di rumah ini. Tapi Jerry memotong pikiran itu dengan merengkuhkan telapak tangannya pada buah dada kiriku.

“Ach..,” jeritku tertahan, merasa geli saat ia meremas.
Tapi aku tidak melawan. Jerry juga hanya tersenyum simpul, lalu mulai memaguti leherku penuh nafsu. Selang beberapa saat kemudian, pemuda itu menarik tepian rok bawahku ke atas, lalu mulai meremas kesana kemari.
“Jerry, jangan..!” bisikku padanya.
“Aku sayang kamu..,” bisiknya pula.
Cuih, pikirku, tentu saja kamu akan mencoba meyakinkanku dengan berbagai cara. Tapi bagaimanapun juga, sentuhannya pada pangkal pahaku membuatku menggelinjang.

Lalu bibir pemuda itu mulai merayapi permukaan dadaku. Jemarinya mengait tepian atas bahuku, dan entah bagaimana, bajuku sudah turun sampai ke pinggang.
“Ahh..,” ia tersenyum dan mendesah saat melihat buah dadaku yang menggumpal dari balik bra tanpa tali yang kukenakan. Lidahnya lalu mulai menjilat.
“Luar biasa, Cher..,” aku mendengarnya berbisik saat jemarinya menyusup ke balik celana dalamku.
Aku tersenyum. Cukup sudah.

“Lepaskan..!” seruku seraya mendorong tubuhnya jauh-jauh.
Pemuda itu terhuyung dan menatapku bertanya, “Kenapa..? Kamu tak suka..?” ia bertanya.
Aku membetulkan letak bajuku. “Iya,” kataku, “Aku tak suka.”
“Lalu..? Kamu akan pulang? Begitu saja..?”
“Yap. Dan kurasa kamu tidak keberatan mengantarku pulang, kan?”
Jerry menatapku dengan alis berkerut.

“Iya, kan? Sudah kubilang..!” mendadak aku mendengar seseorang berkata.
Jantungku terasa berhenti berdetak saat kulihat Henry melangkah keluar dari balik lemari kaca. Disusul oleh beberapa pemuda lain, yang kukira bukan siswa sekolah kami. Saat aku menoleh kembali ke arah Jerry, pemuda itu sudah tersenyum-senyum seraya menggosokkan telunjuk ke hidungnya.
“Betul juga, Hen. Sial benar.” Kudengar Jerry tertawa.

“Huh..!” dengusku dengan jantung berdebar.
Kubalikkan tubuh dan bergegas menuju pintu ruang tamu. Tapi seseorang meraih lenganku.
“Eit, jangan buru-buru. Mau kemana? Sini, kita main-main dulu.” kudengar Henry berkata dengan hidung begitu dekat di telingaku.
Aku menjerit, tapi mereka lebih kuat. Aku merasa tubuhku diseret ke sofa. Lalu mereka meremasi tubuhku bersamaan.

“Jangan..! Jangan..!” seruku, air mataku mulai keluar. Aku takut.
Salah seorang dari mereka mengangkat rokku.
“Asik..!” seseorang berseru.
Aku menjerit, tapi Jerry membungkam mulutku dengan bibirnya.
“Wah, dia ketakutan,” salah seorang berkata.

Aku mendelik saat merasakan seseorang menyentuh kemaluanku.
“Pahanya dikencengin. Hehehe..,” orang itu terkekeh, jemarinya memaksa masuk.
Henry meremas-remas dadaku. Cengiran di wajahnya. Aku meronta sekuat tenaga. Menendang kesana kemari.
“Tom! Pintunya! Awas!”

Terlambat! Aku sudah berlari meraih gagang pintu, sementara Jerry dan kawan-kawannya masih berusaha bangkit dari karpet. Dalam hati aku bersyukur, karena pintu itu tidak terkunci. Sambil menangis kuputar kenop pintu, membukanya dan segera melangkah keluar.
Seseorang meraihku dari luar. “Jangan..!” pekikku, “Lepaskan aku..!”
“Sshh..!” aku mendengar suara orang itu mendesis.
Orang itu menarikku keluar dari ambang pintu.

“Lihat ini..!” orang itu berkata sambil tertawa.
Aku melirik ke belakang dan melihat Henry sudah nyaris sampai ke pintu.
BLAM..! Orang yang memegangku membanting pintu. Suara mengaduh terdengar di baliknya.
“Ayo, cepat..!” orang itu menarik lenganku dan setengah menyeret membawaku keluar dari pagar.

“Ini, helm,” aku mendengar orang itu berkata.
Tubuhnya membelakangiku. Aku memicingkan mata dan berbisik lirih, “Yonas?”
Pemuda gemuk itu menolehkan wajahnya dan tersenyum.
“Yonass..!” tidak tahan air mataku membanjir, seiring tubuhku yang menghambur ke dalam pelukannya. Kurasakan Yonas merangkulku dan menepuk-nepuk punggungku.
“Aku sudah mencoba mengatakan padamu tadi. Tapi kamu tak mau mendengar.”
Yonas mendorong tubuhku hingga aku terduduk di jok sepeda motor.
“Kita harus pergi dari sini,” katanya padaku. Aku mengangguk.

*****

Angin malam berhembus. Yonas mengenakan jaket parasutnya ke tubuhku. Aku tersenyum saat merasakan hangat pandangannya.
“Thanks..,” hanya itu yang dapat kuucapkan.
Sebuah mobil melintas di belakang kami. Aku menoleh sejenak, lalu kembali menatap bintang yang bertaburan di langit.
“Kalau tidak ada kamu tadi..”
Aku melihat wajah Yonas memerah. Tapi ia tidak menggubrisku. Ia terlihat asyik memainkan tali celana training-nya.

“Nas..?” panggilku.
Yonas menoleh dengan gugup. Aku tertawa geli.
“Kamu kenapa?” tanyaku kemudian.
“Eh,” wajah Yonas tampak memerah.
“Kenapa, Nas?”
“Aku suka kamu,” kudengar ia berkata lirih.
Aku terhenyak.

Ini sebuah ungkapan berani mati, pikirku geli. Masa Yonas? Yonas si Gembul? Yang setiap hari kerjanya hanya ngomel dan ngomel ini? Aku tertawa tanpa sadar.
“Kenapa? Aku lucu ya? Hehehe..,” kudengar Yonas tertawa. Aku terdiam.
“Maaf, Nas. Bukan maksudku.”
“Tidak. Tidak apa-apa.” Yonas menurunkan tubuhnya dari jok sepeda motor.

“Ayo..,” aku mendengarnya berkata. Tapi aku tidak ingin segera berangkat.
Aku juga ikut turun dari jok, lalu mendekatinya. Ia menundukkan kepala.
“Nas, aku mau berterima kasih padamu,” ucapku.
Ia hanya menunduk. Sambil tersenyum kupeluk ia. Tubuhnya bergetar sedikit, sebelum akhirnya melemas kembali.
“Aku sayang kamu, Nas. Kamu yang terbaik di antara mereka,” bisikku jujur.
Aku tidak dapat mencintainya, pikirku, aku hanya dapat menjadi sahabatnya. Bagaimanapun Yonas tetaplah Yonas. Dan Cherry tetaplah Cherry.

“Cher..,” aku mendengar ia berbisik, “Jangan menangis, Cher.”
Aku melepaskan pelukanku dan menyurutkan tubuh. Kulihat ia tersenyum menatapku. Entah mengapa, seolah yang ada di depan mataku bukan Yonas si Gembul, melainkan sosok seseorang yang begitu hangat. Yonas menatapku dalam.
“Aku mungkin bukan siapa-siapa, Cher, buat kamu. Aku bukan seorang kaya, bahkan tampan pun tidak. Tapi aku tak bisa melihat kamu menangis.”
Aku semakin tersedu saat ia berkata demikian. Jelas-jelas ia terluka.

“Cher..,” Yonas berbisik lagi.
Aku terkejut saat ia merangkulku. Tapi sesuatu di dasar hatiku mencegahku untuk menolaknya.
“Yonas..” aku berbisik.
“Kamu tahu apa yang menjadi modal utamaku untuk mendekatimu?”
Aku hanya diam, menunggu ia menjawabnya sendiri.
“Karena aku punya ini. Pe-te-ce-o.”

Aku mengangkat kepalaku dengan pandangan bertanya. Yonas menatapku geli.
“Kamu tak tahu apa itu..?” Aku menggeleng.
“Ini..,” Yonas menepuk perut gendutnya. “Perut To Cry On.”
Aku tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa, aku merasa begitu sayang padanya.
“Kamu mau mencobanya?” ia bertanya sambil tetap tersenyum.
Aku menganggukkan kepala.

*****

Gemuruh lembut dan kehangatan itu masih dapat kurasakan sampai sekarang. Dua puluh tahun sudah lamanya. Gemuruh itu masih tetap gemuruh yang membuatku jatuh hati padanya. Yonas-ku. Si Gembul. My knight in shining armor.

Jerry dan Henry? Mereka dikeluarkan dari sekolah, setelah guru-guru menerima laporan dari kedua Mama dan Papa-ku. Polisi menyeret mereka beberapa hari kemudian, beserta kawan-kawan mereka. Kurasa mereka tidak susah menemukan PTCO di penjara, ya kan..?

Nina Temanku

Nina Temanku

Namaku Andi, usia baru 20 tahun dan baru setahun kemarin lulus SMA. Sekarang aku lagi usaha mendaftar di beberapa Perguruan tinggi. Karena sadar untuk dapat diterima di PTS top itu nggak gampang, maka aku ikut bimbingan tes. Disitulah aku berkenalan dengan cewek bernama Nina. Usianya 19 tahun, tetapi karena ayahnya orang Jerman, tubuhnya bongsor banget. wajahnya jelas cantik (namanya juga indo!). Tubuhnya seksi luar biasa, buah dada dan pinggulnya menonjol sedemikian rupa sehingga memaksa setiap mata laki-laki melotot memandangnya. Ditambah lagi dengan kesukaannya memakai T-shirt dan celana ketat, benar-benar membuat seluruh pria peserta kursus tersiksa karena menahan nafsu.

Nina tinggal di sebuah daerah elite di kotaku, dan karena rumahnya searah dengan rumahku aku sering ikut pulang dengannya bersama beberapa teman lain yang juga rumahnya searah. Mobilnya BMW biru(ayahnya kaya banget), jadi nebeng dengan dia jauh lebih nikmat dibandingkan jika pulang sendiri naik angkot.

Pada suatu hari, kebetulan teman-teman lain berencana nonton film rame-rame setelah kursus, tetapi aku malas ikut (alasan lain, karena aku lagi nggak punya duit). akhirnya aku pulang sendirian dengan Nina. Kami ngobrol dengan hebohnya di jalan, terutama membicarakan si Rudi teman kursus kami yang beberapa hari yang lalu menikah mendadak, karena kepergok Hansip sedang “gituan” dengan pacarnya di belakang gudang gedung kursus kami.

Omomg punya omong, si Nina sambil tetap menyetir melirikku dengan mata nakal
” ‘Ndi, kamu juga pernah begituan nggak sama pacarmu? kaya si Rudi itu?”
Mendengar pertanyaan itu aku ketawa ngakak
” Walah, boro-boro main. Melihat punyanya cewek saja aku belum pernah.”
Nina membelalakkan matanya yang indahkecoklatan itu
” Yang bener ‘Ndi, masak kamu belum pernah lihat punyanya cewek?”
Aku mengangkat dua jariku
“suer, belum pernah Nin. Paling aku cuma lihat di buku-buku porno”.

Nina menggeleng-ngeleng mendengar jawabanku itu. Dia tersenyum-senyum dan bertanya dengan nada menggoda
“Jadi, sekarang kamu pingin lihat punya cewek beneran nggak? ini tawaran serius lho!”
Aku menggaruk-garuk kepala
“Yaa..jelas mau dong Nin, tapi punyanya siapa?”
Nina ketawa ngakak dan dengan tangan kirinya memukul pundakku
“Ya punya gua, tahu! punya siapa lagi?”.
Walah, aku terlonjak mendengar “tawaran” gila itu. Kepalaku mendadak pusing, napasku tersengal-sengal dan suaraku jadi serak
“Kamu nggak serius kan Nin?”
Tapi Nina memandangku dan menjawab dengan enteng
“Serius! ayo kamu lihat sekarang.”
Ia tiba-tiba memarkir mobilnya di pinggir jalan.

Jalan sedang sepi sekali, maklum sudah malam. Mobil kami diparkir di bawah lampu jalan yang terang. Aku masih tertegun-tegun ketika Nina mematikan mesin, mendorong kursinya ke belakang dan dengan cepat mengangkat rok ketat yang dipakainya hingga sebatas pinggul. Dengan gerakan cepat pula ia memelorotkan celana dalamnya yang berwarna putih, sehingga bukit kemaluannya tampak dengan jelas. Aku terbelalak melihatnya. Kemaluan Nina indah sekali, hanya ditumbuhi bulu-bulu yang jarang di bagian atas sehingga kedua belah bibir kemaluannya tampak dengan nyata, berwarna kemerahan dan tampak sangat lembut.

Nina terkikik melihat mataku yang melotot
“Nih ‘Ndi, punyanya cewek. Mau lihat lebih jelas nggak?” katanya menggoda.
Bersamaan dengan itu ia dengan gerak perlahan membuka pahanya yang mulus, dan dengan jarinya membuka belahan bibir kemaluannya. Kini tampak dengan jelas kelentitnya yang berwarna merah muda, dan ketika jarinya yang lentik semakin lebar membuka bibir kemaluannya yang indah itu, aku dapat melihat lobang kemaluannya dengan jelas. Sangat indah dan merangsang, napasku sungguh tersengal-sengal, suaranya seperti kereta yang lagi langsir. “Burung”ku juga berteriak-teriak di sarangnya dalam celana, seakan minta jatah untuk ikut melihat dan merasakan benda indah yang kini terpampang jelas di depanku ini.

Tampaknya Nina memang jenis wanita ekshibisionis, yang suka memperlihatkan tubuhnya pada orang lain. Ia juga tampak terangsang sendiri, dan sambil jarinya terus mengelus bukit kemaluannya ia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya kedepan dan kebelakang.
“‘Ndi..” suaranya merintih terdengar
“Aku sudah beri kamu pemandangan terindah yang bisa kamu lihat..sekarang maukah kamu memberikan hadiah padaku?”
Aku setengah sadar mendengar pertanyaan itu, dan menjawab sekenanya
” ya..ya..okelah..apa permintaanmu?”
Dengan lembut Nina memperlebar posisinya yang mengangkang itu, dan menjawab dengan suara serak
“Jilatin vaginaku ‘Ndi..jilatin sampai aku keluar dan minum semua air maniku.” nadanya setengah memerintah.

Dan tanpa minta ijin ia memegang kepalaku, dengan setengah memaksa menekannya sehingga aku merunduk dan wajahku menempel di kemaluannya. Posisiku agak sulit, karena terhalang setir mobil. Melihat itu Nina mengubah posisi sandaran kursinya, sehingga kini ia setengah berbaring. Tangannya tetap menekan kepalaku ke arah kemaluannya. Aku tergagap dan bingung, namun pemandangan bukit kemaluan yang hanya beberapa senti di depan mataku dan baunya yang sangat merangsang menyebabkan aku seakan lupa ingatan. Dengan ganas aku menciuminya. Kujilati belahan kemaluan yang sangat indah itu, kupermainkan kelentitnya dan akhirnya mengisapnya dengan sangat bernapsu. Sambil mengisap aku tetap menggerak-gerakkan lidahku mempermainkan kelentit itu, dan jari tanganku bergerilya memasuki lobang kemaluannya.

Nina menanggapi aksiku itu dengan heboh. Ia menggoyang pantatnya dengan kuat, dan melenguh dan menceracau dengan berbagai bahasa yang dikuasainya
“ooh..mein Gott..enaak tenaan..’Ndi..cepetan dong..schnell..lidahmu goyangin terus..jangan berhenti..sekarang masukin lidahmu ke lobang..nah, gitu..terus..keluar masuk..ooh..OOH..OOHH!!”
Aku berpikir, dasar cewek bapaknya Jerman ibunya Jawa, ya bahasanya jadi campur aduk begitu. Aku makin bernafsu mencium, menjilati dan mengisap bukit kemaluannya hingga akhirnya “croot..” semburan cairan keluar dari kemaluannya dan muncrat ke mulutku. sesuai perintahnya tadi, aku bereaksi cepat dan menelan seluruh cairan itu dengan bernafsu. Gerakan Nina terhenti seketika dan ia terduduk lemas dikursinya. Aku masih tetap menunduk di kemaluannya, menciumi bibir kemaluan itu dengan lembut dan menjilati sisa cairannya yang masih menempel.

Nina mengelus kepalaku dengan lembut
” Kamu senang ya ‘Ndi..kok nggak selesai-selesai menciumnya.”
Aku agak malu juga, kujawab dengan lembut
“Vaginamu indah sekali Nin..terima kasih aku telah diijinkan untuk mencium dan menikmatinya.”
Nina terkikik dan memukul kepalaku
” Sudah ah, bicaramu kaya artis sinetron saja. Tuh ambil tisu, mulutmu belepotan banget”
Ia membantuku melap mulutku, dan memasang kembali CD dan membetulkan roknya.
“Vaginamu nggak kamu lap, Nin?” tanyaku.
Ia tertawa
“ngapain lagi..kan sudah kamu lap tadi pakai mulut “.
Dengan santai ia kemudian membetulkan kursinya, menstarter mobilnya dan meluncur kembali ke jalan raya.

Sejenak kami membisu. Akhirnya aku bicara
” Nin..kamu sudah aku puaskan. Apakah aku bisa minta kamu memuaskan aku sekarang, biar adil, gitu?”
Aku pancing begitu, ia memonyongkan mulutnya yang indah dan menjawab
“Memangnya kamu minta aku ngapain? menghisap penismu? atau memasukkan penismu ke vaginaku, begitu?”
Aduh, jorok banget mulut ini cewek. Tapi aku menjawab pelan
“iyaa..kira-kira begitulah Nin, mau nggak.”
Aku sungguh kaget ketika ia menjawab dengan setengah memekik
” ‘Ndi..emangnya aku perek? emangnya aku mau melakukan itu dengan sembarang lelaki? sori ya..aku nggak serendah itu!!”
Aku sungguh keheranan mendengar jawaban itu
“lha..yah kita lakukan tadi apaan..apa itu bukan making love namanya?”
Nina menggerakkan kepalanya dengan keras sehingga rambutnya yang kecoklatan berkibaran
“Nggak..nggak..itu lain..aku kan nggak melakukan apa-apa..kamu yang melakukan untukku..itu lain..”
Wah ternyata si Nina ini punya kelainan juga, pikirku. Akhirnya aku menghela napas dan menjawab
“ya sudah..lupakan saja. Aku sudah puas kok tadi. Maaf deh atas permintaanku.”
Nina mengangguk-angguk
” Kalau kayak tadi kamu mau lagi, oke deh. tapi yang lainnya..no way ya..itu buat calon suamiku nanti”.

Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya. Alamak, ternyata sudah di depan rumahku. Ia meminta aku segera turun dan berkata dengan nama mengancam
“awas ‘Ndi..jangan cerita siapa-siapa ya. itu tadi kan aku cuma membantu kamu yang katanya belunm pernah lihat vagina wanita.”
Sambil berkata begitu, ia memonyongkan lagi bibirnya yang indah dan BMW biru itu menderum meninggalkan rumahku.

Dasar perempuan gila!!

TAMAT