Softcore

Payudara Montok Gadis Salon

Sepulang kantor, tubuhku menjadi tambah penat sehabis mengerjai Lia tadi. Kuparkir Mercy kesayanganku di sebuah mall yang terletak tak jauh dari kantorku. Kubergegas menuju sebuah salon dengan dekorasi yang didominasi warna merah itu.

“Mau diapain Pak” tanya resepsionis yang cantik.

Kulihat namanya yang terpampang di dada. Anggi, namanya.

“Creambath sama refleksi” jawabku. “Mari dicuci dulu Pak” Anggi menyilahkanku ke tempat cuci.

Tak lama pegawai salon yang akan merawat rambutkupun datang. Kuperhatikan dia tampak masih ABG. Dengan tubuh yang kecil dan kulit sawo matang tapi bersih, wajahnya pun tampak manis dan imut. Walaupun tak secantik Lia, tapi wajahnya yang menyiratkan kemudaan dan keluguan itu menarik hatiku. Tapi yang paling menyedot perhatianku adalah buah dadanya yang besar untuk ukuran tubuhnya. Dengan tubuh yang mungil, buah dadanya tampak menonjol sekali dibalik seragamnya yang berwarna hitam itu.

Perawatanpun dimulai. Pijatan Dian, nama gadis itu, mulai memberikan kenikmatan di tubuhku yang lelah. Tetapi tak kuduga setelah aku menyetubuhi Lia tadi, gairahku kembali timbul melihat Dian. Terutama karena buah dadanya yang tampak masih padat dan kenyal itu. Benar-benar sexy sekali dilihatnya, ditambah dengan celana jeansnya yang sedikit di bawah pinggang sesuai mode masa kini, sehingga terkadang perutnya tampak ketika dia memijat bagian atas kepalaku.

Setelah creambath, Dianpun yang memberikan layanan refleksi. Karena More >

The Sad Love Story

The Sad Love Story

Somewhere, suatu waktu..

Kamar itu gelap. Sinar bulan tampak menyentuh kisi-kisi jendela kamar kecil itu. Membayangkan silhouette tubuh yang meringkuk di sudut kamar. Rena menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya yang memeluk lutut-lututnya. Bahunya yang bergerak-gerak menandakan bahwa gadis kecil itu sedang menangis. Rena mengangkat kepalanya, mengutuk sinar bulan yang menerpa wajahnya yang ternoda jejak-jejak air mata dalam hatinya. ‘Bagaimana aku bisa memaafkan dia..’

“Rene.. ah.. Rene..” mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.

Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.

Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati. ‘Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..’ Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.

Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.

Rina More >

Tangisan Cintaku

Tangisan Cintaku

Lirikan iri terlihat di wajahku. Hari itu hari valentine, di mana biasanya insan memadu cinta, menyingkirkan duka dan dendam. Semua toko bunga diwarnai oleh bunga rose merah. Tiap pasang berjalan dengan bergenggaman tangan erat. Tetapi kenapa ada perasaan iri yang tidak lari dari hatiku, aku hanya merasa dunia tidak adil. Kenapa hanya orang lain yang boleh merasakan itu semua?

Pesta valentine kali ini meriah sekali, dengan sebuah perayaan sederhana dan acara parodi yang lucu aku merayakan bersama dengan teman-teman. Perayaan ini diadakan oleh sebuah organisasi student indonesia di sini. Mereka yang jauh dari keluarga saling berkumpul dan bersenang-senang sembari mencari kenalan baru. Pada saat itu aku hanya mengenal beberapa di antara mereka saja. Hanya bermodal undangan di email yang kuterima 2 hari sebelumnya aku datang dan ikut bergabung. Mama ikut senang melihat aku ikut kegiatan mereka. Mama ikut meminjamkan gaun yang langsung kutolak. Aku ingin tampil sederhana dan seadanya. Hanya dengan jeans dan sweater merah muda aku merasa tidak berbeda dengan teman-teman yang lainnya.

Pada saat aku datang seorang diri aku menangkap adanya pandangan yang aneh dari ujung, seorang pemuda yang berlipat tangan dan duduk seenaknya tidak melepaskan pandangannya kepadaku. Aku sudah beberapa kali salah tingkah, merasa malu dan takut. Beberapa More >

Selamat Pagi Cinta (5)

Selamat Pagi Cinta (5)

“Kok ngeliat kayak mau makan orang?”

“Cemburu kali?”

“Sialan,” Lenvy mendesis. Lalu senyumnya kembali mengembang.

“Ray,” kata gadis itu, “nanti malam..”

Ray menyela, “Aku capek. Pasti capek.”

“Kok begitu? Kamu marah tentang waktu itu?”

“Aku? Ngga kok. Aku cuma ingin istirahat.”

“Kamu pasti marah. Ya sudah, aku pulang saja.”

“Hey,” ucap Ray, “dua minggu lagi, bagaimana?”

“Dua minggu? Lama sekali?”

“Aku ke Bali minggu depan.”

“Bali? Ngapain?”

“Liburan. Seminggu. Jadi?”

Senyum Lenvy kembali mengembang.

“Oke, tapi aku boleh telepon kan?”

“Iya lah,” sahut Ray, balas tersenyum. Lenvy melirik ke kanan dan ke kiri, lalu sambil menggigit bibirnya, gadis itu melambai dan berbalik tanpa mengatakan apapun. Ray menyeringai. Lenvy pasti ingin bercinta dengannya saat itu juga. Tertawa sendiri, Ray menenggelamkan diri dalam kesibukannya. Ia harus menyelesaikan semua sisa pekerjaannya sebelum akhir minggu.

Siang yang panjang itu dihabiskan Ray untuk berbelanja di mall. Seperti biasa, Ray hanya sendirian saja. Pemuda itu benar-benar menikmati kebebasannya. Ia keluar masuk berbagai toko, mencoba-coba pakaian, parfum, bahkan topi pet. Gayanya yang cuek dan cengengesan benar-benar mengundang perhatian.

“Berdandan yang keren. Kamu butuh itu, selain mulutmu,” begitu kata Pak David sebelum ia pulang tadi. Ya, Ray memang membutuhkannya untuk minggu depan. Ada apa dengan minggu depan? Minggu depan Ray ke Bali. Itu saja? Tidak. Ray ke Bali dengan misi. Misi untuk More >

Selamat Pagi Cinta (4)

Selamat Pagi Cinta (4)

Sambungan Dari Bagian 3

Sore menjelang saat Ray melangkah menuju ruangan Pak David sambil menenteng map merah di tangan. Pemuda itu mendapati ruangan itu sudah kosong. Tak berapa lama setelah Ray masuk, Ella muncul di depan pintu.

“Pak David sudah pulang, Ray.”

“Wah, kok aku ngga tahu ya?” gumam Ray, lalu mendekati Ella dan menyerahkan map merah di tangannya, “Ini, aku ngga tahu apa salahnya. Mungkin cuma perlu penambahan sample buat mahasiswa. Lagipula itu kan ngga ada hubungannya denganku. Dasar Pak David saja yang kelewat baik liat aku nganggur.”

Ella tersenyum dan menerima map yang disodorkan Ray.

“Oke, aku saja yang masukkan ke lemari arsip.”

“Thanks,” sahut Ray pendek, lalu melangkah keluar. Baru selangkah di luar pintu, pemuda itu membalikkan tubuh.

“La, kamu nganggur malam ini? Semoga tidak. Soalnya aku nganggur. Dan kayaknya aku butuh teman buat ngobrol sambil makan malam. Bagaimana?”

Ella menoleh dan membetulkan letak kacamatanya.

“Huh? Malam ini. Iya.. eh, aku ada acara. Sori, Ray.”

Ray tersenyum, “Bohong. Tapi ya sudahlah. Omong-omong, kamu pakai bra warna putih ya? Bagus tuh. Sayang terlalu berenda, kamu jadi nampak tua.”

“Ha? Kurang ajar benar,” maki Ella, tanpa sadar merapikan kaus dalamnya yang memang sedikit turun. Ray terkekeh dan melambai sambil melangkah pergi.

Suasana kantor benar-benar sudah sepi saat Ray More >