Archive for the ‘Pesta Sex’ Category
Wanita Kesepian: Lobi-lobi Bisnis – 3
Dari bagian 2
Aku dan Mas Rudy kembali berciuman. Kurasakan tangannya bergerak lincah mempreteli kancing blouseku hingga terlepas. Ia lalu meraih kaitan kutang di punggungku dan melepaskannya. Mas Rudy melenguh penuh kekaguman begitu kedua buah dadaku yang membusung penuh tumpah dari kutangku. Kedua tangannya segera menangkap buah dadaku. Meremas-remas seraya berkata betapa kenyal dan montoknya buah dadaku. Ia tak berhnti memuji-muji kecantikan tubuhku. Bibir langsung berpindah ke atas payudaraku. Menciumi keduanya dan menjilat-jilat putingku. Aku meringis keenakan menghadapi kemotan pada putingku. Tangannya meraih tanganku untuk dibimbing ke arah kontolnya.
Mbak Rini lalu melepaskan kulumannya dan membiarkan aku menggenggam kontolnya. Ia bangkit dan mengambil posisi jongkok mengangkangi Mas Rudy. Liang memeknya persis di atas kontol yang tengah kupegang. Kuacungkan persis menempel di mulut liangnya. Aku melirik ke arah Mbak rini dan mewmberi tanda supaya menurunkan tubuhnya. Mbak Rini melenguh panjang saat ujung kepalanya menerobos masuk bibir kemaluannya.
“Oohh.. gedee.. bangeett.. uugghh.. enaakkhh..!” rintih Mbak Rini penuh kenikmatan.
Kulihat batang yang lebih besar dari pergelangan tanganku itu melesak ke dalam liang Mbak Rini yang sempit. Batang itu baru masuk setengahnya. Mbak Rini sudah kelihatan gelagapan. Kelihatannya tak akan muat. Mbak Rini menggoyang-goyang pantatnya sambil bergerak turun naik. Sedikit demi sedikit gerakan itu membantu batang Mas Rudy masuk lebih dalam lagi. Mbak Rini baru menjerit lega setelah merasakan batang itu masuk seluruhnya. Ia tampak puas bisa membenamkan seluruhnya. Setelah itu ia beergerak naik turun. Telihat lambat sekali. Ketika naik rasanya tidak sampai-sampai ke ujungnya. Begitu pula saat turun. Terasa lama sekali baru mentok hingga ke dasarnya.
Aku terpesona melihatnya sambil berpikir apakah liangku mampu menerimanya. Aku tak bisa berpikir lama karena tangan Mas Rudy bergerak semakin nakal. Rokku telah dipelorotkannya sekaligus dengan celana dalamku. Aku kini sudah telanjang bulat seperti mereka berdua. Kurasakan jemari Mas Rudy menusuk-nusuk liang memekku. Mulutnya tak pernah berhenti mengemoti puting susuku. Kenikmatan di dua tempat ini benar-benar luar biasa. Rangsangan dahsyat menyebar ke sekujur tubuhku. Cairan pelumas dari liang memekku semakin membanjir sehingga memperlancar laju keluar masuk tusukan jari Mas Rudy. Menyentuh seluruh relung vaginaku. Kelentitku dipermainkan sedemikian rupa. Tubuhku terlonjak-lonjak saking keenakan. Pinggulku bergoyang, berputar dan bergerak maju mundur mengikuti irama tusukannya.
“Ganti posisi Mbak..” kata Mas Rudy tiba-tiba. Ia bangkit sembari menurunkan tubuh Mbak Rini yang tengah asyik menungganginya.
Kulihat Mbak Rini sepertinya tahu apa keinginan Mas Rudy. Ia langsung mengambil posisi merangkak di atas ranjang, bertumpu pada kedua lututnya yang ditekuk sementara pantatnya menungging ke atas. Mas Rudy mengambil posisi di belakangnya. Ia tekan punggung Mbak Rini sehingga wajahnya menyentuh ranjang. Pantatnya yang bulat penuh itu semakin menungging. Mas Rudy bergumam tak jelas sambil menatap penuh nafsu liang memek Mbak Rini yang sudah menganga lebar dari bagian belakangnya. Mas Rudy memegangi kontolnya dan diarahkan ke liang itu. Tubuhnya segera didorong ke depan. Mbak Rini melenguh seperti sapi yang sedang diperah. Mulutnya menganga sambil mengaduh karena merasakan liangnya dijejali benda keras, panjang dan besar milik Mas Rudy.
Aku iri melihat kenikmatan yang diperolehnya. Aku diam tak bergerak menyaksikan persetubuhan mereka. Nafsuku semakin memuncak. Kedua tanganku dengan refleks meremas buah dadaku sendiri. Mas Rudy melihat perbuatanku. Ia menyuruhku untuk bergabung. Mbak Rini segera menarik tubuhku hingga telentang persis di bawahnya. Kedua kakiku dibukanya lebar-lebar kemudian wajah Mbak Rini mendekati pangkal pahaku. Aku berdebar menantikannya. Kemudian kurasakan jilatan lidahnya di bibir kemaluanku. Tubuhku bergetar hebat. Luar biasa! Baru kali ini aku merasakan lidah perempuan menjilati memekku. Tubuhku meggeliat-geliat antara geli dan nikmat. Mbak Rini memang luar biasa. Ia lihai sekali memberikan rangsangan padaku. Lidahnya menjilat-jilat kelentitku. Pantatku terangkat tinggi-tinggi begitu kurasakan desakan hebat dari dalam tubuhku. Begitu kencang dan kuat hingga aku tak dapat menahannya. Aku menjerit lirih sambil menggigit bibirku sendiri. Semburan demi semburan memancar dari liang memekku. Aku mencapai puncak kenikmatan hanya dalam beberapa kali jilatan saja. Kulihat ke bawah wajah Mbak Rini semakin terbenam di antara selangkanganku. Mulutnya mengecup-ngecup cairan yang meleleh dari liangku. Menghirupnya dalam-dalam. Ia dengan penuh gairah membersihkan ceceran cairanku di sekitar kemaluanku.
“Oohh.. Mbak Rinii.. ngghh.. mmppffhh..” rintihku sambil menjambak rambutnya dan menekan kepalanya ke dalam selangkanganku.
Sementara di belakang sana, Mas Rudy dengan gagahnya menghujamkan senjata terus menerus. Pinggulnya meliuk-liuk dan bergerak maju mundur dengan kecepatan penuh. Mbak Rini sampai kelabakan mengimbangi keperkasaan pria gentle itu. Selang beberapa detik kemudian Mbak Rini melenguh panjang. Tubuhnya berkelojotan. Nampaknya ia pun sudah mencapai puncak kenikmatannya sendiri. Tubuhnya langsung lunglai dan terjatuh di sampingku. Aku segera menghunjaninya dengan ciuman. Bibirnya kukulum. Buah dadanya kuremas-remas. Lenguhannya bertambah keras bahkan setengah menjerit. Ia balas memeluk tubuhku. Mengerayangi buah dadaku. Memilin-milin putingku. Aku merasakan gairahku muncul kembali. Kami bergumul dengan panasnya. Aku melirik ke arah Mas Rudy yang terpana menyaksikan aksi kami. Batang kontolnya nampak masih keras, mengacung dengan gagahnya. Aku biarkan dia menonton kami. Perhatianku tersita semuanya oleh cumbuan Mbak Rini. Tubuhku menyambut hangat kecupan panasnya. Aku sudah tidak lagi memperhatikan Mas Rudy.
Aku tak pernah menyangka bahwa Mbak Rini memiliki kecenderungan untuk bercinta dengan sesama perempuan pula selain dengan lelaki. Bi-sex, kata orang. Aku pun sebenarnya tak pernah berpikir akan bercinta dengan sesama perempuan dan tak pernah membayangkan akan kenikmatannya. Ternyata rasanya memang lain dari pada yang lain. Aku tak kalah hangatnya menyambut cumbuan Mbak Rini. Dadaku seakan mau meledak oleh rangsangan hebat yang bergolak dalam tubuhku. Bibir Mbak Rini terus-terusan menghisap puting susuku. Aku menggeliat-geliat saking enaknya.
Kenikmatanku semakin betambah saat kurasakan bibir kemaluanku digesek-gesek oleh moncong kepala kontol Mas Rudy yang mulai ikut bergabung dengan kami. Ya ampun! Aku berteriak dalan hati saking keenakan. Mana pernah kualami kenikmatan luar biasa seperti yang sedang kurasakan saat ini.
“Auuww!” aku merintih saat merasakan kontol Mas Rudy menyeruak di antara bibir kemaluanku yang masih rapat.
Rasanya membuatku tersedak dijejali kontol sebesar itu. Kubuka kedua kakiku lebar-lebar untuk memberikan jalan padanya. Pinggulku berkutat agar kontol itu masuk seluruhnya. Aku bisa menarik nafas lega melihat Mas Rudy mulai lancar menggoyang pantatnya. Ruang vaginaku terasa penuh. Gesekan urat-urat batang Mas Rudy sampai terasa ke ulu hati. Ujung kepalanya menyodok-nyodok bagian terdalam vaginaku. Aku sampai kehabisan nafas mengimbangi goyangan Mas Rudy. Ia benar-benar perkasa. Aku takluk padanya. Tubuhku serasa dipanggang oleh kontol panjangnya. Otot-otot vaginaku kukedut-kedut. Mas Rudy mengerang merasakan kenikmatan kedutanku menghisap-hisap kontolnya. Baru tahu rasa sekarang, ujarku dalam hati. Akan kubikin KO dia, ancamku dalam hati dengan gemas.
Kuingin ia segera menyemprotkan air maninya dalam vaginaku. Kuingin merasakan kekuatan semprotannya, Kuingin ia tumbang dalam pelukannku. Aku bergoyang sekuat tenaga. Kupelintir batang kontolnya dalam memekku. Kulihat Mas Rudy megap-megap. Aku semakin bersemangat. Pinggulku berputar seperti gasing. Meliuk-liuk liar. Kurasakan tubuhnya mulai berkelojotan. Aku sudah tak memperhatikan Mbak Rini yang sibuk mencumbui tubuhku. Aku lebih berkonsentrasi untuk membuat Mas Rudy mencapai orgasme secepatnya.
Upayaku belum juga memperlihatkan hasil. Mas Rudy nampak masih perkasa menggenjotku. Belum terlihat tanda-tanda ia akan orgasme. Aku semakin frustrasi melihatnya, karena lama kelamaan aku sendiri yang kewalahan. Aku sudah merasakan desiran kuat dalam tubuhku. Aku panik oleh gejolakku sendiri. Kucoba bertahan sekuat mungkin, tetapi batang kontol Mas Rudy masih terus menusuk-nusuk dengan cepatnya. Gesekan kulit batangnya yang keras dan gerinjal urat-uratnya pada kelentitku, membuat pertahananku jebol paad akhirnya. Aku berteriak sekuat tenaga saat aliran deras menyembur dari dalam diriku. Aku menyerah, pasrah dan membiarkan otot-ototku melemas, melepaskan orgasmeku yang meledak-ledak.
“Masukiinn.. semuaannyaa..!” Jeritku seraya menarik pantat Mas Rudy ke dalam selangkanganku sehingga kontolnya melesak masuk seluruhnya. Kurasakan semburan demi semburan memancar dari dalam liangku.
Sementara Mbak Rini mengelus-elus wajahku seolah sedang menenangkan diriku yang tengah menghadapi amukan kobaran api birahi. Aku baru bisa mengambil nafas lega beberapa menit kemudian. Tulang-tulangku serasa pada copot. Aku terkulai lemas. Tenagaku terkuras habis dalam pertempuran tadi.
Mas Rudy lalu mencabut batangnya dari liangku. Ia nampak masih perkasa, mengacung gagah. Kepalanya mengkilat karena cairan milikku. Mbak Rini menoleh ke arahnya, kemudian kepadaku sepertinya meminta bantuanku untuk ‘mengeroyok’ lelaki yang telah membuat kami berdua luluh lantak. Aku mengangguk dan segera bangkit menghampiri Mas Rudy. Kutarik tubuhnya supaya berbaring telentang di ranjang. Bibirku langsung menyerbu daerah selangkangannya. Aku sudah tak sabar ingin melumat batang kontolnya. Kuselomoti dengan rakus hingga terdengar suara kecipakan air liurku. Sementara Mbak Rini memulai cumbuannya di bagian dadanya. Menjilati puting susunya. Menyusur terus ke bawah dan bergabung denganku menggumuli batangnya.
“Ouuhh.. sedaapp..” Pekik Mas Rudy melihat dua perempuan cantik saling berebut menciumi kontolnya.
Mbak Rini kebagian ujung kepalanya, sementara aku menjilati batang dan buah pelernya. Kami berdua saling berlomba memberikan kenikmatan kepada Mas Rudy. Kami kemudian bergiliran. Aku bagian atas, Mbak Rini bagian bawah. Seterusnya bergantian sampai beberapa menit lamanya. Ketika kami merasakan Mas Rudy menggelinjang dan mengerang seperti menahan sesuatu, secara berbarengan mulut kami menciumi moncong kontolnya dari samping. Kedua tangan kami mengocok batangnya.
“Ouuhh.. saa.. yaa.. ke.. ke.. kelu..” belum sempat ucapannya berakhir, nampak cairan kental dan hangat menyemprot keras dari moncongnya.
Tubuhnya menghentak-hentak seiring dengan semburan air maninya yang tak henti-henti muncrat. Wajah kami belepotan disirami air maninya yang keluar begitu banyak. Mbak Rini menghisap terus dengan rakusnya. Lidahnya menjilat-jilat sampai bersih batang itu dari ceceran air maninya. Sedangkan aku mengocoknya seakan mau memeras kontol itu hingga habis cairannya.
Setelah membersihkan cipratan air mani di wajah, lalu kami menjatuhkan diri di kiri dan kanan Mas Rudy sambil memeluknya. Kami benar-benar kecapaian. Mata terasa berat karena kantuk.
Samar-samar kudengar Mas Rudy berkata, “Kalian memang luar biasa. Saya benar-benar puas bersama kalian..”
Kami tak tahu apa lagi yang dibicarakannya karena sudah terbang melayang dalam mimpi indah. Senyum kepuasan tersungging dari bibirku dan Mbak Rini. Pengalaman yang sungguh tiada duanya..
E N D
Wanita Kesepian: Lobi-lobi Bisnis – 2
Dari bagian 1
Kelihatannya Mbak Rini tahu apa yang dilakukan Mas Rudy tehadapku. Ia tersenyum padaku sambil menganggukan kepala. Entah apa maksudnya. Kemudian kurasakan kembali gerayangan di atas pahaku, namun kali ini bukan hanya dari sisi kiriku tetapi juga dari sisi kanan tempat Mbak Rini. Oh.. dunia ini semakin kacau! Masa Mbak Rini pun berselera kepadaku sesama perempuan? Aku sepertinya terpesona oleh gerayangan tangan Mbak Rini yang begitu lembut dan mesra. Aku tak berani menepis tangannya yang semakin naik menuju pangkal pahaku.
Mereka menghentikan ciumannya dan melirik bersama-sama kepadaku. Aku balas memandang tatapan mereka. Kulihat kilatan bola mata mereka memancarkan gairah. Tiba-tiba saja, mereka mencium pipiku dari kanan-kiri. Aku berteriak memprotes perbuatan mereka. Teriakanku nampaknya tenggelam di tengah kegaduhan musik di caf
Wanita Kesepian: Lobi-lobi Bisnis – 1
Kehidupan kota metropolitan sungguh sangat berlainan dengan kehidupan di kampung. Jalanan penuh dengan lalu lalang kendaraan, bergerak tak pernah berhenti. Bis kota, angkutan penumpang umum, mobil, motor dan yang lain-lain berseliweran tak karuan. Lalu lintas benar-benar semrawut. Sepertinya tak ada aturan. Mereka berjalan semau gue, ingin menang sendiri. Tak ada sopan santun di jalanan. Kemacetan sudah merupakan keharusan di kota ini. Para pengendara saling umpat menuntut haknya masing-masing. Pokoknya membuat stress siapa saja yang hidup di kota ini.
Tak heran karenanya para penghuni kota selalu mencari kesempatan untuk refreshing. Melupakan kehidupan yang begitu penuh dengan persaingan, saling ganjal, saling sikut demi kepentingan pribadi. Mereka ada yang pergi ke luar kota, ke daerah pegunungan, ke pantai atau ada juga yang datang ke tempat-tempat hiburan sekedar mendengarkan musik sambil minum-minum bersama teman-temannya.
Setelah hidup tiga bulan di kota ini, aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan gaya kehidupan di sini. Aku pernah juga menyempatkan diri mampir ke sebuah caf
Wanita-wanita Frustrasi
Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan). Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu berakhir dengan beronani.
Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2) tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Desi tinggi 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun belum dikarunia seorang anak. Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35 tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Ita. Nah, dari sinilah semuanya berawal.
Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Desi yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak desi yang sedikit kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.
Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak desi ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak desi. Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34 b. Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi.
Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.
Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. ” Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja” ucapku. ” Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat” balasnya.
Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya.
10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku. Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat.
Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya. “Mbak mau .. kelu..ar ahh” racaunya.
Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih.
Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil inisiatif untuk memuaskanku.
Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani. Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak mau kalah dengan pantatku.
Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. “Wah ..indahnya pemandangan ini” ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku.
Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali.
Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku.
Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami. Eh..mm..mbak..mbak ..Desi..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Desi. “Permisi mbak, aku mau masuk dulu” ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Desi. Tiba-tiba “tunggu!!” teriak Mbak Desi. Aku langsung panas dingin dibuatnya. “Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi” ucapku dalam hati.” Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung” pikirku. ” A..a..ada apa ya mbak” balasku. Mbak Desi langsung mendekatku dan berkata ” kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan” ucap Mbak Desi. ” Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak ” balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba ” ha..ha..ha..ha.. ” Mbak desi tertawa.
Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak desi punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya. ” Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!” usulnya. “Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari” ucapku semakin bingung. Tanpa bicara lagi Mbak Desi semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Desi langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat.”Mbak jangan dikebiri ya..” ucapku.”Nnggak..nggak pa pa kok” balasnya. Mbak Desi ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.
Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Desi, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Desi setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Desi ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita. Aku bertaruh bahwa Mbak Desi telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan. Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Desi. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Desi telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku. “Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong” ucapnya dengan mesra.
Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Desi. “Aduh!!” meleset pada tusukanku yang pertama. Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. “Gila nih perempuan “pikirku, “ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali” ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Desi mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku. “Ayo..teruuss..ayo..” teriakku memberi semangat”. Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Desi semakin terdengar kencang. Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Desi aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat.
Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Desi didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Desi menahan nikmat. Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Desi tak sanggup lagi menahan klimaksnya “Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Desi mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat.”Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Desi yang sudah sangat basah tersebut. Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:”Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya.
Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Desi saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya. Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubunagn sex dengan Mbak Desi atau Mbak Ita karena mereka telah membuat saya tidak virgin lagi.
Wah… !!!
Terima kasih kepada rekan-rekan yang telah mengirimkan tanggapannya, baik yang berisi penilaian positif maupun negatif. Juga perlu saya jelaskan sekali lagi bahwa cerita yang dibuat semuanya berdasar pada cerita nyata saya, maupun teman serta sahabat-sahabat saya.
Adapula yang saya ambil dari kisah nyata beberapa responden yang saya nilai baik untuk diceritakan karena ada kejelasan sifat dan karakter dari responden tersebut. Mudah-mudahan keterangan saya ini bisa menjawab beberapa email yang menanyakan benar atau tidaknya cerita yang saya ceritakan tersebut terjadi.
Berikut akan saya ceritakan pengalaman pertama saya dalam orgy sex. Peristiwa ini baru terjadi beberapa hari kebelakang, tepatnya tanggal 22 September 2004. Kecuali nama saya, saya samarkan nama-nama yang ada dalam cerita ini.
*****
22 september 2004, pukul 15.25, suasana di kantor mulai terlihat menurun aktifitasnya. Beberapa staff dan karyawan lain ada yang mengobrol untuk menghabiskan waktu. Harry dan Leo, teman kerja dari Divisi Marketing, tiba-tiba datang ke ruangan kerja saya.
“Hei, Roy! Sibuk nggak?” tanya Harry kepada saya.
“Tidak. Ada apa?” kata saya sambil membereskan beberapa berkas kerjaan saya yang sudah selesai.
“Kamu ada waktu nggak nanti sore lepas kerja?” tanya Harry sambil mendekat.
“Memangnya ada apa, sih?” tanya saya sambil menatap Harry dan Leo bergantian.
Mereka saling pandang lalu tersenyum.
“Nanti sore kami ada acara khusus dengan 3 kolega bisnis…” kata Leo sambil tersenyum.
“Karena kami kurang satu orang, maka kami ajak kamu…” sambung Leo lagi.
Saya mengerenyitkan alis karena belum mengerti maksud mereka.
“Siapa mereka? Acara khusus apa?” tanya saya.
“Pokoknya kamu ikut saja deh. Dijamin puas…” kata Leo sambil menatap Harry.
Lalu mereka berdua tertawa. Saya juga ikut tertawa walau tidak mengerti apa-apa.
“Mana bisa menentukan sesuatu kalau saya tidak tahu apa yang akan dilakukan?” tanya saya.
“Kami ada janji bertemu dengan 3 orang staff Marketing Carrefour untuk memperlancar bisnis…” bisik Harry ke telinga saya.
“Lalu apa urusannya dengan saya?” tanya saya lagi.
“Mereka semua wanita, Roy.. Masa sih nggak ngerti juga?” kata Harry.
Saya mulai bisa menangkap arah pembicaraan mereka.
“Maksudnya acara khusus itu apa?” tanya saya lagi.
“Begini, Roy…” kata Leo.
“Ini bukan kali pertama kami have fun dengan mereka.. Ngerti, nggak?!” tegas Leo sambil tersenyum menatap saya.
Saya mengerti maksud mereka.
“Ngerti…” kata saya sambil tersenyum.
“Jam berapa? Dimana?” tanya saya.
“Ketemu mereka jam 7 di hotel Senen,” kata Harry.
“Baiklah, saya ikut…” kata saya.
Akhirnya kami bertiga tersenyum penuh arti. Setelah beralasan ada pertemuan bisnis kepada istri, saya dan Harry serta Leo segera meluncur ke hotel Senen menjelang jam 7. Disana, sekitar jam 6.45, kami bertemu dengan 3 wanita relasi bisnis Harry dan Leo. Saya dikenalkan kepada mereka. Mereka adalah Henny, 25 tahun, singel, Rita, 29 tahun, menikah, dan Shelly, 23 tahun, singel. Penampilan ketiga wanita tersebut sangat menarik sebagai wanita karier. Kecuali Rita yang agak gemuk, penampilan mereka sangat ramping dan sedap dipandang lengkap dengan dandanannya.
“Kita makan malam dulu atau bagaimana, nih?” tanya Leo.
“Tidak usahlah, kami sudah banyak ngemil tadi di kantor,” kata Shelly sambil tersenyum ke arah saya.
Saya balas senyum. Akhirnya setelah booking satu ruangan, kami segera masuk. Terus terang saja waktu itu saya sangat bingung harus bagaimana karena saya sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini. Saya banyak diam jadinya.
“Sudah berapa kali ikut, Roy?” tanya Shelly sambil duduk merapat kepada saya.
“Ini pertama kali,” kata saya sejujurnya sambil tersenyum.
Shellypun tersenyum manis. Waktu itu saya lihat Harry dan Rita sudah mulai berciuman di kursi. Tangan mereka sama-sama aktif saling mengelus, mengusap dan meremas tubuh pasangannya. Sedangkan Leo dan Henny terlihat saling membuka pakaian masing-masing di atas tempat tidur besar. Setelah benar-benar telanjang bulat mereka langsung berguling berpelukan sambil tangan mereka bergerak bebas di tubuh pasangannya. Melihat hal itu, kontol saya mulai bangkit. Benar-benar pemandangan yang membuat kelelakian saya tergugah.
“Kok diam saja sih, Roy..?” kata Shelly sambil naik ke pangkuan saya.
Dengan tanpa ragu, mungkin sudah terbiasa, Shelly langsung melumat bibir saya dengan panas. Sementara tangannya bergerak membuka semua kancing baju saya. Sayapun membalas ciuman Shelly dengan panas pula. Tangan saya mulai meremas buah dada lalu membuka semua kancing kemeja Shelly. Tak tanggung, BH-nya juga segera saya buka.
“Mmhh.. Mmhh…” desah Shelly disela-sela kami berciuman ketika tangan saya meremas buah dada dan memainkan puting susunya.
Tak lama Shelly langsung turun dari pangkuan saya. Dibukanya rok mini dan celana dalam mini yang dia pakai. Sayapun demikian. Saya buka seluruh pakaian sampai kami sama-sama telanjang. Shelly langsung memeluk saya dan kembali mencium bibir saya dengan panas sambil tangannya meremas dan mengocok pelan kontol saya. Rasanya sangat enak.. Sayapun balas ciuman Shelly sambil meremas pantat kenyalnya. Kontol saya sesekali menusuk perut langsingnya.
Ciuman Shelly lalu turun ke dada saya, dijilat dan digigit kecil puting susu saya, lalu lidahnya makin turun ke perut. Lidahnya berhenti ketika menyentuh bulu kemaluan saya yang agak lebat. Tangannya tetap mengocok pelan kontol sambil menatap mata saya. Kemudian ketika mulut Shelly mengulum, menjilat dan menghisap kontol saya, terasa sangat hangat dan nikmat yang tak bisa dikatakan seperti apa. Apalagi ketika sesekali Shelly melepas hisapannya lalu mengocok kontol saya dengan keras, lalu menghisapnya lagi.. Rasa nikmatnya benar-benar tak bisa saya ungkapkan. Saya hanya bisa terpejam dan memompa kontol saya keluar masuk mulut hangat Shelly.
“Gantian dong, Roy…” kata Shelly sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir saya. Saya mengangguk.
“Dimana?” tanya saya.
“Di ranjang saja…” kata Shelly sambil tangannya menarik tangan saya ke ranjang.
Saat itu Leo sedang menyetubuhi Henny. Shelly segera telentang di samping tubuh Henny, sayapun langsung membuka pahanya lalu lidah saya bermain menjilati semua sudut memek Shelly yang bersih tak berbau. Desahan dan erangan serta geliat tubuh Shelly sangat jelas ketika menikmati nikmatnya dijilat memek. Sesekali tangannya meremas rambut saya lalu mendesakkan kepala saya ke memeknya..
“Cepat naik, Roy.. Setubuhi saya!” pinta Shelly dengan nada bergetar.
Sayapun lalu bangkit dan segera memasukkan kontol ke memek Shelly yang sudah sangat basah sehingga memudahkan masuknya kontol. Tak lama saya dan Shelly sudah bermandi peluh dihiasi dengan desah dan erangan kenikmatan yang keluar dari mulut kami seiring dengan keluar masuknya kontol saya di memek Shelly. Ada suatu hal yang lebih memanaskan suasana ketika saya asyik menyetubuhi Shelly entah sudah berapa posisi, tiba-tiba Henny yang sedang disetubuhi Leo disamping kami, tangannya memegang pundak saya lalu menarik leher agar mendekati wajahnya, kemudian dilumatnya bibir saya habis. Saya membalas ciumannya sambil tetap menyetubuhi Shelly. Sedangkan tangan saya satu meremas buah dada Henny yang sedang asyik disetubuhi Leo. Hal ini tambah memberikan suatu energi buat saya untuk memacu birahi.
“Roy, gantian..!” tiba-tiba Leo menepuk pundak saya sambil melepas kontolnya dari memek Henny.
Tanpa banyak cakap sayapun mencabut kontol saya dari memek Shelly. Tak lama Leo sudah mulai menyetubuhi Shelly. Ketika saya mau mengangkangi tubuh Henny, tiba-tiba Henny bangkit lalu meraih kontol saya yang masih basah oleh cairan memek Shelly. Dikocoknya kontol saya lalu mulutnya yang agak tebal menghisap dan menjilat kontol saya.
Di sudut terlihat Harry sedang memompa kontolnya di anus Rita. Rita terpejam entah merasakan apa. Harry terpejam sambil terus memompa kontolnya dengan cepat, sampai akhirnya terlihat Harry mencabut kontolnya dari anus Rita lalu tampak air mani Harry muncrat di pantat Rita. Harry terkulai lemas sambil memeluk Rita dari belakang di atas kursi.
“Ohh.. Fuck!! Ohh,” terdengar teriakan lirih Shelly ketika mendapat kenikmatan ketika kontol Leo keluar masuk memeknya.
“Masukkin sini, Roy…” pinta Henny sambil merebahkan dirinya menyamping.
Jarinya dimasukkan ke lubang anusnya. Sejenak saya hanya diam, ragu karena tidak pernah melakukannya. Tapi dorongan nafsu yang kuat akhirnya menghilangkan keraguan saya itu. Saya ludahi tangan lalu dioleskan ke kepala dan batang kontol saya agar licin. Lalu secara perlahan saya susupkan kepala kontol saya ke lubang anus Henny. Mata Henny terpejam sambil memegang batang kontol saya. Lama-lama kepala kontol saya masuk ke anusnya, lalu perlahan saya tekan lebih dalam lagi sampai akhirnya tigaperempat bagian batang kontol saya masuk anusnya. Perlahan saya keluar masukan kontol di anus Henny. Mulanya tampak Henny menggigit bibir, tapi lama-lama matanya terpejam dan terdengar desahan kenikmatan.
“Ohh.. Sshh…” desah Henny sambil menggoyang pantatnya.
Wahh..!! Merupakan suatu pengalaman yang luar biasa.. Saya merasakan rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika anus Henny dengan sangat ketat menjepit ketika saya memompa kontol di anusnya. Sementara Hennypun tampak menikmati posisi seperti ini. Sewaktu saya masih merasakan nikmatnya kontol keluar masuk anus Henny, terdengar Leo mengerang sewaktu air maninya menyembur di dalam memek Shelly.
“Jangan dulu dicabut, Leo! Aku juga mau keluar!” kata Shelly dengan suara serak tertahan. Pinggulnya bergoyang cepat sambil mendesakkan memeknya ke kontol Leo agar masuk lebih dalam.
Tak lama, “Ohh.. Fuck! Fuck! Mmhh…” erang Shelly mencapai orgasme.
Tubuh lunglai Leo ambruk memeluk tubuh Shelly. Sementara saya terus memompa kontol di lubang anus Henny. Desahan dan erangan nikmat kami terus terdengar. Sampai saatnya saya merasakan ada dorongan yang ingin keluar dari kontol saya. Saya pompa kontol saya makin keras.
“Saya mau keluar…” kata saya sambil mata terpejam.
Saya tekan kontol saya dalam-dalam sampai hampir masuk semua ke dalam anus Henny. Lalu, croott! Croott! Croott! Air mani saya keluar banyak di dalam anus Henny. Kontol saya terasa makin hangat di dalamnya. Henny tersenyum.
“Bagaimana rasanya?” tanya Henny dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Wahh.. Enak sekali…” kata saya sambil mencabut kontol saya perlahan.
Tampak air mani saya banyak menempel di batang kontol saya, lalu tampak pula air mani yang keluar dari lubang anusnya. Henny bangkit lalu meraih sprei dan mengelap air mani di anus dia serta kontol saya. Malam itu kami melakukan dua kali persetubuhan dengan berganti pasangan. Hanya sekitar 3 jam kami menikmati malam itu.
Setelah berpakaian, saya bertukar kartu nama dengan mereka. Lalu kami pulang. Entah kapan lagi bisa ada ajakan khusus seperti itu lagi..
*****
Wahh..!! Malam itu benar-benar pengalaman pertama saya yang sangat penuh sensasi. Bersetubuh ramai-ramai sambil ganti-ganti pasangan benar-benar membuat gairah seksual saya terdongkrak dan bangkit beberapa kali lipat dari biasanya. Apalagi ditambah dengan anal seks yang baru pertama kali saya lakukan. Nikmatnya benar-benar lebih dari aktifitas seks biasa. Saya tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya.
E N D
17Tahun.com: Situs Cerita Dewasa Indonesia Terbesar
• UTAMA • TERBARU • TERBAIK • TERPOPULAR • RANDOM • ATURAN PENULISAN • KIRIM CERITA •
Ada yang ingin dicari?
Utama : Pesta Seks : Vonny dan Nadya
DATA CERITA
Tanggal : Sen, 16 Jul 2001
Penilaian : 4.40
Suara : 5
Hits : 3803
STATISTIK PENILAIAN
20% 0% 0% 40% 40%
Nilai A B C D E
Suara 1 0 0 2 2
Vonny dan Nadya
Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang kurang tepat, jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang “abuy” (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung.
Pada waktu aku kelas 3 SMU menjelang Ebtanas, aku belajar bersama teman wanita yang bernama Vonny dan Nadya, ketika itu aku berlajar bersama, dan tidak sedikit pun aku berpikir untuk bermacam-macam dengan mereka berdua. Memang sih banyak cowok-cowok yang “sirik” padaku, karena aku bisa dekat dengan mereka berdua, yang termasuk seleb di sekolah **** (edited) di kotaku, yang penting itu sekolah swasta terkenal di Bandung. Pada waktu itu acara belajar itu dilakukan oleh kami bertiga di rumah Vonny. Pada waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 18:00, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Vonny. Hujan turun deras sekali, dan mengakibatkan aku terpaksa berhenti untuk menunggu hujan tersebut (maklum ketika itu aku memakai motor). Tapi apa boleh buat, karena aku sudah mempunyai janji dengan mereka berdua untuk belajar bersama, yah.. aku berani berkorban meski hujan itu belum reda.
Dan akhirnya aku pun sampai di rumah Vonny dengan basah kuyup. Tiba-tiba Vonny keluar dari rumahnya karena mendengar suara motorku, maklum ketika itu aku memakai motor NSR yang cukup berisik untuk didengar. Tiba-tiba pun Vonny menghampiriku untuk membukakan pagar, agaraku bisa masuk, dan secara otomatis Vonny pun menjadi basah kuyup, dan terlihatlah olehku pemandangan yang menggiurkan. BH-nya yang terlihat jelas olehku, dan kuperkirakan ukurannya cukup besar (36B) dan dia waktu itu memakai BH berwarna hitam, jadi terlihat jelas olehku. Setelah itu aku pun masuk ke rumahnya, dan permisi ke Vonny untuk ke toilet untuk membersihkan badanku akibat hujan tadi. Ketika aku mandi terdengar Vonny mengetuk pintu dan memanggilku untuk memberikan handuk, aku pun membuka pintu dan mengambil handuk tersebut.
Setelah selesai mandi aku keluar dengan hanya memakai handuk saja. Aku mencari Vonny untuk meminjam pakaian kakaknya yang kebetulan sedang di luar kota. Aku melihat-lihat rumahnya, dan kurasakan tidak ada satu orang pun di rumahnya. Cuek saja, aku pikir. Dan aku pun dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggilku, ketika kulihat, dia adalah Nadya, yang entah kapan datangnya. Kemudian dia memberikan baju kepadaku, aku sempat kaget dibuatnya, karena aku tidak tahu dia kapan datangnya. Aku pun kembali ke kamar mandi untuk memakai baju ini. Dan ketika aku sedang ganti baju, tiba-tiba Vonny masuk, dan terkejut sekali karena menduga aku sudah tidak ada di dalam (maklum pintu kamar mandi lupa saya kunci). Vonny berkata dengan wajah panik, “Sorry yah Yon,” dan dia langsung beranjak keluar dan aku pun melanjutkan memakai pakaian itu.
Setelah selesai, aku pun beranjak dari situ. Aku keluar ke arah ruang tamu dan melihat mereka sedang bersiap-siap untuk memulai belajar bersama. Aku sempat melihat wajah Vonny yang sedikit canggung. Setelah itu aku duduk dan mengeluarkan buku yang telah kubawa. Setelah beberapalama belajar, entah apa yang merasuki otakku ini sehingga membuat si “Joni” berdiri. Pada saat itu Vonny minta maaf padaku atas kejadian tadi, dan dengan berbisik dia agar tidak memberitahu pada siapapun juga, aku pun mengiyakannya. Ketika itu Nadya mengajak untuk menonton VCD yang baru dipinjamnya untuk melepas suntuk dalam belajar, dan kami pun menuju kamar Vonny. Kami bertiga pun mulai menonton film tersebut. Setelah beberapa lama kami menonton, terlihatlah suatu adegan yang “hot”, kami betiga hanya diam saja, sambil berpandang-pandangan. Aku melihat Nadya yang sudah mulai kegelisahan, mungkin karena melihat adegan tersebut, dan terlihat Vonny yang dari tadi diam saja, tetapi dia seperti mulai terangsang oleh adegan tersebut.
Aku pun melirik ke arah Vonny, dan tanpa dia sadari dia mengusap-ngusap ke arah kemaluannya, dan sedikit-sedikit berdesah kecil, “Sshh.. ahh..” hal ini membuat si “Joni” beranjak dari tempatnya. Timbul hatiku untuk mengerjai mereka berdua. Aku menggeserkan posisi dudukku ini untuk mendekatkan ke mereka berdua. Aku pun memberanikan diri untuk mengelus-elus pahanya yang montok dan putih mulus itu. Dia pun hanya diam saja, seakan akan menikmati elusan itu. Nadya melihat dan ikut terangsang juga, ketika itu Nadya nekad untuk mendekat padaku, dan tiba-tiba dia mengecup bibirku dengan hangat, dan aku pun membalas dengan manis ciumannya. Ciumannya yang sangat lembut itu membuatku semakin membabi buta. Aku pun meremas dada Nadya yang masih terbungkus oleh BH, dan Nadya pun sangat menikmatinya. Tiba-tiba aku mendengar desahan dari Vonny, “Ssshh.. ahh.. puaskan aku malam ini, Yon.. pleassee, aku udah nggak tahannich.”
Aku menyuruh mereka membuka pakaiannya satu persatu. Mereka pun dengan cepat membuka pakaiannya. Lalu Nadya melucuti pakaianku, dan ketika membuka celanaku mereka terbelalak, karena melihat punyaku itu yang cukup besar (18 cm). Dengan cepat Vonny melahap penisku yang sudah tegang dari tadi. Saat Vonny melahap penisku itu, aku terus menjilati puting susu Nadya yang sudah mulai mengeras, dan Nadya menggelinjang keenakan. Saat itu aku menyuruh Nadya untuk terlentang di ranjang, kini aku mulai menjilati kemaluannya yang sudah mengeluarkan bau yang harum dari kemaluannya. Aku terus menjilatinya dengan buas, dengan sedikit-sedikit aku mengocok-ngocok dengan jariku, dan dia pun menikmatinya. Dia menyuruhku untuk memasukkannya ke vaginanya, “Ayo Yonn, masukin dong itunya, aku udah nggak sabaran nunggunya,” aku berkata, “Iya sayang, sabar yah..” tiba-tiba Vonny melepaskan kemaluanku itu dari dalam mulutnya dan membimbing batanganku itu masuk ke dalam liang milik Nadya yang sudah basah sejak tadi.
“Bless.. bless.. bless” batanganku pun masuk setengahnya, dan aku menggoyangkan maju-mundur secara perlahan-lahan dengan bantuan Vonny yang terus memelukku dan menciumku itu. Tiba-tiba Nadya menjerit kesakitan karena batang kemaluanku itu terlalu besar untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya. Aku terus berusaha, dan akhirnya batangku itu pun berhasil amblas semuanya di dalam, dan terasa olehku cairan hangat yang keluar dari kemaluan Nadya.
“Ahh.. ahh.. ah.. Nadya..”
Setalah 20 menit aku melakukannya bersama Nadya, sekarang giliran Vonny yang sudah tak tahandengan horny-nya itu. Aku pun mulai memasukkan ke liang Vonny yang sangat menggodaitu, “Bless.. bless..” amblaslah sudah batanganku itu di dalamnya. “Ah ah ah..” desahnya. Aku merasakan dia sudah akan orgasme, tapi memang benar dia mendesah, “Yonn.. aa.. kuu maa.. uu.. keeluarr..” Lalu aku berkata, “Tahan yah say.. bentar lagi, aku pun maukeluar nich..” Dan setelah beberapa lama dia pun orgasme, dan mengeluarkan cairan hangat yang terasa olehku. Segera setalah itu aku pun mempercepat goyanganku itu dan.. “Creett.. croott.. creett..” aku memuntahkan seluruh maniku itu di mulut Vonny dan Nadya. Mereka berdua sangat menikmatinya. Kami bertiga pun terkulai lemas di tempat tidur.
Vonny dan Nadya bekata kepadaku, “Thanks yah sayang, aku belum pernah merasakan seperti ini Yon.. emang kamu sangat hebat untuk melakukan hal ini,” aku pun bekata, “Iya sayang,” sambil aku mengecup bibir mereka berdua. Karena hari sudah larut malam aku pun bergegas untuk pulang dan pamit kepada mereka. Setelah kejadian itu kami sering melakukannya, baik di rumah maupun di hotel. Sekian cerita dariku ini. Bila anda berkesan, anda dapat berkenalan denganku melalui e-mail. Terima kasih atas nilai yang anda berikan lewat cerita ini.
TAMAT
Uuhhh…
Terima kasih untuk komentar yang saya terima di email, semua cerita kami adalah true story, hanya 5 bagian yang terdahulu adalah dari sudut pandang istri yang saya edit kembali. Berikut adalah sebagian pengalaman lain.
*****
Dalam menjalani kehidupan, khususnya menikmati kehidupan seks kami, tidak berarti selalu dan setiap saat kami melakukan hal hal tersebut, paling juga beberapa bulan sekali, memang pernah cukup sering dalam waktu yang pendek, namun akhirnya terbentuk dengan sendirinya suatu ‘pola’ waktu yang kami sendiri tidak pernah rencanakan.
“Ma..” kataku pada suatu hari dikala kami sedang santai, istriku sedang asyik dengan kegemarannya merajut.
“Hmm.. Ada apa Mas?” jawab istriku yang selalu mendehem kalau menjawab dikala sedang melakukan sesuatu.
“Sudah lama juga ya.. Kita nggak main-main lagi” kataku.
“Main-main apaan..?” tanya istriku entah pura pura atau memang tidak menangkap maksudku.
“Ya itu.. Main.. Main.. Dengan batang-batang dan biji-biji yang lain..” jawabku.
“Ah.. Kupikir apaan..” istriku Fifi menjawab tanpa melepaskan perhatiannya dari rajutan yang sedang dikerjakannya, tangannya sangat lincah bergerak dengan alat dan benang yang terjuntai.
“Gimana.. Mama mau..?” tanyaku lagi dengan nada berharap.
“Emang apa sih.. Yang ada dipikiran Mas..?” tanya istriku namun kali ini dengan perhatian yang agak lebih.
“Mm.. Kalau Mama inginnya apa..?” tanyaku memancing.
“Gimana sih.. Ditanya kok balik nanya..?” istriku menjawab lagi.
“Iya.. Kan sudah macam.. macam yang kita coba.. Kalau Mama sekarang pinginnya gimana.. Gitu..” tanyaku lagi tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Nggak.. Mas dulu yang menjawab..” jawabnya sambil meletakan rajutannya dan memberikan perhatian penuh pada pembicaraan kami.
“Ok.. Deh.. Gini.. Kalau Mas baca dimana mana.. kan katanya wanita akan sangat nikmat kalau lawannya punya kemaluan yang besar.. Semakin besar semakin asyiik.. Nah.. Mama mau coba yang benar benar besar..” aku berkata menjawab pertanyaannya.
“Lho.. kan.. yang lain.. juga cukup besar.. Malah siapa ya.. waktu itu yang kita ajak.. Punyanya lebih besar dari Mas..” kata istriku lagi, dan gerakan matanya serta lidahnya yang mulai menjilat bibir merahnya menunjukan minatnya (aku terlalu kenal sih).
“Iya.. Tapi maksud Mas Mama ingin coba yang super nggak..?” tanyaku lagi mendesak.
“Emangnya siapa sih dan ukurannya kayak apa.., kalau Mas mau.. Siapa takut..?” Fifi menjawab sambil menjebikan bibirnya ke arahku.
“Ok.. Mas atur ya..? Malam.. Minggu besok ya..?” aku senang sekali karena salah satu fantasiku bisa dipenuhi.
Awalnya adalah saat aku fitness, salah satu kenalan yang kukenal di fitness center itu, Joko, kebetulan bersamaan waktunya shower denganku, dan seperti umumnya, cuek saja kami telanjang.. Semua laki-laki kok, karena locker dan kamar mandinya terpisah untuk pria dan wanita, dan milik Joko sungguh membuatku terbelalak, dalam keadaan tidak ereksi saja terlihat sangat.. sangat besar, panjang menjuntai dengan diameter yang juga mengagumkan dan langsung terbayang.. Masuk nggak ya ke vagina istriku..?
Aku mengenal Joko sudah 4 tahun, seminggu 3X kami fitness namun biasanya waktu kami selesai tidak sama, aku yang datang duluan selalu pulang sebelum Joko selesai berolah raga, dan dengan posturnya tinggi sekitar 180, tidak gemuk, atletis dan berkulit putih, wajahnya tidak terlalu ganteng namun terlihat bahwa ia sangat berkelas, penampilannya jauh di bawah umurnya yang sudah 45-an, masih tampak seperti eks mud (eksekutif muda) dan kini.. kemaluannya ternyata juga tampak sangat perkasa.
Sesungguhnya tanpa sepengetahuan istriku aku sudah melobby Joko dan setelah mendengar ceritaku, ia mau untuk berpartisipasi, apalagi setelah ia melihat foto Fifi istriku yang sengaja kubawa, dan sebagai tanda kepercayaan ia juga telah mengenalkanku pada istrinya yang ternyata sangat gemuk dan tidak menarik.. (menurutku).
Lagu instrumental dari Blues yang kujadikan ring tones HP ku berbunyi dan ternyata dari Adri yang menyatakan kesanggupannya untuk datang meramaikan acara yang kususun, Adri adalah salah satu eksekutif bank yang kukenal lama, bahkan keluarganya juga akrab dengan kami, dan kini ia juga kuundang untuk ikutan.
“Joko..” tangan kawan fitnessku itu menggenggam erat tangan halus istriku dan matanya tak menyembunyikan kekaguman atas kecantikan istriku, demikian juga Adri yang walau sudah pernah bertemu sebelumnya namun selalu mengagumi kecantikan Fifi istriku, itulah sebabnya ia saat ini kuundang untuk ‘ikutan’ pesta kami.
Kami lalu duduk santai di sofa di service aparteman yang telah kusiapkan, dan seperti biasa kekakuan lama-lama mulai mencair dan akhirnya setelah minum, ngobrol dan gurauan mulai mengalir lancar kami lalu memutar musik lembut, menemaramkan lampu, dan acara berikut adalah berdansa.
Karena Fifi satu satunya wanita, maka kami ganti berganti berdansa dengannya, dan aku yang mendapat giliran terakhir. Giliran pertama adalah Adri dengan Fifi, mereka berdansa mengikuti alunan musik dan berpelukan, kulihat tangan Adri meremas remas pantat istriku sementara tubuh mereka berpelukan erat, namun aku tahu kalau istriku belum ‘panas’ dia memeluk erat, menepelkan pipinya di pipi Adri, membiarkan tangan Adri meremas bongkahan pantanya yang dibungkus rok pendek ketat itu.
Lagu habis dan Joko maju menggantikan Adri, ketika mereka berpelukan kulihat istriku agak tersentak, pasti kaget ‘terganjal’ sesuatu di perutnya, karena mungkin akibat pengaruh minuman, lampu, suasana serta musik dan dansa sebelumnya, mereka berdansa lebih mesra dan ketika musik mencapai setengahnya, bibir istriku sudah beradu dengan bibir Joko, dan ketika jarak mereka agak merenggang kulihat tangan istriku sudah didalam celana Joko yang retsletingnya entah kapan sudah turun dan dari situ tangan istriku menerobos masuk.
Lagu berganti namun mereka sudah dalam suasana yang ‘tak terkendalikan’, rok pendek yang dipakai Fifi sudah terangkat ke atas, dan tangan Joko berada dibalik celana dalam yang dikenakan, mereka saling berciuman dengan bernafsu dan melihat itu aku lalu mengambil inisiatif, kudekati mereka, kusentuh Fifi yang lalu merenggangkan diri dari Joko dan dengan memberi tanda pada Adri yang masih agak bengong, aku menuntun istriku dan Joko kugamit dan melangkahlah kami kekamar utama.
Aku lalu memeluk istriku, menciumnya dan mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya, Fifi juga melakukan hal yang sama padaku, dan kuberi tanda kedua lelaki yang lain untuk juga melepaskan pakaian mereka dan sekejap saja kami berempat sudah telanjang bulat.
Ketika istriku melihat kemaluan Joko yang sudah ereksi, tangannya menutup mulutnya yang hampir terpekik, matanya melihat kearahku sekilas dengan banyak makna dan aku yakin walau tadi sudah sempat meraba saat berdansa tadi namun masih belum menyadari betapa dahsyat ukuran kemaluan laki-laki itu, sementara Adri juga melihat dengan kagum dan (mungkin) sedikit iri, karena kemaluannya masih sedikit dibawahku.
Istriku lau menarik tangan Joko yang tengah didorong rebah di ranjang, lalu dengan posisi menungging mulai menciumi, menjilat dan memainkan kemaluan Joko.
Sangat sibuk ia menjilat batangnya dari bawah ke atas, balik lagi, menjilati biji pelirnya, lidahnya juga terus kebawah dan menjilati bagian bawah bijinya dan kulihat Joko setiap kali tersentak saat lidah istriku entah sengaja atau tidak menyentuh anusnya, Hanya kepala kemaluan yang bisa masuk dalam mulut istriku karena besarnya, butuh dua tangan bagi Fifi istriku untuk memegang seluruh batang kemaluan itu.
Aku yakin panjangnya tak kurang dari 24 cm, dengan lingkar yang sangat besar seperti botol, dan kepala yang juga besar, dilingkari urat-urat yang tampak menonjol.
Posisi Fifi yang menungging membuat Adri tak tahan, dan ia lalu mendekati dari belakang, dan mulai menjilati belahan pantat istriku terus kebawah.. Dan istriku sempat menengok sebentar melemparkan senyum manisnya dan kembali menyelomoti kemaluan Joko.
Tidak lama Adri menjilati vagina istriku, mungkin karena posisinya yang kurang mendukung, maka ia lalu menegakkan badannya dan mengarahkan kemaluannya ke vagina istriku yang tampak mengerti dan ‘menyambut’ kemaluan Adri memasukinya. Adri tampak asyik bergerak maju mundur sementara tangannya memeluk dari belakang meremas payudara istriku yang tampak tak melepaskan konsentrasinya dari ‘mainan’ dimulutnya itu.
“Ss.. Zz.. Aahh..” Dengan satu erangan keras Adri menyentak dan membenamkan kemaluannya sedalam mungkin ketika menumpahkan air maninya dalam vagina istriku, diam sebentar lalu menjatuhkan diri diranjang dengan kemaluan yang mulai mengerut.
Fifi berhenti sebentar dari kesibukannya menjilati kemaluan Joko, membalikkan badannya dan menciumi Adri, menjilati lehernya, dada, perut dan terakhir memasukkan kemaluan yang masih basah namun sudah mengerut itu dalam mulutnya, dan menjilatinya hingga ‘bersih’..
Karena kemaluan Adri masih tetap belum bangun lagi ia lalu menengok ke arahku dan aku yang mengerti keinginannya menganggukkan kepala, ia lalu ‘merayap’ lagi ke arah Joko, untuk kemudian berjongkok diatasnya dan mengarahkan ‘raksasa’ itu ke vaginanya.
Kini Adri terbangun dan dari dekat menyaksikan, demikian juga diriku menyaksikan dengan seksama bagaimana istriku mengarahkan kemaluan Joko yang luar biasa itu ke vaginanya yang masih tampak basah kuyup oleh air mani Adri. Walau sangat basah namun tampak masih sulit bagi istriku memasukkan kemaluan itu menerobos vaginanya, dan cukup lama dengan menekankan pantatnya ke bawah kemaluan itu perlahan masuk diiringi suara istriku yang mendesis keras seperti orang kepedasan.
“Aahh.. Ss.. Uuuhh.. Uhh..” dan bless kepala kemaluan itu sudah masuk!!
Istriku berhenti sebentar melihat ke arahku dengan raut wajah yang tampak sangat bernafsu dan mulai menggerakkan pantatnya perlahan dan perlahan-lahan kemaluan itu masuk semakin dalam.. semakin.. dalam.. Dan akhirnya diiringi jeritan istriku.. Kemaluan itu terbenam sampai kepangkalnya.
Aku sangat terangsang menyaksikan ‘perjuangan’ istriku memasukkan kemaluan yang sangat besar itu hampir ejakulasi sendiri saat seluruh batang kemaluan Joko terbenam masuk.
Kini Fifi mulai bergerak teratur dan tidak lama ia mempercepat gerakannya..
“Aakk.. Kelluuaarr.. Aahh”, ia mencapai orgasmenya yang pertama hari ini, dan ambruk di dada Joko yang tampak berhenti bergerak.
Joko lalu membalikkan posisi tanpa melepaskan kemaluannya dan kini dengan posisi konvensional ia mulai memompa istriku dengan teratur dan makin lama makin cepat.. makin.. cepat sementara istriku yang semula tampak menggigit bibirnya mulai ‘kembali’ dan bergerak mengimbangi.
Terlihat jelas bagaimana vagina istriku ‘terbuka’ dengan batang kemaluan Joko didalamnya dicengkeram oleh bibir vagina itu sesekali batang itu tertarik keluar setengah dengan lendir yang tampak berkilau dan hampir bersamaan mereka berteriak..”Akk.. Aahhsstt..” dan dengan bibir berpagutan keduanya mengejang sementara Joko membenamkan kemaluannya sedalam mungkin sambil menyemprotkan air maninya dalam rahim Fifi istriku.
Cukup lama mereka terdiam sebelum Joko bergolek kesamping dan dengan suara ‘plop’, kemaluan itu terlepas dari vagina istriku yang diikuti lelehan air mani kental. Aku yang tak tahan lagi segera saja menggantikan posisi Joko dan Fifi yang mengerti merangkulku lalu kemaluanku pun tertanam dalam vagina istriku yang barusan telah diisi oleh air mani dua laki-laki.
Siapa bilang kalau vagina baru dipakai itu tidak enak?, dan siapa bilang kalau kemaluan yang lebih besar pernah masuk vagina itu jadi longgar?. Aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada taranya ketika kemaluanku memasuki vagina istriku, rasa hangat dari air mani yang sebelumnya telah mengisinya, dan vagina yang menebal karena gesekan dengan kemaluan sebelumnya memberi kenikmatan yang bahkan lebih besar lagi.
Dengan saling memeluk aku menggerakkan pantatku berirama dan sebentar saja aku tahu bahwa aku tak bisa menahan dan dengan melenguh aku melepaskan air mani dalam vagina istriku, air mani laki-laki ketiga yang mengisi vagina istriku yang cantik.
“Mas.. Aduh.. Perih banget..” kata istriku ketika aku mengantarnya kekamar mandi mencuci vaginanya.
“Gimana rasanya..?” tanyaku ingin tahu.
“Uh.. Kegedean..” jawab istriku sambil menyabuni tubuhnya.
“Enak nggak..”tanyaku lagi.
“Kalau kegedean gitu.. Gimana ya.. Waktu masuk perihnya luar biasa terus bukan mentok lagi ke mulut rahim tapi nabrak.. Jadi kayaknya sih.. Aku lebih suka yang besar tapi jangan terlalu over gitu, .. Cuma nggak apa apa sih.. Mas jangan kuatir aku akan membuat mereka puas kok.. Ini kan.. Part of the experience” istriku menjawab dan mengeringkan tubuhnya.
Kami lalu berkumpul di ranjang setelah semua membersihkan diri dan minum membasahi tenggorokan yang kering. Permainan berikut mulai lagi, kali ini istriku yang telentang sementara Joko menjilati dan menghisap payudara kirinya, Adri yang kanan dan aku menjilati kemaluannya.
Posisi ini tidak lama karena kami bergerak bergantian dan kini Adri yang menjilati kemaluan istriku, lalu giliran Joko dan kemudian dengan tanda dari istriku Adri berjongkok diatasnya, mengarahkan kemaluannya ke mulut istriku yang menerimanya dengan lahap, dan dengan tangan bertumpu pada tembok Adri menggerakan kemaluannya maju mundur dengan cepat dalam mulut istriku yang tangannya tidak tinggal diam memainkan biji pelir yang menggantung itu.
Tidak sampai 10 menit Adri mempercepat gerakannya dan “Aahh.. Ss” ia menyemburkan air maninya di dalam mulut istriku yang tanpa berpikir langsung menelan dan tidak berhenti menghisapnya dan kembali dengan lenguhan puas ia tergolek lemas.
Kini giliran Joko yang diminta telentang dan istriku mulai lagi dengan permainan mulutnya di kemaluan besar yang juga sudah bangun tegak lagi itu. Perlu waktu lebih lama bagi Joko untuk mengeluarkan air maninya dan karena besarnya ukuran kemaluan itu maka hanya lubang pada kepala kemaluan itu yang di cucup oleh istriku ketika Joko mengeluarkan air maninya sementara tangannya membantu dengan mengocoknya dan saking banyaknya walau sudah diusahakan untuk ditelan semua namun tetap ada yang menetes di sela-sela bibir istriku.
Permainan masih berlanjut, kembali Joko memasuki vagina istriku, diikuti Adri dan berakhir ketika istriku yang sudah kelelahan menelan air maniku.
Selama 4 hari aku harus ‘puasa’ menunggu rasa perih akibat besarnya kemaluan Joko lenyap dari vagina istriku dan walau kedua kawanku itu tak habisnya memuji istriku namun aku tidak memberi kesempatan lagi khususnya pada Joko, karena istriku tidak mau lagi.. Besar.. boleh.. Tapi.. Jangan terlalu besar itu pesannya..
E N D
Tugas Kenikmatan
Halo, perkenalkan namaku Dana usia 27 tahun berasal dari Sumatra Utara. Aku sudah berkeluarga dengan 1 anak yang masih berusia 3 tahun. Aku dan R suamiku hidup sangat romantis dan sebenarnya keharmonisan kami sudah terbentuk sejak kami masih berteman (R adalah rekan kerja satu kantor sampai sekarang) yang seiring berjalannya waktu kamipun berpacaran.
Ternyata keasikan pertemanan kami setelah memasuki masa pacaran tidak mengalami perubahan malah semakin kompak karena untuk pulang kerumah aku tidak perlu kuatir jam berapapun karena R dengan setia siap mengantarku pulang atau kalau aku yang lembur maka R akan pulang duluan lalu kembali ke kantor untuk menjemput. Maklumlah sekalipun posisiku dikantor masih tergolong pegawai biasa tetapi kesibukan seolah tidak pernah berhenti dan aku sangat menikmati pekerjaan itu.
Oh ya aku saat ini aku bekerja di bagian keuangan salah satu NGO asing yang menangani perpajakan sehingga banyak sekali tugasku menuntut aku harus banyak menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan orang-orang pajak yang sudah menjadi rahasia umum sangat banyak tuntutan. Akupun jadi terbiasa menghadapi mereka dan tak jarang untuk dapat “melunakkan” hati mereka aku harus bersikap seluwes bahkan cenderung berpura-pura genit termasuk tampil agak seronok dengan tujuan supaya tugasku dapat selesai dengan mudah. Untungnya suamiku cukup bijaksana dan dapat memahami keberadaanku dengan memberikan kepercayaan 100% kepadaku. Ternyata keleluasaan ini justru membawa aku kedalam situasi yang sulit hingga akhirnya aku memasuki satu dunia yang belum pernah kukenal tapi gilanya aku jadi sulit untuk keluar dari dunia tersebut yaitu threesome sex.
Awalnya ketika itu kantorku menjelang tutup buku dan seperti biasanya kesibukan kami di keuangan menjadi luar biasa tingginya sampai-sampai ada beberapa rekanku yang harus pulang kantor menjelang pagi. Aku sendiri tetap pada tugas utama yaitu merapihkan laporan-laporan pajak dengan dibantu oleh petugas-petugas pajak. Syukurlah kali ini yang ditugasi untuk konsolidasi ada 2 orang yang sudah tidak asing bagiku yaitu Heru (26) dan Dimas (25) sehingga aku tidak perlu buang-buang waktu untuk beradoptasi dan menjelaskan kondisi kantorku.
Kami janjian ketemu di Hertz Chicken untuk makan siang sekaligus berdiskusi awal menyepakati hal-hal apa yang harus dilakukan dan pembagian tugasnya. Karena sudah akrab kamipun menyelingi diskusi dengan senda gurau dan setelah itu kami lanjutkan pekerjaan inti di kantor mereka yang letaknya cukup jauh yaitu di Tanggerang. 3 hari pertama semua berlangsung normal, ketika memasuki hari ke 4 volume pekerjaan semakin serius sehingga tidak terasa sudah jam 8 malam. Sedangkan target selesai kerjaan kami hari ke 6 sudah harus dilaporkan. Akupun jadi gelisah sendiri dan rupanya Heru menangkap gelagat itu dan mencoba membantuku mencari solusinya.
“Bukan apa-apa Her, rumahku kan jauh sekali di Bogor sedangkan jam segini aku masih di Tanggerang”
“Ya udah begini saja, bagaimana kalau Mbak Muti bermalam saja di cottage dekat kantor lalu besok pagi minta tolong suami Mbak Dana membawakan pakaian ke kantor. Tapi sekarang harus kasih tahu dulu sama suami supaya dia tidak gelisah nungguin,” usul Heru
“Boleh juga, usul diterima” sambutku gembira dan mengangkat tangan untuk TOSH dengan Heru.
Segera kutelpon suamiku R yang sedang berada di luar kota untuk minta ijin dan R menyetujui bahkan menyuruhku supaya mentuntaskan. Setelah makan malam nasi goreng di kantor akupun minta tolong Heru mengantarku ke cottage yang dimaksud. Setiba disana ternyata tempatnya cukup menyenangkan karena tersedia ruang tamu dan 2 kamar ditambah lagi hari itu ada rate khusus berkenaan dengan ulang tahun cottage tersebut. Melihat itu spontan aku langsung setuju bahkan menyesali.
“Tahu begitu kita kerja disini saja lebih enak”
Rupanya reaksiku ini disambut oleh Heru, “kalau begitu bagaimana kalau kita melanjutkan tugas kita disini supaya aku dan Dimas enggak perlu repot-repot karena disini kan bisa sekalian mandi lalu tidur, mumpung kamarnya dua.. gimana Mbak?”
“Boleh saja,” jawabku pendek tapi dalam hati menyesali spontanitasku tadi karena berarti malam ini aku akan berada bersama 2 laki-laki dalam satu atap rumah.
Namun keraguanku pupus karena aku berusaha berpikir positif, toh kita nggak akan macam-macam karena kamar kami terpisah, kalaupun terjadi apa-apa atas diriku aku bisa berteriak. Ah, jahatnya hati ini.. kalau dilihat dari sikap dan penampilan mereka yang intelek mana mungkinlah mereka mau berbuat macam-macam.
Tak lama kemudian Dimaspun datang dengan membawa beberapa tumpuk order dan meletakkan di meja makan yang rencananya akan kami jadikan meja kerja. Untuk menghilangkan rasa lelah aku memutuskan untuk berendam di kamarku yang juga dilengkapi dengan kamar mandi. Tapi baru kusadar aku tidak membawa pakaian, untunglah aku membawa kaos mirip singlet dan kebetulan dibalik celana panjang yang kupakai aku juga mengenakan celana sport stretch hitam sebatas diatas lutut. Masalah lain adalah aku hanya membawa CD yang menempel.. Duh bagaimana ya..
Akhirnya aku dapat ide untuk mencuci CD itu dan menjemur di kamar mandi dengan harapan besok pagi sudah kering. Sebagai pengganti CD aku melapisi kemaluanku dengan panty liner yang kutempelkan langsung di celana. Beress.. Kan?? Lalu mandilah aku dengan air panas yang sudah kuatur sesuai selera. Usai mandi akupun berbusana seperti yang sudah aku pikirkan dan ketika keluar kamar kulihat Heru dan Dimas sudah segar karena mereka juga sudah mandi dan seolah sudah janjian mereka sama-sama mengenakan celana pendek, tapi bagian atasnya hanya Heru yang mengenakan kaos singlet sedangkan Dimas bertelanjang dada saja membiarkan dadanya yang bidang berotot dan berbulu itu terpampang membuat darahku sedikit berdesir.
“Maaf Mbak Dana aku terpaksa tidak pakai apa-apa karena tadi waktu mau mandi bajuku jatuh dari kapstok sehingga basah”
Dimas berusaha menjelaskan dan menutupi rasa saltingnya karena mataku menatap tajam.
“O ya, tapi sudah dijemur kan?” tanyaku basa basi.
“Sudah sih,” jawab Dimas sambil pura-pura sibuk dengan kerjaannya lagi.
“Ah, bilang aja mau pamer bulu sama Mbak Dana.. ck, ck, ck.. Di kampungnya aja segitu banyak apalagi di kotanya.. ha, ha, ha” ganggu Heru sambil melirik ke aku dan kulihat Dimas semakin malu.
Rupanya introduksinya Heru tidak berhenti disitu karena akhirnya kami kembali bersenda gurau yang selanjutnya topikpun beralih serius menjadi diskusi tukar pikiran seputar hal-hal yang sangat pribadi dan kamipun tenggelam asik dalam pembicaraan tentang teknik-teknik ML. Dari situ baru kuketahui dari kisah-kisah mereka ternyata Heru sangat piawai dalam teknik sex. Heru terus bercerita tentang pengalamannya dengan beberapa teman gadisnya yang menurut pengakuannya cewek-cewek itu sangat tergila-tergila dengan permainannya.
Lain halnya dengan Dimas yang lebih banyak mendengarkan tapi tanpa sadar Dimas sudah menutupi bagian auratnya dengan bantal, mungkin malu kalau ketahuan “adik”nya sudah meronta-ronta. Semula aku bertahan untuk tidak menceritakan pengalamanku, tapi karena Heru pandai memanfaatkan suasana akhirnya kuceritakan juga apa saja yang aku dan suamiku pernah lakukan tapi masih dalam batas yang sopan karena itu hal yang tabu untuk disampaikan kepada orang lain apalagi lawan jenis dan bukan suami sendiri.
Lama kelamaan level cerita kamipun meningkat, aku sudah semakin berani menyampaikan hal yang sekecil-kecilnya tentang apa saja yang masing aku dan suamiku sukai. Begitu juga dengan Dimas yang berhasil dibuat mengaku kalau ternyata selama ini mengalami minder akibat bawaan lahir karena memiliki penis yang sangat besar. Dengan tetap berusaha keras mengendalikan hormon wanitaku aku berusaha untuk menghibur Dimas.
“Ah, kenapa harus minder.. Justru seharusnya bangga dong. Seperti aku, maaf kata nih, aku suka minder karena memiliki rambut yang berlebihan. kalau laki-laki seperti kamu sih nggak apa-apa, tapi aku suka kuatir suamiku tidak menyukainya. Buktinya setiap aku memintanya untuk mengoral selalu ditolak halus, tapi jangan salah.. Dia selalu puas dengan coitus kami”
Hari semakin malam dan topik diskusi kami semakin panas dan kamipun sudah berpindah ke sofa. Ketika kami membahas threesome sex dan entah sadar atau tidak sambil bercerita posisi duduk sudah tak karuan.. Aku bersandar di pegangan sofa dengan kaki diatas pangkuan Heru dan kaki sebelah berjuntai ke karpet dimana Dimas duduk dilantai sambil menikmati Heru yang memijat betis indahku dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapih disitu dan Dimas memijit telapak kakiku yang putih bersih dengan kuku dilapisi kutex transparan.
Begitu nikmat sensasi pijatan yang mereka berdua lakukan akhirnya aku merasa melayang apalagi pijitan Heru sudah naik ke arah pahaku dan aku ingat aku hanya mengangguk dengan mata terpejam ketika Heru dan Dimas melepaskan celana sportku dengan alasan untuk memudahkan pemijitan dan lupa kalau itulah pertahananku terakhir. Ketika kubuka mata untuk mencegah upaya mereka tapi ternyata terlambat karena celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku.
“Duh.. Kalian ini.. Aku jadi malu”
Tapi mereka tidak menggubris sebab mereka sudah asik masing-masing dengan kakiku.. Dan aku semakin bergumul dengan diri ini antara menolak dan sebaliknya.. Yang kesimpulannya aku dengan perlahan dan sambil menggoyang-goyangkan pinggul akibat sensasi yang begitu hebat membuka kakiku terbuka lebar-lebar dan melupakan rasa malu karena telah memamerkan bagian dari wanita yang mestinya aku tutupi dan hanya dapat dibuka didepan suamiku. Tapi peraturan itu seolah tidak berlaku karena dibawah selangkanganku sana dua lelaki muda sedang menggeluti pahaku dan.. Oow mereka tiba-tiba berubah seperti hewan lapar sedang rebutan makanan dan begitulah mereka sedang saling dorong untuk bisa melahap kemaluanku..
Dan akhirnya Dimas mengalah membiarkan Heru melahap kemaluanku dengan rakusnya, selanjutnya giliran Dimas yang berbeda dari Heru.. Lebih lembut tapi oougghh seluruh permukaan kemaluanku terasa dikunyah, penasaran mau tahu apa yang sedang Dimas lakukan, kubuka mata dan kulihat mulutnya yang ditumbuhi janggut dan kumis tebal itu telah menutupi kemaluanku membuat aku kegelian hebat serta tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang mendesak dari bagian bawahku yang ternyata cairan kewanitaanku mengalir deras memenuhi rongga kemaluanku..
Setelah puas menggeluti kemaluanku Heru mengambil handuk dan menyeka kemaluanku.. Dan mengambil sesuatu yang ternyata krim cukur jenggot dan shaver.. Aku tahu apa yang akan Heru lakukan tapi akibat kenikmatan oral sex itu aku seperti tidak berdaya dan tetap telentang dengan posisi mengangkang..
“Heru apa yang mau kamu lakukan??”
Tapi pertanyaanku tidak digubris malah Heru memberi kode kepada Dimas yang kemudian Dimas menghampiriku dan didepan mataku dia menurunkan celana pendeknya.. Dan wow.. Batang kemaluan Dimas ternyata sudah memuai sampai sebesar tangan bayi.. Dengan tetap lembut Dimas menyodorkan Super Dicknya ke mulutku sehingga mulutku sekarang penuh sesak dengan penis milik Dimas sementara dibawah sana Heru rupanya asik mencukuri kemaluanku.. Semua proses itu berlangsung kira-kira 15 menit dan ketika “pekerjaan” Heru selesai Dimaspun mencabut penisnya dari mulutku.
Ketika kutengok kemaluanku sudah licin memerah.. Setelah membersihkan sofa dari bulu-buluku Heru memulai tugas lainnya, penisnya yang tidak kalah besarnya dari milik Dimas segera melompat dari celana pendeknya.. Sehingga yang terlihat sekarang 3 insan berlawanan jenis sudah polos tidak mengenakan apa-apa terlebih aku sudah seperti bayi karena kemaluanku sudah tidak ditumbuhi bulu lagi dan sedang digosok-gosok oleh batang kemaluan Heru sampai cairanku keluar seolah menyatakan siap untuk menyambut penis Heru yang besar dan penuh urat..
“Sshh..”
Hanya desisan itu yang keluar dari mulutku ketika kepala cendawan itu menerobos perlahan kewanitaanku yang selama ini hanya digunakan oleh suamiku R. Secara naluri mulutku terbuka lebar ketika kurasakan batang kemaluan Heru sudah tertanam seluruhnya di dalam liang senggamaku.. Setelah beberapa saat didiamkan yang ada dibenakku adalah betapa sesaknya kemaluanku dan gatalnya minta ampun sehingga tanpa sadar pinggulku bergoyang yang disambut dengan genjotan Heru..
Selang beberapa lama Heru tiba-tiba membalikkan tubuh kami dengan penis masih tetap tertanam sehingga sekarang aku berada diatas Heru memberiku kesempatan untuk mencari sensasi sendiri.. Hal ini berlangsung cukup lama entah sudah berapa kali aku orgasme.. Tak lama kurasakan bokongku ada memukul-mukul pelan, ketika kutengok ternyata Dimas sedang dalam posisi tegak dibelakangku dan mengoleskan baby oil ke anusku.. Selanjutnya yang terjadi adalah kenyataan 2 penis besar mereka sudah tertanam dalam tubuhku.. Luar biasa nikmatnya sampai akhirnya merekapun ejakulasi dan menumpahkan di wajahku..
Setelah itu kami bertiga tertidur pulas dan pagi-pagi kami bangun melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Bedanya dengan kemarin-kemarin adalah sekarang kami bekerja tanpa sehelai benangpun dan bila sudah mulai bosan kami selingi dengan persetubuhan.. Kadang aku melayani sekaligus berdua, kadang satu-satu dan sementara salah satu dari mereka tetap bekerja.
Lucu memang.. Tapi itulah pengalaman dahsyat yang aku alami dan membuat aku jadi sekarang jadi ketagihan.. Malah aku pernah melayani Heru dan Dimas ditambah 3 orang temannya yang lain.. Luar biasa.. Benar-benar aku sudah punya dunia sendiri diluar ijin suamiku R.
E N D
Tiga Wanita Satu Lelaki
Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.
Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
“Bisa saya bantu?” kataku kepada mereka.
“Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.”
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
“Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya,” jawabku.
“Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu?” lanjutku lagi.
Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, “Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!”
“Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih,” yang berwajah Jepang protes.
“Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha,” sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. “Iya deh, sekalian numpang minum,” kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.
Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
“Nama saya Jacky,” kataku.
“Khira,” kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, “Emily,” (Campuran Italia dengan Inggris).
“Saya Eve,” gadis bermata biru ini asal Jerman.
“Jacky, kamu berasal dari mana?” lanjutnya.
“Jakarta, Indonesia,” jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
“Aduh, panas sekali nich?!” si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.
Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
“Jacky, boleh kami main internetnya?”
“Silakan,” jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
“Mau nge-chat yah?” tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
“Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan,” lanjut Emily lagi.
“Eh, kaliankan masih di bawah umur?” kataku mencoba untuk protes.
“Paling umur kalian 17 tahun kan?” sambungku lagi.
Khira menyambut, “Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja.” Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar “gituan” yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, “Ada apa?” Eve menjawab, “Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu,” katanya.
Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, “Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal.” Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
“Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?”
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
“Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.”
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
“Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji,” si Emily mewakili mereka.
“Please Jacky!” sambungnya.
“Oke, tapi jangan diketawain yah!” ancamku sambil tersenyum nafsu.
Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
“Gila gede banget!” kata mereka hampir berbarengan lagi.
“Nah! Sekarang apa lagi?” tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. “Boleh kupegang Jack?” tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, “Uuuh..” karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, “Kamu punya film biru Jack?” Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.
Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
“Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh..” aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.
“Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh..” nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
“Slep.. slep.. chk.. chk..”
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.
Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
“Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!” jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
“Aaahh..” Eve sampai puncaknya.
Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, “Aahh..” Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, “Heerrkk..” Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, “Sudah.. sudah.. aku ngiluu.. sudah..” pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, “I Love you, Jacky!” aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, “Thank you Khira!”
Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.
TAMAT
Threesome Party
Namaku Dody. Aku adalah seorang karyawan salah satu perusahaan IT di Bandung. Saat ini usiaku 28 tahun dan masih single. Seperti halnya orang lain, di usiaku ini kehidupan seksku semakin menggebu. Tetapi ada satu perbedaannya, yaitu aku ini termasuk biseks. Aku anggap ini adalah suatu kelebihan, karena disamping aku suka cewek juga aku suka laki-laki. Dan fantasi seksku yang paling aku sukai adalah bermain seks bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan (threesomes). Aku impikan kesempatan ini tiap hari, sampai pada suatu ketika, tepatnya awal tahun 2001, sekitar bulan Februari, kesempatan ini akhirnya terlaksana juga.
Jauh hari sebelum kejadian itu aku dekat dengan teman sekantor, namanya Andri (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan dia karena divisi kami yang berbeda. Tapi karena kami dilibatkan dalam satu proyek, maka akhirnya kami menjadi dekat. Terus terang aku kagum sekali dengannya. Wajahnya sih biasa saja, tetapi badannya sangat atletis, tingginya sekitar 178 cm lebih pendek 4 cm dari tinggiku (tinggiku sekitar 182 cm). Usianya sekitar 32 tahun dan dia sudah berkeluarga dan mempunyai 1 anak. Kadang-kadang di sela kesibukan kami, dia selalu mencuri pandang ke arahku, dan kadang-kadang selalu menatapku. Aku sendiri jadi bingung apa gerangan yang ada di hatinya, dan aku balas lagi tatapannya sehingga akhirnya kami saling berpandangan selama beberapa detik dan kuakhiri dengan memberikan senyuman.
Semenjak saat itu kami jadi dekat sekali, dan kadang-kadang kami pergi ke toilet di kantor bersamaan. Ketika kami buang air kecil, kami selalu saling melihat penis masing-masing (kontes), dan kadang kami saling tertawa melihat kelakuan kami ini seperti anak SMP saja. Akhirnya aku tahu bahwa dia sudah ditinggalkan istrinya sekitar 2 bulanan.
Aku tidak tahu alasannya kenapa, karena aku tidak mau terlibat dengan urusan rumah tangganya. Sehingga jika aku kerja lembur dan pulangnya malam aku selalu ditawari menginap di rumahnya. Aku setujui saja karena dari pada aku pulang jauh-jauh ke rumahku yang berada di luar kota Bandung, lebih baik aku menginap di rumahnya sambil dapat mengenal lebih dekat lagi dengan Mas Andri (itulah panggilan aku ke dia).
Karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa, kami selalu berpelukan sambil menonton televisi layaknya seorang adik dengan kakak. Walau bagaimanapun aku masih menaruh hormat bahwa dia adalah teman kerjaku, walaupun kadang-kadang penisku ini bangun dari tidurnya. Dan sampai saat itu aku tidak tahu bagaimana dia, apa dia mempunyai fantasi seperti aku?
Pada suatu waktu kami ditugaskan ke luar kota untuk melakukan presentasi. Dan hanya aku dan Mas Andri saja yang ditugaskan. Kebetulan di kota S itu aku mempunyai teman cewek namanya Rita. Kami sudah berkenalan selama setengah tahun melalui chating, dan kami selalu saling komunikasi dan saling tukar foto. Dari fotonya aku melihat dia begitu cantik dan seksi. Dan setelah pekerjaan kantorku dengan Mas Andri selesai, aku telepon dia untuk datang ke hotelku (aku dan Mas Andri menyewa 1 kamar). Akhirnya Rita mau datang tapi agak malaman.
Ketika malam tiba, akhirnya bel pintu hotel berbunyi. Lau aku buka, ternyata wow, seorang gadis cantik sedang berdiri. Ternyata Rita ini tinggi, sekitar 168 cm, kulitnya putih mulus, kakinya jenjang, rambutnya panjang terurai dan amboi.. dadanya itu yang membuat mata tidak mau mengalihkan ke arah lain. Di usianya yang ke 26 ini dia kelihatan begitu seksi dengan rok pendeknya seperti seorang super model yang sedang berpose. Aku terkesima sampai beberapa detik.
“Apa betul ini kamarnya Pak Dody..?” tanyanya.”Betul.. kamu pasti Rita yah..?” jawabku.”Dan kamu pasti Dody yah..?” jawabnya.Kami akhirnya saling berjabat tangan, dan aku persilakan dia untuk masuk. Tidak lupa kukenalkan pada Mas Andri.”Maaf yah kamarnya berantakan..,” kataku.”Ah ndak apa-apa kok aku ngerti kok kalian kan laki-laki,” katanya sambil senyum.Aduh mak.., senyumnya begitu seksi sekali, kelihatan bahwa dia itu orang yang ramah.Singkat cerita kami bertiga ngobrol sampai malam, dan akhirnya kami pesan makan malam lewat room servicenya hotel. Dan tidak kerasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Dari obrolan sebelumnya aku jadi tahu bahwa Rita tinggal kost di kota S ini. Dia kerja sebagai sekretaris di perusahaan onderdil mobil terkemuka. Orangtuanya tinggal di luar kota. Jadi dia bebas-bebas saja kalau pulangnya malam. Obrolan kami sudah tidak karuan lagi, dan mengarah pada hal seks.
“Mas, pantas yah kalau aku jadi pacarnya Rita..?” tanyaku ke Mas Andri sambil bercanda.
Aku mendekati Rita dan duduk di sampingnya sambil memeluknya serasa dia pacarku.
“Wah pantas sekali.. tapi lebih pantasnya lagi kalau sama Mas saja..” kata Mas Andri sambil tersenyum.
“Yah sudah.. kalau kalian mau.. dua-duanya aja. Aku senang kok pada kalian berdua,” katanya sambil senyum.
“Yang bener nih..?” tanyaku sambil jantungku ini mulai berdebar-debar.
“Rita serius kok.. malahan dua rius.” katanya.
Mendengar perkataan Rita seperti itu, otomatis jiwa kelelakian kami terpanggil serasa ada lampu hijau yang mempersilakan untuk jalan terus.
Sekilas kulihat Mas Andri juga mengalami hal yang sama denganku. Nafsu seks aku pada saat itu begitu menggebu-gebu. Tanpa malu-malu aku eratkan pelukanku ke tubuh bagian atas Rita sampai buah dadanya terasa sekali di dadaku. Aku ciumi lehernya, dan perlahan-lahan kuciumi sampai ke bawah dan sampai ke buah dadanya. Melihat adegan itu, Mas Andri juga tidak mau kalah, dia menciumi sedikit demi sedikit kaki mulusnya Rita, mulai dari betis sampai ke paha. Karena posisi kami yang tidak mengenakan ini, kami boyong tubuh Rita ke atas kasur dan kedengaran nafas Rita yang mulai tidak teratur.
Aku mulai mencium bibir Rita yang mungil itu. Kukulum bibirnya dan sesekali kuhisap dengan desahan-desahan yang membuat dia semakin terangsang. Tanpa kusadari, ternyata Mas Andri sudah berada di bibir kami. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan terasa sekali nikmatnya hisapan-hisapan bibir kami yang membuat kami bertiga semakin terangsang. Aku mulai membuka t-shirt ‘polo’-ku, dan begitu juga Mas Andri dengan kemejanya. Mas Andri mulai membuka bajunya Rita, dan tampaklah BH-nya Rita yang bewarna coklat muda dengan renda-renda di pinggirnya. Sehingga tampaklah dua buah gunung yang menjulang ke atas. Dan dengan tanpa basa-basi lagi Mas Andri langsung melepaskan BH-nya Rita, dan tampak buah dada Rita yang putih mulus, dan tampak putingnya yang sudah keras dan memerah.
Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Mas Andri langsung menghisap buah dada yang sebelah kiri. Tanpa menunggu perintah dari Mas Andri, aku langsung ikutan menghisap buah dada Rita yang sebelah kanan. Kuhisap dan hisap terus, kadang-kadang kujilat putingnya yang keras itu, dan terdengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rita. Karena penis aku yang dari tadi sudah kepingen ikutan menikmati pemandangan yang indah itu sehingga dia tidak nyaman di tempatnya, maka kulepaskan celanaku dan CD-ku. Tampaklah penisku yang menyembul keluar. Ukuran penisku sekitar 18 cm, dengan batang yang agak besar dengan ukuran helm yang lebih besar dari batangku.
Mas Andri juga ikut-ikutan melepaskan celana dan CD-nya juga. Tampaklah penisnya yang tidak terlalu besar, sekitar 14 cm tetapi mempunyai batang yang besar. Aku baru sekali ini melihat penisnya Mas Andri yang sudah berdiri tegak. Sebelumnya aku belum pernah melihat penis Mas Andri yang tegak sekali seperti sekarang ini, mungkin karena terangsang sekali menikmati pemandangan yang indah ini, sehingga aku pun ikut semakin terangsang. Kulepaskan juga rok dan CD hitamnya Rita, sehingga kami bertiga berbugil ria tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.
Aku mulai menciumi dan menghisap puting buah dadanya Rita lagi. Dan Mas Andri mulai menghisap lubang vaginanya Rita. Nafas Rita mulai tidak teratur dan tampak Rita mengelinjang-gelinjang. Aku semakin terangsang melihatnya. Apalagi melihat Mas Andri yang semakin semangat menghisap, dan lidahnya yang panjang mejilati lubang kenikmatannya Rita. Beberapa menit kemudian Rita mulai orgasme, dan tampak badan Rita menegang diiringi dengan suara jeritan, “Auuch..,” tanda keenakan.
Mendengar jeritan suara Rita itu, penisku tambah tegak dan rasanya ingin kumasukkan cepat-cepat ke lubang vagina Rita, tapi aku lihat Mas Andri mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya Rita, dan tangan Mas Andri memegangi penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina Rita. Setelah kelihatan masuk, Mas Andri mulai menggenjot dan memasuk-keluarkan penisnya. Tiba-tba tangan Rita sudah memegang penisku dan menuntunku ke dalam mulutnya. Akhirnya penisku sudah ada di depan mulutnya Rita. Rita mulai memainkan lidahnya menjilati penisku dan sesekali dimasukkannya penisku sambil dihisapnya.
Tiap hisapannya rasanya bagaikan terbang di awan, apalagi melihat genjotan Mas Andri yang semakin cepat di vaginanya Rita. Tampak dia begitu seksi dan gagah, dan aku sengaja mendekatkan wajahku pada wajah Mas Andri. Aku ingin sekali meciumi bibirnya yang seksi, tapi aku takut Mas Andri tidkak suka. Tapi tanpa diduga, Mas Andri mulai mencium bibirku, dan kubalas. Kami saling berciuman dengan penuh nafsu, sementara Mas Andri tetap menggejot Rita dan penisku masih tetap dihisap oleh Rita.
Akhirnya kami ganti posisi ke posisi doggy sytle, dimana Rita menungging dan gantian aku yang memasukan penisku ke dalam vaginanya Rita. Untuk pertamanya aku sulit sekali memasukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin karena ukuran penisku yang agak besar dibanding punyanya Mas Andri. Tapi sedikit demi sedikit aku masukkan, dan akhirnya, “Bless..” penisku dapat masuk. Uhh.., enak sekali rasanya, ternyata lubang vagina Rita masih sempit, dan aku merasakan penisku bagai diremas-remas. Aku masuk dan keluarkan penisku, dan kulakukan semakin cepat. Sekarang giliran penis Mas Andri yang dihisap oleh Rita. Rasanya enak sekali menggenjot Rita dan melihat Mas Andri yang keenakan dihisap oleh Rita. Mungkin inilah yang dinamakan surga dunia, dan aku bagaikan terbang di awan.
“Uh.. ah.. uh.. ah..,” suara rintihan Rita.
“Terus.. Mas.. oh.. enak Mas.. terus..!” teriaknya.
Kugenjot terus dan semakin cepat kugenjot, dan akhirnya Rita berteriak, “Mass.., aku mau keluarr..”
Tubuh Rita menegang dan terasa vagina Rita berdenyut-denyut, terasa ada yang membasahi penisku. Akhirnya Rita orgasme yang kedua. Kukeluarkan penisku yang masih tegak berdiri, dan tampak ada sebagian cairannya Rita. Mas Andri langsung menjilati penisku dan menjilati semua cairan yang ada sampai habis. Dan tanpa kuduga, Mas Andri terus saja menjilati penisku dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Oh.., enak sekali hisapannya, berbeda dengan hisapan Rita tadi. Kali ini lebih kasar dan lebih dalam sedotannya, bagaikan vacuum cleaner yang sedang menyedot debu.
Setelah bangkit dari istirahatnya, Rita kemudian menghampiri kami dan mulai memegangi penisnya Mas Andri dan memaksa kami untuk berdiri di lantai. Akhirnya aku dan Mas Andri berdiri berhadapan, dan Rita memegangi penis kami sambil jongkok. Penis kami bergantian dihisapnya. Dan kadang-kadang keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya sambil tangannya mengocok penis kami berdua. Sambil keenakan kuhisap putingnya Mas Andri dan kujilati. Tampak lenguhan Mas Andri yang merasakan keenakan.
“Uh.. terus Dod, teruus enaak..!” katanya setiap kujilat putingnya.
Mendengar desahan Mas Andri dan melihat Rita yang sedang asyik menikmati penis kami, aku semakin terangsang, dan akhirnya ada sesuatu yang ingin keluar dari penis kami.
“Mas, aku ingin keluuaar..” kataku.
“Aku juga..” kata Mas Andri.
Akhirnya kami memegang penis kami masing-masing dan mengocoknya. Wajah Rita sudah berada di depan penis kami.
Kupercepat kocokkanku, dan, “Ahh.. crot.. crot.. crot..” air maniku keluar persis di bibir merahnya Rita.
Begitu juga dengan Mas Andri. Tampak badannya menegang dan matanya terpejam menikmati sesuatu yang enak, yang mungkin selama ini belum dialaminya.
Dan seiring dengan lenguhan panjangnya Mas Andri, “Ahh.., crot.. crot..” air maninya keluar mengenai wajah Rita yang kelihatan menikmatinya juga.
Rita mengusapkan semua cairan mani tersebut ke seluruh wajah dan badannya. Kuciumi bibir Rita yang masih terasa air mani yang aku dan Mas Andri keluarkan tadi. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan kami pun naik ke atas kasur. Kami saling berpelukan, dan tanpa terasa akhirnya kami tertidur.
Besoknya, sekitar jam 10 pagi kami bangun dan mandi bertiga. Kami mengulangi permainan seks seperti semalam lagi, tetapi sekarang lebih cepat kami lakukan, karena Rita harus segera pulang dan bersiap-siap untuk kerja. Dengan perasaan puas seperti semalam, akhirnya kami akhiri permainan tersebut, dan kami pun segera untuk bersiap-siap pulang ke Bandung. Saat perpisahan, Rita menciumi kami berdua, dan dia minta agar kami selalu mengontak dia jika kami ingin bermain three somes lagi.
Itulah pengalaman pertamaku bermain three somes. Mungkin nanti aku akan ceritakan pengalamanku bermain seks dengan Mas Andri, mantan istrinya dan pacarku. Jika ada dari rekan-rekan 17Tahun.com yang ingin ikutan bermain bersama dalam permainan seks dengan aku, baik bagi yang biseks atau bagi suatu pasangan yang ingin suasana baru, please email, pasti aku akan balas emailnya.
TAMAT