Archive for the ‘Penyiksaan’ Category

Terjerat Nafsu Nyonya Majikan

Terjerat Nafsu Nyonya Majikan

Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk merubah nasib. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata kehidupan di kota besar, justru lebih keras dan pada di desa. Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorangpun yang mau peduli. Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa, ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini. Jangankan hanya ijazah SMP, lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur. Dari pada jadi gelandangan, aku bekerja apa saja asalkan bisa mendapat uang untuk menyambung hidup. Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang-orang kampung sepertiku.

Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas sekali. Seharian ini aku kembali mencoba untuk mencari pekerjaan. Tapi seperti yang selalu terjadi. Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Keputusasaan mulai menghinggapi diriku. Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki. Sementara pakaianku sudah basah oleh keringat. Dan wajahku juga terasa tebal oleh debu. Aku berteduh di bawah pobon, sambil menghilangkan pegal-pegal di kaki.

Setiap hari aku berjalan. Tidurpun di mana saja. Sementara bekal yang kubawa dari kampung semakin menipis saja. Tiga atau empat hari lagi, aku pasti sudah tidak sanggup lagi bertahan. Karena bekal yang kubawa juga tinggal untuk makan beberapa hari lagi. Itupun hanya sekali saja dalam sehari.

Di bawah kerindangan pepohonan, aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang. Juga orang-orang yang yang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada seorangpun yang peduli antara satu dengan lainnya. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanita yang tampak kesal karena mobilnya mogok. Dia ingin meminta bantuan, Tapi orang-orang yang berlalu lalang dan melewatinya tidak ada yang peduli. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan. Padahal aku sendiri perlu dikasihani. Aku bangkit berdiri dan melangkah menghampiri.
“Mobilnya mogok, Nyonya..?”, tegurku dengan sikap ramah.
“Eh, iya. Nggak tahu ya kenapa, tiba-tiba saja mogok”, sahutnya sambil memandangiku penuh Curiga.
“Boleh saya lihat ” ujarku meminta ijin.
“silakan kalau bisa.”

Waktu di kampung aku sering bantu-bantu paman yang buka bengkel motor. Terkadang ada juga mobil yang minta diperbaiki. Tapi namanya di kampung, jarang orang yang punya motor. Apa lagi mobil. Makanya usaha paman tidak pernah bisa maju. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Seperti seorang ahli mesin saja, aku coba melihat-lihat dan memeriksa segala kemungkinan yang membuat mesin mobil ini tidak mau hidup. Dan entah mendapat pertolongan dari mana, aku menemukan juga penyakitnya. Setelah aku perbaiki, mobil itu akhirnya bisa hidup kembali. Tentu saja wanita pemilik mobil ini jadi senang. Padahal semula dia sudah putus asa. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh ribu. Langsung disodorkan padaku. Tapi aku tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Kenapa? Kurang..?”, tanyanya.
“Tidak, Nyonya. Terima kasih”, ucapku menolak halus.
“Kalau kurang, nanti saya tambah”, katanya lagi.
“Terima kasih Nyonya. Saya cuma menolong saja. Saya tidak mengharapkan imbalan”, kataku tetap menolak. Padahal uang itu nilainya besar sekali bagiku. Tapi aku malah menolaknya.

Wanita yang kuperkirakan berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu memandangiku dengan kening berkerut. Seakan dia tidak percaya kalau di kota yang super sibuk dengan orang-orangnya yang selalu mementingkan diri sendiri, tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya, ternyata masih ada juga orang yang dengan tanpa pamrih mau menolong dan membantu sesamanya.
“Maaf, kelihatannya kamu dan kampung..?” ujarnya bernada bertanya ingin memastikan.
“Iya, Nyonya. Baru seminggu saya datang dari kampung”, sahutku polos.
“Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi.
“Cari kerja”, sahutku tetap polos.
“Punya ijazah apa?”.
“Cuma SMP.”
“Wah, sulit kalau cuma SMP. Sarjana saja banyak yang jadi pengangguran kok. Tapi kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bisa kerja dirumahku”, katanya langsung menawarkan.
“Kerja apa, Nyonya..?” tanyaku langsung semangat.
“Apa saja. Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki. Tapi aku perlu yang bisa setir mobil. Kamu bisa setir mobil apa. Kalau memang bisa, kebetulan sekali”, sahutnya.

Sesaat aku jadi tertegun. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali Ternyata ijasah yang kubawa dan kampung hanya bisa dipakai untuk jadi pembantu. Tapi aku memang membutuhkan pekerjaan saat ini. Daripada jadi gelandangan, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menerima pekerjaan yang ditawarkan wanita itu saat itu juga, detik itu juga aku ikut bersama wanita ini ke rumahnya.

Ternyata rumahnya besar dan megah sekali. Bagian dalamnyapun terisi segala macam perabotan yang serba mewah dan lux. Aku sampai terkagum-kagum, seakan memasuki sebuah istana. Aku merasa seolah-olah sedang bermimpi. Aku diberi sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja serta satu kursi. Letaknya bersebelahan dengan dapur. Ada empat kamar yang berjajar. Dan semuanya sudah terisi oleh pembantu yang bekerja di rumah ini. Bahkan tiga orang pembantu wanita, menempati satu kamar. Aku hitung, semua yang bekerja di rumah ini ada tujuh orang. Kalau ditambah denganku, berarti ada delapan orang. Tapi memang pantas. mengurus rumah sebesar ini, tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang. Apalagi setelah beberapa hari aku bekerja di rumah ini aku sudah bisa mengetahui kalau majikanku, Nyonya Wulandari selalu sibuk dan jarang berada di rumah. Juga suaminya yang lebih sering berada di luar kota atau ke luar negeri. Sedangkan kedua anaknya sekarang ini sekolah di luar negeri. Aku jadi heran sendiri. Entah bagaimana cara mereka mencari uang, hingga bisa kaya raya seperti ini.

Tapi memang nasib, rejeki, maut dan jodoh berada di tangan Tuhan. Begitu juga yang terjadi denganku. Dari jadi pembantu yang tugasnya membersihkan rumah dan merawat tanaman, aku diangkat jadi sopir pribadi Nyonya majikan. Bukan hanya jadi sopir, tapi juga sekaligus jadi pengawalnya. Kemana saja Nyonya Majikan pergi, aku selalu berada di sampingnya. Karena aku harus selalu mendampinginya, tentu saja Nyonya membelikan aku beberapa potong pakaian yang pantas. Terus terang, pada dasarnya memang aku tampan dan memiliki tubuhnya yang tegap, atletis dan berotot. Makanya Nyonya jadi kesengsem begitu melihat penampilanku, setelah tiga bulan lamanya bekerja jadi sopir dan pengawal pribadinya.

Aku bisa berkata begitu karena bukan cuma jadi sopir dan pengawal saja. Tapi juga jadi pendampingnya di ranjang dan menjadi penghangat tubuhnya. Mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami. Dan aku juga menempati kamar lain yang jauh lebih besar dan lebih bagus. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu.

Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku langsung dipanggil untuk menemuinya. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Tapi memang Nyonya memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia menyuruhku untuk menutup pintu, setelah aku berada di dalam kamar yang besar dan mewah itu.

Aku tertegun, apa lagi saat melihat Nyonya Majikanku itu hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis sekali, sehingga setiap lekuk bentuk tubuhnya membayang begitu jelas sekali. Dan di balik pakaiannya yang tipis itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi. Beberapa kali aku menelan ludah sendiri memandang keindahan tubuhnya. Sekujur tubukku mendadak saja jadi menggeletar seperti terserang demam, ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
“Nyonya”.
“Malam ini kau tidur di sini bersamaku.”
“Eh, oh..?!”

Belum lagi aku bisa mengeluarkan kata-kata lebih banyak, Nyonya Wulandari sudah menyumpal mulutku dengan pagutan bibirnya yang indah dan hangat menggairahkan. Tentu saja aku jadi gelagapan, kaget setengah mati. Dadaku berdebar menggemuruh tidak menentu. Bcrbagai macam perasaan herkecamuk di dalam dada. Ragu-ragu aku memegang pinggangnya

Nyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri. Dan membiarkannya tergeletak di lantai.

Mataku seketika jadi nanar dan berkunang-kunang. Meskipun usia Nyonya Wulandari sudah hampir berkepala empat, tapi memang dia merawat kecantikan dan tubuhnya dengan baik. Sehigga tubuhnya tetap ramping, padat dan berisi. Tidak kalah dengan tubuh gadis-gadis remaja belasan tahun. Bagaimanapun aku lelaki normal. Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari. Apa lagi aku tahu kalau sudah dua minggu ini suaminya berada di luar negeri. Sudah barang tentu Nyonya Wulandari merasa kesepian.
“Oh, ah..”

Nyonya Wulandari mendesis dan menggeliat saat ujung lidahku yang basah kian hangat mulai bermain dan menggelitik bagian ujung atas dadanya yang membusung dan agak kemerahan. Jari-jari tangankupun tidak bisa diam. Membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah yang membara Bahkan jari-jari tanganku mulai menelusuri setiap bagian tubuhnya yang membangkitkan gairah. Aku melihat Nyonya Wulandari dan sudah tidak kuasa lagi menekan gairahnya. Sesekali dia merintih dengan suara tertahan sambil mendesak-desakkan tubuhnya Mengajakku untuk segera mendaki hingga ke puncak kenikmatan yang tertinggi. Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia yang bergelimang kehangatan dan kenikmatan itu. Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas ini.
“Aduh, oh. Ahh.., Cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih..”, desah Nyonya Wulandari dengan suara rintihannya yang tertahan.

Nyonya Wulandari menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus. Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kehalusan kulit pahanya itu. Karena sudah basah oleh keringat. Nyonya majikanku itu benar-benar sudah tidak mampu lebih lama lagi bertahan. Dia memaksaku untuk cepat-cepat membawanya mendaki hingga ke puncak kenikmatan. Aku mengangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua tangan. Perlahan namun pasti aku mulai menekan pinggulku ke bawah. Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam. Dan dan bibirnya yang selalu memerah dengan bentuk yang indah dan menawan, mengeluarkan suara desisan panjang, saat merasakan bagian kebanggaan tubuhku kini sudah sangat keras dan berdenyut hangat mulai menyentuh dan menekan, mendobrak benteng pertahanannya yang terakhir. Akhirnya batang penisku menembus masuk sampai ke tempat yang paling dalam divaginanya.
“Okh, aah..!”

Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku. Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmnatan itu. Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Nyonya Wulandari mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak kenikmatan yang tertinggi.

Memang pada mulanya gerakan-gerakan tubuhku cukup lembut dan teratur Namun tidak sampai pada hitungan menit, gerakan-gerakan tubuhku mulai liar dan tidak terkendali lagi. Beberapa kali Nyonya Wulandari memekik dan mengejang tubuhnya. Dia menggigiti dada serta bahuku. Bahkan jari-jari kukunya yang tajam dan runcing mulai mengkoyak kulit punggungku. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali. Bahkan Nyonya Wulandari menjilati tetesan darah yang ke luar dari luka di bahu dan dadaku, akibat gigitan giginya yang cukup kuat.

Dan dia jadi semakin liar, hingga pada akhirnya wanita itu memekik cukup keras dan tertahan dengan sekujur tubuh mengejang saat mencapai pada titik puncak kenikrnatan yang tertinggi. Dan pada saat yang hampir bersamaan, sekujur tubuhku juga menegang Dan bibirku keluar suara rintihan kecil. hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping, sambil menghembuskan napas panjang. Nyonya Wulandari langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku yang basah berkeringat. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, dan merasakan kehalusan kulit punggungnya yang basah berkeringat. Nyonya Wulandari menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua. Aku sempat memberinya sebuali kecupan kecil dibibirnya, sebelum memejamkan mata. Membayangkan semua yang baru saja terjadi hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah.

Sejak malam itu aku kerap kali dipanggil ke dalam kamarnya. Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh letih. Semula aku memang merasa beruntung bisa menikmnati keindahan dan kehangatan tubuh Nyonya Majikanku. Tapi lama-kelamaan, aku mulai dihinggapi perasaan takut. Betapa tidak, ternyata Nyonya Wulandari tidak pernah puas kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam. Aku baru menyadari kalau ternyata Nyonya Majikanku itu seorang maniak, yang tidak pernah puas dalam bercinta di atas ranjang.

Bukan hanya malam saja. Pagi, siang sore dan kapan saja kalau dia menginginkan, aku tidak boleh menolak. Tidak hanya di rumah, tapi juga di hotel atau tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercinta dan mencapai kenikmatan di atas ranjang. Aku sudah mulai kewalahan menghadapinya. Tapi Nyonya Wulandari selalu memberiku obat perangsang, kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginannya yang selalu berkobar-kobar itu. Aku tetap jadi supir dan pengawal pribadinya. Tapi juga jadi kekasihnya di atas ranjang.

Mungkin karena aku sudah mulai loyo, Nyonya Wulandari membawaku ke sebuah club kesegaran. Orang-orang bilang fitness centre. Di sana aku dilatih dengan berbagai macam alat agar tubuhku tetap segar, kekar dan berotot. Dua kali dalam seminggu, aku selalu datang ke club itu. Memang tidak kecil biayanya. Tapi aku tidak pernah memikirkan biayanya. Karena ditanggung oleh Nyonya Wulandari. Dan di rumah, menu makanankupun tidak sama dengan pembantu yang lainnya. Nyonya Wulandari sudah memberikan perintah pada juru masaknya agar memberikan menu makanan untukku yang bergizi. Bahkan dia memberikan daftar makanan khusus untukku.

Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa. Tapi tampaknya semua pembantu di rumah ini sudah tidak asing lagi. Bahkan dari Bi Minah, yang tugasnya memasak itu aku baru tahu kalau bukan hanya aku yang sudah menjadi korban kebuasan nafsu seks Nyonya Wulandari. Tapi sudah beberapa orang pemuda seusiaku yang jadi korban. Dan mereka rata-rata melarikan diri, karena tidak tahan dengan perlakuan Nyonya Wulandari.

Aku memang sudah tidak bisa lagi menikmati indahnya permainan di atas ranjang itu. Apa lagi Nyonya Wulandari sudah mulai menggunakan cara-cara yang mengerikan, Untuk memuaskan keinginan dan hasrat biologisnya yang luar biasa dan bisa dikatakan liar. Aku pernah diikat, dicambuk dan di dera hingga kulit tubuhku terkoyak. Tapi Nyonya Wulandari malah mendapat kepuasan. Wanita ini benar-benar seorang maniak. Dan aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya yang semakin liar dan brutal. Meskipun kondisi tubuhku dijaga, dan menu makanankupun terjamin gizinya, tapi batinku semakin tersiksa. Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dan rumah ini. Rumah yang besar dan megah penuh kemewahan ini ternyata hanya sebuah neraka bagiku.

Aku memang ingin lari, tapi belum punya kesempatan. Tapi rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku itu. Kebetulan sekali malam itu suami Nyonya Wulandari datang. Aku sendiri yang menjemputnya di bandara. Dan tentu tidak sendiri saja, tapi bersama Nyonya Wulandari. Di dalam perjalanan aku tahu kalau suami Nyonya Majikanku itu hanya semalam saja. Besok pagi dia sudah harus kembali ke Tokyo. Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Wulandari. Padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi Dan kini pulang juga hanya semalam saja. Nyonya Wulandari malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput.

Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar. Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini. Karena Nyonya Wulandari sedang sibuk dengan suaminya. Aku langsung mengemasi pakaian dan apa saja milikku yang bisa termuat ke dalam tas ransel. Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri. Sejak bekerja di rumahi ini dan menjadi sapi perahan untuk pemuas nafsu Nyonya Majikan, tabunganku di bank sudah banyak juga. Karena Nyonya Wulandan memang tidak segan-segan memberiku uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan tidak sepeserpun uang yang diberikannya itu aku gunakan. Semuanya aku simpan di bank. Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian. Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank. Bahkan Nyonya Wulandari sendiri tidak tahu. Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu lagi berpamitan. Bahkan aku ke luar lewat jendela.

Malam itu aku berhasil melarikan diri dari rumah Nyonya Wulandari. Terbebas dari siksaan batin, akibat terus menerus dipaksa dan didera untuk memuaskan nafsu birahinya yang liar dan brutal. Tapi ketika aku lewat di depan garasi, ayunan langkah kakiku terhenti. Kulihat Bi Minah ada di sana, seperti sengaja menunggu. Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh. Aku melangkah menghampiri. Dan Wanita bertubuh gemuk itu mengembangkan senyumnya.
“Jangan datang lagi ke sini. Cepat pergi, nanti Nyonya keburu tahu..”, kata Bi Minah sambil menepuk pundakku.
“Terima kasih, Bi”, ucapku.
Bi Minah kembali tersenyum. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meniggalkan rumah itu. Aku langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat, dan meminta untuk membawaku ke sebuah hotel.

Untuk pertama kali, malam itu aku bisa tidur nyenyak di dalam kamar sebuah hotel. Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta. Aku memang sudah bertekad untuk kembali ke desa, dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta.

Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu Nyonya Wulandari, aku bisa membuka usaha di desa. Bakkan kini aku sudah punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu. Aku selalu berharap, apa yang terjadi pada diriku jangan sampai terjadi pada orang lain. Kemewahan memang tidak selamanya bisa dinikmati. Justru kemewahan bisa menghancurkan diri jika tidak mampu mengendalikannya.

TAMAT

Siksaan Tanpa Ampun

Siksaan Tanpa Ampun

Malam semakin larut saat Mei sedang menunggu angkutan umum sepulang kerjanya. Telah lebih seminggu Mei bekerja di sebuah pasar swalayan, dimana karyawan dan karyawatinya pulang kerja jam sepuluh malam. Mei berwajah cantik dengan bentuk muka oval, mata yang indah, hidung mancung, dan bibir yang menawan.

Rambutnya yang ikal tergerai menambah kecantikannya. Siapapun yang melihat wajah Mei pasti akan kagum. Apalagi ditunjang oleh tubuhnya yang tinggi semampai dan proporsional. Lehernya yang jenjang indah, pinggangnya yang ramping, dadanya yang padat berisi, serta kakinya yang mulus menambah daya pikatnya. Apalagi dengan gerak-geriknya yang anggun, pastilah suka hati seseorang yang melihatnya.

Tidak jauh dari tempat Mei menunggu, tiga orang lelaki bersembunyi mengamat-amati. Mereka adalah Johan, Wijaya, dan Steven. Sudah tiga hari mereka melakukan pengamatan terhadap Mei. Mereka bertiga memang berniat tidak baik terhadap gadis itu. Maka pada hari keempat tersebut mereka telah mengenal daerah tersebut, dan mengetahui bahwa tempat Mei menunggu tersebut adalah tempat yang paling cocok untuk menyergap dan menculik Mei.

Saat yang dinanti tiba. Sewaktu keadaan benar-benar sepi dan tidak terdapat orang lain, mereka bertiga langsung mendekati serta mengepung Mei. Johan yang menjadi pimpinan mereka mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan cepat menodongkannya ke arah peruh Mei. Tentu saja Mei ketakutan dibuatnya. Apalagi diiringi oleh Wijaya dan Steven yang menyeringai buas sambil memegangi tangan Mei. Dibawah ancaman, Mei terpaksa menuruti kemauan ketiga lelaki tersebut untuk menculiknya dan membawanya ke mobil mereka.

Di dalam mobil, mereka mengikat kaki dan tangan Mei serta menyumpal mulutnya dengan plester. Mata Mei ditutup dengan saputangan hitam. Setelah itu mereka membawa Mei ke luar kota dan ke sebuah rumah kosong yang menjadi sarang ketiga lelaki tersebut. Mei mereka ikat dengan posisi kedua tangan di belakang.

Setelah itu Steven melepaskan ikatan pada kaki Mei. Steven juga membuka plester pada mulut dan saputangan yang menutup mata Mei. Wijaya menyalakan sebuah lampu baterai yang menerangi tempat itu dengan cukup terang, karena lampu baterai itu bercahaya putih terang. Mata Mei silau dibuatnya akibat perubahan mendadak dari gelap menjadi terang. Johan langsung mengeluarkan pisau lipatnya dan mulai menyobek baju seragam yang dikenakan Mei. Mei hanya meratap meminta belas kasihan, tetapi Joe membentaknya serta terus menyobek baju dan rok Mei. Akhirnya Mei hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.

Tubuhnya yang putih menggiurkan terlihat jelas. Ketiga lelaki tersebut menatap tidak berkedip dengan buasnya. Apalagi melihat payudara Mei yang membayang di balik bra-nya.
“Gilee.. putih banget..!” Wijaya berdecak. “Teteknya besar, Coy..!”
“Kita pesta malam ini.” Steven menimpali dengan seringainya.
“Ampun Bang.. jangan perkosa saya Bang.. ampun Baang..,” Mei meratap sambil terisak-isak ketakutan.
“Heh..! Lo perempuan jangan banyak cing-cong!” Johan kembali membentak.
Lalu ia dengan kasar merenggut bra yang dikenakan Mei, sehingga tali bra tersebut putus, sedangkan kedua payudara Mei membusai dan berguncang-guncang akibat lepasnya bra tersebut secara paksa. Payudara Mei yang indah terekspos dengan jelas.

“Kenceng banget nih tetek! Bikin makin napsu aja. Gue enggak sabar ngeliat gimana muka ini perempuan kalo itu tetek gue potong pake ini.” kata Wijaya sambil mengeluarkan sebuah pisau dapur yang besar dan mengkilat.
Mei hampir saja tidak percaya bahwa yang dibicarakan oleh Wijaya adalah payudara miliknya. Sementara Steven dan Joe hanya tertawa kejam.
“Jangan Bang.. saya mohon Bang..!” Mei hanya dapat menangis.
Johan menamparnya dengan keras. “Jangan nangis lo perempuan. Ikut aja apa yang gue kerjain! Kalo lo berani macem-macem, gue cincang lo pake pisau ini!”

Mei terdiam, walaupun masih terisak-isak. Hatinya ciut bukan main. Sementara Johan sudah merobek celana dalamnya sehingga Mei benar-benar telanjang bulat.
Lalu Johan memberi komando, “Stev, lo mulai duluan..!”
Steven langsung menyerbu. Kedua payudara Mei dia remas dengan ganas dan dengan sekuat tenaganya. Mei berteriak kesakitan dibuatnya. Tapi tamparan dari Johan membuat Mei langsung bungkam, dan akhirnya Mei hanya merintih-rintih menahan sakit dan derita pada payudaranya.

“Ah! Lembut banget nih tetek. Tetek perawan emang hebat!” Steven terkekeh.
Lalu ia melumat payudara Mei dengan menggunakan mulutnya. Puting susu Mei digigit dan ditarik dengan giginya, sehingga Mei megap-megap menahan kesakitan. Wijaya yang sudah tidak tahan langsung membuka celananya. Batang kejantanannya yang sudah tegang diarahkan ke mulut Mei. Mei merasa jijik.
“Ayo isep kontol gue! Kalo macem-macem nanti gue bakar tetek lo!” bentak Wijaya.
Tentu saja Mei tidak punya pilihan lain kecuali menerima penis Wijaya yang berbau amis itu di dalam mulutnya.

Karena Mei tidak berpengalaman, tentu saja Wijaya marah. Dia menjambak rambut Mei dan membentak, “Isep, goblok! Pake lidah lo!”
Mei terpekik, dan karena demikian takutnya, langsung menuruti perintah Wijaya.
“Nah.. gitu.. enak.. teruus..!” Wijaya mengerang keenakan.
Mei terus menyedot dan menghisap betang kemaluan Wijaya dengan perasaan jijik dan muak. Sementara Steven sedang meremas payudara Mei dari belakang dengan kasar. Bahkan sesekali ditariknya payudara Mei dengan kuat, sehingga Mei tersedak dan kelojotan menahan sakit, mengira bahwa payudaranya hendak dicopot oleh Steven.

Setelah puas, Steven menyuruh Mei mengambil posisi menungging dengan tetap mengemut batang penis Wijaya. Steven membuka celananya dan dengan kasar didobraknya vagina Mei dengan kejantanannya. Mei menjerit sesaat, merasakan perih pada vaginanya. Darah keperawanan mengalir dari lubang vagina Mei. Steven dengan kasar menggoyang batang penisnya di dalam vagina Mei.
“Ah.. enak banget memek perawan. Legit dan sempit.”
Wijaya melepaskan batang penisnya dari mulut Mei, dan menyusup di bawah Mei tepat di bawah kedua payudara Mei yang bergelantungan dan bergoyang-goyang. Lalu Wijaya melahap payudara Mei dengan mulutnya, sementara tangannya beroperasi pada payudara lainnya.

Johan yang sudah sangat bernafsu langsung membuka celananya dan memerintahkan Mei menghisap penisnya. Jadilah Mei saran pemuas nafsu ketiga lelaki tersebut. Payudaranya diperas, dicubit, diremas, digigit, dan dipermainkan dengan kasar oleh ketiganya. Sementara bergantian Johan, Wijaya, dan Steven menjebol lubang vagina dan anusnya. Tanpa belas kasihan mereka menampar, memukul, bahkan menohok vagina Mei dengan sebuah besi batangan seukuran pergelangan tangan orang dewasa, membuat Mei hampir pingsan tidak sadarkan diri. Namun setiap kali kesadaran Mei memudar, Johan langsung menyadarkannya dengan tamparan ke wajah, renggutan pada payudara, dan jambakan pada rambut, sehingga Mei benar-benar merasakan siksaan yang luar biasa pada sekujur tubuhnya terutama alat-alat seksualnya. Vagina Mei menerima semburan sperma dari Wijaya dan Steven.

Terakhir kali, dengan sadisnya Johan menyetubuhi Mei tanpa ampun dan tidak kenal belas kasihan. Penisnya yang besar dan keras bagaikan batang kayu menerobos vagina Mei. Mei yang sudah letih dan lelah merasakan siksaan berbaring telentang dengan paha mengangkang, sedangkan kedua tangannya masih terikat ke belakang. Sambil menyetubuhi Mei, Johan menarik-narik kedua puting susu Mei yang sudah membengkak akibat siksaan. Sesekali tangannya menampar payudara Mei, membuat payudara tersebut memerah. Mei meregang-regang diperlakukan seperti itu.

Beberapa menit kemudian, Johan mencapai puncak kepuasannya, menyemburkan spermanya ke dalam vagina Mei sehingga vagina tersebut benar-benar menerima benih dari ketiga lelaki tersebut. Mei hanya menangis lemah dan membayangkan bahwa dia pasti akan hamil karena masa itu adalah masa subur baginya.

Setelah nafsu seks mereka terpuaskan, ketiga lelaki tersebut beristirahat selama lima belas menit. Setelah itu Johan mengambil batangan besi yang tadi digunakan untuk menohok vagina Mei, dan memasukkan benda tersebut sedalam mungkin ke vagina Mei. Sebagai akibat rasa sakit yang dideritanya, Mei menjerit kuat sambil meratap minta dikasihani. Johan tertawa sinis. Wijaya tidak mau ketinggalan ikut memasukkan sebuah tongkat pendek yang diameternya sekitar 5 cm ke dalam vagina Mei, sehingga vagina tersebut dimasuki oleh dua buah benda yang membuat rasa sakit Mei semakin menjadi-jadi. Luar biasa sekali penderitaan Mei dengan batangan besi dan tongkat yang dimasukkan ke vaginanya yang semula masih perawan. Dengan lebih gila, Steven menaburi vagina Mei dengan bubuk merica dan bubuk cabai sehingga Mei berkelojotan dibuatnya. Johan, Steven, dan Wijaya menonton penderitaan Mei dengan perasaan puas.

“Sekarang babak akhir permainan kita.” Johan menyeringai kejam.
Lalu ia mengambil pisau dapur milik Wijaya yang tergeletak di lantai.
“Gue pengen tau gimana suara dan muka lo perempuan, kalo gue potong tetek lo!”
Mei menjerit-jerit ngeri dan berusaha menjauh dari Johan dengan menggunakan kedua kakinya. Tentu saja Johan lebih cepat, dan dengan sigap tangan kirinya meraih payudara Mei yang sebelah kanan. Lututnya ditekan ke perut Mei sehingga Mei terbaring di lantai. Payudara Mei ditarik, dan pisau di tangan kanan Johan ditempelkan ke pangkal payudara tersebut.

Johan berteriak kepada Wijaya dan Steven, “Gimana menurut lo berdua?”
“Udah! Babat aja sampe putus itu tetek..!” Wijaya berteriak dengan bernafsu.
“Gue udah nggak sabar pengen ngeliat perempuan itu berpisah dengan kedua teteknya!” timpal Steven tanpa perasaan.
“Lo dengar, perempuan? Mereka mau gue potong tetek lo..!” Johan terkekeh dengan dingin.
Mei menggeleng-geleng tanpa mampu berkata-kata. Bayangan ketakutan akan pemotongan terhadap payudaranya menyebabkan ia tidak dapat bersuara.

Tidak lama kemudian, Johan mengerakkan tangan kanannya dengan tanpa ampun dan.., terdengarlah jeritan memilukan menyayat hati dari gadis tersebut.

TAMAT

Siksa Membawa Nikmat

Siksa Membawa Nikmat

Akhir-akhir ini banyak ditentang kekerasan dalam keluarga, khususnya tindak kekerasan suami terhadap isterinya. Akupun sebagai wanita semula juga setuju dengan penentangan itu. Tetapi pengalaman yang kujalani memberikan pandangan lain, aku bisa menerima bahkan amat menikmati kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadapku.

Aku ingin membagi pengalamanku ini berdasarkan kenyataan di lapangan, bahwa banyak wanita mengalami kekerasan dari suaminya dan mereka mengadakan penentangan tersebut, baik penentangan itu berupa tindakan untuk minta cerai maupun penentangan itu dilakukan secara psikologis saja, karena ia tidak berdaya. Penentangan, khususnya penentangan secara psikologis itu malah membuat si wanita menderita tanpa bisa berbuat apa-apa. Pengalamanku ini perlu kubagi, pertama karena ternyata di balik rasa sakit yang tak terperikan itu, ada rasa nikmat yang jauh lebih nikmat daripada hanya melayani suami secara “normal”. Kedua, ternyata banyak juga pasangan suami isteri yang mengalami masalah kelainan ini, baik si isteri maupun si suami tapi karena tidak memahami permasalahannya, mereka ambil jalan pintas untuk cerai.

Ceiteraku ini kuawali dengan pertanyaan yang kutujukan pada anda, khususnya pada sesama wanita. Pernahkah anda menginginkan setiap saat anda menangis menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berkelojotan dengan tubuh berlumuran darah penuh luka? Sama dengan anda, akupun tak pernah menginginkan, bahkan memikirkan saja tak pernah. Tapi nasib membuatku setiap saat membiarkan tubuhku disiksa sampai aku hrs menjerit melolong-lolong kesakitan. Namun akhirnya aku bisa menerima hal itu, bahkan kini aku bisa menikmatinya, kini justru aku yg memintanya bila Ifan tak menyiksaku.

Aku benar-benar menjadi ketagihan untuk mengalami siksaan yang mendatangkan rasa sakit yang tak terperikan, sebab ternyata di balik rasa sakit yang amat sangat, bila sampai ke tahap tertentu ketahanan kita, justru akan kita rasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat daripada kalau kita melakukannya dengan normal. Juga bagi suami akan mendatangkan rasa nikmat yang jauh lebih hebat saat tubuh si isteri mengejang keras menahan rasa sakit yang hebat, sebab pada saat itulah vagina si isteri akan menjepit kuat-kuat kemaluan si suami; dan tentu saja ini mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa bagi suami.

Ketika aku berpacaran dengan Ifan, akupun tak pernah membayangkan akan mengalami nasib spt itu. Ifan penuh perhatian, amat menyayangiku dan selalu memanjakanku. Ia juga punya masa depan yg pasti sbg pengusaha muda yg sukses. Ia benar-benar pria idola gadis-gadis, ia amat sempurna tiada cacat sedikitpun, ia amat gagah dan tampan. Akupun hrs bersaing ketat dengan gadis yg lain utk mendapatkannya, karena itu aku amat bahagia bisa bersanding di pelaminan dgnnya.
Aku gemetar ketika hrs tidur berdua dengan Ifan seusai pesta pernikahandi di malam pertama, bagiku malam itu pertama kali aku tidur di samping pria. Tubuhku menggigil dan keringat membanjiri tubuhku ketika tangan Ifan mulai menyelinap di balik gaun tidurku dan dengan lembut meremas susuku. Ingin aku mencegah tangan itu meneruskan meremas-remas daging lembut di dadaku, tapi aku sadar BHw aku kini adalah isterinya. Aku pasrah saja ketika tangannya mulai membuka baju tidurku dan dengan pelan melepas satu persatu pakaianku hingga aku tergolek telanjang bulat di sisinya. Sebenarnya aku malu sekali ia melihat tubuhku yg telanjang, tapi aku menyadari BHw Ifan kini adalah suamiku, krn itu kubiarkan saja ketika bibirnya mulai mengulum puting susuku. Tubuhku bagaikan kena aliran listrik, panas dingin nggak karuan ketika lidahnya mulai menari-nari di susuku, menyebabkan rasa nikmat yg belum pernah kurasakan, apalagi ketika kemudian tangan Ifan mulai membelai-belai dan mengelus-elus kemaluanku dengan tetap mulutnya mengulum kedua susuku bergantian. Gairah mulai menggelora dalam tubuhku dan aku secara mulai menyambut cumbuan Ifan. Tak ada lagi rasa malu, gejolak dlm diriku membuatku lupa segalanya, kupagut dan kupeluk tubuh Ifan dengan gemas dan liar, dan baik mulut maupun tangan Ifanpun semakin liar menjelajahi bagian-bagian yg peka di tubuhku membuat gairahku semakin menggelora dan aku sudah menantikan saat-saat yg membahagiakan ketika Ifan mulai menindih tubuhku dan salah satu bagian tubuh Ifan mendesak dan menekan ingin menerobos tubuhku. Aku semakin liar dan ganas memagut dan memeluk Ifan, seolah-olah ingin semua tubuhnya kulumat dan kumasukkan ke tubuhku.

Tiba-tiba Ifan mengeluh lalu lemas terkulai di atas tubuhku. Nafsunya yg tadi menggelora membakar dirinya padam seketika meski ia tetap memelukku erat-erat. Aku yg menginginkan lebih banyak lagi darinya seketika ikut mendingin dan kembali spt semula. Ifan dengan lemas turun dari atas tubuhku lalu terpekur diam. Ifan mohon maaf atas perlakuannya pdku. Aku bisa memahami sepenuhnya bila ia masih mengingat Ida, karena itu aku belai-belai kepalanya dng penuh kasih.
Ternyata kejadian tsb tidak hanya sekali itu saja. Aku tetap amat bahagia mendampinginya, kecuali dlm satu hal, setiap dia mau melakukan fungsinya sbg suami pasti terhenti di tengah jalan.

Satu kali dua kali aku masih bisa menerimanya tapi setelah berkali-kali gagal sebenarnya di hati kecilku mulai tumbuh kekecewaan dan kekesalan juga, namun semua hal itu kupendam dalam-dalam dan tak kuperlihatkan betapa kecewa hatiku ketika gelora nafsu sedang bergolak naik tiba-tiba hrs dipadamkan. Aku tetap berusaha tampak bahagia, apalagi Ifan semakin memanjakan dan memperhatikan aku. Semua hal hampir tak boleh kukerjakan, dia sendiri yg mengerjakan. Aku benar-benar tak tahu apa yg hrs kuperbuat setiap Ifan memohon maaf pdku setiap kegagalannya. Meski sebulan sudah aku menjadi pengantin, aku masih tetap perawan.

Malam itu kami menonton video porno di kamar tamu dan adegan-adegan di film itu membuat kami terangsang. Satu persatu pakaian kami lepas dari tubuh kami dan kami bercumbu di sofa di ruang itu. Tapi kembali ketika sedang mendaki ke puncak kenikmatan, Ifan melemas lagi. Entah siapa yg memulai, kami bertengkar dan itulah pertengkaran pertama kami sejak kami pacaran. Pertengkaran semakin hebat dan membuat kami lepas kendali sampai dia membentak:
“Ika kupukul kau kalau nggak diam!”
Dibentak spt itu bukan membuatku takut, malah aku menantangnya:
“Coba ayo pukul .. ayo pukul ..” kataku sambil mendekatkan diri
“Ika .. kuperingatkan kau ..” bentaknya tampak ia benar-benar menahan marah yg luar biasa, wajahnya merah padam, matanya melotot dan giginya berkerot-kerot, tapi aku nggak takut sama sekali, malah membuatku lebih berani. Mungkin kekecewaan yg selama ini kucoba untuk kusembunyikan akhirnya meledak juga.
“Ayo kalau kau lelaki, pukul aku .. wong kau selama ini terbukti bukan lelaki ..”

Perkataanku belum selesai ketika Ifan tiba-tiba merenggut cambuk hiasan yg menempel di dinding ruang tamu dan seolah aku nggak percaya melihatnya, ia mengangkat cambuk itu dan ..
“Auughh..” aku melolong keras sekali, tubuhku terasa terbelah menjadi dua oleh rasa sakit yg tak pernah terbayangkan olehku ketika cambuk itu mendera tepat di dadaku, melibas kedua susuku terus melingkar ke punggungku. Kakiku terasa lemah dan tak sanggup menopang tubuhku, aku jatuh berlutut di karpet. Belum sempat aku mengambil nafas kembali aku menjerit sekuat-kuatnya ketika Ifan kembali menyabetkan cambuk di tangannya ke punggungku. Gemeretak gigiku menahan rasa sakit yg menyeruak sampai ke seluruh tubuhku sampai kepala ini seolah meledak merasakan rasa sakit yg tiada tertahankan ketika kembali cambuk itu mendera kedua susuku terus melibas melingkar memotong tubuhku. Limbung aku seketika merasakan rasa sakit yg tiada terperikan itu dan aku jatuh terguling di karpet. Tampaknya kemarahan Ifan belum turun, belum sempat aku mengambil nafas, kembali punggungku serasa terbelah oleh rasa sakit yg seolah meledakkan kepalaku.

Aku terus berusaha menghindar dengan berguling-guling di karpet sambil meringkukkan tubuhku sekecil mungkin tapi Ifan terus mengejar dan terus menyabetkan cambuk itu berkali-kali.
“Aadduuhh .. huuhuuhuu .. aampuunn .. hhentikkaann ..aadduhh .. ssaakitt .. hhuuhhuuhhuu .. aampuunn ..” aku memohon-mohon pada Ifan utk segera menghentikan mencambuki diriku.
Tiba-tiba Ifan membuang cambuk di tangannya dan kukira selesai, tetapi ternyata tidak. Ifan lalu menubruk tubuhku yg meringkuk di lantai, ditelentangkannya tubuhku dengan kasar lalu ia menindihku dan tangannya dengan keras meremas kedua susuku yg luka-luka akibat sabetan cambuk tadi. Aku merintih dan menangis kesakitan, rasa sakit akibat cambukan belum habis kini ditambah dengan Ifan yg dengan buas dan liar mengulum dan menggigit kedua puting susuku.

Aku kembali menjerit-jerit kesakitan, tapi Ifan malah semakin ganas meremas, menggigit dan entah apalagi yg dilakukan pd diriku. Ketika kurasakan giginya mengigit puting susuku kuat-kuat, aku meronta-ronta sambil menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi, sampai aku ingin pingsan saja.
Dgn kasar direnggangkannya kedua pahaku dan kembali terasa milik Ifan berusaha menembus lubang kemaluanku. Ifan dengan liar dan ganas menekankan miliknya sambil tetap menggigit susuku membuat aku menangis menjerit-jerit kesakitan. Ifan bukannya reda melainkan bertambah ganas dan kuat menekankan miliknya dan .. krekk .. terasa ada sesuatu yg robek dlm lubang kemaluanku.

Aku menjerit pelahan, rasa pedih terasa dlm kemaluanku dan aku mendorong Ifan, tetapi apalah arti tenagaku melawan Ifan yg spt kesetanan itu. Semakin aku mengaduh kesakitan ia malah semakin kuat dan cepat mengayun-ayunkan pantat dan bagian bawah tubuhnya membuat miliknya bergerak keluar masuk lubang kemaluanku. Rasa nikmat mulai menyeruak di sela-sela rasa sakit yang masih mendenyut-denyut di seluruh tubuhku, dan rasa nikmat itu semakin lama semakin nyata kurasakan hampir mengalahkan rasa sakit yg mendera seluruh tubuhku.

Kupagut tubuh Ifan yg masih terus menindih tubuhku sambil meremas dan mengulum kedua susuku. Ifan semakin liar dan ganas menggerak-gerakkan miliknya dalam rongga tubuhku membuat diriku melayang-layang di awan kenikmatan sampai pd suatu saat ia merangkulku sekuat-kuatnya sambil membenamkan miliknya sedalam mungkin dan menggerakkan secepat mungkin menyebabkan rasa nikmat yg belum pernah kurasakan. Aku melenguh dan memagut dia sekuat-kuatnya dan kami larut dalam kenikmatan yg tiada tara. Namun bersamaan dengan itu, rasa sakit yang amat sangat kembali menyeruak ke otakku sampai kepalaku terasa mau meledak ketika pada puncaknya nikmat itu Ifan menggigit puring susuku kuat-kuat.

Tubuhku meronta dan mengejang menahan rasa sakit yang amat sangat dan tiba-tiba terasa vaginaku menjepit milik Ifan dengan kuat dan Ifan kesulitan menggerakkan miliknya dalam rongga tubuhku. Namun tampaknya Ifan justru merasakan puncak kenikmatan dan terasa cairan hangat menyemprot dari milik Ifan menjadikan rasa sakit yang kurasakan bercampur rasa sakit yang tak terhingga.

Hampir pingsan aku merasakannya. Tubuhku lemas seolah tak bertenaga. Rasa sakit yang mendenyut-denyut menyadarkanku dan kutolakkan tubuh Ifan yang masih menindihku. Berbagai perasaan mengaduk-aduk dalam diriku. Aku marah, terkejut, menyesal sekaligus juga senang bercampur aduk. Marah sebab aku tak menyangka Ifan memukuliku seperti itu. Terkejut, aku tak menyangka Ifan yang biasanya menyayangiku tiba-tiba berubah menjadi setan iblis yang berbuat sekasar itu. Menyesal, mengapa Ifan sampai berbuat seliar itu memperkosaku, padahal aku menginginkan diperlakukan dengan lembut dan hangat. Tapi aku juga senang, ternyata Ifan nggak impoten seperti yang kutakutkan; dan aku juga senang bisa mempersembahkan keperawananku pada suamiku.

Aku menangis tersedu-sedu, tidak saja oleh berbagai rasa yang mengaduk-aduk perasaanku seperti yang kuceriterakan di atas, tapi juga oleh rasa sakit yang mendenyut-denyut di sekujur tubuhku. Rasa sakit seolah-olah menyentak-nyentak dari bekas cambukan di punggung dan dada, dan bekas gigitan Ifan di puting susuku. Juga ada rasa perih di selangkanganku.
Rupanya isak tangisku menyadarkan Ifan yang masih tergolek lemas setelah kutolakkan dari atas tubuhku. Dengan cepat ia memelukku dan memohon-mohon maaf padaku sambil ikut menangis.

Semula aku masih marah dan kutolakkan tangannya yang mau memelukku. Tapi Ifan benar-benar menangis kaya anak kecil, ia memohon-mohon maaf dan berjanji tak akan berbuat kasar lagi kepadaku. Akhirnya luluh juga hatiku dan ketika entah ke berapa puluh kalinya ia memohon maaf, dengan pelan kuanggukkan kepalaku dan kubiarkan tangannya memelukku. Ia amat senang aku memaafkannya, dengan cepat ia bangkit dan menuju kotak P3K. Diambilnya obat dan kapas. Ifan kembali menjadi Ifan yang selama ini kukenal, kembali lembut dan penuh kasih sayang. Dengan masih memohon-mohon maaf serta berjanji tak akan memukulku diambilnya handuk dan dibasahinya dengan air hangat. Disekanya tubuhku yg penuh dengan bilur-bilur, beberapa di antaranya sampai mengeluarkan darah.

Aku merintih ketika luka-luka bekas cambukan itu kena handuk basah. Rasa pedih yang amat sangat menyentak-nyentak sampai ke otakku, apalagi setelah diusap dengan obat luka yang amat pedih kurasakan. Aku tidak hanya merintih, tetapi menangis sambil mengaduh kesakitan.
Tiba-tiba kurasakan tangan Ifan gemetar dan matanya yang tadi lembut berubah menjadi ganas, kembali seperti ketika tadi ia memperkosaku. Aku semakin meringis kesakitan sambil mengaduh keras-keras ketika tangannya yang mengusapkan obat yang amat pedih ke susuku tiba-tiba mencengkeram kedua susuku dengan kuatnya. Aku meronta-ronta tapi Ifan tampak sudah lupa diri. Dengan kasar kedua tanganku yang berusaha menutupi kedua susuku dipegangnya dan ditekan ke atas kepalaku. Dengan ganas dan liar kembali bibirnya mengulum puting susuku yang masih sakit, membuat kumenjerit kesakitan.

Jeritanku, rontaanku malah membuatnya semakin ganas, tidak saja ia mengulum kedua puting susuku, namun ia menggigitnya keras-keras membuatku semakin keras menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berontak ingin lepas dari tindihannya. Namun Ifan justru semakin liar dan ganas. Kepalanya terus turun dari dadaku, menjelejahi perutku, lalu aku tak tahu bagaimana melukiskan rasanya ketika kurasakan lidahnya menyentuh kelentitku, sementara kedua tangannya kini meremas-remas susuku sekuat-kuatnya. Rasa nikmat bercampur rasa sakit membuatku semakin meronta-ronta.

Aku semakin menjerit-jerit histeris, nggak tahu apakah jerit kesakitan atau jerit kenikmatan ketika kurasakan kelentitku dihisapnya kuat-kuat sehingga hampir seluruhny masuk ke dalam rongga mulutnya dan kurasakan lidahnya bergerak licah kesana-kemari mempermainkan kelentitku yang ada dalam mulutnya di sela-sela gigi-giginya. Namun kemudian aku benar-benar menjerit kesakitan, bahkan sampai meraung-raung ketika kurasakan gigi-gigi Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku. Aku benar-benar merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Semakin aku menjerit semakin buas pula Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku.

Aku sudah hampir pingsan ketika Ifan menghentikan gigitan dan kunyahannya di kelentitku. Ia kembali berubah menjadi binatang buas yang mengerikan. Dengan kasar direnggangkan kedua pahaku dan kembali ia menindihiku sambil memasukkan miliknya dalam kemaluanku. Aku meronta-ronta sekuat-kuatnya karena sambil menggerakkan miliknya keluar masuk dalam lubang kemaluanku, kini mulut Ifan kembali menggigit dan mengunyah-ngunyah kedua puting susuku secara bergantian. Semakin kuat aku meronta, semakin keras aku menjerit dan menangis kesakitan, Ifan semakin ganas pula sampai akhirnya terasa tubuh Ifan menekan tubuhku sekuat-kuatnya dan giginya yang tajam terdengar bergemeletuk menggigit puting susuku sampai aku meronta sekuat-kuatnya dan terasa kembali cairan hangat menyemprot ke dalam lubang kemaluanku. Ada rasa nikmat tapi rasa nikmat itu masih terkalahkan oleh rasa sakit yang tiada tara.

Kami tergolek lemas, tenagaku benar-benar sudah habis, tak kuasa aku menggerakkan ujung jariku saja. Kubiarkan Ifan tetap terbaring menindihi tubuhku. Aku menangis tersedu, tidak saja oleh rasa sakit yang masih mendenyut-denyut dari bekas cambukan punggungku dan bekas gigitan Ifan di kedua susuku, melainkan lebih oleh rasa sakit hati dan kecewa. Betapa Ifan yang kucinta sepenuh hati dan ingin kuserahkan segenap hidupku, jiwa ragaku, kok tega berbuat sekasar itu pada diriku.

Mendengar tangisku, Ifan tampaknya tersadar dan dengan cepat meloncat dari atas tubuhku. Aku bisa bernafas lega sebab ia sudah tidak menindihku lagi. Ifan tampak melotot memandangi tubuhku yang telanjang dan darah meleleh dari kedua puting susuku yang luka akibat gigitannya. Ifan tersadar dan kembali menangis memohon-mohon ampun dan aku yang masih lemas tak mampu menolak tangannya yang mengusap-usap kedua putingku yang luka, meski sebenarnya aku ingin marah dan tak sudi disentuh. Tapi mulutku tak bisa menahan aduhanku ketika Ifan membersihkan darah yang mulai mengering dari puting susuku. Mula-mula Ifan dengan hati-hati membersihkan darah dari sekitar puting susuku, namun lama-lama ketika mendengar rintih kesakitan dari mulutku, tangan Ifan semakin kuat mencengkeram kedua susuku. Pasti saja aku merintih lebih keras sambil meronta-ronta.

Selanjutnya Ifan semakin ganas meremas-remas dan mencubit puting susuku, bahkan memilin-milin puting susuku yang luka itu sehingga terasa darah kembali merembes keluar membasahi tangan Ifan. Akibatnya aku semakin meronta-ronta dan rtintihan kesakitanku semakin keras dan Ifanpun semakin liar, semakin ganas dan semakin buas memperlakukan aku yang sudah nggak bisa melawan lagi. Ketika rasa sakit tak bisa kutahan lagi, aku meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan tetapi justru hal itu semakin membuat Ifan semakin buas dan liar. Ditelentangkan kembali aku yang berusaha telungkup agar kedua susuku selamat dari remasannya, lalu direnganggkannya kedua pahaku dan ia sudah di atas tubuhku. Dengan ganas dan liar ia kembali menyetubuhiku, sambil mulutnya mengulum, menggigit dan mengunyah kedua susuku secara bergantian. Aku hanya bisa meronta dan menjerit kesakitan, namun Ifan semakin liar dan cepat sampai akhirnya ia mengigit putingku sekuat-kuatnya ketika ia mencapai puncaknya dan akupun menjerit sekeras-kerasnya karena menahan rasa sakit yang tak terperikan.

Rasa sakit yang amat sangat menjadikan tubuhku mengejang dan akibatnya kembali milik Ifan terjepit kuat oleh vaginaku yang menegang dan mengencang ketika aku menahan rasa sakit yang amat sangat. Ifan kesulitan menggerakkan miliknya karena kuatnya jepitan vaginaku. Namun hal itu justru membuat Ifan semakin kuat menekan dan menarik miliknya sambil dari mulutnya yang menggigit puting susuku juga keluar erang kenikmatan, sampai akhirnya kembali terasa cairan hangat menyemprot ke dalam vaginaku. Rasa sakit yang amat sangat membuat pandanganku gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku tersadar dari pingsanku ketika kurasakan rasa sakit berdenyut-denyut dari dadaku dan ketika kubuka mataku, Ifan tampak membersihkan darah yang semakin banyak merembes membasahi kedua bukit susuku. Mendengar desis kesakitanku, terasa tangan Ifan meremas susuku semakin kuat. Hal ini membuat aku kembali mengerang kesakitan sambil meronta.

Tampaknya erang kesakitanku kembali merangsang Ifan, ia semakin kuat meremas-remas susuku, lalu kembali ia mengulum, mengunyah dan menggigit kedua susuku, menjadikan aku kembali menjerit-jerit kesakitan. Namun hal ini justru membuat Ifan bertambah ganas dan kembali ia dengan liar dan ganasnya naik ke tubuhku dan aku hanya bisa menangis menjerit-jerit kesakitan ketika ia mengayun-ayunkan pantatnya di atas tubuhku dan mulutnya mengunyah dan mengigiti kedua puting susuku. Kembali rasa sakit yang amat sangat membuat tubuhku mengejang menahan rasa sakit dan kembali milik Ifan terjepit vaginaku sekuat-kuatnya sampai ia nggak bisa dengan mudah menggerak-gerakkan miliknya keluar masuk milikku.

Aku masih tergolek lemas tak kuasa menggerakkan sedikitpun semua anggota tubuhku ketika Ifan terpaksa berangkat ke kantor karena cuti bulan madunya habis. Ia harus bertugas ke luar daerah selama seminggu. Ia tampak amat khawatir dan sebenarnya tak ingin pergi, tapi bossnya di kantor telah meneleponnya. Ketika akan berangkat kembali Ifan menangis tersedu-sedu meminta maaf. Meski di satu sisi hatiku aku amat marah dan menyesal kawin dengannya yang memperlakukan aku dengan liar dan ganas sampai aku menderita rasa sakit yang tiada terperikan, namun di sisi relung hatiku yang lain aku tetap mencintainya dengan tulus. Akhirnya aku menganggukkan kepala sambil membelai-belai kepalanya yang tersedu-sedu di dadaku, ketika ia kembali dengan pandangan mata yang amat memelas meminta maaf. Aku berusaha tersenyum ketika menganggukkan kepalaku, dan mendorongnya untuk pergi bekerja. Akhirnya baru Ifan mau berangkat ke kantor.

Sepeninggal Ifan aku tercenung sendirian. Tubuhku masih sakit semua stlh semalaman nggak tahu berapa kali kami bercinta. Di satu sisi aku merasa bahagia krn ternyata Ifan tidak impoten seperti yg selama ini kupikirkan karena sebulan setelah pernikahan aku masih perawan; tapi di sisi lain aku mulai khawatir mengapa gairah Ifan justru terangsang ketika aku merintih kesakitan dan semakin ganas dan liar ketika aku menangis meronta kesakitan? Jangan-jangan .. aku tak berani meneruskan andai-andai dalam pikiranku.
Kusibakkan selimutku dan aku yg masih telanjang dengan tertatih-tatih berjalan menuju ke muka cermin. Rasa sakit yg amat pedih terasa di selangkanganku. Ketika aku berdiri di muka cermin, tampak masih ada darah mengering di pangkal pahaku.

Melihat itu aku bangga sebab aku bisa mempersembahkan keperawananku kepada Ifan yg amat kucintai. Tapi ketika mataku terarah ke bayangan tubuhku yg telanjang, aku bergidik ngeri. Masih terlihat jelas bilur-bilur merah tua malang melintang di sekujur tubuhku bekas cambukan tadi malam; dan juga tampak sekali gigi-gigi Ifan masih membekas di kedua puting susuku dan daerah di sekitarnya. Luka-luka itu masih merembeskan darah dan rasa sakitnya masih mendenyut-denyut terasa amat menyakitkan.
Kembali aku bertanya-tanya. Seribu satu pertanyaan masih berputar di kepalaku. Mengapa Ifan justru terangsang hebat stlh mencambuki aku? Mengapa ketika aku meronta sambil menangis menjerit-jerit kesakitan justru Ifan menubrukku dengan ganas dan akhirnya berhasil merobek selaput keperawananku? Mengapa setelah itu ketika membelai tubuhku yg sakit dan aku merintih kesakitan justru gairah Ifan bangkit lagi? Mengapa Ifan semakin ganas menggigiti kedua susuku sampai aku meronta-ronta dan menangis kesakitan? Apakah Ifan ..? Pertanyaan itu sengaja tak kuteruskan sebab aku takut sendiri akan jawabannya.

Dgn malas aku kembali berbaring sambil mengambil roti lapis yg tadi sudah disiapkan Ifan ketika mau berangkat. Ketika memegang roti panggang lapis daging dan susu hangat di gelas, aku teringat Ifan, betapa dia masih menyempatkan menyiapkan makanan itu untukku? Betapa dia penuh penyesalan sampai memangis ketika gairahnya telah mereda dan melihat tubuhku yg penuh luka? Namun kenapa ia kembali menjadi ganas dan liar begitu mendengar rintih kesakitanku? Apakah aku hrs mengalami spt ini setiap melayani Ifan? Kembali aku nggak berani menjawab. Aku takut membayangkan kenyataan yang terbentang di hadapanku.

TAMAT

Sekretarisku

Sekretarisku

Perkenalkan saya adalah seorang pegawai plat merah, kepala bagian di sebuah BUMN yang terkenal di kawasan Indonesia Timur. Sebagai kepala bagian, saya memiliki sebuah ruang kerja yang agak privacy, lengkap dengan seorang sekretarisnya. Ruangan saya cukup luas. Banyak tempat untuk meletakkan dua meja kerja. Salah satu meja kerja saya di atasnya tidak ditaruh banyak buku. Biasanya hanya beberapa buku kosong/tak berguna, sebuah telepon (berfungsi normal). Kebetulan BUMN ini sering kerjasama proyek dengan Jepang, jadi seringkali saya mengganti sekretaris sesuai proyek yang ada. Nah, kisahnya ini berputar sekitar sekretaris saya itu.

Terus terang saja, saya ini lelaki normal, kalau melihat cewek cantik ingin saya memilikinya luar dalam, meskipun saya akui libido saya agak tinggi dibanding rekan pria lainnya. Bahkan istri sayapun kadang menyerah, bayangkan saja, saya minimal minta sehari tiga kali, itu rutin dalam seminggu. Bahkan itupun saya anggap kurang. Akan tetapi, saya juga memiliki sedikit kelainan, saya gemar menyakiti lawan main saya sebelum saya menidurinya. Istri saya tidak mengetahui hal ini, bisa-bisa ia minta cerai kalau tahu. Padahal saya amat menikmati bila mendengar lawan main saya menjerit kesakitan, jadi pelampiasannya, yah itulah saya jadi senang mengumbar birahi bersama sekretaris saya, asalkan dia oke, maka pekerjaannya oke juga, kalau tidak mau, yah terpaksa dia harus angkat kaki dengan sejuta alasan yang gampang dicarikan.

Sekretaris saya ini, belum dua minggu, alumni Akademi Sekretaris dan Manajemen swasta, yang seragamnya biru muda dan putih. Saat pertama dia masuk kerja, sudah nampak kebiasaan atau mungkin etika yang didapat dari sekolahnya, atasannya boleh juga jas kerja dengan warna tidak menyolok, tapi bawahannya, rok mini, tinggal angkat sendiri kelihatan deh semuanya. Hal itu saya biarkan saja, karena sudah jelas bagi saya itu untuk cuci mata, boleh juga.

Sejak saat itu, saya mulai melancarkan rayuan maut, mulai dari hal kecil seperti traktir bakso, nonton hingga hal besar seperti janji akan menaikkan gaji dan pangkat golongannya, sehingga jadi pegawai tetap alias punya NIP, untuk pegawai plat merah, catatan, sekretaris saya pada saat baru masuk kerja, statusnya hanyalah sekretaris proyek, selesai proyek selesailah tugasnya.

Akhirnya rayuan saya berhasil juga. Jadi media untuk melampiaskan libidoku ada lagi, dibanding jajan, ini agak amanlah. Tempatnya, yang di ruangan kerjaku itu, ruangannya sudah saya desain sedemikian rupa, hingga kedap suara, dan kalau ada tamu, bisa lewat intercom, dan kulengkapi dengan TV monitor, seperti di supermarket, hingga bisa mengontrol orang-orang di luar ruang kerjaku. Tidak ada yang curiga. Tidak, karena di samping kewajiban sekretaris untuk membantu pekerjaan atasannya di mana saja selama jam kerja, juga permainan saya tidak begitu lama, sekedar pelampiasan nafsu libidoku dan kegemaran menyiksa, itu saja.

Nah, setelah rayuan gombal saya termakan olehnya, mulai masa pelampiasan birahi saya mulai. Pertama-tama dia saya suruh buka baju atasnya secara perlahan. Kemudian dia saya suruh berbaring di atas meja. Kedua tangannya saya ikat dengan tali yang panjang hingga ke kaki meja. Kemudian hal yang sama saya lakukan pada kedua kakinya. Dia masih dapat bergerak tetapi sangat sedikit. Saya tidak suka bila ‘korban’ terlihat benar-benar tidak berdaya.

Kemudian saya mulai menikmati kecantikannya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan menggunakan lidah saya. Di ‘pusat tubuh’-nya sungguh hangat dibandingkan bagian tubuh yang lain. Bila hal ini saya lakukan cukup lama dia akan mulai berkeringat. Bau tubuhnya biasanya akan memenuhi ruangan. Di antara wanita yang menjadi teman tidur saya, sekretaris saya memiliki bau tubuh yang sangat seksi. Pada tahap ini, saya sendiri sudah mulai berkeringat. Karenanya saya akan mulai membuka baju bagian atas saya.

Saya lalu mengambil cemeti dari lemari dinding, orang cuma tahu kalau itu pajangan, padahal fungsinya lain, sya mulai mencambuknya di bagian dada, perut dan paha. Dia akan mulai berteriak. Saya amat menyenangi permainan ini. Saya kalau mulai mencambuk tidak setengah-setengah. Sering dia mengeluarkan air mata. Tetapi tidak berani minta berhenti. Kalau sampai ada ucapan mohon berhenti saya akan cambuk dua kali lebih keras.

Bila tubuhnya sudah mulai merah dan panas, saya akan membuka celana dan melepaskan ikatan dari kakinya. Bila ikatan tidak dilepaskan, sangat sulit untuk melakukan penetrasi. Karenanya salah satu kaki saya silangkan ke atas kepalanya dan diikatkan pada tangannya. Kini ‘jalan’ telah terbuka lebar. Uhh, Nikmat sekali. Hingga dengan saat ini saya tidak akan memberi kesempatan dirinya untuk mencapai orgasme. Saya main tarik ulur. Biasanya dia akan memohon-mohon agar segera diberi kesempatan untuk ‘lepas’. Bila saya belum puas, saya tidak akan berikan.

Terkadang saya akan mulai mencambuki bagian samping tubuhnya. Dia benar-benar menangis sekarang. Barulah saya mempercepat irama permainan kami. Tepat dia akan mencapai orgasme, lehernya saya cekik sekuat tenaga sehingga tidak dapat bernapas. Disaat inilah seluruh tubuhnya akan meronta-ronta, sebab tubuhnya seakan mulai kehilangan sumber kehidupannya. Matanya akan melotot, tangannya mencengkram tali, tapi tak ada gunanya. Kadang kalau terlalu lama, dia akan mulai menendang panik, karena tahu dirinya diambang kematian. Pada saat itulah saya akan mulai ejakulasi. Nikmat sekali, saya tahu dirinya sendiri mengalami orgasme yang tertunda. Begitu tangan saya lepaskan, seluruh tubuhnya mulai mengejang dan dia akan diam lama sekali menikmati momen terindah pada hidupnya.

Kemudian saya memagut bibirnya untuk meredam tangisnya. Perlahan seluruh ikatannya akan saya lepaskan. Setelah dia mulai tenang saya menyuruhnya untuk mulai berpakaian, kemudian ia merapikan diri di dalam toilet yang ada di ruanganku, lalu keluar, kembali kemejanya seperti tidak terjadi apa-apa.

Selama proyek berlangsung, biasanya satu proyek tiga sampai lima bulan, maka hal itu akan saya lakukan bersama sekretaris proyek tersebut. Asalkan, seperti yang sudah saya katakan, dia Oke, maka pekerjaannya stabil, kalau tidak saya akan cari sekretaris baru lagi.
Padahal, sehabis proyek, pasti saya akan cari sekretaris baru juga. Sekretaris lama, dibuatkan saja alasan agar dia angkat kaki. Bosan juga kan kalau main sama cewek yang itu-itu saja.

TAMAT

Pesta Siksa

Pesta Siksa

Panggil saja aku Fire. Karena aku tidak ingin menjadi siapapun juga kecuali menjadi api. Yang selalu membakar dan menggairahkan. Awalnya aku tidak menyadari bakat (atau kelainan) ku ini. Aku adalah seorang gadis yang baik-baik saja dari kecil hingga dewasa. Namun ketika pertama kali aku mengenal seks, aku temukan yang hilang dalam diriku.

Kulepaskan keperawananku pada pacar pertamaku. Vega namanya. Sejak awal ia memang hanya iseng padaku. Teman-temanku berkata bahwa ia hanya akan memacariku sampai aku melepaskan keperawananku padanya. Saat itu, pulang sekolah, seperti biasa ia menjemputku. Kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Aku tahu bahwa ia tidak akan mengantarku pulang.

Ternyata benar. Ia membawaku ke sebuah motel. Dengan gayanya yang sok Don Juan, ia melepaskan pakaianku. Saat itu yang ada dalam kepalaku hanya perasaan ingin tahu. Lalu Vega menelanjangiku, dan menidurkan aku ke atas ranjang. Kubiarkan ia meremas remas payudaraku yang besar (36B). Ada rasa aneh seperti menggelitik saat itu. Vega menciumi dan menjilati puting susuku. Lalu tangannya yang satu lagi menjalar ke vaginaku. “Akhh..” tak terasa aku mendesah. Lidah Vega menjilati putingku lalu beralih ke payudaraku yang satu lagi. Kedua putingku mengeras.

Tiba-tiba kurasakan jari Vega masuk ke dalam vaginaku. Dan ia memain-mainkan jarinya. Aku merasa nikmat, namun juga sedikit sakit. “Oohh.. Sakit, Veg..” ujarku. Vega terus menjilat dan menyedot putingku. Aku menggeliat-geliat sementara tanganku menjambak rambutnya. Saat itu Vega langsung membuka pakaiannya. Kami berdua kini sama-sama telanjang. Aku dapat melihat penisnya yang menegang, tersembul ketika ia melepaskan celana dalamnya. Bulu-bulu lebat memenuhi kemaluan dan pahanya. Tanpa basa-basi, Vega langsung memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. “Aaww!!” Aku merasa kesakitan. Aku berusaha mendorong Vega, tetapi ia sangat kuat. Kelihatan sekali bahwa ia sangat bersusah payah untuk memasukkan kemaluannya.

Vega merentangkan kedua pahaku dan kembali berusaha memasukkan penisnya. “Akhh.. Sakit, Veg..” Lalu, bles.. tiba-tiba penisnya sudah masuk ke dalam vaginaku. Dengan cepat ia menggesek, mendorong penisnya dalam vaginaku. “Kamu suka nggak, sayang. Kamu suka nggak sama punyaku?” ujarnya sambil terus mendorong penisnya tanpa memperhatikan aku yang mengerang dan menjambaki rambutnya. Ditengah-tengah rasa sakitku, sebenarnya aku merasakan kenikmatan.

Lalu tiba-tiba Vega mencengkram bahuku dan tiba-tiba ia mengerang dan mengeluarkan penisnya dan menjulurkannya ke atas dadaku. Creett.. Sperma menyembur dan membawahi dadaku. Kulihat kepuasan di wajah Vega. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Kemudian Vega menggeletakkan dirinya di sebelahku. Aku bangkit dan membersihkan sperma di dadaku. Saat itu aku melihat darah sedikit di atas sprei. Saat itu juga aku menyadari bahwa aku tidak perawan lagi. Benar juga, seperti kata teman-temanku, Vega memang memutuskan aku, beberapa hari setelah itu. Anehnya, aku tidak menyesal. Malahan saat itu aku merasa bahwa aku menjadi berbeda dan lebih kuat.

Selang beberapa tahun setelah itu, aku berpacaran dengan beberapa teman lelakiku dan selalu berhubungan initim. Begitu lepas SMA, Papa mengirim aku ke UK untuk sekolah manajemen. Di sana aku tinggal sendiri di sebuah apartemen milik kerabat Papa. Ada sebuah bar di sana yang bernama Lorga. Setiap akhir pekan aku selalu ke sana. Lama-lama, para bertender di sana kenal denganku. Saat itu aku betul-betul jenuh dengan kehidupan seksku. London sangat bebas. Aku pernah tidur dengan bermacam-macam lelaki. Black, White, Chinese, Japan, hampir segala ras pernah aku pacari dan getting laid. Pink, salah satu bartender di Lorga, yang kebetulan pernah getting laid denganku menyarankan untuk datang ke sebuah pesta pribadi temannya.

Lalu aku pun pergi ke sana. Rupanya pesta itu adalah sebuah pesta seks. Tanpa tahu temannya, aku pun bergabung dengan keramaian di sana. Ketika aku datang, semua orang sudah saling menempel dan ada pula yang sudah memulai. Musik underground terdengar memenuhi dadaku. Awalnya aku bingung hendak apa.

Akhirnya aku bergabung dengan sebuah kelompok di sebuah sudut, lima orang lelaki dan dua orang wanita, semuanya telanjang. Aku lepaskan seluruh pakaianku dan bergabung dengan mereka. Ketika aku mendekat, mereka semuanya tidak ada yang terganggu. Salah satu pria di situ, seorang pria latin (Namanya Ronnie, dari Itali) memiliki penis yang sangat besar “menganggur”. Yang lain, penisnya sedang di jilat oleh kedua wanita itu. Aku meremas penis pria itu. Pria itu sedang menjilati puting salah satu wanita di situ. Aku pun mulai mengulum penisnya.

Tiba-tiba kakiku direnggangkan oleh seorang lelaki. Aku merasakan basah di vaginaku. Rupanya seorang lelaki Negro tengah menjilati vaginaku. Tanganku mulai menekan-nekan penis pria itu sementara pria Negro itu menyedot vaginaku. Dan seorang lelaki yang sedang bercinta dengan seorang wanita lain menjilati puting payudaraku. Sungguh hebat dan nikmat. Aku sangat terangsang.

Tiba-tiba pria yang sedang aku sedot penisnya menarik kepalaku. Ia menatapku lalu menciumi bibirku. Kelihatannya ia ingin memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, tetapi mereka mengeroyokku. Tiba-tiba si Negro membalikkan tubuhku. Rupanya ia ingin doggy style denganku. Ia memasukkan penisnya yang sangat besar ke dalam lubang vaginaku. Lalu ia mengocok penisnya ke dalam vaginaku. Aku sangat terangsang. Pria Itali itu memperhatikanku. Entah mengapa aku seperti tertantang. Terlihat seorang wanita di depanku baru selesai disetubuhi oleh seorang lelaki. Aku langsung menciumi puting wanita itu dan menciumi bibir wanita itu. Pria Itali itu mendekati kami dan memasukkan penisnya ke dalam vagina wanita itu. Doggy style juga, sama seperti si Negro denganku.

Namun aku tak mampu lagi untuk memperhatikan pria Itali itu karena tiba-tiba dua orang lelaki mendekati aku dan menarik rambutku, minta agar aku melakukan blow job. Aku lalu menjilati penis lelaki itu, sementara salah satu wanita di dekatku menghisap puting payudaraku. Malam itu malam terhebat yang pernah aku lewati. Tubuhku disembur oleh sperma dari bermacam-macam lelaki di situ.

Ketika pagi, tubuh-tubuh telanjang bergeletakan di lantai. Tanpa aku sadari. Pria Itali itu rebahan di sampingku. “What’s your name?” tanyanya. Akupun memberikan nama, alamat dan nomor teleponku. Ronnie, pria itu mengundangku untuk datang ke pertemuan berikutnya yang kebetulan dilaksanakan di rumahnya. Aku langsung menyanggupi. Ketika aku pulang, aku tetap tidak mengenali mereka, merekapun tidak mengetahui siapa aku, kecuali Ronnie.

Langsung ke weekend berikutnya, aku datang ke rumah Ronnie. Rupanya pesta belum dimulai. Hanya aku sendiri di situ, berdua dengan Ronnie. Kami tidak mengobrol karena Ronnie langsung menelanjangiku. Kali ini ia malah tidak melepaskan pakaiannya. Ia malah mengenakan sebuah rantai di leherku. “Your going to love this.” Katanya. Lalu Ronnie melepaskan kemejanya. Pada saat yang bersamaan, terdengar ketukan di pintu. Ronnie membukakan pintu. Tiga orang pria masuk. Salah satunya pria Negro bartender itu yang kulihat di pesta yang lalu. Mereka kelihatan senang melihatku. Langsung saja mereka melepaskan kemeja mereka.

Dua orang yang lain masuk ke kamar Ronnie dan kembali dengan sebuah kamera video. Ronnie mulai menarik rantaiku dan menyuruhku duduk di lantai. Pria Negro itu mengikatkan tambang kecil di seluruh tubuhku. Aku tidak dapat bergerak. Tangan dan kakiku diikat menjadi satu. Ronnie melepaskan celananya dan menekan kepalaku sementara si Negro memegangi pahaku dan mulai menciumi vaginaku. Pria yang lainnya mulai melepaskan pakaiannya sementara yang satu lagi merekam kami. Anehnya, aku benar-benar menyukainya. Ronnie benar. Aku menghisap penis Ronnie. Ronnie menjambak rambutku. Si Negro menjilati klitorisku hingga betul-betul becek. Pria yang satu lagi, lebih kurus dari Ronnie, si Negro dan yang memegang video menciumi payudaraku. Lalu si Negro selesai menciumi vaginaku. Ia memukuli pantatku hingga aku kesakitan. Mulutku penuh dengan penis Ronnie. Sementara aku merasa pantatku panas karena dipukuli oleh si Negro.

Si pria kurus melepaskan ikatanku. Si Negro menarik pinggulku hingga si pria kurus berada di bawahku, sementara Ronnie, sambil memegangi rantai leherku, terus kujilati penisnya. Tiba-tiba, si pria kurus memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Tetapi aku merasakan si Negro membuka pantatku. Awalnya aku agak cemas. Aku melepaskan penis Ronnie dari dalam mulutku, tetapi Ronnie, menarik rantai leherku dan menekan kepalaku agar aku terus menjilati penisnya.

Dan bleg, aku merasakan penis si Negro masuk ke dalam pantatku. “Akhh.. It’s hurt! ” jeritku, namun Ronnie menamparku dan kembali menarik rantai leherku dan memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku merasa diperkosa. Si pria kurus menekan-nekankan penisnya ke dalam vaginaku, sementara si Negro terus menekankan penisnya ke dalam duburku, sementara si pria video terus merekam. Ronnie semakin keras menjambak rambutku. Tanpa terasa aku menikmatinya. Mungkin karena sempit, si Negro orgasme duluan. Ia menyemprotkan spermanya ke punggungku. Pria video kelihatan sangat horny. Ia mengoper video itu ke pria Negro dan menggantikan posisi pria Negro, membuka celananya dan mengeluarkan alat vitalnya yang sudah mengeras ke dalam duburku. Aku betul-betul merasa nikmat. “Aakhh.. I think I’m coming..” desahku.

Ronnie berhenti memaksaku untuk menjilati penisnya, sementara pria kurus terus menekan penisnya sambil menjilati puting payudaraku dan si pria video terus menekan-nekankan duburnya. oohh.. yeaahh.. akkhh!! I’m coming.. ” jeritku sambil merejang, menegang, sementara pria kurus terus mengulum puting susuku dan menekan-nekankan penisnya. Dan aku orgasme. Pria kurus tidak lama kemudian juga menyemprotkan spermanya. Begitu pula pria video. Pria kurus membanting tubuhku dan menyemprotkan spermanya ke tubuh dan mulutku. Aku merasa sangat lelah. Namun aku menggosok-gosokkan sperma ke seluruh tubuhku.

Pria Negro mendekatkan kameranya kepadaku, dari mulutku yang penuh sperma, ke tanganku yang mengusap-usapkan sperma dan ke vaginaku yang sangat basah. Setelah itu ketiga pria itu menciumi bibirku, putingku dan mengatakan bahwa aku sangat hebat. Ronnie masuk sambil membawa segelas air dan sebuah pil. Ronnie juga memujiku. Ia menyuruhku untuk meminum pil itu. Ia mengatakan bahwa aku akan menjadi pulih dan lebih kuat setelah minum pil itu.

Benar juga. Belum berapa lama, aku sudah merasa bertenaga. Aku menanyakan pada mereka untuk apa video itu. Rupanya mereka mengoleksi video-video semacam itu. Aku meminta kopinya. Aku tak keberatan dengan video itu. Aku menyukai dan sangat menikmati suasana tadi. Ronnie menawarkan aku untuk ikut kembali minggu depan. Namun minggu depan mereka akan mengadakannya di alam terbuka. Aku sangat tertarik. Begitulah kehidupanku di sana. Setiap akhir pekan, selalu ada new experience bersama Ronnie. Terkadang, aku merindukan suasana itu di Jakarta. Adakah?

TAMAT

Perintah Mbak Lia – 2

Perintah Mbak Lia – 2

Dari Bagian 1

Mbak Lia menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.

“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.

Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Lia mendorong kepalaku.

Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Mbak Lia menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.

“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Jawab!”
“Suka sekali!”

Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.

“Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Theo,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.

Aku terkesima. Mbak Tia merenggut bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip di antara kedua bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius saraf-saraf di rongga kepala.

“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.

Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku sudah tak dapat berpikir waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Aku hanya peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan menjambak rambutku, telapak tangan yang akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung dan memenuhi rongga dadaku, kelembutan dan kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang menjepit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang sudah sangat ingin kucucipi.

Di kolong meja, Mbak Lia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku.

“Hanya lidah, Theo! OK?”

Aku mengangguk. Dan dengan cepat membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Mbak Lia terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

“Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Theo?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.
“Hm..!”
“Haus?”
“Hm!”
“Jawab, Theo!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Haus!” jawabku singkat.

Tangan Mbak Lia bergerak melepaskan tali G-string yang terikat di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.

“Jangan diam saja. Theo!” kata Mbak Lia sambil menekan bagian belakang kepalaku.
“Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.

Pahanya menjepit leherku sehingga aku tak dapat bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan di antara dubur dan bagian bawah vaginanya. Karena harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Lia terpekik. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus. Mbak Lia menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas kehidupannku.

“Fantastis!” kata Mbak Lia sambil mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan basah.
“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.
“Segar!” Mbak Lia tertawa kecil.
“Kau pandai memanjakanku, Theo. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir kewanitaannya.
“Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”

Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar dan haus untuk mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus dan ingin segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.

Kepala Mbak Lia terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya menginjak bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak liar di dinding kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak rambutku.

“Ooh, ooh, Theo! Theoo!” Dan ketika clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Lia merintih menyebut-nyebut namaku..
“Theo, nikmat sekali sayang.. Theoo! Ooh.. Theoo!”

Ia menjadi liar. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Lia menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.

“Theo, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.

“Theoo! Hisap Theoo!”

Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan dari vagina Mbak Lia, dari pinggul yang terangkat agar lidahku terhunjam dalam.

“Oh, fantastis,” gumam Mbak Lia sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.

Ia menunduk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.

“Aku puas sekali, Theo,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang menatap sendu.
“Theo.”
“Hm..”
“Tatap mataku, Theo.” Aku menatap bola matanya.
“Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”
“Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.
“Jangan menunduk, Theo. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”

Aku menengadah untuk menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap kembali cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.

“Kau memujaku, Theo?”
“Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.

Mbak Lia tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.

E N D

Perintah Mbak Lia – 1

Perintah Mbak Lia – 1

Mbak Lia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat. Aku sendiri sudah termasuk staf senior. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya. Ia berasal dari sebuah perusahaan konsultan keuangan.

Usianya kutaksir sekitar 25 hingga 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat itu mulai terbina suasana dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.

Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin karena telah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam usia yang relatif muda, kepercayaan dirinya pun cukup tinggi untuk menyuruh seseorang melaksanakan apa yang diinginkannya.

Mbak Lia selalu berpakaian formal. Ia selalu mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi aku dapat melihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang sering dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.

Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Lia untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku selalu duduk persis di depannya. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku dapat melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku selalu terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan dapat kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha hingga ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Betis yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

“Theo, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.
“Theo, salahkah dugaanku?”
“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku.
“Mengapa?”

Aku membisu. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.

“Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.
“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”
“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.
“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”
“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.
“Kompensasinya apa?”
“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”
“Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”
“Betis yang indah itu!”
“Hanya sebuah ciuman?”
“Seribu kali pun aku bersedia.”

Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.

“Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”
“Deal, my lady!”
“I like it!” kata Mbak Lia sambil bangkit dari sofa.

Ia melangkah ke mejanya lalu menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.

“Periksalah, Theo. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.
“Kau tidak ingin memeriksanya, Theo?” tanya Mbak Lia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.

Sejenak, aku berusaha meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.

“Theo, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.

“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.
“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku melaksanakan perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya.

Mbak Lia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia memakai G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat melihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

“Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Tapi di bagian atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.

“Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.
“Suka, Theo?” Aku mengangguk.
“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”

Aku mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku sedikit membungkuk agar dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tak sengaja, kembali mataku terpesona melihat bagian dalam kanannya. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Aku menengadah.

“Kurang jelas, Theo?” Aku mengangguk.

Mbak Lia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

Aku merinding. Karena ingin melihat paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mengecup bagian dalam lututnya. Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.

Sekarang hidungku sangat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat kemulusannya.

Ke Bagian 2

Nikmatnya Tubuh Pembantu

Nikmatnya Tubuh Pembantu

Kamis sore. Ari duduk di balkon kamarnya. Inem, pembantu yang lugu, cantik dan bahenol, mengepel lantai balkon. Ari teringat kejadian kemarin dengan Mita yang pulang tadi pagi. Tengah merenung, mata Ari tiba-tiba tertumbuk ke payudara Inem! Kancing atas baju Inem terlepas dua, sehingga payudaranya terlihat jelas. Ternyata tidak menggunakan BH. Inem menyadari Ari menatapnya jalang. Pipinya memerah, menambah ayu wajah desanya. Ketika Inem menyadari kancing baju bagian atas lepas, segera dibenarkan, dan merah di mukanya makin menjadi. Inem cepat-cepat berbenah dan keluar dari kamar Ari. Inem tampak menggiurkan dari belakang dengan kain yang melilit tubuhnya. Inem sekarang menjanda, korban perkawinan usia muda. Paling tua mungkin 18 tahun sekarang. Ari sendiri berumur 19 tahun.

Tak lama kemudian, Ari merasa birahinya muncul akibat Inem. Dipanggilnya Inem lewat intercom.
“Neem! Inem, cepet!”.
“Nggih, Den Bagus”, Inem tergopoh-gopoh menjawab.
“Pijetke aku, Inem, aku pegel!”, keluar bulusnya Ari.
“Nggih, Den Bagus”, Inem segera menuju kamar Ari.

Ketika Inem masuk, Ari ternyata sudah menanggalkan pakaiannya, dan bersembunyi di balik pintu. Inem masuk, tidak melihat Ari.
“Den, kulo sampun siap mijet”, kata Inem.
“Aku dibelakangmu, Inem”, Ari mengagetkan Inem yang terperangah melihat Ari telanjang.
“Den, mboten Den, ampun, Den!”, Inem ketakutan. Ari tidak menjawab, hanya maju mendekati Inem. Inem mundur seiring Ari maju, hingga tersandung dan jatuh ke ranjang.
“Kulo njerit, lho, Den!”, Inem mengancam.
“Teriak aja”, tantang Ari, karena kamarnya kedap suara.

Ari menyusul Inem, menciumnya, dan membuka kemeja Inem. Saking ketakutan, Inem tidak berontak. Setelah kemeja Inem terlepas, Ari ganti menciumi dan mengulum payudara serta puting Inem. Payudara Inem ternyata lebih besar, lebih indah daripada cewek-cewek yang lain, dan lebih kenyal. Ari merobek kain Inem, dan ternyata bulu vagina Inem lebat sekali.

Jari Ari masuk ke dalam vagina Inem, meraba-raba, memberi rangsangan. “Nggh! Den, sampun, nggh! Den”, desah Inem setelah mencapai orgasme pertamanya. Ari tidak peduli. Jarinya keluar, ganti penisnya yang mengeras masuk. Ari mengeluar-masukkan penisnya dengan keras, tapi lembut. Inem merasakan nikmat yang tiada duanya karena clitorisnya terdesak penis Ari.

Ketakutan Inem telah berubah menjadi kenikmatan. Inem menggoyangkan pinggulnya, mencoba menyedot penis Ari, tetapi Ari tetap saja dapat mengeluar-masukkan penisnya, malah mempercepat tempo. Sementara puting susu Inem dikulum Ari, lalu pindah ke leher Inem, diciuminya dengan penuh gairah. Sontak Inem mengejan, memeluk Ari erat. Tapi.., “Nggh! Nggh!”, Inem mencapai orgasme lagi. Inem berusaha melepaskan diri karena capek, tapi tak berhasil. Ari tetap mengeluar-masukkan penisnya dengan lembut.

Karena Inem kehabisan tenaga, orgasmenya yang ketiga terhitung cepat, hanya sekitar tiga menit dan, “Nggh! Nggh! Ngghh! Den, sampun, kulo mboten kiat!”.
Tetap saja Ari yang maniak seksini menggoyang pinggul dan mengeluar-masukkan penisnya.
“Den, stop, Den!”, jerit Inem.
“Inem, sebentar”, Ari merasa maninya akan keluar, dan dipercepat temponya. Ari memeluk Inem erat, begitu juga dengan Inem. Dan, “Awggh! Ngghh! Den, stop!” Inem mencapai klimaksnya terlebih dahulu.
“Ngghh!”, akhirnya Ari tidak dapat membendung lagi. Ari segera bangun, mengambil sejumlah uang bernilai satu setengah bulan gaji. Diberikannya pada Inem.
“Matur nuwun sanget, Den Bagus!”, Inem girang. Bayangkan, satu setengah bulan gaji!

Seminggu kemudian ketika Ari sedang berenang di kolam renang pribadinya, ketika birahinya muncul. Ari segera teringat Inem. Rumah sedang sepi. Tinggal Ari, Inem, dan Inah, Adik Inem.
“Neem! Gawe’ke (bikinin) sirup!”, Ari berteriak memanggil.
“Nggih Den!” Inem menyahut.

Tak berapa lama kemudian Inem datang membawa segelas sirup. Ketika Inem mendekat, Ari mengamati tubuh Inem. Masih seperti minggu lalu. Ari menunggu Inem menaruh gelas. Setelah Inem berbalik, Ari langsung menerkam Inem. Inem memberontak.
“Den, mboten, Den”, Inem mengiba seperti waktu itu. Ari tidak mempedulikannya, malah menceburkan dirinya dan Inem ke kolam renang bagian dangkal. Tubuh Inem yang terbungkus daster, segera terlihat bagian dalamnya. Inem tidak memakai bra. Payudaranya yang indah semakin mengkal dan berwarna merah muda. Rambutnya terurai, membuat dia semakin seksi, dan menambah gairah Ari.

Ari segera melepas dasternya, merobek celana dalamnya. Bibir dan leher Inem dikulum Ari. Payudaranya menegang. Ibaan Inem berganti ke desah kenikmatan. Jari Ari masuk ke vagina Inem, dan memainkannya di dalam vagina Inem. Tubuh Inem bergetar, menahan agar cairannya tidak keluar. Tapi, apa daya, tubuhnya menggelinjang hebat, seiring keluarnya cairan. Ari segera mengeluarkan jari, dan penisnya menggantikan jarinya.

Ari bermain gentle, mengeluar-masukkan penisnya dengan lembut diiringi erangan Inem. Inem mencoba mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya. Ari membalas dengan mempercepat tempo, dan mengulum puting Inem, disertai gigitan-gigitan kecil.
“Den, kulo mboten kiat (kuat), Den!”, iba Inem. Tubuh Inem bergetar akibat orgasme yang kedua kali. Ari meningkatkan serangan, dengan meremas pantat, dan menjilati leher Inem yang jenjang.
“Ngghh!”, Inem mengerang, mengeluarkan cairannya untuk ketiga kalinya. Inem memberontak dan berhasil lepas. Lari. Tapi karena berat badannya ditahan air, Ari langsung menerkam, dan memaksa Inem bersimpuh. Langsung Ari memasukkan penisnya dari balakang dengan posisi doggie style, disertai remasan pada payudara, dan jilatan pada tengkuk Inem. Inem hanya bisa mengerang nikmat.
“Nggh!”, untuk ketiga kalinya Inem menyerah kalah, lalu Ari menukar posisi Inem. Ari di bawah, Inem di atas. Ari membimbing Inem bergerak kedepan dan ke belakang. Ari mempercepat gerakan dan, “Ngghh!”, Inem menyeInah untuk kesekian kalinya dengan getaran yang hebat.

“Den, kulo mboten kiat, Den!”, Inem benar-benar mengiba. Melihat Inem tidak berdaya, Ari yang belum puas segera memanggil Inah, Adik Inem yang berumur 16 tahun, tapi manis, seksi, menggairahkan, dan sepertinya, masih perawan!, Hmm, Yummy!! Ari berteriak memanggil Inah..”, Inah.. sini!”..
“Sekedap (sebentar), Den!”, Inah tergopoh-gopoh lari ke kolam renang. Rupanya Inah belum tahu apa yang terjadi.

Sampai di pinggir kolam renang, Inah hanya melihat kakaknya telanjang bulat, tergeletak pasrah di kolam renang yang dangkal. Tiba-tiba Ari muncul dari dasar, dan melompat ke darat dengan telanjang bulat. Inah terperangah, terpaku di tempat. Ari segera melepas kebaya Inah dengan hanya sekali rengutan. Payudaranya turun naik, mengikuti gaya yang yang di praktekkan Ari.

Ari mengamati tubuh Inah. Sangat indah. Wajah desa yang ayu, makin manis bila terperangah. Rambutnya yang sepinggang, menambah seksi. Belum lagi tubuhnya. Halus dan indah seperti pahatan pematung terkenal. Lehernya yang jenjang, payudaranya yang penuh, perut kecil, tubuh padat dan indah, ditambah dengan pinggul yang besar. Ari merengut jarik Inah. Terlihatlah kakinya yang indah, paha mulus, dan bulu vagina yang lebat. Ari menciumi leher Inah, payudaranya, mengulum putingnya, dan meremas pantat Inah. “Den, mboten, Den”, iba Inah, seperti ibaan kakaknya.

Terlambat, jari Ari memasuki vaginanya. Ternyata masih perawan. Tiba-tiba Inah diceburkan Ari ke kolam. Inah megap-megap. Rambutnya yang basah, menambah besar birahi Ari. Ari menyeburkan diri, mendekai Inah. Inah merapat ke dinding, berpegangan pada lis di tepi kolam. Ari menciumi bibir Inah dengan penuh nafsu, kemudian mengulumnya, seperti hendak dilumatnya. Inah yang belum pernah ciuman, kaget, tapi menikmatinya. Kemudian dengan perlahan Ari memasukkan penisnya yang mengeras ke vagina Inah yang perawan.
“Aggh!”, erang Inah, meraskan sakit sekaligus nikmat, karena penis Ari besar dan panjang. Darah keluar, bercampur dengan air, lalu hanyut. Ari bermain gentle, tapi Inah tidak bisa mengimbangi. Dengan berpegang kuat-kuat pada lis, Inah mengejan.
“Nggh!! Den, nikmat, Den”, desah Inah. Ari mulai lagi. Inah memeluk Ari. Ari menjilati leher, menciumi bibir, payudara, mengulum bibir dan puting. Inah mencoba menggoyang. Ari tidak mau kalah. Dipercepat gerakannya dan, “Nggh! Den, sampun (sudah), Den!”, Inah mengiba.

Ari tidak peduli. Tubuh Inah diputar hingga membelakangi Ari. Kemudian dimasukkan penisnya, dan mendorong tubuh Inah ke bawah dan ke atas, sembari meraba tubuh Inah yang nyaris sempurna, meremas payudaranya, dan menjilati lehernya. Inah nampaknya menikmati permainan ini. Tapi.., “Nggh!”. Inah mencapai klimaks yang ketiga. Ari menggendong Inah ke bagian dangkal lalu membaringkan di sebelah Inem yang sedang kelelahan. Ari mengambil posisi atas, dan bermain kasar terhadap Inah. Dalam posisi ini, Inah kalah sampai tiga kali.

Ari sekarang di bawah, membantu Inah. Tak lama kemudian, Inah memeluk Ari erat-erat karena sedang menahan cairannya agar tak keluar. Ari juga memeluk Inah, karena merasa air maninya akan keluar dan.., “Awggh!, Nggh!”. Ari dan Inah mencapai orgasme pada waktu yang bersamaan, dan cairan mani membanjiri vagina Inah.

Tapi Ari belum puas, dan menyergap Inem. Inem tidak berdaya. Ari bermain kasar dan.., “Nggh!, Awggh!”, Cairan hangat dan kental dari Ari dan Inem membanjiri vagina Inem. Ari berdiri, lalu mengambil uang sejumlah empat bulan gaji untuk mereka berdua. Inem dan Inah berterima kasih karena mendapatkan uang sebesar dua bulan gaji!

TAMAT

Nikmat dalam Kepedihan

Nikmat dalam Kepedihan

Saya mengenal Rani pertama kali lewat IRC. Mulanya kami ngobrol biasa saja (kenalan, bercanda, tebak-tebakan, dan sebagainya). Menginjak minggu ke dua, tidak di sangka dia menanggapi secara antusias setiap obrolan saya yang berbau seks. Sampai saat itu sebenarnya saya masih ragu apakah Rani ini betul-betul perempuan atau cuma laki-laki iseng yang menyamar sebagai wanita. Maklumlah, selama ini kami berkomunikasi hanya secara tulisan, bukan lisan. Keragu-raguan itu akhirnya musnah setelah kami melakukan “copy darat” di Plaza Senayan. Ternyata dia seorang wanita muda. Tidak begitu cantik tapi tidak juga jelek. Sedang-sedang sajalah. Yang istimewa darinya adalah bentuk tubuh yang montok dan buah dadanya yang besar di atas rata-rata buah dada wanita Indonesia.

Setelah berbicara beberapa saat, dia mengajakku ke rumahnya di daerah Pondok Indah. Dari situ saya mengetahui bahwa Rani sebenarnya adalah seorang ibu rumah tangga. Suaminya sekarang sedang bekerja di sebuah kontraktor.

Setelah masuk ke ruang tamu, Rani mempersilakan saya menunggu, sementara dia membuatkan es jeruk untuk saya. Agak lama saya menunggu sampai akhirnya saya melihat Rani keluar membawa segelas es jeruk. Pakaian kerjanya telah ia ganti menjadi daster tipis. Darah saya langsung berdesir melihat puting susunya yang menyembul karena ia melepaskan BH-nya. Setelah saya minum beberapa teguk, tidak saya sangka Rani langsung memeluk dan menciumi saya dengan sangat bernafsu. Lidahnya menjalar di dalam rongga mulut saya. Tangannya memasuki kemeja saya lalu mengusap-usap dada saya. Kemudian tangannya mulai bergerak turun, menuju ritsluiting celana luar saya lalu membukanya. Jari-jarinya menyeruak masuk ke celana dalam dan menyentuh bulu-bulu keriting sebelum akhirnya sampai pada penis saya yang sudah membesar. Nikmat sekali rasanya. Tangannya meremas-remas penis saya dan sesekali meremas pula kantong pelir saya. Saya menyambutnya dengan memasukkan jari saya ke dalam dasternya. Buah dadanya yang sangat besar kuremas dengan sangat bernafsu. Tangan satu lagi saya masukkan ke dalam celana dalamnya. Dari situ saya masukkan jari tengah saya ke dalam lubang vaginanya yang sudah basah. Dia mengerang ketika jari-jari tangan saya mengorek-ngorek dinding vaginanya. Tidak puas dengan satu jari, saya masukkan lagi jari telunjuk saya hingga sekarang dua jari masuk ke dalam vaginanya. Jari manis dan jempol saya gunakan untuk mencubit-cubit kelentitnya yang besar dan keras. Dia merintih manja.

Di saat-saat hot seperti itu tiba-tiba dia melepaskan pelukannya. “Di dalam saja yuk”, pintanya sambil menarik tanganku. Aku menurut lalu mengikutinya menuju kamar tidur. Di sana dia mulai melepaskan seluruh pakaiannya, begitu pula saya hingga kami sekarang dalam keadaan telanjang bulat.
“Ikat saya pakai ini”, katanya sambil memberikan kepadaku beberapa utas tali. Saya terdiam keheranan. “Ayo, jangan ragu-ragu. Siksa dan sakiti aku sepuas hatimu.”
“Tapi..”, tanyaku.
“Jangan takut, Rani menikmati kok. Ayo cepat.. tunggu apa lagi?”
“Oke”, sahut saya. Memang inilah yang paling saya senangi. Bergegas saya mengambil segumpal kain lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah itu mulutnya saya ikat kuat hingga tak mungkin dia dapat berteriak. Kalaupun berteriak, suaranya tidak akan terdengar karena sangat lirih terendam kain tebal. Setelah itu kedua tangan dan kedua kakinya saya ikat ke masing-masing sudut tempat tidur. Sekarang tubuhnya sudah benar-benar tidak berkutik. Posisinya telentang seperti patung pembebasan Irian Barat.

Siksaan dimulai. Buah dadanya yang sangat besar saya tarik kuat-kuat lalu pangkalnya saya ikat hingga sekarang bentuk buah dadanya seperti balon. Demikian pula dengan buah dadanya yang satu lagi. Dia menjerit sekuat-kuatnya. Saya dapat melihat buah dadanya yang putih dan montok sekarang berubah kemerah-merahan. Pembuluh darahnya membesar sebab darah tidak dapat mengalir lancar. Benar-benar mengerikan bentuknya. Saya ambil dua utas karet gelang. Karet gelang itu saya pilin berkali-kali sampai kecil lalu saya ikatkan ke puting susunya. Rani menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya mengejang merasakan sakit yang tiada tara.

Saya lari ke belakang, ke tempat jemuran. Di sana saya mengambil beberapa penjepit jemuran. Sampai di kamar ternyata Rani sudah mulai agak tenang. Tanpa buang waktu, saya jepit kedua puting susunya. Dia menjerit sangat keras. Tubuhnya kembali meronta-ronta. Tapi ikatan pada tubuhnya terlalu kuat hingga dia tidak dapat berkutik. Penjepit berikutnya hendak saya pasang di kelentitnya. Tapi dia meronta. Mulutnya berusaha mengatakan sesuatu tapi kain yang membungkam mulutnya membuat kata-katanya tidak terdengar jelas bagiku. Ketika saya hendak menjepitkan penjepit itu ke klitorisnya, dia menggoyang-goyangkan pinggulnya agar usaha saya gagal. Tapi saya tidak menyerah begitu saja, perutnya saya duduki lalu secepat kilat penjepit itu sudah menancap erat di klitorisnya. Rani menjerit sangat kuat. Tubuhnya mengejang dan meronta-ronta menahan sakit yang teramat sangat. Mukanya memerah dan dari matanya saya melihat tetesan air mata.

Saya tinggalkan tubuhnya yang menggelepar-gelepar kesakitan. Saya masuk ke ruang makan. Di dalam lemari es (kotak dingin) saya menemukan sebuah pare putih (Momordica charantia, bentuknya seperti mentimun, berasa agak pahit dan biasanya dijual tukang siomay bersama tahu, kentang, dan kol) sangat besar. Pare ini kemudian saya pakai untuk mengocok lubang vaginanya dengan sangat cepat dan kasar. Rani menggelepar-gelepar saat pare yang sepanjang permukaannya berbintil-bintil sebesar biji jangung itu keluar masuk lubang vaginanya. Pare yang semula kering sekarang penuh dilumuri lendir putih, licin, dan berbau khas. Sebagian lendir lain yang berubah menjadi busa karena dikocok, meleleh keluar vagina menuju anus. Rani sepertinya menikmati perlakuan ini. Bibir vaginanya membesar dan merekah. Setelah sepuluh menit, saya lihat tubuh Rani mengejang. Kakinya menendang-nendang. Pinggulnya terangkat ke atas. Mulutnya berteriak keras. Saya kira dia mengalami orgasme hebat.

Setelah tubuhnya mulai tenang, saya lepas ikatan pada kedua kakinya. Kaki itu kemudian saya angkat ke atas kepalanya hingga lututnya menyentuh buah dadanya lalu saya ikat kembali. Saya masukkan penis ke dalam lubang vaginanya yang menganga lebar. Sampai di sini tidak ada masalah baginya. Bahkan sepertinya Rani sangat menikmati. Setelah tiga kali dorongan, saya cabut penis saya yang sekarang sudah penuh dengan lendir licin. Dengan cepat saya tusukkan penis saya ke dalam lubang duburnya. Sempit dan sulit sekali. Penis saya sampai bengkok. Rani berteriak hendak mengatakan “Jangan”. Kepalanya menggeleng-geleng. Saya tidak peduli. Pada usaha berikutnya saat penis saya benar-benar keras, lubang anusnya berhasil saya tembus hingga dalam. Rani menjerit. Setelah masuk seluruhnya, saya kocokkan penis saya keluar masuk dengan sangat cepat. Rani kembali berteriak kesakitan. Kakinya menendang-nendang tapi percuma saja, karena penis saya tidak mungkin dapat lepas. Sekitar 4 menit kemudian saya merasakan ejakulasi telah hampir sampai. Saya ambil bantal lalu saya tutupkan ke muka Rani hingga Rani tidak dapat bernafas. Saat itulah saya mempercepat gerakan penis saya maju mundur. Sepuluh detik kemudian penis saya benar-benar menegang, memuntahkan sperma banyak sekali ke dalam anusnya. Ah, nikmat sekali. Saya menikmati peristiwa itu selama belasan detik sampai kemudian saya sadar bahwa rontaan Rani semakin melemah. Cepat-cepat saya angkat bantal yang menutupi mukanya. Rani tersengal-sengal sambil diselingi batuk-batuk. Hampir saja dia mati tercekik.

Setelah puas, saya mulai melepas semua ikatannya lalu saya bertanya, apakah ia menikmati perlakuan saya ini? Dia mengangguk kemudian memeluk saya erat-erat. Bibirnya menciumi seluruh muka saya tak henti-hentinya.

TAMAT

My Teacher – 4

My Teacher – 4

Dari bagian 3

Rasa perih seakan mengalir dari jepitan itu dan mengaliri seluruh tubuhku. Aku meronta-ronta dari ikatanku, namun tidak
berhasil bergerak sedikitpun. Dengan cepat Ibu Anna menyumpal mulutku dengan celana dalam yang tadi dibawanya. Dia menekannya dalam-dalam sampai suara jeritanku tidak terdengar lagi. Tanpa menunggu lagi dia menjepit putingku yang lain.

Jika saja mulutku tidak tersumpal, pastilah jeritanku waktu itu bisa terdengar oleh tetangga rumahnya. Dua buah jepitan yang lain digunakannya untuk menjepit testisku. Tidak sesakit jepitan di putingku, namun aku khawatir perbuatannya padaku bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat kelaminku itu. (pada saat itu aku belum begitu mengerti akan hal ini).

Setelah selesai Ibu Anna meninggalkanku lagi. Rasa sakit akibat jepitan itu berangsur-angsur berkurang. Saat itu kuperirakan sekitar pukul 12:00 – 13:00, matahari sedang terik-teriknya menyiram tubuh telanjangku. Kakiku sudah mulai terasa pegal karena lama berdiri. Aku sudah mencoba untuk berjongkok, namun tampaknya tali yang membelit leherku dikaitkan ke sesuatu di tiang itu sehingga memaksaku untuk terus berdiri. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhku

Sudah sekitar 2 jam aku berada dalam keadaan seperti ini sampai akhirnya aku melihat Ibu Anna. Dengan santai dia berjalan ke arahku. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia membuka ikatan pada kakiku. Kemudian dia melepaskan jepitan pada testisku, seketika itu juga aku merasakan perih sekali pada bagian yang tadi dijepit. Dia melihat ke arah penisku yang lemas, dengan perlahan tangannya mengusap penisku. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk membuat penisku ereksi, lalu dia mulai mengocok penisku dengan cepat. Ibu Anna belum menghentikan perkerjaannya sampai penisku benar-benar tegang. Pada saat itulah dengan tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya.

Dengan cepat tangannya mengambil tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku, lalu digunakannya tali itu untuk mengikat pangkal penisku. Ibu Anna mengikatnya dengan kuat, dapat kulihat testisku mengelembung akibat ikatan tali itu. Aku hanya merasakan sakit yang tidak seberapa akibat ikatan itu, hanya saja aku menjadi penasaran akan apa lagi yang akan diperbuat olehnya. Tangan Ibu Anna dengan cepat melepaskan jepitan pada kedua putingku. Dengan menggigit celana dalam yang menyumpal mulutku aku mencoba menahan rasa sakit pada putingku. Dapat kurasakan butiran air mata meleleh di kedua pipiku. Baru setelah itu Ibu Anna membuka ikatan pada tangan dan leherku.

Dengan cepat Ibu Anna menuntunku masuk ke dalam. Dia kembali membawaku ke kamarnya. Dengan kasar tubuhku didorong ke ranjangnya. Seperti kesetanan Ibu Anna melepaskan semua pakaiannya dengan cepat, setelah itu langsung menindih tubuhku. Tangannya menggenggam batang penisku yang sejak tadi terus ereksi, akibat ikatan tali itu. Tanpa ba bi Bu lagi Ibu Anna memasukkan batang penisku ke vaginannya.

Melihat keadaanku, bisa dikatakan Ibu Anna memperkosa diriku. Dia menunggangiku seperti kuda liar. Gerakannya cepat dan kasar. Sementara Ibu Anna berteriak-teriak keenakan, aku berteriak kesakitan. Ikatan pada pangkal penisku semakin menyiksaku akibat perbuatannya. Aku mencoba menggunakan tanganku untuk mendorong tubuh Ibu Anna, namun tanganku dengan mudah dapat dipegangnya. Seakan tidak bertenaga sama sekali, tanganku yang dipegangnya tidak dapat berbuat apa-apa. Melihat hal itu aku hanya bisa pasrah saja dengan perbuatan Ibu Anna pada diriku.

Sudah sekitar sepuluh menit Ibu Anna menunggangiku, selama itu pula tidak henti-hentinya aku memohon padanya untuk menghentikan perbuatannya, namun seperti bicara dengan tembok saja layaknya, Ibu Anna tidak menyahuti setiap perkataanku. Bunyi berkecipakan dan bunyi akibat benturan tubuhnya dengan tubuhku, serta teriakan kami seakan-akan saling sahut menyahut.
Tubuh Ibu Anna sudah dipenuhi oleh peluh, bahkan keringatnya sampai menetes-netes ke dadaku.

Tak lama dapat kurasakan jepitan vaginanya pada penisku mengencang, disertai teriakannya dia menghentikan perbuatannya dengan tiba-tiba. Kedua matanya terpejam dan mulutnya mengatup rapat seperti sedang menahan sesuatu, kedua tangannya memainkan kedua buah dadanya. Hampir selama 1 menit Ibu Anna dalam keadaan demikian. Aku menebak dia sedang mengalami orgasme. Sedikit banyak aku merasa agak lega, karena sepertinya penyiksaanku akan segera berakhir. Nampaknya harapanku menjadi kenyataan ketika kulihat Ibu Anna beranjak berdiri dari tempatnya kemudian dia berjalan ke arah rak di sampaing ranjang. Dengan susah payah aku mencoba untuk duduk.

Aku duduk diam sambil mencoba untuk mengumpulkan tenaga yang tadi terkuras habis. Tak lama aku mendengar suara lagu house music yang disetel keras, yang tampaknya disetel Ibu Anna. Tiba-tiba aku merasakan dia sudah ada di sebelahku, dengan sekali dorong, aku kembali ke posisi seperti tadi. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi, namun aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk memprotes, apalagi untuk bergerak dengan memejamkan mata aku menunggu apa yang terjadi padaku.

Dengan bantuan music yang menhentak-hentak, Ibu Anna kembali ‘menunggangiku’ dengan beringas. Tangannya sesekali menampar pipiku dan juga menjepit putingku dengan keras. Namun tampaknya keadaanku sudah benar-benar payah sehingga untuk berteriakpun tidak mampu. Aku meraskan tangannya menekan pipiku, memaksa mulutku membuka, kemudian tanpa kuduga Ibu Anna meludah ke dalam mulutku.

“Telan!” perintahnya padaku.

Dengan cepat kutelan air ludahnya di dalam mulutku. Aku agak terkejut juga dengan kepatuhanku padanya. Ibu Anna mengulangi beberapa kali perbuatannya. Setelah itu dia lebih berkonsentrasi pada genjotannya padaku. Aku yakin jika pangkal penisku tidak terikat kuat aku pasti sudah berejakulasi semenjak tadi. Dan pastinya yang kurasakan pasti kenikmatan, bukan kesakitan seperti saat ini. Sudah 10 menit Ibu Anna menggenjotku, namun tidak ada tanda-tanda dia akan menghentikan perbuatannya. Bahkan sepertinya dia malah “menggila”.

Ranjangnya berderik-derik seperti sudah tidak kuat menahan goncangannya. Genjotannya makin lama makin cepat dan kedua tangannya tidak henti-hentinya memainkan kedua payudaranya dan mulutnya tidak henti-hentinya menjerit-jerit keenakan.

Sudah selama 5 menit Ibu Anna dalam keadaan demikian dan sekarang ia sudah hampir orgasme menurutku atau lebih tepat kusebut harapanku.

Dengan tiba-tiba Ibu Anna menghentikan perbuatannya kemudian dengan cepat dia berdiri dan mengarahkan vaginanya ke mulutku. Tanpa ragu aku mulai menjilati vaginanya, karena memang aku jauh lebih menikmati hal ini ketimbang di genjot olehnya. Ibu Anna juga dengan ‘gila’ menggesek-gesekkan vaginannya dimulutku.

Setelah beberapa saat Ibu Anna menjerit dengan keras, kedua pahanya menjepit keras kedua pipiku, lalu dia membenamkan vaginanya dalam-dalam ke mulutku. Kedua tangannya menjambak rambutku. Tak lama kemudian kurasakan cairan seperti lendir masuk ke mulutku. Tanpa disuruh aku menelannya. Sesudah itu Ibu Anna berdiri dan dengan segera melepas ikatan pada penisku. Setelah sakitnya agak menghilang, tanpa dapat kutahan aku tertidur.

Beberapa saat kemudian aku terbangun oleh tamparan Ibu Anna. Aku lihat Ibu Anna menyodorkan pakaianku tadi berikut celana jeans dan celana dalamku. Aku menerimanya, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa Ibu Anna hanya berdiri saja meperhatikanku. Aku mengerti apa maksudnya, kemudian dengan cepat aku memakai pakaianku yang tampaknya sudah kering dan sudah disetrika. Sesudah memakai pakaian aku mencoba melihat jam, kulihat sudah jam 5 sore. Sesudah itu aku mencoba mencari cermin, disana kulihat kedua pipiku merah karena tamparannya. Tidak bisa kubayangkan apa alasan yang harus kuberikan pada ibuku nanti.

“Ayo cepat” kata Ibu Anna dengan dingin.

Dengan segera aku mengikutinya, dengan hanya memberi isyarat dia menyuruhku untuk menunggu di mobilnya. Tak lama kemudian Ibu Anna keluar, lalu sesudah mengunci rumahnya kami pergi. Di sepanjang perjalanan Ibu Anna tidak mengucapkan apa-apa. Aku juga hanya tertunduk diam. Tak lama kemudian kami sampai di sekolah, sesudah menurunkanku ia pun pergi meninggalkanku.

Aku kemudian mencari angkutan untuk membawaku pulang. Untung saja pada saat aku pulang di rumahku hanya ada pembantu saja, sehingga aku tidak perlu membuat alasan mengenai keadaanku. Aku langsung saja mandi untuk membersihkan tubuhku. Bekas-bekas pukulannya kembali terasa perih ketika terkena air. Sesudah mandi akupun dengan cepat mengisi perutku yang sudah lapar sekali. Lalu aku segera tertidur.

Keesokannya aku terbangun. Aku melihat jam pk 05:00. Karena kemarin jam 7 malam aku sudah tidur maka kini jam 5 pagi aku sudah terbangun. Bekas tamparan di pipiku sudah hilang, namun badanku terasa pegal-pegal sekali. Kemudian aku menyiapkan diri, lalu berangkat kesekolah. Jam baru menunjukkan pukuk 6:30 ketika aku sampai di sekolah. Belum banyak orang yang datang. Namun aku sungguh terkejut melihat Ibu Anna berdiri di pagar sekolah seakan-akan menungguku. Aku berjalan pelan menghampirinya. Kemudian Ibu Anna menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

“Cari tempat sepi, lalu lihat isinya,” ujarnya padaku dengan perlahan, seakan tidak ingin didengar oleh orang lain. Dan kemudian dia segera pergi meninggalkanku. Aku terdiam sejenak, kemudian aku pergi menuju WC pria. Disana dengan perlahan aku membuka amplop itu.

Mataku terbelalak kaget dengan apa yang kulihat di depanku. Disana ada foto diriku yang mengenakan BH dan celana dalam wanita. Seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat aku menatap foto itu selama beberapa detik, kemudian otakku mulai bekerja. Aku dapat menyimpulkan bahwa Ibu Anna yang melakukan ini semua padaku pada saat aku tertidur di ranjangnya kemarin.

Selain itu ada beberapa buah foto lain yang tidak kalah mengejutkan. Ada 2 buah foto diriku yang telanjang bulat, ada foto diriku yang hanya mengenakan BH saja, dan ada sebuah foro diriku yang mengenakan BH dan rok perempuan. Aku sungguh-sungguh panik pada saat itu. Tidak bisa kubayangkan jika foto ini bisa di ketahui oleh teman-temanku, atau bahkan orang tuaku. Selain foto-foto tersebut, Ibu Anna juga memberikan secarik kertas yang berisi pesan.

“Foto-foto itu diambil dengan kamera polaroid, tapi Ibu masih punya 5 foto lain yang lebih heboh dari itu. Mulai sekarang turuti semua perintah Ibu kalau kamu tidak mau foto itu Ibu sebarkan!”

*****

Ini adalah pertama kalinya saya mencoba untuk menulis cerita. Mohon maaf dari pembaca jika ada yang merasa tulisan ini jelek. Namun jika ada dari pembaca yang merasa tulisan saya ini cukup baik dan ingin saya untuk membuat kelanjutan cerita ini atau sekedar ingin berkoresponsendsi silahkan kirim email ke alamat ini Shameless_male@hotmail.com thank’s.

E N D