Archive for the ‘Pemerkosaan’ Category

Wulan si Gadis Desa

Wulan si Gadis Desa

Cerita ini adalah dramatisasi dari kisah nyata, dan merupakan satu dari beberapa cerita lepas dengan tokoh utama yang sama. Antara satu dan lainnya tidak harus dibaca berurutan.

Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Cerita berikut ini bukan pengalamanku sendiri, melainkan pengalaman seorang rekanku, sebut saja dia Ta. Kami memang punya “hobi” yang sama, namun Ta punya trik tersendiri untuk menyalurkan hobinya. Kini selain terdaftar di kota asalnya, ia juga resmi penduduk sebuah desa yang agak terpencil. Berikut adalah caranya mendapatkan kembang desa, meski sudah beristri tiga orang.

Wulan terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya, gadis itu memandang sekelilingnya. Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang. Wulan hanya ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan volley.

Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu tinggi, namun Wulan memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan. Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan garis celana dalam gadis itu.

Bukan hanya para pemuda, beberapa orang yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Wulan rasanya peret dan legit, pasti akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah. Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski kebanyakan hanya menonton paha Wulan yang bercelana pendek dan guncangan buah dadanya saat gadis itu memukul bola.

“Ah, sudah bangun Nduk..?” sebuah suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu.
Tampak seorang pria kekar memasuki ruangan. Wulan mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang di desanya. Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja, selebihnya “kerja di kota”. Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang, semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Wulan tiap kali bertemu. Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun tidak berhasil.

Wulan berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap lemas tidak dapat bergerak.
“Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam ini kamu di sini dulu.” kata Ta.
Tidak sengaja Wulan melihat ke dinding kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik. Seluruh tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok yang tadi dipakainya.

“Pak Ta, Wulan dimana? Kenapa Wulan begini?” tanya gadis itu dengan panik.
Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian tersadar di situ.
“Tenang Wulan, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati malam pertama kita.” kata Ta sambil menyeringai.
“Enggak! Enggak! Kemarin Bapak bilang ditolak! Wulan nggak mau!” gadis itu berusaha meronta, namun ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.

Sambil tertawa terkekeh, Ta perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Wulan terpekik karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut itu ia sudah telanjang bulat.
“Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan Pak! Tolong..!”
Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Wulan yang terserak di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri, dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.
“Pak? Kamu panggil aku Pak? Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!” seru Ta sambil menampar pipi Wulan sampai gadis itu memekik kesakitan.

Ta semakin beringas melihat tubuh Wulan yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.
“Diam Sayang! Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah tidak perawan lagi!”
Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri, lalu melompat ke atas ranjang. Wulan dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang lebar.

Pekikan Wulan tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir kemaluan Wulan.
“Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu..” sambil berkata begitu Ta menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Wulan.
Selaput dara gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.

“Haanggkk..! Aahhkk..!” Napas gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Wulan merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.
Tubuh montok gadis itu tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati hangatnya kemaluan perawan Wulan yang terasa begitu peret.
“Aahh.. enak sekali tempikmu.. aahh.. Wulaanh.. enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?” Ta mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa.

Wulan sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak, namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang. Memang benar kata orang, gadis seperti Wulan memang sangat memuaskan, wajahnya yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang, bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar. Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu terpekik tertahan.

Wulan dengan airmata berlinang merintih memohon ampun, namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih. Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun Wulan disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.

“Hhh..! Wulanh..! Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah.. ambil Nduk! Nih! Nih! Niih..!”
Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam hangatnya kemaluan Wulan sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu, membuat Wulan tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan pandangan gadis itu menjadi gelap.

Wulan kembali tersadar oleh dengusan napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Wulan. Ta tidak tahan lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang bugil tanpa daya di atas ranjang. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah, tanda Wulan memang betul-betul masih perawan, tadinya.

Kedua payudara gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Wulan, ia tidak akan mau tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.
“Aah..! Ahk! Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!” Wulan merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela jeritan tertahan.

Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya. Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Wulan berharap kembali pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu besar.

Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya kemaluan Wulan yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Istri barunya ini memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan Wulan, semakin cepat, semakin dalam.

Ta merasakan kejantanannya menyentuh dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Wulan sendiri hanya merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh montok gadis itu tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa, Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Wulan yang terpekik tertahan-tahan.

Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Wulan, setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Wulan pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih tergores kuku Ta.

Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada Wulan. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Wulan tidak mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Wulan dibuat bulan-bulanan tanpa daya.

Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Wulan yang terisak-isak. Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani suaminya. Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun. Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian.

Perlahan Ta membuka sumpalan mulut Wulan. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan tangan dan kaki terikat terentang lebar.
“Nduk, kalau jadi istriku, kamu minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul.”
“Nggak mau.. lepasin Wulan.. Wulan mau pulang..!” isak gadis itu menghiba.
“Rumah kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku.” bujuk Ta.
“Enggak.. enggak mau. Wulan mau pulang!” gadis itu berusaha meronta tanpa hasil.
“Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!” seru Ta jengkel.
Wulan sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Wulan, membuat Ta naik pitam.

“Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!” kata Ta sambil membuka ikatan kaki Wulan.
Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat. Lalu dengan menarik ujung tali yang mengikat tangan Wulan, Ta menyeret gadis yang masih telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Wulan tidak kuasa menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang benderang.

“Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!” seru Ta sambil menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.
“Ada apa Pak Ta? Apa yang terjadi?” tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni keduanya.
“Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa! Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita tangkap!” seru Ta berapi-api.
“Tidak! Tidak.. tolong..!” sia-sia Wulan berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana.

“Lihat! Ini bukti perempuan ini sudah berzinah!” Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang berbercak darah.
Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala.
“Tidak! Saya tidak ber..” perkataan Wulan terputus oleh teriakan salah seorang.
“Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!” serunya.
Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Wulan dan menyeret gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa. Sepanjang jalan mereka berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Wulan yang bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa mengejek.

Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan Wulan ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya. Kini gadis telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Wulan tahu bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah. Gadis itu diperkosa berkali-kali, lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun sia-sia gadis itu berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan warga.

Isakan tangis Wulan semakin keras mendengar tawa orang-orang yang mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang mulus. Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah Wulan. Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Wulan tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun.

Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di telinganya, “Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat kamu tanpa pakaian!”
Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta.

TAMAT

Wawancara Tragis

Wawancara Tragis

Kita semua mengetahui di daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama Weweko. Untuk itu sebagai reporter ditunjuk Ariana Herawati yang dikenal bagus dalam wawancara ditambah telah berpengalaman. Karena ditugaskan oleh Dewan Redakturnya maka Ariana yang saat itu sedang menikmati bulan madunya yang baru 1 bulan tidak dapat mengelak, sedang suaminya memang agak keberatan karena Arie harus bertugas di pedalaman Papua selama 1 minggu. Ia khawatir akan keselamatan istrinya yang baru 1 bulan dinikahinya, namun karena tidak ingin menghambat karir istrinya dengan terpaksa Dono mengijinkannya.

Setibanya di bandara Timika Papua, Ari dijemput oleh rekan krunya. Dari bandara mereka langsung menuju hotel dan mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa. Dari hotel, keesokan harinya rekan Ariana dijemput dengan sebuah mobil dan langsung berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan. Rombongan tersebut terdiri dari 1 orang kru kantor, dan satu orang lagi penunjuk jalan ditambah dengan Ariana sendiri.

Setibanya di tempat tujuan, kru tersebut harus menyeberangi sungai yang amat deras dan dalam mempergunakan sebuah perahu. Ketika sampai di seberang sungai mereka harus berjalan kaki lagi selama 5 jam dari tempat itu, perjalanan itu melewati hutan pedalaman yang amat besar. Di tempat yang telah disepakati dengan OPM tersebut mereka menunggu dengan sangat khawatir sebab mereka telah terlebih dahulu tiba. Kurang lebih 1 jam menunggu, para OPM tersebut datang dengan pasukannya lengkap. Di dalam gubuk yang telah disediakan, Ariana diperkenalkan dengan Weweko yang memimpin pasukan pemberontak tersebut, namun mereka terlebih dahulu digeledah peralatannya tidak terkecuali pakaian Ariana mereka geledah. Ini adalah tahap pertama Ariana mengalami pelecehan sexual dengan nakal. Para tentara OPM menggerayangi pakaian dan anggota tubuhnya dengan kasar. Hal ini membuat Ariana agak sedikit takut dan menyalahkan dirinya sendiri yang ia akui hanya ia sendiri yang wanita dalam rombonggan itu. Ariana agak bergidik ketakutan jika melihat sorot mata Weweko, sebab saat bersalaman tadi mata Weweko tidak jauh dari memandang daerah sensitif tubuhnya, ditambah para pengawal yang sangat sadis kelihatannya.

setelah wawancara dilalukan selama 1 jam, teman-teman Ariana disuruh pulang ke tempat semula dengan mata ditutup tidak terkecuali Ariana. Sambil senjata ditodongkan ke arahnya para teman Ariana bergerak keluar daerah pertemuan. Ariana dibawa ke dalam hutan tanpa sepengetahuannya karena matanya ditutup. Di dalam hutan belantara itu Weweko menggiring Ariana sampai di tendanya yang dikawal ratusan pasukan OPM. Sebagai pimpinan ia amat berkuasa dan ditakuti anak buahnya. Setibanya di tenda, Weweko memerintahkan anak buahnya untuk membuka penutup mata Ariana. Dengan kaget bercampur takut Ariana bertanya mengenai teman-temannya namun dengan santai Weweko mengatakan bahwa Ariana akan mereka tawan sebagai sandera, Ariana sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Weweko dengan terpisahnya ia dari temannya.

“Mau diapakan saya!” tanya Ariana galak. Ariana berteriak keras.
Dengan senyum menakutkan, Weweko berkata, “Sebaiknya nona diam dan menuruti kemauan saya.. sekarang kamu adalah milik saya dan saya berkuasa atas diri nona. Tidak seorangpun mampu membebaskan nona dari hutan papua ini.”
“Sudah lama saya tidak mencicipi tubuh wanita apalagi secantik nona.. Apakah nona mau jadi istri saya?” kata Weweko kemudian.
Ariana bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kebuasan pria Papua ini dalam bercinta. Jika ia diperkosa sudah pasti ia tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya diam dan memandang sosok Weweko yang tinggi, hitam, bau dan menjijikan nalurinya. Ia terbayang bagaimana buasnya Weweko menggagahinya jika itu terjadi. Ia masih ingat pesan suaminya, namun nasi telah menjadi bubur, ia telah jatuh ke tangan OPM. Ariana hanya diam duduk dalam keremangan malam yang dingin di dalam tenda yang hanya beralaskan bulu hariamau. Sementara di luar tenda ia melihat para pengawal Weweko dan Weweko sedang berpesta pora dengan menikmati daging babi panggang dan meminum arak. Mereka bernyanyi sepuasnya. Berbeda dengan Ariana, di dalam tenda ia hanya diam dan merasakan dinginnya malam di hutan Papua yang terkenal ganas dan dingin itu. Sesaat kemudian datanglah Weweko membawa makanan untuk Ariana juga minuman untuk menghangatkan badan, namun Ariana hanya memakan sedikit daging ikan. Ia tidak menyukai daging babi, ia tidak terbiasa makan babi, namun atas paksaan Weweko ia akhirnya memakannya juga. Ia juga meminum arak sedikit supaya badannya hangat. Sedang ia dari tadi merasakan dinginnya hutan Papua sampai ketulangnya dan membuat Ariana menggigil.

Dengan mata berbinar, Weweko mendekati Ariana dan berusaha memegang dagunya, namun dikibaskan oleh Ariana. Saat itu, Weweko hanya memakai Koteka dan muka dicat seperti pakaian tradisional Papua, sedang di bagian vitalnya yang panjang hanya ditutupi penutup seadanya, seakan ia akan mengadakan hubungan sexual.
“Jangan marah manis?” Weweko berujar.
“Alangkah asyiknya jika malam yang dingin ini kita berbagi kehangatan dan saling memberi kemesraan.” katanya.
“Cis!” Ariana meludah.
“Tidak sudi aku bermesraan dengan kamu, biadap!” katanya.
Dengan senyum simpul sambil menjilat ludah yang dibuang Ariana tadi, Weweko berusaha memeluk dan menaklukan Ariana. Bau tubuh Weweko membuat Ariana ingin muntah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan.

Di dalam tenda itu hanya ada ia dan Weweko. Dengan paksa Weweko membuka baju kemeja Ariana dengan robekan di dadanya sehingga tersembul dada montok yang putih tertutup BH. Ini membuat Weweko semakin berusaha untuk menaklukan Ariana. Dengan tangannya Ariana memalangkan tangannya pada dada yang terbuka itu. Payudara yang montok itu tidak bisa ditutupi seluruhnya. Sambil memegang tangan dan memeluknya, Ariana akhirnya menyerah dalam pelukan Weweko. Tidak ada yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam, pasrah menanti apa yang akan terjadi. Dengan sekali sentak Ariana ditelentangkan di atas bulu alas tenda itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan Weweko ia terus menjelajahi dada dan bibir Ariana dengan buas. Inchi demi inchi tidak luput dari perhatian Weweko ia terus memburu setiap sudut di tubuh Ariana. Saat itu BH Ariana telah tanggal dari tempatnya. Dengan tangannya, Weweko berusaha memilin dan menggigit ujung dari susu Ariana, membuat Ariana hanya menutup matanya, ia tidak sanggup melihat apa yang dikerjakan Weweko atas tubuhnya. Secara naluri seks, birahinya mulai bangkit ditambah udara malam yang begitu dingin.

Sejurus kemudian, celana jeans Ariana dibuka Weweko dan terpampanglah batang paha mulus yang di tengahnya ditutupi segitiga pengaman berwarna merah. Langsung saja tangan Weweko menggusur CD Ariana itu dan dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, ia masukkan ke dalam lubang kewanitaan Ariana. Sementara itu mulut Weweko tidak beranjak dari dada Ariana. Dengan naluri binatangnya Weweko melebarkan kaki Ariana dan terkuaklah belahan kewanitaan Ariana yang ditumbuhi bulu dengan daging kecil di belahan itu. Goa itu mulai basah oleh tingkah laku jari tangan Weweko, dan tidak lama kemudian dengan lidahnya Weweko mejilat daging kecil itu selama 15 menit. Secara tiba-tiba mulut Weweko disemprot oleh air mani Ariana dan tertelan oleh Weweko. Inilah saat bagi pria Papua yang ditunggu-tunggu. Apabila sampai menelan air mani wanita maka ia akan menambah keperkasaannya. Dengan merubah posisi, Weweko membuka penutup batang kemaluannya yang terbuat dari tumbuhan itu maka terlihatlah kelaminnya yang panjang dan besar tersebut. Ia bersiap-siap untuk memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Ariana, namun Ariana yang sudah orgasme harus ia ransang dulu dengan memilin payudara dan mengorek-ngorek isi lubang kemaluannya dulu.
Tidak lama kemudian, Ariana telah teransang, barulah Weweko memasukan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan sempit itu.
“Nona harus mencoba punya saya, jangan coba curang, ya?” kata Weweko dengan kasar.
Ariana yang sudah tidak mengerti dengan keadaan dirinya hanya menurut dan seluruh batang kemaluan Weweko telah masuk kedalam mulutnya dan mencoca menjilatnya dengan gerakan maju mundur. Tidak kurang dari 14 menit, barulah Weweko menyemprotkan maninya ke mulut Ariana. Ariana diharuskan menelannya karena sesuai kepercayaan Papua, apabila seorang wanita telah menelan mani prianya, maka wanita itu akan sulit melepaskan diri dari pria Papua yang menyenggamainya. Beberapa saat setelah Weweko berusaha kembali merubah arah dan posisi mereka, yang saat itu telah berhadap-hadapan dengan tubuh penuh keringat, kedua insan dua ras tersebut berusaha menyudahi perjalanan kenikmatan ragawinya pada tahap akhir.

Dengan terlebih dahulu Weweko memegang kendali, Weweko memancing birahi Ariana. Ariana teransang dan penetrasi tahap akhir akan dilakukan. Dengan menelentangkan tubuh Ariana di atas bulu itu, kedua paha Ariana ia buka dan di pinggulnya Weweko meletakan buntalannya sehingga terlihat isi kemaluan Ariana. Kedua kaki Ariana diangkat ke bahu Weweko yang bidang. Saat itu batang kemaluan Weweko tegak menghadap ke lubang kemaluan Ariana yang dengan supernya ingin mengaduk-aduk isi lubang kemaluan Ariana. Beberapa saat kemudian, dengan sedikit paksa, batang kemaluan Weweko masuk sebagian ke dalam lubang kemaluan itu. Beberapa saat kemudian, ia tembakkan langsung dengan ganas, memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan itu. Ariana sempat kesakitan dan air matanya keluar, namun mulutnya telah ditutupi oleh bibir Weweko. Sementara itu tangan Weweko memegang pantat Ariana supaya selama ia bergerak tidak terlepas. Ia khawatir Ariana akan mengeluarkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya saat Ariana kesakitan. Ariana hanya dapat memegang tangan dan bahu Weweko hingga berdarah tercakar sebab Ariana amat kesakitan akibat gerakan dan gesekan batang kemaluan Weweko mengaduk-aduk lubang kemaluannya. Akhirnya Ariana pingsan beberapa saat dan pada saat ia mulai sadar kembali, Weweko melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi, kurang lebih 20 menit, ia menggenjot batang kemaluannya keluar masuk lubang kemaluan sempit itu.

Akhirnya ia melepaskan air maninya di dalam lubang kemaluan Ariana sebanyak-banyaknya. Ia tidak memperdulikan kesakitan bagi Ariana. Yang ada pada dirinya adalah agar kepuasanya terpenuhi karena ia sudah berbulan bulan tidak merasakan tubuh wanita.

Sampai pada pagi harinya, Weweko terus berusaha memuaskan nafsunya kepada tubuh Ariana yang tidak berdaya itu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, pada saat pelariannya, Weweko selalu mengikut-sertakan Ariana di dalam hutan Papua itu, ia menganggap Ariana adalah istrinya dan Ariana harus mau mengikuti kemauannya baik itu dalam hubungan seksual maupun dalam masalah pelariannya.

TAMAT

Vita… Reuni SMA – 2

Vita… Reuni SMA – 2

Dari bagian 1

Suryo gagal memaksakan kehendaknya untuk memperkosaku, aku sangat bersyukur karena kegadisanku masih utuh dan tidak berhasil di renggut oleh Suryo. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Suryo lalu bangkit. Merapikan kembali pakaiannya dan pergi meninggalkanku, tanpa berkata sedikitpun. Aku pun langsung berdiri, dengan tangan masih gemetar, buru buru ku bereskan letak pakaianku, lalu bergegas menuju pintu keluar, aku tidak mempedulikan lagi sapaan teman temanku, tujuanku hanya satu.. Ingin cepat cepat pulang..

Aku makin mempercepat langkahku menuju ke arah mobilku yang ku parkir di ujung bangunan ini, buru buru kuambil kunci mobil dari tasku dan langsung membuka pintu mobil saat tiba tiba muncul dua orang laki laki dari mobil yang di parkir di belakangku.

“Oh..!!” Aku Kaget bukan kepalang, tapi terlambat untuk berteriak ketika salah seorang diantara mereka langsung menyergapku dan membekap mulutku, aku hanya bisa melihat yang berdiri di depanku adalah Suryo, dia menyeringai ke arahku, sepertinya dia tidak terima dengan kegagalannya tadi. Sementara yang seorang lagi aku tidak tahu.

Kemudian dengan mulut yang masih terbekap mereka menyeretku dan memaksaku masuk ke sebuah mobil minibus milik mereka, kulihat bangku bangku mobil itu sudah di rebahkan, hingga rata, membuat orang yang membekap mulutku, leluasa untuk menarikku ke arah dalam. Lalu tanpa bersuara Suryo langsung masuk dan menutup pintu mobil. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang kembali mengancamku. Celaka..!!

“Jangan..!!” gumanku.
“Sstt..” jawab Suryo sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya memegang bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku.
“Vita..” panggilnya dengan suara pelan. Membuat Lidahku langsung kelu.
“Gua minta kamu rela dan jangan melawan..!!” jarinya merabai bibirku.
“Jangan..!!” jeritku saat aku berhasil melepaskan mulutku dari bekapan temannya.

Tapi jeritanku langsung terhenti karena bibir Suryo cepat menutup bibirku dan lalu melumatnya dengan kasar. Kedua belah tangannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Sementara kedua tanganku di pegang dengan erat oleh temannya. Aku berhasil melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya.

“Kumohon..!! Jangan” kataku mengiba.

Dadaku diremasnya. Aku menjerit. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Aku makin menjerit. Masih sambil memeluk tubuhku Disingkapkannya rok ku dan Suryo langsung memelorotkan celana dalamku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Suryo bergerak membenamkan wajahnya di antara selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Gerakanku membuat Suryo langsung bangkit melepaskan jepitan pahaku.

“Brengsek kamu Vit..!! Mau di kasih enak kok ngelawan terus..!! Nikmati aja..!!”
“Jangan..!!” kataku setengah menangis.
“Sekali ini saja, sesudah itu saya tidak akan ganggu kamu lagi, Vit..!!”

Lalu tangan Suryo kembali membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Suryo yang kuat apalagi ku rasakan cengkeraman di kedua tanganku makin erat, membuat aku semakin putus asa, akhirnya Kubiarkan suyo menjilati liang kewanitaanku. Aku merasa amat malu dan terhina di perlakukan seperti ini

Tapi Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Semoga dia tidak sampai memperkosaku.. Aku muak di perlakukan seperti ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci..!! Aku menyesali diriku sendiri yang tak berdaya melawan, dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis..

Apalagi kini Suryo telah membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang penisnya yang sudah tegang dan keras, benda yang pernah sebentar memasuki liang kewanitaanku dan kini akan memasukinya lagi. Tangisanku yang sesenggukan tidak menghentikan gerakan Suryo yang sudah membentangkan pahaku dan siap menusukan batang penisnya. Suryo kemudian merangkak dan mulai menindihku.

“Jangan..!!” gumanku lemah, saat Suryo mulai melepaskan kancing kemejaku, aku masih sesenggukan.
“Sekali ini saja.. Vit.!!”
“Lepaskan saya..!!” pintaku memelas sambil terus menangis saat Suryo mulai menciumi dan mengulum putting buah dadaku.
“Buah dada kamu besar padat sekali.. Sungguh indah” sambungnya sambil terus mengulum payudaraku kiri dan kanan.
“Kamu cantik sekali.. Vit..!!” katanya lagi sambil tangannya terus meraba dan menggerayangi seluruh tubuhku.
” Itulah kenapa tadi gua cepet keluarnya..!!” Akunya.

Aku hanya bisa diam sambil terus menangis menerima seluruh perlakuannya.

“Oke, sekarang jangan nangis lagi ya.. Gua sekarang akan benar benar memperkosa kamu..!!”

Aku kembali menjerit histeris dan putus asa mendengar kata-katanya. Lalu Suryo bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, kemudian dia mengambil posisi di antara ke dua belah pahaku, siap untuk menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang vaginaku..

“Jangan.. Lepaskan..!!” jeritku sambil terus meronta, ku lejang-lejangkan ke dua kakiku, berusaha menyingkirkan tubuhnya dari selangkanganku. Tapi Suryo malah makin menusukan batang penisnya sehingga kepala kemaluannya masuk di antara bibir vaginaku. Di tekannya lagi sambil membentang pahaku lebih lebar. Perlahan batang penisnya menyeruak lebih dalam.

Aku terus berharap agar Suryo tidak kuat, lalu segera mencabut batang penisnya dan menumpahkan cairan spermanya di luar liang vaginaku seperti kejadian yang baru lalu tapi harapanku meleset.. Suryo terus menekan batang penisnya, memaksanya masuk ke dalam liang vaginaku yang sempit..

Mataku terpejam menunggu Tekanan selanjutnya, dan tekanan batang penisnya kurasakan semakin kuat, mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar kepalaku terlempar ke kiri dan ke kanan.

“Aduuh.. Sakitt..!!” jeritku terengah engah.

Lalu pinggul Suryo membuat gerakan memompa. Rasa ngilu makin mejalari sekujur tubuhku. Kuangkat kepalaku, Aku sempat melihat kepala penis Suryo timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluar masuk.

“Sakit..!!” jeritku.. Sambil terus meronta.

Lalu kurasakan Suryo menambah tekanannya. Kembali kurasakan ngilu dan sakit yang amat sangat di selangkanganku.

“Aauuff” seruku.
“Sakit..!!” jeritku saat kurasakan ada yang terkoyak di dalam liang vaginaku.

Rasa perih langsung melanda di seluruh kemaluanku, kedua tanganku mengepal dengan keras, tubuhku menegang dan mataku melotot. Aku sampai menggigit bibirku sendiri, karena tidak sanggup menahan ngilu dan perih saat kegadisanku direnggut paksa..

Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam di selangkanganku. Suryo benar-benar telah memasuki tubuhku. Suryo benar-benar telah memperkosaku..!! Merenggut keperawananku. Suryo mulai memompa lagi, kini pompaannya semakin cepat. Rasa sakit makin menjadi jadi. Dan ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang kudapat. Makin tak terhingga bercampur dengan dengan rasa ngilu. Sampai akhirnya seluruh bagian tubuh Suryo telah menindih ketat ke tubuhku.

Pada saat Suryo berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah saling menempel ketat. Batang penisnya telah seluruhnya tenggelam di dalam liang vaginaku tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar.

“Ooh.. Kamu benar-benar masih sempit Vita..!!” bisiknya dekat telingaku.

Dia benar-benar telah menyetubuhiku. Aku hanya memejamkan mata sambil terus menangis sesenggukan, tidak sanggup menatap wajah pemerkosaku. Kuharap penderitaanku ini segera selesai, aku berharap Suryo segera mencapai orgasme dan melepaskan batang penisnya dari liang vaginaku, sehingga rasa sakitku pun bisa segera sirna.

Tapi harapanku kembali meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda Suryo akan menyudahi perkosaanya, justru hunjaman batang penisnya makin menjadi jadi di dalam liang kemaluanku. Suryo terus memompa tubuhku dan terus memperkosaku tanpa peduli dengan aku yang terus menjerit jerit kesakitan.. Tiba tiba Suryo mengangkat punggungku dan mempercepat gerakannya.

“Ohh.. Sempitnya vagina kamu Vit..!!” dekapannya di punggungku makin erat sambil menghujamkan batang penisnya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku. Tubuhnya diam memeluk tubuhku.. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar.

“Jangann..!!” jeritku panik saat sadar dia akan berejakulasi di dalam liang rahimku..

Tapi terlambat, bersamaan dengan itu aku merasakan cairan hangat menyemprot dan membanjiri liang vaginaku.

“Ooh.. Vit.. Tubuh kamu indah sekali..” bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah.

Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu…

“Vaginamu.. Nikmat banget..”

Aku masih diam.

“Sempit sekali Vit..”

Tiba-tiba Aku tersadar. Ucapan ucapannya membuat aku ingin muntah. Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa harus mengalami kejadian ini. Juga benci kepada tubuh Suryo yang menindihku, aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan sekuat tenaga Aku lepas dari dekapan Suryo dan tubuh itu terguling dari badanku.

Aku berusaha membuka pintu mobil dan melarikan diri, tapi teman Suryo langsung menangkapku, langsung menggumuliku. Dan aku kembali di perkosa.. Entah sudah berapa kali aku di gilir oleh mereka malam itu.. Sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Esok paginya aku terbangun, dan aku sudah berada di dalam mobilku sendiri.. Tapi aku tahu.. Kejadian semalam bukan mimpi, karena rasa sakitnya masih kurasakan menjalari seluruh tubuhku. Aku hanya bisa menangis dan meratap, menyesali kejadian yang menimpa diriku..

*****

Di ceritakan kembali oleh Lia dari pengalaman Diah. Seorang sahabat yang mengalami nasib serupa.

E N D

Vita… Reuni SMA – 1

Vita… Reuni SMA – 1

Kejadian ini aku alami beberapa tahun yang silam, saat aku masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

*****

Namaku Vita, umurku saat itu masih 22 tahun dan aku termasuk gadis yang lugu dan pendiam, tapi teman teman kantorku bilang aku adalah gadis yang sangat cantik jika tidak judes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cukup cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih mulus.

Sahabat wanitaku bilang, kalau di kantor cowok-cowok selalu membicarakan aku dan mereka selalu memperhatikan aku, apalagi kalau aku sedang mengenakan rok span dan blouse ketat busana kerjaku. Mereka bilang tubuhku sangat seksi dengan buah dada besar yang aku miliki, tapi aku tidak peduli dengan komentar mereka. Banyak dari mereka yang berusaha mendekatiku tapi aku masih takut dan enggan untuk menanggapinya, aku lebih senang sendirian, aku merasa bebas dan tidak terikat.

Singkat cerita aku diundang untuk menghadiri reuni SMA tempatku sekolah dulu, maklumlah sejak lulus SMA sampai saat kuliah dan bekerja, kami memang sudah sangat jarang bertemu.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat aku tiba di pelataran parkir sebuah kafe di bilangan Jakarta selatan, tempat reuni SMA ku di adakan, saat itu aku mengenakan pakaian kerja, rok span hitam dan kemeja putih dan aku memadukannya dengan blazer hitam, aku memang tidak sempat berganti pakaian karena kesibukanku di kantor, tapi tak apalah, dengan pakaian ini aku cukup PD untuk bertemu dengan teman teman SMAku, pikirku.

“Aduh.. Tuan putri ini makin cantik aja..!!” seru Nina, kawan satu kelasku waktu di SMA. Hari itu aku merasa sangat senang, bertemu dengan teman teman SMA-ku, acaranya juga cukup meriah, di hadiri oleh lebih dari seratus orang, yang semuannya adalah alumni sekolahku.

“Astaga.. Sudah jam berapa nih..!!” gumanku di sela hingar bingar musik, aku sampai lupa waktu karena asyik ngobrol dengan teman temanku.
“Nanti aja pulangnya Vit..!!” seru Cindy sambil menarikku ke depan panggung, saat itu di atas panggung sedang di pentaskan live music dan tampak beberapa pasangan tampak asyik ber slow dance mengikuti alunan music yang memang sedang berirama pelan.

Terus terang saat itu aku memang terbawa suasana pesta, sayang kalau aku harus pulang cepat pikirku, aku malah ikut ikutan menenggak wine. Seumur hidup baru kali ini aku minum minuman keras, sehingga kepalaku terasa pusing, apalagi music sudah berubah menjadi house music dan hip hop membuat kepalaku makin berputar putar tak karuan.

“Ayo Vit..!! kapan lagi.. Belum tentu setahun sekali nih acara ini di buat..!!” seru Nina sambil menari-nari dan menjerit jerit histeris. Kayaknya Nina sudah mulai mabok nih..!! Pikirku.
Tiba tiba aku merasa lenganku di tarik oleh seseorang, rupanya Suryo dia teman satu kelasku saat aku kelas tiga, “Ayo Vit.. Kita melantai..!!” ujar Suryo sambil menarikku ke atas panggung.
“Nggak mau ahh.. Yo, lagi pusing nih..!!” keluhku, tapi Suryo tetap saja menggandengku, mau tidak mau aku jadi mengikutinya ke atas panggung, aku mulai menggerak gerakan tubuhku mengikuti alunan music yang menghentak hentak, aku sudah setengah sadar akibat pengaruh wine yang ku minum tadi dan aku juga benar benar terhanyut dalam histeria suasana pesta, sehingga aku tidak bisa lagi mengontrol gerakan tubuhku, gerakanku menjadi lebih berani dan terkesan erotis, sementara Suryo sudah berada dibelakang tubuhku, mengikuti dan mengimbangi gerakanku. Dan anehnya aku sangat menikmati suasana tersebut, padahal selama ini aku terkenal sangat anti dengan hal yang berbau dugem. Ah.. Nggak apa apa deh sekali ini aja.. Pikirku.

“Buka.. Buka.. Buka..!!” kudengar teriakan teman-temanku sambil bertepuk tangan menyuruhku membuka kemejaku, aku sempat terkesiap mendengar teriakan mereka.

Kulihat ke arah samping, beberapa teman wanitaku memang sedang membuka pakaian bagian atas mereka, bahkan Nina sudah mulai membuka branya sehingga sebelah payudaranya tampak sudah menyembul keluar dan langsung di sambut dengan tepuk tangan dan teriakan riuh rendah dari teman temanku.

Anehnya walaupun agak risih, akhirnya aku mau saja menuruti kemauan teman teman ku itu, entah karena pengaruh wine atau mungkin aku sudah begitu terhanyut dengan suasana pesta tersebut, sambil tetap menggoyang goyangkan tubuhku, ku lepaskan blazerku dan perlahan lahan kubuka kancing kemeja putihku satu persatu sampai terlepas seluruhnya sehingga bra hitam yang kukenakan tampak jelas terlihat. Sementara lengan Suryo mulai memegang pinggangku dari belakang, sambil tetap mengikuti gerakanku.

Aku terus terhanyut dengan alunan musik yang menghentak hentak itu, sesekali ku angkat kedua tanganku ke atas, meraih rambut panjangku dan menariknya ke arah belakang sambil tetap menggerak gerakkan tubuhku, tiba tiba aku tersadar saat tangan Suryo berusaha melepaskan braku.

“Apa apan kamu Yo..!!” jeritku sambil mendekap dadaku, saat itu kancing belakang braku sudah terlepas, perbuatan Suryo itu langsung menyadarkanku dari pengaruh wine dan suasana pesta.
“Brengsek kamu.. Apa yang kamu lakukan..?” teriakku sambil berusaha merapikan kembali kemejaku.

Tapi sepertinya Suryo tidak mengindahkan teriakanku, tangannya dengan sigap langsung memeluk tubuhku dari belakang, membuat aku tidak bisa meronta dan melepaskan diri dari himpitan tubuhnya, sementara sebelah tangannya merenggut paksa bra yang kukenakan hingga terlepas dan jatuh ke lantai, sehingga kini tubuh bagian atasku terlihat jelas dan menjadi tontonan untuk teman-temanku yang langsung menyambutnya dengan sangat antusias.

“Suryo..!! Hentikan.. Lepaskan saya.. Kurang ajar.. Kamu..!!” jeritku sambil terus meronta dari himpitan dan pelukannya, tapi Suryo malah makin beringas, dia malah menarik dan menyeretku ke arah belakang panggung, di tempat ini sinar lampunya lebih redup dan agak tersembunyi dari pandangan teman temanku, tangannya dengan buas terus meremas remas ke dua buah dadaku, sementara mulutnya juga terus menciumi sekujur leherku, aku masih terus menjerit jerit dan meronta, tapi Suryo tetap saja tidak menghentikan perbuatannya, malah dia semakin nekat.

“Kamu sebaiknya diam aja, daripada nanti gua perkosa beneran..!!” bentaknya, dengan nada galak.

Otakku buntu, mendengar ancamannya, aku tak mampu berpikir lagi bagaimana caranya untuk menghindar dari cengkeraman Suryo. Mungkin ini juga karena kesalahanku. Karena terlalu terhanyut dengan suasana pesta, keluhku menyesali kebodohanku sendiri. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi Buah dadaku dan lalu mengulum putingku. Sementara tangan kirinya meremasi buah dada kananku.

Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja, padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa.. Ketakutan yang amat sangat. Sampai saat Suryo menyingkapkan rokku ke arah atas dan mulai meremasi buah pantatku, Aku masih tak mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Suryo sudah mulai menggesek gesek daerah sekitar selangkanganku. Tapi ketika dia mulai memelorotkan celana dalamku dan bersiap menghujamkan batang penisnya ke selangkanganku, Aku terkesiap, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari dekapannya.

“Jangan jangan..!! Lepaskan..!! Saya masih perawan Yo..!!” jeritku panik dan ketakutan, sambil kugerakkan tubuhku ke arah depan, menjauhkan vaginaku dari batang penisnya.
“Diam Vit..!! Layani gua baik-baik, atau gua paksa..!!” ancam Suryo.

Aku tetap berontak.

“Kalau nggak mau diam gua tampar lu”
“Hentikan.. Atau saya laporkan ke teman-teman!!” bentakku tegas.

Mendadak Aku punya kekuatan untuk membentaknya, tiba tiba pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Suryo tidak mencoba menahanku. Aku berhasil lepas!

“Kamu cantik.. Dan Tubuhmu bagus..” guman Suryo.

Aku cepat-cepat mengenakan kembali celana dalamku yang melorot dan membereskan pakaianku, kini Suryo yang mematung. Matanya tajam memandang ke arahku.

“Baiklah.. Gua minta maaf untuk kejadian ini.. Habis kamu cantik sekali sih Vit, gua jadi lupa diri..”

Aku diam.

“Kamu masih mau jadi temanku kan?”

Aku tetap diam sambil memandangnya dengan penuh kemarahan.

“Saya enggak akan mengganggu kamu lagi Vit, tapi sebenarnya saya sudah tertarik dengan kamu dari dulu”

Aku makin jijik mendengar kata katanya.

“Oke, saya tunggu sampai kamu bersedia melayani gua tanpa gua paksa..!!” ujarnya kesal, sambil berjalan menjauh dari tubuhku, aku sempat menarik nafas lega.

Tapi tiba-tiba Suryo menyergap dan memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku. Aku sangat kaget mendapat serangan tak terduga ini, aku kontan berontak. Tapi Suryo malah memelukku lebih kencang. Sehingga aku Makin tidak dapat bergerak. Dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi.

Bibirnya melumat habis bibirku, Aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berdaya untuk melepaskannya Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding. Baru sekali ini bibirku di lumat oleh lawan jenis dan tiba tiba aku kembali dilanda oleh ketakutan yang amat sangat.

Tangan kanannya membuka kembali kancing kemejaku, lalu telapak tangannya merabai bulatan buah dadaku. Tubuhku bergetar karena ketakutan dan Aku mulai kembali meronta. Dadaku serasa sesak dan sulit bernafas karena lumatan mulutnya di bibirku.

Dengan cepat seluruh kancing kemejaku kembali dilepaskannya sehingga tubuh bagian atasku kembali terbuka. Kemudian Suryo memutar tubuhnya, sehingga posisinya kini kembali berada di belakangku, lalu dia mendorong tubuhku hingga rebah ke atas meja yang di gunakan untuk meletakkan alat alat sound system, Entah kenapa Aku merasa tubuhku tiba tiba lemas. Demikian pula ketika Suryo mulai menindih tubuhku dari arah belakang.

Tangannya menyingkapkan kemejaku ke atas dan lidahnya mulai menjilati sekujur punggung dan pundakku, sementara satu tangannya meraih buah dadaku dan meremasnya dengan kasar.

“Lepaskan..!! Tolong.. Tolong..!!” teriakku sangat ketakutan ketika tangannya bergerak menyusup ke sela sela rok-ku, kemudian jari-jarinya menyusup ke balik celana dalamku dan menggosok-gosok selangkanganku.

Aku terus meronta dan berteriak minta tolong, sampai tenggorokanku serak tapi sepertinya teriakkanku tertelan oleh suara hingar bingar musik. Tiba tiba Suryo dengan sigap menyingkapkan rok ku dan langsung memelorotkan celana dalam yang kukenakan sampai sebatas lutut.

“Jangan..!! Tolong..!! Jangan perkosa saya..!!” jeritku panik karena merasa vaginaku sudah tidak tertutup dengan apa apa lagi, sambil makin memperkuat rontaanku, Dan berusaha mengatupkan ke dua belah pahaku sekuat tenagaku.

Aku masih terus menjerit dan meronta sekuatnya ketika dia dengan paksa berhasil membentangkan pahaku lebar-lebar. Aku makin menjerit histeris dan putus asa saat ku rasakan batang penisnya mulai menempel di selangkanganku. Detik berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku..

Saat berikutnya lagi benda hangat itu terasa tepat menekan bibir vaginaku.. Lalu kurasakan tekanan.. Sehingga bibir vaginaku terasa sesak.. Aku tersentak.. Secara refleks pahaku menutup, tapi Suryo berhasil membukanya lagi dan mencoba menusukan batang penisnya lebih dalam lagi.

“Oh.. Ini tidak boleh terjadi..!!” pikirku.

Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan Suryo yang telah di liputi nafsu bejad ini? Kedua belah tangan kuatnya menahan katupan pahaku dan batang penisnya mulai menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi Aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil, batang penisnya terpeleset!

Tapi itu malah membuat Suryo menjadi lebih penasaran, dengan kasar dibukanya lagi pahaku lalu dia mulai mengarahkan batang penisnya langsung ke liang vaginaku, kemudian ditekannya kuat kuat, dan.. Ohh.. Kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya kepala penisnya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan mengendor.. Kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga batang penisnya tak lepas dari liang vaginaku. Malahan seolah aku menjepit kepala penisnya yang telah masuk itu.

Rasanya Aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan Suryo yang sudah di liputi oleh nafsu bejadnya itu, aku sudah tidak mampu berontak lagi untuk mempertahankan kehormatanku. Air mataku meleleh.. Aku menangis.

Tapi, tiba tiba Suryo dengan cepat menarik batang penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya kurasakan cairan hangat membasahi punggung dan rok hitamku yang tersingkap. Aku sedikit lega, rupanya Suryo telah keluar.. Walaupun belum penetrasi. Belum? Tepatnya belum sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang belum terjadi sesuatu.

Ke bagian 2

Ventura 04

Ventura 04

Sambungan dari bagian 03

BAB XI

“Papin..!”
Papin menoleh dan melihat seseorang menghampirinya dengan tertawa. Iwan merasa gerah memandangi orang yang barusan datang bersama teman-temannya. Papin mengerenyitkan alisnya. Orang yang baru datang itu mengatakan sesuatu kepada teman-temannya, sebelum meninggalkan mereka dan mengambil tempat duduk di samping Papin.
“Papin. Ternyata,” orang itu tertawa menampakkan giginya yang kehitaman, “Aku ngga mengira ketemu kamu disini.”
“Hehehe,” Papin tertawa masam, “Oh, kenalkan, ini Iwan.”
Iwan mendengar suara gemerincing dari gelang besi di pergelangan tangan lelaki itu saat menjabat tangannya, “Dodon, kenalkan.”

“Sudah berapa lama, Pin..?”
Papin tersenyum, “Hehehe, sekitar enam bulan.”
Dodon ikut tertawa, “Aku sudah mengira kamu bakalan nyusul aku ke Malang.”
Iwan yang tidak mengerti bahan pembicaraan memilih diam dan menghabiskan kopinya sambil memandangi orang yang berlalu lalang di depannya.
“Pin, sejak keja..”
“Don, kamu ngapain aja selama ini..?” Papin memotong pembicaraan.
Dodon tertawa dan melirik ke arah Iwan yang menatap ke seberang. “Biasa, pengangguran.”
Papin tersenyum dan mematikan rokoknya di dalam asbak. “Sama sekali tidak berubah.”
Dodon tergelak. “Dan kamu..?”
“Yah, beginilah. Masih berusaha melupakan.”
Dodon tersenyum, menyalakan rokoknya, “Si Kembar.”
“Yang terpisah.” Papin melanjutkan, dan mereka berdua tertawa.

“Pin, cabut yuk.” Iwan memecah pembicaraan.
Papin merasa lega dalam hatinya, “Ayo. Don, kami balik dulu.”
“Oke, aku juga mau persiapan perayaan.”
“Oh, perayaan apa..?”
“Biasa, tadi malam baru ‘pesta’.”
Papin tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Kamu tetap berangasan seperti dulu.”

“Oh, jadi orang itu yang lebih dulu menyenggol sepeda motormu..?”
Jojo mengangguk lemah mengiyakan. “Berarti ia memang sengaja.”
Ferry meraba janggutnya, mecoba memikirkan apa yang harus dilakukannya.
“Kamu yakin pernah melihat dia di daerahku..?”
Ardi memegangi pundak Ferry, “Jojo bukan seorang pembohong.”
Ferry mendesah, “Baiklah. Aku akan coba mencarinya.”

Sebelum melangkah pergi, Ferry mendadak teringat sesuatu.
“Jo, kata orang itu dia sudah lama ingin memukuli kamu, berarti dia juga dari Surabaya. Apa kamu pernah punya masalah waktu di sana..?”
Ardi menatap ke arah Jojo, menyadari kebenaran asumsi Ferry. Jojo membuka matanya sedikit.
“Aku jadi ragu-ragu.” Ferry mendesah saat melangkah keluar.
“Kenapa, Fer..?” tanya Ardi ingin tahu.
“Entahlah. Aku tahu ada seorang anak pindahan di daerahku yang mungkin sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan si Jojo. Hanya saja..”
“Kenapa..?”
“Sepertinya anak itu bukan seorang preman. Malah cenderung seperti cacing kurus berambut panjang.”
“Apa salahnya dicoba dulu..?”
Ferry mengiyakan.
“Ayo kita cari dia.”

BAB XII

“Menurut kamu kelanjutannya bagaimana..?”
Kim mengangkat bahunya, “Entahlah, itu urusan mereka.”
Anya membantu Kim memisahkan kaset-kaset di depan mereka.
“Eh, Kim. Bagaimana kabar pahlawanmu..?”
Kim menjambak rambut Anya yang tersenyum menggoda.
“Idih, iseng. Mana aku tahu..?”
Anya menggeliat dan menyenggol rak kaset. Beberapa kaset terjatuh dan mengeluarkan suara nyaring.
“Ups.” Kim bergegas membereskan kaset yang berserakan sebelum pemilik toko menghampiri.
“Gara-gara kamu, Kim,” omel Anya sambil membantu.

“Mas, awas kakinya.”
Orang itu menoleh dan dengan gerakan kocak melompat ke samping. Kim tertawa melihat gerakan kaki itu dan mengangkat kepalanya.
“Kamu..?”
Papin membungkukkan tubuhnya, memungut kaset di depan kakinya.
“Maaf, aku tidak sengaja berdiri di sini,” katanya kemudian sambil menggaruk ubun-ubunnya.
Gerakannya terlihat begitu konyol. Kim tersenyum.
“Oh, tidak apa-apa,” Kim berusaha menyingkirkan bayangan seseorang yang samar-samar di ingatannya. Tidak mungkin.
“Makanya, kalau jalan lihat-lihat.” Anya yang mendadak muncul berkata sinis.
“Iya, deh. Sori.” Papin tergagap-gagap.
“Pin, sudah ketemu kasetnya?” Iwan melangkah dari rak kaset.
“Sudah.”
“Pin..?” Kim bertanya menggumam.
“Aku Papin.” Papin menjulurkan tangannya.
“Kim. Ini Anya.” Anya meruncingkan bibirnya.
Papin tersenyum, “Ini..”
“Iwan, anak manajemen ‘94,” Kim menyahut.
Iwan mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya, “Oh..i..iya.” Mau tak mau kedua gadis itu tertawa melihat tingkah gugup Iwan.

Papin memandang dengan heran, “Kenapa, Wan..?”
“Tidak apa-apa,” Iwan berkata cepat, “Ayo, Pin.”
Papin bangkit berdiri dan membersihkan tangannya di celananya.
“Buru-buru, nih.” tanya Kim setelah bangkit berdiri.
“Iya. Kami cuma mencari kaset.” Papin berkata sambil menunjukkan sebuah kaset.
“Oh, okelah. Eh, Papin, kamu anak pindahan dari Surabaya, kan..?”
Papin memiringkan kepalanya, “Kamu kok tahu..? Kenapa..?”
“Ada kenalan yang bernama ‘Batak’ tidak..?”

Papin memandang langit-langit toko, berfikir sejenak.
“Hmm.. perasaan Surabaya itu luas, dan banyak orang bataknya.”
Kim tertawa melihat gaya sok serius itu, “Iya deh. Pulang sana, nanti temanmu pulang disuruh mandi, ya.”
Iwan menunduk dan mengusap-usap punggung lehernya. Papin tertawa, “Hahaha, baiklah. Sampai jumpa.”
Kim mengangguk dan tersenyum, melihat Papin yang sejenak terpana, sebelum lelaki itu melangkah pergi bersama temannya.
“Kamu kok jadi sok akrab begitu, Kim..?”
Kim mendesah dalam. “Pandangan matanya..”
“Kenapa dengan matanya..?”
“Entahlah.”
Kim tak mungkin menceritakan pada temannya tentang perasaan hatinya yang bergetar saat menyadari sorotan tajam yang begitu dalam dan teduh dari mata lelaki itu. Sebuah pancaran kekelaman penderitaan yang nyaris tak pernah ditemuinya selain pada saat-saat dimana ia bercermin di depan kaca.

“Hey tunggu, apa-apaan ini.”
Lelaki kurus itu memegangi pantatnya yang sakit setelah mencium aspal. Matanya memandang ke sekelilingnya. Gelap, nyaris tak ada cahaya di tempat itu. Sosok-sosok tubuh mendekatinya, si lelaki kurus terkesiap dan bangkit berdiri. sempat melirik sepeda motornya yang terguling setelah ditendang tadi.
“Tunggu.” Sebuah seruan terdengar dari balik kerumunan orang itu.
Kerumunan itu membuka jalan. Dua orang mendekatinya, lelaki kurus itu menyipitkan matanya berusaha memastikan sosok-sosok yang menghampirinya.
“Kamu..? Kamu yang waktu itu..?”
“Benar,” Ferry mengiyakan, “Temanku di sini ingin menanyakan sesuatu.”
“Oh,” Lelaki itu menatap sosok di sebelah Ferry, “Silahkan saja.”
Ardi menatap wajah kurus itu dalam-dalam, berusaha mengira dan mengukur.
“Aku mau bertanya,” desisnya lirih, “Mampukah kau menerima ini..?”
Tangannya terayun.

Lelaki kurus itu menerima pukulan di rahangnya dengan telak, “Arrghh..” Buku-buku jemarinya terkepal. Matanya terasa berkunang-kunang.
Ferry tersenyum, menggelengkan kepalanya dan menghisap rokoknya.
“Bukan dia, Di.”
Ardi mengusap buku jarinya yang sedikit kesemutan, “Kurasa juga demikian.”
“Ayo, kita pergi. Kita ke tempat Jojo, mungkin ada yang terlewat.”
Ardi mengiyakan dan naik ke atas sepeda motor.
Si lelaki kurus memandang dengan bingung. namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Kerumunan lelaki itu menyalakan sepeda motor mereka masing-masing.

“Oh, ya.” Ferry membalikkan tubuhnya.
Tubuhnya membungkuk dan mengambil sebutir kerikil.
“Hey, kurus. Nih.” tangannya melemparkan batu kerikil itu ke arah kepala si lelaki kurus.
Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit dan batu kerikil itu menyibakkan rambut panjang yang tergerai di pundaknya. Ferry tersenyum, menarik gas sepeda motornya dan berlalu.
“Sialan,” Ardi mengeluarkan keringat dingin sebelum memutar sepeda motornya dan menyusul Ferry.

“Siapa dia sebenarnya..?”
Ferry merasakan angin malam menenangkan bulu tengkuknya.
“Aku merasa pernah mengenalnya dulu. Dulu sekali..”
“Dulu..?” Ardi terhenyak, teringat akan masa-masa SMA mereka.
“Apa mungkin..?”
“Mungkin saja. Tapi bukan dia yang memukul Jojo.”
“Kalau benar itu dia, memang tidak mungkin.”

BAB XII

Lelaki itu menyibakkan rambut panjangnya, membiarkan bibir gadis di atasnya menelusuri lehernya. Mulutnya menyunggingkan senyuman, tangannya bergerak meremas pinggul si gadis. Pinggulnya terangkat, menekan kemaluannya semakin dalam. Gadis itu menggeliat dan mengeluh, menikmati batang kemaluan si lelaki memenuhi liang vaginanya. lelaki itu bergerak semakin liar, membanting si gadis hingga terlentang, menciumi payudara si gadis yang semakin terengah. Jemari gadis itu menjambak rambut panjang si lelaki dengan kasar, menekan kepala si lelaki kedadanya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya dan menampar pipi si gadis yang hanya tersenyum. Dalam tawanya lelaki itu menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Gadis itu mengerang penuh kenikmatan.

Dodon mengerang, mengejang dan menyemburkan spermanya ke liang kemaluan gadis di bawahnya. Gadis itu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, melingkarkannya ke pinggang lelaki di atasnya dan menekan pinggulnya kuat-kuat.
“Sial.” Dodon mengumpat dan melompat dari tubuh si gadis saat mendadak pintu terbuka dengan suara keras.
Si gadis menjerit dan menutupi tubuhnya dengan seprei.

“Oh, kamu. Ada apa..?” ucap Dodon menenangkan dirinya.
Lelaki yang mendobrak pintu kamar itu menarik turun topi SOX-nya dan mendesis, “Kamu sebaiknya segera pulang ke Surabaya.”
Dodon menyempatkan diri untuk duduk di pinggir tempat tidur dan menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, “Kenapa aku harus pulang..?”
Gadis telanjang itu berlari kecil menuju kamar mandi.
“Mereka mencarimu karena ulahmu.”
Dodon bangkit berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki bertopi itu.
“Hey,” desisnya, “Lagipula ini semua gara-gara kamu.”

Lelaki bertopi itu menatap mata Dodon dalam-dalam.
“Gara-gara aku..?”
Dodon membalikkan tubuhnya, melemparkan rokok di mulutnya ke lantai dengan penuh amarah, “Seandainya waktu itu kamu mengijinkanku menghabisinya di Surabaya, dendam ini takkan merembet sampai ke wilayah orang. Kamu sendiri seharusnya sadar itu..!”
Kata-kata itu menusuk, membuat si lelaki bertopi mengangkat kepalanya.
“Pulang, Don. Entah apapun alasannya. Kamu berbahaya kalau terus di sini, aku mengingatkanmu sebagai seorang teman lama.”
“Seandainya aku tidak pulang..?”
Lelaki itu melangkah mendekat, geraman kecil terdengar dari bibirnya.
“Aku akan memulangkanmu.”
Matanya tajam dan menusuk.

Suasana sejenak hening. Dodon merasakan bulu kuduknya meremang.
“Kamu serius, Tak..?” desisnya lirih.
“Menurut kamu..?”

BAB XIV

“Lalu..?” Kim mendengar dengan penuh perhatian.
“Entahlah,” Ina menghabiskan jus apelnya, “Kudengar seseorang meninggalkan seamplop uang di meja rumah sakit, beserta surat pernyataan maaf untuk Jojo.”
“Masa tidak ada yang melihatnya..?”
“Itu masalahnya, katanya sih ada anak gondrong bertopi yang berkeliaran sebelum amplop itu ada di atas meja.”
Kim menenangkan debaran jantungnya.
“Jadi mungkin benar itu dia.”

Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam. Ardi menggelengkan kepalanya, bersyukur bahwa kemarin orang itu tidak membalas pukulannya.
“Kamu sangat beruntung, kalau itu memang dia.”
“Ya, benar. Aku masih beruntung.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan..?”
“Kembali seperti biasa..? Lagipula si pemukul sudah pergi dari sini.”
“Lalu..? Apakah kita tidak memburu si pemukul lewat dia..?”
“Lupakan saja. Jojo kan sudah menerima uang rumah sakit.”
“Tapi.. masa segitu saja..?”
“Kamu mau cari masalah lagi..? Aku tidak, itu yang jelas. Kamu tahu kan akibatnya kalau mencari masalah dengan orang itu..? Seandainya itu benar dia.”

Ardi mengeluh. Mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya, menindas perasaan sebal tentang inagurasi yang toh akhirnya terpaksa berlangsung tanpa keikutsertaannya.

TAMAT

Ventura 03

Ventura 03

Sambungan dari bagian 02

Surabaya, 2000

“Berhenti sebentar, Pak.”
Sopir taksi itu memandang dari spion penumpang dengan penuh rasa ingin tahu. Kim tidak mengacuhkan pandangan sopir itu, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Nasi pecel, itu yang terbersit di benaknya saat itu. Bapak-bapak berpakaian lusuh itu menghentikan perbincangan mereka saat Kim membungkukkan tubuhnya memasuki tenda warung yang terlihat rapuh itu. Ibu penjual nasi pecel yang masih sibuk memasang sanggul rambutnya ikut-ikutan menghentikan kegiatannya dan memandang penuh perhatian.

“Bu, nasi pecel, dibungkus, dua..”
“Eh..” ibu itu terlihat sedikit gugup.
“Bu, nasi pecel..” Kim menahan tawanya.
Seorang bapak dengan tersenyum berkata, “Jeng, ‘dang digawekno, mosok wong tuku dikon ngenteni.” (Jeng=sapaan; cepat dibuatkan, masa orang beli disuruh menunggu)
Ibu penjual nasi itu tergopoh-gopoh bangkit berdiri melupakan sanggulnya yang belum terpasang, dan langsung menyiapkan pesanan Kim. Melihat tingkah si ibu penjual yang kocak, Kim tak sanggup menahan tawanya, dan mendengar tawa Kim yang lepas, bapak-bapak yang sedang menikmati kopi panas mereka itu tak tertahan ikut pula tertawa.
“Boleh saya duduk di sini..?”

Bapak-bapak itu bergeser dan mempersilahkan Kim duduk, sebagian dari mereka memandang dengan penuh rasa kagum ke arah Kim. Wajar saja, di saat-saat jurang kesenjangan sosial sudah sedemikian dalamnya ditambah dengan kerusuhan di mana-mana, jarang ada orang dengan penampilan exclusive yang masih memberanikan diri untuk membeli makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Dan sekarang, Kim, seorang perempuan, melakukannya.
“Dari mana, Dik.” Seorang bapak memberanikan diri bertanya.
“Ah, sekedar menghabiskan waktu, Pak.” Kim menjawab sopan.
“Cewek warungan nih, hahaha..” salah seorang bapak yang lain berseloroh.

Kim melirikkan matanya tajam, membuat si bapak yang berseloroh barusan terkesiap, dan buru-buru memalingkan wajah, menyeduh kopinya untuk meredam perasaan terkesiapnya. Kim tersenyum, mendinginkan suasana yang mendadak ‘garing’.
“Bukan warungan, Pak. Jalanan.” canda Kim.
Bapak-bapak itu tertawa bersamaan merasakan keakraban yang mendadak timbul antara mereka dan wanita itu. Ibu penjual nasi tersenyum melihat suasana yang mendadak hangat, menyelesaikan melipat bungkusan di tangannya, dan menyerahkan pesanan Kim.

“Monggo, Bapak-bapak,” Kim berkata tersenyum sebelum melangkah keluar, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bapak-bapak di warung itu.
“Arang ono bocah wedok koyo ngono iku.” (Jarang ada anak perempuan seperti itu.) Kim masih mendengar desahan ibu penjual warung sebelum melangkah masuk ke dalam Taksi.

BAB VII

Malang, 1996

“Pin..!”
Papin menoleh dan melihat Iwan berlari kecil menghampirinya.
“Apa..?”
“Jalan yow,” Iwan memegang pundak Papin dan menatap dengan pandangan memohon.
Papin tertawa, “Jalan kemana, Man..?”
“Ke sini aja, sambil nyari kopi.” Iwan menunjuk ke arah plaza di sebelah kampus mereka yang terlihat di kejauhan.
“Nyari kopi saja kesana..? Ke warung saja, deh.” Papin memiringkan bibirnya tanda tidak setuju.
“Ayolah, kan ujian sudah kelar. Paling tidak ‘happy-happy’ sedikit.”
“Okay, deh.” Papin menyalakan mesin sepeda motornya.

“Bagaimana ujian kamu..?”
“Kacau.” Papin menyalakan rokok di ujung mulutnya..
“Hahaha, seperti di Surabaya..?”
“Sangat mirip.”
Iwan tertawa. Matanya memandang ke arah orang-orang yang lalu-lalang.
“Pin.”
“Yo.”
“Kamu nggak nyari pacar di sini..?”
Papin tersenyum pahit, “Boro-boro pacar, cewek yang mau pendekatan sama aku saja belum tentu ada.”
“Coba kamu potong rambut, lalu berpakaian sedikit necis..”
“Percuma..” Papin melambaikan tangannya menyapu angin.
“Aku ingin pacarku menyukai aku apa adanya..”

BAB VII

Sehari sebelumnya.

“Kintan, nanti siang papa dan mama ke sana.”
“Duh, jangan sekarang, Ma.”
“Kenapa..?”
Kim memandangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang tamu.
“Eh, teman Kintan ada yang ulang tahun nanti siang.”
“Oh, begitu.”
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, meraba perutnya dan merambat ke payudaranya. “Bentar, Ma.”
Kim menutup gagang telpon dan menggerakkan kakinya ke belakang, menendang dengkul Ferry yang segera menjauh sambil terpincang-pincang.
“Ma..?”
“Ya..? Ada siapa di sana..?”
“TV, Ma,” Kim beralasan sambil lalu, “Kintan mau mandi, mau ke kampus.”
“Baiklah, nanti kalau tidak jadi ke pesta, telpon ke rumah.”
“Siap, Ma.”

“Yow, bangun kalian..!”
Kim menggerakkan kakinya menendangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di atas lantai ruang tamu. Beberapa dari mereka terbangun, mengomel dan mengusap pantat mereka yang tertendang. Kim tertawa melihat tingkah mereka, dan menuju ke kamarnya.

“Aduh, yang dua ini,” Kim menghela nafas, “Hey, bangun..!”
Ina mengeluh dan membuka matanya, “Jam berapa sekarang..?”
“Jam setengah dua belas,” Kim membuka lemari dan mengambil sepotong baju.
Ina mendudukkan tubuhnya, menyingkirkan lengan Andi beberapa saat yang lalu masih menempel di dadanya. Andi merasakan pergerakan gadis itu dan ikut membuka matanya.
“Loh, aku di mana..?” gumam Andi tak jelas.
Ina membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir Andi dan bangkit dari atas tempat tidur. Kim melemparkan sepotong pakaian lain ke arah Ina, yang langsung mengenakannya.

“Bangun, Di. Sudah siang. Katanya kamu ujian jam satu..?” Kim berkata sambil memalingkan wajahnya, ketika Andi membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di atas tempat tidur.
“Masa..?” Andi terkejut dan segera bangkit, memunguti pakaiannya di lantai. Ina membantu kekasihnya berpakaian.
Kim mengeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua, dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi.
“Ikut, Say.” Ferry mendadak muncul di belakangnya.
“Nanti sabunkan punggungku, okay..?”
“Hore,” Ferry bersorak, membukakan pintu kamar mandi dan mendorong Naryo yang masih sibuk menutup retsleting celananya keluar.

“Kim, aku senang kamu kembali seperti biasa.”
“Memangnya aku kenapa..?”
Ferry mengusapkan sabun di tangannya ke punggung putih gadis di depannya.
“Beberapa hari terakhir kamu terlihat sedikit murung.”
“Masa..?”
“Iya.” Ferry mengangkat gayung dan membasuh punggung Kim dengan air.
“Ah, aku tidak merasa demikian.”
Ferry tersenyum mendengar kebohongan Kim, “Sudah.”
Kim berdiri dan membuang rambutnya ke belakang, “Thanks.”

“Lalu..?”
“Lalu apa..?” Kim mengambil air dengan gayung dan menyiramkannya ke tubuhnya.
“Hanya menyabuni saja..?” protes Ferry dari belakang.
“Dasar,” gerutu Kim, “Sini..!” Kim meletakkan gayung di tangannya ke pinggir bak mandi dan membalikkan tubuhnya.
Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Ferry dan menempelkan dadanya yang basah ke dada telanjang lelaki itu. Ferry mendesah dan mengecup bibir gadis di hadapannya. Kim mengangkat paha kanannya dan menurunkan pinggulnya menduduki kemaluan lelaki itu, menjepitnya di lipatan pahanya. Ferry mendesah dan menekan pinggulnya ke atas.

Kim mengecup bibir Ferry dan melumatnya dengan penuh nafsu, membuat Ferry terengah dan menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya ke bibir kemaluan Kim. Ferry menekan tubuh Kim, mendorongnya hingga bersandar ke dinding, Kim mendesah dan mengetatkan rangkulannya pada tengkuk Ferry, mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu. Ferry menahan bobot tubuh Kim dengan pahanya, menggerakkan pinggulnya menggesek dan menekan kemaluan gadis itu berulang-ulang.
“Fer..” Kim terengah.
Ferry memandang wajah gadis di dekapannya yang masih basah oleh air, “Ya..?”

Kim mendadak tersenyum dan menurunkan kaki kanannya, “Sakit, bego.”
Ferry tertawa kecil, “Lalu..?” Pinggulnya menekan sedikit lebih keras. Kim mengaduh dan menundukkan kepalanya, mengigit hidung lelaki itu.
“Aduh,” Ferry mengerang dan melepaskan pelukannya.
Kim tertawa, membiarkan Ferry yang sibuk memegangi hidungnya. Gadis itu mengambil gayung di pinggir bak, memasukkannya ke dalam air dan menyiramkannya ke tubuh Ferry yang masih memegangi hidungnya.
“Mandi, Say. Biar segar.” Ferry mengumpat kalang kabut.
“Tegaa..”

Kim mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ferry memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk gadis itu. “Kim.”
“Ya..?”
“Apa sih sebenarnya aku bagimu..?”
Kim tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lelaki itu.
“Sahabat yang aku sayangi.”
Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam, “Terserah kamu, deh.”
Kim menangkap nada kekecewaan itu dalam nada suara Ferry.
“Tunggu.”

Ferry melihat Kim mengambil gayung sekali lagi, dan menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke lubang kunci di pintu kamar mandi. Terdengar suara seseorang memaki-maki dan beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Ferry mengenakan handuknya dan membuka pintu, melihat Andi yang masih menatap rokok basah di tangannya.
“Padahal tinggal sebatang,” ratapnya.
Kim tertawa-tawa kecil dan melangkah keluar.

BAB IX

Jojo terlempar, tendangan yang mengenai rusuk kirinya begitu keras. Lelaki itu hampir bisa merasakan setiap tulang rusuknya yang berderak patah. Matanya menatap nanar ke arah orang yang menendangnya.
“Bangsat.”
Lelaki berambut panjang itu mendekati Jojo dan mengayunkan kakinya sekali lagi ke tubuh yang mesih tertelungkup itu. Jojo merasakan nyeri di tulang pipinya, pandangannya sedikit gelap sekarang. Ia dapat mendengar lelaki itu tertawa sinis saat menjambak rambutnya.

“Dengar, Tikus,” lelaki itu mendesis di telinganya, “Dewi fortuna takkan menghampirimu saat ini. Bersyukurlah aku masih mengasihani nyawa tikusmu.”
Lelaki itu menghantamkan kepala korbannya ke aspal.
Dari sudut matanya Jojo masih sempat menyaksikan beberapa pasang kaki itu melangkah menjauh sebelum gelap menyelimuti otaknya.

Ardi memainkan senar gitarnya dengan lincah mengikuti suara radio.
“Di, katanya minta kopi.”
Ardi menatap Inge yang berdiri di depan pagar sambil membawa secangkir kopi.
“Wah, aku sampai lupa.” Lelaki itu berdiri dan menghampiri gadis yang masih meruncingkan bibirnya. “Ayo, masuk dulu.”
“Katanya minta kopi, akhirnya aku juga yang mesti repot membawanya ke sini,” gadis itu mengomel panjang lebar.
“Kan sekalian saja.”

Ardi memeluk tubuh Inge dari belakang, meletakkan telapak tangannya di buah dada si gadis. Inge menggeliat dan kopi itu nyaris tumpah dari tangannya.
“Hei..! Nanti dilihat orang,” Inge berseru.
Ardi tertawa. mengambil kopi itu dari tangan Inge dan meletakkannya di atas meja kecil di teras.
“Lagi main lagu apa, Di..?”
“Biasa, Sweet Child o’ Mine, buat inagurasi adik kelas besok.”
“Keren,” Inge berkata sambil mengambil gitar yang tergeletak di teras, mencoba bergaya seperti gitaris kenamaan dan memetik beberapa senar dengan jemarinya yang lentik.

Ardi tersenyum mendengar suara sumbang itu, menghampiri Inge dan berbisik di telinga gadis itu, “Sana, pulang. Masih banyak pelanggan yang menunggu cewek manis.”
Inge meruncingkan bibirnya, “Jadi kamu tidak..?”
Lelaki itu tertawa dan tangannya bergerak cepat mencubit payudara si gadis.
“Nanti malam saja.”
“Dasar.”

“Di..”
Ardi menolehkan kepalanya, beberapa orang pemuda memasuki pekarangan dengan terburu-buru.
“Ada apa..?”
“Gawat, Di,” salah seorang dari mereka berkata. Ardi menoleh sejenak ke arah Inge yang memandang bertanya-tanya.
“Inge, kamu pergi, sana.” Inge mengangguk dan melangkah ke luar.
“Jadi..?”
“Jojo dibantai orang.”
Ardi terkesiap, “Di mana dia sekarang..?”
“Di Syaiful Anwar.”

Tanpa banyak omong Ardi bergegas mengambil jaketnya di ruang tamu, menyusupkan samurai pendek itu ke lipatan celananya dan mengajak teman-temannya segera berangkat. Selama perjalanan ia menjadi sedikit bingung menghadapi inagurasi besok, karena Jojo adalah vokalis grup band-nya. Jika Jojo cidera, siapa yang akan menggantikannya..?

Ardi menatap Jojo yang telentang di atas tempat tidur UGD dan menggelengkan kepalanya. Wajah lelaki itu terlihat penuh lebam, beberapa lilitan perban melingkari dada dan perutnya.
“Siapa, Jo.”
Jojo menatap dengan sayu, kesadarannya belum pulih benar.
“Sepertinya anak Dinoyo, berambut panjang, kurus,” desahnya lirih.
“Kamu pasti..?”
“Entahlah,” Jojo mengerenyitkan alisnya, “Yang penting dia tahu kalau aku anak band, dan orang Surabaya. Argghh..”
Ardi memanggil perawat yang segera datang dan menyibukkan dirinya menenangkan Jojo yang mulai mengerang kesakitan. Ardi memandang dengan iba ke arah temannya, nyaris bisa merasakan kenyerian tulang rusuk Jojo yang patah.

Ardi melangkah keluar menghampiri teman-temannya, “Ayo berangkat.”
“Kemana, Di.”
“Ferry, dia pasti tahu.”
Teman-temannya saling berpandangan dengan hati berdebar-debar mendengar nama itu. Mereka tahu sifat emosional Ardi yang terkadang membuatnya begitu impulsif, tapi Ferry..? Setelah sekian lamanya mereka bergencatan senjata..? Ini gila.

BAB X

“Ferry..! Balikin..!” Anya berteriak-teriak, menimbulkan sedikit kegaduhan di warung nasi pecel itu.
Ferry tertawa lebar dan mengangkat foto itu tinggi-tinggi, “Hahaha, ternyata kamu ada ‘mata’ dengan anak dosen itu, ya..?”
Teman-temannya yang lain tertawa melihat gerakan Anya yang menggapai-gapai foto di genggaman lelaki tinggi besar itu.
“Fer.”
Ferry membalikkan tubuhnya, melihat Naryo dan beberapa temannya sudah berdiri dan melangkah keluar dari warung. Ferry mengembalikan foto itu kepada Anya, dan menyusul keluar.

“Ada apa..?”
“Siapa yang keluar ke kota sekitar pukul tujuh tadi..?”
Ferry melangkah mendekati lawan bicaranya.
“Yang sopan, Mas. Jangan langsung main serobot.”
Lelaki itu bergerak turun dari sepeda motornya, mendekai Ferry dan menatap wajahnya lekat-lekat.
“Aku bertanya, Fer.”
Ferry menatap tajam ke mata Ardi dan menggeram.
“Aku bilang, yang sopan kalau bertanya,” desisnya.

Ardi menggerakkan lengannya mencengkeram kerah baju lelaki itu, Ferry menepis dengan sikutnya. Beberapa orang yang mengelilingi mereka terlihat bersiap-siap memasang kuda-kuda. Para pemilik warung bergegas menyembunyikan piring, gelas, serta barang pecah belah lainnya.
“Tenang saja, Bu,” gadis yang masih asik menghabiskan nasi pecelnya itu berkata, “Tidak mungkin di sini, kok.”
Ibu penjaga warung itu menggaruk-garuk kepalanya sambil mendesah lega. Bagaimanapun, perkataan gadis ini selalu bisa dipercaya, pikirnya. Ferry menatap dengan garang ke arah lelaki di hadapannya.
“Kalau ada kenapa..? Ada masalah..?”
Yang diajak bicara menggeram dan mendesis, “Selesaikan seperti dulu.”
“Man on man..?”
“Sure.”

“Kamu tidak ikut kan, Kim..?” Anya mendesah ragu.
“Kenapa tidak,” sahut Kim, menyerahkan lembar dua puluh ribuan kepada ibu penjaga warung, “Kembalinya besok saja, Bu.”

“Jangan dekat-dekat, Kim. Aku takut.”
Kim membatalkan niatnya untuk mendekat, mengambil tempat di samping Anya yang segera memegang lengannya kuat-kuat.
“Tunggu. Sebenarnya ini masalah apa..?”
Ardi menatap lelaki itu dan tersenyum penuh arti.
“Ini dulu. Yang lain belakangan.”
Ferry tertawa dan melepaskan jaketnya, “Tentu saja.”

Suasana konstruksi bangunan itu semakin mencekam. Kegelapan malam menimbulkan kesan tersendiri yang menemani hati orang-orang yang berdegup kencang melihat kedua ketua gerombolan itu bersiap mengambil kuda-kuda.

“Aku rindu kamu, Fer.” Ardi berseru sambil mengayunkan lengannya.
Ferry membungkuk dan menggerakkan lengan kirinya, menusuk perut Ardi dengan buku-buku jemarinya. Ardi menggeram dan menarik kembali sikutnya, membuat kepala Ferry terlempar.
“Bagus,” Ferry berseru menjatuhkan dirinya sambil menendang dengan kaki kanannya, Ardi terhuyung ke belakang.
Ferry melompat mendekat dan melemparkan tinju kanannya yang segera ditangkis oleh ayunan lengan musuhnya. Ardi mengayunkan lengan kanannya dan menghantam rahang musuhnya yang segera terdorong beberapa langkah ke samping.
“Kurang cepat..!” teriaknya.

Ferry tersenyum pahit dan menggulingkan tubuhnya, menghindari tendangan ke arah perutnya.
“Masa..?” tawanya.
Tangannya memegang kaki musuhnya yang baru menjejak tanah dan mengangkatnya ke atas. Ardi merasa kepalanya sedikit pening ketika mencium tanah di bawahnya.
“Hahaha..” Ferry tertawa melihat gelagat musuhnya yang bergulingan memegangi kepalanya, kakinya terangkat siap menjejak.
Ardi mendadak berguling dan mengayunkan kakinya ke arah kemaluan Ferry.
“Aduh, curang.” Ferry terjatuh memegangi kemaluannya yang tertendang.
Seketika, kerumunan orang itu bergerak berbarengan.

“Sudah..!”
Anya terhenyak mendengar teriakan sahabatnya.
Kim berlari ke tengah kerumunan sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.
“Lagi-lagi Kim.” Ardi memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Ferry tertawa dalam kenyeriannya.
Kerumunan orang itu sejenak merasa lucu melihat kedua orang yang terduduk di atas tanah sambil tertawa-tawa. Kim meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandangi kedua lelaki itu bergantian.
“Hihi.. kalian terlihat konyol. Apa tidak malu..?”
Beberapa saat kemudian gadis itu tertawa. Semua orang ikut tertawa mendengar selorohan Kim.Suasana tegang mendadak berubah renyah.

“Jadi ada apa sebenarnya..?”
Ardi menempelkan tissue itu ke kepalanya, berusaha menghentikan aliran darah yang masih tersisa. “Ada yang memukuli Jojo, tadi, sekitar pukul tujuh.”"Ah..?” Ferry cukup mengenal Jojo, angkatan adik kelasnya dari Surabaya. Seingatnya, anak itu tak pernah mencari masalah, “Lalu..?”
“Entahlah.”
“Maksud kamu..?”
“Jojo merasa pernah melihat anak itu berkeliaran di seputar Dinoyo.”
“Oh..?” Ferry terkesiap, “Bagaimana ciri-cirinya..?”
“Rambut panjang, kurus, dan menurut Jojo, kemungkinan juga seorang dari Surabaya.”
“Surabaya..?” Kim mendesah lirih.

Ferry dan Ardi memandang heran atas reaksi Kim yang sedang memegangi botol Betadine di sebelah mereka. Namun mereka tidak terlalu mengacuhkannya.
“Dari mana ia tahu kalau orang itu anak Surabaya..?”
“Katanya, si gondrong itu sempat berkata ’sejak dulu aku selalu ingin memukuli kamu’, dan semacam itulah.”
Ferry menganggukkan kepalanya, “Berarti cerita lama, dong..?”
“Mungkin. Dan Jojo baru masuk ke sini setahun. Berarti orang itu memang memburunya.”

“Tunggu,” seseorang berkata, “Kalau gondrong, kurus, anak pindahan..”
Ferry dan Ardi menoleh ke arah Anya. Kim memandang dengan penuh perhatian, hatinya berdebar. Mungkinkah..

Bersambung ke bagian 04

Ventura 02

Ventura 02

Sambungan dari bagian 01

BAB IV

Kerumunan orang itu menjadi ramai ketika Ferry dan Kim tiba.
“Woy, Boss datang.” Ferry melangkah turun dari macannya dan menebarkan senyumnya ke arah kerumunan orang itu.
Seorang lelaki kurus mendekatinya sambil berseru, “Gila nih, habis bercinta di mana..?”
Lelaki itu merasakan kepalanya terdorong maju dan tubuhnya limbung.
“Bercinta kepalamu.” Kim tertawa menyaksikan lelaki itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Naryo tertawa juga melihat bibir Kim yang meruncing, “Kirain.”
Kim mendekatinya, dan Naryo kali ini berhasil menghindari ayunan lengan itu.

“Sudah, sudah.” Ferry tergelak melihat kekonyolan teman-temannya.
Kim mendekati Anya yang langsung memeluknya.
“Kim, si Donny kemarin garapanmu ya..?”
Kim hanya tersenyum, “Oh, bukan. Garapan si Ferry.”
Ferry menggerakkan lengannya menyapu udara.
“Kalau kalian saksikan cara Kim mengayunkan potongan kursi itu. Wah.”
Lima belas orang anak muda itu langsung tertawa berbarengan. Kemeriahan itu hanya ada bila Kim ada di antara mereka. Kalau hanya ada Ferry, mereka justru merasa sedikit seram dan kaku. Dan mereka tahu, hanya Kim yang mampu menjinakkan Boss mereka.

“Siapa tuh..?”
Ina menoleh ke arah lirikan Kim. “Oh, itu anak pindahan.”
Kim memandangi tubuh kurus lelaki berambut panjang itu dengan seksama.
“Katanya sih, dari Surabaya.” Anya membisiki kupingnya.
“Keren juga.” bisik Kim menunjukkan raut wajah tertarik.
“Kim, si Boss ngeliatin, tuh. Awas cemburu melambai.”
Kim menatap Ferry di kejauhan den menjulurkan lidahnya.
“Biar saja, emang gua pikirin.”
Ina tertawa. Anya menyikut rusuk Ina, ketika Kim bangkit berdiri dan mendekati lelaki itu.

“Bisa pinjam korek..?”
Lelaki itu menoleh, menatap gadis di belakangnya. Sejenak lelaki itu merasa rokoknya hampir terlepas dari bibirnya.
“A.. ada.” ucapnya tergagap-gagap.
Kim tersenyum saat lelaki itu menyalakan zippo-nya.
“Thanks.” ucapnya dan berlalu, meninggalkan si lelaki gondrong yang masih terpana seakan baru saja didatangi bidadari surga.
“Pin..? Hoi.”
Lelaki itu menoleh, melihat temannya yang nampak sedikit gugup.”Huh..?” ucapnya singkat, sebelum matanya menatap kembali ke arah bidadari barusan yang kini juga menatapnya bersama teman-temannya.

Sebuah lengan menepuk bahunya. Papin melihat sosok tinggi besar yang berdiri tersenyum di sebelahnya yang menunjuk ke arah zippo-nya yang masih menyala.
“Eh..?”
“Minta apinya.” orang itu berkata pelan.
Papin menyodorkan zippo-nya yang masih menyala.
“Jangan lupa ditutup. Nanti cafe-nya terbakar.” seloroh orang tinggi besar itu. Papin memandangi orang itu yang melangkah menuju ke arah bidadari tadi.
“Aku berusaha mengatakannya kepadamu.”
“Ah..? Apa..?” Papin menoleh ke arah temannya yang kini sudah mengeluarkan keringat dingin.
“Kenapa..?” tanyanya.

“Anak pindahan.”
Kim menatap berang ke arah Ferry yang sudah mengambil posisi bersila di sebelahnya, “Lalu, kok ada bau intimidasi..?”
Ferry memandangnya dan hanya tertawa. Ina dan Anya ikut tertawa geli menyaksikan Ferry dan kecemburuannya. Kim mengomel dan menusuki roti bakar di depannya dengan gerakan berulang-ulang. “Hanya informasi situasi.” Ferry berkata pendek di dekat telinga Kim dan beranjak kembali menuju teman-temannya di seberang.
Kim sempat melihat lelaki gondrong itu melirik dan tersenyum kepadanya, sebelum memalingkan wajahnya ketika Ferry melintas dengan sedikit menggeram. Ketiga cewek itu tertawa bersamaan melihat reaksi si lelaki gondrong yang terlihat gugup.

BAB V

Kim sedang menikmati lantunan musik melalui walkmannya ketika telpon di ruang tamu berdering.
“Hallo..?”
“Kintan..?”
“Yow. Siapa ini..?”
“Donny.”
Ah, si Donny. Ada apa lagi dengan anak ini, tanya Kim dalam hatinya.
“Aku ada di depan, bukain pintu. Aku ingin cerita sesuatu. Masalah Maya.”
“Oh. Baiklah.” Kim menutup gagang telepon, melangkah menuju pintu.

Tangan itu menutup mulutnya dan membantingnya ke sofa.
“Aduh,” Kim mengerang saat kepalanya menyerempat tembok, “Apa-apaan ini?”
Donny melihat ke arah gadis itu, matanya menyala-nyala penuh kebencian. Kim melihat beberapa orang lelaki lain berdiri di belakang Donny. Wajah-wajah itu tak pernah dilihatnya sebelumnya. Itu..

Salah serang lelaki melangkah mendekat, Kim mencoba berdiri dan menghindar, namun gerakan lelaki itu begitu cepat. Lelaki itu merangkul tubuhnya dan menindihnya di atas sofa, menduduki kaki Kim dengan berat tubuhnya. Donny berjongkok, mendekatkan bibirnya di wajah si gadis.
“Kamu tahu berapa cewek yang lenyap di Malang setiap minggu..?” desisnya.
Lelaki-lelaki di belakangnya dan tertawa ketika melihat raut wajah ketakutan yang memancar dari gadis itu.
“Kamu. Kamu mau apa..?” ucap Kim berusaha menenangkan hatinya.
Lelaki yang menduduki kakinya tertawa, “Memperkosamu, membunuhmu dan membuangmu ke balik semak-semak.”
Kim menjerit tertahan. Donny dan lelaki-lelaki lain di belakangnya tertawa-tawa saat menyaksikan tangan kekar lelaki yang menindih tubuh gadis itu bergerak dan memutus kancing baju si gadis, memperlihatkan tonjolan buah dada yang putih mulus tanpa cacat. Kim mengerang dan berusaha meronta ketika lengan lelaki di atasnya menarik branya dan membuat payudaranya menyembul keluar.

“Jangan..!”
Kim merasa sekujur tubuhnya melemas ketika tamparan lengan kekar itu mengenai pipinya. Kim merasa pandangannya menjadi nanar, ia hanya bisa mengeluh pelan ketika tangan si lelaki di atasnya menarik celana pendek yang dikenakannya dan meremas-remas kemaluannya. Donny dan empat orang lelaki lainnya menyaksikan dengan penuh gairah.
“Ji, jangan lama-lama.” salah seorang di antara mereka berseru.
Wiji tersenyum dan menggeram, mengeraskan pijatannya pada kemaluan gadis di bawahnya. Kim menjerit tertahan. Wiji menampar pipi si gadis sekali lagi, membuat kepala Kim terlempar ke samping.

Lelaki itu menarik celana dalam Kim melewati pahanya, kawan-kawannya berseru tertahan menyaksikan keindahan di depan mata mereka. Wiji mendecak kagum, menundukkan kepalanya dan menghisap puting payudara Kim dengan bernafsu, sementara tangannya merogoh dan menggesek liang vagina si gadis dengan jari tengahnya. Kim mengerang, kepalanya terasa pening. Seorang di antara gerombolan itu memegangi tangannya yang terangkat, menahannya dalam posisinya. Kim merasa sangat ketakutan di sela nanar matanya dan kepeningannya. Ketakutan yang wajar bagi seorang gadis yang akan mengalami kejadian yang lebih mengerikan daripada kematian sendiri. Kim mengeluh pasrah, rontaannya tidak membawa hasil. Donny menjulurkan lengannya dan meremas-remas payudara Kim dalam genggamannya. Wiji dan teman-temannya tertawa melihat geliat Kim saat Donny menundukkan kepalanya dan menjilat pusar si gadis. Kim merasa segalanya menjadi gelap.

“Ah, anak-anak Bungurasih ada di sini, rupanya. Kupikir tadinya hendak menyapa kalian begitu melihat sepeda motor plat L yang sangat kukenal di depan.”
Donny dan gerombolannya menoleh ke arah pintu, melihat seorang lelaki kurus yang bersandar di daun pintu dan menyalakan rokok di ujung bibirnya.
“Batak..?” Wiji terdengar berseru tertahan.
Donny menatap keempat temannya yang lain yang juga terbelalak menyaksikan sosok kurus itu.

Lelaki kurus itu membuka topi SOX-nya dan membiarkan rambutnya terjurai di sisi bahunya. Matanya menatap tajam ke arah keenam lelaki di depannya, dan mendengus saat melihat gadis yang terpejam di atas sofa.
“Batak, kan..?” Wiji mengangkat tubuhnya dan mendekati si lelaki kurus, mengulurkan tangannya.
Lelaki kurus itu hanya menghembuskan asap rokok dari ujung bibirnya, tidak menunjukkan reaksi atas jabatan tangan yang terjulur di depannya, “Wiji, Johan, Rawit, Kemang, Putut, dan..”
Lelaki kurus itu menujuk tiap orang yang ada di situ dengan lirikan matanya. Donny merasakan keheningan teman-temannya, “Aku Donny.”
“Ah, Donny. Dan kamu pasti anak Malang.”
“Benar.”

Lelaki kurus itu melangkah mendekati gadis yang masih tergolek tak berdaya di sofa. Tangannya terjulur, membetulkan letak baju si gadis. Donny memandang kebingungan ke arah teman-temannya yang hanya terdiam menyaksikan kejadian itu.
“Kamu siapa?” tanyanya sedikit keras.
Wiji memegang pundaknya. Donny menoleh dan melihat Wiji menggelengkan kepalanya.
“Mereka memanggilku Batak.” lelaki itu mendesis tanpa menoleh.
Lelaki kurus itu bangkit berdiri, menatap Donny dengan matanya yang tajam.
“Berapa kamu membayar mereka..?”
Donny terhenyak merasakan tajamnya mata lelaki itu.
“Aku.. aku..”

Kepalanya terangkat dan tubuhnya terlempar menubruk dinding ketika telapak sepatu lelaki kurus itu menghantam rahangnya dengan gerakan di luar dugaan siapapun di ruangan itu.
“Aku tak suka ini.” lelaki kurus itu menghela nafas.
Wiji dan teman-temannya hanya menatap diam ketika pandangan lelaki kurus itu menyapu perasaan kagum mereka akan gerakan si lelaki kurus saat mengangkat kakinya lurus di atas kepalanya.

“Tak.. ini.. kami..” Rawit bergumam lewat giginya yang tonggos.
“Bawa anak ingusan itu pergi dari sini.”
Kelima orang itu hanya terdiam mendengar perintah itu. Mereka ragu-ragu.
“Ji, kamu masih ingat rasanya patah kaki..?” lelaki itu mendesis.
Wiji, yang agaknya kepala rombongan itu mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya. Kepalanya bergerak ke samping. Keempat lelaki lainnya tergopoh-gopoh mengangkat tubuh Donny yang mengucurkan darah dari mulutnya.
“Aku tak ingin berita ini keluar dari ruangan ini.” seru si lelaki kurus.

Lelaki kurus itu menunggu sampai gerombolan orang itu pergi, menutup pintu dan menghela nafasnya dalam-dalam.
“Bahkan di sini kegelapan belum melepaskanku.” desisnya lirih.
Lelaki itu membalikkan tubuhnya, menatap si gadis yang masih tergolek lemah, lelaki itu merasakan ketakutan dari bahu si gadis yang sedikit bergetar dan alis matanya yang berkerut. Lelaki itu menarik taplak meja, menutupi bagian tubuh si gadis yang terbuka, melangkah ke pintu, mengunci pintu itu dari luar dan melemparkan kuncinya ke dalam lewat celah jendela, berikut selembar kertas yang terlipat.

“Bidadari yang bodoh,” senyumnya sebelum memasang lagi topi SOX-nya dan meninggalkan tempat itu.

BAB VI

Ina memeluk tubuh Kim dan berusaha menenangkan sahabatnya. Anya membaca lipatan surat itu, menghela nafasnya dalam-dalam.
“Kim,” ucapnya, “Bagaimanapun kalau Ferry tahu..”
Kim mengangkat kepalanya, membiarkan lengan Ina menghapus air mata yang mengalir di pipinya, “Jangan. Kasihan Maya.”
“Maya lagi. Maya lagi.” Ina mengomel di sebelahnya, “Kamu lihat kan apa yang dilakukan Donny kepadamu..? Masih juga memikirkan Maya..?”
Kim terdiam, pikirannya terasa kacau.
“Ya sudahlah,” Anya berkata, “Kalau memang maumu seperti itu.”

Ina menatap lembaran kertas di tangan Anya yang bertuliskan ‘JANGAN’ itu dengan seksama.
“Siapa ya orang yang menolongmu..?”
Kim mencoba mengingat apa yang terjadi, namun semuanya terasa samar.
“Batak,” desisnya lirih, “Namanya Batak.”
“Batak,?” Anya bertanya bingung.

Ina bangkit berdiri, membukakan pintu. Anya menahan tubuh Kim yang berusaha bangkit dari atas sofa.
“Ada apa lagi, Bangsat..?” Ina mendesis sambil menatap wajah lelaki di depannya.
Donny hanya menunduk, tidak berani melangkahkan kakinya masuk. Kim melihat Anya menganggukkan kepalanya.
“Masuklah, Don.” ucapnya lirih tanpa menoleh.
Ina membiarkan Donny melangkah masuk. Donny langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut di atas kedua lutunya.
“Aku mohon maaf.”
Ketiga gadis itu menatap bingung.

“Kami juga.”
Kim menoleh ke arah pintu. Anya dapat merasakan getaran di bahu sahabatnya. Lima orang yang barusan datang langsung masuk tanpa basa-basi, berlutut dan mengucapkan ‘maaf’ berbarengan. Ketiga gadis itu semakin heran. Kim lebih dahulu menyadari apa yang terjadi. Gadis itu tersenyum, membingungkan kedua sahabatnya.

“Baik. Aku maafkan kalian. Lain kali, aku akan membunuh kalian atas perbuatan kalian.” ucap Kim tegas.
Keenam lelaki itu menganggukkan kepala mereka dan keluar dengan masih merangkak di atas lutut-lutut mereka. Anya dan Ina menatap dengan penuh keheranan, sementara Kim hanya tersenyum penuh arti. Begitu orang terakhir keluar, Kim mendadak bangkit dan mengeluarkan kepalanya dari jendela. Kim sempat melihat bayangan sosok lelaki kurus berambut panjang itu mengangkat topinya di kejauhan dan membungkukkan tubuhnya seperti bangsawan abad pertengahan. Kim tersenyum, melambai dan berseru, “Terima kasih, Batak..!”

Sosok lelaki kurus di kejauhan itu menyalakan mesin sepeda motor di sebelahnya dan berlalu, diikuti keenam lelaki sebelumnya.
“Siapa sih dia..?” Ina bertanya di samping sahabatnya.
“Iya, siapa sih..?” Anya menimpali.
Kim tersenyum dan mendesah.
“Pahlawanku.”
Ina dan Anya saling menatap dengan bingung.

Bersambung ke bagian 03

Ventura 01

Ventura 01

Sinopsis: Dengan dukungan Ferry, preman kompleks, Kim menghajar habis-habisan Donny yang telah menyetubuhi Maya pada saat Maya setengah sadar akibat Ineks. Penganiayaan ini menyulut bara dendam, dan ketika Kim tanpa perlindungan Ferry, Donny beserta orang-orang bayaran berencana memberikan pelajaran mengerikan kepada gadis manis ini.

Prolog:

Surabaya, 2000

Kim membuka matanya lebar-lebar, berusaha menahan kantuk yang mulai menyerangnya. Kepengapan ruang kerja ini sedikit merisaukannya. Aku harus segera pulang, pikirnya. Dibereskannya kertas-kertas kerja di mejanya, mengangkat cangkir kopi yang sudah kosong itu dan menaruhnya di samping pintu. Mematikan lampu dan bergegas menuju lift.

Lampu-lampu malam kota masih terlihat indah menjelang dini hari. Sopir taksi yang ditumpanginya menatap penuh rasa ingin tahu dari balik kaca spion penumpang. Kim tidak mengacuhkan pandangan itu, dan menikmati angin pagi segar yang masuk melewati celah jendela membelai ubun-ubunnya. Kim berusaha melupakan tumpukan pekerjaannya yang belum selesai.

Kim menghisap rokok di ujung bibirnya dalam-dalam, meresapi kelelahan yang mulai menusuk otot dan tulang di tubuhnya. Dalam kenikmatan asap rokok yang dirasakannya, benaknya melayang akan persimpangan alur kehidupannya yang terjadi empat tahun yang lalu, yang terasa begitu cepat dilaluinya. Saat-saat ia masih duduk di bangku kuliah, saat-saat bahagia bersama sahabat-sahabatnya, di sebuah rumah kontrakan kecil yang hanya ditempatinya seorang diri.

BAB I

Malang, 1996

“Ahk,” Kim mendesah lirih saat Han meremas payudaranya, bibirnya terbuka, mencuri sedikit udara saat lumatan pria itu mencapai bibir bawahnya.
“Aku menyukaimu, Kim.” Han berbisik di telinga gadis itu.
Kim memegang pundak Han dan mendorongnya menjauh. “Sayang,” cetusnya, “Tapi bukan seperti ini yang kuinginkan.”
Han tertawa. Lelaki itu mendekatkan lagi dadanya yang telanjang, tangannya terjulur dan menggapai payudara Kim yang masih meruncingkan bibirnya. “Masa..?”
“Hentikan, Han..!” Kim mendorong tubuh lelaki itu menjauh, bangkit berdiri dari sofa, memunguti pakaiannya dan mengenakannya.
“Kamu sebaiknya pulang sekarang.”
Han mendengus dan bangkit berdiri. “Kamu sulit juga, ya..?”
Kim tersenyum miring, “Kamu kurang pandai. Sayang sekali.”

Han mengenakan kausnya, menatap tubuh molek itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu sesuai dengan reputasimu.”
“Thanks.”
“Tantangannya juga.”
Kim tertawa, membalikkan tubuhnya, mendekati Han yang masih menatapnya. Kim mengangkat lengan lelaki itu, meletakkan tangannya di payudara kirinya dan berbisik, “Pulang, gih. Lain kali coba lebih perlahan, jangan terlalu agresif.”
Han mencoba mengecup bibir gadis itu, tapi Kim sudah beranjak ke arah pintu dan membukanya.
“Kim.”
“Apa lagi..?”
“Kalau kamu suatu hari nanti merindukan hubungan serius..”
“Iya, iya,” Kim mendorong tubuh lelaki itu keluar, “Aku tahu.”

Kim menutup pintu di depannya, kemudian menghampiri telepon yang mendadak berdering.
“Halo..?”
“Kim..?”
“Ah, Roy. Wazzup..?”
Suara di seberang memperdengarkan tawa renyah, “Sibuk..?”
“Ah, ngga juga. Kenapa..?”
“Jalan yuk..?”
Kim mendesah, merasakan pening di kepalanya.

“Lagi M, nih. Malas maksudnya.”
“Yah. Okelah, lain kali..?”
“Sure.”
Kim meletakkan gagang telepon itu, mengutuk kepada pening yang masih mengguncang kepalanya. Diayunkannya langkah kakinya menuju lemari ruang tamu. Alisnya berkerut ketika Neuralgin itu memasuki tenggorokannya. Kim menarik kerah bajunya, berdecak sebal saat melihat bekas gigitan itu di atas payudaranya.
“Lelaki sial.” geramnya.

BAB II

Maya memandang Kim yang masih sibuk menghabiskan jus jeruknya.
“Kim.”
Kim menolehkan kepalanya menatap sahabatnya. “Apa..?”
“Aku tadi malam melakukannya dengan Donny.”
Kim membelalakkan matanya, mengambil tissue dan mengusap sedikit air jeruk yang sempat menetes di sudut bibirnya, “Donny..?”
“Iya. Donny.”
Bibir bawah Maya mulai bergetar, bulir air mata mulai mencoba menembus kantung mata gadis itu. Kim menyodorkan kotak tissue di depannya.

“Bagaimana bisa..?” tanyanya dengan nada marah.
Maya mengusap air matanya yang mulai mengalir, “Ineks.”
Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, menyalakan sebatang mild hijau yang terselip di bibirnya.
“Cih, sejak kapan kamu selemah ini..?” desisnya.
“Aku bukan kamu, Kim.” desah gadis di sebelahnya.
Kim terhenyak sesaat. Arogansi keberadaannya telah membuatnya begitu unggul di hadapan teman-temannya. Dan itu sangat disadarinya. Kim menghembuskan asap rokok dari sudut mulutnya, menatap ke arah kolam ikan di depannya.

“Lalu dia bagaimana..?”
Maya menghela nafasnya dalam-dalam, “Entahlah.”
“Kok ‘entahlah’..?”
“Katanya karena dasar suka sama suka..”
“Hei,” Kim memotong ucapan Maya, “Suka sama suka..?”
Maya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, tubuhnya bergoyang-goyang menahan emosi yang meluap di dadanya.
“Ferry bisa menghabisinya sekarang.” geramnya.
“Jangan, Kim.” Maya memegangi lengan sahabatnya erat-erat.
Kim mengerang dan mengangkat kedua lengannya ke atas.
“Ya sudah, kalau itu maumu.”

Maya menjatuhkan kepalanya di bahu Kim dan membiarkan lengan Kim merangkulnya dan mengusap ubun-ubun kepalanya.
“Aku sayang Donny, Kim.”
“Aku tahu.” bisik Kim lirih.

Kim mengayunkan potongan kaki kursi itu dan menikmati darah yang mengucur dari sudut bibir lelaki di hadapannya.
“Bangsat..!” geramnya.
Lelaki lain yang memegangi lengan lelaki sebelumnya hanya tertawa menyaksikan keberingasan gadis di depannya, “Hajar saja, Kim.”
Kim mengerang penuh kemarahan dan menusukkan ujung kaki kursi itu ke lambung lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu menjerit tertahan dan membungkukkan tubuhnya.
“Lepaskan dia, Fer.”
Ferry melepaskan tubuh yang segera tersungkur di tanah itu sambil tertawa sinis. Kim membungkuk, menjambak rambut lelaki itu dan berbisik di telinganya.
“Aku tak suka ineks, tapi aku sayang dengan sahabat-sahabatku.”

Lelaki itu hanya mengerang tak jelas. “Dan,” Kim meneruskan bisikannya, “Jika aku mendengar kau meninggalkan Maya, atau memberitahukan kejadian ini kepadanya..” Kim melemparkan kepala lelaki itu ke tanah, mengangkat tubuhnya dan melayangkan kakinya ke wajah lelaki itu.
Ferry menyaksikan semua itu sambil tertawa-tawa kecil. “Sudahlah, Kim. Dia pasti sudah sangat mengerti maksudmu.” ucapnya beberapa saat kemudian.
Ferry mengambil potongan kaki kursi itu dari genggaman Kim, merangkul pundak gadis itu yang masih berguncang dan menuntun gadis itu pergi. Kim meronta, melangkah dan menatap teman-teman lelaki yang terhajar itu dengan garang, “Kalian..!” umpatnya.

“Pengecut-pengecut..! Dengar..! Kalau kalian tidak terima, sekarang boleh maju..!”
Ferry tersenyum, “Kalian akan melangkahi aku dulu, tentunya.”
Kerumunan lelaki itu hanya terdiam dan menatap ke ujung kaki mereka masing-masing, gentar akan gertakan terakhir yang keluar dari preman kompleks bertubuh kekar di belakang si gadis. Kim meludah dan membiarkan lengan Ferry membawanya pergi.

“Bangsat-bangsat itu..!” Kim mendesis penuh kegeraman.
“Sudahlah, Kim.” Ferry berusaha menenangkan sahabatnya, “Mereka toh hanya melihat, lagipula si Donny sudah menerima pesanmu, kan..?”
Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya perlahan, menikmati kepulan yang membuyar di atasnya.
“Kim..”
“Yap..?”
“Bercinta, yuk.”
Kim menoleh, menatap senyuman yang tersungging di atas janggut lebat lelaki yang duduk di sebelahnya, “Jadi karena itu kamu mau membantuku..?”
Ferry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Eh.. ehm..”

Kim tertawa melihat kegugupan lelaki itu, yang menjadi sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Kim mengangkat lengannya dan menyisir rambut panjang Ferry dengan jemarinya, mengecup pipi lelaki itu, “Thanks.”
Ferry menatap tubuh gadis itu yang sudah beranjak dan mengenakan helmnya.
“Yah. Gagal lagi, deh.” gumamnya.

BAB II

“Kuadran hasil persamaan linier ini akan dapat diketahui..”
Kim berusaha keras mendengarkan ocehan bapak dosen yang terasa membosankan, lengan yang menyangga kepalanya mulai terasa pegal.
“Kim.” Maya berbisik memanggil-manggil sahabatnya dari belakang.
Kim menolehkan kepalanya dan terpejam saat gumpalan kertas itu mengenai keningnya. Matanya menatap ke arah lemparan itu, dan melihat Maya yang menutupi mulutnya dengan alis terangkat. Kim meraih gumpalan kertas itu, mengomel kecil dan membukanya.
“Thanks berat, Kim. Maya.” bacanya dalam hati.

Kim tersenyum dan menoleh ke arah Maya, mengacungkan jempolnya dan merasakan kelegaan yang merasuki hatinya saat Maya mengedipkan matanya.
“Mbak, tolong dijelaskan kepada teman-temannya.”
“Ups.” Kim menatap dosen yang mendadak sudah berada di sebelahnya.
Kim memasang senyum ‘tak berdosa’-nya yang mau tak mau membuat Pak dosen sedikit merona dan akhirnya menolehkan wajahnya sambil mengomel panjang lebar, “Cantik-cantik bodoh, percuma saja.”
Dosen itu melangkah kembali ke depan ruangan, tidak sempat menyaksikan beberapa lengan yang memegangi gadis di belakangnya, yang sudah memasang kuda-kuda dengan sepatu sandal di tangannya.

“Aku yang akan membuatmu panas.”
Kim tertawa saat lelaki itu merangkulnya dan mengecupi lehernya, tangannya terangkat dan melingkari tengkuk si lelaki yang semakin liar menggerakkan kepalanya.
“Belum panas, tuh.” ucapnya sambil tertawa kecil.
Lelaki itu mengangkat baju Kim melewati kepalanya, meremas payudaranya yang membusung, menciumi kulit dadanya dengan bernafsu.
“Ayo, panas.” desah lelaki itu sambil sedikit terengah oleh nafsunya sendiri.
Kim meraih tali branya dan menariknya menuruni lengannya, membiarkan lelaki itu menikmati payudaranya yang telanjang, “Belum, juga.”

Lelaki itu mendengus, menciumi payudara gadis di dekapannya, melumat puting payudara dalam genggamannya, membuat Kim sedikit terengah dan menggelinjang. Kim membiarkan jemari lelaki itu membuka kancing dan retsleting celananya, menikmati jemari si lelaki yang menyusup dan mengusap-usap permukaan kemaluannya.
“Touch me.” desah si lelaki.
Kim mengulurkan lengannya, menarik celana si lelaki yang hanya terikat tali, dan merogohkan tangannya ke balik celana dalam si lelaki. Lelaki itu mendesah merasakan pijatan dan remasan tangan Kim pada batang penisnya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya, menarik celana jeans berikut celana dalam si gadis dan membentangkan kedua kaki Kim di sisi tubuhnya.

Kim meronta dan menarik lengan si lelaki, menjatuhkannya ke atas tempat tidur, dan menindih penisnya dengan pinggulnya. Lelaki itu mendesah merasakan bibir kemaluan Kim yang menindih batang penisnya. Kim menggerakkan pinggulnya, menggesek batang penis lelaki di bawahnya, membiarkan cairan vaginanya membasuh penis lelaki itu dan membuat si lelaki mengeluh penuh kenikmatan.
“Kim..” Lelaki itu mulai menuntut yang lebih saat gerakan Kim semakin liar di atasnya.
Kim tertawa kecil, membungkukkan tubuhnya dan membiarkan lelaki itu mengecup ujung payudaranya, “Apa..?”
“Aku mau.”
“Aku tidak.”

Lelaki itu membuka matanya dan menunjukkan wajah protes, namun Kim segera mengangkat tubuhnya, meraih batang penis si lelaki dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Lelaki itu tak kuasa lagi menahan ejakulasinya saat Kim menghisap ujung penisnya. Kim tersenyum dan meludah ketika menyaksikan sperma lelaki itu menyembur dan membasahi kulit dadanya.
“Teganya kamu.” desis lelaki itu sambil menyeka peluhnya.
“Baru tahu..?” Kim tertawa kecil, tangannya masih menggenggam batang penis lelaki di sebelahnya yang mulai melemas.

Bersambung ke bagian 02

Tubuh Montok Tante Deborah – 5

Tubuh Montok Tante Deborah – 5

Dari bagian 4

Setelah Anto puas dan merasa vagina Deborah sudah bersih dari lendir pelumasnya, ia langsung bangkit dan mendekatkan penisnya pada pada vagina Deborah. Dibimbingnya penis yang menegang penuh itu agar sedikit melesak masuk dibelahan vagina Tante itu. Deborah semakin tak sabar untuk segera menerima kocokan penis Anto di dalam vaginanya yang terasa semakin berdenyut tak karuan itu. Ia mendorong-dorongkan pinggulnya kebelakang, berharap agar penis Anto segera menyeruak ke dalam vaginanya.

Anto yang juga sudah tak sabar untuk memasukkan penisnya lagi ke dalam vagina Deborah langsung mendorongkan pinggulnya ke depan, dan..
Blleesshh..
“Mmhh.. Nikk.. Mmatthh..” bisik Deborah lirih.
“Ohh Tante!” Anto pun tak mampu berkata apa-apa.
“Nngghh.. Nikmat banget Sayang! Aku suka!” bisik Deborah sambil menundukkan kepalanya hingga rambutnya jatuh terurai ke lantai.

Anto kembali mengayunkan pinggulnya perlahan. penisnya keluar masuk vagina Tante itu perlahan-lahan, dan menyebabkan vagina Deborah yang terasa masih seret itu sesekali ikut tersedot keluar, kemudian saat Anto mendorong penisnya masuk, vagina itu melesak masuk ke dalam. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan.

Mereka bermain dalam tempo yang lambat. Deborah pun tak henti-hentinya meracau dan terkadang mulutnya yang seksi itu mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata kotor lainnya.

“Terus To! Hamili aku gigoloku! Oohh.. Nnngghh.. Gila penismu nikmat banget Sayang!” racau Deborah.
“Yiiaahh Tante! vaginamu benar-benar gila! penisku bisa-bisa nggak mau lepas nih! Ohh.. Ssshhtt” teriak Anto sambil sesekali menampari bokong Tante itu dengan gemasnya. Plak, plak..
“Puaskan dirimu To! Aku pelacurmu! Keluarkan spermamu dalam vaginaku Sayang! Ooohhff.. Nngghh..” Deborah semakin menggila.

Lama-kelamaan ayunan pinggul mereka semakin cepat, seakan-akan ada sesuatu yang dikejar. Teriakan dan desis keduanya berubah menjadi lenguhan. Keringat mereka bercucuran disana sini. Terkadang Anto pun menjilati punggung Deborah yang dibanjiri keringat itu. Pegangan Anto pun berpindah dari pinggul Deborah ke pundak Deborah. Tangan kanannya memegang erat pundak Tante itu, sementara tangan kirinya menjambak rambut ikal Deborah. Ia terlihat memperlakukan Tante itu dengan liarnya. Pinggulnya mengayun dengan cepat. Suara liar mereka berpadu dengan decak becek yang timbul dari kocokan penis Anto pada vagina Deborah. Bola mata Deborah nyaris berputar kebelakang saking nikmatnya. Rasanya belum pernah ia diperlakukan sebegini liarnya oleh siapapun. Ia pun benar-benar dilupakan akan statusnya sebagai ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Ia bahkan mempersetankan suaminya. Ia ingin terus diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang baru saja dikenalnya ini. Ia tak ingin kembali ke pelukan suaminya yang lebih sering membuat vaginanya terasa geli daripada nikmat. Deborah benar-benar semakin mempersetankan segalanya.

Tiba-tiba ia merasakan vaginanya berdenyut tak karuan, selangkangannya pun bergetar gila-gilaan. Ia sadar bahwa dirinya akan merasakan orgasme atau bahkan multi orgasme. Sesuatu yang teramat jarang dirasakannya bila sedang bersama suaminya. Sebenarnya ia tak ingin mendapatkan orgasmenya cepat-cepat, tetapi hati kecilnya menginginkan sesuatu yang teramat jarang didapatkannya itu. Teriakannya pun semakin liar. Goyangan pinggulnya semakin tak karuan. Dan ia pun menyadari bahwa ayunan pinggul Anto semakin menggila dan lebih cepat dari sebelumnya. Membuatnya tak sempat untuk meminta pemuda itu agar memperlambat ayunannya, bahkan untuk menarik nafas pun terasa sulit.

“Tan.. Tee aku mau keluar nih!” teriak Anto.
“Oh, yah.. Terus Sayang! Keluarkan didalam saja! Hamili aku! Beri aku anakmu Sayang! Teruusshh..!”

Deborah pun semakin tak dapat menahan orgasmenya sampai tiba-tiba.. vaginanya berdenyut hebat dan selangkangannya terasa bergetar gila-gilaan lagi, ia pun sadar bahwa ia tak akan mampu menahannya. Deborah pun pasrah menerima kocokan demi kocokan penis pemuda itu dalam vaginanya. Begitupun halnya dengan Anto yang juga sudah mendekati puncaknya, ia mempercepat ayunan pinggulnya mendorong keluar masuk penisnya dalam vagina Deborah, sampai tiba-tiba.. Pinggulnya menegang, seakan-akan memompa sesuatu yang akan meledak dari dalam selangkangannya. Ia bahkan sempat melihat Deborah menghempaskan rambutnya kesamping. Pemandangan itu benar-benar seksi. Dan..
Croott..
Meledaklah larva panas dari dalam saluran sperma Anto. Memuntahkan bermili-mili liter air mani yang panas ke dalam vagina Deborah.

“Nnngghh.. Oohhff.. Tann.. Tee.. Hhh..” lenguh Anto sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam ke dalam vagina Deborah.

Deborah yang merasakan semburan lahar panas dalam vaginanya semakin tak dapat menahan orgasmenya. Selangkangannya yang sejak tadi bergetar hebat dan vaginanya yang berdenyut gila-gilaan mencapai suatu titik yang membuatnya tak dapat menahan suaranya sendiri.

“Aaahh.. Ggghhaahh..” teriak Tante itu sambil menekankan dalam-dalam vaginanya dengan penis Anto. Ia pun mungkin tak sadar bahwa teriakannya memenuhi ruangan gudang itu.
“Ohh terus Tante! Terus Sayang!” teriak Anto yang menyadari Deborah baru saja mencapai orgasmenya. Ia terus menekan dan menempelkan erat-erat penisnya agar semakin melesak masuk ke dalam vagina Deborah.

Keduanya merasakan denyut yang gila-gilaan pada raga bagian bawah mereka. Mereka benar-benar menikmati sensasi yang baru saja mereka rasakan. penis Anto terus berdenyut-denyut memompa sisa-sisa air maninya ke dalam vagina Deborah. Begitu pun vagina Deborah, terus bergetar dan berdenyut tak karuan. Mereka bertahan dalam posisi doggie style seperti itu sambil terus menikmati sisa-sisa orgasme yang seakan-akan tak akan hilang dari raga bagian bawah mereka.

Deborah merasa lemas pada bagian lututnya. Ia tak sadar bahwa ia telah bertumpu pada posisi seperti ini dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, ia baru saja mendapat orgasme yang sanggup melemaskan seluruh persendiannya.

“Lepas dulu Sayang! Lututku pegel nih! Pelan-pelan tapi ya! Aku sebenernya nggak ingin lepas,” pinta Deborah pada Anto yang masih menancapkan kejantanannya pada lubang vagina Deborah.
“OK Tante!” bisik Anto sambil mencabut penisnya yang sudah mulai melemas tetapi tetap terlihat besar itu.
“Ssshhtt.. Ooohh..” desis Deborah saat Anto mencabut penis yang menancap dalam vaginanya. Ada perasaan geli yang bercampur nikmat saat perlahan-lahan penis pemuda itu tercabut dari vaginanya.

Deborah berguling ke lantai, bersandar pada tumpukan kardus, dengan posisi mengangkang sambil tangan kanannya mengelus-elus vaginanya yang masih berdenyut-denyut dan tangan kirinya meremasi buah dadanya. Tangan kanannya merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam vaginanya. Diraupnya lendir kenikmatannya sendiri yang bercampur dengan air mani Anto, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu. Matanya terbuka sayu dan rambutnya terurai acak-acakan. Pemandangan yang benar-benar membuat jantung Anto berdegub tak karuan.

Anto pun tak ingin ketinggalan bagian nikmat ini. Didekatinya vagina Deborah. Dijilatinya vagina yang masih basah itu dengan penuh nafsu. Dikulum dan disedotnya berkali-kali gundukan daging yang membengkak merah dan mengeluarkan lendir putih dihadapannya itu. Diperlakukan seperti ini Deborah pun menggelinjang tak karuan. Dijambakinya rambut pemuda itu. Ditekannya wajah Anto pada vaginanya. Perasaan campuran antara geli dan nikmat itu semakin menggila. Merasa perlakuannya mendapat sambutan, Anto pun semakin mempergencar lumatan demi lumatannya pada vagina Deborah..

“Gila kau Sayang! Masa masih kurang? Ooohh.. Terusshh! Mmmhh..” desah Deborah sambil menggelinjang tak karuan.
“Nggak mau nih Tante? Beneran?” Goda Anto disela-sela jilatannya pada vagina Deborah.
“Ooohhff.. Terush Sayang! Jangan berhenti! Nnngghh.. Nikk.. Mmaatthh..” desah Deborah.

Anto terus menjilati vagina Tante itu. Lidahnya yang kasar dikeluar masukkannya dalam vagina Deborah membuat Tante itu semakin diperbudak oleh rasa nikmat. Tempo permainan lidah Anto dalam relung kewanitaan Deborah berubah-ubah. Sesekali lidah kasar itu menyapu lembut vagina Deborah hanya pada bagian luarnya saja, dengan jemari Anto menguakkan labium mayora Deborah. Terkadang lidah itu menegang dan menyeruak masuk ke dalam vagina Deborah, membuat Tante itu melonjak kenikmatan.

Deborah merasa beruntung, belum pernah ia merasakan kenikmatan seperti ini. Terlebih berbuat liar seperti yang tengah ia lakukan dengan pemuda yang baru dikenalnya dan semula hendak memperkosa dirinya. Tante itu meremas-remas payudaranya sendiri dengan liar. Dipilin-pilinnya puting miliknya dengan penuh nafsu. Mulutnya pun tak henti-hentinya mengeluarkan erangan dan desahan penuh kenikmatan. Ia benar-benar diperbudak dan dipermainkan kenikmatan. Hingga suatu saat, ia merasa pinggul dan selangkangannya bergetar hebat lagi sedang vaginanya berdenyut-denyut lebih tak karuan dibanding orgasmenya tadi, ia langsung menjambak rambut Anto dan menekan kepala Anto semakin merapat dengan selangkangan dan vaginanya. Anto yang juga menyadari hal itu semakin buas dalam menjilati liang vagina dan menghisap-hisap labium mayora Tante itu.

Ia sadar bahwa Deborah akan mendapatkan orgasmenya lagi. Deborah sendiri merasa sangat keheranan saat ia merasakan sensasi itu lagi. Pikirnya mustahil ia mendapatkan orgasme yang hebat lagi, terlebih setelah orgasme trakhirnya yang langsung meloloskan seluruh persendiannya. Tetapi ia pun sangat menikmatinya. Digoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi irama permainan lidah dan mulut Anto. Semakin didekapnya kepala dan wajah pemuda diantara selangkangannya, sampai tiba saatnya ia tak dapat menahannya lagi, dan.. Crroottss.. Seerr..

“Ssstt.. Ssstt.. Aaahh.. Ggghhaahh..” teriak Deborah tak kuasa menahan suaranya yang memenuhi gudang itu.

Keduanya langsung terkejut karena ternyata dari dalam liang vagina Deborah yang sedang dijilat dan dihisap oleh Anto tersemburlah bermili liter lendir kenikmatan berwarna putih kental yang menyembur keluar berbarengan dengan air kencing. Rupanya Tante itu mendapat multi orgasme yang hebat sampai-sampai ia tak dapat menahan kencingnya sendiri yang langsung menyembur wajah Anto yang sedang berada tepat dihadapannya.

Anto yang menyadari hal itu langsung saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dijilatinya sekitar selangkangan Deborah yang dibanjiri oleh lendir kenikmatan dan air kencing Tante itu. Ditelannya semua yang berhasil ia jilat dan kulum dalam mulutnya. Hal ini tentunya membuat Deborah yang sedang mengalami masa relaksasi meringis-meringis kegelian dan men desah- desah tak karuan menahan rasa geli yang melanda seluruh bagian selangkangannya. Tetapi tubuh montoknya benar-benar lemas hingga ia nyaris tak sanggup mendorong dan menyingkirkan kepala Anto yang berada siantara selangkangannya dan sedang sibuk menjilati vaginanya dengan rakus.

Anto pun bangun dan mendekati Deborah yang sedang terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Didekatkannya mulutnya yang sedang mengulum lendir kenikmatan dan air kencing Deborah ke mulut Tante itu, kemudian dikecupnya bibir Deborah yang sedang menganga seksi.

“Nngghh..” Lenguh Deborah.

Anto langsung menyodorkan kulumannya untuk dibagi dengan Tante itu, yang langsung saja disambut penuh nafsu oleh Deborah. Dilumatnya mulut Anto yang dipenuhi dengan lendir kenikmatan dan air kencingnya sendiri, kemudian ditelannya hingga tak bersisa. Deborah benar-benar puas dengan permainan mereka, begitu pun halnya dengan Anto. Ia langsung mendekap tubuh montok Tante itu, kemudian bibir mereka saling berpagutan penuh nafsu. Sesekali bibir Anto menjalar ke leher dan buah dada Tante itu.

“Aduuhh.. Masa sih masih kurang Sayang?” bisik Deborah keheranan saat melihat Anto yang menjilati putingnya dengan penuh nafsu.
“Kalau sama Tante, aku nggak akan pernah puas. Tapi untuk kali ini, kurasa cukup dulu. Asal kapan-kapan boleh begini lagi ya?” pinta Anto.
“Gila kamu Sayang! Masa sih aku bisa nolak diajak nikmat begini?” jawab Deborah sambil mengecup lembut bibir Anto. Dalam hatinya ia berbunga-bunga karena akan selalu mendapatkan kenikmatan seperti ini kapan pun ia mau.

E N D

Tubuh Montok Tante Deborah – 4

Tubuh Montok Tante Deborah – 4

Dari bagian 3

Mereka bermain dengan posisi Deborah mengangkang lebar-lebar dengan kakinya bertumpu pada rak mainan di kanan kirinya sambil kedua tangannya terus bergerilya ditubuh Anto atau tubuhnya sendiri meremas-remas buah dadanya dan menjambaki rambutnya sendiri. Sedangkan Anto terus bertahan diatas tubuh Tante itu dengan lutut yang bertumpu ke lantai dan mulutnya yang terus mengecupi seluruh bagian tubuh Deborah yang bisa dijangkaunya. Pinggulnya terus memompa vagina Deborah dengan tempo cepat sehingga keduanya benar-benar bermandikan keringat. Sesekali Anto menjilati tubuh Tante itu yang basah oleh keringat. Dijilatinya dengan keringat yang bercampur dengan aroma parfum dari tubuh Tante itu. Mereka bertahan dengan posisi itu selama beberapa menit sampai akhirnya Anto merasa pegal di kedua lututnya karena terus menumpu bobot badannya. Tak lama kemudian Anto mengajak Deborah untuk berganti posisi yang langsung disetujui oleh Tante itu.

Kali ini Deborahlah yang menentukan posisi permainan mereka. Ia langsung mendorong tubuh Anto agar berbaring dilantai yang dingin itu, kemudian Tante itu langsung menggenggam erat penis Anto, dikocok-kocoknya sebentar, kemudian dijilatinya penis yang basal dilumuri oleh lendir dari vaginanya sendiri. Deborah begitu menikmatinya. Dijilatinya hingga tak ada lagi sisa lendir dari vaginanya yang menempel di penis Anto. Pemuda itu makin terangsang oleh permainan Deborah. Ia benar-benar menikmati pemandangan Deborah yang sedang menjilati lendir dari vaginanya sendiri tanpa rasa jijik. Sepertinya Tante itu benar-benar haus akan kenikmatan. Tak ada bagian dari batang kemaluan pemuda itu yang luput dari garapannya. Sampai-sampai terkadang pinggul Anto dibuatnya mengangkat bila lidahnya bermain menjilati bola kembar milik Anto dan menjilati lubang anus Anto. Setelah penis Anto bersih dari lendir kenikmatannya, Deborah langsung berdiri, memutar, mengambil posisi berlawanan dengan Anto, kemudian ia berjongkok dengan posisi pantat dan vaginanya tepat dihadapan wajah pemuda itu.

“Jilati Sayang! Puaskan rasa hausmu! Ssshh..” pinta Deborah penuh nafsu.
“Mmmhh.. Harum banget Tante! Sssllrrpp..” bisik Anto sambil memulai permainannya menjilati vagina dan anus Deborah yang berjonkok tepat diatas wajahnya.
“Aaahh.. Ssshh.. Nikmatt Tttoo!! Terrusshh.. Iyyaahh.. Mmmppffhh..” racau Deborah.

Jemari Anto ikut memainkan vagina Deborah, sehingga sesekali Deborah menjerit kecil bila ia merasakan 1, 2 atau 3 jari Anto masuk ke dalam vaginanya.

“Aawww.. Nakal kamu To!” Jerit Deborah saat ia merasakan Anto menggigit klotorisnya.

Dan.. Seerr.. Langsung saja vaginanya bergetar hebat dan Deborah pun mendapatkan orgasme entah keberapa kalinya, Tante itu pun semakin merem melek dibuai permainan Anto. Anto yang menyadari bahwa Deborah baru saja mendapatkan orgasmenya langsung mencaplok vagina dihadapannya, dijilati dan dihisapnya kuat-kuat berharap agar ia pun mendapat jatah lendir kenikmatan yang keluar membanjiri vagina Tante itu.

“Aaahh.. Ggghaahh.. Gellii Sayang! Ampun! Ooowww.. Mmmhh..” racau Deborah, karena ia merasakan kegelian dan kenikmatan yang amat sangat saat Anto menghisap-hisap dan menjilati vaginanya yang baru saja merasakan orgasme itu.

Vaginanya semakin berkedut-kedut tak karuan. Deborah memejamkan matanya erat-erat menikmati perasaan yang membuatnya melayang itu. Ditengah-tengah buaian orgasmenya, antara sadar dan tak sadar ia merasa ingin kencing dan tak kuat untuk menahannya. Perasaan kebelet kencing itu benar-benar mendadak dan tak tertahankan, sampai-sampai..

“Sebentar Sayang! Ahh Stopp!” pinta Deborah sambil mengengkat pinggulnya menjauhi wajah Anto yang sedang didudukinya itu.
“Kenapa Tante?” Tanya Anto keheranan.
“Aku..”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba.. Serr.. Keluarlah air kencing Deborah dari dalam vaginanya langsung menyembur wajah Anto hingga pemuda basah kuyup.
“Ahh.. Maaf!” ujar Deborah benar-benar merasa tak enak.
“Wow.. Mmmhh..”

Rupanya kejadian itu justru membuat Anto kegirangan dan langsung saja mencaplok vagina Deborah yang masih mengangkangi wajahnya dan sedikit-demi sedikit masih meneteskan air kencingnya. Diraup dan diteguknya cairan yang masih menetes itu langsung dari sumbernya.

“Hei! Itu jorok kan!? Mmmhh.. Aaahh..” desis Deborah sambil menahan geli karena tak henti-hentinya mulut Anto menyedot-nyedot vaginanya.
“Jorok? Nikmat banget Sayang! Tante mau?” ujar Anto sambil berusaha bangun setelah mengecup kecil klitoris Deborah, langsng mendekati wajah tente keheranan Tante itu.
“Hmm.. Kayaknya nikmat juga deh! Sini Sayang!” pinta Deborah sambil menarik wajah Anto dan langsng menjilati seluruh bagian wajah itu. Bahkan ia sempat mencaplok dan menyedot sisa-sisa air kencingnya yang dikulumkan oleh Anto untuknya.
“Hhh.. Nikmat Sayang! Aku benar-benar dibuat gila olehmu Sayang!” racau Deborah sambil terus menjilati sisa-sisa air kencingnya sendiri yang membasahi dada dan leher Anto. Dalam hatinya ia mengakui kelihaian pemuda itu dalam membuai nafsunya. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini oleh siapapun, terlebih suaminya yang seringkali tak pernah membuatnya puas seperti saat ini.

Setelah puas menjilati wajah, leher dan dada Anto yang berlepotan dengan air sisa-sisa air kencingnya sendiri itu, Deborah langsung bangkit berdiri, kemudian mengambil posisi mengangkangi penis Anto yang masih menegang dengan gagahnya. Anto yang terlentang di lantai memandangi tubuh montok Deborah yang membelakanginya dan saat ini tengah mengarahkan selangkangannya tepat diatas penisnya. Dipandunya pinggul Tante itu dengan memegangi bongkahan pinggul Deborah agar segera melesakkan vaginanya dihadapan penis Anto. Pemandangan dihadapan pemuda itu begitu menggiurkan. Bongkahan pantat yang putih mulus, selangkangan yang sedang mengangkang lebar dan perlahan-lahan turun mendekati penisnya, dan lubang anus yang kemmerahan, kontras dentgan kulit putih mulus Deborah. Tak henti-hentinya Anto menelan ludahnya sendiri. Ia benar-benar tak sabar untuk menyatukan raga bagian bawah mereka lagi. Dan tanpa diduga, ternyata Deborah memang sengaja mempermainkan Anto. Ia tak langsung membiarkan penis dibawahnya itu melesak masuk ke dalam relung vaginanya. Diputar-putarnya pinggul montoknya tepat di atas penis Anto, hingga terkadang vagina atau lubang anusnya bergesekan dengan kepala zakar milik Anto, yang semakin membuat Anto melenguh dan menggelinjang tak karuan.

“Ayo Tante! Jangan nakal gitu dong!” bisik Anto tak sabar.
“Biar tahu rasa kau! Ya gitu itu nggak enaknya kalau digodain To! Biar sekalian kamu tahu kalau aku juga bisa nakal Sayang! Kerling Deborah.
“Wah, Tante nakal banget sih! Sini kupukul pantat montoknya!” ujar Anto sambil kemudian menampar gemas bongkahan bokong Deborah. Plak’..
“Aawww.. Ssshh..” teriak Deborah kaget, “Ok deh kalau sudah nggak sabar gitu!”.
“Cepetan Tante! Aku sudah mulai gila nih!” rujuk Anto sambil mengelus-elus bongkahan kanan pantat putih yang sekarang memerah akibat tamparan gemasnya tadi.
“Hhh.. Biar tahu rasa kamu Sayang!” ujar Deborah sambil menggeraikan rambut ikalnya kekiri, kemudian dengan tangan kanannya masih berpegangan pada rak, tangan kirinya menggenggam penis Anto yang semakin menegang dan dipehuhi urat-urat itu kemudian membimbingnya melesak perlahan-lahan masuk ke dalam belahan vaginanya.
Blleesshh..
“Ooohh.. Ssshh..” desah Deborah penuh kenikmatan.
“Mmmhh.. Terush Tante.. Nikmat dan hangat!” bisik Anto sambil meregangkan kakinya lebar-lebar dan semakin menyorongkan pinggulnya mendekati selangkangan Deborah.

Deborah terus menekan selangkangannya menerima hujaman penis Anto dari bawah. Badannya membelakangi tubuh Anto. Kepalanya menunduk menahan rasa nikmat yang menggelora dibagian selangkangannya. Kali ini kedua tangannya berpegangan pada rak disampingnya. Tubuhnya berjongkok sambil sedikit memutar pinggulnya berharap agar setiap sisi relung vaginanya dapat tersentuh oleh denyut penis pemuda itu. Bola matanya nyaris berputar ke belakang dan tak henti-hentinya ia menggigit bibirnya sendiri sambil mengeluarkan suara desah kenikmatan.

Setelah Deborah merasakan kepala zakar Anto sudah membentur mentok dalam vaginanya, masih dalam posisi berjongkok ia terdiam, menikmati sensasi yang dirasakannya jauh dalam liang kewanitaannya itu. Denyut demi denyut yang dirasakannya dari penis Anto benar-benar membuat dirinya semakin terbuai akan kenikmatan itu sampai-sampai ia bisa saja nyaris tertidur dalam kenikmatan. Hingga tiba-tiba Anto menepuk bongkahan kanan pantat, dan meminta Deborah agar mengangkat pantatnya.

“Naikkan sedikit pantatnya Tante!” pinta pemuda itu sambil mendorong pantat Deborah.

Gerakan itu otomatis membuat penis Anto yang sedang tertancap jauh dalam vagina Deborah menjadi sedikit tercabut sampai bagian kepala penis Anto. Sehingga menimbulkan gesekan yang membuat keduanya melenguh kenikmatan.

“Mmmhh.. Nikmat Sayang!” bisik Deborah sambil merasa tak rela karena kenikmatannya terganggu. Tetapi ia langsung mengerti bahwa pemuda itu pasti hendak berbuat sesuatu yang lebih liar pada dirinya.
“Ssshh.. Sabar! Sebentar Sayang!” bisik Anto menenangkan Deborah.

Setelah Anto merasakan posisinya pas ia melepaskan pegangannya pada bokong Tante itu, kemudian kedua lengannya bertumpu pada lantai, dan dengan kaki yang sedikit dibuka ia mengayunkan pinggulnya ke atas.
Blesshh..
penisnya langsung menyeruak masuk ke dalam vagina Deborah yang terpampang tepat diatasnya. Tepat setelah penis yang menegang penuh dan dipenuhi urat menonjol itu menghentak mentok bagian dalam vaginanya, Anto langsung mencabutnya sedikit, kemudian mulai mengocoknya dengan tempo yang cepat dan konstan. Keduanya langsung merasakan kehangatan dibagian selangkangan mereka. Deborah mendesis seperti orang yang sedang kepedasan. Kepalanya membanting-banting liar menggeraikan rambut ikal kemerahannya. Ia terlihat semakin binal dan liar.

“Yiiaahh.. Ssshh.. Terush Sayang! Terus!” teriak Deborah saat menerima kocokan penis Anto dalam vaginanya. Sementara tubuhnya tergoncang-goncang naik turun dengan tangannya tetap berpegangan erat pada rak mainan.
“Ohh.. Nikmat Tante! vaginamu nikmat! Terus Tante! Puaskan dirimu! Ssshh..” desis Anto sambil terus mengocok vagina Deborah dan mengimbangi gerakan naik turun Tante itu.
“Terus To! Hamili aku! Perkosa aku! Jadikan aku pelacurmu Sayang! Yaahh.. Yiiaahh.. Nngghh.. Ohff..” teriakan Deborah makin tak beraturan. Ia semakin mempersetankan semuanya.
“Tante! Tante! Terus Tante! Nikmat banget Tante!” racau Anto.

Mereka terus bertahan dalam posisi itu sampai kira-kira 10 menit, kemudian Anto meminta Deborah menungging sambil tetap membelakangi dirinya. Deborah mengerti keinginan pasangannya itu. Ia pun amat menikmati bersenggama dengan posisi doggie style. Ia langsung menungging membelakangi Anto, dibukanya lebar-lebar kedua kakinya, kemudian ia menoleh ke belakang menatap Anto sambil menyibakkan rambutnya. Pemandangan itu terlihat seksi sekali bagi Anto.

Dihadapannya kali ini terpampang seorang Tante-Tante yang terbakar gairahnya, sedang membuka lebar-lebar pahanya, vaginanya yang baru saja dikocoknya itu terlihat merah merekah dan sedikit membengkak. Lubang anus Deborah terlihat juga ikut berkedut-kedut, mungkin akibat kocokan penisnya pada vagina Tante itu. vagina Deborah terlihat mengeluarkan lendir putih yang menggiurkan, pertanda Tante itu sudah benar-benar terangsang dan ingin segera dipuaskan. Mata Deborah yang sayu menandakan ia ingin segera digarap dan dipuaskan. Anto yang juga ikut bangkit dari posisinya semula, memegangi pinggul Tante itu dari belakang. Ia bahkan sempat menjilati vagina Deborah yang dilumuri lendir putih. Ditelannya cairan kenikmatan itu dengan panuh nafsu.

“Aawww..” teriak Deborah saat pemuda itu melumat vaginanya dan menyedotnya penuh nafsu.

Ke bagian 5