Archive for the ‘Masturbasi’ Category

Vita: Masturbasi Pertamaku

Vita: Masturbasi Pertamaku

Nama saya Vita. Kisah saya sudah dua yang dibagi di dalam 17Tahun.com tetapi diceritakan oleh teman saya si Arthur. Kisah saya berjudul “Arthur: Ski, Snow & Sex” dan “Arthur: Vita & Sex Pertama”. Kali ini saya ingin membagikan kisah saya secara tersendiri.

Nama asli saya bukan Vita, tetapi karena Arthur sudah memakai nick name itu untuk saya, ya saya tetap pakai nama Vita saja. Tinggi saya 168 cm, putih, rambut sebahu, dan sejak SMP orang-orang bilang saya mirip sekali dengan peragawati Donna Harun. Awalnya saya bangga dibilang begitu karena mirip peragawati tetapi lama kelamaan saya menjadi segan.

Pernah bulan lalu, mungkin karena saking miripnya dengan si Donna, seorang wartawan Infotainment melihat saya sedang Jalan-jalan di Plaza Senayan dan ia langsung menghampiri saya dan menanyakan sesuatu tentang fashion. Saya awalnya terheran-heran tetapi langsung saya bilang, “Salah orang, Mas!” hehehe..

*****

Saya suka sekali masturbasi. Sejak SMP gairah seks saya tinggi sekali. Tetapi saya bisa meredam gejolak seks saya. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama. Pertama kali masturbasi terjadi ketika saya sudah lulus SMP. Waktu itu saya dan teman-teman (laki dan perempuan) sedang nongkrong di rumah teman setelah seharian mengurus STTB.

Si Harry datang dan membawa sebuah kaset video porno dan langsung menyetel film itu di rumah temanku. Kami semua langsung menonton. Saya sendiri baru pertama kali menonton film porno dan ada perasaan jijik dan bergairah. Setelah selesai menonton film, kami pun pulang ke rumah. Karena saya membawa mobil sendiri, saya mengantar Harry dan 3 orang teman ke halte bis terdekat.

Setiba di rumah, saya memarkir mobil di garasi lalu sebelum keluar dari mobil perhatian saya tertuju pada kaset video yang tergeletak di jok mobil bagian belakang. Rupanya kaset itu terjatuh dari tas Harry. Segera saya masukkan video itu ke tas saya lalu saya langsung masuk kamar. Saat itu sudah jam 21:30, kedua orang tuaku sudah tidur.

Saya bergegas mandi lalu mengganti baju. Setelah itu dengan deg-degan, saya memutar film porno itu di kamar saya karena kebetulan saya punya TV dan video player sendiri. Dengan penuh minat, saya perhatikan adegan-adegan ML, saya perhatikan bentuk kelamin pria dan wanita. Saya bisa lebih santai melihatnya dibandingkan tadi sore karena malu apabila terlihat terlalu serius.

Ada satu adegan dimana si wanita sedang rebahan di tempat tidur dalam keadaan telanjang. Si wanita memainkan jarinya di selangkangan dan payudaranya sambil mendesah dengan penuh nikmat. Saya menjadi penasaran untuk mencoba. Saya selipkan tangan kananku ke dalam celana dalamku lalu meraba vagina. Saya tidak merasakan kenikmatan. Kemudian saya perhatikan si wanita itu membuka bibir vaginanya. Saya lalu mencoba membuka bibir vaginaku dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu tangan kiriku mulai mengusap vaginaku. Sontak tubuhku langsung seperti disetrum.

Saya merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Saya mencoba memainkan klitoris. Saya elus, putar dan pilin. Oh nikmatnya! Nafas saya mulai mendesah-desah kenikmatan seperti si wanita itu. Akhirnya saya langsung membuka semua bajuku dan tidur telanjang bulat di tempat tidur. Kembali tangan kananku memainkan klitoris sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudaraku yang saat itu berukuran 34A. Rasanya seperti mengawang di surga. Nikmatnya tiada tara.

Saya mulai mempercepat gerakan jariku di klitoris, semakin cepat hingga akhirnya tubuhku seperti kembali disengat listrik. Tubuhku mengejang. Ada rasa lega yang tidak bisa saya lukiskan. Vagina dan selangkanganku basah dengan cairan. Saya merasakan si wanita di film itu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Si wanita itu menjilat jarinya yang basah oleh cairan dari vaginanya. Saya mencoba menjilat jariku, rasanya sedikit asin. Setelah masturbasi pertama itu, saya tertidur dengan nyenyak. Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dan kembali hasrat seks saya bangkit kembali dan saya kembali bermasturbasi.

Semenjak itu, saya senang sekali bermasturbasi hingga saya pertama kali ML seperti yang sudah diceritakan dalam “Arthur: Vita & Seks Pertama”. Umumnya saya masturbasi hanya dengan tangan. Saya mencoba memakai ketimun tetapi kurang bisa saya nikmati karena terasa aneh di vaginaku.

Pada waktu saya kelas 1 SMA di tahun 1990, ada sebuah long weekend karena ada hari libur nasional yang jatuh pada hari Sabtu. Orang tua saya meminta saya untuk menemani mereka ke Singapore untuk check up. Akhirnya berangkatlah kita bertiga ke Singapore. Kami menginap di hotel Mandarin dan orang tua saya check up di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Orang tua saya perlu melakukan beberapa tes kesehatan yang bisa memakan waktu beberapa jam.

Daripada bosan menunggu di rumah sakit, saya minta ijin untuk Jalan-jalan ke Orchard Road dan nanti janjian ketemu di hotel. Di sepanjang Orchard Road, saya keluar masuk toko-toko hingga saya menjumpai sebuah toko kecil yang menjual peralatan-peralatan untuk seks. Saya baru pertama kali melihat toko itu dan dengan terheran-heran saya masuk ke dalam.

Berbagai macam kondom dijual dan dipajang di rak-rak. Buku-buku seputar seks bahkan dildo juga dijual. Dildo adalah penis tiruan terbuat dari karet yang dipakai wanita untuk masturbasi. Bentuknya bermacam-macam. Ada dildo yang dibuat mirip sekali dengan penis, ada dildo yang dibuat berbentuk tabung oval stainless steel, bahkan ada juga dildo yang dibuat bercabang sehingga si wanita bisa memasukkannya ke dalam vagina dan anusnya secara bersamaan. Awalnya saya mau nekat membeli dildo yang bercabang tetapi saya urungkan niat itu dan saya pilih dildo yang mirip penis asli.

Saya berjalan menuju kasir. Di sebelah saya ada seorang pria tinggi dan tegap dengan potongan rambut cepak. Ia berkata kepadaku..

“Jangan lupa beli jel pelumas karena nanti bisa lecet” seraya menunjuk ke botol yang dipajang dirak.

Sambil tersenyum malu, saya menghampiri rak botol jel pelumas dan mengambil satu.

“Kamu orang Indonesia ya?” kata pria itu dalam bahasa inggris.
“Iya, kok tau?” saya membalas dengan bahasa inggris.
“Banyak orang Indonesia disini, saya bisa membedakannya. Nama saya Richard Chen”
“Saya Vita”

Richard membayar ke kasir satu kotak kondom lalu saya kemudian membayar dildo dan botol jel. Selesai membayar, Richard memberikan kartu namanya padaku dan berkata.

“Kalau anda perlu bantuan dalam memakai barang itu, saya bersedia membantu”
“Nanti saya pikirkan” kata saya sambil menerima kartu namanya. Setelah itu kami berpisah.

Dengan tergesa-gesa saya berjalan kembali ke Hotel Mandarin. Setiba di kamar (saya tidur di kamar sendiri), saya langsung membuka bungkusan dildo dan botol jel. Kemudian saya membuka seluruh bajuku dan telanjang bulat di tempat tidur membaca petunjuk pemakaian yang tertera di kotak dildo. Saya memperhatikan dengan seksama dildo itu. Memang sangat mirip dengan penis asli. Bentuknya cukup besar sekitar 30 cm, diameter 4cm dan berwarna coklat muda. Saya berpikir apakah ini muat dalam vagina saya? Mari kita coba!

Saya merebahkan diri di tempat tidur lalu membuka lebar kakiku kemudian dildo saya arahkan ke vaginaku. Tak lupa saya oleskan jel pelumas di seluruh dildo kemudian saya mulai masukkan dengan perlahan ke vagina. Awalnya agak seret tetapi dengan sabar saya masukkan hingga mentok diujung vagina. Setelah itu saya mulai tarik lagi keluar.

Saya menikmati setiap senti dari dildo yang masuk dalam vaginaku. Mataku terpejam menikmati sensasi ini. Setelah dildonya keluar semua, kembali saya masukkan dan kali ini lebih cepat. Akhirnya vagina saya sudah terbiasa dengan dildo itu sehingga saya bisa mengocok dildo dengan cepat. Nafas saya memburu dengan cepat. Keringat saya mengucur disekujur tubuhku. Payudara kuremas-remas sembari mengocok dildo di vagina.

Ada sekitar lima menit saya memainkan dildo itu dalam vaginaku hingga saya orgasme pertama. Setelah itu saya membalikkan badan dalam posisi menungging dan memasukkan dildo dari arah belakang. Saya melihat bayangan tubuhku di cermin yang digantung di atas meja. Saya merasa seksi sekali. Mulutku terbuka lebar dan mataku setengah terpejam menikmati dildo yang dimasukkan ke vaginaku dari arah belakang.

Saya merapatkan kedua belah kakiku hingga dildo itu rasanya bisa saya tekan dengan kuat dengan otot selangkanganku. Payudaraku yang bergelantungan tampak bergoyang-goyang mengikuti irama gerakanku. Beberapa menit kemudian, kembali saya orgasme. Saya langsung roboh ke kasur. Tubuhku basah oleh keringat. Cairan vaginaku membasahi sedikit sprei tempat tidur. Saya beristirahat sejenak sementara dildo itu masih di dalam vaginaku.

Saya lalu mendapat ide baru. Saya mengeluarkan dildo itu dari vagina lalu saya mengambil kursi. Kursi itu mempunyai sandaran yang dibuat dari beberapa kayu yang tegak lurus dan ada jarak dari antara satu kayu ke kayu lain. Saya selipkan dildo itu di antara kayu itu. Karena ukuran dildo yang besar, maka dildo itu bisa diselipkan dan tidak bergoyang sama sekali. Dildo itu mengacung membelakangi kursi. Saya lalu menggeser kursi itu ke arah meja rias. Lalu saya menungging bertopang pada meja rias sedangkan vagina kuarahkan pada dildo.

Saya melihat posisiku yang cukup lucu karena saya berada dalam posisi doggy style dan dildo itu ditopang dalam sandaran kursi. Lalu mulai kembali saya perlahan memaju mundurkan pantatku. Dildo bisa masuk dengan baik dan kursinya sendiri tidak bisa bergeser kemana-mana karena tertahan oleh tempat tidur. Saya mulai mempercepat irama gerakanku. Gairah seksku seperti tiada hentinya bergelora dalam diriku. Sepertinya dildo ini bisa memahami keinginan seksku yang tinggi.

Berkali-kali saya hunjamkan dildo itu ke dalam vaginaku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut menerima sensasi seks yang diterima dari dildo itu. Nafasku tersengal-sengal. Rambutku berantakan dan keringat kembali bercucuran di dadaku. Saya meremas kedua belah payudaraku dengan gemas sembari terus memacu vaginaku dalam dildo itu. Saya ingat waktu itu dalam tempo waktu 15 menit bersetubuh dengan dildo dalam posisi tersebut, saya orgasme kurang lebih 6 kali.

Akhirnya saya berhenti karena kecapaian. Saya melepaskan dildo itu dari vaginaku dan mencopotnya dari sandaran kursi. Saya membaringkan tubuhku yang lunglai di tempat tidur lalu tertidur selama 1 jam. Begitu terbangun, saya langsung buru-buru membereskan kamarku dan membuang bungkusan dildo dan jel pelumas. Dildo itu sendiri saya cuci lalu saya bungkus didalam kaos beserta botol jel pelumas supaya tidak ketahuan ibuku.

Saya melihat kartu nama si Richard di tasku. Sempat terlintas ide untuk menelepon dia dan siapa tahu bisa diajak bersetubuh. Tetapi saya urungkan niat itu karena beresiko tinggi ketahuan orang tua. Lagipula saat ini saya sedang senang bermain-main dengan dildo baruku.

Hingga sekarang, saya sudah memiliki tiga buah dildo. Yang pertama adalah dildo pertama yang saya beli di Singapore, kemudian dildo yang model bercabang dan ketiga dildo yang bisa bergetar sendiri memakai baterai. Kedua dildo itu saya beli di Amerika.

E N D

Tegangan Tinggi

Tegangan Tinggi

Saya seorang pria kelahiran Yogya usia 32, karyawan di Jakarta, tinggi badan 173 cm dengan berat hanya 56 kg (agak kurus) orang selalu bilang saya ini tampan, tapi memang, dulu saya atlet pemain volly ball dan punya club banyak di wilayah Jakarta Timur, saya mempunyai seorang istri dan saat ini telah mempunyai anak berusia 1 bulan. Saya memang penggemar pornografi, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan seks. Berawal dari seja SMA kelas 1 saya sudah rajin onani, terkadang saya juga mengintip perempuan mandi dan pada saat SMA kelas 2 saya punya pacar dan sering melakukan oral seks. Jadi hingga saya mempunyai istri mulai bulan Juli 1999 yang lalu, baru merasakan nikmatnya berhubungan badan (bersenggama).

Jadi hampir selama 12 tahun lebih saya melakukan onani 2-3 kali dalam satu minggu, sampai pada saat inipun ketika pada suatu tekanan seks yang begitu tinggi saya terkadang langsung onani, seperti halnya pada saat membaca beberapa cerita di 17Tahun.com. Saya di kantor bisa leluasa membacanya, bahkan seharian saya bisa memakai komputer hanya untuk internet, kebetulan saya kepala seksi bidang TI. Jadi setelah membaca rubrik ini saya juga melakukan onani di kamar mandi di kantor. Saya sering berganti-ganti pacar pada waktu belum menikah juga tidak pernah berhubungan seks, paling hanya melakukan oral seks saja. Dengan tekanan seks yang sangat tinggi dan sensitif ini saya seakan-akan menderita, karena tegangnya kelamin saya ini tidak bisa diatur, entah sedang naik bis atau naik mikrolet atau mengendari mobil, asal terlintas tubuh wanita yang bugil pasti langsung tegang. Saya mudah terangsang, tapi kalau main dengan istri juga bisa diatur temponya bila ingin keluar, yang tidak bisa diatur itu adalah keinginan untuk bersetubuh lagi.

Bahkan jika perjalanan jauh naik bis ber-AC dan bersebelahan dengan cewek, jika cewek itu tidak bisa diajak beroral (beremas-remas), ya akhirnya saya mencari lengahnya, saya pegang salah satu alat vitalnya dan saya onani di bis tersebut, agar saya juga tidak ada beban dan agar saya juga cepat bisa tidur. Perlu diketahui bahwa pada saat bujang jika sudah di atas jam 10 malam susah tidur maka caranya hanya satu, yaitu onani baru bisa tidur. Saya memang takut untuk bermain dengan pelacur, karena saya takut tertular penyakit kelamin. Jika mau maka saya banyak kesempatan, saya hampir setiap bulan ke luar kota dan menginap di hotel, dan setiap hotel menyajikan film porno, saya akhiri dengan onani, bahkan terkadang semalam bisa 2 kali, itu saja jika pikiran kembali terbawa ke sana masih juga terangsang, saya pernah bertanya kepada dokter tapi katanya tidak apa-apa hanya ada yang kelebihan. Mungkin karena saya tidak sunat sehingga kelamin saya panjang dan sensitif. Yang jelas saya juga kepingin berbagi atau merasakan perempuan lain yang memiliki keadaan sama yang mungkin menjawab persoalan saya.

Sebetulnya saya itu taat aturan agama untuk hal-hal di luar seks. Namun jika menyangkut masalah yang berhubungan dengan seks, saya benar-benar sulit menghindarinya. Sebetulnya lumrah sebagai seorang pria melakukan hal tersebut, yang jelas meskipun telah mempunyai istri, saya masih sering onani karena jika terus-menerus meminta jatah kasihan pada istri, dan saya juga merasa bahwa air mani saya masih tetap kental. Yang jelas sampai sekarang saya masih hobi nonton BF. Jika pembaca ingin berkenalan, silakan email saya.

TAMAT

Sum, Pembantuku yang Lugu 02

Sum, Pembantuku yang Lugu 02

Sambungan dari bagian 01

“Sum.. kalau kamu sudah selesai membersihkan kaca jendela, mandi dulu, kemudian siapkan makanan yang kubeli tadi.” kataku setelah menyusun rencanaku.
“Iya Mas..” sahutnya sambil tetap membersihkan kaca jendela yang tinggal sedikit lagi.
Sesaat kemudian Sum masuk ke kamarnya, dan tampaknya dia bingung mendapatkan tasnya kosong, lalu memanggil diriku sambil membawa t-shirt, rok pendek, celana dalam yang seksi dan handuk.

“Mas.. Baju Sum kemana..?” tanyanya.
“Oh.. bajumu itu tidak baik untuk dipakai di kota, Mas akan malu kalau nanti ada teman-teman Mas kesini.., jadi Sum pakai saja baju yang sudah Mas belikan untukmu ya..?”
“Tapi..?” nampaknya Sum ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
“Tapi apa Sum..?”
“Kutangnya mana..?”
“Wah Sum.. kamu kan masih kecil.., tidak perlu kamu menggunakan kutang itu, kutang itu pun sudah jelek sekali, dan itu akan menghalangi pertumbuhan buah dadamu.., sudahlah kamu pakai saja kaos yang kubelikan tadi.” kataku mencoba menjelaskan.
“Tapi Sum malu Mas.., nanti akan kelihatan..” jawabnya malu.
“Iya tidak Sum, justru akan kelihatan indah sekali kalau tubuhmu hanya dibalut dengan kaos yang kubelikan, percayalah..! Coba saja ya..? Dan kamu ganti baju yang sekarang kamu pakai, mungkin sudah bau keringat.”
Akhirnya walau dengan berat hati, Sum masuk ke kamar mandi dengan membawa t-shirt serta rok pendeknya.

Tidak lupa aku menjelaskan kepada Sum bagaimana caranya menggunakan shower dan bermandi dengan air hangat, karena memang kamar mandiku tidak memakai bak mandi. Setelah dia mengerti, aku tinggalkan dirinya.

Begitu Sum masuk kamar mandi, bergegas aku pun masuk kamar tidurku untuk siap-siap melihat pemandangan yang menggairahkan. Kubuka bajuku sehingga aku telanjang bulat, dan aku mulai membuka lemari gantungku. Dan pemandangan di depan mataku membuatku terpana, jantungku berdebar-debar saat Sum mulai membuka rok terusannya, sehingga dia hanya memakai kutang kecil dan celana dalam murahan. Libidoku mulai menaik, aku terangsang dengan pemandangan di hadapanku. Sesaat kemudian Sum membungkuk untuk membuka celana dalamnya, dan aku melengguh ketika Sum akhirnya membuka kutang kecilnya, dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

Kulihat tubuh Sum begitu padat berisi, tubuh seorang gadis yang baru tumbuh, buah dadanya masih belum menonjol betul, hanya segenggam telapak tangan saja. Seperti bayanganku, puting susunya masih belum begitu besar, berwarna merah muda kontras dengan warna kulit tubuhnya yang kuning langsat, namun itu justru sangat menggairahkan diriku. Perutnya rata, namun saat kulihat di bagian bawah perutnya, ugh.., nampak bagian itu agak menonjol keluar, agak gemuk sedikit. Dan yang membuatku semakin berdebar dan bernafsu, kemaluan Sum belum lagi ditumbuhi oleh bulu, masih mulus, hanya ada beberapa lembar bulu, itu pun masih bulu yang halus.

Pemandangan di depan mataku membuatku semakin melambung tinggi dalam nafsuku, tanganku mulaimemainkan penisku yang sudah berdenyut-denyut dan bereaksi sejak tadi. Secara perlahan aku mulai mengocok penisku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku mulai membelai-belai sekujur tubuhku mulai dari perut dan berakhir di puting susuku. Aku semakin menggelinjang saat jari jemariku memainkan puting susuku, sensasi yang luar biasa mulai menerpaku. Tidak puas dengan keadaan itu, aku mengambil penis karet dari lemari bajuku yang berukuran tidak terlalu besar yang kubeli saat aku pergi ke luar negeri. Sengaja aku memilih yang berukuran tidak terlalu besar yang berdiameter hanya 2 cm, kulumuri dengan baby oil, dan kuletakkan di tempat dudukku. Penis karet yang kubeli itu dapat diletakkan dengan kondisi berdiri mengacung ke atas, karena bagian bawahnya dilengkapi dengan semacam piringan.

Aku mulai menempatkan diriku dengan anusku tepat di atas penis karet itu, sementara tangan kananku masih terus memempermainkan penisku dan tangan kiriku tetap mempermainkan puting susuku, kiri dan kanan. Aku mulai mendesah saat penis karet di tempat dudukku mulai menyentuh anusku, terasa bergetar menimbulkan perasaan yang sulit kuceritakan. “Sshh.. ahh..”

Sementara di kamar mandi, Sum mulai dengan menyalakan shower, dan air yang mengalir mulai membasahi rambutnya. Lalu perlahan-lahan tangannya mulai membersihkan dirinya dengan sabun mandi, dan aku semakin larut dalam nafsuku saat tangannya mulai membersihkan ketiaknya yang belum lagi ditumbuhi bulu. Aku semakin menggelinjang dipenuhi oleh rasa nikmat di sekujur tubuhku. Sum mulai menggosok-gosok buah dadanya dengan cairan sabun di tangannya. Matanyaterpejam saat tangannya mulai meremas-remas buah dadanya sendiri. Entah karena rasa nikmat yang dirasakannya atau memang hanya kebiasaannya. Yang jelas pemandangan itu membuatku semakin menggila dalam nafsuku. Sum masih asyik menggosok-gosok buah dadanya tanpa menyadari bahwa aku sedang menikmati tubuhnya yang ranum dan menggairahkan itu dari sebelah kamar.

Nafsuku semakin memuncak saat kulihat Sum mengambil shower dan mulai membersihkan kemaluannya. Dengan tangan kanannya, diarahkan air yang memancur dari shower itu tepat ke arah kemaluannya. Tangan kirinya mulai menggosok-gosok kemaluannya dengan cairan sabun. Nampak Sum sepertinya menikmati apa yang sedang dilakukannya. Bibirnya yang seperti gendewa itu mulai terbuka, dan yang lebih membuatku berdebar adalah saat Sum mulai menggosok-gosokan shower itu langsung ke bibir kemaluannya, rupanya semburan air dari shower itu menimbulkan sensasi seks dalam dirinya yang selama ini belum pernah dia rasakan, terlebih lagi saat shower itu menyentuh kelentitnya yang masih sebesar kacang.

Sum terjengkit kenikmatan.., Sum mulai menyandarkan tubuhnya di dinding berhadapan dengan One way mirror di kamarku, sehingga semakin jelas aku dapat melihat pemandangan yang menggairahkan itu. Tubuhnya melengkung ke belakang, dan tangan kirinya mulai meraba-raba buah dadanya sambil sekali-sekali meremasnya. Aku tidak dapat membayangkan bahwasanya Sum gadis yang lugu yang baru saja datang dari desa dapat melakukan hal itu. Mungkin sensasi itu baru ditemukannya saat dia mulai menikmati guyuran air hangat dari shower yang selama ini belum pernah dia alami.

Kocokan tangan kanan di penisku mulai kulakukan semakin cepat, dan tidak henti-hentinya aku memilin puting susuku kiri dan kanan. Aku semakin bergairah saat penis karet di tempat dudukku mulai memasuki lorong kenikmatan di anusku. Otot di sekitar anusku mulai bereaksi mengejut dan mengembang. Dan saat aku menurunkan tubuhku, penis karet itu masuk semakin dalam, gairahku memuncak. Dan ketika seluruh penis karet sepanjang 12 cm itu menghunjam bagian belakang tubuhku, aku melengking, “Aaahh..!” baru kali ini aku merasakan hal itu, karena biasanya memang hanya sebatas ujungnya saja yang kumasukkan ke dalam anusku, hanya untuk menambah rasa nikmat saat aku beronani. Kugoyangkan pantatku sedimikian rupa sehingga aku dapat merasakan penis karet itu berputar di dalamnya, sungguh menimbulkan rasa nikmat yang tiada taranya, dan tanganku tetap bermain dengan penis dan puting susuku.

Kulihat Sum mulai mempermainkan puting buah dadanya yang mengeras dengan jarinya sambil sesekali meremas buah dadanya. Sementara dengan tangan kanannya, shower itu tetap digesek-gesekkan ke kelentitnya. Tiba-tiba tubuh Sum melengkung ke depan, dan kulihat kedua pahanya menjepit shower dan tubuhnya bergetar. Ah.., dia orgasme. Bayangkan.., gadis lugu dari desa berumur 14 tahun melakukan masturbasi sampai orgasme di kamar mandiku, sementara di sebelah kamar, aku menikmatinya sambil beronani juga. Kupercepat dan kupercepat kocokan tanganku di penisku, sampai akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang akan meletup dan meledak dari dalam tubuhku. Dan akhirnya, “Cret.. cret.. cret..” 7 kali semburan kurasakan air maniku tertumpah dari saluran penisku menyembur membasahi tempat dudukku dan pahaku, yang menimbulkankenikmatan yang tiada taranya, disertai dengan otot anusku yang mengejut memilin penis karet yang ada di dalamnya. Aku terduduk lemas sambil tetap melihat Sum yang mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Agh.. aku membayangkan betapa nikmatnya kalau aku dapat menggumuli tubuh Sum yang masih ranum itu, namun aku masih mempunyai rencana lain, aku akan meletakkan penis karetku di kamar mandi suatu saat nanti. Dan aku mengharapkan dapat menikmati pemandangan yang lebih menggairahkan lagi saat aku membayangkan Sum akan bermain-main dengan penis karet itu.

Cepat-cepat kubereskan tempat dudukku, aku terjengkit dengan rasa nikmat saat kutarik penis karet dari anusku. Kubersihkan air maniku dengan tissue, dan saat aku keluar dari kamarku, kuterpana dan gairahku muncul kembali ketika melihat Sum dengan rambut yang tergerai tersisir rapi memakai t-shirt dan rok pendek yang kubelikan. Tubuhnya yang padat berisi, dengan buah dadanya yang baru tumbuh, tercetak dengan jelas pada t-shirt yang ketat, nampak puting susunya masih mengeras, menimbulkan pemandangan yang menggairahkan bagi diriku.
“Gimana mandinya Sum.., enak..? Sudah segar kan..? Ayo atur makan, kita makan, aku sudah lapar..!”
“Iya Mas.., segar, terima kasih..”
“Wow.., kamu cantik sekali dengan baju barumu Sum, pasti banyak laki-laki yang menginginkanmu..”
“Aah Mas bisa saja..” katanya tersipa dan Sum tertunduk malu.

Saat kutulis cerita ini, aku masih dengan keadaan telanjang bulat sambil mempermainkan penisku, sementara Sum sedang mempersiapkan makan siang untukku, tentunya dengan tubuhnya yang terbalut t-shirt yang ketat dan rok yang pendek sebatas paha. Sesekali kutengok dia, dari one-way mirror di kamar kerjaku, dan pemandangan yang paling kusuka adalah saat dia harus membungkuk, aku bisa melihat celana dalam yang seksi, berbentuk segitiga kecil membelah buah pantatnya, menerus ke depan ke arah bibir kemaluannya.

Ada komentar dan idea..? Supaya aku bisa melanjutkan apa yang harus kulakukan dengan Sum, supaya hidupku lebih bergairah lagi.

TAMAT

Sum, Pembantuku yang Lugu 01

Sum, Pembantuku yang Lugu 01

Cerita di bawah ini adalah pengalaman pribadiku.

Aku selalu membayangkan betapa nikmatnya hidup ini kalau aku bisa bebas melakukan keinginanku tanpa ada yang melarang, dan satu hal yang selalu kuinginkan adalah aku bisa sehari-hari hidup tanpa memakai busana, alias telanjang bulat. Dan hal ini baru dapat kulaksanakan setelah aku akhirnya memiliki rumah kontrakan sendiri. Sejak saat itu aku selalu membiasakan diriku hidup tanpa memakai busana, dan aku hanya menutupi tubuhku dengan sarung manakala aku berada di sekitar ruangan tamu, yang memang dapat terlihat dari arah luar melalui jendela kaca yang terhalang dengan vitrage. Namun ternyata setelah 2-3 bulan aku menjalani hidup seperti ini serasa ada yang kurang, karena segala sesuatu harus kulakukan sendiri, mulai dari mencuci baju, menyetrika, memasak air, sedangkan untuk kebutuhan makan kulakukan dengan makan di warung. Aku mulai berpikir untuk mencari pembantu yang dapat membantuku untuk melakukan kegiatan sehari-hari untuk kebutuhan hidupku.

Kemudian aku memutuskan mulai mencari pembantu yang sesuai dengan kebutuhanku. Sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin berbagi dengan para pembaca, aku adalah seorang lelaki berumur 38 tahun yang mempunyai libido yang besar, namun aku tidak suka menyalurkannya di tempat-tempat yang sering dikunjungi para hidung belang, selain takut membayangkan hal-hal yang negatif yang harus kualami, aku juga kurang menyukai perempuan yang hanya menjajakan seks karena profesi dan juga karena uang. Dan satu hal yang aneh dalam diriku adalah aku senang dengan perempuan yang masih remaja, walaupun aku tidak menolak bila berhubungan dengan wanita yang sudah matang, karena memang dalam permainan seks, mereka jauh lebih menghanyutkan dan mengasyikkan, namun bagiku selalu menimbulkan sensasi seks yang luar biasa apabila aku membayangkan diriku sedang mencumbu seorang gadis yang masih remaja, terlebih lagi gadis yang baru tumbuh.

Pada awalnya aku mulai mencari-cari gadis yang mau menjadi pembantu di panti-panti asuhan, namun karena prosesnya berbelit-belit, akhirnya aku memutuskan mencarinya sendiri di desa-desa, karena aku tahu jauh lebih mudah mencarinya di desa daripada keluar masuk dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain.

Suatu hari, singkat cerita aku mulai menjelajah di salah satu desa di daerah Wonogiri. Aku memang sengaja berburu ke daerah itu karena terkenal akan Mbok bakul jamunya, dan aku membayangkan pasti gadis-gadis di desa itu pun terbiasa untuk mengkonsumsi jamu. Tentu aroma tubuh dan bentuk tubuh mereka akan berbeda, dan yang pasti akan menimbulkan gairah seksku.

Sesampainya di desa itu, aku mulai mencari rumah Bapak Kepala Desa, yang disambutnya dengan cara yang simpatik, setelah aku menjelaskan maksud dan tujuanku. Karena aku tidak mau tanggung-tanggung, kujelaskan secara rinci apa yang kuharapkan dengan gadis pembantu yang kuinginkan. Dan kutambahkan agar calon gadis pembantuku itu juga yang suka membuat jamu serta rajin mengkonsumsinya. Tidak lupa aku juga memperkenalkan diriku kepada Bapak Kepala Desa.

“Silakan Mas Budi tunggu sebentar, nanti bapak akan panggilkan Carik Desa untuk membantu mencarinya..”
“Terima kasih Pak untuk bantuannya, tolong saja kalau bisa jangan satu orang, 4 atau 5 orang supaya saya bisa memilihnya.”
“Tanggung beres Mas..” sahutnya tak kurang simpatiknya, dan langsung saja dia memberikan perintah kepada anak buahnya melakukannya sesuai dengan permintaanku, “Gole’ke se’ng ayu sisan, ojo ngisin-ngisini..! (carikan sekalian yang cantik, jangan malu-maluin..!)” tambahnya.

Dalam hati aku berpikir, baik juga bapak kepala desa ini, yang kemudian kutahu namanya Pak Mahmud. Dan aku bertekad untuk membalas budinya bila aku memang benar-benar menemukan gadis pembantu yang cocok dengan seleraku.

Selang beberapa lama, Carik Desa itu membawa 6 orang gadis yang kutaksir berumur antara 12 sampai 15 tahun. Kupandangi satu persatu, sambil kutanyakan namanya. Sampai akhirnya pada gadis yang terakhir, aku merasa cocok dengannya, wajahnya ayu namun sifatnya pemalu, tingginya sepundakku, tubuhnya padat berisi, kulitnya kuning langsat, lehernya sedikit jenjang, denganrambut yang terurai sebahu, dan kulihat dari samping payudaranya masih baru tumbuh, namun agak mencuat ke atas sedikit. Dia tertunduk malu saat dia menyebutkan namanya, “Sumiati..” gumamnya.

“Pak Mahmud, bagaimana kalau saya memilih Sum saja, dia cocok dengan selera saya.”
“Wah, Mas rupanya punya selera dan mata yang tajam, Bapak sudah berpikir pasti Mas akan memilihnya, karena dia memang kembang desa sini.”
“Ah Bapak bisa saja, saya hanya melihat Sum anaknya bersih, dan sepertinya rajin bekerja.”
“Monggo Mas, biar nanti Bapak yang akan menjelaskan kepada orang tuanya, dan Bapak kenal sekali dengan Bapak dan Ibunya Sum, kapan Mas Budi akan kembali ke kota..?”
“Kalau memang bisa selesai sekarang saya tidak akan berlama-lama di sini, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di kota.”
“Baik kalau begitu, ayo Sum, kamu bersiap-siap untuk ikut dengan Bapak ini ke kota, kamu kan sudah bertekad untuk bekerja di kota, silakan pamit kepada orangtuamu, selanjutnya biar Bapak yang akan membantumu.”
“Oh ya Pak, tolong titip sekalian untuk orangtua Sum..!” dan aku mengeluarkan 2 buah amplop yang memang sudah kusiapkan sejak aku berangkat dari rumah, “Yang satu untuk orangtua Sum, dan yang satu lagi untuk Bapak, sebagai ucapan terima kasih saya kepada Bapak yang sudah membantu saya.”

Pak Mahmud dengan gembira menerima pemberianku, sambil terbungkuk-bungkuk beliau menerimanya sambil tidak lupa berulang-ulang mengucapkan terima kasih, karena dia tahu bahwa jumlah yang diterimanya bukanlah uang yang sedikit saat dia meraba tebalnya amplop yang kuberikan.

Dalam perjalanan ke kotaku, Sum hanya tertunduk malu, dia hanya mendekap tas bawaannya yang tidak seberapa, mungkin hanya berisi beberapa potong baju, karena aku sendiri sudah mengatakan kepadanya bahwa untuk kebutuhan pakaian yang akan dikenakannya akan kubelikan setibanya di kota nanti. Sepanjang perjalanan kucoba untuk mulai akrab dengan dirinya, sambil tidak lupa kupasang musik instrumental yang bernuansa lembut. Perlahan-lahan kebekuan itu mulai mencair, dan Sum mulai menceritakan dirinya yang baru 1 tahun ini lulus SD, sekarang dia baru berumur 14 tahun.

“Hmm.. cocok dengan seleraku, gadis yang masih ranum, baru tumbuh, aku membayangkan mungkin buah dadanya baru tumbuh, dan pasti puting susunya pun masih sebesar pentil, ah bagaimana dengan kemaluannya.., apakah sudah ditumbuhi rambut..?” bayangan itu membawa imajinasiku semakin melambung tinggi.
Tidak terasa penisku mulai berdenyut dan bereaksi mengikuti irama lamunanku.

“Hati-hati Pak..! Kok nyetirnya sambil melamun..” katanya menyadarkanku dari lamunanku.
“Uups..,” aku menghindar dan kurem secara mendadak saat kulihat kerbau yang melintas di tengah jalan yang kulalui.
“Uh.., untung ada Sum, coba kalau tidak.. wah.. bisa konyol kita ya..? Sum kamu nggak usah panggil Pak kepada saya, panggil saja Mas Budi..”
“Iya Pak.., eh Mas..” awalnya Sum masih canggung untuk memanggil Mas kepadaku, namun lama-kelamaan dia mulai terbiasa, walaupun sifat pemalunya masih saja kental dalam dirinya, tetapi itu justru yang menimbulkan gairahku semakin meninggi.
“Sabar.. sabar..” kataku pada diriku sendiri, aku harus memulainya dengan perlahan-lahan, jangan sampai seluruh rencanaku hancur karena terlalu terburu-buru, dan aku sudah bertekad untuk menikmati hidup ini secara perlahan-lahan.

Sesampainya di rumah kontrakanku, aku menunjukkan kamar Sum di bagian tengah, karena rumah kontrakan-ku memang hanya terdiri dari 3 kamar. Yang di depan kupakai sebagai ruang kerjaku, yang satu lagi kupakai untuk ruang tidurku. Ruang tidurku dan ruang tidur Sum dipisahkan dengan kamar mandi.

Pada saat aku mengontrak rumah ini, aku sudah merombak bagian ruang tidurku, kutempatkan lemari gantung yang bila kubuka pintunya, aku dapat melihat ke kamar mandi dengan bebas, karena aku menempatkan one way mirror berukuran 1 x 1.2 meter di dalamnya.

“Nanti saja kamu mandinya Sum, tunggu saya, saya akan keluar sebentar, kamu beres-beres rumah saja, tolong sapu dan bersihkan rumah sepeninggal saya, kamu lihat sendiri banyak debu yang harus dibersihkan.” pesan saya padanya.
“Baik Mas..” katanya lembut.
Dan Sum tanpa canggung sudah melakukan tugas yang kuberikan dengan mengambil sapu di belakang.

Kupacu mobilku menuju Departemen store di kotaku, lalu aku mulai sibuk memilih beberapa t-shirt Nevada yang ketat dengan bahan yang agak tipis, beberapa celana dalam yang bentuknya seksi, 2 potong handuk berukuran sedang, serta rok pendek yang kuperkirakan hanya sebatas paha bila dikenakan oleh Sum. Dalam perjalan pulang, aku sudah membayangkan betapa nikmatnya memandangi tubuh Sum yang dibalut dengan t-shirt tanpa BH, serta rok pendek yang dikenakan, hmm.., tidaklupa aku membelikan sabun mandi Pquito untuknya, agar tubuhnya harum. Sengaja aku tidak membelikan BH satupun untuk dirinya, karena memang aku bermaksud agar Sum tidak memakainya sepanjang hari.

Setibanya aku di rumah, kulihat Sum sedang membersihkan kaca jendela depan rumah.
“Wah.., kamu rajin sekali Sum, terima kasih, tidak salah aku memilihmu.” sapaku padanya.
“Ah Mas bisa saja, ini biasa saya lakukan kalau saya ada di rumah.” katanya sambil terus melakukan pekerjaannya tanpa memperhatikanku.

Aku masuk ke kamar Sum, dan mulai aku membongkar tasnya. Seperti dugaanku, Sum hanya membawa 2 potong rok terusan dan 1 buah kutang kecil serta 2 buah celana dalam yang terbuat dari bahan murahan. Kuambil seluruhnya dan kubungkus dengan tas plastik, lalu kusembunyikan di lemari ruang tidurku.

Bersambung ke bagian 02

Self Service

Self Service

Aku hidup sendirian, dengan cara yang jauh lebih sederhana daripada ketika masih bersama orang tuaku. Sebagian besar gajiku habis untuk makan sehari-hari dan membeli pakaian. Sewaktu masih tinggal bersama keluarga, aku tidak begitu peduli dengan pakaian, sehingga tak banyak membelinya. Kini, setelah bekerja, aku memerlukan pakaian-pakaian yang sesuai. Selain itu, aku juga mulai menata masa depan: aku sekolah lagi, kursus bahasa Inggris. Setiap akhir bulan, hanya sedikit yang bisa kusisakan untuk menambah tabungan.

Paviliun tempat tinggalku tertata apik. Ada satu kamar tidur, dapur kecil, kamar mandi dan ruang tamu. Sepi sekali rasanya hidup sendirian pada bulan-bulan pertama. Tetapi entah kenapa, aku menyukai kesendirian itu. Terlebih lagi, baru kali ini aku merasa mengurus diriku sendiri, setelah sejak lahir diurus orang lain. Bahkan semasa remaja sampai menikah pun hidupku selalu diintervensi orang lain. Kini aku bebas, dan ternyata melegakan!

Kehidupan seks-ku kini muncul kembali, setelah lama tak tersentuh. Aku tidak mempunyai teman khusus pria, dan perlahan-lahan kebutuhan seks kupenuhi secara mandiri. Betul-betul lengkap rasanya kesendirianku, tak ada suami pemberi nafkah, tak ada laki-laki pemuas dahaga birahi. Semuanya kujalankan sendiri saja.

Jika birahiku datang, pada saat sendirian menonton televisi, aku akan menutup semua korden. Volume TV kubesarkan, lampu kumatikan. Duduk di sofa, kuangkat kedua kakiku, bersandar santai ke jok yang empuk. Di dalam rumah, aku tak pernah memakai pakaian dalam, dan daster longgar adalah satu-satunya pembalut tubuhku. Dengan kaki terkangkang dan mata setengah terpejam, aku menikmati tangan dan jariku sendiri.

Aku biasanya mulai dengan mengelus-elus daerah sekitar kewanitaanku yang terasa hangat. Telapak tanganku dengan ringan menekan-nekan bagian atas, tempat bulu-bulu halus yang menghitam lebat. Pada saat seperti itu, kedua tanganku aktif di bawah sana. Yang satu mengusap-usap bagian atas, yang lain meraba bibir-bibirnya, menguak sedikit dan menyentuh-nyentuh bagian dalam yang cepat sekali menjadi basah. Dengan pangkal ibu jari, kutekan-tekan pula klitoris-ku, yang selalu tersembunyi di balik kulit kenyal. Aku sering mendesis nikmat setiap kali klitoris itu seperti tergelincir ke kiri ke kanan akibat perlakuan tanganku. Dengan cepat, rasa hangat menyebar ke seluruh tubuhku, dan cairan-cairan cinta terasa merayap ke bawah, ke liang kewanitaanku.

Mataku akan terpejam, menikmati kegelian itu. Kadang-kadang aku membayangkan almarhum kekasihku, tetapi akhir-akhir ini semakin sulit rasanya. Aku lebih mudah membayangkan sembarang pria, atau bintang film pujaanku, atau sama sekali seorang yang tak pernah kutemui. Seseorang yang hanya ada dalam khayalanku.

Tak berapa lama, bibir kewanitaanku terasa menebal, dan saling menguak seperti bunga yang merekah. Dengan jari tengah dari tangan yang lain, kutelusuri celah-celah kewanitaanku. Aku tidak pernah memelihara kuku hingga panjang, karena selain menghalangiku mengetik dengan cepat, juga karena aku malas merawatnya. Tanpa kuku, jari tengahku dapat leluasa menimbulkan geli dan gatal di bawah sana. Turun ke bawah, sampai mendekati lubang pelepasanku, lalu naik lagi, melewati liang senggamaku yang mulai berdenyut-denyut lemah, melewati lubang air seni, terus.. naik lebih tinggi, bertemu telapak tanganku yang lain yang masih mengusap-usap klitoris-ku. Oh.. betapa nikmat permainan yang perlahan-lahan dan sepenuhnya dalam kendaliku ini. Terkadang jauh lebih nikmat daripada dilakukan orang lain!

Lama-lama, aku tak tahan lagi. Sekaligus dua jari kumasukkan ke dalam liang kewanitaanku. Aku memutar-mutar kedua jari itu di dalam, agar dinding-dinding kewanitaanku mendapat sentuhan-sentuhan. Mula-mula sentuhan itu cukup ringan saja. Tetapi lalu aku mulai mengerang, karena geli-gatal semakin memenuhi seluruh tubuhku, dan rasanya ingin digaruk dan diurut di bawah sana. Terutama di dinding bagian atas, tempat sebuah bagian yang sangat sensitif, entah bagian apa namanya. Bagian itu membuat tubuhku mengejang jika tersentuh jari. Ke sanalah jari tengahku menuju, mengurut-urut dan menekan-nekan. Semakin lama semakin cepat dan keras. Aku bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulku, membuat posisi dudukku semakin terkangkang.

Pada saat seperti itu, tak ada yang bisa menghentikanku. Kalau telpon berdering, aku biarkan. Kalau pun ada yang mengetuk pintu, barangkali juga akan kudiamkan (tetapi belum pernah ada tamu pada saat seperti ini!). Mungkin gempa bumi pun tak kan mampu mengehentikanku. Tanganku bergerak dengan cepat dan keras. Mataku terpejam erat, mulutku tak berhenti mengerang, karena itu aku perlu mengeraskan volume televisi.

Lalu klimaks akan datang dengan cepat, menyerbu seluruh tubuhku, berawal dari dalam liang kewanitaanku, tempat kedua jariku (kadang-kadang tiga jari) mengaduk-aduk. Tanganku yang lain tak lagi sanggup berada di atas klitoris, karena pada saat klimaks aku perlu berpegangan ke sofa, kalau tidak ingin jatuh bergelimpangan ke lantai. Klimaksku selalu menggelora, selalu membuatku mengejang dan menggelinjang hebat. Kedua kakiku akhirnya terhempas ke lantai, menegang dan menekan seperti hendak melompat. Tubuhku berguncang. Nafasku memburu. Kenikmatanku tak mudah tergambarkan kata-kata.

Lalu timbul perasaan nyaman, tetapi gatal dan geli belum hilang. Maka biasanya aku langsung mematikan TV dan pergi ke kamar tidur. Di ranjang, aku melanjutkan lagi kegiatan itu, kali ini dengan bantuan bantal guling. Kujepit erat bantal guling yang terbungkus kain halus dan licin. Kugesek-gesekan kewanitaanku di sana, sehingga seringkali bungkus bantal harus kucuci keesokan paginya.

Setelah menggesek-gesek dengan bantal guling, kembali kumasukkan jari-jari tanganku. Dengan cepat jari-jari itu membawaku mencapai klimaks yang berikutnya, yang seringkali lebih nikmat daripada yang pertama, apalagi karena kulakukan sambil tidur, dengan kedua kaki terangkat sampai kedua lutut menyentuh payudaraku.

Barulah kemudian aku tertidur dengan rasa letih yang nyaman. Otot-otot tubuhku terasa bagai sehabis dipijat. Seperti sehabis berolahraga, lalu dipijat seorang yang ahli. Nyaman dan damai sekali tidurku, dengan senyum kepuasan membayang tipis di bibirku. Biasanya aku baru terbangun di pagi hari. Sendirian. Tanpa siapa pun di sisiku.

TAMAT

Sang Pencuri Celana Dalam – 2

Sang Pencuri Celana Dalam – 2

Dari Bagian 1

Setiap ada kesempatan, sejak saat itu aku selalu berpesta pora dengan baju-baju kotor penghuni kos Dudi, aku benar-benar ketagihan dengan bau memek Mbak-Mbak itu, bau khas ketiak masing-masing, bau apek keringat baju dalam setelah seharian kerja. Untuk anak seusiaku yang baru tumbuh pesat gelora nafsu sexnya, mungkin aku merasa beruntung karena dengan bayanganku sudah bisa membaui, menjilati, menciumi seluruh tubuh bahkan sampai ke liang-liang vagina gadis-gadis cantik itu.

Tidak jarang karena kesempatan di rumah Dudi terbatas, maka aku membawa pulang sepotong dua potong celana dalam dari keranjang baju kotor itu ke rumah, kugantikan celana dalamku dengan celana dalam wanita ‘pinjamanku’, rasanya lebih nyaman dan menggairahkan hidupku saat kupakai.

Sebelum aku membawa pulang salah satu celana dalam Mbak-Mbak cantik calon ‘korbanku’, terlebih dahulu aku harus mengetahui jadwal mencuci mereka, sehingga bila jadwal mencuci mereka Minggu, maka aku dengan bebas ‘meminjam celana dalam itu’ sebelum hari Minggu. Tetapi meskipun jarang sekali, ada juga yang tiba-tiba mengubah jadwal mencucinya sehingga aku kelimpungan juga saat akan mengembalikan celana dalam itu, waktu kuambil dari keranjangnya masih terlihat bertumpuk baju kotor lainnya, saat kukembalikan terlihat kosong. Aduh! Pasti dia mencari-cari dong! Aku takut kalau dia merasa kehilangan lantas mengamankan keranjang baju kotornya dengan mengunci di dalam kamar, sial bener kan?

Untunglah mereka kelihatannya tidak terlalu peduli, apalagi kalau koleksi celana dalamnya mirip-mirip gitu, aku bisa mengembalikan di jadwal mencuci minggu depannya. Tapi aku tetap harus hati-hati kan? Yang paling mengasyikan adalah bila ada salah satu penghuni kos yang akan pindah keluar, maka bisa dipastikan celana dalam kotornya akan kusikat untuk kenang-kenangan, so informasi dari Dudi sangat membantuku mengetahui siapa saja yang akan pindah kos.

Setelah koleksiku ada belasan dan aku sudah hampir lulus SMP, kebiasaanku mengoleksi celana dalam kuhilangkan, takut ketahuan ibuku, apalagi Ibuku saat aku semakin dewasa semakin rajin menggeledah kamarku, ah malas kalo tiap hari perasaan ini menjadi was-was terus, lagipula celana dalam Mbak Lina, Mbak Dian, dan lainnya sudah berkurang kekuatan ‘magis’nya untuk meletupkan birahiku. Apa mungkin bau spermaku yang mendominasi ya? Aku lebih suka ‘pinjam’ saja, meskipun kisah selanjutnya di bawah ini kadang menjadikanku harus merasa jadi seperti ‘pencuri’.

*****

Saat ini, aku sudah duduk di bangku kuliah, kenangan saat remaja itu kambuh lagi, tentu dengan pengetahuan dan fantasi yang jauh lebih lengkap, sekarang bila aku mendapatkan celana dalam kotor, tak akan kucoba untuk memakainya (jarang, habis celana dalam sekarang mungil-mungil takut sobek, sedang badanku sekarang 3 kali lipat lebih besar daripada yang dulu, begitu juga kontolku, haha).

Kugenggam erat dan kulipat sedemikian rupa hingga seluruh celana dalam itu tertutup rapat dalam genggaman tanganku, aku merasa menguasainya dengan sempurna, semakin lembut bahan pembuatnya semakin kecil pula remasan yang bisa dilakukan. Setelah itu kuhirup seluruh aroma keringat mulai dari karet-karet berenda yang melingkar di antara lekuk pinggang wanita sampai pada lipatan paha yang biasanya basah oleh keringat itu, kemudian baru kuciumi seluruh permukaan bagian bawah celana dalam itu yang biasanya sedikit menyisakan lendir tipis menyegarkan, dan terakhir kujilati dengan rakus bagian selangkangan dengan sesekali menghirup udara sedalam mungkin untuk menangkap aroma kewanitaan yang ditinggalkan oleh si empunya celana dalam itu.

Kukocok dengan perlahan kontolku yang semakin mengeras dan kuusap-usapkan pada seluruh bagian celana dalam itu sambil merasakan kelembutannya. Sementara bila aku ada kesempatan untuk mendapatkan lebih dari satu celana dalam, maka yang satunya kusarungkan di kepalaku dengan bagian memek di dekat hidung, agar aroma yang mendebarkan itu memberikan rasa horny yang luar biasa, sesaat bila kocokanku semakin cepat maka kulepas celana dalam di kepalaku dan kunikmati lendir-lendir lezat yang ada di sekitar penutup memek itu dengan hirupan-hirupan ‘maut’.

Saat pikiranku mulai memasuki zona nikmat, maka yang ada di benakku adalah jeritan pemilik celana dalam itu yang begitu terengah-engahnya melawan rasa nikmat saat lidahku mulai menjalari seluruh vaginanya meninggalkan ludah yang berceceran membasahi rambut-rambut kemaluannya, sehingga tampak segar menggairahkan. Kusedot dengan irama indah itilnya yang mulai mencuat dengan kelembutan yang perkasa.

*****

“Oh oh Tanto, benamkan seluruh wajahmu ke dalam selangkanganku!” teriak Shinta si pemilik celana dalam warna kuning motif kupu-kupu itu dengan memelas.
“Hirup dan jilat semua lendir yang keluar dari memekku ini tanpa tersisa sayangku, ahk ahk”, ceracaunya menahan orgasme yang menyerangnya bertubi-tubi.

Sementara Ika pemilik celana dalam mungil warna hijau, dengan motif komik bocah bandel ‘Shin Chan’ mulai menyemangatiku..

“Sayang, ah betapa nikmat kontolmu mengaduk-aduk memekku yang mungil ini, ssh terus honey.. Ssh jangan berhenti cintaku.. Ohh oh”.

Badan Ika terguncang-guncang keras naik ke atas dan ke bawah. Ika dengan postur tubuhnya yang mungil membuat seakan memeknya tertancap sesak di kontolku yang begitu besar, sehingga badannya terombang-ambing mengikuti irama sodokan kontolku yang menyerang memeknya tak henti-henti, lantas aku menyuruhnya untuk merangkul erat pinggangku sambil mengulum dan menjilati puting susuku agar mulutnya yang juga mungil itu sedikit teredam mengaduh nikmat. Kecupan liar Ika membuat dadaku seolah ditato warna merah tua bergambar bibir mungil. Setelah berpacu dalam nafsu beberapa lama, maka aku mulai merasakan desakan nikmat dari kontolku..

“Aah, manisku aku mau keluar nih!” teriakku histeris.
“Akh, kita juga sayang!” teriak mereka parau, mungkin otak yang mengatur suara mereka sepertinya konslet tak terkontrol karena keenakan.

Mereka mencaci, mencakar, menggigit dengan binal saat mencapai puncak kenikmatan..

“Setan kamu, sayangku, oh habiskan cepat! Minum kencingku juga lendirku, ahk oh oh akh!”, umpat Shinta sambil menjambak rambut dan membenam-benamkan dengan kasar kepalaku ke dalam selangkangannya yang terbuka lebar penuh bulu itu.
“Aduh! Aduh! Sakit tau nggak! Kontol Kakak brengsek tapi enak!”

Kepala Ika dengan wajah imut menggemaskan tengadah ke atas sambil meringis sakit karena kontolku yang besar itu menghunjam tanpa ampun mengisi seluruh liang vaginanya yang masih perawan sampai sedalam-dalamnya sambil menyemburkan semprotan-semprotan peju hangat yang memenuhi rahimnya, rasa nikmat amat sangat saat orgasme mengalahkan nyeri koyaknya keperawanan Ika.

Aku menekan sekuat tenaga pantatku supaya hunjaman kontolku benar-benar sempurna mentok ke dalam vagina Ika yang sudah kepayahan sambil terus menahan pundak Ika agar badannya tidak terangkat ke atas seiring dengan hujaman terakhir kontolku yang menyemburkan sperma penghabisan.

Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya erangan kami dan napas yang masih tersengal-sengal, bau keringat, peju, pipis, memek berbaur menjadi satu.

*****

Ahh, nikmatnya! Surut sudah fantasiku, kontolku melemas bahagia, samar celana dalam Ika yang baru lulus bangku SMP itu tergolek seolah tak berdaya di dekat selangkanganku dengan lelehan cairan putih kental spermaku membasahi seluruh bagian bawah celana dalam itu. Sementara celana dalam kotor Shinta yang berpantat padat lagi indah itu, masih terjejal di mulutku.

Aku mencuri celana dalam wanita itu dari dalam tas mereka, saat Shinta adik tingkatku yang menjadi kakak pembina pramuka dengan salah satu binaannya bernama Ika, menitipkan tas mereka di mobilku karena Shinta harus mencari penjemput Ika yang terlambat datang. Mereka baru saja menyelesaikan acara perkemahan selama 3 hari di samping kampusku.

Pada saat mengambil dari dalam tasnya, sebenarnya aku hanya ingin menciumi celana dalam kotor Shinta dan Ika, yang aku yakin aromanya pasti sungguh kuat menggairahkan, karena dengan jadwal perkemahan yang padat pastilah mereka enggan menganti celana dalam dan bra, belum lagi resapan keringat aktif mereka, ahh kebayang nggak sih? Mmh.. Sungguh sedap.

ALAMAK! Sungguh kaget aku, saat Shinta dan Ika tiba-tiba mengambil tasnya yang datang dari arah belakang, aku pikir mereka masih lama mencari penjemput Ika, untung branya masih urung aku ambil juga, apa jadinya saat kutarik bra itu lantas tas itu tiba-tiba diambil oleh pemiliknya, idih malu amit!

Akhirnya celana dalam yang telanjur aku ambil dan kusembunyikan di kantong belakang kursi mobil kubawa pulang, so meledaklah fantasiku seperti cerita di atas saat aku berada di dalam kamarku. Aku hanya berharap mereka tidak merasa kehilangan satu benda keramat mereka. Shinta dan Ika yang kutahu adalah anak orang kaya, so mereka pasti punya pembantu dong, jadinya saat pakaian kotor itu dibongkar dari tas mereka, tanpa sempat mereka lihat lagi, perkiraanku langsung diusung oleh pembantunya, nah karena tidak mencuci sendiri, mudah-mudahan mereka tidak tahu kalau ada yang hilang, apalagi cuma sebuah celana dalam. Ah bodo ah! Aku sudah jadi maling, maling celana dalam wanita. Dan setiap saat bila ada kesempatan maka aku bisa jadi “calon” pencuri lagi bila gagal mengembalikan ‘daleman’ wanita yang (sedianya) hanya aku pinjam.

Sebelum aku mengenal dunia internet, aku merasa menjadi orang ‘antik’ dengan kebiasaanku, tetapi ternyata di internet celana dalam kotor saja diperdagangkan bebas, ada komunitasnya lagi, sehingga aku sekarang tidak ‘terlalu’ merasa lain sendiri, ternyata banyak juga pelaku seks menyimpang seperti yang kualami dan dialami juga oleh orang lain, bahkan lebih parah.

Bolehkah saya mengusulkan kepada para pembaca untuk membuat komunitas kaum fetish? Hanya untuk sekedar bertukar cerita atau bahkan mungkin bisa saling bertukar koleksi, rasanya nyaman bila aku bisa berdiskusi dengan sesama penyuka ‘daleman’ bekas pakai baik yang kelas ringan maupun kelas berat.

Ketertutupan ‘penyuka daleman’ (fetish) ini di negara kita memang menghambat komunikasi antar kaum fetish, sebagai awalan saya akan membuat milis bagi kaum fetish yang terbuka juga untuk umum yang ingin lebih memahami tentang kita, biar masyarakat lebih paham akan penyimpangan kita dan tidak menjadikan itu sebagai suatu keresahan tetapi justru kemakluman, di situ kita bisa bicara apa saja mulai dari kisah kita sendiri sampai dengan informasi apa dan siapa saja, Mbak, adik atau tante yang bersedia menjual celana dalam bekas pakainya atau apa saja yang diburu penikmat fantasi seksual ini.

Kalau mau gabung milis kirim saja email kosong ke celdambekas-subscribe@yahoogroups.com dan setelah terima balasan, reply lagi dengan email kosong ke alamat tersebut.

Daripada nyolong lantas digebuki seperti di berita koran, eh ternyata celana dalam doang yang dicolong! Nggak keren amat! ;-D Ah.. Jangan sampai deh..

E N D

Sang Pencuri Celana Dalam – 1

Sang Pencuri Celana Dalam – 1

Sebut saja aku Tanto. Pencuri? Ah sebenarnya bukan! Aku hanya bermaksud ‘pinjam’ tetapi kadang tidak bisa mengembalikan! Aneh bukan? Tetapi tetap saja sang empunya menuduhku pencuri! Celana dalam lagi.. Duh mungkin kalo dilihat sisi baiknya lebih baik daripada jadi pemerkosa.. Ah dasar pencuri selalu membela diri!

Sejak usia remaja aku punya kebiasaan (sedikit) aneh, yaitu menjadi penikmat celana dalam bekas pakai dengan bahasa kerennya ‘used panties’, atau celana dalam kotor alias ‘dirty panty’ wanita. Tetapi aku juga pemilih, artinya tidak semua celana bekas pasti aku cumbui, nggak seru dong!! Bisa-bisa yang di sampah juga mau! Nggaklah..

Aku hanya mau celana dalam yang jelas pemiliknya dan aku juga menyukai pemiliknya, bisa jadi suka karena seksinya, manisnya, pokoknya asal suka aja atau paling tidak bisa mendugalah bahwa si empunya pasti kusukai, misalkan di suatu rumah yang isinya terdapat cewek-cewek seksi yang semuanya aku suka, tentu kalo aku ambil celana dalamnya pasti milik salah satu dari mereka bukan? Biasanya sih kos-kosan puteri.

Satu lagi syarat kesukaanku adalah celdam yang baru saja dipakai dan belum direndam di dalam cucian, artinya bau ‘kesegaran’ kewanitaannya tidak boleh ‘tercemar’ bau-bauan lain misalnya pemutih ataupun detergent, so itu berarti pula ogah sama cewek yang masih datang bulan, nggak asyik!

Aku paling suka jika mendapatkan tempat pakaian kotor yang dalam keadaan kering, apalagi dalamnya penuh celana dalam dan bra, kaos dalam berikut baju-baju senam. Alamak.., pesta pora! Tapi kalau toh harus memilih, tentu celana dalam dong pilihan utamanya!, disamping lebih kusukai juga karena lebih gampang membawanya, dikantongi dengan dilipat-lipat kecil beres deh.

Kisah awalnya, dahulu aku mempunyai teman karib sebut saja Dudi, nah di belakang rumah Dudi dipakai kos putri, ada 6 kamar. Waktu itu aku masih anak ingusan pakai seragam putih dengan celana pendek biru, ya betul! Masih SMP! Kelas 2. Kos putri Dudi dihuni oleh Mbak yang cantik-cantik karena dekat rumah Dudi terdapat perkantoran, bank dan juga Mall, tahu sendiri kan?

Kira-kira bagaimana gambaran para penghuni kos Dudi? Hampir tiap hari sejak aku sekelas dengan Dudi di kelas 2 SMP, aku selalu bermain di rumahnya, maklum Dudi sering ditinggal pergi oleh orang tuanya, ayahnya ABK kapal dan ibunya punya toko pakaian di Mall sehingga jarang di rumah. Tentu ibu Dudi senang kalau aku sering berada di rumah Dudi, bisa menemani Dudi, sementara kakak-kakak Dudi ada 2 orang semuanya kuliah di kota lain. Malahan kadang Ibu Dudi meminta kepada orangtuaku supaya dibolehkan menginap di rumah Dudi. Wah! Asyik kan?

Lama-lama bosan juga bermain yang itu-itu aja, Nintendo, kartu, monopoli dll. Kos Dudi kalau siang memang sepi, ditinggal kerja oleh penghuninya, suatu ketika karena bosan maka kami bermain di area belakang yaitu tempat kamar-kamar kos yang hanya dibatasi tembok setinggi kepala orang dewasa, kami geli juga saat melihat jemuran yang melambai-lambai warna-warni seperti bendera di depan kamar-kamar kos. Ide gila meluncur begitu saja di benak kami. Bermain sambil memakai baju wanita, juga sepatunya. Kami berkejaran riuh dengan bunyi berklotakan! Tiba-tiba..

“Apa-apaan kalian ini? Nanti kalo baju Mbak-Mbak rusak atau kotor kalian saya laporkan sama Ibu ya!”, hardik Mak Ijah yang melongok ke jendela belakang karena terganggu keributan dan kaget melihat kami memakai rok mini dan blus penghuni kos.
“Ayo kembalikan ke tempatnya!”, serunya lagi.

Kami memang berhenti tapi dasar ABG, kami selalu saja mempunyai ide.

“Eh, kita main jadi wanita lagi yuk! Tapi jangan pakai baju yang di jemuran, nanti kalau kotor ketahuan”, kata Dudi
“Kita pakai baju bekas yang sudah dipakai mereka aja, jadi nggak ketahuan kalau nanti kotor!”, idenya lagi, aku mengiyakan.

Bergegas kami menuju keranjang pakaian kotor, Dudi mencoba korset, aku memakai daster, bahkan bra! Kami silih berganti mencoba semua baju yang ada di dalam keranjang pakaian kotor, kami tertawa-tawa tertahan, tetapi diam-diam di balik tawaku, ada perasaan berdebar yang membuat tanganku bergetar saat mengambil baju-baju itu. Setelah puas, kami kembalikan pakaian kotor itu ke tempat semula.

Tibalah saat tidur siang! Dudi sudah tidur telentang kecapean gara-gara mencoba sepatu hak tinggi punya (kalo tidak salah) Mbak Heny yang mempunyai kaki putih mulus, sedikit berbulu yang terlihat menjuntai dengan rok kerjanya yang mini.

Suasana sepi, Dudi seolah pingsan, Mak Ijah sibuk dengan tumpukan baju seterikaannya, aku mengendap-endap menuju area kos, semakin berdebar saja perasaan ini saat semakin mendekati keranjang pakaian kotor Mbak Lina. O ya, tidak semua keranjang pakaian kotor ada di depan kamar, kadang ada yang di dalam kamar, tapi ada juga yang meletakkan pakaian kotornya di dekat tempat cucian di dalam ember warna-warni. Mungkin biar gampang menandainya.

Satu persatu dengan tangan yang seolah tak terkontrol karena terus bergetar, aku keluarkan baju-baju itu dengan hati-hati dengan memperhatikan urutannya, jangan sampai dong mereka tahu! Kalau ada baju yang baru ganti eh.. Urutannya menjadi paling bawah, berabe!

DEG! Jantungku seperti berhenti berdetak saat aku mengangkat rok mini warna merah itu karena tiba-tiba ada sesuatu yang meluncur ke bawah mengenai ujung jari kakiku, ooh seperti mendapat mainan baru perasaanku saat itu. Terlihat celana dalam warna pink dengan renda-renda yang menawan dan pada bagian depannya terdapat seperti jaring-jaring yang dapat menyembulkan bayangan transparan area kemaluan Mbak Lina, iya benar Mbak Lina! Tertulis dengan spidol di celana dalam itu “Lina”, hampir aku tidak bisa membacanya karena dadaku terus berdegub kencang hingga membuatku berkunang.

Mbak Lina adalah penghuni kos yang paling cantik, kulitnya putih bersih, matanya sayu menghanyutkan, tinggi semampai, betis dan payudaranya indah lagi kencang terlihat sewaktu memakai kaos ketat dan celana pendek ketat, pantatnya terlihat menungging seperti pantat bintang ‘Tomb Raider’ hingga sewaktu kulihat dari belakang garis celana dalamnya begitu tercetak jelas di bokongnya, apalagi saat harus membungkuk, Aduhai indah banget pemandangannya, sampai-sampai renda celana dalam yang terlipat itu bisa temaram terlihat saking kencangnya bokong Mbak Lina, rambut hitam lurus melebihi bahu, saat diikat ke belakang nampak kontras dengan lehernya yang putih itu.

Kubongkar semua isi keranjang itu dengan hati-hati, aku hitung celana dalam dan bra yang ada di dalamnya, ada 8 celana dalam dan 5 BH, semuanya mempunyai model yang berbeda-beda membuat mataku berbinar memandangnya. Ada yang model tali yang bisa dilepas sisi-sisinya, model transparan pada bagian pantatnya, model yang seolah hanya menutup bagian memeknya saja, uhk.., benar-benar bikin aku gemas abis!

Segera aku membawanya ke gudang, aku meletakkan ‘daleman’ itu di atas matras yang sering dijadikan alas senam para penghuni kos. Perlahan-lahan aku mulai mencium celana dalam dan BH itu satu persatu, ah tak terkira deh bagaimana gugupnya aku saat itu. Kubayangkan bau semerbak menyegarkan dari seluruh badan Mbak Lina, bau payudaranya yang menyenangkan saat kuhirup udara di dalam cup bra itu, persis orang menggunakan masker penutup hidung. Kulepas celana biru sekolahku dan kugantikan dengan celana dalam pink yang kutemukan pertama saat membongkar keranjang Mbak Lina tadi.

Di dalam gudang terdapat meja hias yang tak terpakai dengan cermin besar yang masih berdiri tegak, sehingga aku dapat melihat diriku memakai celana dalam juga bra Mbak Lina dengan leluasa, sungguh eksotik dan erotis! Bagian depan celana dalam terlihat jelas dari samping begitu menonjol saat bahan kain celana dalam yang lembut itu tidak dapat menahan desakan kontol mungilku yang demikian ngaceng, sementara dadaku yang kecil tak sebanding dengan mancungnya cup BH itu.

Aku mencoba satu-persatu celana dalam dan BH itu kemudian mengelus-elus kontolku yang mungil ini dengan kencang, seolah takkan kubiarkan celana dalam itu tanpa meningkalkan kesan. Aku benar-benar kesetanan! Celana dalam pink tadi sudah membungkus seluruh kontol mungilku, aku berganti memakai celana dalam warna hitam dengan ukuran yang sepertinya lebih gede dari yang pink tadi, baru sekarang aku tahu bahwa celana dalam pink tadi modelnya adalah mini, sedang yang hitam adalah midi.

Celana dalam hitam yang kupakai kujejali dengan celana dalam kotor Mbak Lina lainnya, ada yang di pantat, samping dan di dekat kontolku, bahkan hampir semuanya membungkus kontolku dengan erat. O ya, sementara BH-BH itu ada yang kupakai dengan ganjal 2 celana dalam warna putih pada cupnya, sedangkan yang lain kuikatkan di bahu dan leherku. Ampun! Betul-betul mabuk kepayang aku dibuatnya melihat hampir seluruh tubuhku digelayuti benda-benda paling pribadi dari Mbak Lina si cantik nan montok penghuni kos temanku Dudi.

Aku meremas-remas, menggesek-gesek, menciumi dengan gemas kain lembut warna-warni itu, ada rasa yang membuatku melayang-layang, apalagi renda-renda manis celana dalam transparan itu menggelitik mesra kepala kontolku, kadang celana dalam yang kukalungkan pada kontolku itu kutarik kuat-kuat hingga tangan dan kontolku seolah tarik-menarik dengan seru!

TIBA-TIBA! Ada perasaan geli yang mengalir ke seluruh kontolku, hingga kakiku terjinjit-jinjit dibuatnya, untung tembok di belakangku menahan badanku yang ngeloyor mundur. Kaget bukan alang kepalang aku saat merasa akan kencing tetapi terasa nikmat sekali rasanya! Kaget, karena aku mengira ‘ngompol’ sehingga aku berusaha menahan cairan yang mau keluar dari kontolku sekuat tenaga, waah! Tetapi justru aku mengejang dengan hebat berkali-kali dan.. “Sroot.. Sroot.. Sroot..!”

Ya ampun! Tak kuasa aku menahan cairan itu keluar, tanganku menekan kuat kontolku yang masih dibalut celana dalam pink itu dan memuntahkan cairan kental warna putih berkali-kali, diiringi lenguhan kenikmatan ‘tiada tara’. Lemas, terduduk, berpeluh peluh aku setelah itu, pikiranku yang masih melayang-layang berusaha sadar saat kulihat beberapa celana dalam yang tadinya kusumpalkan pada mulut kontolku belepotan cairan putih kental dan berhamburan di lantai! Ternyata tanpa sadar aku melakukan masturbasiku yang pertama dengan stimulus celana dalam dan bra, sungguh benar-benar memberikanku kepuasan yang berlipat.

Selanjutnya setelah otakku kembali normal, seperti orang yang baru terjaga dari mimpi yang indah, aku mulai kebingungan dan ketakutan.

“Astaga, gawat nih kalo ketahuan!”.

Takut ketahuan karena celana dalam itu banyak yang basah oleh spermaku, takut karena pada saat itu aku baru saja mengalami yang namanya orgasme dengan keluarnya sperma, aku pikir sperma itu adalah darah putih yang keluar karena kontolku terluka dalam akibat kuremas sejadi-jadinya tadi. Akupun belum pernah merasakan mimpi basah, tentu wajar bukan? Kalau aku ketakutan juga meskipun rasanya enak.

Sungguh pengalaman pertama yang takkan terlupakan, semua perasaan campur baur menjadi satu, hingga menjadi adonan kue yang mempunyai kelezatan tersendiri, yang sampai kapanpun akan membuatku terkenang. Lucu juga kenangan saat membersihkan celana dalam dan BH Mbak Lina yang belepotan spermaku itu dengan sangat berhati-hati, yang sekarang baru aku tahu bahwa sebenarnya itu tidak perlu dikuatirkan, karena setelah beberapa menit, sperma yang kental dengan warna putih itu akan berubah seperti cairan encer yang tak terlihat berwarna.

So kalau yang namanya celana dalam kotor cewek, tentu biasa dong agak terasa lembab, lagian ngapain sih si empunya memeriksa celana dalam kotornya? Baunya sperma? Ah hampir sama juga kok dengan baunya memek, toh kalo dicuci biasanya langsung dimasukkan air sabun! Jadinya nggak akan ketahuan, betul kan?

Ke Bagian 2

Pijatan Mbak Tun

Pijatan Mbak Tun

Kurasa hampir semua orang pasti pernah merasakan dipijat, apa lagi para laki-laki hidung belang seperti sebagian besar pembaca 17Tahun.com. Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di panti-panti pijat yang menjamur di mana-mana.

Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya seperti iklan minuman ringan, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Ini berbeda sekali dengan kaumku, kalau badan pegal harus susah payah cari mbok pemijat yang belum tentu ada di setiap tempat, apa lagi di kota besar seperti Surabaya ini.

Biasanya kalau badanku terasa pegal-pegal, kuminta bantuan adikku untuk memijatnya. Kadang kami bergantian saling pijat. Tetapi hari ini rumahku sedang kosong. Adikku masih kuliah sedangkan orang tuaku belum pulang dari tugas rutinnya mencari nafkah.

Hari ini aku agak sedikit kurang enak badan. Terasa sekali badanku pegal-pegal, namun di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kucoba bertanya kepada tetangga kanan kiri barangkali ada yang tahu kalau-kalau ada tetangga sekitar yang bisa memijat. Sebenarnya aku tahu bahwa di ujung gang sana ada seorang tukang pijat yang terkenal di sekitar rumahku, tapi laki-laki, namanya Pak Mat. Tidak bisa kubayangkan bahwa tubuh molekku ini bakal dipijat oleh seorang tukang pijat laki-laki, bisa-bisa yang dipijat nanti hanya di daerah-daerah tertentu saja.

Akhirnya aku dapatkan juga seorang tukang pijat wanita. Namanya Mbak Tun yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumahku. Kucoba untuk mendatangi rumah Mbak Tun yang jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari rumahku. Kebetulan Mbak Tun ada di rumah dan bersedia datang ke rumah untuk memijatku. setelah berganti pakaian dan membawa sedikit perlengkapannya, Mbak Tun mengikutiku pulang.

Mbak Tun usianya masih relatif muda, hanya sedikit lebih tua dariku. Perkiraanku Mbak Tun saat ini berusia sekitar 35 tahun. Namun di usianya yang relatif masih muda itu Mbak Tun sudah menjanda. Ia hidup bersama ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih tersisa.

Mbak Tun sudah 6 tahun bercerai dengan suaminya yang telah kawin lagi dengan wanita lain karena perkawinannya dengan Mbak Tun tidak dikaruniai anak. Cerita tentang Mbak Tun ini kuperoleh dari Mbak Tun sendiri saat memijat tubuhku. Sambil memijat Mbak Tun bertutur tentang kehidupannya padaku.

Walau tinggal di Surabaya, Mbak Tun tetap seperti layaknya orang udik, pengalamannya masih sedikit sekali soal dunia modern, namun untuk urusan sex sepertinya Mbak Tun punya cerita tersendiri. Semuanya akan kukisahkan pada ceritaku kali ini.

Sesampai di rumahku, Mbak Tun kuajak langsung masuk ke kamarku yang sejuk ber-AC. Suhu udara di luar sana bukan main panasnya, beberapa bulan terakhir ini kota Surabaya memang sedang dilanda cuaca panas yang luar biasa, konon panasnya mencapai 37 derajat celcius.

Kubuka kancing hemku dan kutanggalkan hingga bagian atas tubuhku yang mulus terpampang dengan jelas sekali. Payudaraku tampak segar dan ranum dengan ujung puting susuku yang bersih berwarna merah muda sedikit kecoklatan. Rok miniku juga kutanggalkan.

Kini tubuhku sudah hampir telanjang bulat, hanya tersisa CD yang kukenakan. Mata Mbak Tun tampak terkagum-kagum pada bentuk tubuhku yang ramping dan sexy, terlebih saat melihat bentuk CD-ku yang mini itu. Aku saat itu memakai G String berenda yang ukuran rendanya tak lebih dari seukuran satu jari melingkari pinggangku, selebihnya sepotong rendah yang tersambung di belakang pinggangku, turun ke bawah melewati belahan pantatku, melingkari selangkanganku hingga ke depan. Tepat di bagian vaginaku, terdapat secarik kain berbentuk hati kecil yang keberadaannya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku.

Lalu aku tengkurap di tempat tidur dengan hanya memakan CD. Mbak Tun mulai memijat telapak kaki, mata kaki, betis, naik lagi ke pahaku. Awalnya aku biasa-biasa saja, pijatan tangannya juga terasa pas menurutku, tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu keras yang dapat menyebabkan terasa lebih sakit setelah dipijat. Menurutku, cara memijat Mbak Tun cukup baik. Setelah memijat kaki kanan, kini Mbak Tun berpindah memijat kaki kiriku, urutannya seperti tadi. Kini giliran pahaku bagian atas yang dipijat juga kedua belahan pantatku.

“Mbak! CD-nya kok modelnya lucu ya?” tanya Mbak Tun lugu mengomentari bentuk CD-ku.
“Emangnya kenapa Mbak Tun?” tanyaku padanya.
“Oh enggak Mbak! Kalau dipakai kok seperti tidak pakai CD aja ya? Bokong (pantat) Mbak tetap kelihatan, dan bagian depannya, jembut (bulu kemaluan) Mbak juga kelihatan, Hii.. Hii.. Hii..! Kalau aku sih tidak berani pakai CD yang model begitu”, oceh Mbak Tun masih mengomentari bentuk CD yang kupakai saat itu.

Sambil mengngoceh dan bercerita, tangan Mbak Tun tetap memijat pahaku. Yang kini dapat giliran adalah pahaku bagian atas, tepatnya di daerah pangkal paha dan belahan pantatku. Aku sengaja tidak menjawab ocehannya karena aku ingin menikmati pijatannya. Sambil sedikit tiduran, mataku kupejamkan saat dipijat Mbak Tun.

Letak kedua kakiku dibentangkan terpisah agak lebar sehingga posisi pahaku terbuka. Mbak Tun memijat bagian dalam pahaku yang bagian atas dekat selangkanganku hingga aku merasakan sedikit geli, tapi enak sekali. Selain pegalku di bagian kaki dan paha mulai sedikit berkurang, aku juga mulai merasakan horny, apa lagi saat jari-jari Mbak Tun memijat bagian pangkal pahaku. Jarinya sempat menyentuh gundukan vaginaku hingga rasanya ujung CD-ku mulai lembab. Untungnya Mbak Tun sudah mulai pindah posisi memijat punggungku, naik ke leher dan berakhir di kepalaku.

Selesai memijat bagian belakang tubuhku, Mbak Tun mengambil body lotion dan dioleskannya ke kaki dan pahaku. Rasanya sedikit dingin saat mengenai kulitku. Kalau tadi memijat, kini Mbak Tun ganti mengurut tubuhku mulai dari telapak kaki, betis hingga pahaku. Kembali saat mulai mengurut pahaku bagian atas aku merasa geli, terlebih saat paha bagian dalamku yang diurut olehnya.

“Mbak! CD-nya dilepas aja ya, toh percuma pakai CD cuma sepotong begitu, lagian kita kan sama-sama wanita dan tidak ada orang lain di kamar ini, soalnya nanti kena hand body nyucinya susah”, pinta Mbak Tun padaku.

Tanpa menjawab, kumiringkan sedikit tubuhku sambil sedikit membungkuk. Kubuka CD-ku dan kulepas dengan bantuan ujung kakiku. Kini aku telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Posisiku kembali tengkurap menunggu tangan Mbak Tun kembali mengurut tubuhku.

Mbak Tun kembali ke tugasnya mengurut bagian bawah tubuhku yang sudah dilumuri body lotion tadi. Jarinya kembali bersarang di pangkal pahaku bagian dalam, sambil sekali-sekali mengurut kedua gundukan pantatku. Aku tidak hanya merasakan pegalku mulai berkurang, namun aku juga merasakan seperti ada suatu rangsangan tersendiri menyerang tubuhku bagian bawah.

Mulutku menggigit bantal yang kupakai untuk menopang daguku saat tengkurap karena menahan rasa geli di selangkanganku, manakala jari tangan Mbak Tun menyentuh bibir vaginaku. Terkada sentuhannya masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh celah belahan bibir vaginaku.

Terus terang liang vaginaku mulai bawah hingga cairan bening tak terbendung mulai membasahi liang dan dinding dalam vaginaku. Saat mengurut gundukan pantatku, seakan dengan sengaja jari Mbak Tun disentuhkannya ke vaginaku kembali hingga ujung jarinya sempat menyenggol ujung klitorisku.

Aku jadi tersiksa sekali karena menahan hasrat birahi yang timbul akibat sentuhan tangan dan jari Mbak Tun saat memijat dan mengurut bagian bawah tubuhku. Untungnya urutan Mbak Tun segera pindah ke punggungku, terus naik ke leher dan kembali berakhir di kepalaku.

Kalau di bagian atas tubuhku, aku masih tidak merasakan suatu rangsangan seperti tadi. Namun rupanya setelah selesai memijat kepalaku, Mbak Tun kembali memijat dan mengurut kedua bongkahan pantatku, yang tentunya pangkal pahaku kembali menjadi sasarannya pula.

Aku tak kuasa menolak, karena selain kupikir Mbak Tun toh juga seorang wanita, dan juga normal karena pernah bersuami walau sudah lama bercerai. Aku toh akhirnya juga menikmati semua sentuhan tidak disengaja maupun mungkin disengaja saat jari-jari tangannya mengusap bagian luar vaginaku. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak tahan lagi.

“Sudah! Cukup! Terima kasih ya Mbak”, ujarku akhirnya.
“Kok sudah toh Mbak?”, Tanya Mbak Tun padaku.
“Bagian depannya belum diurut lho! Ayo telentang Mbak, kuurut sebentar perutnya supaya ususnya tidak turun”, tambah Mbak Tun dengan sedikit memerintah.

Herannya aku menurut juga. Dan lalu aku pun telentang di hadapan Mbak Tun. Mbak Tun mulai kembali mengolesi body lotion ke bagian dada dan perutku. Mbak Tun langsung mengelus bagian atas dadaku dekat leher sedang jarinya mengurut ke bawah ke arah payudaraku. Kemudian area sekitar payudaraku juga diurut lembut mirip elusan. Aku yang sudah horny sejak tadi jadi lebih blingsatan lagi hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidah mengaduh.

“Aduuh! Geli Mbak!” protesku, tapi Mbak Tun diam saja sambil terus mengurut pinggiran payudaraku.

Kemudian perutku diurut dari setiap penjuru mengarah ke pusar. Kini giliran pahaku diurut oleh Mbak Tun. Cara mengurutnya naik ke atas menuju pangkal paha, letak kakiku dipisahkan agak lebar sehingga posisiku lebih terkangkang lagi. Mbak Tun terus mengurut pahaku. Saat mengurut bagian dalam pahaku, aku menggeliat tak karuan.

Kemudian Mbak Tun mengurut mulai tepat di atas vagina menuju pusarku. Katanya ini adalah untuk menaikkan usus dalam perutku agar supaya tidak turun ke bawah. Aku diam saja tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, terus terang pijatannya memang enak hingga pegal yang ada di tubuhku sedah tidak terasa lagi. Namun selain itu aku juga mendapatkan rangsangan seksual dari cara Mbak Tun mengurutku.

“Sudah, sekarang yang terakhir” kata Mbak Tun sambil membuka lebar pahaku.

Mbak Tun berpindah posisi duduknya. Kini dia berjongkok tepat di hadapan selangkanganku yang terkangkang lebar. Kedua tangannya secara bersamaan mengurut kedua pahaku, dari arah lutut menuju selangkangan hingga aku jadi menggeliat tidak karuan menahan geli.

Kemudian kedua ibu jarinya mengurut-urut celah lipatan selangkangan dekat vaginaku dengan cara mengurutnya dari bawah ke atas terus berulang-ulang. Bibir vaginaku menjadi saling gesek karenanya hingga rangsangan dahsyat melanda bagian bawah tubuhku dan akhirnya aku tak kuasa lagi mengendalikan nafsu birahiku sendiri hingga tanpa perlu merasa malu lagi pada Mbak Tun, jariku kuarahkan ke klitorisku dan terus kugosok-gosokkan sambil mengangkat dan menggoyang-goyang pantatku.

Aku akhirnya orgasme di hadapan Mbak Tun. Persetan kalau mau dia tertawa, bathinku. Namun ternyata Mbak Tun tetap cuek saja sampai aku selesai melepaskan orgasme. Lalu kubayar ongkos Mbak Tun memijatku dan kuminta dia untuk pulang sendiri.

E N D

Pengalamanku Beronani

Pengalamanku Beronani

Halo, perkenalkan namaku Tedi, keturunan tionghoa yang berumur 26 tahun dengan tampang biasa-biasa saja. Dalam ceritaku yang pertama di sini, akan kuceritakan pengalamanku beronani sendirian karena saya belum pernah senggama dengan cewek walaupun pernah punya pacar.

*****

Saya mengenal nikmatnya beronani ketika SMP kelas 3, maklumlah karena pengetahuan saya soal seks terbatas dan saya pun juga tidak menyangka kalau penis tuh jodohnya dengan vagina. Suatu sore (waktu kelas 3 SMP), tidak tau kenapa tuh penis saya menjadi tegang, mungkin karena gejolak masa remaja yang mudah tegang, saya memeluk guling yang bentuknya boneka cewek (bonekanya adikku) yang lumayan besar. Saya cium-ciumin tuh boneka sambil menempelkan dengan erat penisku ke guling itu. Entah kenapa saya menggeser-geserkan guling tersebut dan rasanya enak sekali tuh di penis.
“Oh.. ahh.. hmm..”, desah suaraku sambil membayangkan cewek cakep di kelasku telanjang dan kuciumin.

Posisi penisku tegak tapi mengarah kesamping atas, bukan tertekuk ke bawah, sehingga jika ditekan ke arah guling rasanya nikmat sekali (karena penisku tidak disunat, sehingga kulup penis menggeser2 kepala penis.. AHH.. nikmatnyaa..). Semakin kencang kutekan-tekan guling itu ke selangkanganku, semakin kencang gesekan kulup penis dengan kepala penisku, dan pada akhirnya ada suatu sensasi nikmat tiada tara seperti mau pipis, tapi karena aku takut ngompol, maka kuhentikan aktivitas tersebut sesaat. Setelah beristirahat sejenak, aku lanjutkan lagi, kemudian sensasi yg sama kurasakan. Karena tidak kuat menahan nikmatnya, aku keluarkan saja rasa ingin pipisku itu, “AHH..” crot crot.. crutt.. lemaslah diriku bersimbah keringat sambil memeluk erat-erat guling itu.

Sejak saat itulah, setiap aku beronani, aku selalu mengarahkan penisku ke samping dan menggunakan guling sebagai sarana untuk mengejar kenikmatan, dan sejak itu pula, saya suka sekali melihat film-film BF, gambar-gambar porno. Pengetahuan seksku bertambah setelah tahu ternyata tidak perlu menggunakan guling, asalkan kepala penisku yang digesek-gesekkan oleh kulupnya, yaitu dengan menggunakan tangan. Tapi gesekan antara kulup dan kepala penis, hanya sebatas sampai kepala penisnya, tidak sampai terlalu terbuka tuh kulup, karena takut perih dan sakit kalau kulupnya terbuka penuh. Kalau kulup dibuka penuh tuh, ternyata ada putih-putihnya dan kata orang itulah yang namanya kotoran mengendap yang harus dibuang. Dan kalau untuk orang yang sudah disunat, diambil kulupnya, maka putih-putih tersebut tidak akan ada dan tidak perlu repot-repot membersihkannya tiap beberapa hari sekali.

Pernah suatu sore, penisku tegang mendadak, aku langsung pergi ke kamar sambil melihat gambar-gambar sexy artis dari kalendar yang digantungkan di tembok. Kukeluarkan segera penisku yang sudah ereksi penuh, kukocok secepat-cepatnya karena keadaan diluar kamar ramai. Aku nekat melakukannya loh, saat sedang asyik-asyiknya mengocok, tiba-tiba aku mendengar suara kaki mau masuk kamar, kontan aja aku langsung berlari menuju pintu, dan aku lupa memasukkan penisku yang sedang ereksi dan belom terpuaskan itu ke dalam celanaku, jadi masih terjuntai bebas. Untung saja penisku tertutup oleh bajuku yang longgar dan kepanjangan. Ternyata kakakku yang masuk ke kamar, melihat aku ngos-ngosan, dan melihat ke arah selangkanganku, ternyata penisku kelihatan jelas menonjol keluar tapi tertutup oleh bajuku, untung saja dia tidak bertanya yang aneh-aneh.

Pada saat di SMA, ada guruku yang cantik, tinggi, putih, semampai dan bodinya bagus, namanya Ibu Linda, guru Fisikaku. Saat pelajarannya, aku membayangkan dia telanjang bulat, dengan posisi 69, aku menciumi memeknya dan dia mengoral penisku, wah.. kontan saja penisku TEGANGG.. Celana abu-abu SMAku yang sudah ketat, menjadi lebih sesak lagi dan celakanya penisku tegang terus, minta dilayani. Entah kenapa aku menjadi nekat untuk mengeluarkan penisku saat teman-teman semua serius mendengar penjelasannya. Kubuka retsleting celanaku pelan-pelan sekali dengan ekspresi wajah tetap serius melihat guruku, walaupun dalam pikiranku sudah ingin banget ngentotin tuh guru. Kuturunkan celana dalamku sedikit agar penisku merdeka keluar dari retsleting. Padahal teman-teman atau guruku bisa saja melihat apa yang kulakukan dibawah meja karena emang terbuka tempatnya.

Kukocok pelan tapi pasti agar tidak membuat gerakan curiga. Napasku menjadi berat, tangan kanan mengocok penis, tangan kiri diatas meja. Aduh nikmatnyaa.. mengocok penis langsung di depan guruku yang cantik sambil membayangkan ngentotin dia. Wah, tiba-tiba aku mencapai puncak kenikmatan dan crut crut crott.. keluarlah air maniku yang cukup banyak. Semburan pertamaku cukup jauh dan celakanya mengenai ujung sepatu guruku itu. Untung saja dia tidak menyadari, semburan demi semburan air maniku kuterima dengan tangan kananku, sambil berharap tidak menetes di lantai. Banyak juga maniku ini, karena dari tadi ereksi terus tapi tidak kesampaian. Untung saja aku bawa tissue di saku celana kiriku dan aku lap aja tangan kananku yang penuh dengan mani. Tanganku jadi bau amis mani tuh. Terkadang saya meminum air maniku sendiri, karena air mani tuh kadar proteinnya tinggi, bagus sekali untuk kesehatan. Lagipula menurut ilmu energi cina, air mani adalah saripati laki-laki, makanya banyak cewek yang suka meminumnya untuk awet muda dan kehalusan kulit.

Saat kuliah, pernah suatu saat aku pergi ke jakarta dengan teman-temanku cowok, aku naik KA eksekutif malam dan kebetulan di depanku duduklah cewek lumayan cakep, tapi yang membuat mataku tidak bisa lepas adalah pakaiannya yang ketat, u can see dan bodinya yang aduhai, tercetak jelas dibalik bajunya itu, lagipula dia memakai celana jins ketat, tapi cuma terpotong 20 cm di atas lutut. Kontan saja penisku berdiri sambil memandang keindahan pahanya yg putih mulus, dengan ditumbuhi bulu-bulu lembutnya indah. Celanaku jadi sesak nih, dudukku jadi tidak karuan karena penisku tertekuk ke bawah sehingga tersiksa sekali. Aku cari-cari kesempatan untuk membenarkan posisi penisku saat aku berpura-pura membawa surat kabar menutupi pahaku keatas. Penisku kuarahka ke samping, sehingga bisa ereksi penuh. Tapi tetap saja tersiksa karena ada pemandangan yang indah di depanku. Dadanya yang membusung, bodinya indah berbaju ketat, dan pahanya yang sexy terpampang jelas di depanku, tinggal kupelorotkan celana jins tersebut, maka terkuaklah memeknya yang sedap.. (dalam pikiranku saat itu).

Waktu sudah malam, udara dalam KA menjadi semakin dingin, karena ACnya dingin sekali. Orang-orang sekitarku pada tidur dengan jaket, ada juga yang memakai selimut yang disediakan KA-nya. Aku tidak bisa tidur selama penisku ereksi, sementara semua orang disekitarku sudah lelap termasuk cewek sexy didepanku itu. Anehnya, cewek itu tidak kedinginan walaupun tanpa selimut atau jaket, mungkin sudah biasa pakai AC, pikirku. Mumpung ada kesempatan, badanku yang ditutupi selimut, kubuka pelan-pelan celana panjang dan dalamku, bebaslah penisku yang sudah sangat menderita itu. Langsung kukocok penisku sambil menikmati pemandangan cewek sexy di depanku, he he he.. membayangkan aku menjilati dan menciumi pahanya yang mulus, lalu ke atas menuju selangkangannya, kubuka pelan-pelan celana jinsnya, kuremas-remas payudaranya yang montok. Ah.. ohh.. dalam hatiku, badanku langsung menjadi hangat karena memang sedang terangsang.

Dan akhirnya badanku bergetar merasakan puncak kenikmatan, dengan keberanian sedikit, kubuka selimutku, kuarahkan semburan maniku ke cewek didepanku. Semburan pertama jatuh diantara kedua payudaranya yang montok, selanjutnya langsung penisku kututupi tissue yang memang sudah kusiapkan. Kelihatan jelas maniku yang kental diatas bajunya, lumayan banyaknya, sementara dia tetap tidur. Setelah aku buang saripatiku, barulah penisku bisa tidur, dan akupun juga tertidur pulas dengan nikmatnya. Entah apa yang terjadi keesokan harinya, karena cewek didepanku sudah bangun duluan dan aku masih melihat bekas maniku sedikit di bajunya itu. Untung dia tidak bereaksi apa-apa dan aku juga berlagak tidak tau.

Pada saat aku di Semarang, karena cuaca yang panas dan gerah, aku mengambil inisiatif untuk berenang di Hotel X. Beruntungnya saya, ternyata disana lumayan ramai, lebih banyak cewek daripada cowoknya, sexy- sexy lagi, Tante-Tante juga cukup banyak. Wah, asik juga nih, dalam batinku. Penisku menjadi tegang melihat kesexyan cewek-cewek dan Tante-Tante yang putih mulus itu. Aku langsung pemanasan sebentar, lalu ke kamar mandi untuk memakai celana renangku. Berhubung penisku masih ereksi penuh, kutekuk penisku kearah bawah, karena celana renangku ketat dan sexy, takutnya terlihat dengan jelas tonjolan penisku ini. Dengan PD-nya aku berjalan keluar sambil dilihatin para cewek dan Tante, mereka melihat kearah penisku yang terlihat ereksi walaupun sudah ditekuk kebawah. Beberapa diantaranya tersenyum penuh arti melihat penisku. Aku menceburkan diri keair, nikmatnya dikala terik matahari.

Setelah beberapa kali berenang bolak balik, saya istirahat sebentar sambil melihat-lihat para cewek disekitarku. Sexy dan putih muluss, gila nih penis, masih tetap ereksi. Timbul ide gilaku untuk bermasturbasi di dalam air. Aku berpura-pura masuk kedalam air sambil melepaskan penisku keluar kearah atas, tapi aku masih tetap bercelana dong. Dengan tidak membuat gerakan membuat curiga, aku mulai mengocok penisku pelan-pelan. Nikmat juga nih sambil melihat cewek dan Tante yang sexy berpakaian renang. Wah celaka, ada cewek yang berenang ke arahku, langsung saja aku menghentikan aktifitasku dan pura-pura melanjutkan renangku ke tepi seberang, tapi penisku masih terjulur keluar. Ada sensasi nikmat sekaligus aneh, berenang tapi penisku terjulur bebas keluar. Setelah sampai tepi, aku kocok lagi penisku. Beberapa Tante sedikit curiga dengan aktifitasku, karena aku sedikit merem melek menikmati kocokan penisku, tapi aku cuek saja. Eh, ada cewek, yang juga tionghoa, lagi yang berenang kearahku, kali ini dia memakai kacamata renang, aku langsung santai-santai saja, dengan kedua tangan bersandar ke atas, sementara penisku masih bebas didalam air.

Tentu saja cewek tersebut kaget melihat penisku (aku yakin dia pasti suka juga ya?), dan dilihat dari gerakan renangnya, dilama-lamain tuh kepalanya di dalam air. Setelah dia sampai di sampingku, sambil tersenyum kearahku, dengan cueknya dia membelai penisku lalu melanjutkan berenang ke seberang.
“Gila, berani juga nih cewek”, dalam hatiku.
Anehnya, setelah sadar, di sekitarku beberapa cewek dan Tante sengaja berenang melintasiku sambil membenamkan kepala mereka lama-lama di air (pasti mereka menyesal tidak membawa kacamata renang, he he he). Sampai pada akhirnya, penisku mencapai ereksi penuh, mataku merem dan crot crot crott. Ternyata hampir semua maniku disedot dan ditelan oleh cewek yang membelai penisku tadi, gila nikmatnyaa. Setelah itu aku berkenalan sama cewek tersebut, namanya Leni, lumayan cantik dan mulus tuh. Tangannya membimbing penisku untuk dimasukin kedalam celana renangku. Kulihat mimik para cewek dan Tante disekitarku kecewa karena maniku sudah ditelan oleh si Leni ini. Kapan-kapan akan kuceritakan pengalamanku dengan Leni di lain kesempatan ya?

Sampai sekarangpun, jika aku masturbasi, selalu dengan melihat film BF atau gambar-gambar porno yang didapat dari teman-temanku. Dan kebetulan, aku menemukan situs 17Tahun.com, aku ambil semua cerita yang menurutku bagus, sambil membacanya dan membuat khayalan dalam angan-angan, aku bermasturbasi. Kututup dan kukunci kamarku, aku telanjang bulat, dengan penis menantang tegak. Kukocok pelan-pelan menikmati cerita seks dikomputer. Sampai pada akhirnya, penisku seakan-akan mau meledak, mengeluarkan pejuh sebanyak-banyaknya dan selalu kututup dengan tissue agar tidak berceceran dan bermuncratan dilantai.

Seperti yang pernah kukatakan diatas, bahwa air mani merupakan saripati pria yang terutama, kandungan protein dan energinya sangat tinggi, sehingga sangat bagus untuk kesehatan (terutama untuk cewek-cewek agar awet muda, energik dan halus kulitnya). Sepanjang pengalamanku, jika kalian para cowok, akan sakit flu atau apalah, lalu beronani, dijamin deh besoknya akan terkena sakitnya, karena saripati dan ketahanan tubuh kalian terbuang. Tapi suatu saat, pernah karena beberapa hari aku tidak beronani, lalu badanku kena flu dan demam. Sakitnya tidak kunjung sembuh, lalu kemudian aku nekad beronani, anehnya sembuh. Entah yang mana yang benar, dicoba saja deh sendiri-sendiri. Terutama cewek-cewek, kalian harus sering meminum air mani agar sip!

Itulah pengalaman-pengalamanku bermasturbasi, untuk cewek-cewek yang masih perawan dan ingin menikmati oral seks yang aman tanpa senggama, hubungi saya, dijamin sama-sama puas. Atau para cewek dan Tante yang ingin berkenalan, sharing dan ingin juga oral seks, meminum air maniku sebanyak-banyaknya, hubungi saya via email.

E N D

Pengalaman Pertama Bermasturbasi

Pengalaman Pertama Bermasturbasi

Aku mengucapkan terima kasih kepada para pembaca 17Tahun.com yang begitu antusias mengirimkan email padaku. Terus terang aku cukup kerepotan membalas ratusan email setiap harinya, bahkan belakangan sudah cukup banyak juga pembaca iseng yang menerorku.

Ini semua sebenarnya kesalahanku juga, karena aku langsung mencantumkan nomor HP-ku pada setiap balasan email yang masuk. Terus terang aku tidak menyangka kalau diantaranya banyak pembaca yang “liar”, mereka bukannya memenuhi persyaratan yang kuminta malah langsung saja main telepon seenaknya mencariku. Dengan kata-katanya kasar, main langsung mengajak ML, mereka pikir aku ini barangkali cewek murahan? Maka mulai saat ini setiap email yang masuk tetap kubalasdengan mengajukan persyaratan, namun tidak kububuhi nomor HP-ku lagi. Kalau memang mereka serius dan sudah memenuhi persyaratanku, baru kukirimi nomor HP dan fotoku.

Jadi mohon maaf bagi para pembaca lain yang sebenarnya baik dan sopan terpaksa kena imbasnya juga. Lewat tulisanku ini, aku mohon maaf dan mohon maklum karena semua ini demi kebaikanku juga. Terus terang privasiku jadi sangat terganggu oleh telepon iseng yang menghubungi HP-ku hampir tiap menit selama 24 jam sehari, bisa anda bayangkan.

Ternyata banyak juga cewek yang mengirimkan email padaku. Mereka bercerita tentang pengalamannya, juga menanyakan kehidupan pribadiku, khususnya kehidupan sex-ku selama ini dan sebagainya. Ada yang meminta agar aku juga menulis tentang pengalaman sex-ku yang pertama kalinya. Kupikir ada baiknya juga aku menulis tentang itu.

Sebelum aku mengisahkan tentang pengalaman pertamaku bermain sex dengan pasangan, ada baiknya aku ceritakan dulu pengalaman pertamaku bermain sex solo atau bermasturbasi, karena jauh hari sebelum aku melakukan hubungan sex, aku sudah sering melakukan masturbasi.

Aku sejak kecil memang sudah tidak suka dan tidak pernah mau memakai BH. Kebiasaan ini berlanjut hingga kini. Hal ini tentu membuat kedua orang tuaku jadi kelabakan. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, aku hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Mungkin kebiasaan memakai singlet sejak kecil inilah yang membuatku hingga saat ini lebih leluasa memakai T Shirt yang lebih mirip singlet itu.

Demikian pula saat aku duduk di bangku SMU, aku juga hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Memang agak mending sih, ketimbang aku hanya langsung memakai hem saja tanpa BH di dalamnya, jadi fungsi kaos singletku adalah sebagai pengganti BH.

Soal CD memang sejak usiaku masih anak-anak, aku lebih suka yang model sexy, namun saat SD aku tidak bisa berkutik karena Mamaku yang selalu membelikan semua kebutuhanku. Baru sejak SMP aku sudah bisa memilih model CD kesukaanku sendiri, karena saat itu aku sudah dipercaya untuk membeli kebutuhanku sendiri, walau uangnya tetap kudapat dari kedua orang tuaku.

Pada awalnya saat aku masih SMP, model CD yang kubeli masih biasa-biasa saja, karena untuk CD yang mini seperti model berenda atau G String rata-rata harganya masih sangat mahal untuk anak seusiaku, apa lagi aku dari kalangan keluarga yang hidupnya hanya pas-pasan.

Baru saat SMU aku bisa membeli dan memakai CD yang kuidam-idamkan dari sejak masih kecil, karena saat itu uang sakuku juga sudah mulai agak banyak, jadi aku bisa menabung dulu untuk membeli penutup alat vital yang kuidam-idamkan itu. Dan saat SMU-lah aku mulai terbiasa dengan memakai rok mini sebagai seragam sekolah.

Pokoknya sejak aku SMU-lah aku merasakan merdeka, bisa memiliki dan memakai CD berenda atau G String yang kuidam-idamkan. Bayangkan saja modelnya, keduanya hampir sama mininya, hanya yang satu berenda dan yang lainnya G String terbuat dari seutas tali nylon. Saat kukenakan melingkari pinggangku, yang model G String sedikit ada perbedaan, ada ikatannya di samping kanan dan kiri pinggangku.

Semua modelnya seperti bikini yang amat sangat mini, hanya ada secarik kain berbentuk segi tiga di bagian depan, fungsinya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku. Sedangkan CD berenda yang kumiliki bagian depannya berbentuk hati kecil dengan renda di pinggirannya.

Waktu SMP masih belum seberapa, namun baru saat aku SMU banyak teman sekolahku, baik teman sekelas atau dari kelas lain termasuk para guruku, sering menelan ludah saat aku lewat di hadapan mereka. Karena saat SMP rok bawahanku masih biasa-biasa seperti layaknya murid wanita yang lain, namun saat SMU aku sudah berani memakai rok mini saat sekolah.

Awalnya pihak sekolah memang melarang, namun lama kelamaan pihak sekolah mungkin bosan juga, atau mungkin juga kepala sekolahku merasa ada baiknya bisa ikut menikmati memandang pahaku yang mulus (Haa.. Haa.. Haa..!). Bukan GR lho, aku sejak kecil memang sudah cantik dan selalu menjadi bintang sekolah, bukan hanya bintang di kelas saja. Banyak cowok teman sekolahku yang menaksirku tapi mereka harus mundur dengan patah hati karena aku memang tidak mau terikat sejak dulu. Aku paling tidak suka dengan cowok yang egois, yang jika merasa sudah dekat denganku lalu yang lain tidak boleh lagi mendekatiku. Aku ingin dapat berteman tanpa ada ikatan apa lagi paksaan.

Pertama kali aku mengenal permainan sex adalah saat aku masih SMU, bukan sex sungguhan sampai ML. Maksudku, kami hanya sampai petting hingga oral sex saja, istilahku saat itu SSKTR (Sex Sex Kecil Tanpa Resiko). Bagaimana kisahnya, nanti akan kuceritakan pada kisahku yang akan datang, untuk kali ini aku akan menceritakan pengalaman masturbasiku yang pertama.

Aku pertama kali melakukan masturbasi saat masih duduk di bangku SMP. Aku sudah lupa waktunya, namun aku masih ingat saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMP. Sebenarnya ada teman sekelasku yang kutaksir saat itu, namanya Joko. Anaknya pandai. Dia menjadi temanku saat kelas dua, karena saat masih kelas satu dia bersekolah di Solo, dan baru pada kelas dua orang tuanya pindah tugas ke Surabaya hingga Joko pun harus ikut pindah sekolah.

Banyak teman-teman cewekku yang juga menaruh perhatian pada Joko namun Joko anaknya cuek saja. Tidak seperti teman-teman cowokku yang saat itu yang sudah mulai puber dan banyak tingkahnya, Joko anaknya tenang, lebih pendiam dan sedikit berwibawa. Mungkin ini juga yang membuat teman-teman cewek lainnya jadi penasaran padanya.

Saat-saat aku di rumah, aku sering membayangkan bagaimana kalau seandainya Joko mencium bibirku, meremas payudaraku yang sudah tumbuh membesar itu. Bahkan aku juga membayangkan bagaimana kalau seandainya jari-jari tangan Joko membelai selangkanganku, menyentuh vaginaku yang bagian luarnya sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku hanya bisa berandai-andai saja, namun aku juga tidak mengerti apakah itu yang dinamakan cinta atau hanya nafsu. Namun itulah yang kurasakan saat itu.

Saat mandi aku mulai sering meraba-raba payudara, selangkangan dan daerah erogenku yang lainnya. Namun aku belum pernah melakukan sesuatu sampai satu saat aku mengalami orgasme, bahkan saat itu aku pun belum tahu apa itu orgasme dan sebagainya. Aku semakin hari semakin asyik merabai tubuhku sendiri hingga aku mulai tahu dimana saja letak bagian tubuhku yang paling nikmat kalau disentuh.

Aku paling senang memainkan klitorisku dengan ujung jari sambil meremas-remas payudaraku. Liang vaginaku selalu becek kalau aku melakukan hal seperti itu. Ada cairan bening merembes keluar dari dalam liang vaginaku keluar membasahi sekitar selangkanganku.

Aku semakin berani menggesek-gesekkan jari ke belahan bibir vaginaku, sambil membayangkan kalau semua ini dilakukan oleh Joko. Kalau di kamar mandi aku selalu mengoleskan sabun cair dulu di seputar bagian luar vaginaku. Lain lagi kalau kulakukan di atas tempat tidur, sering kugunakan hand body lotion dulu, kulumuri di seputaran selangkanganku baru aku melakukan aktifitas.

Licinnya sabun cair atau body lotion tersbut menjadi lebih licin lagi saat bercampur dengan cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang vaginaku saat aku sudah mengalami nafsu yang sangat tinggi. Kumainkan klitorisku dengan ujung jari, kugesek-gesekkan sambil tanganku yang satu lagi tetap meremas-remas payudaraku dan memilin-milin puting susuku.

Aku merasakan sesuatu yang terasa akan meledak keluar dari dalam tubuhku, desakannya semakin lama semakin kuat hingga membuatku menggeliat tidak karuan. Bibirku terus mendesah menceracau bagaikan anak kecil yang tiba-tiba terserang demam yang tinggi, sampai akhirnya aku mengalami rasa ingin pipis, namun yang terjadi adalah adanya kedutan-kedutan di vaginaku.

Badanku menggigil hebat sekali, kurasakan ada sesuatu yang tumpah keluar dari dalam rahimku memenuhi seluruh bagian dalam liang vaginaku, membasahi dinding-dinding dalam vaginaku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan orgasme? Yang jelas setelah itu aku mengalami kelegaan yang amat sangat luar biasa. Bebanku menjadi hilang, badanku menjadi ringan, pokoknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Belakangan baru kutahu bahwa itulah yang dinamakan orgasme, karena hal-hal itu makin sering kualami, paling tidak tiga kali dalam seminggu aku mengalami hal seperti itu, karena hampir tiga kali dalam seminggunya aku selalu melakukan masturbasi.

Terus terang saat masih SMP aku belum berani membiarkan teman cowokku menyentuhku walau sebanarnya dalam hati ingin sekali, namun aku masih takut akan aturan dan norma-norma pada saat itu. Apa lagi saat itu aku masih perawan dan pada anak seusiaku sudah ditanamkan betapa pentingnya arti sebuah keperawanan bagi anak gadis.

Ini pun mempengaruhi juga caraku melakukan masturbasi. Aku tidak berani memasukkan ujung jariku ke dalam liang vaginaku, karena aku takut keperawananku akan terenggut oleh jari-jariku sendiri. Padahal pada saat-saat tertentu saat bermasturbasi, ingin sekali rasanya aku memasukkan jariku ke dalam liang vaginaku yang terasa sangat gatal ingin digaruk saja rasanya. Biasanya hal ini terjadi pada saat aku hampir mengalami orgasme. Dorongan seperti itu datangnya kuat sekali. Tapi untungnya semua mampu kuatasi, aku bisa mencapai puncak kepuasan hanya dengan memainkan klitorisku dengan ujung jariku. Sementara jari tangan kiriku memainkan klitoris, jari tangan kananku menggosok-gosok belahan bibir vaginaku. Atau saat jari sebelah tanganku memainkan klitoris, tanganku yang lain meremas-remas payudaraku sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Libidoku sejak SMP memang sudah sangat tinggi, aku paling tidak tahan kalau tidak melakukan masturbasi tiga kali dalam seminggu, rasanya selalu ingin uring-uringan saja.

Demikianlah sedikit pengalamanku pertama kalinya melakukan masturbasi. Kisah ini kutulis untuk memenuhi beberapa rekan pembaca wanita yang mengirimkan emailnya padaku. Sekali lagi aku mohon maaf kepada para pembaca yang mengirimkan email padaku, kali ini aku tidak dapat memberikan nomor HP-ku dulu sebelum kalian penuhi persyaratan yang kuajukan, terima kasih!

E N D