Archive for the ‘Eksibisi’ Category
Tubuh Tante Reni
Perkenalan namaku Rendi. Dalam cerita keduaku setelah cerita Kak Linda, aku mau berbagi kembali pengalamanku. Kalau belum membaca, aku mau memperkenalkan jati diriku. Aku tinggal dikota S Jawa Tengah, tinggiku 169 cm dan berat badanku 52 kg. Aku saat ini kuliah disalah satu universitas ternama di Jateng. Saat ini aku mau langsung cerita pengalamanku saat aku masih duduk kelas 1 SMP tapi aku masih ingat betul ceritanya.
Saat aku lulus di SD aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Seperti janji ayahku kalau nilaiku baik aku akan dikirim di luar kota yang pendidikannya lebih baik. Disana aku dititipkan dirumah pamanku, om Hari. Dia orang yang sangat kaya raya. Rumahnya sangat megah tapi terletak disebuah desa pinggir kota. Rumahnya terdapat dua lantai dan dilengkapi juga kolam renang yang lumayan besar. Om Hari orangnya sangat sibuk, dia mempunyai istri yang sangat cantik namanya Tante Reni, wajahnya mirip dengan Amara. Dia mempunyai anak yang masih kecil. Tante Reni rajin merawat tubuhnya, walapun dia sudah mempunyai satu anak tubuhnya tetap padat berisi ditunjang dengan payudara yang sangat montok kira kira 34B. Hal itu yang membuatku tertarik akan keindahan serta anugrah dari seorang wanita.
Sesampainya dirumah Om Hari. Aku memasuki pintu rumah yang besar. Disana aku disambut oleh Om Hari dan istrinya. Om Hari menjabat tanganku sedangkan Tante menciumku. Aku agak sungkan dengan perlakuan seperti itu. Pembantu disana disuruh membawakan tasku dan mengantarkan sampai di kamarku. Aku mendapat kamar yang 3 kali lipat dari kamar tidurku dirumah. Setelah itu aku berkeliling rumah melihat kolam renang serta sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku. Disana terdapat tempat cuci tangan dengan cermin yang besar WC, bathup, dan dua shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang diputarkan membentuk 1/4 lingkaran (sorry aku nggak tahu namanya). Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.
Sore hari, aku duduk ditepi kolam. Om Hari datang menghampiriku dia bilang mau pergi keluar kota. Dia juga mohon maaf tidak bisa menemaniku. Kami pun mengantarkan sampai pagar rumah. Setelah itu aku kembali duduk menikmati suasana kolam renang. Tiba tiba dari belakang muncul sosok yang sangat menawan. Tante dengan baluatan piyama menghampiriku.
“Ren kamu suka nggak ama rumah ini”
“Suka banget Tante, kayaknya aku kerasan banget dengan rumah ini tiap sore bisa renang”
“Kamu suka renang, yuk kita renang bareng, pas waktu ini udara sangat panas”
Wahh kebetulan aku bisa renang ama Tante yang bahenol. Waktu bertemu pertama kali aku cuma bisa membayangkan bentuk tubuhnya waktu renang dengan balutan swimsuit. Tapi ketika dia berdiri. Dia membuka piyamanya. Kontan aku tersedak ketika dia hanya memakai Bikini yang sangat sexy dengan warna yang coklat muda. Model bawahannya G-string.
“Huhuukk.. Aduh Tante aku kira Tante mau telanjang”
“Enak aja kalau kamu, Om bilang kamu suka bercanda”
“Tante nggak malu dilihatin ama satpam Tante, Tante pake bikini seperti ini”
“Ihh ini sudah biasa Tante pake bikini kadang ada orang kampung ngintip Tante”
“Benar Tante.. Tapi sayang aku lupa bawa celana renang”
“Ah.. Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi’ Imah suruh beli buat kamu, yuk nyebur..” segera Tante menyeburkan dirinya. Dengan malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu dia naik dari kolam. Dia memdekatiku
“Ayo cepet.. Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi sama dengan kakak perempuan kamu.”
Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada bikini pake busa. Aku melirik bagian payudaranya. Dia hanya tersenyum.
Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala adikku kelihatan kalau lagi tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku berenang bersama Tante.
Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin. Ketika hendak menyabuni tubuhku. Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip ternyata Tanteku yang masuk. Kontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan. Ketika dia membuka sedikit tempatku aku spontan kaget segera aku menghadap ke belakang.
“Ehh.. Maaf ya Ren aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara sih”
Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante sudah menanggalkan bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya.
“Maaf.. Juga Tante.. Ini salahku” jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku lakukan. Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras dengan besarnya payudara Tante.
“Tante tutup dong tirainya, akukan malu”
Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan seolah olah aku sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk tempat shower. Dia berdiri didepat cermin. Disana dia sedang membersihkan muka, tampak payudaranya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan adikku yang langsung keras. Kukocok dengan sabun cair milik Tante. Ketika aku intip yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia mengoleskan disekitar payudaranya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit mulutnya sambildia memejamkan mata. Sambil menikmati pemandangan aku konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya.. Crot crot..
Air maniku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku tidak melihat Tante di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan CDnya dengan perlahan lahan dan melemparkan CDnya kekeranjang dan masuk ke shower. Setelah beberapa kemudian dia keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku.
“Ren koq lama banget mandinya. Hayo ngapain didalam”
Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup kembali.
“Rendi malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?”
“Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar”
“Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan handukmu.”
Tante sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai kedinginan yang tadi adikku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu terbuka pembantu Tante yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun kaget segera aku menutupi adikku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup auratku Tanteku masuk masih tetap telanjang hanya aja dia sudah pake CD model g-string.
“Ada apa Tante. Kok masih telanjang” jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat malu ketika adikku berdiri lagi.
“Sudah nggak malu ya.., anu Ren aku mau minta tolong”
“Tolong apa Tante koq serius banget.. Tapi maaf ya Tante adik Rendi berdiri”
Dia malah tertawa.”Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang” jawab Tante.
“Begini aku minta Rendi meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak datang”
Bagai disambar petir. Aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. Pucuk dicinta ulam tiba.
“Mau nggak..?
“Mau Tante.”
Segera dia berbaring tengkurap. Aku melumuri punggung Tante dengan lulur. Aku ratakan disegala tubuhnya. Tiba tiba handukku terlepas. Nongol deh senjataku, langsung aku tutupi dengan tanganku
“Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan.”
Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai.
“Tubuh Tante bagus banget. Walaupun sudah punya anak tetap payudara Tante besar lagi kenceng”
Aku berbicara waktu aku tahu payudaranya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya.
“Ren berhenti sebentar”
Akupun berhenti lalu dia mencopot CDnya. Otomatis adikku tambah gagah. Aku tetap tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu.
“Ren Adikmu lagi tegang tegangnya nih kayaknya sudah hampir keluar nih.”
Lalu dia menyuruh aku mengolesinya dibagian payudaranya. Dia suruh aku supaya agak meremas remasnya. Aku pun ketagian acara itu disana aku melihat puting berwarna coklat muda lagi mengeras. Kadang kadang aku senggol putingnya atau aku sentil. Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan.
“Ren terus remas.. Uhuhh remes yang kuat”
“Tante kok jarang rambutnya dianunya Tante. Nggak kaya Mbak Ana” aku bertanya dan dia hanya tersenyum ketika tanganku beralih di daerah vagina.
Ketika aku menyentuh vagina Tante yang jarang rambutnya. Aku gemetar ketika tanganku menyentuh gundukan itu. Belum aku kasih lulur daerah itu sudah basah dengan sendirinya. Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku tekan bagian keduanya.
“Ren pijatanmu enak banget.. Terus..”
Setelah aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante menegang. Serr serr, aku mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas.
“Makasih ya atas acara lulurannya. Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya”
“Tentu Tante, kalau ada apa apa bisa andalkan Rendi”
Lalu dia pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan, tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke dalam almari.
“Den, Rendi, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang” sebelum aku jawab.
Dia memberitahukan kalau Tante itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat depan rumah.
“Sudah ganti sana CD ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Rendi masih amatir” dia menggodaku.
Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante bahkan hampir tiap hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup dirumah Tante Reni yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah itu. Aku disana belum genap satu tahun. Karena harus balik lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakakku Ana.
E N D
Sang Cewek Idola 03
Sambungan dari bagian 02
Saya langsung balikkan tubuh Venny, dan saya mulai lagi rekaman saya, kali ini tampak depan, dan aah.., saya akhirnya dapat melihat kemaluan Venny, kemaluannya.. Vagina cewek cantik putih bersih ini..! Tidaak, saya benar-benar tidak tahan, dengan gemetar saya terus rekam vaginanya, saya usap-usap keringat saya yang berjatuhan, saya larikan lagi kamera saya ke bawah sedikit menyorot celana dalamnya, untuk seakan menunjukkan bahwa saya telah berhasil melihat tahap paling dalam hal yang selalu berusaha dihindari setiap cewek. Saya melihat vaginanya, bukan sekedar paha, atau celana dalam lagi! Siapa yang tidak terangsaang super berat..? Pengalaman yang takkan pernah terlupakan!
Kocokan penis saya makin lama makin cepat.
“Aah.. aah.. Venny.. yang caan.. aah.. tiik..,” desahanku semakin kencang.
Saya gerakkan lagi handycam saya, melanjutkan penelusuran tubuhnya lagi yang sangat ramping dan seksi putih. Saya kali ini sampai pada perutnya, mmhh.. dan dadanya.. dan putingnya, dengan sedikit pinggir BH putihnya yang sangat merangsang setiap nafsu cowok. Aahh.. apalagi saya yang benar-benar seperti jomblo (loser) ini!
“Maaf, Frank (cowok terkeren di SMA saya, yang jelas juga tertarik sama si Venny ini), saya sudah melihat puas dan menggerayangi tubuh Venny duluan.. hahahaa!” begitu pikir jahatku.
Sambil keringat saya makin bercucuran, akhirnya saya sampai pada wajahnya, matanya yang masih terpejam seraya tidak berdosa, rambut panjang hitamnya yang terurai, hidungnya yang mancung, dan mulutnya yang menawan. Langsung saya cepat sekali letakkan kembali handycam saya di sudut tembok. Setelah puas menelusuri tubuh putih Venny, langsung saya bergegas lagi ke ranjang dengan terangsang berat, saya tidak tahan. Dan permainan terakhir pun terjadilah, saya langsung buka seragam sekolahnya keluar dari lengannya, saya letakkan di pinggir ranjang. Lalu saya turunkan rok birunya ke bawah sampai ke ujung kakinya.
Selanjutnya saya buka BH-nya, dan biarkan BH-nya masih melekat di punggung putih mulusnya, dengan depannya sudah terbuka total. Saya langsung seperti kesetanan, saya turunkan sedikit lagi celana dalamnya hingga bagian lutut, maka dengan posisi yang sangat meranggsang seperti ini, saya langsung mulai menjilat-jilat puting susunya, dadanya, dan tangan kanan saya langsung mulai memasuki vaginanya. Saya putar-putar, dan tangan kiri saya membimbing tangan kanan Venny untuk mengocok kembali penis saya yang sudah tegang berurat, dan pembaca, inilah kenapa saya sebut permainan ternikmat, Venny bersuara.
“Mmhh.. mmhh..” rintihannya yang sangat manja itu benar-benar menusuk telinga saya, dan tentu penis saya semakin menegang.
Ternyata obat itu bukan hanya untuk menidurkan saja fungsinya, tapi mungkin merangsang. Setelah 1 jam kemudian, oohh.. hebat, hebat.., saya malah jadi makin bersyukur dan bernafsu mendengar suaranya, sambil dengan mata terpejam tidak sadar. Mungkin dia pikir ini semua mimpi.., pasti! tapii.. hahahaa.. ini bukan mimpi, Venny yang cantik! Saya sangat terangsang sekali mendengar lenguh nafasnya yang makin memburu.
“Mmhh.. mmh.. ah.. ah.. ah.. ah.. mmh..” begitu suara Venny yang kecil mungil tinggi dan nyaring itu membuat penis saya makin berat terangsang beserta urat-uratnya.
Saya makin ganas mengulum dan menghisap dada dan juga puting susunya Venny.
“Sslluurrpp.. sseepp.. aah.. aah..,” dan saya makin mempercepat permainan tangan kanan saya di vaginanya.
“Mmmhh.. ah.. ah.. ah.. mmhh..” desahan Venny lebih lanjut lagi, kali ini agak kencang sedikit, mengoyak kuping saya.
“Aaah.. Vennyy.. aah.. suaraammuu.. aah.. sekkssiihh..” saya juga ikut mendesah melihat bibirnya yang makin basah dan gerak mulutnya yang mendesah-desah.
Wajahnya semakin memerah, benar-benar mempercantik dewi ini saja. Saya benar-benar sudah tidak karuan nafsunya. Di dalam kamar saya ini sekarang hanya ada suara desahan nafsu saling bergantian satu sama lain. Satu desahan saya, desahan biadab.., satu lagi desahan Venny yang seakan-akan meronta minta ampun.
“Jangaan.. jangaann..!” begitulah pikirku, “Hahahaha.. terlambat, Venny!”
Satu hal yang perlu pembaca ketahui, saya benar-benar tidak berani untuk memasukkan dan menembuskan penis saya ke dalam vagina Venny, karena saya benar-benar takut akan resiko. Jomblo (loser) macam saya ini, paling takut untuk berurusan dengan resiko, apalagi kalau nanti orangtuanya tahu, habis saya! Makanya, yang saya lakukan adalah terus memain-mainkan jari saya di dalam vaginanya.
“Mmhh.. ahh.. aahh..” pekikan Venny dan desahannya semakin manja dan tinggi, sehingga saya benar-benar terangsang habis.
Kocokan saya semakin lama semakin cepat, apalagi melihat wajahnya yang makin memerah, menambah kecantikan seorang yang sudah super cantik ini, dan suaranya itu benar-benar menambah nafsu setan.
“Aaah.. Veenny.. kamu.. cantt.. aah.. tiik.. suaaramu.. aah.. ahh..”
“Ah.. ah.. mmh.. aah.. aah.. aah.. ja.. jangaan..!” desah Venny, dan kali ini tambah lagi kata baru ‘jangan’, sepertinya dia lagi mimpi diperkosa.
Padahal memang benar kenyataanya Venny, kau lagi diperkosa oleh cowok gila ini. Cowok yang bagai pungguk merindukan bulan ini, tapi akhirnya berhasil memuaskan hasrat terdalamnya.
“Aaah.. Veenny.. aah.. aah..” tangan putih Venny yang mulus saya gerakkan mengocok batang penis saya makin sangat cepat.
“Aaah.. mmhh.. jaanngaann.. mmh.. aahh..” desah Venny sambil mulutnya bergerak-gerak.
Saya cepat-cepat hisap dan kulum bibirnya untuk terakhir kalinya, dan saya merasa penis saya akan memuncratkan air ternikmatnya. Maka, sekaranglah puncaknya, saya dengan gila sekali seperti kesurupan, menggerayangi tubuh Venny, apa saja, dengan cepat! Kedua tangan saya memegang-megangi dada Venny, puting, perut, punggung, balik lagi dada, dan posisi badan saya sudah tepat di atas Venny. Wajah saya dan si cewek idola ini sudah dekat sekali hingga hidung menyentuh hidung, yang saya rasakan hanya nafas harum Venny dan harum rambutnya.
Saya gerayangi makin cepat, dan penis saya sekarang sudah di bibir/pinggir vagina dan selangkangannya, saya gesek-gesekkan ke atas ke bawah sambil tangan saya pegang-pegangi lagi dada, puting (sambil diputar-putar).
“Aah.. mmhh.. ah.. ah.. ah.. ahh..” desah Venny.
“Mmh.. Venny.. sllupp (suara kuluman bibir), aah.. Veenny.. aah.. sslluupp.. mhh.. aahh..”
“Aaah.. aahh.. janngaann.. aah..” pekik Venny sedikit manja.
“Aaah.. aahH..” saya naik-turunkan penis saya yang sudah menindih vaginanya (tapi tidak menembus), “Aaah.. Vennyy..” tangan saya dua-duanya meremas kedua dadanya.
Saya ganti menjilat-jilat puting susunya, dan naik turun penis saya, mmhh.. langsung saya cepat ciumi vagina Venny, saya jilat-jilati.
“Aaah.. mmh.. ja.. janngaan.. aahh..!” desah Venny.
“Haha.. terllaambbaat, caantti.. aah.. iikk.., Venny..”
Saya jilat-jilati, lalu kembali saya tindihkan penis saya naik turun. Saya kulum dan hisap lagi bibirnya sampai dia hanya dapat berkata, “Mmh.. mmhh..”
“Vennyy.. Venny.. kau cantiikk.. kau mendessaah.. aahh.. sayaa.. aahh..!”
“Croott.. croott.. serr.. Vennyy.. Crroott.. aahh.. nikkmaatt..!”
Venny masih bersuara lagi, “Aah.. aah.. aah..”
“Terus, terus bersuara..!” pekikku.
“Aaah.. croott..” meledak lagi ‘hujan’ spermaku, saya langsung melihat lagi wajah cewek yang selama ini saya impi-impikan untuk memuaskan nafsu saya.
Dan sudah terwujud semua itu, maka berakhirlah sudah permainan biadab ini.
Saya kembali melihat jam dinding sambil terbaring lemas di atas tubuh Venny yang menggiurkan.
“Sudah 15 menit, gilee..! Cilaka, dia bentar lagi terbangun..!” pikir saya.
Langsung saya ambil tissue, rapihkan segalanya, dan akhirnya dengan handycam saya, saya rekam segalanya ketika saya kembali membetulkan celana dalamnya, memasang kembali tali BH-nya yang putih berenda, mengancing balik seragam sekolahnya, dan memakaikan rok sekolahnya. Rasanya sangat nikmat. Jadi selama ini yang memakaikan pakaiannya akan ada 2 orang, Venny sendiri, dan cowok bejat ini, saya sendiri. Aaah.. nikmat.
Mata Venny pun terbuka, dan dia sempat bingung melihat kanan kiri, dan menemui dirinya sedang telentang di sofa ruang keluarga, dengan TV menyala. Saya pun keluar dari kamar saya.
“Venn, kamu ketiduran lama sekali lhoo, cape yaah..?”
“I.. iya yah, Ko..? Adduhh.. Koo, sorri yaah.. sori bener deh, engga maksud Venny buat tidur begini..” kata Venny dengan nada manja.
Sayang sekali dia tidak tahu apa yang sudah terjadi atas dirinya. Mengingat itu semua membuat saya mulai terangsang lagi.
“Nih bukunya, Venn..” kata saya dengan halus.
“Aduuh, makasih ya Ko. Mm.. Koo, minta anterin pulang.. boleh kan..?”
“Oh.. iyaa, boleh dong, boleh. Kan Koko udah janji..” senyum saya.
Maka saya pun mengantarkan dia pulang. Dan selama di mobil, meskipun cukup sebentar, saya tidak ada pikiran lain selain memikirkan apa yang sudah saya perbuat terhadap cewek cantik di samping saya ini. Aaah.. tegang tidak terkira. Ingin saya lakukan lagi, tapi sudah habis keberanian saya. Saya jadi banyak diam, dan sedikit-sedikit melirik Venny, lalu kembali terlintas lagi pikiran gila itu, dan saya ada sedikit juga meladeni omongan Venny. Dan akhirnya dia dengan langkah gesit masuklah sudah ke gerbang rumahnya.
Pembaca, saya benar-benar merasa puas sekali atas apa yang sudah saya perbuat atas diri Venny. Saya puas sekali saya telah berbuat dalam waktu yang tepat. Kenapa saya tekankan kata ‘tepat’ ini? Karena siang itu adalah siang pertama dan terakhir bagi saya untuk dapat memuaskan nafsu setan saya ini terhadap Venny. Karena tepat 3 hari sesudah kejadian terkutuk itu, orangtua Venny yang sangat keras itu sudah pulang balik dari Singapore, dan 4 hari kemudian disusul orangtua saya.
Anak-anak SMP maupun SMA tidak ada yang tahu mengenai kejadian nikmat ini, dan tidak pernah ada yang tahu. Venny pun tampak ceria dan supel seperti biasa, dan tidak ada lagi kesempatan bagi saya, juga cowok-cowk lain untuk ngomong dengan Venny selain tentang pelajaran, karena setelah kelas bubar, langsung orangtua Venny sudah menunggu dan menjemput gadis cantik seksi idola sekolah ini. Dan hampir semua cowok hanya dapat menyesalkan kenapa mereka tidak pernah tahu atas ketidakadaan orangtuanya minggu lalu, dan yang tahu pun juga menyesal karena tidak seuntung saya ini.
Dan apakah yang terjadi pada saya pada hari-hari selanjutnya? Sudah dapat ditebak, saya hanya dapat mengintip saja gerak-gerik Venny dari balik tembok. Hanya sebentar setelah selesai sekolah, lalu setelah Venny dengan senyum manisnya melambaikan tangan ke teman-temannya (cewek-cewek), dan setelah dengan langkah gesit dia ketemu dengan kedua orangtuanya. Maka saya dengan penis berdenyut kencang, langsung segera pulang. Dan di dalam keremangan kamar saya, tiada yang tahu.
“Aaah.. aahh.. oohh.. Vennyy.. segalanya terlambat.. hahaa.. aah.. kau cantiik sekali.. mmhh.. aahh.. ahh..” erangku sambil mengocok penis saya yang benar-benar tegang, tentu saja dengan melihat kembali rekaman saya atas diri Venny 7 hari lalu di atas ranjang saya.
Nikmat sekali, dan jelas sekali rekamannya.
Saya terus lakukan masturbasi (onani) di kamar saya ini setiap hari, setelah mengintip Venny yang ceria sepulang sekolah dari balik tembok. Terus.. terus.. dan tidak terlupakan. Mungkin sepanjang masa kenikmatan sang cewek idola ini.
TAMAT
Sang Cewek Idola 02
Sambungan dari bagian 01
Oh, Venny.. apakah yang akan terjadi dengan dirimu yang cantik ini? Saya sudah benar-benar tidak tahan lagi untuk segera melihat keindahan tubuh Venny, sang cewek idola sekolahku yang begitu cantik (mirip salah satu penyanyi Bening), putih bersih, hidung mancung, bibir basah dan menawan, dan belum lagi sifatnya yang sangat supel, baik, dan juga pintar. Ooohh.., apakah ini suatu kenyataan? Sekarang, Venny, cewek yang didamba-dambakan hampir semua cowok di sekolah saya, baik SMP maupun SMA, sekarang ada di tempat tidur saya, tertidur tidak sadarkan diri!
“Deg.., deg.., deg.., ” begitulah jantung saya berdetak kencang, karena kejahatan pertama yang sudah terkuasai nafsu tidak terbilang akan terjadi.
Saya langsung saja pasang handycam saya dalam keadaan ‘on’, lalu menaruh pada sudut yang tepat, agar terekam semua kebiadaban ini. Saya langsung mulai buka celana saya, dan juga celana dalam saya, dan penis saya pun yang sudah tegang dari tadi langsung keluar. Langsung saya elus-elus sebentar. Mmhh.., melihat Venny yang terbaring di ranjang saya dengan mulut basahnya yang sedikit terbuka benar-benar terlihat seperti orang yang tidak berdaya. Langsung saja saya lompat ke atas ranjang, dan saya benar-benar kaget atas apa yang akan saya lakukan ini. Dan mungkin hanya untuk hari ini, karena saya tahu tidak akan ada kesempatan lain lagi (apalagi setelah orangtua saya dan orangtuanya nanti pulang), tapi saya sudah tidak perduli lagi. Akan saya puaskan nafsu saya yang sudah tidak terkontrol ini.
Wajah saya dan Venny sekarang sudah berhadapan dekat sekali, yang saya yakin sayalah cowok pertama yang benar-benar sedekat ini, dengan cara biadab ini. Venny yang tidak tersentuh sekarang akan disentuh oleh saya. Saya dengan gemetar mengambil tangan kirinya yang putih mulus itu, lalu menaruhnya di penis saya, aah.. nikmat sekali, dan saya langsung gerakkan tangannya untuk mengocok penis saya. Penis saya disentuh sang cewek idola ini, siapa yang tidak senang, mmhh.., saya sangat terangsang sekali. Langsung saya kulum mulutnya, saya kulum dengan penuh nafsu, saya jilat rongga mulutnya, saya hisap lagi bibirnya yang menawan sambil saya terus goyangkan tangannya yang tidak berdaya itu untuk memuaskan penis saya.
Setelah sekitar 2 menitan dengan kenikmatan mengulum, saya berhenti melihat wajahnya lagi, aah.. cantik sekali. Rambutnya yang hitam panjang terurai di ranjang saya, saya ciumi harum rambutnya yang semerbak. Mata saya sekarang mulai saya alihkan ke bawah rok seragam SMP-nya yang biru sangat menggoda. Saya langsung mulai angkat perlahan demi perlahan.., perlahaan, ooh.. Venny.., perlahan pahanya yang putih sudah terlihat. Paha yang dari dulu ingin saya lihat, tapi tidak pernah ada kesempatan sebagus ini. Paha putihnya, yang kalau di sekolah selalu ditutup rapat dengan posisi duduk yang benar, membuat setiap cowok hanya dapat membayangkannya saja dan memohon supaya posisi duduknya dapat terbuka agar terlihat pahanya, tapi permohonan itu tidak pernah terkabulkan, hanya saya saja yang hari ini berhasil melihatnya.
Aaah.., Venny yang cantik.., mmh.., tangannya yang sudah lemas saya gerakkan lagi mengocok penis saya, biadab memang. Begitulah saya terus angkat sedikit demi sedikit roknya, sedikit mulai terlihat atas pahanya, oohh.. selangkangannya, dan kocokan saya makin cepat karena terangsang berat. Dan sampailah pada puncak rangsangan, yakni celana dalamnya yang berwarna putih berenda akan saya kerjai.
“Aaahh.. ooh.. Venny, maafkan saya, saya sudah sejauh ini berbuat yang tak senonoh..” kata saya dalam hati.
Keringat saya mulai keluar sedikit demi sedikit, saya melihat sebentar handycam saya, masih ‘on’, hahaha.. bagus.., semua adegan ini berarti sudah terekam.
Saya terus pandangi celana dalamnya dan juga pahanya selama 2 menit. Ohh.. Vennyy.., melihatnya saja sudah membuat saya mengocok agak cepat. Hampir saja keluar, apalagi dikocok dengan tangannya yang putih mulus.., tapi saya tahan, karena permainan ini masih panjang. Sekarang posisi roknya sudah melintang diagonal ke atas, dengan terlihat sedikit celana dalamnya yang menawan. Jantung saya berdebar kencang sekali. Adegan selanjutnya, saya mulai dengan gemetar menggerakkan jari-jari setan saya ke arah baju seragamnya yang putih. Lalu, saya buka kancing atasnya (kancing kerah), aah.. kulit putih lehernya sudah terlihat! Aah.., saya berhenti lagi sebentar, saya usap dikit keringat saya, lalu saya lihat lagi wajahnya yang cantik dan membawa rangsangan penis saya.
Saya kulum lagi bibirnya yang basah tidak berdaya itu, perlahan saya mulai gerakkan lagi tangannya untuk mengocok penis saya, nikmaat sekali, saya sampai hanya dapat mendesah dan mengerang sebentar-sebentar kenikmatan. Saya mulai beranjak membuka kancing kedua, langsung sambung kancing ketiga, dan oohh.., terlihatlah sedikit bagian atas BH-nya yang putih berenda itu. Langsung saja saya teruskan membuka kancing seragamnya, sampai akhirnya semua kancing terbuka, sehingga saya dapat melihat Venny sekarang dari atas leher sampai perutnya yang putih.
Saya benar-benar tidak tahan sekali, langsung saya remas-remas kedua belahan dadanya dengan kedua tangan saya (tangannya saya lepaskan), sambil saya kulum dan hisap lagi mulutnya. Aaah.. Vennyy.. kau.. milikku. Dadanya masih ber-BH, langsung tangan kanan saya mulai menggerayangi belakang tubuhnya, dan dia masih berseragam, tapi dengan kancing terbuka sekarang (Dapat membayangkan kan? Memang saya suka sekali melihat cewek yang masih berseragam sedikit, merangsang sekali, daripada telanjang bulat langsung.).
Posisi saya sekarang naik sedikit agak membentuk busur, dan saya makin dahsyat menghisap dan mengulum mulutnya, tarik, sedot.. mmhh.. sambil mata saya terus melihat wajahnya yang tidak berdaya. Tangan kanan saya akhirnya berhasil menggerayangi punggungnya yang putih bersih, lalu tali BH itu terlepas sudah.
“Aaah, Venny.., kau benar-benar cantik, tercantik..!” begitu pikiran jorokku.
Saya langsung pindahkan lagi kedua tangan saya sekarang di atas bulatan dadanya lagi, hati saya berdegup kencang. Saya dengan perlahan dan penuh penghayatan, membuka BH-nya, sedikit demi sedikit. Melihat BH-nya saja saya sudah sangat terangsang.
Saya benar-benar tidak tahan lagi, apalagi setelah melihat putingnya sedikit, putingnya yang berwarna merah muda yang begitu menawan, puting sang cewek idola, aah.. nikmat! Saya langsung usap keringat saya, dan saya bimbing penis saya, dan saya gosok-gosokkan sekarang di antara kedua belahan dadanya yang sangat menawan. Saya tekan kedua dadanya Venny dengan lembut sehingga menyentuh samping-samping penis saya, lalu saya mulai naik-turunkan. Setiap kali naik-turun, saya selalu mendesah, benar-benar kenikmatan yang tidak terbayangkan. Beda sekali dengan mengocok sendiri (masturbasi).
Saya naik-turunkan lagi kedua buah dadanya, aah.. turun, ooh.. Venny, naik.., dan saya akhirnya merasa ada sesuatu yang hampir keluar, suatu air kenikmatan. Langsung saja saya cium dan hisap lagi bibirnya, dan kali ini penis saya arahkan ke salah satu putingnya yang masih tertutup sedikit pinggir BH-nya. Saya naik-turunkan dengan cepat penis saya di putingnya Venny, dan ciuman saya pun makin cepat.
“Aaahh, croott.. Vennyy.. croot.., croott..!” keluar banyak sekali air kenikmatan saya, yang sudah lama saya mimpi-mimpikan.
Dan itu belum selesai, kali ini saya lihat lagi wajahnya yang cantik sekali. Langsung tangan saya mengocok lagi penis saya dengan cepat, lalu saya melihat tubuhnya yang putih bersih sudah hampir telanjang dengan BH-nya yang putih berenda sudah hampir terbuka, langsung, “Croot.. croot..!” keluarlah lagi, dan nikmat sekali. Keluarlah semua air sperma saya, yang saya yakin baru kali ini keluar sangat banyak! Ya terang saja, habis tepat di depan saya ada sang cewek idola, yang tiap malam saya biasa hanya dapat masturbasi memikirkan dia. Sekarang sudah saya sentuh-sentuh, jamah-jamah, mmh.. nikmat.
Apakah permainan sudah selesai? Ooo.., tentu saja belum, belum Venny, hahaha..! Sayang sekali Venny masih tidak sadarkan diri, kalau tidak, mmh.. pasti lebih nikmat. Pokoknya hanya ada hari ini, tidak akan ada lagi kesempatan lain, harus kumanfaatkan semaksimal mungkin. Sejenak saya ambil tissue untuk membersihkan sperma-sperma saya di atas tubuhnya yang putih, lalu selama 4-5 menit saya kembali melihat wajahnya yang sangat putih bersih dengan rambutnya yang hitam kelam. Saya ambil sedikit rambutnya, saya cium-ciumi terus, dan alhasil, penis saya tegang lagi, lalu permainan kembali saya lanjutkan.
Sambil terus mengocok penis saya sendiri dan sambil melihat kulit badan depannya yang putih, juga sedikit puting dan BH-nya, saya menjadi sangat terangsang lagi, nafsu saya mulai bergejolak, apalagi dengan cewek idola seperti ini, cewek yang selalu diinginkan cowok-cowok sekolah saya. Saya langsung beralih ke roknya yang masih berposisi diagonal agak kusut, gara-gara goncangan saya ketika menaik-mundurkan penis saya di dadanya. Dan inilah kenikmatan kedua, saya mulai balikkan tubuh Venny yang tidak berdaya. Sebelumnya saya kulum dan hisap lagi mulutnya yang lemas menganga dan basah.
Lalu setelah tubuhnya terbalik, saya mulai angkat roknya lagi, dan kali ini roknya benar-benar terangkat sampai ke punggung, sehingga sekarang celana dalamnya terlihat jelas. Langsung saya mulai turunkan celana dalam putihnya, sedikit demi sedikit. Kedua belah pantatnya Venny yang putih bersih, terlihat sudah. Aah.. aahh.., kocokan saya makin saya percepat, makin cepat, aah.., erangan semakin kencang, dan peluh keringat juga semakin keluar bercucuran. Saya terangsang sekali. Maka tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung sentuhkan penis saya tepat di antara kedua pantatnya, dengan celana dalam putih rendanya yang sekarang ada di bawah pantatnya sedikit.
Mmmhh.. aah.., posisi ini sudah sama seperti posisi bersenggama. Saya sempat tidak percaya, aah.. nikmat sekali pantatmu Venny! Saya gerakkan penis saya naik-turun di pantatnya yang menggemaskan itu, sambil memegangi celana dalam dan menghayatinya, dan satu tangan lagi menggerayangi dadanya (BH-nya yang menggemaskan itu masih melekat di badannya Venny, tapi hanya sedikit) begitulah penis saya terus naik-turun dengan urat-uratnya di antara kedua belah pantat Venny.
“Venny.. ohh.. tahukah kau, sudah lama saya ingin ngentotin kamu! Vennyy.. aah.. mmh.. dan sekarang ini saatnya.. Veen.. kamuu canttiikk.. pantatmu.. putih.. aah.. kulitmu putih mulus.. kau cantik.. aah.. pintar.. aah.. segala.. ah.. nyaa” saya ngomong sendiri, dan kejadian naik-turun ini berlangsung sekitar 8 menit.
Dan akhirnya, “Croott.. croott.. Veennyy.. aah.. nikkmaatt sekali..” keluarlah air sperma saya ronde kedua membasahi pantatnya yang menggemaskan dan seksi itu.
Saya naik-turunkan lagi penis saya dengan tempo tercepat, croott.. keluar lagi sisa-sisanya. Aaahh.. Vennyy..! Maka saya dengan lemas ambil lagi tissue di pinggir ranjang, langsung saya bersihkan sedikit pantatnya karena sisa-sisa sperma saya. Saya melihat jam dinding, wah ‘permainan’ biadab ini sudah berlangsung sekitar 40 menit.
“Aaah.. bentar lagi pengaruh obat bisa hilang..” begitu pikir saya.
Saya langsung berpikir saya akan coba menggunakan 30 menit lagi untuk memuaskan diri saya ini. 30 menit, saya lalu turunkan sedikit celana dalamnya ke bawah, lalu saya dengan cepat ambil handycam saya di sudut tembok, lalu kembali ke ranjang.
Saya mulai telusuri Venny dengan posisi ‘zoom’, dari ujung kaki, paha dengan celana dalam putihnya, berhenti sebentar, tangan kanan saya mengocok lagi penis saya karena saya benar-benar bisa gila melihat tubuh seksinya yang putih bersih. Aaah.., saya teruskan lagi ke kedua pantatnya, lalu naik ke punggungnya yang putih, saya miringkan sedikit handycam saya ke arah baju seragam dan roknya yang terurai. Kocokan saya pun semakin cepat, lalu sekarang ke bagian belakang kepalanya dengan rambut hitam semerbak. Saya dekatkan lagi wajah saya ke rambutnya, saya ciumi lagi rambutnya yang harum, rambut sang cewek idola! Aah.. penis saya langsung mulai tegang lagi.
Bersambung ke bagian 03
Sang Cewek Idola 01
“Aaah.. aah.. oohh.. Vennyy..” begitulah suara saya setiap malam dengan mengocok-ngocok penis saya yang tegang sekali karena membayangkan seorang cewek kelas 2 SMP di sekolah saya (akan saya rahasiakan) yang juga menjadi idola satu sekolah.
Namanya adalah Venny (saya samarkan sedikit). Sebagai gambaran, orangnya sangat cantik (hampir sama seperti salah satu penyanyi Bening), kulitnya benar-benar putih mulus, proprosi tubuhnya bagus benar, tidak gemuk, dadanya ukuran sedang, dan pantatnya wuiihh.. menggiurkan deh. Lalu tidak terlalu pendek, juga tidak terlalu tinggi. Dan selain gambaran fisiknya itu, yang saya yakin setiap cowok yang melihat dia dan ngomong dekat-dekat dia, pasti langsung ‘ngaceng’ berat.
Si Venny ini juga sangat supel dan baik, dan kabarnya selalu dapat juara 1, kalau tidak 2, benar-benar cewek idola. Memang waktu pembagian raport, saya pernah coba lihat orangtuanya, bertampang galak, dan menurut info teman saya ini (saya sendiri waktu itu sudah kelas 1 SMA), orangtuanya sangat keras dan ketat.
Makanya, pernah si Venny ini coba didekati sama cowok-cowok seangkatannya yang lumayan berparas, tapi Venny dengan senyumnya yang manis sambil kedua tangannya dirapatkan ke bawah, bilang “Emm.. jangan dulu deh, kita temen aja.. ok..?”
Lalu dia langsung berbalik dengan gayanya yang benar-benar lincah, langsung berlari kecil ke arah teman-temannya lagi. Saya yakin cowok-cowok itu pasti langsung kecewa berat karena ‘ditolak’, dan hanya bisa ngaceng membayangkan kalau mereka dapat menyetubuhi Venny ini.
“Aaah.. nikmatnyaa..! Aaah.. oohh.. Vennyy.. mmh.. mhh..” kembali saya di ranjang mengocok terus penis saya, ngocok, ngocok sampai sperma saya muncrat keluar, nikmat.
“Crot.., crot.., croot..,” membayangkan seandainya saya mampu, tidak usah jauh-jauh, melihat saja tubuh Venny yang aduhai ini, alangkah bangganya saya.
Maka rencana busuk pun mulai terlintas di pikiran saya, dan ini sebenarnya sudah saya pikirkan dari dulu. Tapi kali ini beda, dan saya ada keyakinan dapat berhasil, kenapa..? karena kedua orangtuanya dikabarkan lagi pergi ke Singapore dengan urusan mereka sendiri.
Nahh, begini, rumah saya itu dekat sekali dengan sekolah kami (saya dan Venny, satu sekolah, hanya saya SMA, dia gedung SMP). Jadi tidak heran kalau banyak teman saya yang kalau sudah selesai ekskul, ada main ke rumah saya, atau sekedar istirahat atau ngobrol-ngobrol. Dan saya tahu kalau si Venny ini sehabis sekolah, setiap Senin ada ekskul volley, biasa sampai jam 5 sore. Rencana saya, ajak Venny ke rumah saya, lalu.. hmmhh.. hahaha.. aah.. tak terpikirkan kenikmatannya.
Dan dengan agak ragu sedikit (lebih banyak yakinnya), saya mulai lancarkan serangan saya pada hari Senin depannya (tentu setelah mendapat info-info lebih lanjut yang mutlak, bahwa orangtuanya lagi tidak ada, dan tidak ada yang jemput dia pulang sekolah, seperti biasanya (jadi dia untuk sementara ini pulang naik angkutan umum).
Tepat sekitar jam 4.30 sore, Venny tersenyum sambil mengambil handuknya dan mengusap-usap keringatnya dengan handuk. Rupanya dia letih dan sudah capek dengan volley-nya, maka dia duduk, dan teman-teman dia yang lainnya masih tetap main. Saya mengintip dari balik tembok utama, dan penis saya sudah keras sekali, ooh.. kuusap sedikit-sedikit, sambil membayangkan kalau rencana saya ini berhasil total. Lalu saya mulai memberanikan diri jalan sedikit demi sdikit ke tempat Venny duduk, kadang berhenti dikit. Dan saya pegang jantung saya, oh.. berdetak kencang sekali. Penis saya juga semakin menegang. Lalu akhirnya sampailah saya ke tempat Venny. Venny lalu menoleh ke arah saya, dan sebentar dia terdiam, lalu tersenyum, “Ada apa..?”
Saya langsung mulai bertanya, “Venny kan..? Saya Agus dari gedung sebelah..” sambil menunjukkan ke gedung SMA.
“Ooh.. ada apa Ko..?” katanya lagi, duduknya kali ini agak tegak, sehingga menyembulkan dadanya yang montok agak ke depan, oohh.. dewa.
“Venny ada teman namanya Sinta kan..? Naah, dia ada pinjem buku perpustakaan Venny ya..?”
“Iya,” jawabnya halus.
“Naah, dia itu adiknya temen baik Koko, si Fredi. Makanya dia bilang suruh Koko entar kasih balik buku perpus-nya ke Venny..”
“Ooh.. gitu yahh, Ko. Aduh, makasih yaa..”
Memang benar, Sinta pinjam bukunya Venny, dan saya memang sudah rencana untuk langsung waktu hari Jumat lalu, pas pulang sekolah, pura-pura alasan mau minjam buku si Venny ini. Lantas saja karena Sinta kenal lumayan baik sama saya (Kokonya si Freddy kan teman baik saya), dia pinjamkan deh tuh bukunya, langsung saya bilang ke Sinta tidak usah repot-repot, nanti saya yang mengembalikan ke orangnya langsung. Semuanya memang sudah direncanakan dengan matang, untuk hari kenikmatan ini.
“Tapi, Ven, bukunya sekarang ada di rumah Koko. Venny udah selesai kan ekskul-nya? Ke rumah Koko bentar yah, deket kok, hanya 5 menit jalan dari sini..” sambil saya tunjuk ke arah barat, yakni arah rumah saya.
“Mmm.. boleh sih, tapi ngga usah repot-repot deh Ko, besok aja Koko kasihnya di sekolah ini, gimana..?” tanyanya.
“Wah.. besok Koko engga tau sempet atau engga, mendingan hari ini aja, dan Koko tau Venny suka volley kan? Di rumah Koko ada lapangan gede tuh, kita ntar main bentar aja, ok..?”
Venny masih terlihat ragu, namun saya sudah deg-deg-an merasa rencana saya ini akan berhasil.
“Oh ya, ntar Koko skalian anterin pulang deh. Venny tunjukkin jalan ke rumah Venny ya..” balas saya, “Lagian udah sore, kan susah nungguin angkutan umum.”
Maka setelah beberapa lama dia agak terdiam sambil menggumam, “Mm.. mm..” gitu, keluarlah dari bibirnya yang basah dan menawan itu kata-kata yang saya selalu harapkan.
“Um.. engga apa-apa ya Ko..? Iya, boleh deh..”
“Yess..! Berhasil..!” pikirku senang sekali, penisku pun ikut senang.
“Ooohh.. Venny, hari ini juga akan kulihat seluruh tubuhmu yang putih bersih, akan kuhayati dan mmhh.. kubawa dalam kenikmatanku.”
Maka singkat cerita, akhirnya dia pun sudah masuk ke dalam rumah saya. Dan perlu pembaca ketahui, kedua orangtua saya pun kebetulan lagi ada urusan, pulangnya masih minggu depan. Jadi di rumah saya ya hanya ada pembantu. Sempat kaget dia melihat lapangan belakang rumah saya.
“Wuaah.. lapangannya luas ya Ko! Koko senang main volley juga..?” tanyanya sambil berjalan meloncat kecil, yang syuur membuat saya langsung terangsang lagi.
Dadanya sempat berguncang sedikit ketika dia loncat, aakkhh.. Venny.. cewek idola.
“Iya dong. Koko mah senang olahraga lagi. Ya volley kek, basket kek, buanyak dehh..”
“Wah hebat bener Ko. Venny aja engga bisa basket lhoo, bisanya volley doang, hihihi..” dia tertawa kecil.
“Naah, Ven, sementara Koko ambil bukunya, Venny mau main volley di luar? Boleh-boleh, nih bolanya..” saya langsung ambil bola volley saya di dalam lemari.
Dia tampak senang, lalu bertanya lagi, “Bener boleh kan, Ko?”
Saya mengangguk-angguk saja, dan dia tanpa aba-aba lagi langsung pergi ke lapangan belakang, dan mulai deh bermain-main sendiri.
“Bentar lagi Venny.. bentar lagi, maka tubuhmu yang putih ini bisa saya nikmatii.. oohh..” gumamku.
Lalu saya mulai siapkan minuman untuk saya dan dia. Dan dalam gelasnya, saya taruh obat tidur yang lumayan ampuh. Dengar-dengar dari teman saya, obat ini bakalan buat orang tidak sadar sekitar 2 jam. Lagi-lagi semua sudah terencanakan. Saya pertama-tama agak gemetar menaruhnya, soalnya mungkin ini kejahatan pertama yang akan saya lakukan, namun.. kapan lagi dapat menikmati tubuh putih mulus cewek idola sekolah ini? Apalagi kalo orangtuanya sudah datang. Entah kapan lagi ada kesempatan. Maka saya pun menaruh obat itu, dan saya sudah seperti bertanduk setan saja, tertawa kecil sambil mengusap-usap sedikit penis saya.
“Ooohh.. Vennyy..”
Karena melihat dia asyik main sendiri di luar, maka saya pun ikut menemaninya main volley di halaman belakang. Sewaktu main, ada dua tiga kali posisinya agak menunduk ketika mau mengambil bola, dan waktu itu saya sempat melihat dari balik seragam sekolahnya, oohh.. BH-nya yang putih berenda, dan sedikit bagian atas kedua dadanya. Benar-benar pemandangan yang membuatku sangat-sangat terangsang. Tapi saya tetap tahan nafsu saya untuk yang tidak-tidak, disimpan untuk nanti.. hahaha.
Setelah main sekitar 10 menit, suasana jadi semakin akrab antara saya dan Venny. Namun saya lebih banyak diamnya dibanding Venny, yang memang supel dan pandai bicara. Kadang dia keluarkan suaranya yang manja kalau bolanya jatuh (kami berdua bukan main volley betulan, hanya sekedar pukul-pikul bola ke atas udara dan bertanding siapa yang lebih tahan tidak jatuh duluan).
Dia bilang, “Aaahh.. jatuh lagi jatuh lagi..”
Aduhh.. mendengar suaranya seperti itu, saya semakin tidak tahan dengan cewek cantik ini.
“Aaah Venny.. engkau begitu supel dan menggairahkan, tunggu, tunggu saatnya..,” begitu pikir busukku.
5 menit kemudian, capailah kami berdua. Lalu saya mulai lagi rencana saya.
“Ven.., cape yahh..?”
“Iya nih, Ko, cape, tapi Koko jago juga ya volley-nya.. (beruntung saya bisa main volley)”
“Iya dong. Koko ini superman lho, bisa apa aja..”
“Aaah, Koko..” katanya sambil mukul kecil bahu saya.
Wowww.. tangannya yang putih halus itu menyentuh bahu saya. Oohh.. saya seperti tersengat, terangsang lagi, bayangkan yang tidak-tidak.
“Ven, yuk ke dalam. Koko udah buatin minuman.”
“Makasih ya Ko..!”
Yess! Dia tidak ragu-ragu, maklum, dia masih murni, sepertinya belum tahu niat baik seorang lelaki yang saat ini ada di sampingnya, mengamati dan menghayati setiap gerak-geriknya yang lincah sekali. Dia sepertinya belum sadar ada seorang lelaki di sampingnya yang sudah sangat ‘on’ sekali, sebentar-sebentar memegang ‘benda’-nya itu, memikirkan yang jahat. Dan dia langsung berlari ke dapur, saya pun mengikutinya. Lalu dia meminumnya, saya berhasil, rencana saya berhasil total. Saya juga meminum saya punya, dengan perasaan berdebar-debar melihat dia masih asyik minum.
“Ven, istirahat dulu aja sambil tuh nonton TV. Koko mau telpon temen Koko bentar yaa..!” sambil saya nyalakan TV di ruang keluarga.
Venny pun menurut, lalu dia mulai nonton dengan kedua tangannya memegangi dagunya. Saya pura-pura ke kamar saya untuk telepon, padahal bohong. Lalu dengan terangsang, saya mulai bergegas mengambil handycam saya, sambil mengocok-ngocok sedikit penis saya. Saya mulai menyalakan tombol ‘on’, dan saya melihat jam dinding saya, sudah lewat 10 menit. Saya berdebar-debar sekali, lalu perlahan saya buka pintu kamar saya, dan ternyata Venny sudah tertidur dengan lelap di sofa ruang keluarga saya. Dia tertidur!
Maka saya pun tanpa ragu lagi keluar dari kamar saya, saya berjalan kecil sampai pada tempat Venny tidur dengan TV masih menyala. Saya amati lagi wajahnya, cantik sekali, hidungnya yang mancung, bibirnya yang basah, kulitnya yang benar-benar mulus, dan tangannya yang telentang, sangat putih dan merangsang nafsu. Saya lihat dia dalam keadaan berseragam, atas putih, bawah biru.. mmh.. saya bayangkan lagi wataknya yang sangat baik, pintar, supel, aah.. benar-benar cewek idola. Dan akhirnya saya sudah tertawa senang, karena saya tahu, cewek cantik putih yang berseragam ini, pada hari ini saja akan menjadi tak berseragam dan telanjang bulat, dan saya akan menikmatinya sepuasnya. Saya akan merekam segala adegan saya ini, untuk saya hayati di hari-hari lain.
“Venny.. Venny..” saya pun pura-pura memanggil, yess, dia tidak menyahut.
“Venny.. Venny..” kali ini saya memanggilnya sambil menggoyang-goyangkan sedikit tangannya yang telentang di pinggir sofa, dan yess, dia tidak ada respon.
Maka, perbuatan biadab pun saya mulai.
“Ooh.. Venny.. oohh..” sambil berkata demikian, saya mulai gendong tubuhnya, dan saya gendong sampai ke kamar saya.
Waktu menggendongnya saja saya sudah terangsang berat merasakan pantatnya. Mmmhh.., maka saya baringkan tubuhnya di ranjang saya. Mulutnya terbuka menganga sedikit, tidak sadarkan diri. Handycam pun sudah on, dan saya kunci pintu. Inilah harinya!
Bersambung ke bagian 02
Putri Majikanku Eksibisionis
Asalku dari kampung di Jawa. Setelah lulus SMU aku mengadu nasib ke Jakarta. Dasar sial aku gak bisa dapet kerjaan yang cocok. Mau balik malu. Akhirnya setelah beberapa kali ganti kerja akhirnya aku bekerja jadi kacung rumah tangga. Majikanku seorang keturunan. Ia tinggal dengan istrinya dan anak perempuannya yang bungsu.
Majikanku anaknya tiga orang, yang dua sekolah di luar negeri. Yang bungsu baru masuk kuliah tingkat satu. Namanya Vera, tapi aku biasa memanggilnya Nonik. Sebenarnya aku nggak berani berpikir macam-macam karena ia adalah majikanku. Tapi akhirnya aku jadi ‘tergoda’ juga karena selain orangnya cantik kayak artis mandarin dia suka pakai pakaian yang ketat dan seksi. kadang ia memakai dasternya yang cukup tipis dan tembus pandang, keliatan kulit tubuhnya yang putih mulus sampai BH dan celana dalamnya pula. Ditambah bau tubuhnya yang harum. Apalagi aku sejak dari kampung selalu mengagumi kecantikan artis-artis mandarin dari televisi. Diam-diam aku jadi ngaceng juga kalo ngelihat dia.
Kadang waktu duduk kedua kakinya agak terbuka. Pertamanya kelihatan pangkal pahanya saja yang putih mulus dan menggairahkan. Terus aku nyari posisi yang pas sambil ngepel di kolong meja aku leluasa melihat pahanya sampai ke celana dalamnya. Ketauan celana dalamnya warna coklat. Langsung aku jadi ngaceng. Rasanya pengin ngeraba-raba pahanya dan melihat yang di balik celana dalamnya itu. Sempat beberapa saat aku liatin terus. Kadang ia pakai baju yang lehernya agak rendah jadi keliatan belahan dadanya bagian atas. Atau pakai baju putih tapi BH-nya warna hitam. Semua itu bikin aku jadi adem panas.
Suatu malam aku lagi nonton TV di ruang tamu. Waktu itu tuan dan nyonya sudah tidur. Vera baru pulang dan setelah itu mandi. Setelah selesai mandi, ia memakai kimono yang agak basah. Kulihat sekilas dadanya bergerak-gerak dengan bebas. Wah, apa dia nggak pake BH, pikirku. Seketika anu-ku menjadi menegang. Memang dadanya cukup besar dan padat berisi. Pernah kulihat ukuran BHnya 34C. Setelah itu ia memanggilku minta makanannya untuk dipanasi. Karena bajunya yang agak basah, kelihatan kedua putingnya yang menonjol di balik dasternya dan bergerak-gerak. Seketika aku menjadi tambah ngaceng menyadari aku melihat payudaranya Nonik. Dengan rambutnya yang agak basah membuatnya makin menggairahkan. Kalau nggak ingat ia putri majikanku dan majikanku ada di kamar mungkin ia sudah kuciumi dan .. Tapi aku nggak melakukan apa-apa cuma seringkali melirik ke arah dadanya. Herannya ia cuek saja, seolah-olah tidak ada apa-apa.
Malamnya aku benar-benar nggak bisa tidur. Aku ingin onani tapi keinginanku bisa kutahan sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku jadi mimpi basah dan sadar sepenuhnya. Kurasakan air maniku keluar banyak sekali sampai celanaku benar-benar menjadi basah. Dalam mimpiku aku masuk ke kamarnya, kutelanjangi dia kemudian ia kusetubuhi sampai dia nggak perawan lagi. Benar-benar itu adalah mimpi basahku yang terhebat yang pernah kualami. Sejak saat itu aku jadi tak tertahankan lagi untuk onani hampir tiap malam membayangkan Nonik.
Sejak saat itu semakin sering saja kejadian-kejadian yang ‘kebetulan’. MIsalnya saat tuan dan nyonya sedang mengurus tanamannya di taman, aku lagi nyapu ruang tamu, nonik keluar dari kamarnya tanpa memakai BH. Kadang ia memakai BH tapi mungkin terbuat dari bahan yang tipis sehingga membuat kedua putingnya tampak menonjol. Secara pukul rata, hampir tiap hari aku bisa ngeliat susunya Nonik kadang malah sehari lebih dari sekali. Dan semuanya itu dilakukan seolah-olah hal yang biasa dan anehnya Nonik Vera cuek aja seperti nggak ada masalah apa-apa. Akibatnya aku jadi terbiasa tiap hari onani.
Hal paling hebat yang pernah kualami, kebetulan kamar Nonik ada jendela yang menghadap taman di dalamnya ada kamar mandi sendiri. Beberapa kali di waktu malam aku coba ke taman, siapa tahu tirai plastiknya terbuka jadi aku bisa ngeliat ke dalam. Beberapa kali hasilnya kosong sampai suatu saat..
Malam itu tirai plastiknya nggak tertutup rapat jadi aku bisa melihat ke dalam apalagi di luar gelap sementara di dalam kamar terang karena lampu. Kulihat kamarnya kosong, kayaknya ia di kamar mandi. Tak lama kemudian ia muncul. Pake daster yang sama waktu pertama kali aku ngeliat dadanya itu. Kali ini juga ia tidak memakai BH. Lalu dengan posisi membelakangiku ia menanggalkan bajunya! terlihat olehku dari belakang postur tubuhnya dan lekuk-lekuknya yang menggiurkan. Ia cuma mengenakan celana dalam saja warna merah muda. Rambutnya yang sebahu menutupi punggungnya bagian atas. Selain itu kelihatan jelas kulit tubuhnya yang putih halus dan mulus, pinggangnya yang ramping serta pinggulnya yang seksi.
Kemudian ia mengambil daster di lemari. Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon sehingga ia tidak jadi mengambil dasternya. Malah ia mendadak berbalik! Wah, buset! Baru kali ini aku melihat payudaranya secara jelas banget. Ternyata payudaranya benar-benar indah. Padat berisi dan ukurannya proporsional dengan tubuhnya yang tinggi serta masih kencang. Putingnya menonjol keluar serta warnanya merah segar. Cocok sekali dengan celana dalamnya. Ia berbincang-bincang di telepon sambil duduk di meja menghadap kaca yang arahnya 90 derajat dari posisiku.
Semuanya itu dilakukan saat ia telanjang dada! Berkali-kali payudaranya bergerak-gerak mengikuti gerakan tangannya. Aku bisa melihat payudaranya dari dua arah, dari samping agak belakang serta dari pantulan kaca. Langsung aku memegang-megang Ujangku. Selesai telpon ia mencuci mukanya di wastafel hanya dengan memakai celana dalam saja. Kembali aku melihat dadanya dari sudut yang lain. Akhirnya pada posisi menghadap frontal ke arahku ia melakukan gerakan melepas celana dalamnya! Ouch. Akhirnya pada malam itu aku berhasil melihat tubuh Nonik Vera yang telanjang bulat tanpa selembar benang pun. Rambut kemaluannya ok juga sih. Nggak terlalu lebat dan nggak terlalu jarang.
Tapi yang kulihat berikutnya makin membuatku tegang. Karena tak lama kemudian Nonik Vera berbaring telentang di ranjang yang persis di depanku. Kepalanya menghadap kearahku. Mula-mula ia meram beberapa saat kemudian kedua tangannya meraba-raba perut dan pahanya termasuk pangkal pahanya. Kemudian ia menggeliat-geliat dan mulai meremas-remas payudaranya. Wah! Lalu jari-jarinya menggerak-gerakkan putingnya dan ia makin merintih dan menggeliat-geliat. Ternyata ia sedang beronani! Kemudian ia mengangkangkan kedua kakinya sampai aku bisa melihat dengan jelas vaginanya. Lalu ia menggesek-gesekkan jarinya ke vaginanya.
Melihat itu aku jadi nggak tahan akhirnya aku menanggalkan pakaianku juga sampai telanjang bulat trus aku mengocok Ujangku sambil menonton pertunjukannya Nonik Vera. Sampai beberapa saat kemudian kita saling memainkan alat vital masing-masing. Sampai kemudian kulihat Nonik Vera kepalanya menghadap lurus ke atas matanya tertutup. Tangan kirinya meraba-raba putingnya sementara tangan kanannya makin kencang menggesek-gesek vaginanya akhirnya kudengar desahannya sambil tubuhnya menggelinjang. Kayaknya ia sudah orgasme. Tak lama kemudian sambil menatap payudaranya dan kemudian liang vaginanya dalam posisi dia yang kakinya terpentang lebar, aku mengalami ejakulasi, air maniku kutumpahkan di tanah sambil menatap liang vaginanya. Itu adalah masturbasiku yang terindah dan paling nikmat! Tak lama kemudian aku segera balik ke kamarku dan tidur dengan nyenyak.
Sejak saat itu aku jadi makin sering melihat Nonik Vera telanjang atau setengah telanjang. Uniknya Nonik Vera sepertinya cuek aja atau mungkin pura-pura tidak tahu? Ia tidak pernah menyinggung atau berbuat sesuatu yang menunjukkan kalau ia tahu. Jadi kesimpulanku Nonik Vera seorang yang eksibisionis. Sungguh beruntung aku bekerja disini.
Pesona Birahi Minah
Ada cewek, anak gadis, mondok di tetanggaku. Dia adalah saudara sepupu tetanggaku itu. Namanya Karminah, atau panggilannya Minah. Setiap pagi dan sore dia nampak nyapu di halaman rumahnya yang kebetulan tepat di depan rumahku.
Aku sangat ‘kesengsem’ dengan penampilannya yang bagi mata keranjangku sangat luwes, sensual dan seksi. Mungkin usianya sekitar 20 tahunan. Aku sangat senang memperhatikan saat dia menyapu dan menyiram tanaman hiasnya. Gerakannya menunduk, membungkuk, mendorong sapu, mengumpulkan sampah ke pengki, nungging untuk mengambil dedaunan yang tak kena sapu, merapikan dan menyiram tanaman dan seterusnya.
Saat dia membungkuk aku selalu membayangkan bokongnya yang sangat menggetarkan hatiku itu. Aku pengin banget menciuminya. Pasti bokong macam itu nikmat banget untuk membenamkan mukaku de dalamnya. Aku akan ciumi lubang pantatnya. Dan aku akan hirup dan jilati aroma dan lengketan semen yang keluar darinya. Mungkin aku juga akan cocol atau colekkan kue atau makanan kecil lainnya pada semennya sebagai saus yang sedap dari lubang pantatnya itu sebelum kusantap.
Aku juga perhatikan punggungnya yang sedikit bongkok udang. Punggungnya itu menyimpan kenikmatan untuk bibir dan lidahku. Aku bisa menjilati atau mengecupi dengan sepenuh birahiku. Lidah dan bibirku itu akan melata dan merambah pori-pori kulit punggungmya dan merembet kesamping kanan atau kirinya kemudian sedikit kebawah menuju ketiaknya yang sungguh membuat aku blingsatan saat dia mengangkat sapu dan pengkinya untuk membuang sampah ke dalam tong.
Oh, Minah.., kenapa kamu mempesonaku? Akankah kau biarkan aku menikmati dari kejauhan saja? Dan rasanya jawabannya adalah, ya!
Aku tinggal di lingkungan yang cukup ber-etika, moral dan budaya. Tak mudah aku berlaku sembarangan, apalagi untuk hal-hal yang berbau seronok atau mesum. Hal macam itu sangat terasa tabu dan amoral.
Kalau sampai terjadi pasti aku akan terbuang dari lingkungan se-umur-umurku. Baik dari lingkungan tetangga se-RT bahkan bisa se-RW, juga di dalam lingkungan rumahku sendiri yang isinya komplet, ada istri, ada anak, ada ipar yang masih kuliah disamping ada yang paling sering mengesalkan, mertua perempuanku.
Oleh karenanya, aku putuskan sendiri, jauhilah tingkah laku mesumku. Kalau toh terpaksa, ambil saja sarung, duduk melipat kaki di beranda dengan berkerudung dari bahu hingga mata kakimu. Ingat berkerudung macam itu kan biasa bagi orang desa asalmu. Dan orang-orang di sekitarmu semua tahu asal-usulmu.
Kemudian tangan kanan pegang koran atau majalah sambil tangan kirimu mengelus-elus, memijat-pijat atau mengocok-ocok penismu sendiri. Jangan lupa pakai kacamata rabunmu agar kamu bisa menikmati Minah lebih tajam di pagi atau sore hari saat dia menyapu halaman rumahnya.
Kembangkan daya khayalmu, tetapi waspadalah jangan sampai ada orang, mungkin mertua perempuanmu yang mengesalkan itu, yang juga diam-diam memperhatilan tingkahmu itu, karena keheranan kenapa Mas Karyo koq selalu kerudung sarung setiap pagi dan sore. Ha, ha, ha..
Begitulah yang bisa kulakukan untuk memuaskan syahwatku. Mungkin telah berhari-hari atau berminggu-minggu berlalu. Aku menjadi semakin kreatif karena hampir setiap hari aku mengembangkan daya khayal dan semakin banyak ilmu karena koran atau bacaan apa saja tak pernah kulewatkan setiap pagi dan sore.
Tidak jarang berita, iklan atau rubrik yang sama kubaca hingga 4 atau 5 kali. Tetapi lama kelamaan aku merasa statis, Begitu-begitu saja setiap hari. Tak ada lagi kejutan atau sensasi yang bisa mendongkrak syahwatku untuk meraih kwalitas kenikmatan birahi yang lebih tinggi lagi.
Aku ingat pada saat aku menemukan ide kerudung sarung dulu, aku bisa meraih orgasmeku hingga penisku mau menumpahkan spermanya bergalon-galon rasanya. Waktu itu sarungku selalu basah dan lengket sesudahnya. Dan oleh karenanya aku harus sering menjatuhkan sarungku ke lantai basah saat mandi untuk bisa beralasan mengucek-ucek dengan detergen saat menghilangkan cairan kentalku itu.
Tetapi kan tidak mungkin setiap kali sarungku jatuh. Apa kata mertuaku nanti. Aku perlu melakukan inovasi untuk menghadirkan kembali sensasi seksual dalam hal ber-onani sambil mengkhayal menggeluti Minah dengan segala perabot tubuhnya yang demikian sensual dan membuat aku semakin mabok setengah hidup itu.
Ternyata setiap bentuk inovasi itu selalu ada kandungan penyimpangannya. Ya, inovasi berarti menyimpang. Menyimpang dari rutinitas, menyimpang dari kebiasaan, menyimpang dari adat, etika dan moral dan harus juga berani nyerempet-rempet bahaya. Artinya yang tadinya mutlak tabu, dengan inovasi itu aku bisa tawar menawar dengan tabu itu.
Kalau tadinya sama sekali jangan, sekarang sedikit boleh. Tentu saja dengan catatan-catatan agar yang tadinya tak legal menjadi legal. Pokoknya disiasatilah. Dan akhirnya sesudah aku mengerahkan segala dayaku datanglah disain inovasi itu. Ini benar-benar akan menjadi terobosan tingkah lakuku dalam mengejar syahwat. Aku akan tetap berkaca mata rabun dengan tangan kanan membawa koran, tetap duduk di beranda sambil melipat kaki dengan sarung yang dikerudungkan hingga ke bahu. Dan tangan kiriku tetap mengelusi, memijat-pijat dan mengocoki penisku. Inovasiku yang sekarang terletak pada sarungku itu.
Aku akan menciptakan lorong sarung, begitulah sebutannya yang paling tepat. Lorong sarung itu akan tercipta apabila aku sedikit melonggarkan ikatan sarungku yang semula menutup mata kaki kini kuangkat naik hingga dekat ke lututku. Atau kalau kurang berhasil aku akan melonggarkan selonggar-longgarnya ikatan sarung lebih tinggi lagi, hingga selangkanganku akan luas terbuka.
Aku ingin dari tempat biasa menyapu si Minah bisa memandang lorong sarungku hingga melihat penisku. Aku akan terus bergaya membaca koran, seakan-akan aku tidak melihat bahwa dia sedang menyapu sambil setiap kali mengamati kemaluanku dalam lorong sarung itu.
Aku akan dengan mudah mengintip tingkahnya dari celah lembaran koranku. Aku akan menikmati bagaimana serba salahnya si Minah yang birahi menyala menjadi gelisah saat menyaksikan penisku ini.
Tentu saja secara hati-hati setiap kali aku akan, entah memperdengarkan tarikan kursiku, atau bersiul pelan atau apalah nanti untuk menarik perhatian agar Minah mau menengok ke tempat aku duduk ini.
Sore itu, sekitar jam 4, seperti biasa Minah keluar dari rumahnya lengkap dengan slang air, sapu lidi dan pengkinya. Hari ini rupanya dia juga menyirami tanaman, kulihat dia mulai dengan mengatur-atur tanaman hiasnya, membersihkan dedaunan yang tua sebelum menyemprotkan air yang dia ambil melalui slang dari kran air yang terpasang di depan rumahnya.
Aku langsung pasang aksi. Membetulkan dudukku, berkerudung dari bahu hingga ke lututku, kemudian kuambil koran dari meja. Aku bergaya membaca, sementara mataku mencari di mana si Minah. Ah, itu dia. Si Minah masih asyik merapikan tanaman hiasnya. Woo, dia akan melihat penisku dari balik dedaunan tanamannya. Aku menarik meja hingga mengeluarkan suara derit kakinya yang beradu dengan lantai. Haah, aku berhasil.
Minah mengarahkan matanya ke aku. Pasti dia melihatku walaupun tadi kulihat baru sepintas. Dan benar, setelah beberapa saat kutunggu Minah bergeser ke dedaunan yang lebih rimbun dengan wajahnya yang menghadap ke arahku. Aku terus pura-pura membaca dan tanganku mulai mengelus-elus jagoku yang berada di lorong sarungku ini.
Ah, benar, dia menyaksikan semua ulahku. penisku kontan ngaceng banget. Inilah inovasi yang bisa memberikan sensasi syahwat padaku. Kini aku gemetar merinding. Aku merasakan betapa nikmatnya memperlihatkan ulah jorokku pada si Minah ini. Aku yakin pada saat yang sama jantung Minah berdegup kencang, dan naluri birahinya terusik.
Dari balik dedaunan mungkin sekali dia kegatalan lantas merabai puting susunya. Kalau si Minah begitu lama berada di balik dedaunan itu aku semakin yakin bahwa dia benar-benar sedang terperangkap keasyikan syahwatnya. Kulihat dia bergeser ke kanan atau kekiri untuk menampakkan bahwa dia sedang bekerja. Tetapi sama sekali dia tak melepaskan arah pandangannya ke aku.
Duh nikmatnya elusan tanganku. Jari-jariku semakin memilin atau meijit-pijit batang maupun kepala penisku. Aku setengah merem melek keenakkan. Darah birahiku mulai loncat ke-ubun-ubun. Khayalanku terbang ke awang-awang kemudian turun di halaman depan rumah untuk menyambangi Minah yang sedang menyapu. Dia diam saja saat dengan khayalku memperosotkan celana dalamnya dan aku menciumi pantatnya.
Dia membungkuk untuk memberikan kesempatan padaku meraih jilatan pada lubang pantatnya. Kocokkan tanganku semakin cepat. Aku juga menjilati selangkangan dan vagina Minah. Kurasai aroma pesing kencingnya dari bibir-bibir vaginanya.
Kutusukkan lidahku untuk menari-nari di lubang vaginanya. Kuelus dan kupijit panjang penisku. Spemaku akan muncrat nih.. Aku melototkan mataku ke arah Minah untuk menghayati sedalam-dalamnya khayalanku. Ahh.. Nikmat banget. Dan..
Minaahh.. Minaahh.. Minaahh.. Karminahh.. Ahh.., akhirnya crot.. crot.. crot..
Kali ini tidak membasahi sarungku. Spermaku langsung loncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi.
Jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Aku menarik nafas panjang. Ploonng.. Legaa.. Aku melihat Minah salah tingkah. Sejak tadi dia belum beranjak dari rimbunan dedaunan tanaman hiasnya. Biar dia tak gelisah, aku berdiri meninggalkan bangkuku. Aku masuk ke rumah.
Aku mengambil kopi panasku yang telah disediakan istriku. Dengan kue dan kopi di tangan aku kembali ke beranda. Kini acaranya tidak lagi memasang kerudung sarung. Hanya ngopi sambil baca dan sesekali menyaksikan si Minah yang pasti sedang penasaran.
Aku akan buat dia tetap penasaran hingga besok sore saat dia kembali nyapu dan menyiram tanaman. Aku perhatikan kini dia menyapu tanpa konsentrasi, sebentar-sebentar menengok atau melirik ke arah aku duduk. Hi.. Hi..
Benar, khan. Kali ini aku ngintip dari jendela. Ah, kasihan si Minah. Kulihat dia mondar mandir sebelum waktunya untuk nyapu, sepertinya dia men-cek tempat aku biasa duduk. Kali ini ‘bargenning position’ ada di tanganku. Aku akan keluar agak lambat dari waktu biasanya.
Aku akan keluar nanti saat dia menyapu hampir selesai. Sementara biar aku ngintip dulu dari jendelaku. Betapa Minah ini memang sangat sensual. Dalam pakaian macam apapun. Juga dalam setiap geraknya, entah jongkok, berdiri, saat menyapu, saat membetulkan ikatan rambutnya sehingga ketiaknya nampak terbuka, entah sedang membungku untuk mengambil sapu.
Uhh, sungguh mempesona. Aku tak tahan lagi. penisku kembali tegang mengeras. Ah, sebaiknya aku mulai duduk saja ke beranda. Dengan sarungku aku naik ke bangku beranda rumahku. Kuangkat melipat kakiku ke bangku dengan tepian sarungku berhenti pada lutut sehingga terbitlah lorong sarungku.
Pahaku nampak terbuka dan mata Minah pasti akan langsung menatap penis di tangan-tanganku yang sibuk mengelusi atau memijat-mijat dan kemudian akan mengocok-ocoknya saat nafsu birahiku semakin meninggi dan memuncak.
Duh, Karminah.., kenapa kamu yang secantik ini hanya menyapu halaman rumahmu? Bukankan lebih baik kalau kamu duduk di pangkuanku? Bukankah aku bisa memberikan kesenangan padamu dengan membelai payu daramu yang indah itu? Dengan menciumi bokongmu yang sangat sensual itu? Dengan menjilati ketiakmu yang.. Pasti sangat harum itu?
Ah, Minaahh.., Karminaahh.. Sini kamu. Biar kulepasi celana dalammu. Biar kukecup dan jilati pahamu. Biar kuciumi kemaluanm. Vagina indahmu. Biar kuceboki dengan lidahku saat engkau usai melepas air kencingmu. Sini, Minah.. Mas-mu ini sangat rindu kamu..
Mataku melototi Minah yang menjadi salah tingkah. Kadang jongkok, kadang berdiri, kadang bergeser ke rerimbuanan dedaunan tanaman hiasnya. Daann.., ah, itu kan Bu Ani isteri Pak Durma tetangga sebelah kanan rumah Minah. Dia juga menyapu halaman rumahnya. Ternyata Bu Ani juga sangat cantik ketika sedang menyapu.
Dan lhoo.., ituu.. Dik Karsih, adik ipar Pak Ferdi, tetangga sebelah kiri rumah Minah. Dia juga menyapu halamannya. Duhh.. Bodinya montok banget. Uhh.. penisku menjadi sangat gatal. Aku sebaiknya memijat-pijat lebih keras dan mengocok lebih cepat.. Kini aku mulai menciumi Ani yang isteri Pak Durma. Aku ingat betapa ketiaknya penuh bulu. Ketiak wanita seusia Bu Ani yang 28 tahun itu pasti sangat harum baunya.
Dan ketika kocokkan penisku semakin cepat ciuman dan jilatanku berpindah ke Dik Karsih yang sangat montok itu. Kujelajahi susu dan pentil-pentilnya. Aku merambah perutnya dan cepat turun ke vaginanya. Duh.. ‘gembul’-nya rambut kemaluan Dik Karsih. Aku cepat benamkan wajahku ke rimba indah itu. Kuhirup udara penuh aroma syahwat di dalamnya.
Lho, lho, lhoo.. Kenapa para perempuan kanan kiri rumah Minah kini pada keluar menyapu bersama? Itu ada Bu Denis, ada jeng Tatik, Bu Harsa, bu.. Dik.. Jeng.. Mbakyuu.. Siapa lagi ituu.. Dan kocokkanku kini mendekati puncaknya. Spermaku rasanya telah merambati batang penisku dan aahh.. ampuunn.. Aku tak mampu menahannya lagi..
Spermaku kembali muncrat meloncat tak tertahan membasahi bumi pertiwi. Seperti kemarin, jatuh melengkung ke tanah sesudah melewati kakiku, teras kecil dan pot kecil di rumahku. Kali ini cairan kental bening keputihan yang keluar penisku ini rasanya tak habis-habisnya.
Berkali-kali semprotan penisku meloncati kakiku hingga aku jatuh terseok ke bangkuku. Dan dari balik mataku yang masih setengah merem melek menanggung kenihkmatan birahiku kulihat sama-samar Minah, jeng Tatik, Bu Harsa, Dik Karsih, Bu Denis, Bu Ani. Mereka pada berhenti menyapu halaman rumahnya. Mereka menahan air liurnya sambil menapatap ke arah sarungku. Duhh.. Aku jadi tersadar.
Rupanya mereka ramai-ramai menonton ulahku. Mereka telah ber-konspirasi untuk menonton tingkah mesum-ku. Dan samar-samar kudengar mereka tertawa cekikikan saat dengan rasa malu yang amat sangat aku berlari kecil masuk ke rumah.
Sejak itu aku sering dengar, saat ibu-ibu pada nge-gosip dan kebetulan aku lewat di depannya, ada saja bisik-bisik,
“Ssstt.. Itu Mas ‘Karyo sarung’ lewat..”.
Kemudian terdengar ketawa mereka yang cekikikan. Aku jadi obyek kelakar mereka. Aku benar-benar telah kehilangan ‘pamor’ di wilayah RT dan RW-ku.
*****
Jakarta, April 2004
E N D
Pertunjukan Untuk Keponakanku
Aku sangat kagum dengan para penulis yang menuliskan pengalamannya menjadi eksibisionis. Setelah membaca beberapa kali, aku memberanikan diriku untuk menulis pengalamanku sendiri dengan keponakanku bulan Juli 2003 yang lalu.
*****
Sebut saja namaku Dina. Aku seorang wanita karier yang telah berusia 40 tahun. Tinggi badanku 170 cm dengan berat badan 43 kg. Ukuran braku 34B. Bulu-bulu vaginaku termasuk sedikit, karenanya celah vaginaku dapat terlihat dengan mudah. Berkat rajinnya aku melakukan perawatan muka dan tubuh maka kulitku masih halus, putih, bersih dan kencang. Kebanyakan teman-temanku memujiku seperti baru berumur 33 tahun.
Saat ini aku tinggal sendiri di kawasan Surabaya bagian barat. Aku bercerai dengan suamiku sejak enam tahun yang lalu karena beda prinsip yang terlalu keras. Putra kami satu-satunya hasil dari perkawinan kami kutitipkan pada ibuku di kota asalku, Semarang.
Dulu pada waktu masih muda, aku adalah seorang eksibisionis yaitu orang yang suka memamerkan tubuhnya pada orang lain. Hanya saja aku suka melakukannya seolah-olah aku sendiri tidak tahu kalau pakaianku tersingkap. Sifat itu menghilang ketika aku memasuki masa-masa berkerja, tetapi setelah bercerai selama enam tahun, sifat itu mulai kembali lagi. Kalau pulang ke rumah setelah kerja, aku suka melepaskan semua pakaian kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu, biasanya aku akan mandi tanpa menutup pintu kamar mandi dan keluar kamar mandi setelah selesai dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kalau tidak malas, aku akan memakai celana dalam dan bra atau gaun malam saja tanpa celana dalam dan bra. Tapi kalau malas, aku akan membiarkan tubuhku telanjang, lalu aku akan mulai makan, nonton TV ataupun bersantai. Aku juga suka tidur dengan pakaian yang sexy dan minim. Pernah aku tidur tanpa memakai pakaian sama sekali.
Dua bulan yang lalu, aku kedatangan tamu dari Semarang. Tamu itu adalah keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, dia anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia datang di saat liburan sekolahnya. Aku sangat gembira menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari awal semuanya berjalan seperti normal, tetapi satu minggu kemudian, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada tempat dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada timbul kecurigaan kalau keponakanku itu memainkan pakaian dalamku, sebab kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada pakaian dalamku yang hilang lalu besoknya ditemukan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks tentang aku.
Suatu malam aku memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku segera mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuhku bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkanganku. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa halangan.
Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton TV dan segera duduk menonton TV. Mula-mula aku berusaha duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama kemudian, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang sambil menonton TV, tetapi aku tahu kalau dia diam-diam mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seolah-olah menjangkau sesuatu yang akhirnya mempermudah dia melihat payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak lama kemudian, aku mencoba lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bagian belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku aku bisa melihat kalau keponakanku melihat bagian itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari masa mudaku sebagai seorang eksibisionis.
Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, tetapi menyisakan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun saat itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, pura-pura konsentrasi pada g-stringku agar dia tidak kaget. Kemudian aku membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, tetapi dari banyak yang kudengar, sebetulnya lelaki paling menyukai saat ini yaitu pada saat perempuan mulai membuka pakaiannya.
Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku yakin dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sangat menikmati pemandangan vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka melihat perempuan kencing. Setelah kencingku selesai aku kembali berdiri, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, aku membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku memberikan kesempatan kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat aku. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding aku melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.
Saat aku berjalan ke arah sofa, aku melihat kalau muka keponakanku merah, Dalam hatiku aku tertawa karena teringat masa laluku sebagai eksebisionis. Waktu itu, semua laki-laki yang memandangku saat aku sedang “Beraksi” juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, aku melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, aku kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton TV dan bincang-bincang kami. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk tidur, karena saat itu jam 11.30.
Saat di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Gaun malamku yang tersingkap saat aku naik ke tempat tidur kubiarkan saja sehingga memperlihatkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri merosot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati kalau diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok aku merencanakan sesuatu yang lebih enak lagi.
Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku bangun dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, aku bertemu dengan keponakanku yang sudah bangun. Dia sedang menonton acara TV pagi. Aku menyapanya dan segera di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku kemudian membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di tempat cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang karena gerakan tanganku yang menyikat gigi.
Keponakanku pasti melihatnya dengan jelas karena aku sudah mengatur posisi tubuhku agar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah selesai, aku kemudian membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, aku siram dan aku masuk ke tempat shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku kemudian mandi seperti biasa, tetapi saat menyabuni badan, aku menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, aku masih melanjutkan acara mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, aku kemudian mengeringkan badan dan rambut, lalu melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku melihat dari pantulan tegel dinding kalau keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.
Saat keluar aku melihat keponakanku duduk di depan TV sambil menikmati acara TV. Aku tahu sebetulnya dia hanya pura-pura. Mukanya merah seperti kemarin sewaktu habis mengintipku kencing. Aku kemudian masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan harapan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat kalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka lilitan handukku sehingga aku telanjang bulat. Setelah itu, dengan handuk itu, aku terus mengeringkan rambutku yang basah sementara aku terus menuju ke meja rias.
Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, aku mengeringkan rambutku. Setelah kering, aku menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil sebuah strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, tetapi kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bagian bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku aku merapikan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku melihat kalau bayangan keponakanku sudah tidak ada.
Setelah itu, aku keluar kamar dan menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu sudah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi dia tidak cuma sekedar mandi, tetapi pasti memakai gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli karena merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.
Saat makan pagi siap dan keponakanku selesai mandi, aku menyuruhnya makan bersama. Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu kalau keponakanku memperhatikan bra yang terlihat akibat bagian leher yang terus melonggar. Setelah makan selesai, aku membereskan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah aku merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.
Sejak hari itu, aku selalu bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku saat mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan memakai pakaian dalamku sepanjang dia mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke tempat cucian.
Aku pura-pura tidak tahu kalau dia melakukan semua itu. Hanya saat aku melakukan masturbasi saja yang tidak kubiarkan dia mengintip. Lagi pula biasanya aku melakukan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena aku malu menunjukkan kepadanya kalau aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati situasi ini sampai saat dia harus pulang kembali ke Semarang, aku mengatakan kepadanya kalau aku sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah aku suka diintip olehnya. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tetapi dia juga mengatakan kalau dia sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan selanjutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menunjukan tubuhku lagi kepadanya.
Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi hanya saja aku sekarang lebih suka diintip.
E N D
Pengalaman Tinggal di Keluarga Italy
Setelah cukup lama bekerja dengan salah satu perusahaan asing di Jakarta, saya memutuskan untuk mengambil program Master of Electronics Engineering di Australia. Setelah mencari-cari universitas mana yang terbaik, saya memutuskan untuk kuliah di Universitas of Technology Sydney karena fasilitas mereka sangat memadai. Saya juga memutuskan untuk tinggal dengan salah satu keluarga di Sydeny di daerah Inner West of Sydney. Di keluarga inilah pengalaman menarik saya terjadi.
Sewaktu pertama kali interview dengan keluarga ini mereka tampak sangat ramah. Mereka adalah pasangan suami-istri yang berasal dari Italy umur mereka sekitar 45 tahun. Mereka mempunyai seorang anak perempuan berumur 21 tahun. Anak perempuannya cantik sekali, dia mempunyai rambut yang hitam legam, panjangnya sebahu dan raut muka yang khas Italy, alis matanya tebal tapi terawat seperti foto model, namanya Antonella.
Antonella orangnya suka bersolek, oleh karena itu dia memutuskan untuk mengambil kursus kecantikan di TAFE, semacam program diploma di Jakarta. Ia juga sedikit manja, maklum anak satu-satunya. Ortu Antonella memutuskan untuk menyewakan salah satu kamar di rumahnya karena business mereka sedang tidak lancar. Kamarnya disewakan dengan harga $ 250.00/week, lumayan untuk tambahan sehari-hari kata mereka.
Pada bulan-bulan pertama semua berjalan dengan lancar. Saya kuliah dari pagi sampai sore dan kalau malam kadang-kadang suka ngobrol dengan induk semang saya. Mereka sangat ramah, mereka bersedia menyiapkan makan dan sering mengajak saya keluar menunjukkan kehidupan di Sydney. Kadang-kadang pada hari Sabtu dan Minggu Antonella suka mengajak saya ke night club, istilah disini “Clubbing”. Saya merasa tinggal dengan keluarga sendiri dan mereka juga menganggap saya sebagai anak laki-lakinya. Mungkin ini sudah menjadi culture orang Italy yang suka hidup bersosialisasi.
Setelah 6 bulan tinggal bersama keluarga ini, suatu hari saya merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak kuliah. Saya berbaring di ranjang di kamar tidur saya. Kamar tidur saya yang bersebelahan dengan kamar Antonella. Kira-kira pukul 12.00 siang saya mendengar suara-suara berasal dari kolam renang. Oh ya, di rumah ini ada kolam renang. Tidak besar mungkin sekitar 7 x 3 meter. Saya beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk melihat siapa yang sedang berenang karena mustinya sekarang tidak ada orang dirumah.
Di kolam renang saya bisa melihat Antonella sedang berenang. Saya hampiri dia dan menyapanya.
“Hi Antonella,” sapa saya.
Antonella terkejut ketika melihat saya dan menjawab,
“Hi Eddy, what are you doing at home? I thought you are at Uni,”
“No, I feel sick, so I decide to stay at home.”
“O… have you take any medicine? ”
“Yes, I took a tablet of Codral. Hey, what are you doing here? Aren”t you suppose to be at TAFE?”
“Nop, I feel bored so I decided to take a day off today.”
“Oh, right then. I better stay in bed. Ok see you later.” kata saya.
Selama percakapan tadi saya merasa agak kikuk, soalnya dari atas saya bisa melihat dengan samar-samar kalau Antonella berenang dengan tidak menggunakan baju renang! Alias naked/telanjang! Saya berusaha untuk tidak melihat langsung ke badannya dan berusaha untuk tidak merasa risih. Maklum baru pertama kali ini saya melihat Antonella tanpa busana. Biasanya saya suka melihat dia sering memakai baju seksi, tapi tidak pernah sampai telanjang.
Saya kembali ke kamar saya dan cepat-cepat pergi ke jendela. Kebetulan jendela saya menghadap ke kolam renang, jadi saya bisa melihat dengan jelas si Antonella. Dari celah-celah window blind saya bisa melihat Antonella berenang dengan tenangnya. Sayang saya tidak bisa melihat dengan jelas body si Antonella.
Setelah berenang beberapa lap, Antonella keluar dari kolam renang. Pada saat itu saya bisa melihat dengan jelas bodynya. Wah.. Bodynya benar-benar OK, maklum si Antonella orangnya memang suka menjaga kondisi tubuhnya. Dia sering pergi ke gym. Badannya tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap. Walaupun dia baru berumur 21 tahun badannya cukup tinggi sekitar 170 cm and berat badannya sekitar 57-60 kg. Saya tidak melihat selulit sedikitpun di pahanya. Buah dadanya cukup besar. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah kakinya yang jejang dan dia mencukur habis bulu kemaluannya. Jantung saya berdetak dengan kencang dan badan terasa panas dingin.
Antonella mengeringkan badannya dengan handuk, kemudian menaruh handuknya diatas kursi malas yang ada di kolam. Setelah mengoleskan suntain lotion di seluruh tubuhnya yang seksi, mulai dari dada, pinggul, kemaluan dan kakinya yang jenjang, dia berbaring diatas kursi malas. Saya berharap saya bisa mengoleskan suntain lotion di bodynya.
Setelah kira-kira 15 menit berbaring telentang dibawah sinar matahari. Dia membalikkan badannya dan berusaha mengusapkan suntain lotion ke punggungnya, tapi tidak berhasil. Saya melihat dia berpikir sebentar dan berjalan menuju ke rumah. Tak lama kemudian saya mendengar ketukan di pintu kamar saya. Saya berharap itu Antonella. Benar saja, ketika saya membuka pintu kamar Antonella telah berdiri di depan pintu, telanjang bulat, sambil memegang suntain lotion.
“Eddy, could you help me put the suntain lotion on my back? ”
“Sure,” kata saya sambil menelan ludah.
Saya oleskan suntain lotionnya dengan agak gemeteran, ternyata yang saya harapkan jadi kenyataan.
“Coba warna kulit saya seperti punya kamu Eddy, jadinya kan saya nggak usah berjemur,” kata Antonella.
“Terima kasih, warna kulit kamu juga bagus kok dan body kamu juga okey,” balas saya.
“Oh ya, kamu suka dengan body saya?” kata Antonella dengan senyum kecil.
“O iya,” balas saya sambil menelan ludah lagi.
“By the way Eddy, saya merasa kamu agak gemetaran, kamu nggak keberatankan kalau saya nggak pake baju? Saya dengar orang-orang dari Indo nggak biasa ngeliat orang telanjang?”
“Bener juga sih, nggak biasanya saya melihat orang telanjang apa lagi cewek.” kata saya.
“Cuman kalau kamu mau nggak pake baju itu sih terserah kamu, saya sih maklum aja, no problem.”
“Oh.. Good then, soalnya saya sebenarnya suka sekali nude kalau di rumah, cuman Mama-Papa bilang karena ada kamu musti sopan. Lagian bulan-bulan kemarin kan musim dingin, jadi nggak oke. Tapi sekarang udah musim summer, jadi saya sekarang bisa menyalurkan hobby saya.
“So ortu kamu nggak keberatan dengan hobby kamu?” tanya saya.
“Nop. Mereka bilang terserah saya mau apa aja. Kadang-kadang si Mami-Papi juga suka jalan dirumah cuman pakai pakaian dalamnya saja,” jawab Antonella sambil ketawa, “Cuman mungkin karena ada kamu, sekarang mereka nggak terlalu sering melakukannya. Nanti saya kasih tahu mama-Papa kalau kamu nggak keberatan.”
“Okey,” jawab saya sambil tersenyum kecil.
“Ok, terima kasih yah udah mengoleskan suntain lotion, saya mau berjemur lagi yah,” kata Antonella.
“Bye,” balas saya.
Antonella berjalan kembali ke kolam renang dan berjemur dengan posisi tengkurap. Saya kembali melihat Antonella dari balik jendela kamar. Mmhh.. Bodynya benar-benar oke. Pantatnya padat berisi dan bentuknya benar-benar bulat.
Antonella berjemur sekitar 20 menit kemudian berenang lagi selama 5 menit kemudian naik dan masuk ke dalam rumah. Saya tetap saja berada di dalam kamar dan berusaha mengintip diri pintu kamar untuk mengetahui apa yang Antonella sedang lakukan. Ternyata dia tetap tidak memakai bajunya. Dia berjalan-jalan di dalam rumah dengan santainya. Kelihatannya dia sangat menikmati keadaan dimana badannya yang tidak dibalut oleh selembar benang pun. Dia berjalan ke dapur, ruang tamu dan akhirnya duduk di sofa sambil menonton televisi.
Saya tidak tahan lagi hanya mengintip dari kamar, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan ke ruang dapur, pura-pura ambil cemilan kemudian berjalan ke ruang keluarga dan berdiri dekat televesi.
“Ada acara bagus nggak?” tanya saya kepada Antonella.
“Nothing special, ayo duduk di sofa, ngapain nonton TV sambil berdiri?” jawab Antonella sambil tersenyum.
“Ok,” kata saya.
Man.. Saya duduk di sofa disamping Antonella yang telanjang bulat. Dia cuek-cuek aja. Kadang-kadang dia berkomentar tentang acara televisi dan saya hanya bisa bilang ok doang. Saya nggak bisa konsentrasi nonton TV, sebentar mata melihat TV sebentar melihat body Antonella yang oke banget. Kakinya benar-benar bagus, panjangnya proposional banget dan betisnya seperti butir padi. Dia tahu saya nggak konsen, karena kadang-kadang dia sengaja pasang posisi yang menurut saya sangat seksi sekali.
Saya duduk disofa kira-kira 15 menit dan permisi ke Antonella untuk balik ke kamar, alasannya mau belajar, cuman pembaca pasti tahu apa yang saya lakukan di kamar, tegangan lagi tinggi butuh saluran pengeluaran.
Tak lama kemudian saya mendengar kalau ortu Antonella kembali dari kerja. Saya mendengar mereka berbicara dengan Antonella menggunakan bahasa Italy. Dari nadanya kayaknya mereka sedang memperingati Antonella. Tapi Antonella cuek aja dan membalas pertanyaan mereka dengan santainya. Setelah sedikit argument akhirnya saya mendengar Antonella masuk ke kamarnya dan dari balik pintu saya bisa melihat dia keluar dari kamarnya dengan menggunakan maju mandi. Ketika saya melihat Antonella sudah memakai baju baru saya berani keluar, soalnya takut ortunya tersinggung. Saya berusaha untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya juga menjelaskan kenapa saya tidak masuk kuliah hari itu.
Malam harinya ketika selesai makan malam. Papa Antonella mengajak saya ke taman untuk berbincang-bincang. Mula-mula kita ngobrol kejadian sehari-hari. Kemudian setelah menarik napas panjang dia berbicara kepada saya.
“Tadi Antonella bilang kalau kamu membantu dia mengoleskan suntain lotion. Apakah kamu tidak keberatan dengan kebiasaanya yang suka tidak memakai baju?”
“Saya tidak merasa keberatan. Kalau Antonella tidak merasa sungkan/malu saya pun tidak jadi masalah. Masing-masing sudah besar”
“Good, saya lega mendengar itu. Tadinya saya ragu-ragu soalnya setahu saya orang Indo tidak biasa dengan nudity”
“Itu benar, tapi selagi saya tinggal di rumah anda, saya mengikuti aturan rumah anda”
“Ok.. Saya sangat menghargai keterbukaan anda. Antonella bilang bahwa dia sudah menganggap kamu seperti kakaknya”
“Saya juga sudah menganggap Antonella sebagai adik saya, so do not worry about it.”
Mulai sejak itulah kebiasaan rumah mulai berubah. Antonella semakin sering berenang tanpa baju dan kadang-kadang suka berjalan-jalan dirumah tanpa mengenakan sehelai benang. Bahkan teman-teman Antonella suka datang ke rumah untuk berenang. Maklum lagi musim panas. Dan ada beberapa dari mereka yang juga suka berjemur tanpa menggunakan baju. Kalau saya kebetulan di rumah dan melihat mereka, mereka hanya tersenyum saja. Malah kadang-kadang mereka sepertinya sengaja memamerkan bodynya ke saya. Man.. I think I live in heaven.
Antonella juga sekarang berani menjelaskan kepada saya bahwa dia merasa puas bila banyak mata yang melihat bodynya, terutama kaum cowok. Dia pernah bilang bahwa kadang-kadang kalau dia pergi “Clubbing” dia sering menggunakan rok mini atau baju terusan yang pas body tanpa menggunakan Bra atau CD. Kalau dibawah lampu sorot disco orang lain bisa melihat dengan jelas bahwa dibalik baju tidak ada Bra dan CD.
Itulah pengalaman saya. Saya tinggal di keluarga itu selama 1 tahun. Saya terpaksa pindah ke tempat lain karena saya tidak bisa konsentrasi belajar dan nilai saya agak turun. Man.. Siapa yang bisa belajar kalau tahu di rumah ada cewek cakep yang suka bertelanjang ria!! Saya akhirnya memutuskan untuk menyewa flat dengan harapan bisa berkonsentrasi untuk belajar. Tapi ternyata di tempat baru pun banyak hal yang agak mengganggu konsentrasi belajar saya.
E N D
Pelajaran Sex Untuk Anak Tetangga
Saya mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah menulis email untuk saya, sekaligus memohon maaf karena ada beberapa email yang sama sekali tidak sempat saya balas. Untuk selanjutnya saya akan menyediakan waktu 3 jam untuk membalas semua email itu setiap hari. Untuk itu, saya harap para pembaca tidak kapok mengirimkan email ke tempat saya. Sesuai dengan janji saya bahwa saya akan menceritakan pengalaman yang lain, kali ini saya akan menceritakan pengalamanku dengan anak tetanggaku.
*****
Kejadian ini terjadi di pertengahan bulan Januari 2004.
Malam itu aku pulang lebih malam dari biasanya. Rapat di kantor yang berkepanjangan dan bertele-tele membuat aku cape setengah mati. Masuk ke kamar tidurku, aku membuka jas kantorku disusul dengan melorotkan rokku dan menjatuhkannya ke lantai begitu saja.
Sambil berjalan ke arah lemari pakaian, aku membuka kancing-kancing blusku. Tepat di depan lemari pakaian aku melepaskan blusku dan menjatuhkannya ke lantai pula. Aku membuka lemari pakaianku. Sejenak aku memilih-milih pakaian dalam yang akan aku pakai. Akhirnya pilihanku jatuh pada celana dalam satin tipe thong warna kuning muda dan bra tanpa tali bahu yang berwarna sama.
Kulemparkan celana dalam dan bra ke atas tempat tidurku. Setelah itu, aku menuju ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarku.
Di dalam kamar mandi, aku membuka celana dalamku yang berwarna putih dan bra yang berwarna sama yang kukenakan sejak pagi. Kubiarkan saja tergeletak di lantai kamar mandi. Aku segera masuk ke dalam tempat shower dan mandi. Hanya dengan mandi yang bersih yang bisa mengusir segala kepenatanku seharian di kantor. Saat menyabuni badanku, aku menyabuni bagian payudara dan vaginaku agak lama. Aku menikmati sensasi saat kedua bagian tubuhku itu tersentuh, walaupun oleh tanganku sendiri. Tak lama kemudian acara mandiku berakhir. Aku kemudian keluar dari tempat shower dan menggapai handuk yang selalu tergantung di belakang pintu kamar mandiku. Dengan handuk itu, aku mengeringkan tubuhku.
Kembali ke kamar tidur, aku kemudian mengambil pakaian dalam yang di taruh di atas tempat tidur dan kupakai. Setelah itu, handuk yang kupakai kuhamparkan di sandaran kursi yang ada di kamarku. Aku membaringkan diriku ke atas tempat tidur. Bagian tubuhku yang tidak terutup oleh bra dan celana dalam yang kupakai, langsung menyentuh lembutnya sprei tempat tidurku. Aku memutuskan untuk beristirahat.
Saat baru saja hendak terlelap, aku mendengar suara bel pintu. Aku kemudian bangkit dari tempat tidurku dan menggapai jubah tidur satinku yang berwarna merah muda yang tergantung di balik pintu kamarku. Sambil berjalan ke arah pintu depan, aku memakai jubah tidurku dengan terburu-buru. Hal ini tentu saja menyebabkan pada bagian dada tidak tertutup dengan rapi. Langkah-langkah kakiku menyebabkan celana dalamku terlihat dari belahan jubah tidurku yang panjangnya hanya sepaha. Aku tidak perduli, aku hanya berpikir siapa yang datang.
Saat aku membuka pintu, aku melihat seorang anak laki-laki berumur 14 tahun. Dia adalah anak dari tetangga di depan rumahku. Ditangannya dia membawa sebuah kotak. Pertama-tama sepertinya dia terkejut melihat penampilanku sebab dia bisa melihat sebagian bra yang tidak tertutup oleh jubah tidurku.
“Ryan, ada apa, sayang?” tanyaku.
Dengan agak gelalapan dia menjawabku,
“Anu Tante, ini ada titipan dari Mama..”
“Apa ini? “, tanyaku.
Sambil menyodorkan kotak yang dibawanya, dia berkata,
“Cuma kue saja.”
Aku kemudian mengambil kotak itu dari tangannya dan mempersilahkan dia masuk.
“Mama kemana?”, tanyaku.
“Keluar sama papa. Mungkin agak malam baru pulang, soalnya mau ngurusi pesta”
“Pesta apa?”
“Perayaan ulang tahun perkawinan yang ke 25″
“Oh begitu..”
Aku kemudian mempersilahkan dia duduk di kursi ruang keluargaku. Aku kemudian mengambil air dari dapur dan membawanya keluar.
“Ini silahkan di minum..”
“Terima kasih, Tante..”
Aku tersenyum kecil, sebab sewaktu aku menaruh air tadi ke meja, aku melihat kalau matanya melirik ke dalam jubah tidurku, tepat ke arah buah dadaku yang tertutup oleh braku. Diam-diam aku berencana untuk menggoda anak ini. Aku kemudian duduk di sebelahnya. Sejenak kemudian, anak itu aku ajak berbincang-bincang. Sebetulnya anak itu duduknya tidak tenang, tetapi aku pura-pura tidak memperhatikannya, sampai suatu ketika dia berkata,
“Anu Tante, bra Tante bagus ya..”
Aku tersenyum kecil. Dalam hatiku aku bersorak gembira. Anak ini memperhatikanku.
“Memangnya bra Mamamu tidak bagus? “, tanyaku.
“Ngak sebagus punya Tante”
“Lho, pernah ngintip Mamanya ya..,” godaku.
Dengan muka yang agak kemerahan dia berkata,
“Bukan gitu kan tahu dari jemuran..”
“Kalau gitu cuma tahu branya aja? Celana dalamnya?”
“Celana dalam juga”
“Kalau gitu bagusan mana dengan punya Tante?”
Aku kemudian mengangkat sedikit jubah tidurku. Celana dalamku terlihat dengan jelas oleh anak itu. Dengan muka yang tambah merah, Ryan menjawab,
“Punya Tante jauh lebih bagus. Punya Mama potongannya biasa saja. Warnanya pun paling putih. Punya Tante bagus sekali ..”
Aku tersenyum dan terus bertanya,
“Pernah lihat Mama hanya pakai bra sama celana dalam?”
Anak itu menggeleng,
“Belum ..”
“Mau lihat kalau Tante yang pakai?”
Anak itu menganggukkan kepalanya. Aku segera berdiri. Sambil tersenyum aku melepaskan jubah tidurku. Kini di depannya aku hanya mengenakan bra dan celana dalam saja.
“Bagaimana? ..”
“Tante kelihatan cantik. Kayaknya Mamanya Ryan kalah deh”
“Hush .. masa Mamanya Ryan kalah?”
“Benar, Tante.. Tante cantik sekali..”
Aku kembali duduk di sofa. Kali ini aku bertanya lebih berani,
“Kamu pernah lihat payudara yang tidak tertutup bra?”
“Ngak pernah”
“Mau lihat?”
Dengan muka memerah, dia mengangguk kecil. Sambil tersenyum aku melepaskan kait braku. Setelah lepas, braku kuhamparkan di samping sofa. Payudaraku terpampang untuknya. Mulut anak itu terngangga sedikit.
“Tante betul-betuk cantik”, hanya itu komentarnya. Matanya terus saja menggerayangi kedua payudaraku. Aku tambah nakal, lalu bertanya,
“Mau Tante telanjang sekalian?”
Dia mengangguk pula. Aku melepaskan celana dalam yang kupakai. Setelah itu, kubuka kedua kakiku. Vaginaku beserta bulu-bulunya terlihat olehnya. Kini seluruh tubuhku bebas dinikmati oleh anak itu. Matanya tak henti-hentinya melalap semua bagian tubuhku. Sebentar-sebentar terlihat sepertinya dia tidak tahan untuk tidak menyentuh tubuhku, tetapi karena dari aku tidak ada tanggapan, maka dia hanya bisa menahan saja.
Setelah agak lama, aku kembali berusaha mencairkan suasana dengan obrolan yang lain. Mungkin karena tubuhku dalam keadaan telanjang, anak itu sepertinya kurang menanggapi. Akhirnya setelah beberapa saat, aku mengingatkannya agar segera pulang. Aku mengambil kembali celana dalam, bra dan jubah tidurku dan memakainya kembali di depan anak itu.
Saat hendak keluar pintu, anak itu berkata kepadaku,
“Tante, terima kasih ya. Tante betul-betul cantik”
Aku tersenyum saja. Dia meneruskannya,
“Maukah Tante merahasiakannya untuk kita berdua saja?”
Sambil tersenyum aku mengangguk. Anak itu tersenyum juga. Dengan langkah yang riang, dia kembali ke rumahnya. Aku segera mengunci pintu dan kembali ke kamarku. Aku kembali melepaskan jubah tidurku. Hanya dengan mengenakan bra dan celana dalam, aku membaringkan tubuhku ke tempat tidur.
Peristiwa tadi membuat aku sangat gembira sekaligus terangsang. Aku kemudian mengambil penis dari karet dari laci tempat tidurku. Aku membuka bra dan celana dalamku dan membaringkan tubuhku yang telanjang kembali ke ranjang. Penis karetku kumasukan ke liang vaginaku dan kugerakkan maju mundur. Pikiranku kupenuhi dengan adegan dimana aku menelanjangi diri di depan anak itu. Nafsuku yang semakin memuncak akhirnya membuatku orgasme. Setelah mengalami orgasme berkali-kali, aku serasa tidak punya tenaga untuk melakukan apa-apa lagi. Dengan tubuh telanjang yang terkulai lemas dan penis karet yang tertancap di liang vaginaku, aku tertidur dengan pulas sampai pagi.
Sejak hari itu, anak tetanggaku selalu ke rumahku bila kedua orang tuanya pergi. Tentu saja setiap kali datang, aku selalu memamerkan pakaian dalam yang aku pakai dan tubuh telanjangku. Pernah satu dua kali aku membiarkannya melihatku sedang mandi. Selain itu, anak itu mulai berani meminjam pakaian dalamku untuk dipakai dan dimainkan. Kalau bertamu ke rumahku, dia akan meminjamnya dan memakainya selama di rumahku. Saat pulang, barulah dia memakai kembali pakaiannya. Tentu saja biasanya pakaian dalam yang dipakainya ikut dipakai ke rumah juga. Biasanya dikembalikan saat bertamu berikutnya. Aku memikirkan kalau bisa aku ingin memotret anak itu dengan memakai pakaian dalamku. Pasti terlihat sexy dan lucu.
Selain untuk masturbasi di kamar, dia mengaku kalau sering memakainya ke sekolah apalagi saat ujian, pikirannya lebih encer. Aku sendiri agak heran juga, bagaimana kalau teman-temannya mengetahui dia pakai bra di balik seragamnya, tetapi sepertinya dia bisa menyiasatinya.
Aku sangat senang kalau ternyata anak itu betul-betul mengagumiku, apalagi dia mau memakai pakaian dalamku. Aku tidak merasa jijik dengan laki-laki demikian, sebaliknya aku malah merasa senang.
Anak itu paling menyukai kumpulan g-stringku, tetapi aku tidak mengijinkannya untuk dipakai, sebab harganya mahal. Bagaimanapun juga aku takut jika g-stringku menjadi rusak karena dipakai olehnya. Tentu saja gaun dan jubah tidur tidak boleh juga. Koleksi string bikiniku yang bermacam-macam model dan warna adalah yang paling sering dibawa pulang selain celana dalam dan braku yang biasa aku pakai ke kantor sebab string bikini berbahan awet sedangkan pakaian dalam yang kupakai ke kantor tidak terlalu mahal.
Dalam hati diam-diam aku berharap suatu saat aku memperoleh kesempatan untuk mencicipinya, tetapi aku tidak boleh terlalu berani. Aku hanya berharap suatu saat dia akan memintaku untuk melayani nafsunya. Biasanya perasaan itu akan memuncak bila aku melihatnya memakai string bikiniku. Aku berharap bisa menyusui anak itu, walaupun tanpa air susu, hehehe.. Aku juga ingin mencoba kemaluannya yang masih tanpa bulu itu baik di mulut maupun di vaginaku. Aku belum pernah mencoba dengan anak yang belum dewasa. Mungkin rasanya akan berbeda, ya?
E N D
Pameran di Panti Pijat
Salah satu cara favoritku buat ‘pameran’ dan masih kujalani dengan pola yang hampir sama sampai sekarang adalah ke Panti Pijat (PP). Tetapi sebelumnya, jangan membayangkan seperti yang sering orang bilang, yaitu tempat terselubung buat begituan. Terus terang aku tidak perlu yang begituannya, walaupun ditawari. Aku juga tidak pernah cari yang di daerah Kota, terlalu vulgar/langsung (tahu sendirilah bagaimana di daerah Kota itu). Selalu yang kutuju itu daerah pinggiran seperti Pasar Minggu, Depok, Kebayoran Lama, Cempaka Putih, dan lain-lain. Umumnya yang pasang nama Urut Pengobatan Tradisional, tetap ada sih yang begitunya, tapi masih tidak terlalu to-the-point seperti di daerah Kota, sudah tidak seru lagi kalau begitu.
Enaknya, pemijatnya yang masih polos atau malu-malu. Kenapa aku senang ke panti pijat..? Selain badan jadi enak (karena dipijat betulan), juga terutama bebas berbugil ria tanpa khawatir resiko apa-apa. Ini dia intinya.
Salah satunya yang terbaik adalah waktu aku pijat di daerah Lenteng Agung. Aku datang sekitar jam 14.00. Suasananya sepi (memang sengaja). Terus aku ke meja pendaftaran tamunya, yang jaga ibu-ibu.
“Mau pijat Mas..?”
“Iya,” jawabku singkat.
Dia langsung mengajak masuk ke dalam untuk menunjukkan kamar, dan aku disuruh menunggu sebentar. Dia memanggil pemijatnya.
Rupanya panti pijat ini lumayan sopan, tidak menunjukkan album yang berisi foto pemijatnya untuk dipilih. Kalaupun disuruh memilih foto dulu, aku akan pilih yang wajahnya masih polos/biasa-biasa saja, syukur-syukur kalau lumayan manis. Paling tidak mau deh yang wajahnya sexy/merangsang atau berpengalaman, yang body-nya aduhai. Biasanya yang model begini mijatnya asal-asalan, tidak karuan, maunya cepat saja ditawar, terus selesai. Apa-apaan nih, tidak seru. Bukan itu atau body yang kucari.
Tidak lama kemudian pemijatnya datang, cewek berumur sekitar 20 tahunan. Body dan wajahnya biasa-biasa saja tapi bolehlah, lumayan. Untung bukan model germo yang datang.
“Selamat siang, pijat ya Mas..?”
“Iya,” jawabku lagi-lagi singkat.
“Bajunya belum dibuka..” katanya.
Aku segera membuka baju dan celana panjang, tinggal pakai celana dalam saja. Dan aku langsung rebahan telungkup. Dia mulai memijat dari telapak kaki terus ke paha. Enak juga mijatnya, cuma agak kekerasan. Waktu kubilang, dia mengurangi tekanannya. Selanjutnya dia menawari mau pakai cream atau tidak. Aku setuju (sesuai skenario sih). Setelah mengolesi cream, dia mengulang pijatan dari kaki, naik ke betis dan ke paha. Sampai tahap ini, kulancarkan manuver berikutnya.
“Wah, celananya ntar kena cream nggak Mbak..?”
“Oh, kalo gitu bisa dibuka aja, nggak apa-apa..”
Ternyata, tahap kedua berjalan mulus. Sambil tetap telungkup, kuturunkan celana dalam pelan-pelan, terus dia membantu menarik sampai lepas di kaki. Aku sengaja melakukannya dengan proses yang pelan-pelan, tidak langsung ditunjukkan secara frontal, belum saatnya. Sambil dia bantu menurunkan tadi, kuatur posisi anuku (si otong) mengarah ke bawah/belakang. Jadi kalau dilihat dari arah belakang (posisi telungkup dan kaki mengangkang), di pangkal paha akan kelihatan bijiku, terus ada yang menyembul sedikit di bawahnya (ya kepala/topi baja si otong!). Dengan posisi ini, pasti waktu dia mijat sekitar paha akan menyenggol-nyenggol (he.. he.. he.., canggih ya skenarionya).
Aduh, udah mulai ser-seran hatiku. Soalnya walaupun baru sedikit, dia sudah mulai melihat barangku. Benar juga, waktu dia pijat sekitar paha dalam, biji dan si otong tersentuh tangannya. Kontan si otong bangun terjaga dari lelapnya. Gimanaa gitu rasanya, apalagi membayangkan dia pasti lihat dari belakang si otong sudah bangun memanjang. Pijatan naik ke pantat. Pantatku dipijat pelan-pelan, diputar-putar, diremas-remas. Wah, si otong makin kaku saja. Agak-agak sakit sih karena posisinya ketindihan badan, tapi mantap.
Sewaktu pijatan naik lagi ke pinggang, punggung dan leher, rangsangan menurun, dan otomatis si otong mengendor. Tidak apa-apalah istirahat dulu buat ronde selanjutnya yang lebih menegangkan dan full action. Disini aku menikmati juga pijatan seriusnya.
“Balik Mas..!” katanya perlahan.
Nah, ini dia awal ronde kedua yang kutunggu-tunggu. Dengan semangat ‘45, aku berbalik. Jreeng.., aku telentang dan telanjang bulat di depan seorang cewek. Si otong melambai-lambai karena gerakan berbalik tadi. Meskipun sudah sering mengalami ini, aku tetap berdebar-debar. Badanku bergetar waktu merasa sekujur badanku terutama si otong disapu pandangan mata seorang cewek, istilah kerennya di-’scan’. Si otong terasa panas. Berbeda dengan posisi tengkurap dengan kaki mengangkang, waktu telentang kedua kakiku dirapatkan. Teorinya, kedua pahaku rapat mengapit biji dan si otong. So, waktu dia memijat paha, otomatis ya.., itu benar, menyentuh lagi, oke nggak tuh.
Dia mulai memijat dari arah kaki lagi. Aku pura-pura ketiduran, tapi mata tidak dimeramkan benar, masih dapat mengintip sedikit. Nikmat rasanya melihat doi yang menganggap aku ketiduran, sekali-sekali melirik si otong yang sedang terangguk-angguk. Bulu kemaluanku merinding rasanya. Pijatan naik ke lutut, terus ke paha. Rangsangan mulai terasa, si otong kena imbasnya, perlahan-lahan menggelembung. Waktu sampai di paha atas, bijiku kegeser-geser lembut tangannya (lagi-lagi sesuai ‘GBHN’).
Sampai disini si otong sementara tidak kesenggol, karena sudah menjulang dengan gagahnya seperti monas. Bedanya monas, yang atasnya emas, sedangkan si otong puncaknya topi baja. Apalagi waktu dia membuka kedua pahaku yang dikangkangkan untuk memijat pangkal paha terus naik memutari si otong di kiri-kanannya ke arah perut di bawah pusar. Buat cewek kalau tidak salah namanya daerah bukit Venus ya?
Gerakan memutar ini mengakibatkan si otong yang walaupun sudah berdiri bebas, tergeser tangannya. Alamak.., selanjutnya dia memijat-mijat, menekan-nekan di daerah bulu kemaluan ke arah pusar. Kemudian ditarik lagi ke bawah memutar ke selangkangan, terus ke bawah biji. Dipijat-pijat dan ditekan-tekan lagi disitu. Diperparah dengan tarikan ke atas ke kantong biji melalui tengah-tengah antara dua biji dan berakhir di pangkal si otong dan disitu ditekan seperti akupunktur.
Disini aku udah megap-megap, tidak dapat mengeluarkan suara, nafas saja susah. Kepalaku mau pecah rasanya kena rangsangan seperti ini. Si otong rasanya bergetar saking keras dan kakunya, seperti berubah jadi besi. Mungkin kalau disentil akan berbunyi tingg..
“Udah selesai Mas, ada yang masih kurang..?” katanya menarik kembaliku ke bumi dari suasana melayang-layang.
Nada dan ekspresi wajahnya biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, padahal aku sudah sedemikian heboh rasanya. Aku agak bengong sebentar karena proses mendarat belum sempurna.
“Eeh iya.. iya..” kataku tergagap karena kepala atas dan terutama yang bawah masih nyut-nyutan, “Mmm.., boleh minta tissue Mbak..?”
“Boleh.., nih..!” katanya manis, “Emangnya buat apa sih..?”
“Ngg.. anu.. kepala saya pusing banget, harus ‘dikeluarin’ dulu..” jawabku tidak kalah polosnya. Pembalasan.
“Dikeluarin? Oh.. Mas maksudnya mau ‘main’..?” tanyanya, lagi-lagi dengan nada datar.
“Nggak, saya biasa dikeluarin sendiri.”
“Memangnya bisa dikeluarin sendiri..? Caranya..?” disini dia mulai antusias.
Waduh, tidak mengerti ngocok/onani/masturbasi ini cewek.
“Ya bisalah, dikocok-kocok kayak gini, ntar juga keluar.” jawabku sambil mulai melingkarkan jari-jari tangan kiri menggenggam si otong, kemudian membuat gerakan mengocok lembut ke atas ke kepala dan ke bawah ke pangkalnya.
“Emangnya enak..?” perhatiannya semakin meninggi, begitu juga spaning-ku karena dialog ini.
“Uenak buanget.. kalo nggak enak mana mau saya ngocok kayak makan obat tiga kali sehari, tiap hari.” jawabku sejujurnya sambil mengatur nafas.
Terus obrolan kulanjutkan sambil terus mengocok perlahan-lahan menikmati tatapan matanya yang terfokus pada tanganku yang bergerak naik turun menyusuri batang si otong.
“Emangnya kamu nggak pernah? Cewek kan sama aja, bisa juga main sendiri.”
“Ih, nggak pernah tuh, caranya juga nggak tau. Pernah denger sih, tapi nggak jelas,” jawabnya tanpa melepaskan matanya dari si otong yang sedang kupijat dengan mesranya.
“Kalo soal caranya, macem-macem, biasanya pake tangan sendiri dielus-elus, terus jarinya dimasukin dikocok-kocok, ada juga yang pake alat dari plastik yang bentuknya kayak barang cowok, ini lebih nikmat. Atau yang paling gampang, enak dan murah pake timun, atau terong yang pas bener bentuknya.”
Sudah kayak pakar seksologi saja nih aku. Dia hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. Setelah itu dia diam, tapi berdiri semakin mendekat persis di sampingku dengan mata yang tidak berkedip.
Uuuh, luar biasa sensasinya. Bayangin, aku masturbasi dengan ditonton penuh perhatian oleh seorang cewek! Ini puncak atau level tertinggi kenikmatan bagi seorang exhibionist sepertiku. Kalau ketelanjangan kita dilihat orang itu sudah nikmat, apalagi masturbasi. Karena masturbasi adalah kegiatan paling rahasia dari seseorang. Dilihat lawan jenis dan penuh perhatian lagi. Sampai gemetar tanganku yang lagi mengocok si otong.
Tanpa saling bersuara, aku terus mengocok di bawah tatapan matanya. Tangan kananku mengusap-usap biji. Makin lama kocokan semakin kupercepat dan terus dipercepat. Nafasku semakin memburu. Matanya semakin membulat menatap gerakan tanganku, sementara kebalikannya aku menatap tanpa berkedip ke wajahnya menikmati ekspresinya yang antusias, heran, pengen tahu dan sebagainya campur aduk.
Akhirnya aku merasa puncakku hampir sampai, gunung berapi dalam genggamanku mau meletus memuntahkan kenikmatan. Aku memiringkan badan menyesuaikan posisi kepala si otong supaya muntah tepat di tissue yang kuletakkan di kasur.
“Udah mau keluar ya Mas..?” tanyanya, tapi aku sudah tidak dapat mengeluarkan suara.
Tanpa menunggu jawaban, eh.. dia malah berjongkok persis di samping tissue. Mungkin ingin melihat lebih dekat dan jelas saat-saat bersejarah baginya yang sebentar lagi akan terjadi. Melihat ini aku semakin parah rasanya. Tanpa tertahan lagi, dengan kocokan kecepatan supersonik dan pandangan sekitar yang mengabur karena mataku semakin terfokus hanya kepada wajah dan ekspresinya, si otong meledak sangat dahsyat memuntahkan kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sentakan ledakan yang terjadi membuat seluruh tulang-tulang serasa tercabut, jantung sudah tidak tahu masih ada apa sudah ikut meledak. Ledakkan pertama ini saja sudah memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah banyak. Setelah itu masih diikuti ledakan-ledakan selanjutnya yang membuat cairan kenikmatanku tidak tertampung di tissue dan meluber ke kasur. Badanku masih mengejut-ngejut dan tersentak-sentak. Sepertinya aku kehilangan kesadaran sebentar karena kenikmatan yang belum pernah terasa sesempurna ini. Rupanya efek melayangnya cukup panjang, walaupun si otong sudah selesai dan kenyang memuntahkan kandungannya.
Perlahan-lahan kesadaranku mulai kembali, mata kubuka. Pertama-tama yang kulihat si cewek itu. Kelihatannya dia sedang mengelap lengannya dengan tissue.
“Ih, si Mas keluarnya sampe keciprat ke tangan saya.”
Aku hanya dapat tersenyum, “Maapin deh, kan lagi nggak kontrol tadi.” (Untung tidak ketembak mulutnya).
“Lagian keluarnya bisa banyak gitu, apa memang selalu segitu kalo keluar Mas?”
“Ya nggaklah, tergantung situasi aja.” jawabku lemas sekali, mau menggerakkan tangan saja berat rasanya.
Selanjutnya dia dengan hati-hati mengangkat tissue basah kuyup dan luber cairan putih itu dari kasur dengan kantung plastik.
“Tuh kan si Mas, musti ganti kasur deh saya. Banyak banget sih keluarnya, orang yang begituan beneran aja nggak segitu banyaknya,”
Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum.
“Mau mandi atau dilap air anget aja Mas?” tanyanya.
“Dilap aja deh, udah nggak kuat berdiri nih..”
Sambil mengelap badan, dia mulai bicara lagi, “Ternyata bisa ya Mas dikeluarin sendiri..”
“Kan udah lihat sendiri buktinya. Eh kamu sendiri gimana, ada minat nyoba main sendiri, enak lho nggak tergantung orang lain.”
“Au ah..,” katanya sambil tertawa cekikikan, tidak jelas maksudnya.
Waktu sampai giliran si otong yang di lap, dia melingkarkan lap hangatnya membalut si otong sambil diremas-remas, “Hih, kamu ini muntahnya habis-habisan yah..!”
Karena dibungkus lap hangat dan diremas-remas, si otong mendadak bengkak dan memanjang lagi sampai menonjol keluar topi bajanya dari lipatan lap.
“Yah, bangun lagi sih..” katanya heran.
“Kamu juga sih ngajak ngobrol dia, ya dia nyautin..”
“Terus gimana nih..?”
“Apanya yang gimana?” aku balik bertanya.
“Iyaa, apa musti dikeluarin lagi?”
Mendengar ini semangatku bangkit lagi, lupa sama badan yang sudah segitu lemasnya tadi.
“Tergantung, kalo waktunya masih ada dan belum diusir” kujawab sambil berharap-harap cemas.
“Terserah deh, kalo mau dikeluarin lagi silakan. Tapi jangan di tissue lagi.. dimana ya..?” katanya sambil mencari-cari.
Tanpa membuang waktu, aku sudah mulai mengocok lagi, tapi sekarang posisinya duduk di pinggir tempat tidur. Lucu juga membayangkannya, aku telanjang bulat mengocok di pinggir tempat tidur, sementara ada seorang cewek berpakaian lengkap yang lagi sibuk cari tempat buat menampung cairan hasil kocokanku.
“Nah disini aja deh langsung..,” katanya sambil mengambil tempat sampah dari kolong meja, dan meletakkan di lantai tepat di bawah si otong yang sedang kukocok.
Selanjutnya dia berdiri memperhatikan kegiatanku. Lagi-lagi caranya melihat dan memperhatikan membuatku merinding sampai ke ujung bulu kemaluanku dan terangsang hebat.
“Eh, nanti malah berceceran di lantai..” katanya sambil mengangkat tempat sampah itu dan memegangnya persis di depan mulut si otong yang lagi megap-megap karena kukocok secepat kilat.
Pemandangan dia menampung ini efeknya sangat fantastis buatku. Badanku tergetar hebat. Mendadak gelombang kenikmatan itu datang bergulung-gulung, turun dari otakku terus ke bawah, dan akhirnya meledak di mulut si otong. Sekilas aku mendengar suara cipratan yang berkecipak ketika cairan yang diledakkan dan meluncur dengan kecepatan tinggi dari mulut si otong mengenai dasar tempat sampah plastik yang dipegang cewek itu. Setelah itu si otong masih mengejut-ngejut beberapa kali melepaskan tembakan susulan, walaupun tidak sebanyak ejakulasi pertama.
Habis badanku rasanya. Cewek itu hanya geleng-geleng kepala sambil meletakkan tempat sampah kembali ke kolong meja.
“Gile bener..,” hanya itu komentarnya.
Sambil menungguku pakai baju, cewek itu bertanya lagi, “Yang kedua ini keluarnya lebih cepet ya Mas..?”
“Yah soal itu sih susah ditentuinnya, nggak bisa dipasti-pastiin bener,” jawabku sekenanya.
Padahal sebenarnya yang pertama itu harusnya lebih cepat, soalnya rangsangannya kan lebih besar. Tapi karena ingin pameran dan memberikan pertunjukan yang terbaik untuk penonton tunggal ini, ya kuatur-atur deh.
“Terus kalo main betulan sama cewek emangnya si Mas nggak suka atau gimana sih..?”
Waduh, pertanyaannya semakin berat, untung kamar sebelah tidak ada tamunya.
“Yah yang jelas sampai sekarang saya lebih suka ngocok sendiri. Buktinya saya nggak ngapa-ngapain kamu kan..? Biar kamu telanjang bulat, saya nggak akan bahaya buat kamu, paling-paling saya ngocok lagi, he.. he.. he..”
“Nggak pegel ngocok tiap hari..?”
Astaga, pertanyaannya membuatku jadi bingung juga.
“Lha enak kok.., nggak ngerepotin lagi..”
Setelah membereskan masalah administratif, aku keluar dan pergi. Sampai saat ini aku masih belum memutuskan, apakah akan kembali lagi ke tempat itu atau tidak. Soalnya dari pengalaman yang sudah-sudah, pertemuan yang kedua kalinya sudah tidak ada sensasinya lagi. Sensasi itu selalu timbul dari orang yang belum pernah dijumpai/baru. Kalau orangnya yang itu-itu juga, dia sudah tahu kebiasaan kita, mau ngapain selanjutnya dan lain-lain. Tidak seru.
TAMAT