Archive for January, 2009
Pertama kali aku mengenal dunia seks adalah saat chating, di situ aku tak sengaja kesasar ke link pornsite. Semula aku iseng2 jd member. Suatu hari ada seorang pria paruh baya (bule) namanya Wes, dia mengirimiku email lalu sejak itu kami sering berkiriman cerita2 hot yang bisa merangsang. Aku yang masih awam, banyak diajar olehnya. Mulai dari titik-titik rangsangan, sampai masturbasi. Selain itu, kami berkiriman foto-foto bugil kami. Jujur saja pertama kali kulihat kontolnya, aku jadi kaget. Ukurannya jumbo dan berbulu. Aku jadi kepikiran, gimana ya caranya kontol segede itu bisa masuk ke lobang vagina, padahal waktu dimasukin jari aja udah sempit.
Perlahan-lahan, aku jadi ketagihan. Setiap kali online, pasti menyempatkan diri ke situs-situs porno. Aku pun mulai kenalan dengan cowok-cowok yg ‘kesepian’. Aku sering ber hot-sms denagn mereka. Salah satu yang special adalah Leo.
Oh, ya panggil saja aku Li. Aku hanya seorang siswi SMA. Sampai sekarang aku masih perawan. Aku mungkin agak-agak nakal tapi aku tak mau kebablasan karena bagiku keperawanan itu sangat diperlukan.
Aku memuaskan nafsuku dengan masturbasi dan oral seks saja. Belakangan ini, aku sudah jarang. Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku yang pertama bersama Leo.
Kami sudah cukup akrab karena sering sms-an. Saat itu, ia mengajakku ketemuan. Dia pernah mengajakku ML tapi aku bilang blm siap. Dia pun tak memaksa. Kedua kalinya kami bertemu, ia mengajakku ke rumahnya. Di sana sepi. Saat itu dia sedang tidak masuk kerja, dan aku baru pulang sekolah. Ia menjemputku dan kami ke rumah kontrakannya.
“Li, kamu mau ga temenin Mas nonton BF? Kamu blm pernah kan?â€
“Belum sih, Mas. Aku juga penasaran, tapi..â€
“Kenapa?â€
“Cuma nonton aja kan? Ga lebih?â€
Mendengar pertanyaanku, Leo jadi tertawa. Ia pun menjawab:,†Kamu masih belum siap ya?â€
Aku mengangguk pelan.
Leo beranjak ke laci meja, dan mengambil VCD lalu memutarnya. Jujur saja aku agak tegang. Kami berdua duduk bersebelahan. Melihat adegan-adegan di TV membuatku jd horny. Aku tak bisa mengedipkan mata. Leo pun memanfaatkan kesempatan itu. Perlahan-lahan dipegangnya tangan dan tangannya mulai menjalar ke dalam rok abu-abuku. Aku tak melawan. Ia pun mulai berani mencium tengkukku. Jililatinya leher dan telingaku. Aku merasa geli ketika kumis halusnya menyentuh kulitku.
“Mas..â€
“Apa sayang?â€
“Jangan..â€
“Mas nggak akan nyakitin kamu kok.â€
“Tapi Mas..â€
Ia tak peduli, malah ia semakin menjadi-jadi. Tangannya meraba-raba klitorisku. Walau masih pake CD, tapi aku tetap terangsang. Memekku makin basah.
“Mas..†rengekku.
Dengan sigap, dikulumnya bibirku, supaya aku tak bisa bicara. Dimainkannya lidahnya. Ini pengalaman pertamaku, jadi masih kaku, tapi lama kelamaan aku mulai bisa memainkan lidahku.
Setelah itu, ia pun menindihku di sofa coklatnya. Kancing seragamku dibukanya satu per satu. Sementara ia masih terus menciumku. Bagai terhipnotis, aku tak sanggup melawan. Kubiarkan saja saat ia membuka kaos dalamku dan melucuti BHku. Dijilatnya puting susuku, dikulumnya, dipelintir dan diremas-remasnya susuku. Aku jadi semakin horny. Melihat kesempatan itu, ia segera melucuti semua pakaiannya. Sekarang di depanku terpampang kontolnya yang tidak sebesar Wes, tapi cukup menantang. Aku pun diangkatnya dan dibawa ke kamar tidurnya. Di sana rok dan CD ku dilepasnya. Sekarang kami berdua sudah bugil. Ditindihnya tubuhku dijilatinya susuku, sementara tangan kirinya memainkan klitorisku.
“Ouch..â€
“Enak kan?†tanyanya.
“Mas..hmm..oh…†gumamku tak beraturan.
Setelah puas menjilati susuku. Ia mengambil posisi 69. Dijilatinya memekku yang sudah banjir. Aku mengerang keenakan.
“Isep donk punya Mas.â€
“Geli ah.â€
“ayo donk.†Pintanya.
Aku semula agak ragu tapi karena penasaran ku jilati ujung kontolnya, aku hilangkan rasa jijikku, dan berusaha melumat kontolnya.
Jilatan Leo sangat nikmat, membuat aku tak dapat menahan orgasmeku lagi.
“Mas.. cepetan ohh..oh….â€
Akhirnya aku orgasme.
Setelah puas dengan posisi 69, ia minta izinku untuk memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Aku segera menolak. Ia sempat memaksa tapi akhirnya mengalah juga.
Sebagai gantinya, aku pun disuruh nungging olehnya. Ia bilang mau menjilati anusku. Setelah nungging, ia mulai menjilati anusku. Sementara tangannya masih meremas susuku.
Tiba-tiba, “Joss!†kontolnya dimasukkan ke anusku. Kontan aku bertriak kesakitan. Air mataku hampir meleleh namun dengan sigap dimainkanna klitorisku membaut aku terangsang lagi.
Digoyang-goyangkannya kontolnya di dalam anusku.
“Mas.. sakit..â€
“Sabar saying, dikit lagi ya..â€
Beberapa menit kemudian dirinya pun memuncratkan spermanya di dalam anusku. Setelah itu kontolnya agak mengendor. Perlahan-lahan dilkeluarkannya kontol tersebut dari anusku.
“Makasih ya.†Bissiknya seraya menciumi tyelingaku.
Setelah beristirahat sejenak, ia mengajakku mandi bersama, di dalam kamar mandi kami saling meng—oral. Aku sabuni kontolnya, aku cuci bersih , lalu ku kulum kontolnya lebih dalam. Sementara itu ia menyabuni anusku.
Itulah pengalamanku oral seks, tanpa perlu kehilangan keperawanan bukan?
chapter 1…perkenalan gue dengan Vga 19 tahun…..
pertama kenal karena temen deket gue pengen tau cewenya itu matre apa ga….
ya mau ga mau,gue kenalan ma ega anak bogor lewat telp….
pertama ya hanya mau bantu temen…akan tetapi yang ada ke cantol deh ama gue…
akan tetapi gue ga nyangka aje…..ternyata dia dah punya 1 anak bro…..yang ditinggal pergi suami…
n punya adik penyanyi dangdut yang naek panggung tuk pesta kawinan or acr lainnya…..
yang bisa gue tangkep dari setiap gue telp yamg pasti dah ketahuan,kalo Vga hiper bgt….
soalnya hanya dlm 1minggu aja terbukti gue berdua sering,ngobrol pengalaman sx….
ampe sering phone sex…..
chapter 2….Vga minta ketemuan….
gue tinggal di jakarta,sedang dia di bogor ya ga jauh deh….paling 1 jam naek mobil…..
hanya dalam 1 minggu aja dia minta gue ke bogor tuk ketemuan……
ya karena dia penasaran ama gue…
gue jg penasaran ya udah,berangkat bro…..to rain town…{bogor}
kenalan hari senin,trus berangkat ke bogor hari sabtu….
ya di atur deh pertemuan dua anak manusia yang haus…….
chapter 3….sesuai planning,nanjak ke puncak,tuk penyelesaian brahi….
specific miss Vga 165cm,60kg,36b,putih montok….ya muka pas deh…..
jujur bukan selera gue…..akan tetapi dah terlanjur nyampe bogor ya sesuai planning awal
gue ajak ke dolan-dolan ke Puncak……
“naik-naik ke puncak gunung.,tinggi-tinggi sekali….â€
langsung gue cari villa/hotel daerah puncak…..langsung gue masukkin mobil ke satu hotel di kawasan puncak…
chapter 4…..olahraga siang….bo….
kemudian gue duaan masuk kamar yang udah gue sewa hari itu……..
awalnya Vga malu-malu karena baru sama sama ketemuan,tapi ya karena gue yang sok akrab duluan
ya gue duluan yang memulai….
gue mulai dengan kissing mesra & dia ga diam kami saling melumat bibir.ku masukan tangan ku ke dalam kemejanya lalu Kuremas-remas payudaranya. “ssstttt… terus……. ssst..†desahnya.
beberapa menit kujamah payudaranya dan ia mulai buka kemeja serta black bra nya,aku mulai meraba n menjelajah ke seluruh tubuh sampe menyelinapkan tanganku masuk ke dalam celana jeans n cd yg msh blm dilepas…ku temukan belahan “Vâ€.lalu ku gesek2kan jari ku,sssstttt……aaaaaahhhh……perlahan dia membuka sendiri celn,n cdnya……akhirnya kami sama2 tak bebusana(naked bro) Aku menelusuri tubuh, kulitnya yg putih mulus dan kencang montoknya aku belai mulai payuara nya, terus ke perut nya yang agak montok, pusar nya. Aku cium pusarnya dan terus ke bawah menuju selangkangan Vga. harum aku cium tubuh mbak lulu. Sementara tanganNya mulai membelai penis ku yang mulai tegangi, akh nikmatnya…. jari tangan Vga yang lentik dan lembut menggenggam penisku yang berdenyut.
tangan ku mulai meremas “v†yang makin basah. dengan bulu vagina yang tidak terlalu lebat, aku bisa melihat belahan “vâ€yang indah. Aku remas lembut dan aku belai vagina. “oohhh……… akh…..†desahnya.ku kecup lembut “vâ€, dan ia langsung mendesah dan mengerang bibir ku bersentuhan dengan permukaan “vâ€. “akh…say…… nikmat… akh…..†eerangnya lagi,miss “vâ€nya mulai basah.â€Oh…. sssttt.. enak…. terus….. ah.. ah…†erangnya.Kujilati terus sampai kurasakan vaginanya menyemburkan cairan hangat dan berdenyut. “ohhhhhh……..†terdengar erangannya tanda dia orgasme.Aku meremas-remas payudaranya agar nafsunya bangkit lagi.
“ayo..donk say dimasukin pintanya…kubuka lebar selangkangannya dan kutusukkan penisku keliang “vâ€agak mudah karena dah basah…blessss amblas penisku terbenam dalam vaginanya. “akh…†erangkum panjang. sementara tubuhnya sedikit tersentak saat penis ku masuk ke dalam liang surganya itu. “eemmmpphh…….aaakkhh…..†erangnya sambil menggigit bibirnya menikmati tusukan penisku ke dalam vagina. Rasanya penisku seperti dijepit kuat sekali.Kugoyang maju mundur,Kugoyang makin cepat.â€Ohhh… ohhh…. nggg….. ayo… lagi….. terus…. owww….†jeritnya.
Dengan satu tangan menopang tubuh ku, sambil menggoyang pantatku naik turun, tanganku meremas payudara yang lembut kenyal namun kencang. tak hentinya vga mendesah dan mengerang saat sodokan demi sodokan penisku
memenbus vagina. bunyi kocokan penisku di “vâ€menambah suara yang ada di ruangan itu. Vga memejam kan matanya, tangannya ia naikan ke atas dan memegangin bantal dan meremasnya. tanda dia sangan menikmati pemainan ini dengan gue. payudaranya bergerak dan bergoyang seirama dengan sodokan penisku.
Aku tak tahan hanya meremas payudara nya, sambil terus menggoyang pantat ku aku cium dan lumat lagi payudara nya dan aku gigit kceil puting nya “aw… akh… say…. oooohh…….†erangnya agak keras. aku cium bibirnya yng merah. hingga…. “Aku…. mau… keluar…. say…. “jeritku. “tahan…. sama-sama….. didalam aja….†katanya lagi. crottt……… crot….. crooottt….. kusemburkan spermaku didalam rahimnya. Kurasakan penisku berdenyut-denyut. ‘akkkhhhh…….. “erangku panjang.Kurasakan kenikmatannya sampai ubun-ubun.Aku terus menggoyang penisku maju mundur dan kakinya mengepit kuat pinggangku. Kurasakan penisku disembur cairan hangat dan kulihat Vga mengejang menahan kenikmatan orgasmenya. “aaaahhhhhh….. “desahnya puas.
Penisku kubiarkan menancap, menikmati otot vaginanya yang berkontraksi meremas-remas penisku.Setelah selesai, aku berbaring disampingnya sambil meremas-remas payudaranya. “makasih say, betul-betul nikmatâ€.kataku. “kamu juga nikmat†katanya sambil tersenyum. Aku pun langsung melumat lagi bibirnya, kami pun kembali berciuman dengan lembut kali ini layaknya seperti sepasang kekasih.
kami melakukan siang itu hingga beberapa kali ku ulang…..dngan berbagai posisi…..sampe berkucuran keringat membasahi tubuh kami…..dan membasahi ranjang tempat kami tidur……kemudian kami lanjutkan di kamar mandi karna gue dah ingin balik ke jakarta…..
dan akhirnya selesai lah olahraga siang gue ampe sore baru pulang dari puncak,kemudian gue anterin Vga kembali ke bogor……
setelah beberapa hari kemudian gue putusin ga berhubungan /gue ga contact lagi……..
belakangan gue denger kabar dia dah kembali ke pelukan suaminya…..
ya syukur deh…..paling ga gue terbebas dari nafsu sxnya yang hiper…….
Kalau ada orang yang benci pada dirinya sendiri, barangkali aku adalah orangnya. Aku sungguh benci pada tubuhku, wajahku, rambutku dan semuanya. Ya…, perasaan itu semua timbul karena segala kelebihan yang kumiliki justru mengancam diriku sendiri. Berkali-kali jiwaku terancam karena mereka ingin memperkosaku.
Yang Jebih mengherankan adalah mereka bukanlah orang lain, melainkan orang-orang yang aku kenal. Orang yang sangat dekat dengan diriku. Sungguh memalukan.
Sampai sekarang aku masih terus memikirkan mengapa orang-orang di sekelilingku ingin memperkosaku. Ya ayah kandung, ayah tiriku, dan paman. Entah mengapa mereka begitu bernafsu melihatku. Padahal mestinya mereka jadi pelindungku. Aku hampir tak percaya akan semua ini. Begitu berat beban yang harus kupikul sehingga aku hampir bunuh diri. Kupikir hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dan persoalan ini.
Beruntunglah saat aku mengambil pisau dapur ketahuan paman. Saat itu juga aku dicegah untuk tidak melanjutkan niatku. Aku terksiap begitu dibentak paman, “Apa kamu sudah gila ya?†Mendengar itu aku cuma bisa menangis, tak kuasa berbuat apa-apa. Rasanya segala yang kuperbuat serba salah.
Waktu itu aku memang ikut paman, setelah ayah dan ibu bercerai. Aku berpikir dengan ikut paman akan lebih aman. Tidak berpihak kepada ayah maupun ibu. Biarlah paman Sebagai pengganti orang tuaku.
Di rumah itu aku diberi kamar sendiri. Kebetulan paman dan bibi tidak punya anak. Hitungannya aku ini sebagai anak angkatnya. Mugkin karena itu aku sangat diperhatikannya, meski aku diambilnya ketika usiaku sudah menginjak remaja, 16 tahun.
Hari-hari pertamaku tinggal bersamanya dengan penuh keceriaan. Akupun mulai lupa dengan persoalan ayah dan ibu. Kupikir tak ada gunanya aku ikut memikirkan persoalan mereka, toh aku sudah dewasa.
Dalam sehari-hari aku memang tergolong gadis yang lincah. Dalam berbusana aku paling suka dengan rok mini. Mungkin karena aku senang menampakkan kelebihanku pada paha dan kaki yang putih mulus. Ditambah tubuhku yang ramping dan padat berisi. Dengan tinggi badan 167 cm dan berat 48 kg, ditunjang dengan kesempurnaan payudaraku yang berukuran 36C memang membuat banyak pria yang tertarik bahkan tergila-gila pada diriku.
Sungguh aku tak menyangka jika kesempurnaan penampilanku yang seperti itu malah menjadi bumerang. Memang banyak pria kemudian tergoda melirikku. Tapi yang tidak kusangka sama sekali kalau bahkan pamankupun ikut tergoda.
Malam itu aku tidur tanpa sempat ganti baju. Tidak biasanya aku memang ganti baju. Hanya kalau ingin saja, aku ganti baju tidur. Saat tidur itulah rupanya aku lupa mengunci pintu kamar. Aku baru terbangun ketika kurasa ada tangan nakal mengusap-usap pahaku. Betapa aku terkejut, ternyata yang ada di sisi tempat tidurku adalah pamanku sendiri. Aku terpekik, tapi seketika itu juga tangan paman membekap mulutku.
Dengan penuh harap aku memohon agar paman tak melanjutkan niatnya. Pamanpun memohon maaf dan menyatakan kehilafannya. Kuakui istri paman memang tidak begitu cantik. Ia juga tak begitu pintar merawat diri, sehingga tubuhnya yang gemuk dibiarkan begitu saja. Dalam berpakaian sekenanya, paling banter pakai daster lusuh atau kaos oblong. Kupikir-pikir memang, kok mau-maunya paman sama bibi. Apa tidak ada wanita lain, kata batinku.
Aku tak menyalahkan kalau kemudian paman melirik wanita lain, yang tidak kumengerti karena wanita yang dipilih adalah aku, kemenakannya sendiri. Untuk beberapa hari aku masih terus berpikir, jangan-jangan paman akan mengulangi perbuatannya lagi. Itu makanya setiap tidur aku tak bisa nyenyak. Kadang-kadang tengah malam aku terbangun, hanya khawatir paman tiba-tiba masuk kamarku.
Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar dari rumah paman. Daripada tiap hari hatiku tak tenang. Sebenarnya bibi sempat bertanya-tanya tentang keinginanku itu. Apalagi aku masih sekolah, saat itu kelas 2 di sebuah SMU Negeri di Surabaya. Tapi dengan alasan aku kangen pada ayah, dia pun melepaskanku. Pamanku sendiri memaklumi, bahkan masih sempat minta maaf berkali-kali padaku. Rupanya dia sangat menyesali perbuatannya.
Selanjutnya aku memang pergi ke rumah ayah di Bali. Aku sudah tak ingat dengan sekolahku. Pikirku yang penting bagaimana bisa terbebas dari rasa takut. Aku berharap dengan ikut ayah hatiku bisa tentram. Sejak pisah dengan Ibu, ayah memang tinggal di sana karena alasan dagang. Ternyata ayahku sudah menikah lagi dengan seorang gadis asal Kalimantan. Ayahku sendiri berasal dari Sunda.
Aku lebih memilih tinggal bersama ayah karena ibuku telah menikah lagi Bahkan ibu telah menikah untuk kedua kalinya. Yang terakhir dia menikah dengan seorang pegawai negeri.
Ketika melihat aku datang, ayah sangat senang. Kebetulan dari pernikahan dengan gadis Kalimantan itu, ayah belum juga dikaruniai anak. Jadilah aku dijadikan anak yang manja. Bagi ibu tiriku juga tak masalah. Dia menganggapku sebagai adiknya, kebetulan dia masih sangat muda, usianya sekitar 30 tahun.
Di rumah ini pun aku mendapatkan sebuah kamar. Hari-hariku boleh dikata lebih banyak bersama ibu tiri. Itu karena ayah terlalu sibuk dengan usahanya di luar. Aku hanya bertemu ayah ketika terlambat tidur, atau pagi sekali sebelum dia berangkat kerja.
Sekali waktu aku sudah tertidur pulas ketika ayah datang. Saat itulah ayah masuk ke kamarku yang hanya ditutup kain gorden. Lagi-lagi kejadian serupa yang dilakukan paman terjadi. Aku terbangun ketika ayah sedang asyik mengusap-usap pahaku. Saat itu aku memang sedang mengenakan rok mini. Mungkin ayah sangat terangsang saat menatap rokku yang tersingkap. Aku tak menyangka sama sekali jika ayah bisa berbuat seperti itu. Tidakkah ia ingat bahwa aku ini anaknya, darah dagingnya.
Mengapa dia mesti berbuat seperti itu kepadaku. Toh dia sudah punya istri. Apalagi istrinya juga tidak jelek-jelek amat dan masih muda. Tapi itulah manusia, ketika sudah dikuasai nafsu, akal sehatnya pun hilang. Andai saja aku tak terbangun, entah apa yang terjadi. Mungkin aku sudah ditindihnya. Rupanya Tuhan masib menyayangi diriku. Sejak kejadian itu pikiranku kembali kalut. Kadang-kadang aku berpikir betulkah aku ini anak kandungnya. Jangan-jangan aku cuma anak angkatnya, Sebab kalau memang aku anak kandungnya, mengapa ayah, paman tak melihat aku sebagai bagian dari dirinya.
Seperti ketika paman hendak memperkosaku, akupun berkali-kali menyadarkan ayahku. Aku meminta agar ayah sadar. “Sadarlab pak! Ingat aku ini anakmu masak tega menodai..â€, kataku setengah berbisik karena takut terdengar ibu tiriku. Untunglah ayah tak memaksa, dan dia pun minta maaf atas apa yang baru ia lakukan.
Esok harinya kami berusaha bersikap seperti biasa, seakan tak terjadi apa-apa. Ayah pun segera berangkat, sepertinya dia sangat malu atas kejadian semalam. Tinggalah aku merenung. Aku lebih banyak berdiam di kamar dengan pura-pura membaca majalah. Padahal hatiku sangat gelisah.
Tidak lama setelah kejadian itu, akhirnya kuputuskan kembali ke Surabaya. Kupikir biarlah aku hidup bersama ibu dan ketiga adik-adikku Selama ini, tiga adik-adikku itu, 2 laki-laki dan seorang perempuan, memang ikut ibu. Barangkali dengan hidup di rumah yang banyak orang aku terhindar dan tangan-tangan jahil. Aku yakin bahwa di rumah ibu lebih aman, apalagi ayah tiriku usianya sudah 50 tahun. Jadi tak mungkin dia macam-macam. Aku juga sekamar dengan adik-adikku.
Sejak saat itu aku juga mulai menjaga penampilanku. Aku tak lagi senang memakai rok mini meski itu menjadi busana favoritku. Tapi barangkali sudah suratan nasibku harus jadi korban kebiadaban. Aku tak habis pikir ada apa sebenarnya ditubuhku sehingga bisa memancing hasrat para lelaki untuk memperkosaku.
Hari ini, siang hari, ketika adik-adikku pada sekolah dan ibu ke pasar. Tiba-tiba saja ayah tiriku yang biasa kupanggil abah sudah mendekapku dari belakang. Belum sempat aku bertanya, dia sudah membalikkan tubuhku dan mendorongku ke tempat tidur. Dalam posisi berhadap-hadapan, akhirnya aku berusaha lepas sambil mengingatkannya. Aku memohon pada abah agar dia tak melakukannya. Pada saat-saat genting itulah ibu datang dan menyelamatkan diriku.
Aku langsung keluar dan mengadu pada ibu. Di pangkuannya aku menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kejadian itu, ibu sangat marah. Tapi rupanya abah sudah pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu ibu mewanti-wanti. Ia bilang kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan mengatakannya.
Entah sudah berapa hari abah tidak pulang, tapi yang kutahu kemudian Ibu mencaci maki abah ketika kembali ke rumah. Abah rupanya sadar dan minta maaf berkali-kali kepada Ibu. Ia juga memanggilku kemudian minta maaf atas perbuatannya. Aku dan Ibu akhirnya berangkulan dan bertangis-tangisan. Kulihat abah hanya menunduk lesu di kursi. Barangkali juga menangis.
Sejak kejadian itu aku betul-betul dibuat bingung. Mau pergi, tapi mau kemana lagi. Sepertinya aku lolos dan mulut singa, tapi masuk mulut buaya. Akibat kejadian demi kejadian, aku jadi takut dekat laki-laki. Setiap ada laki-laki yang ingin mendekat, aku jadi curiga. Aku betul-betul trauma, tak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Berhari-hari aku merenung, tapi ibu terus membesarkan hatiku agar tabah menghadapi cobaan ini. Yang penting belum terjadi kan? Percayalah untuk kedua kalinya takkan terulang lagi. Imi akan menjagamu Nakâ€, kata ibuku memberi keyakinan. Untuk tidak menambah kalut pikiran ibu, akupun mengurungkan niatku untuk menceritakan kejadian sebelumnya. Sampai sekarang dia tak tahu kalau sebenarnya percobaan perkosaan ini sudah untuk ketiga kalinya menimpa anak gadisnya. Pikirku biarlah masalah ini kupendam sendiri, yang penting kegadisanku masih utuh. Aku hanya berharap jangan sampai terulang lagi.
Hari-hari selanjutnya kucoba menenangkan diri sambil terus memperbaiki sikapku. Aku juga mulai mengisi hari-hariku dengan kesibukan. Daripada tidak Sekolah, aku ikut kursus komputer dan Bahasa Inggris. Bukan itu saja, diwaktu-waktu senggang aku masih sempatkan ikut fitnes, meski hanya sekali atau dua kali seminggu. Sungguh, dengan ikut fitnes itu tubuhku makin tampak padat berisi dan kata teman-teman aku tambah cantik. Tapi walaupun begitu aku jarang sekali memakai rok, apalagi rok mini. Aku lebih suka memaka celana panjang dengan baju yang tertutup.
Abahku juga rupanya sudah menyadari kesalahannya dan tak pernah lagi melirik-lirik diriku. Mungkin takut sama ibu. Mereka berdua tampak lebih sibuk mengurusi tokonya yang selalu ramai dengan pengunjung.
Disaat-saat aku mulai tenang, timbul masalah-masalah baru dalam hidupku. Dua orang paman tiriku, saudara abah tiriku sama-sama mencintaiku. Pamanku itu kakak beradik, tapi hatiku berkata lebih senang adiknya. Bukan saja usianya yang lebih pas dengan usisiaku, tapi juga wajah adiknya lebih ganteng.
Rupanya mereka berdua, sebut saja Paman A dan Paman B saling bersaing ketat untuk merebut hatiku, meski di antara mereka tak saling tahu. Entah mengapa aku begitu sulit menolak ajakan mereka. Makanya ketika A membelikan cincin atau keperluan lainnya, akupun menerimanya saja. Padahal Jujur kukatakan aku tak begitu suka dengannya. Kepada B aku suka, tapi sayang terlalu pecemburu. Aku khawatir terjadi apa-apa di antara mereka.
Pada saat bersamaan aku berkenalan dengan Kus, seorang rnahasiswa sebuah PTS di Surabaya. Pemuda ini cukup terpelajar, akupun senang. Herannya, yang mengenalkan Kus kepadaku adalah paman B. Mereka adalah teman akrab. Aku betul-betul dibuat bingung oleh ketiga laki-laki ini. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Kus sendiri mengaku telah punya tunangan. Tapi katanya dia lebih mencintai aku.
Dalam usia 19 tanun sekarang sebenarnya aku juga sudah kepingin kimpoi. Tapi siapa di antara ketiga laki-laki itu yang layak kupilih? Dengan A atau B tidak mungkin, sebab bagaimanapun dia adalah pamanku, meski hanya paman tiri. Dengan Kus aku masih ragu, walaupun seandainya disuruh memilih aku pilih dia.
Dalam kebingunan, rasanya aku ingin pergi jauh untuk menenangkan diri. Aku ingin kerja, meski itu di luar negeri sekalipun. Tentu pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang kumiliki. Tapi dimana?
Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu
perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng.
Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu
berolahraga seminggu tiga kali. Teman-Âtemanku bilang, kalau
aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel
padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara
serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami
nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak
sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya.
Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa
batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling
cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu
kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya
begitu, kalau “voltaseâ€-ku sudah amat tinggi, aku dapat
“muntah†juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan
sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan
sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut.
Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat
itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.
Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang
penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis
mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur.
aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau
mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya
sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu
disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran
3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di
antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.
lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua
manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang
pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA,
anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut
desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama
adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah
mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan
sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut
penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar,
pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan
menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang
ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam
menyapaku.
lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18
tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan
kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya
ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya
besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya
membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin
payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya
karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan
betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus.
Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis
yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak
perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang
sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.
Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di
teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang
adiknya. Ika mengenakan baju atas “you can see†dan rok span
yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang
mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.
“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah.. sedang nggak ada tuh.
Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,†sapa
Ika dengan centilnya.
“He.. masa?†balasku.
“Iya.. Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,†kata Ika dengan
senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar
menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak
nih, he-he-he..
“Ah, neng Ika macam-macam saja..,†tanggapanku sok menjaga
wibawa. “Kak Dai belum datang?â€
Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai.
Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil
si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang
masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai
malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia
habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia
masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?
“Wah.. dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi
kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat
menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian.. Tapi yang keren
lho,†kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl
Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan
sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka
nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.
“Neng Ika ini.. Nanti Kak Dai-nya ngamuk dong.â€
“Kak Dai kan tidak akan tahu..â€
Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini
memang enak ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan
bagian-bagian tubuhnya.
Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di
atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina.
Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi
memo tadi. “Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama
Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak
pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil
saja. Soen sayang, Dinaâ€
Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat
kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai
membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam
sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam
pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok..
Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada
jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku.
Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.
“Mbak Di.. Mbak Dina..,†terdengar suara Ika memanggil-manggil
dan luar. Aku membuka pintu.
“Mbak Dina sudah pulang?†tanya Ika.
“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya
karena banyak tugas. Ada apa?â€
“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin
pe-er.â€
“Ng.. bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.â€
“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,†kata Ika dengan genit.
Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda
menggemaskan.
Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap
tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan
montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku
untuk meremasÂ-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si
“boy-ku†ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak
digenjot.
Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun
kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan
kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas
sarjana itu.
Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali
diketok.
“Mas Bob.. Mas Bob..,†terdengar Ika memanggil lirih.
Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu
berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan “you
can see†yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang
hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya.
Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat.
Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya
menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak
memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya.
Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali,
berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai
parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.
“Ini kalkulatornya, Mas Bob,†kata Ika manja, membuyarkan
keterpanaanku.
“Sudah selesai. Neng Ika?†tanyaku basa-basi.
“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?â€
“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.â€
Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku
matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos
pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan
sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak
buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk
tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar
kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal
potongan kayu kecil.
“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak
tahu cara penyelesaiannya.†Ika mencari-cari halaman buku yang
akan ditanyakannya.
Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan
melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam
posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan
sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku
terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.
Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal
tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan
memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil
menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada
Ika. Uhhh.. ranum dan segarnya.
“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?†tanyaku sambil
menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia
bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.
“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian
Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator
tadi,†jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.
Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika.
Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos
sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti
penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni
hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi
mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru
ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya
sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju,
dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh
payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan
tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya
kalau tidak menyodorkan din?
Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.
“Mas Bob.. ini benar nggak?†tanya Ika.
Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara
konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku
mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika
lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang
kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya.. gumpalan
daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan
kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih
menekanku terasa lebih kenyal.
Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.
“Ih.. Mas Bob nakal deh tangannya,†katanya sambil merengut
manja. Dia pura-pura menjauh.
“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya
menyodok-nyodok lenganku,†jawabku.
lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di
hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan,
namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku
merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya
aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam
sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai
baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja
tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk
menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi
penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau
memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!
Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya
dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan
soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit
punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan
sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat
itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu
rambut yang halus.
Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke
punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang
menempel punggungnya.
“Ih.. Mas Bob jangan begitu dong..,†kata Ika manja.
“Sudah.. udah-udah.. Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng
Ika,†jawabku.
lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual
itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila
dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan
pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke
punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi.
Tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya
kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas.
Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-Âkuluman
bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat
bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA
sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.
Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang
jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil
kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku
berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra
itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan
batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan
kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu
terasa mengeras.
“Mas Bob, Mas Bob buka baju saja Mas Bob..,†rintih Ika. Tanpa
menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat
pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tali baju
atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya.
Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup
sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan
indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya
kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di
ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink
kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di
sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung
dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.
Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan
segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku.
Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika
tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk
pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar
dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga
pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam
minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya,
celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari
jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa
helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.
lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke
arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari
balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang
sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil
mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya.
Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya.
Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan
lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku.
Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan
saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.
Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan
keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan
hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi
segenap pori-pori kulit lehernya.
“Ahhh.. Mas Bob.. Ika sudah menginginkannya dan kemarin..
Gelutilah tubuh Ika.. puasin Ika ya Mas Bob..,†bisik Ika
terpatah-patah.
Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak
ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat.
namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan
pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di
sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup
kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu.
Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu
secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman
yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara
kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara
itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi
sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.
“Mas Bob.. ngilu.. ngilu..,†rintih Ika.
Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku.
Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya,
sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung
lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah
dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara
kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan
memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu
makanan sambil mulutnya mendesah-desah.
“Aduh mas Booob.. ssshh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. ssshhh..
geli.. geli..,†cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar
dan mulutnya yang merangsang.
Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini
mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku
meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara
kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan
memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi
dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku
meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan
sekuat-kuatnya.
“Mas Booob.. kamu nakal… ssshhh.. ssshhh.. ngilu mas Booob..
geli..†Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah
manja.
Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah
ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu.
Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi
mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar
dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana
yang melindungi pantatnya itu. PerlahanÂ-lahan celana dalamnya
kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk
memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali
sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.
Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa
merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali.
Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua.
Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya,
tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus.
Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah
jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya.
Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak
dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif
meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika
sangat menikmati permainan ini.
Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan
telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol
keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku
kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika
perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan
terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting
payudaranya.
“Au Mas Bob.. shhhhh.. betul.. betul di situ mas Bob.. di
situ.. enak mas.. shhhh..,†Ika mendesah-desah sambil matanya
merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke
atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya
pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang
semakin meninggi.
Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan
jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.
Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh
memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah.
Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga
mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat
bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas
kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.
“Mas Booob.. enak sekali mas Bob..,†Ika mengerang dengan
kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta
tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina
itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke
lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari
kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa
agar kena “G-spotâ€-nya. Dan berhasil!
“Auwww.. mas Bob..!†jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke
atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam
memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut
hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan
bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf
penciumanku.
Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika
dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi
gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika.
Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku
untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku
gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin
keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami
sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu
menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.
“Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob..,†hanya kata-kata itu yang
dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin
menjadi-jadi.
Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin
bertambah ganas. Ika sambil mengerangÂ-erang dan
menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih.
Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas
payudaranya sendiri.
“Mas Bob.. Ika sudah tidak tahan lagi.. Masukin konthol saja
mas Bob.. Ohhh.. sekarang juga mas Bob..! Sshhh. . . ,â€
erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap
tubuhnya.
Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika
terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku
masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan
memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya
semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam
memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku
menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan.
Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak
kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu
sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk..
Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang
terputus-putus:
“Ah-ah-ah-ah-ah..â€
Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di
memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek,
sementara keningnya berkerut-kerut.
Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar
dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku
mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu
bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang
membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan
licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.
Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat
tinggi-tinggi. Matanya membeliak-Âbeliak. Dan bibirnya yang
sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob..!†Dua
jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh
dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya
jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku
dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya
dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut
sampai mencapai pergelangan tanganku.
Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet.
Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami
orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya
pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai
jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari
tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di
telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.
Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh
telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar
aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku
pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika,
sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet
oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya.
Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika,
sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan
putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan
bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena
menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.
Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher
Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan
dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang
berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan
keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala
keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup
kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu.
Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri.
Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan
kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini
aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting
di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar
ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna
coklat.
“Ah.. ah.. mas Bob.. geli.. geli ..,†mulut indah Ika
mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan.
bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.
Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas
payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan
kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri
dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada
putingnya.
“Mas Bob.. hhh.. geli.. geli.. enak.. enak.. ngilu.. ngilu..â€
Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara
bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit
payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap
sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan
kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang
kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan
sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan
kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di
puncaknya.
“Ah.. mas Bob.. terus mas Bob.. terus.. hzzz.. ngilu..
ngilu..†Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah
kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan
tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.
Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan
keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku
hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas
eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan
lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan
gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.
“Edan.. mas Bob, edan.. Kontholmu besar sekali.. Konthol
pacar-pacarku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai
sebesar ini Edan.. edan..,†ucapnya terkagum-kagum. Sambil
membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan
menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan
kanannya meremasÂremas perlahan kontholku secara berirama,
seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hatinya
menahan kejantananku. Remasannya itu memperhebat vothase dan
rasa nikmat pada batang kontholku.
“Mas Bob, kita main di atas kasur saja..,†ajak Ika dengan
sinar mata yang sudah dikuasai nafsu birahi.
Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan
membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku
ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6
centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau
melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya
menyentuh kasur, tangannya menarik wajahku mendekat ke
wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu
melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah.
Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara
tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kupeluk punggungnya
yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.
Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara
pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri.
Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang
tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual
Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus.
Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan
segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher
indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak
aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika.
Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku
bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak
oleh gesekan-gesekan paha Ika.
Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada
montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku
ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua
belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman
payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan
menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek
memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh
wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika
hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara
yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak
bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang
kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink
kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung
payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya
seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama
seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan
kumainkan dengan lidahku.
“Mas Bob.. geli.. geli ..,†kata Ika kegelian.
Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit
payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras.
Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu
sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot
sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas
sekuat-kuatnya dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara
bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika.
Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan
beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.
“Mas Bob.. mas Bob.. ngilu.. ngilu.. hihhh.. nakal sekali
tangan dan mulutmu.. Auw! Sssh.. ngilu.. ngilu..,†rintih Ika.
Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api
nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku
mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara
kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan
licinnya paha Ika.
Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika
dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah
menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing
kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan
dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir
memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala
kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.
“Mas Bob.. masukkan seluruhnya mas Bob.. masukkan seluruhnya..
Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina
orang kuno.. tidak mau merasakan konthol sebelum nikah.
Padahal itu surga dunia.. bagai terhempas langit ke langit
ketujuh. mas Bob..â€
Jari-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang
sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.
“Edan.. edan.. kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob..,â€
katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang
memeknya.
Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang
sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil
kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini
seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging
hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan
enaknya.
Aku menghentikan gerak masuk kontholku.
“Mas Bob.. teruskan masuk, Bob.. Sssh.. enak.. jangan berhenti
sampai situ saja..,†Ika protes atas tindakanku. Namun aku
tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang
memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku
kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan
hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang,
lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang
bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan
tidak karuan.
“Sssh.. sssh.. enak.. enak.. geli.. geli, mas Bob. Geli..
Terus masuk, mas Bob..â€
Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat.
Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan..
satu.. dua.. tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke
dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal
pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang
dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit
batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging
lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai
menimbulkan bunyi: srrrt!
“Auwww!†pekik Ika.
Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di
dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit mas Bob.. Nakal sekali kamu.. nakal sekali kamu…â€
kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.
Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika.
Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan
besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya
tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa
dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya.
Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada
batang kontholku.
“Bagaimana Ika, sakit?†tanyaku
“Sssh.. enak sekali.. enak sekali.. Barangmu besar dan panjang
sekali.. sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang
memekku..,†jawab Ika.
Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan.
Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin
oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang
sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.
Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir
ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh
otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa
hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk
kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek
Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol
sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.
Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus
dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak
tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak
jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku,
sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus
mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya
yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya.
Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang
kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke
atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali
secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di
kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur
perlahannya di memek Ika.
Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua
betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup
kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan
di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua
gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama.
Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara
perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu
semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun
merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya
mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke
bawah.
“Ah.. mas Bob, geli.. geli.. Tobat.. tobat.. Ngilu mas Bob,
ngilu.. Sssh.. sssh.. terus mas Bob, terus.. Edan.. edan..
kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan
disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja..
aku sedang tidak subur…�
Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek
Ika.
“Ah-ah-ah.. benar, mas Bob. benar.. yang cepat.. Terus mas
Bob, terus..â€
Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika.
tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan
keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh
bagian kontholku serasa diremasÂ-remas dengan cepatnya oleh
daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi
merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku,
mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa
keenakan yang luar biasa.
“Sssh.. sssh.. Ika.. enak sekali.. enak sekali memekmu.. enak
sekali memekmu..â€
“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali.. terusss.. terus mas
Bob, terusss..â€
Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada
memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak
karu-karuan.
“Mas Bob.. mas Bob.. edan mas Bob, edan.. sssh.. sssh..
Terus.. terus.. Saya hampir keluar nih mas Bob.. sedikit
lagi.. kita keluar sama-sama ya Booob..,†Ika jadi mengoceh
tanpa kendali.
Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku
harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang
molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia
mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby.
Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam
memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.
“Mas Bob.. mas Bobby.. mas Bobby..,†rintih Ika. Telapak
tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari
pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.
Ibarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin
cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih
beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda†aku merasakan keenakan
yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai
daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan
keenakan yang tiada terkira.
“Mas Bob.. ah-ah-ah-ah-ah.. Enak mas Bob, enak..
Ah-ah-ah-ah-ah.. Mau keluar mas Bob.. mau keluar..
ah-ah-ah-ah-ah.. sekarang ke-ke-ke..â€
Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika
dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa
disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup
derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku
dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa
kendali:
“..keluarrr..!â€
Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan
mengejang.
Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar
biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku
merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek
Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam
menikmati puncak orgasmenya.
Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada
lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun
membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding
memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun
kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu
kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka.
Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan
agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.
“Mas Bob.. kamu luar biasa.. kamu membawaku ke langit ke
tujuh,†kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai
dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak
orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka
membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.â€
Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku
tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan
kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga
membayangkan kugeluti dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus
dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot
dengan penuh nafsu.
“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan.. kamu
perkasa.. dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar
biasa nikmatnya..â€
Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan
bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa
aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus
kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus
mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini
baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah
mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya.
Kontholku masih besar dan keras, yang harus menyemprotkan
pelurunya agar kepalaku tidak pusing.
Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar
lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin.
Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun
masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara
berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa
hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar
dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme
yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.
“Ahhh.. mas Bob.. kau langsung memulainya lagi.. Sekarang
giliranmu.. semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku..
Sssh..,†Ika mulai mendesis-desis lagi.
Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu
dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku
ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas
payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai
dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.
“Sssh.. sssh.. sssh.. enak mas Bob, enak.. Terus.. teruss..
terusss..,†desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya
dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora
api birahiku.
Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku
mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya
cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun
diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret..â€
Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak
henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,
“Mas Bob.. ah.. mas Bob.. ah.. mas Bob.. hhb.. mas Bob..
ahh..â€
Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari
payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke
bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk
punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan
dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika
sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali
masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika
sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai
diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika.
Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya
mengeluarkan seruan tertahan, “Ak..!†Sementara daging pangkal
pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai
berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga
agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang
memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak
keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun
sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai
ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini
Bibir Ika mendesah, “Hhh..â€
Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan
menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan
enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas
punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk
sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal
paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran
antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi
srottt-srrrt.. srottt-srrrt.. srottt-srrrtt.. Kedua nada
tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu
yang keluar dari bibir Ika:
“Ak! Uhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh..â€
Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli,
dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan
pekikan-pekikan kecil:
“Ika.. Ika.. edan.. edan.. Enak sekali Ika.. Memekmu enak
sekali.. Memekmu hangat sekali.. edan.. jepitan memekmu enak
sekali..â€
“Mas Bob.. mas Bob.. terus mas Bob..†rintih Ika, “Enak mas
Bob.. enaaak.. Ak! Ak! Ak! Hhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh..â€
Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku.
Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke
memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke
dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih
cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal
dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin
menghebat.
“Ika.. aku.. aku..†Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang
luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang
sudah terbata-bata itu.
“Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob! Ak-ak-ak.. Aku mau keluar lagi..
Ak-ak-ak.. aku ke-ke-ke..â€
Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat
dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah
mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding
memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan
enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya
bendungan dalam alat kelaminku.
Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot
cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika,
“..keluarrrr..!†Tubuh Ika mengejang dengan mata
membeliak-beliak.
“Ika..!†aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika
sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan
tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan
kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak
terbendung lagi.
Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya,
menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang
terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa
berdenyut-denyut.
Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan
berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan,
perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan
tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam
kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air
mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini
semprotannya lebih lemah.
Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali.
Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya,
sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan
mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil
bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks,
bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh
kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan
padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai.
Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman
pertama ini oleh orang semolek Ika.
“Mas Bob.. terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. Indah
sekali.. sungguh.. enak sekali,†kata Ika lirih.
Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya
yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang,
kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia
meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang
tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding
menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika
sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00
aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.
Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan
melumat-lumat bibirnya beberapa saat.
“Mas Bob.. kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob..
Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu
merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan
Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,†begitu
kata Ika.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau
diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia
keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu
samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat
kost-ku.
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu
saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya
masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan
asmara, khususnya “bercinta†saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita
ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini
adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat
ini.
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak
tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit
dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala pengakit
hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa
hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan
merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha
pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya
lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas
kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan.
Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari
tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk
berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak
panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup
luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa
pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang
sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum
mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku
untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang
kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke
kamarku.
“Ada apa Dik?†tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu
tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang
terlihat montok dan menggiurkan.
“Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin
karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak
mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari
ini mbak?â€, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu
ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun
dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat
sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
“Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang
Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah
boleh dimandiin apa belumâ€, jelasnya ramah.
Mendengar kalimatnya untuk “memandikanâ€, saya merasa darahku
seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku
membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan
menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien
rumah sakit yang tipis itu.
“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih,
pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hiâ€.
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku
yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya
cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku
dengan selimut.
“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem
kokâ€, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis
itu.
“Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa
lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak
kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak
dokter belum mengijinkannyaâ€, lanjut Mbak Ira lagi seolah
memancing gairahku.
“Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan
ambil keputusa†jawabku serius, saya tidak mau terlihat
“nakal†dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum
pengalaman dalam soal memikat wanita.
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu,
kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja
disamping tempat tidurku.
“Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa
lengketâ€, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan
melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap
bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa
membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira
kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya
dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak,
terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa
terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak
membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh
tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin
kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak
mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku
melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu
meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan
bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali
melihat kontolku yang ereksi.
“Iya Mbak..â€, jawabku sambil berusaha menenangkan diri,
sayapun membalikkan tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku,
rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung
mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku
dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan
sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya
benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali
telapak tangannya menyentuh putingku.
“Ahh, geli dan enak bangetâ€, pikirku.
“Wah, kok jadi keras ya? he he heâ€, saya kaget mendengar
ucapannya ini.
“Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?â€
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar
terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih
keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa,
cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin
berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan
memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan
sesekali dicubitnya putingku.
“Ahh, geli Mbak. Jangan digituinâ€, kataku menahan malu.
“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau
putingnya dimainkan giniâ€, lanjutnya sambil melepas jari-jari
nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu
sisi saya ingin terus diâ€kerjain†oleh mbak Ira, satu sisi
saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin
saja tiba-tiba masuk.
“Dik Iwan sudah punya pacar?â€, tanya mbak Ira kepadaku.
“Belum Mbakâ€, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah
mana dia akan berbicara.
“Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?â€, tanyanya lagi.
“Belum mbak†jawabku lagi.
“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sihâ€,
lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak
olehnya. Memangnya “main†apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal†pikirku saat itu.
“Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus,
Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku,
dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan
lidah dan gigi-gigi kecilnya.
“Ahh, geli Mbakâ€m rintihku keenakan.
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya
mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa,
setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit
mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan
memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali
saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh
mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai
kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba
menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa
gawatâ€, katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari
tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak
disudut kamar.
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian
dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak
merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas
menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telangjang
bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing
seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk
sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang
berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan
wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam
berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang
berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh
enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka
Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi
puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan
sesekali menggigitnya.
“Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sihâ€,
desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan
membenamkannya ke dadanya.
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak
saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat
dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini
kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan
kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap
selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua
tangannya.
“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..â€, desahku menahan
agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya
sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol
kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana
dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil
melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah,
sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi
bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit
becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol
kaki.
“Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak bangetâ€,
desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak
khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan
keras juga.
“Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin
bangetâ€, pintaku karena memang sudah dari tadi saya
mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film
BF yang biasa kutonton.
“Ih.. kamu nakal yahâ€, jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala
kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya
itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol
kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang
terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini
kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang
kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
“Ahh.. ahh..â€, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan
tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari
jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya
agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya
sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya
benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di
sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap
berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera
“keluarâ€, Mbak Ira menghisap semakin kencang, disedot dan
terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat
enak sekali.
“AHH.. AHH.. Ahh.. ahhâ€, teriakku mendadak tersemprot cairan
mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak
dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati
cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut
merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat
kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku
melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian
seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan
mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah
tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari
mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati
pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya
melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara
langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan
kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet
sambil memandang aktifitas “panas†yang dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak
mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu
menggoda.
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol
sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam
memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan
satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih
mengeras dan terlihat makin mancung itu.
“Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..â€, canda mbak Ira
sambil mendekati diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang
tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan
memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah
mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya
mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
“Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. heheheâ€,
agak kecewa saya mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga
merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja
dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua
kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh
sementara kami masih asyik “bermain†di dalam sana. Dihisap,
disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat,
benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat
mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk
menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk
beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak
Ira sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia
juga sambil memainkan memeknya sendiri.
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau
keluarâ€, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.
“Sini mbak, saya mau menjilatnyaâ€, jawabku spontan, karena
teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat
memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke
arah mulutku.
“Nih.. cepet hisap Wan, hisap..â€, desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok
kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul
dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai
hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan
kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.
“Ahh.. ahh..â€, desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan
dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan
mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan
yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan
bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun
orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang
pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia
duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku
yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan
meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian
ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan
aman-aman saja.
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan
seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan
Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering
berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi
sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah
beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih
kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya,
lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling
memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa
“horny†menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya
sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta
dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit,
benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling
tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku.
Sebut saja aku Diana. Umurku 19 tahun dan aku kuliah di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Aku akan menceritakan dilemma yang kuhadapi gara-gara kekurangan uang untuk biaya kuliah, aku pun melayani nafsu para lelaki hidung belang, bahkan wanita lesbi/biseks pun kulayani demi mendapat uang.
Kisahku ini berawal pada saat aku kekurangan uang untuk masuk ke perguruan tinggi ternama di Jakarta. Aku berasal dari sebuah kota kecil di luar Pulau Jawa. Orangtuaku kesulitan dalam membiayaiku. Padahal aku benar-benar menginginkan pendidikan gelar sarjana itu. Aku sudah berusaha mencari beasiswa, tapi sulit sekali. Aku cuma mendapat diskon uang pangkal, padahal biaya untuk merantau di luar kota dan biaya per semester tidak sedikit. Namun, karena kegigihanku, aku memutuskan untuk terus berjuang kuliah. Aku punya keyakinan bisa mencari kerja part time atau beasiswa saat kuliah.
Semester pertama aku kuliah masih baik-baik saja. Saat kuliah memang ada kesulitan biaya tapi masih bisa kuatasi, tapi saat memasuki semester kedua, aku benar-benar terpuruk, aku tak dapat kerja, perlu perlengkapan kuliah dll. Sampai suatu saat,, aku sedang surfing ke internet mencari materi tugas kuliah, tanpa sengaja masuk ke situs porno. Kulihat-lihat di sana banyak pria hidung belang yang membutuhkan teman kencan dan bersedia memberi bayaran. Kupikir iseng-iseng kutulis no telpnya. Siapa tahu saat terdesak bisa terpakai.
Dua minggu berlalu, aku belum bisa memperbaiki situasi keuanganku. Orangtuaku tak pernah kuhubungi. Aku tak mau mereka cemas, padahal mereka sendiri susah mencari uang. Jadi, mau tak mau aku memberanikan diri mengirim sms kepada pria tersebut, umurnya 27 tahun. Namanya Adit.
Singkat kata, kami pun ketemuan, wajahnya mirip actor Risky hanggono, hanay saja ia lebih hitam, katanya sih ada keturunan Arab. Kuutarakan permasalahanku. Ia hanya tertawa. Ia berjanji akan membiayai keperluan kuliahku kalau aku mau tidur dengannya. Aku agak ragu. Ku tawari dia bagaimana kalau kencan saja. Tapi ia tak mau, ia maunya ML denganku.
“Tapi, aku masih perawan.â€
“Beneran? Hari gini susah cari perawan.â€
â€Bener.â€
“Kalo kebukti lo perawan, gw rela ngasih dobel buat lo!â€
“Tapi..†aku ragu.
Adit pun mengeluarkan segepok uang dari tasnya. Wow! Uang itu cukup untuk membeli keperluanku. Karena sudah putus asa, akupun bersedia melayaninya.
Malam minggu itulah aku merelakan keperawananku untuk Adit. Kami masuk ke sebuah hotel, di sana kami pun check in. Saat masuk kamar, aku sempat berubah pikiran, tapi mendapat serangan ciuman bertubi-tubi dari Adit membuatku tak berdaya. Mulutku dihisapnya. Lidahnya menyapu seluruh permukaan mulutku. Sementara tangan Adit telah meremas-remas pantatku. Aku mulai terangsang.
Dalam hitungan detik, Adit sudah telanjang bulat. Tubuhnya kekar berbulu. Sementara kontolnya sangat besar, sekitar 20cm dengan diameter 5 cm. Aku jadi takut. Adit malahan tersenyum. Ia mulai membuka kaos dan celanaku. Sekarang aku hanay memakai BH dan CD.
Diremas-remasnya payudaraku yang masih terbungkus BH. Ia pun memasukkan tangannya ke CDku.
“Punyamu lebet ya?â€
Aku begitu malu,, hanya diam saja.
Akhirnya BH dan CD ku dibukianya. Kami sudah sama-sama bugil. Ia menggendongku menuju ranjang. Di sana ia menindih tubuhku.
Ia kembali melumat bibirku, loidah kami saling berpagutan. Jujur sajua aku tak terbiasa tapi demi uang akupun mulai berusaha menikmatinya. Setelah puas berciuman, ia menjilati leherku. Dijilatinya payudaraku dengan lembut . Aku mulai melayang. Dihisapnya putting coklatku sambil diremas-remas membuat putting susuku menegang. Tak lama, ia menempelkan kkontolnya ke payudaraku. Setelah itu ia menempelkan kontolnya ke memekku. Disentuhnya klitorisku dengan kontol besarnya. Aku benar-benar tak kuat saat ia menggosok-gosokkan kontolnya ke daerah paling sensitifku.
Akhirnya, memekku sudah sangat basah. Adit mulai memasukkan kontolnya ke memekku. Aku benar-benar kesakitan saat kepala kontolnya masuk.
“Dit, ampun.. jangan. Sakit!â€
“Tenag aja. Memek lo sempit, enak. Gw bayar dobel buat memek perawan kayak lo. OK!â€
“Sakiit..! Ouch…..Oh…!†raungku sambil menarik sprei menahan sakit.
“awalnya emang seret, lo tahan ya.†Adit melumat bibirku algi, supaya aku tak berteriak kesakitan.
Dan tiba-tiba “Blesh!†kontolnya pun masuk ke memekku. Kurasakan selaput darhku pasti sudah robek. Aku pun menangis. Melihatku menangis, Adit tak berhenti, ia justru makin liar. Memekku digenjotnya begitu liar dan cepat. Payudaraku disedot olehnya membuat aku terdiam. Aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme.. 5 menit kemudian “CROT! CROT!†Aku pun orgasme untuk pertama klalinya.
Adit makin bernafsu emlihatku sudah orgasme. Ia membalikkan posisi, sekarang aku berada di atas, aku disuruh menjilati dadanya yang berbulu. Aku jijik tapi kepalaku didorongnya sampai menyentuh dadanya. Dengan terpaksa, aku mmulai menjilati dadanya. Aku sangat takut kalau disuruh menjilati kontolnya. Aku pasti tak sanggup. 10 menit kemudian, tubuh kami sama-sama mengejang, akupun orgasme lagi. Ia melepaskan kontolnya dan membalikkan tubuhku ke bawah. Kontolnya diarahkan ke payudaraku Spermanya membasahi dadaku, Adit menjilati seluaruh sperma nya setelah itu ia berbaring sambil memelukku. Sekilas kulihat darahku menempel di sprei. Aku jadi kesal dengan diriku yang begitu rendah. Esok paginya kami main 1 ronde lagi. Memekku jadi sakit dibantainya. Sebelum check out, kami mandi kucing. Aku disuruh nungging di kamar mandi dan ia menyodomiku.
Setelah itu kami saling menyabuni tubuh pasangan. Setelah puas, aku dibayar 2 juta olehnya. Aku cukup terkejut melihat uang sebesar itu. Sejak itu, aku makin tenggelam ke dunia sex, bahkan cewek-cewek lesbian/biseks pun kulayani.
Sungguh tidak enak jika kedua orang tua kita berpisah, dampak yang sangat dirasakan oleh anak-anaknya sangat besar sekali, hal ini ku alami sendiri waktu itu.
Kisah nyataku ini ku sajikan agar para pembaca yang budiman berhati-hati pada orang yang belum kita kenal dengan baik lebih-lebih pada Papa tiri yang selalu sok akrab dengan anak-anak tirinya, biarlah mirna sendiri yang menderita atas perlakuan papa tiriku.
Seperti biasanya setiap pagi aku selalu membuatkan kopi untuk papa tiriku sebut saja ( Pa ) , yach,,karena Pa bekerja di salah satu perusahaan Swasta dan dia Bos lagi….,awal mulanya sih aku nggak menaruh curiga..karena kelihatannya dia sangat sayang pada aku dan adik-adikku….sehingga lambat laun aku membiasakan diri untuk saling mengenal dan saling mendekat dan sudah ku anggap sebagai ayah kandungku sendiri.
Kira-kira hampir 5 tahun sudah pa menjadi papa tiriku dan kini telah mempunyai 2 anak dari ibu kandungku, waktu kejadian itu aku baru kelas 1 sma yach..waktu itu aku masih umur 17 tahun.
Waktu itu ibu sedang berada keluar kota karena ikut rekerasi dengan ibu-ibu di lingkungan kantor Pa selama 5 hari di Bali.Untung ada 2 pembantu di rumah jadi aku nggak terlalu repot dengan rumah yang begitu besar…, seperti biasa aku mengantarkan kopi ke ruang tidur pa , karena memang begitulah setiap harinya walaupun kopi itu dibuatkan oleh pembantu tetapi akulah yang selalu mengantarkan kopi ke kamar Pa, untung sekolahku masuk siang.
Begitu kamar pa aku buka…… ternyata pa belum juga beranjak dari tempat tidurnya dan masih memakai baju tidur…… pagi pa kataku……… pagi mirna kata pa, tolong pintunya ditutup mir……, lantas tanpa menaruh curiga ku tutup pintu kamar.Mir…. papa agak pusing nich……….. tolong pijetin kepala papa yach……., ya..pa… jawabku………. lantas aku menghampiri di tempat tidur pa…. dan langsung kepala pa aku pijet…… pijet….., tak lama kemudian pa mengambil remot TV dan… astaga yang kulihat di layar TV itu adalah Film BF yang selama ini belum pernah aku tonton sama sekali…… mungkin tadi malam pa habis menyetel film BF karena ku lihat di samping TV ada beberapa tumpukkan kaset Video.Terus terang aku hanya sekilas saja melihat…dan kembali aku tundukkan kepalaku sambil mijitin kepala pa…. mir….. sudah seharusnya kamu melihat film itu…kamu kan sudah besar…katanya,… nggak… ahh… pa…… malu….. mirna kan masih kecil……., siapa bilang mirna kecil kan kamu udah kelas 1 sma kata Pa.
Aku hanya diam saja…… cobalah lihat mumpung hendak ada mamamu …….. biasa sajalah sama papa nggak apa-apa kok….., yach… aku coba untuk menurutin kata-kata Pa…., aku lepas tanganku untuk memijitin kepala Pa, kini aku serius mulai menonton Film BF…… hebat sekali ….. dalam batinku ….., tak lama nafsuku mulai terpancing……. kelihatan jelas pipiku memerah …………, kesempatan itu dimanfaatkan pa untuk mendekati aku ….. mir…… sambil dia membelai rambutku….asyiknya gambarnya…aku hanya diam saja sambil terus melihat layar TV,… tangan Pa..mulai membelai rambutku …. aku biarkan saja…… terus turun ke tanganku meremas … remas……. pa..jangan… dong..geli……., nggak apa-apakan sama papa sendiri……. lantas Pa mulai mencium leherku…… jangan ah pa geli tuh ……. tapi Pa terus menciumi leherku…… dan tangannya mulai masuk ke kaosku dan berusaha memegang tetekku… pa jangan……. jangan pa….. geli aku….. dan Pa berhasil membuka tali BH ku…kini tetekku diremas-remas …… aku hanya diam dan geli…… aku terus mendesis…. pa …. pa ……. jangan…ah………. aku udah tak kuat menahan gejolak nafsuku sementara mataku terus melihat monitor TV dengan adegan film BF……
Tak lama kemudian Pa mengambil sebutir PIL … ini minum PIL dulu biar kamu tahan melihat FILM itu…. sebab orang yang melihat Film BF harus minum PIL ini katanya…….., aku turutin aja……aku minum PIL pemberian Pa…., setelah 10 menit kemudian….ada perubahan di dalam diriku…rasanya gairah SEX ku semakin besar…aja…., sementara Pa udah duduk disampingku …….. Pa mulai lagi dengan aksinya…. Kaos dan Rokku ……. dilepasnya …….. kini aku hanya tinggal memakai CD saja…… Pa langsung menciumi teteku dang mengulimmnya…. ah…… ah……. pa…. geli tuh…. terus pa …….. pentilku dimainkan oleh pa…. rasanya geli dan enak sekali….. lantas Pa buka CD ku…….. yang sudah basah karena terlalu banyak cairan ……….. dan…… pa langsung turun kebawah …. dan ….. ya … ampun …. memekku di ciumi dan lidahnya menjilati memekku…… rasanya aku mau pipis saja….. geli campur enak membuat badanku menjelit-jelit nggak karuan……. enak sekali……. pa…. pa……. terus pa………
Aduh mir sempit sekali memekmu…. nggak kayak memek mamamu udah besar…….. memang sih aku kan masih perawan waktu itu… dan jembutku masih sedikit … barangkali itu yang membuat pa kayak kerasukan setan melumat memekku hingga tak berdaya.
Lantas aku buka baju piyama Pa…. dan ya,…. ampun… ternyata Pa sudah tidak memakai CD…. jelas sekali kontolnya… udah mengacung keatas…. dan besar sekali serta panjang kira-kira 20 Cm.Aku pegang langsung kontol Pa dan ku kocok-kocok……, mir kulum dong…kata pa….., nggak ah kan jijik aku pa….. nggak ah…… , coba lihat kayak di TV itu….. lihat uth…… cewek itu terus mengulum kontol kan?, nggak apa-apa……. cobalah mir…., lantas perlahan-lahan kontol Pa aku masukkan dalam mulutku …. dan …. ah …….. enak sekali…. kayak mengulum Es Lilin aja……… terus kontol Pa aku kulum……. kini Pa… mulai mengeliat-geliat tubuhnya…. mir … terus … mir … enak kamu mir…….., lantas kini aku yang dibawah dan Pa diatas … lidah pa menjilati memekku sementara aku mengulum kontol pa ……. wah …. enak …. sekali … ah….. ah…. terus pa….. terus pa……. kataku…… memang kontol pa luar biasa gedenya dan panjangnya…… atau mungkin masih ada yang panjang lagi…karena baru sekali itu sih aku lihat kontol orang dewasa…….
Pa…. turun dan kini dia mulai mengakangkan ke dua kakiku…… mir papa masukkan yach kontol papa ke memekmu….jangan pa……. sungguh jangan pa……. mirna kan masih perawan pa…… jangan yach….. kalau yang lain boleh… sih.. pa… tapi jangan yang satu itu pa… jangan pa…. rengekku waktu itu….. maksudku biarlah memekku dijilatin … tetekku di isep tapi jangan keperawanan……, tapi rupanya pa tidak menghiraukan rengekanku…… terus kontolnya digesek-gesekkan di memekku…….. ah…. ah…… aku geli sih… kayak ada benda tumpul menempel di memekku……. pejamkan matamu mir…kata pa………., lantas aku pejamkan mataku……. dan……. blessssss ……. kontol pa masuk ke memekku… jangan pa…. jangan… pa…… tolong pa… jangan…. tapi pa tetap terus… memasukkan kontolnya..kini blesss….. slep ……… akh ….. pa…. sakit… pa…. sakit… pa…….., pa hanya melihat aku kesakitan dan meringis-ringis kesakitan…..pa……….., kontol pa udah masuk semua ke liang memekku…….. kini pa…… perlahan..mulai mengerakkan maju mundur……… pa…. pa…. sakit… pa……. memang sakitnya luar biasa sih …. aku kan masih perawan……… sedangkan pa kontolnya kayak kontol yang di BF itu besar dan panjang……. lama kelaman sakit itu berubah menjadi enak…… aku merasakan kehangatan dalam memekku……. pa terus menggenjot kontolnya maju mundur …….. pa ….. terus …. pa ….. pintahku …..
Aku kini menikmati kontol pa yang lagi masuk di liang memekku…………pa terus menggenjot kontolnya lama sekali..kira-kira….. 20 menit ……….. duh … rasanya … capek campur enak nggak karuan ……………. ah … ah ………….. aku mau pipis rasanya nich pa……… pipislah…..itu berarti mirna mau klimaks…….. dan betul….. ah… ah………… cairan yang aku keluarkan banyak…sekali……. aku mulai agak lemas….tapi pa belum apa …. apa dia dengan asyiknya menggenjot kontolnya yang besar itu di liang memekkku ……….. terus pa..sepat….aku udah capek nich …. terus … cepet … pa…. pa…. dan slep…pluk…….. papa mencabut kontolnya dari liang memekku……. dan kini kontolnya diarahkan ke mulutku……….. mir isap tuh kontol papa…….. wah…. kontol papa tambah besar rasanya…… dan slep …. mulai lagi aku mengisap-isap kontol pa…….. terus aku kulum ….. kayak es lilin…… dan tak lama…. cret… cret…… air mani pa keluar sebagian di mulutku …. rasanya asin getir……….. dan sebagian di wajahmu dan menetes di tetekku… hangat… hangat asin dan getir……… lemaslah pa…..
Kamu hebat mir nggak kayak mamamu…….. baru sedkiti aja udah lemas ……. aku hanya diam dan menunduk…… mimpi apa semalam aku……… kok melayani lelaki bejat seperti pa………….. jangan bilang siapa-siapa yach ……. aku hanya diam dan berpakaian..kemlabli…..lantas aku berdiri… wik ……. rasanya selakanganku sakit….. sekali……. kayak ada ganjalan di selakangkanganku ………lantas pa menghampiriku dan memberi uang Rp.100.000,00 nich buat jajan yach…….. aku hanya diam saja dan aku ambil uang itu……. pa kemudian mengambil sprei yang ternodai darah kegadisanku …… dan mencucinya sendiri….takut ketahuan pembantu sih ……. selama 4 hari 4 malam aku terus melayani Pa…….. hingga mamaku pulang dari Tournya di Bali…….. dan pa terus memanfatkan aku jika mama nggak di rumah……, gilanya aku terus menuruti kemauannya…….. kini aku sadar…… tentang masa depanku sendiri….dan aku udah nggak mau melayani lelaki bejat kaya papa tiriku……….. awaslah dengan Papa Tiri…. belum tentu dia sebaik papa kamu….. oke….
Aku mahasiswa semester 7 di sebuah universitas di Jakarta Barat. Umurku 21 tahun. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja di lingkungan pergaulan kampus. Dibilang kuper tidak, tapi dibilang anak gaul pun tidak. Aku anak bungsu dari dua bersaudara, berasal dari keluarga kelas menengah atas. Di kampus aku dianggap oleh teman-temanku sebagai anak yang pendiam. Aku agak kesulitan bergaul dengan perempuan, sehingga aku sama sekali tidak memiliki teman perempuan. Entahlah, sepertinya aku mempunyai masalah dalam soal mendekati cewek. Namun ironisnya, aku mempunyai hasrat seks yang tinggi, aku mudah terangsang bila melihat cewek yang bagiku menarik, apalagi memakai pakaian ketat. Jujur saja, bila sudah begitu pikiranku sering mengkhayal ke arah persetubuhan. Bila hasratku sudah tak lagi dapat kutahan, terpaksa aku melakukan onani. Aku memilih itu sebab aku tak tahu lagi harus menyalurkan kemana.
Sifat pendiamku ternyata membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Cuma mereka harus kecewa sebab aku kesulitan untuk bergaul dgn mereka. Di samping itu teman-temanku bilang aku mempunyai face yang lumayan ganteng (nggak nyombong lo…), kulitku putih, rambuntuku gondrong,dan tinggiku sekitar 170 cm. Bila aku melintas di koridor kampus, aku merasa ada beberapa cewek yang melirikku, tetapi aku berusaha cuek saja, toh aku tak bisa mendekatinya. Namun ada seorang cewek yang diam-diam menyukaiku, hal itu aku ketahui dari sahabatku. Ketika aku minta untuk menunjukkan anaknya, kebetulan penampilannya sesuai degan seleraku. Tinggi tubuhnya sama denganku, rambut panjang, kulit putih bersih, wajah menarik, ukuran toketnya juga pas dengan seleraku, dan badannya padat berisi. Sebut saja namanya Ella (samaran). Sejak itu setiap kali aku melihatnya, aku sering berpikiran edan, yaitu membayangkan bisa bersetubuh dengannya. Sebaliknya bila ia melihatku, sikapnya biasa-biasa saja, walaupun aku tahu sebenarnya dia menyukaiku.
Pada suatu hari yang tak terduga olehku, seolah-olah keinginanku dikabulkan (masa?). Saat kuliah usai pada jam 19.00 sore, selepas keluar ruangan aku hendak untuk mencuci muka, sekedar menyegarkan diri. Aku menuju WC kampus yang kebetulan letaknya agak menyendiri dari “peradaban†kampus. Sampai disana aku mendapati beberapa orang yang juga akan mempergunakan kamar mandi. Selagi menunggu giliran, aku ingin buang air kecil dulu, tapi kamar mandi sedang dipakai. Praktis aku urungkan saja. Begitu tiba giliranku, aku hendak menuju ke arah kran, tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi yang tertutup tadi keluarlah seorang cewek yang selama ini kusukai dan dia juga mengincarku. Aku sangat tekejut melihatnya, sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengan dia. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Kemudian dia sedikit tersenyum malu-malu. Kok dia ada disini sih?, Pikirku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“La, ngapain elo masuk ke WC cowok?†tanyaku penuh rasa heran.
“Ehhhh… itu… ehmmm… tempat cewek penuh semua, makanya gue ke sini…â€
“Emang yang di lantai bawah juga penuh?â€, tanyaku.
Padahal dalam hati aku merasa mendapat kesempatan emas.
“Iya. Emang kenapa? Boleh dong sebentar doang… lagi pula ‘kan sekarang udah nggak ada siapa-siapa, ya kan…?â€, jawab Ella rada genit.
Aku pun tidak mau kalah.
“Tapi kan gue cowok, elo nggak malu?â€, gantian aku membalasnya.
“Kalo elo, gue emang nggak keberatan kok…, untungnya cuman tinggal elo dong yang ada di sini, daripada yang laen…â€, jawab Ella.
Denger jawaban kayak gitu, aku malah jadi tambah bengong. Gila… kayaknya dia emang ngasih kesempatan nih! Pikirku. Tiba-tiba dia menyerobot posisi gue yang dari tadi udah berdiri di samping kran.
“Sorry yah, gue duluan, habis elo bengong aja sih…â€, katanya.
Rupanya dia juga mau mencuci muka. Selama dia mencuci muka, aku seperti orang bingung. Kadang-kadang aku mencuri pandang ke arah bagian yang terlarang. Posisinya yang sedang membungkuk membuat pantatnya yang berisi menungging ke arah selangkanganku. Ditambah lagi CD-nya yang berwarna krem terlihat olehku. Lama kelamaan aku menjadi terangsang, kontolku mulai tegang tak keruan. Langsung saja di pikiranku membayangkan kontolku kumasukkan ke dalam memeknya dari belakang pada posisi seperti itu. Entah apa yang merasuki pikiranku, aku berniat untuk menyetubuhinya di WC ini, sebab hasratku sudah tak tertahankan. Aku tak peduli dia keberatan atau tidak. Pokoknya aku harus ngentot dengan dia, apapun caranya.
Diam-diam aku berdiri di pintu keluar, mengamati keadaan. Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan niat bejatku. Saat dia menuju pintu keluar, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yang merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Tiba-tiba dengan cepat kupalangkan tanganku di depannya, sehingga ia menghentikan langkahnya. Dia melihatku seakan- akan mengerti maksudku.
“Buru-buru amat La, emang elo udah ada kuliah lagi?â€, tanyaku.
“Enggak kok, gue cuman pengen istirahat di sini ajaâ€, jawabnya.
Aku tak menanggapinya, dengan cepat aku segera menutup dan mengunci pintu dari dalam. Melihat sikapku, Ella mulai menatapku dalam-dalam. Dengan perlahan kudekati dia. Kutatap kedua matanya yang indah. Dia mulai bereaksi, perlahan dia juga mulai mendekatiku, sehingga wajah kami berdekatan. Aku mulai merasa bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Nafasnya juga semakin memburu, seolah-olah dia mengerti permainan yang akan kulakukan. Mulutnya mulai terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun dia keburu mengecupku dengan lembut. Perasaanku saat itu tak menentu, sebab baru kali inilah aku dicium oleh seorang cewek. Dengan spontan aku pun membalasnya dengan mesra. Aneh, walaupun aku belum pernah melakukannya, otomatis aku tahu apa yang harus mesti kulakukan. Apalagi aku juga sering melihat di film BF.
Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Ella membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya. Kemudian aku mencoba untuk mengusap bagian memeknya. Kugosok-gosok sampai dia mengerang kenikmatan. Aku panik kalau erangannnya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan memeknya membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.
“Ssshhtt… gilaa… enak banget… ehmmm…â€, desah Ella.
Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yang putih mulus. Lehernya yang harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Ella terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannnya mulai berani untuk meremas kontolku yang keras. Enak sekali pijitannya, membuat kontolku semakin berdenyut- denyut.
Aku berhenti menciumi lehernya, aku mulai meraba-raba toketnya yang sudah mengeras. Ella mulai membuka kaosnya, dan memintaku untuk memainkan kedua toketnya. Kuraba-raba dengan lembut, dan sesekali kuremas sedikit. Merasa masih ada penghalang, kubuka BH-nya yang berwarna putih. Benar-benar pemandangan yang sangat indah, toketnya yang berukuran sedang, putih mulus, dan putingnya merah kecoklatan terlihat menantang seperti siap untuk dikemot. Langsung saja aku sedot susunya yang kenyal itu. Ella menggelinjang kenikmatan dan memekik. Aku tak peduli ada orang yang mendengar. Rupanya dia senang menyemprotkan parfum ke dadanya, sehingga terasa lebih nikmat mengulum toket harum. Aku benar-benar menikmati toket Ella dan aku ingin mengemoti toket Ella sampai dia menyerah. Kujilat putting susunya sampai putingnya berdiri tegak. Kulihat Ella seperti sudah di awang-awang, tak sadarkan diri.
Tangan Ella mulai membuka ritsleting celana gue dan berusaha mengeluarkan kontol gue yang sudah keras sekali. Begitu semua terlepas bebaslah kontol gue menggantung di depan mukanya yang sebelumnya dia telah mengambil posisi jongkok. Dia kocok-kocok kontol gue, sepertinya dia sedang mengamati dahulu. Lalu dia mulai mencium sedikit-sedikit. Kemudian dia mencoba membuka mulutnya untuk memasukkan kontolku. Pertama hanya 1/4 nya yang masuk, lama-lama hampir seluruh kontolku masuk ke mulutnya yang seksi, kontolku sama sekali sudah tak terlihat lagi. Lalu dia mulai memaju mundurkan kontolku dalam mulutnya. Sedotan dan hisapannya sungguh luar biasa, seperti di film BF. Aku menahan rasa geli yang amat sangat, sehingga hampir saja aku mengeluarkan maniku di dalam mulutnya. Belum saatnya, pikirku. Aku ingin mengeluarkan maniku di dalam memeknya. Maka aku memberi tanda agar Ella berhenti sebentar. Aku berusaha menenangkan diri sambil mengusap-ngusap toketnya. Setelah rileks sedikit, Ella mulai melanjuntukan permainannya selama kurang lebih 10 menit. Ella sempat menjilat cairan bening yang mulai keluar dari ujung kontolku dan menelannya.
Ella kemudian bangkit untuk melepaskan celana panjangnya, ia juga melepaskan CD-nya yang berwarna krem. Aku mengambil posisi jongkok untuk menjilati memeknya dahulu, agar licin. Kubuka pahanya lebar-lebar. Terlihatlah memek Ella yang sangat bersih, berwarna merah, lipatannya masih kencang, tak tampak sehelai bulu satu pun. Sepertinya Ella memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai menjulurkan lidahku ke memeknya. Aku sempat berpikir bagaimana kalau di memeknya tercium bau yang tidak sedap. Ah, bodo amat aku sudah bernafsu, aku tahan nafas saja.
Kubuka belahan memeknya. Lalu kujilat bagian dalamnya. Tapi ternyata koq baunya tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Memek Ella tidak berbau kecut, tapi juga tidak berbau harum, bau memek alami. Justru bau yang alami seperti itulah yang membuatku makin bernafsu serasa ingin melumatnya semua ke dalam muluntuku. Aaaahhh…Ella benar-benar pandai merawat memeknya. Sungguh beruntung aku.
Aku terus menjilat-jilat memeknya yang mulai basah dengan cairannya. Ella terlihat sangat menikmati permainan ini. Matanya sayu, desahannya makin keras seraya menggigit bibir bawahnya.
“Akkkhh… ssstt… uugh… gilaa… enak banget…â€, desah Ella.
Memeknya terasa hangat dan lembut. Betul-betuk memek ternikmat yang kurasakan.
Kumasukkan jari telunjukku ke dalam memeknya sambil mengait-ngaitkan ke dinding memeknya. Tentu saja Ella makin edan reaksinya, membuat semakin kelojotan nggak keruan. Sampai ia menjepitkan kedua belah pahanya hingga kepalaku terjepit di antara sepasang paha yang putih mulus, dan tangannya menjambak rambuntuku sampai aku sendiri merasa kesakitan. Cairan yang keluar dari memeknya sampai meleleh ke pipiku dan kepahanya. Sebagian sempat mengalir ke bibirku. Karena penasaran dengan selama ini yang kutahu, kucicipi cairan itu. Gila! Rasanya enak koq, agak asin. Langsung aja aku hisap sebanyak-banyaknya dari memeknya. Ella sempat risih melihat perbuatanku. Namun aku cuek saja, sebab dia tadi juga melakukan hal yang sama pada kontolku.
Tiba-tiba Ella mendorong kepalaku dari memeknya. Kayaknya dia sudah nggak kuat lagi.
“Masukin dong punya elo, gue udah nggak tahan nich… ayo dong sayyyy…â€, pinta Ella dengan suara mendesah.
Aku sempat tertegun sejenak, sebab sama sekali aku belum pernah melakukannya.
“Ayo cepat dikit dong…â€, katanya sambil memandangku yang tertegun sejenak.
Dengan bermodal nekat dan pengetahuan dari film BF, gue turutin saja permintaan Ella.
Kuangkat satu kakinya ke atas bak mandi, sehingga posisi memeknya lebih terbuka. Memeknya sudah basah sekali oleh cairan sehingga terlihat mengkilat. Hal itu makin membuatku bernafsu untuk memasukkan kontolku ke memeknya. Kuelus-elus dahulu kepala kontolku ke bibir memeknya. Kudorong kontolku perlahan… masuk sedikit demi sedkit…
Pantatku terus kudorong, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Ella yang sudah basah dan licin tapi terasa sempit banget. Dalam hati aku beruntung juga bisa ngerasain sempitnya memek perawan. Kucoba kugesek dan menekan perlahan sekali lagi. Kontolku sudah masuk setengahnya, namun masih terasa sempit sekali. Tubuh Ella sempat tersentak ketika kontolku sudah masuk seluruhnya.
“Auuww… sakitt… pelann… ssstt…â€, Ella sedikit menjerit.
Kutarik kontolku keluar, lalu kudorong lagi sekuat tenaga. Aku sengaja membiarkan kontolku menancap di dalamnya beberapa saat agar memek Ella terbiasa menerima kontolku. Kemudian barulah aku memulai gerakan maju mundur. Terasa kontolku bergesekan dengan dinding memek yang bergerinjal-gerinjal. Jadi ini toh yang dinamakan bersetubuh, pikirku dalam hati. Kontolku terasa agak perih dijepit oleh memeknya, tapi tetap kuteruskan, aku tak mau kehilangan kesempatan berharga ini.
Tampaklah pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Ella. Kontolku sudah tidak terasa perih lagi, malah sebaliknya, terasa geli ngilu enak. Ella semakin tidak jelas rintihannya, seperti orang menangis, air matanya meleleh keluar. Mulutnya menggigit bibirnya sendiri menahan sakit. Aku sempat kasihan melihatnya. Mungkin aku sudah keterlaluan. Kucoba berbicara padanya sambil kedua pinggul kami menghentak-hentak.
“Ke… napa… La… ehhgg…, elo… pe.. ngen udahannn…?â€, tanyaku.
“Ja.. ngan dilepas… terussinnn… aja… gue… nggak… apa… apa… kok… sstt…â€, kata Ella.
Goyangan pinggul Ella sangat luar biasa, hampir aku dibuat ngecret sekali lagi. Kutarik kontolku keluar dan kudiamkan beberapa saat. Setelah itu aku minta ganti posisi, aku ingin ngentotin dia dari belakang. Ella berpegangan pada pintu kamar mandi, sedangkan pantatnya sudah menungging ke arahku. Dalam posisi itu lipatan memeknya terlihat lebih jelas. Tanpa basa-basi lagi kumasukkan saja kontolku dengan hentakan yang kuat. Kali ini lebih lancar, sebab memeknya sudah terbiasa menerima kontolku.
Kali ini gerakan Ella lebih hot dari sebelumnya, ia mulai memutar- mutar pantatnya. Setiap gerakan pantatnya membuat kontolku sangat geli luar biasa… kontolku berdenyut-denyut seperti ingin memuntahkan lahar yang panas…aku merasa tak tahan lebih lama lagi. Tapi aku tak ingin mengecewakan Ella, aku pun berusaha mengimbangi permainannya.
Aduhhhh srr…, ada cairan licin kembali keluar dari kontolku. Cairan itu makin menambah licin dinding memek Ella. Aku benar-benar merasakan kenikmatan persetubuhan ini. Aku makin tenggelam dalam kenikmatan bersetubuh dengan Ella, sungguh aku tak akan melupakannya. Tubuh kami terlihat mengkilat oleh keringat kami berdua. Toket Ella bergoyang-goyang mengikuti irama gerakan kami, membuatku makin gemas untuk meremasnya dan sesekali kukemot sampai ia memjerit kecil. Memek Ella makin berbusa akibat kocokan kontolku.
Aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan lagi. Aku makin pasrah ketika kenikmatan ini menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung kontolku. Seluruh tubuhku bergetar hendak menerima pelepasan yang luar biasa.
“Laaaa… gue udah mau keluar… nihh… Elo… masih… lama… nggak…?â€, rintihku.
“Sa.. bar… se.. bentarrrr… sayaangg… sama.. samaaa… gue… juga… hampir… keluarrr… oohhh… ahhhggghh…â€, pantatnya menekan kontolku dengan kuat.
Mukanya berusaha menengok ke arahku berusaha mengulum bibirku. Kudekatkan bibirku agar dia bisa mengulumnya.
Bersamaan dengan itu…
“Aaaahhhh…â€
Kontolku menyemprotkan air mani ke dalam lobang memeknya berkali-kali. Sampai cairan putih itu meleleh ke pahanya dan sempat menetes ke lantai. Tak kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran di memeknya. Ella berjongkok memegang kontolku. Lalu ia menjilat dan mengulum kontolku yang masih berlumuran sperma. Dia menelan semua spermaku sampai kepala kontolku bersih mengkilat. Dia kelihatan tersenyum bangga.
Ella kembali berdiri memandangi penuh kepuasan. Tubuh Ella terjatuh lemas membebani tubuhku, badannya bergetar merasakan orgasme. Ella memandangku tersenyum, disertai dengan nafas yang masih terengah-engah. Kami pun berpelukan dalam tubuh penuh keringat dengan alat kelamin kami masih saling menyatu. Bibir kami saling mengecup dengan mesra, sambil memainkan bagian-bagian sensitif.
Kami membersihkan diri bersama sebelum beranjak keluar WC. Selama kami mandi kami saling mengutarakan sesuatu hal. Iseng-iseng aku bertanya mengapa dia mau menerima perlakuanku barusan.Ternyata Ella mengatakan bahwa selama ini dia sudah lama menyukaiku, namun ia tidak berani mengutarakannya, sebab malu sama teman-temannya. Aku sempat tertegun mendengarnya. Kemudian aku juga mengatakan bahwa aku juga suka padanya. Seakan dia tak percaya, tetapi setelah kejadian tadi kami menjadi saling menyayangi. Kami kembali berpelukan dengan mesra sambil saling mengecup bibir.
Aku sempat khawatir kalau Ella hamil, sebab aku mengeluarkan spermaku di dalam memeknya. Aku tidak mau menikah, aku belum siap jadi bapak. Biarlah, kalaupun Ella hamil, aku akan membuat suatu rencana. Lagipula kami melakukannya baru sekali, jadi kemungkinan dia hamil kecil peluangnya.
Selesai mandi aku menyuruh Ella keluar belakangan, aku keluar duluan agar bisa mengamati keadaan. Setelah tidak ada orang satupun, barulah Ella keluar, kemudian kami pergi berlawanan arah dan bertemu kembali di suatu tempat. Sampai saat ini hubunganku dengan Ella masih berjalan baik, cuma kami belum mengulang apa yang kami lakukan di WC dulu.
Beberapa minggu setelah kejadian itu aku mendengar fakta dari teman-temannya bahwa Ella itu sebenarnya cewek yang haus seks. Dia juga telah bersetubuh dengan banyak pria, baik dari kalangan mahasiswa atau om-om. Makanya aku sempat curiga waktu kami bersetubuh dulu, sebab walaupun memeknya masih rapat seperti perawan, namun aku tidak merasakan menyentuh selaput daranya, bahkan aku sama sekali juga tidak melihat darah yang keluar dari lubang memeknya.
Ketika itu aku masih kuliah di PTS di pulau Jawa. aku tinggal di suatu rumah dimana
dalam 1 lantai ada beberapa kamar yg dihuni oleh aku dan teman2ku. suatu saat, salah
satu temanku dikunjungi oleh 2 orang adiknya yg ingin berkunjung dan jalan2 dikota
kami. beruntungnya bagi kami penghuni lantai 2 tsb adalah bahwa adik2nya temanku itu
adalah 2 cewek yg sangat2 cantik. yg pertama sebut saja N, berumur 17 tahun, masih
sma sedangkan yg kedua, sebut saja C, masih smp dan berumur 14 tahun. Teman2ku
seringkali mencuri2 pandang ke arah N karena memang tubuh N memang sangat sintal dan
menggoda birahi kami mahasiswa2 tuna susila.
Tapi entah kenapa, aku sangat tertarik dengan C dan sepertinya C juga tertarik dgn
aku sebab C sering kutangkap basah sedang melirik aku dengan genit dan malu2. Senyum
malunya ketika ku tangkap basah sedang melirik aku semakin membuat nafsuku membara
dan membuatku utk berniat ngobrol dengannya. Sore itu aku berkesempatan ngobrol
dengannya, yahh rada susah juga ngobrol dengan anak SMP sedangkan aku yg sudah
kuliah ini tapi ya sudah asal ku bisa melihat C dari dekat… maksudku adalah, aku
ingin mengingat wajah dan keindahan tubuhnya sehingga malam nanti aku bisa onani.
Tapi ternyata gayung bersambut, C sangat antusias dengan obrolan basi yg aku
suguhkan shg aku pun segera berniat utk melakukan kontak fisik dengannya. Aku mulai
dengan mencubit lengannya dan ngelitikin pinggangnya. Wahh…. semakin ku sentuh
kulitnya, semakin keras pula otongku jadinya…. Rasanya ingin segera ku kocok
burung kekarku ini… tapi sudahlah ku tahan dulu…. orang sabar banyak rejeki kata
orang2…..
Setelah puas meng-grepe2 C, lalu kita pun bubar, dia kembali ke kamar temanku itu
bersama kakaknya sementara aku pun kembali ke kamarku. Ahhhh… bikin tugas rada
males, maklumlah hari ini hari jumat… besok sajalah pikirku. Lalu aku pun
menyalakan laptopku dan segera bermain-main dengan Photoshop…. iseng saja aku
meng-edit foto2 aku dan anak2 kost…. walaupun kita laki2 tulen dan suka berkunjung
ke panti pijat plus plus, tapi aku dan anak2 memang suka foto2.. no nude loh tapinya.
Tanpa terasa malam telah tiba dan ketika aku lagi asik2nya meng-edit foto anak2,
tiba2 ku dengar pintu kamarku ada yg mengetuk… lalu ada yg manggil, “mas…
lagi di kamar ga?†terdengar suara lembut bertanya….
“wah, siapa nih yg nyariin..†pikirku. Kubuka pintu dan berdiri C didepan
kamarku, dia mengenakan celana pendek ketat dgn tanktop tanpa bh. terlihat sembulan
payudaranya yg tidak begitu besar (maklum masih smp), dan kulihat betapa mulus kulit
putihnya, lehernya dan punggungnya…
“masuk masuk…†kataku dengan cepat…. pikiranku langsung mesum, “wah kesempatan
nih†kataku dalam hati.
“lagi ngapain mas, kok ngga jalan2 sama anak2 yg lain?†C bertanya. “ahh ngga, lagi
males aja keluar kost-an… aku lagi isengin foto anak2, mau lihat?†kataku. “liat
dong mas†katanya begitu antusias.
Aku pun segera duduk di depan laptopku, dan menunjukkan hasil foto anak2 yg sudah
ku isengin.. dia pun tertawa melihat foto2 hasil keisenganku itu. lalu ku suruh dia duduk jadi biar aku saja yg berdiri (aku cuma punya 1 kursi di kamarku). tanpa kuduga C malah
berkata, “aku dipangku mas aja deh, biar sama2 bisa duduk.â€
“ok boleh juga,†kataku semangat.
Ketika pantatnya duduk di pahaku.. ahhhhhh enak sekali rasanya… burungku segera
mengeras, dan diapun merasakan itu walaupun dia tidak bilang apa2…. †‘dek bangun sebentar deh†kataku (maklum posisi burungku yg rada kejepit) lalu ku
betulkan posisi burungku yg sudah menggeliat itu, lalu dia pun ku pangku lagi.
Sekarang pas sekali posisi burungku berada di belahan pantatnya dia.
Dari belakang dia ku ajari berbagai trik photoshop. setiap kali ku berbicara, aku
bisikkan trik2nya ke kupingnya dia sehingga aku bisa mencium bau wangi badannya…
Dan setelah beberapa menit, kuberanikan diri utk memeluk dirinya dari belakang, dan
melihat C yg tidak menolak, aku lalu memberanikan diri utk merayunya…. †kamu kok
wangi sekali ‘dik?†kataku sambil mencium leher dan pipinya. Dia hanya tersenyum
malu dan tidak menjawab. Lalu ketika dia menengok ke arah ku, aku pun dengan segera
melumat bibirnya yg mungil dan berwarna pink itu… ohhh nikmat sekali bibir C ini.
begitu lembut dan begitu mungil….. sambil mencium bibirnya, tanganku segera
meremas-remas payudaranya yg baru mulai tumbuh itu…. kurasakan burungku sudah
keras sekali, dan dengan segera tubuh C segera ku goyang2kan maju dan mundur shg aku
bisa merasakan gesekan nikmat di burungku ini…. setelah itu ku buka tanktop, kulihat betapa ranum badan C ini… kulit putihnya smakin membuat nafsuku menggila…
lalu kubuka celana pendek ketatnya itu dan kulihat vaginanya yg berwarna pink tanpa
ditumbuhi sehelai rambut pun…. wahhhhhhhhhhhhhhh………..
Setelah kuciumi seluruh badannya, aku pun langsung menciumi lubang kenikmatan itu
dan kulihat C menutup mata dan menggeliat keenakan… “enak dik?†tanyaku. “enak
banget mas.†sahutnya singkat. Setelah menciumi vaginanya, aku pun segera mengambil posisi..
ku tindih badannya dan kulumat kembali bibirnya sementara tangan kananku memegang burungku yg sudah berada di depan vaginanya. Sambil terus kucium, kumasukkan burungku
perlahan-lahan…. walaupun V-nya sudah basah, namun palkon ku yg rada besar ini mengalami kesulitan utk masuk ke dalam…. kupaksa sedikit, lalu… “awwww… sakit
mas…†katanya sembari meringis kesakitan…. “iya gapapa, sakit sedikit sekarang
tapi nanti enak kok dik†kataku sembari terus kusodok ke dalam vaginanya dan ku
goyang maju mundur….. ohhhhhh enak sekali vaginanya C ini… begitu ketat dan
hangat, belum pernah kurasakan vagina seperti ini sebelumnya….
akhirnya burungku bisa masuk seluruhnya kedalam vaginanya dan C juga tidak lagi berkata sakit. sambil kutindih dan kupeluk tubuhnya, kucium bibirnya dan terus ku gerakkan burungku keluar masuk vaginanya…… rada2 susah bagi burungku utk gerak maju mundur karena vagina C ini masih ketat sekali rasanya, dan nikmatnya bener2 tidak ketulungan….
Entah C klimaks atau tidak, tapi yg jelas aku sudah tidak tahan ingin ngecrot yg
sebanyak-banyaknya karena tidak terasa sudah 15 menit lebih kami bercinta…
kulihat ke arah vaginanya, dan kulihat ada sedikit darah di burungku dan di sprei
kasur… “pasti darah keperawanannya†pikirku.
“dik, mau udahan apa terus?†tanyaku. “terserah mas aja deh….†katanya…. ya sudah,
aku memutuskan utk ngecrot saja sebentar lagi.
Aku pun mempercepat gerakan maju mundurku sehingga aku bisa ngecrot…. “dik, kamu
udah pernah mens belum?†tanyaku. “udah mas.†jawabnya sambil kembali menutup mata
dan menggigit bibirku lagi… “wah, bisa hamil nih kalo di keluarin di dalemâ€
pikirku.
Maksudku utk mengambil kondom sebelum aku ngecrot ternyata tidak kesampean sebab
tiba2 … CROOOOOOOOOOOTTTTT……. CROOTTTT CROTTTTT…….. ahhhhhhhhhhh…….
CROTT CROT….. spermaku menyembur dengan ganasnya di dalam vagina C… kulihat ada kenikmatan diwajah C, dan kurasakan hangatnya vagina C setelah kusembur dgn spermaku….. “enak dik?†tanyaku. “enak bgt mas…†katanya sembari tersenyum malu. Lalu kupeluk tubuhnya dgn erat dan kucium bibirnya kembali.
Lelah sekali rasanya dan bbrp menit setelah klimaks, kami berdua masih berpelukan
ditempat tidur….. uuhhhh….. lemas sekali, belum pernah aku bercinta sampai
selemas ini sebelumnya.
sepintas ada kecemasan dlm pikiranku, “wah bagaimana kalo nanti C hamil nih?â€
tanyaku dalam hati….. namun kecemasan itu tidak berlangsung lama karena C menciumku dengan lembut dan perasaan enak, puas, dan nafsu yg terpuaskan semuanya tercampur
jadi satu dalam ciuman itu.
“dik, jangan bilang sama kakak kamu ya…. mas bisa dimarahin nanti.†pintaku. “iya
mas, aku ngga bilang sama siapa2.†katanya dgn cepat.
setelah beberapa menit, kucabut burungku yg masih berada dalam vaginanya, lalu aku
berdiri di samping tempat tidur, sementara C masih dalam posisi berbaring, lalu
ku dekatkan burungku ke mulutnya…. dia terlihat bingung, “oh iya aku lupa,
C masih SMP†kataku dalam hati…. “dik, emutin burung mas yah, mau kan? enak
kok rasanya tapi jangan digigit yah!†pintaku. tanpa banyak protes, dia pun
langsung mengulum burungku dengan lahapnya.
Setelah beberapa menit, “udah dik.. udah cukup.†kataku. setelah kulihat jam, aku
baru menyadari bahwa sebentar lagi anak2 bakal balik ke kost-an. harus cepet2 pake
baju nih, kalo ketauan bisa gawat….
Kami pun segera mengenakan baju masing2 dan lalu berpelukan sambil nonton tv. tidak
lama setelah itu terdengar suara2 brisik anak2 yg sudah kembali dari jalan2….
“Nyet, gw bawain nasi goreng nih…. blm makan kan lo?†salah satu temanku berkata
dari teras lantai 2 kost-an kami… aku dan C pun segera bangun dan keluar kamar
sambil menyambut mereka yg baru balik jalan2…. tidak ada kecurigaan dari mereka yg
melihat kami berdua keluar dari kamar dengan wajah sedikit lelah… “yahh untunglah,ternyata semua berjalan lancar sesuai dengan rencana…. †kataku dalam hati sambil
tersenyum puas. dan kulihat C melirikku sambil tersenyum simpul seperti biasa……
Oh Nikmatnya bermain dgn perawan muda…..
Ratih adalah adik kelasku. Dia angkatan 96 sementara aku sendiri
adalah angkatan 94. Aku berkenalan dengannya ketika saat itu kita
bersama menjadi panitia disebuah pameran.
Ratih sebenarnya tidak terlalu cantik, tapi cukuplah manis. Kulitnya
agak sawo matang. Tingginya sekitar 165-an cm. Bertubuh padat,
payudaranya tidak terlalu besar malah cenderung kecil tapi berputing
besar, perutnya liat dan pinggulnya OK banget, pantatnya gedhe dan
penuh padat. Selangkangannya empuk, hangat dan berambut agak jarang
sehingga lipatan-lipatan daging vaginanya terlihat jelas bergelambiran
menutupi lubang vaginanya yang dalam dan penuh dengan denyutan-
denyutan kuat. Klitorisnya besar dan tampak menonjol merah tua
berkilat jika bibir-bibir yang menutupinya dijembeng.
Secara umum aku telah berteman dengannya nggak terlalu lama, tapi
sikap permisifnya telah membawaku ‘merasakan’ kehebatan tubuhnya. Aku
bahkan nggak harus berpacaran dengannya untuk bisa merasakan betapa
ketat dan liatnya tubuhnya.
Kejadiannya terjadi pada suatu malam sekitar jam 20.00-an di kamar
mandi suatu gedung pertemuan yang besar dikotaku. Ketika itu Ratih
memintaku untuk mengantarnya pulang karena dia sedang menjaga pameran
disana. Aku datang disana sekitar jam 19:45-an dan melihat pengunjung
pamerannya begitu banyak. Selain Ratih disana sebenarnya masih ada 4
orang yang lain yang juga bertugas menjaga pameran. Sampai suatu saat
Ratih memintaku untuk mengantarnya kekamar mandi dibagian lain dari
bangunan itu. Maklum selain area itu besar, juga terkenal katanya agak
angker.
Kami berdua menuruni tangga yang menuju tempat pameran. Dan berjalan
berduaan menuju bagian belakang dari bangunan itu.
“Rat, katanya disini angker ya!†Aku menggodanya sambil menunjuk
sebuah bangunan yang berbentuk seperti rumah kecil dengan pintu-pintu
seperti sel penjara.
“Ih Mas Ari, nggak ah!†Dia mendekat dan mencubitku dan kami berdua
berjalan terus sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sampailah kami dikamar
mandinya. Lampunya mati semua aku mencari semua saklar dan akhirnya
ketemukan sebuah yang menyalakan lampu kecil diatas dua kamar mandi
yang terpisah dinding setinggi sekitar 2 meteran.
“Tuh lampunya udah nyala, sana gih!â€
Ratih masuk kamar mandi dan sebentar kemudian aku mendengar suara
seperti mendesis atau seperti kran yang ditutupi separuh lubangnya
dengan tangan sehingga airnya memancar. Itulah bunyi cewek kalo lagi
kencing. Karena gelap suara itu terdengar jelas sekali.
Sebentar kemudian suara siraman-siraman air terdengar dan tak berapa
lama kemudian Ratih keluar dari kamar kecil itu. Entah kenapa suara
desisan air tadi membuat kontolku agak menegang. Bayanganku suara
mendesis seperti hanya keluar dari lubang yang sangat sempit. Nah
unsur sangat sempit inilah yang membuatku tegang. Padahal sempitnya
lubang kencing cewek khan belum tentu menandakan sempitnya lubang
vaginanya.
Ratih mendorong punggungku dari belakang karena aku menunggunya
didepan pintu ruangan kamar mandi itu dan melihat kedepan.
“Kalo dari sini bagus banget yo itu!†aku berkata sambil menunjuk
bangunan utama menara apartemen yang baru dibangun yang diberi lampu-
lampu kecil diatas tiap jendelanya.
“Bagus apa?†katanya menggodaku sambil mendorongku tapi karena aku
tetap diam ditempat, dia jadinya memelukku dari belakang, sebentar
saja, kemudian dia memisahkan diri. Dan berdiri dibelakangku.
“Udah?â€
“Udahâ€
“Suaranya keras banget!â€
“Ih ngeres, nggak-nggak-nggak!†aku tertawa perlahan.
“Keras banget, bener!â€
“Yaa.. gimana lagi, emang dari sononya kayak gitu!†Katanya sambil
mencubitku.
“Rat, kita mbaliknya kesana nanti aja ya. Disini dulu saja sebentar!â€
“Ngapain disini, bau!â€
“Ala cuek aja!†Aku menarik tangannya perlahan sehingga dia berada
disebelahku. Kami terdiam beberapa saat demi menyaksikan pemandangan
yang memang indah justru dikegelapan malam.
“Mas katanya kalo berduaan dikegelapan kayak gini, pihak ketiga adalah
setan!â€
“Iya, setannya bisa kayak aku atau kayak kamu!â€
“Apa iya? Setan kok manis kayak gini!â€
Aku melihatnya dikegelapan malam, tingginya hanya sebahuku lebih
sedikit, tersenyum manis (emang manis bener kalo Ratih tersenyum).
Entah kenapa tiba-tiba aku merangkulkan tanganku kepinggulnya dan
menariknya mendekat kearahku. Tubuhnya menempel ketubuhku dan aku
merasakan hangat tubuhnya dipinggul menembus kain-kain pakaian kami
(setidaknya empat lapis, celana dalamnya, celana jeansnya, celana
pantalon dan celana dalamku).
“Tuh setannya Mas Ari khan?â€
“Apa iya, masak gini aja setan?â€
“Ya iya, kalo didiemin nanti kemana-manaâ€
“Apanya?â€
“Tanganmu itu!â€
“Lho emangnya tanganku ngapain?â€
“Nggak!â€
“Ratih-ratih, kamu memang manis!â€
“Gombal!â€
“Ya udah, kami nggak manis tapi muanis banget!†Sambil tertawa kecil
aku semakin merapatkan pinggulnya kearahku. Sesekali aku merasakan
daging pantatnya yang empuk tapi liat dan hangat.
“Nggg…!†Dia merengek manja dan merapatkan punggungnya kedadaku
sehingga sekarang dia berada didepanku. Kali ini aku merangkulkan
tanganku sehingga telapak tangannya berada diatas perutnya sehingga
otomatis pantatnya tepat mendarat empuk didepan selangkanganku.
Kadangkala dalam situasi seperti itu aku bisa menahan diri untuk tidak
ereksi sehingga tidak terlihat bernafsu, sehingga kehangatan pantat
besarnya itu tidak bisa membuat kontolku bangkit meskipun tadi sempat
terbangkit juga. Aku menggerakkan tanganku satunya sehingga keduanya
berada diatas perutnya. Ada sedikit kerutan lemak, tetapi secara umum
Ratih seksi sekali.
“Nggak ngganjel khan?â€
“Apanya?â€
“Ini†sambil berkata aku menekankan pinggulku sehingga terasa
keempukan pantatnya mengalirkan kehangatan dibatang kontolku.
“Kok masih empuk mas?†Pertanyaan lugas tapi akibatnya sedikit
merangsangku sehingga akhirnya kontolku mulai bergerak membesar. Aku
masih merangkul perutnya.
“Siapa bilang, tunggu aja sebentar lagi, kalo marah doi nakutin lho!â€
“Takut apaan? Aku khan mahasiswa. He..he nggak ada hubungannya ya
mas!†Sambil berkata-kata Ratih bergerak-gerak kekiri dan kekanan
sehingga otomatis seperti mengelus-elus batang kontolku yang segera
bangkit dengan cepat dan tak berapa lama kemudian udah mengeras
dibalik celana dalamku. Untung tadi posisinya bener sehingga tidak
terasa sakit karena tepat berada diantara belahan pantatnya itu. Tapi
terasa sekali keras, ditambah lagi celana kain yang aku pakai semakin
mengalirkan ‘kekerasan’ itu.
Beberapa saat kami berdua terdiam demi merasakan sesuatu telah
mengalir diantara kami. Aku merasakan empuk dan hangat pantatnya
‘menakup’ batang kontolku. Entah apa yang dirasakan Ratih, merasakan
silinder panjang dan keras diantara bongkahan pantatnya.
“Mas Ari, udah pernah begituan?â€
“Begituan apa? Lari lintas alam!â€
“Sst… nggak seneng aku!â€
“Kalau nggak seneng, ya udah putus aja!â€
“Iya khan, sukanya bercanda melulu!â€
“Aku memang anggota Srimulat kok!†Aku menggerakkan tangan kananku
perlahan keatas sehingga berhenti tepat dibawah payudara kanannya.
Sementara tangan kiriku aku gerakkan kebawah sedikit sehingga mungkin
pas di ujung area jembutnya. Ratih kurasakan agak menempelkan tubuhnya
lebih erat kedadaku. Aku merasakan punggungnya yang lebar menempel
hangat didadaku, rambutnya yang sebahu tercium harum sekali
dihidungku. Aku merasakan adanya peningkatan dari detak jantungnya
terasa ditangan kananku.
“Mas…!â€
“Apa?â€
“Nggak!â€
“Kamu kok sukanya gitu, ngomong terus nggak diterusin, jadinya khan
nggantungâ€
“Anu….. tangannya dinaikin dikit dong!†Pasti yang dimaksudkannya
adalah tangan kananku yang berada pas dilembah payudaranya.
“Nggak ah, aku takut ketinggian!â€
“Tu khan, serius dong!†Belum selesai dia mengucapkan kalimatnya,
tangan kananku aku tangkupkan pas diatas payudaranya. Emang kecil
karena hanya terasa seperti gundukan kecil saja. Dengan gerakan
seperti tidak sengaja aku menggerakkan tanganku kebawah sehingga
mengelusnya secara perlahan. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit
seperti tergial. Dia memegang tangan kiriku.
“Kecil ya mas!†suaranya berbisik perlahan nyaris terdengar seperti
mendesah.
“He-eh, tahu sebabnya. Karena jatahnya dipake buat nggede’in ini!â€
Sambil berkata itu aku menggoyangkan pinggulku kekiri dan kekanan
sehingga batang kontolku yang mulai kehilangan ‘tegangan’ kembali
menegang demi ditekan kearea diantara dua bongkahan besar pantatnya
itu.
“Hhhh…. ini khan buatan yang diatas sana!â€
“Heeh, kamu harus bersyukur!â€
Sambil terus bercakap-cakap aku terus melakukan rabaan-rabaan
dipayudaranya itu. Sementara tangan kiriku mulai berani mendekat ke
area venusnya yang menggunduk meskipun dia dalam posisi berdiri, tanpa
ada hambatan sedikitpun darinya. Detak jantungnya terasa semakin cepat
saja. Sebentar kemudian terdengar sesekali suara nafas tertahannya.
“Rat?â€
“He eh?â€
“Kamu udah pernah begituan?â€
“Belum pernah, cuman udah pernah ngrasa’in enaknyaâ€
“Kok bisa?â€
“Pake ini!†Sambil berkata dia mengangkat tangannya dan jemari
tengahnya diangkat sehingga aku tahu maksudnya.
“Emang bisa enak?â€
“Tinggal gimana caranya khan!†suaranya mulai keluar nada-nada manja
yang erotis.
“Jadi kamu udah nggak…?â€
“He-eh, kenapa keberatan? Mas Ari pasti juga udah nggak toh?â€
“Iyaâ€
“Pake ini juga?†Katanya sambil mengangkat tangannya lagi dan
membentangkan jemarinya.
“Enggak!â€
“Lha pake apa?â€
“Pake ini!†Sambil berkata tersebut aku menggerakkan tangan kiriku dan
menyapu kehangatan selangkangannya. Ratih merapatkan tubuhnya demi
merasakan elusan diarea vaginanya. Aku nggak hanya menyapunya sekali
tapi menggerakkan jemariku menggeranyanginya dan kira-kira pas diarea
diatas klitorisnya aku mengucek-nguceknya perlahan. Sementara tangan
kananku aku selipkan diantara sweaternya dan segera menyentuh perutnya
yang hangat dan keatas terus sampai kutemukan kain bra-nya dan
jemariku mencari-cari celah dibawahnya dan segera ketika ketemu segera
semua jemarinya menyelinap masuk dan menemukan daging yang empuk
walaupun kecil tapi dihiasi oleh daging liat seukuran batang rokok
yang terasa keras dan mengacung. Aku menjepitnya dengan jari telunjuk
dan jari tengah dan memutar-mutarnya perlahan. Aku merasakan tubuh
Ratih mengejang demi merasakan rabaanku. Kontolku untuk kesekian
kalinya menegang keras sekali dan aku merasakan nafsuku semakin
memuncak demi merasakan getaran tubuhnya disekujur tubuhku.
“Rat, kita matiin lampunya yuk!â€
“He..hh!†suaranya he-ehnya terdengar begitu manja. Efeknya dari
telinga langsung seperti menggosok kepala penisku sehingga seperti
mengedutkan aliran darah dalam penisku. Aku mematikan saklar dan
menariknya masuk kekamar mandi tersebut. Karena gelap aku pikir tak
perlu menutup pintu sehingga dari dalam ruangan yang gelap terlihat
ruangan luar yang agak lebih terang. Aku menariknya dan mendorongnya
ketembok sehingga tangannya menumpu pada tembok pada posisi berdiri.
Perlahan-lahan aku membuka kancing celana jeansnya dan menarik
resluitingnya kebawah. Aku menariknya kebawah sampai kira-kira sepuluh
centimeter dari lutut. Sekarang terasa kain lembut celana dalamnya
ditanganku sedikit terasa lembab, mungkin karena air. Aku menariknya
perlahan-lahan juga sehingga sekarang Ratih tidak memakai apa-apa lagi
dibawah.
Perlahan-lahan sekali aku menggerakkan tanganku keselangkangannya dan
menemukan segerumbulan rambut yang halus tapi nggak terlalu lebat.
Sehingga pada elusan pertama langsung kurasakan daging bibir
vaginanya, rasanya sebagian halus seperti bagian dalam bibir, basah
dan licin, sebagian lain seperti kulit di sisi bagian luar siku
tangan. Aku menyeruakkan jemariku kedalam ketebalan bibir-bibir
vaginanya itu dan menemukan kelicinan akibat mulai keluarnya cairan
vaginanya (bagi cowok yang belum pernah merasakan licinnya cairan itu,
coba deh kalian masturbasi atau rangsang penis kalian sampai keluar
cairan bening – bukan sperma lho – dari ujung penis kalian, nah kira-
kira seperti itulah cairan vagina itu cuman lebih kental lagi dan
berbau khas yang tak sanggup aku deskripsikan dengan baik sampai
sekarang).
Ratih semakin menempelkan tubuhnya ditubuhku dan aku bisa merasakan
langsung betapa dahsyatnya pantatnya sampai mendorongku kebelakang.
Aku terus mengelus-elus vaginanya sampai aku merasa Ratih betul-betul
udah naik. Aku sendiri sebenarnya udah nggak kuat banget.
“Mas Ari!â€
“Apa, sayang!â€
“Pelan-pelan ..ya…mas!†Aku betul-betul udah nggak kuat lagi. Aku
mendorong punggungnya sehingga dia menungging. Nggak perlu bersudut 90
derajat untuk membuat vaginanya menghadapku, baru sekitar miring 45
derajat pantatnya telah mendongakkan vaginanya tepat setinggi penisku
berada. Aku mengeluarkan penisku dari dalam celana dan merasakan
kebebasan ketika batangnya menjulur keluar dengan bebas dan segera aku
mengarahkannya kevaginanya didalam kegelapan. Aku menggerak-
gerakkannya sehingga terasa berada diantara cekungan bibir-bibir
vaginanya.
“Udah….pas belum?†aku bertanya nyaris berbisik.
“He..eh!â€
Aku mendorongnya perlahan-lahan. Terasa seperti mendorongnya kedaging
masif saja, tidak ada kemajuan yang berarti. Rasanya kepala penisku
masih tetap ditempatnya, tidak ada celah yang terbelah.
“Rat, buka paha kamu dikit dong! ………….. Nggak bisa masuk nihâ€
aku berbisik dalam keadaan terangsang berat. Ratih menggerakkan
kakinya membuka tapi hanya selebar celananya yang mengikat kedua
pahanya. Aku kembali mendorongkan pinggulku mendorong ‘ujung tombakku’
untuk masuk. Kembali terasa mentok. Aku mengambil posisi lagi.
“Kayaknya nggak pas deh mas!†sambil berkata demikian Ratih merenggut
kepala batangku, meremasnya sebentar kemudian mengarahkannya
kevaginanya. Kali ini nafsuku semakin memuncak demi merasakan kepala
batangku mulai terasa terjepit. Aku terus mendorongnya perlahan
sehingga seluruh kepala penisku mulai menancap, perlu usaha keras
untuk melakukannya. Tangan kananku memegangi bagian luar pantatnya dan
tangan kiriku memegangi pangkal batangku untuk menjaganya agar tidak
terlepas dari jalurnya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan
mendorongnya perlahan-lahan kembali. Ratih menumpukan tubuhnya dengan
dua tangannya didinding kamar mandi itu. Kembali rasanya seperti
menemukan tembok daging yang liat.
“Terus mas!†Ratih berbisik mesra membuatku terus bertenaga untuk
menaklukkannya. Aku mendorongnya sedikit kuat dan kali berhasil
memasukkan sekitar 5 cm lagi sehingga ditambah panjang kepala
batangnya maka lebih dari separuh batangku telah masuk kedalam
vaginanya. Lagi-lagi ini perlu usaha keras karena daya cengkeramnya
ternyata jauh lebih kuat lagi. Bukan jepitan yang pasif tapi seperti
mengalirkan denyutan darah dan urat-uratnya keseluruh batang penisku
yang masuk, sehingga seperti gerak peristaltik dalam ilmu biologi.
“Ratih .. sayang!â€
“Mas Ari!â€
Dengan genjotan terakhir, akhirnya berhasil pula seluruh batangku
masuk. Aku terdiam beberapa saat demi merasakan tubuhku seperti
dipancangkan oleh cengkeram dahsyat lubang vaginanya. Perlahan lahan
aku memasangkan kedua tanganku memegangi pantatnya dan mulai
menggunakannya sebagai tumpuan untuk menarik penisku keluar. Perlahan-
lahan tapi pasti penisku mulai bergerak keluar dari cengkeramannya dan
ketika seluruh batangku mulai terasa bebas dari jepitannya aku
mendorongnya lagi. Kali ini tidak seketat tadi, mungkin karena ototnya
telah mengembang. Aku mulai bergerak dengan teratur dengan tempo yang
lambat sekali sehingga dapat kurasakan setiap inci permukaan lubang
vaginanya yang seperti daging ikan cumi yang masih mentah tapi hangat.
Setiap dua atau tiga kali tusuk dan tarik, aku berhenti sejenak demi
merasakan akan ejakulasi. Demikian seterusnya mungkin sampai sekitar 5
menitan, entah berapa kali aku menusukkan batang kontolku kedalam
vaginanya, yang jelas setiap kali kulakukan, rasa nikmatnya semakin
bertambah saja dan pas dekat-dekat ejakulasi aku menggerakkan batang
kontolku menusuk-nusuknya dengan sedikit cepat. Aku mendengar suara
sesekali seperti bunyi kecipak yang keluar akibat benturan buah
pelirku dengan selangkangannya atau akibat letupan jepitan daging
vaginanya dikepala kontolku yang menimbulkan getaran suara itu.
Rasanya merangsang sekali. Jika kita menyenggamai seseorang dan
mendengar kecipak bunyi divaginanya akibat dari gerakan kita, rasanya
seperti menegaskan bahwa vagina seseorang itu udah layak untuk kita
senggamai. Apalagi jika dipadukan dengan bunyi rengekannya dibibirnya
dan gerakan-gerakan tak terkontrolnya setiap kali bunyi itu terdengar.
Ketika sampai waktunya aku menarik batang kontolku keluar dan berjalan
tertatih-tatih kepinggiran tembok disebelah Ratih yang masih
menungging dan mengocoknya dengan cepat dan ketika keluar aku
merasakan seperti seluruh cairan didalam tubuhku tersedot mengalir
melalui saluran dalam kontolku dan menyembur keluar dengan kuat.
Setiap semburannya mengejangkan tubuhku, pantatku terasa seperti kaku,
lututku gemetaran dan dadaku berdetak cepat sekali. Aku segera mencari
pegangan ditembok, kalo tidak aku bisa terjatuh dilantai. Sampai
beberapa saat aku masih berpegangan ditembok dan merasakan kontolku
mulai melemas.
Aku menoleh dan melihatnya dalam kegelapan telah merapikan pakaiannya.
Aku pun dengan tangan yang masih gemetar merapikan pakaianku lagi.
Tanpa membersihkannya aku memasukkan penisku kedalam celana dalam dan
merapikan celana kainku lagi. Aku mencuci tanganku yang berlepotan
sperma dan bau dari vaginanya. Dan menuntunnya keluar ruangan.
“Kamu hebat, sayang!â€
“Mas Ari jahat, aku belum nyampai! Hutang lho!†dia merengek dan
meletakkan tangannya dan dahinya dibahuku.
“Janji!†aku memeluknya Meskipun rasanya lama sekali aku melakukan
itu, ternyata kami keluar tidak lebih dari 20 menit dari tempat
pameran itu yang ketika kami kembali telah mulai ditutupi pintunya.
“Ratih tadi kemana toh? Dicari pak Bambang tadi!â€
“Aku nyari boneka di Hero sama mas Ari!†Bisa juga dia menjawab
sekenanya. Dalam hati aku berkata ‘udah dapat khan Rat! Boneka yang
bisa nyemprot!’. Aku berusaha tetap dinaungan kegelapan agar tidak
terlihat wajahku yang pasti berantakan sekali. Tapi tidak demikian
dengan Ratih, karena wajahnya sehari-hari memang begitu. Wajahnya khas
wajah erotis, yang cenderung kayak baru bangun tidur atau sedang
nggantung atau sedang nafsu.
Malam itu kami berdua pulang agak malam, karena aku mengajaknya makan
dilesehan dan ngobrol disertai perasaan baru tentang apa yang terjadi
antara kami. Beberapa hari kemudian ‘terpaksa’ aku harus menyelesaikan
tugasku tadi. Kami melakukannya dengan liar bagaikan dua ekor kuda
yang sedang menyalurkan birahi.
Seminggu kemudian baru aku sempat menelponnya.
“Haloâ€
“Halo, bisa bicara dengan Ratih?â€
“Sebentar ya!†terdengar suara memindahkan pesawat, ada suara musik
sebentar. Kost-kostnya cukup besar. Bentuknya mirip-mirip motel tapi
ada pagarnya dimana masing-masing kamar menghadap keluar/ ketaman. Ada
carport untuk masing-masing kamar. Kamarnya cukup luas, mungkin
sekitar 4×5-an meter berkamar mandi sendiri. Antara satu kamar dengan
kamar lain dipisah oleh semacam tembok sehingga seperti tersekat-
sekat.
“Halo!â€
“Ratih?â€
“Iya, mas Ari ya?â€
“He-eh, apa kabar?â€
“Jahat!â€
“Apanya?â€
“Katanya janji!â€
“Sorry lagi sibuk banget nih! Masih nggantung?â€
“He eh!â€
“Nggak kamu selesaiin sendiri?â€
“Nggak, khan itu tanggungan kamu mas!â€
“Iya ya! Besok malam?â€
“Aduh, aku ada janji! Lusa aja gimana?â€
“Iya deh! Dimana?â€
“Terserah mas Ari. Gimana kalo disini?â€
“Ok, ya udah deh!â€
Itulah yang selalu terjadi antara aku dan Ratih. Langsung dan tanpa
tedeng aling-aling. Pernah nggak kamu mbayangin lagi enak-enaknya
nyantai tiba-tiba seorang cewek duduk disebelah kamu dan langsung
berkata ‘mas tahu nggak aku tadi pagi nyobain begini’ sambil berkata
begitu dia menggesekkan jari tengah dan telunjuknya mengelus-elus
telapak tangannya menirukan gerakan mengesek klitoris. Atau tiba-tiba
seseorang bertanya ‘mas, itunya cowok itu ada tulangnya nggak sih?
Atau cuman otot?’ atau ‘mas, punyamu agak miring kekiri tuh!’. Nah
seperti itulah hubunganku dengan Ratih meskipun dia bukan pacarku.
Yang terjadi dulu, memang berkesan bagiku. Selama ini aku melihatnya
sebagai teman aja, jadi sah aja kalo kadang-kadang emang pas ngelamun
atau bahkan pas onani wajahnya terbayang atau pantatnya yang OK,
kadang malah kalo biasanya pas onani agak lama, begitu wajah dan
tubuhnya melintas diotakku, sebentar kemudian ejakulasilah aku. Malah
aku pernah menscan fotonya dan mengolahnya dengan Photoshop dan
menempelkannya kegambar-gambar cewek berpose telanjang atau lagi
beradegan senggama difoto. Satu karyaku dengan cara itu pernah
kusimpan sampai berbulan-bulan dan hanya kugunakan pas onani.
Nah, dengan kondisi seperti itu, janjian untuk nyelesaiin ‘tugas
berat’ itu memang sangat merangsangku. Berarti nanti khan kedatanganku
ke kostku pasti dengan persiapan memang untuk begituan. Kusebut tugas
berat karena aku nggak yakin aku bisa membuatnya orgasme jika
kemampuan vaginanya seperti itu. Aku sendiri udah pernah begituan
beberapa kali dengan pacarku yang dulu yang jika kuingat-ingat nggak
pernah bisa lebih lama dari 10 menitan. Padahal ketika aku melakukan
dengan pacarku itu, doi udah nggak perawan lagi dan vaginanya udah
longgar nggak seketat milik Ratih. Seringkali aku bisa mengatur irama
nafsuku jika pas onani kadang sampai lebih dari satu jam (rekorku
hampir dua jam). Tetapi dengan vagina beneran emang lain banget,
karena yang berperan bukan hanya jepitan dan cengkeraman nikmat di
kontol kita, tapi juga desahan nafas, hangat perut, paha, payudara dan
punggungnya. Apalagi jika doi orangnya ‘interaktif’, yang nggak hanya
telentang mengangkang pasif nungguin kita nyemprot, tapi terus menerus
melakukan ‘body language’ setiap kali ‘ditusuk’ (tahu nggak teman-
teman cowok? salah satu gerakan di senam body language kayak di ANTeve
tiap pagi itu – yang gerakannya berupa gerakan mendorong area pinggul
kedepan disertai mengempiskan otot perut – bisa membuat otot-otot
vagina bergerak menyempit sehingga menjepit dan mengenyot apa saja
yang ada didalamnya). Pertama kali begituan, aku bahkan udah ejakulasi
ketika pacarku itu baru memegang batang kontolku saja. Belum dikocok
apalagi dimasukkan kevaginanya. Dengan kondisi lagi ‘nggantung’ kayak
gitu, Ratih pasti nanti akan lebih agresif lagi.Aku segera mempersiapkan diri dengan baik. Tiap malam sebelum
pertemuan itu aku selalu menelan telur setengah matang, paling tidak
dua butir. Tiap mandi aku selalu mencuci kontolku dengan sangat
bersih, jembut yang nggak beraturan aku rapiin. Celana dalam yang
bersih aku siapin, nggak tanggung-tanggung aku beli beberapa yang
baru. Juga nggak lupa aku beli sebungkus kondom Durex, buat jaga-jaga.
Aku pikir begituan pake kondom pasti nggak enak karena hangatnya alat
vital masing-masing nggak bisa tersalurkan dengan baik. Emang mungkin
aku akan lebih tahan lama pake kondom, tapi aku nggak yakin apakah
Ratih mau ngerasain plastik divaginanya.
Tibalah hari yang kutunggu-tunggu. Sore itu aku bersiap diri sekitar
jam 19.00 sore, pake celana dalam baru untuk membungkus benda
kesayanganku itu, jembutnya udah rapi, nggak terlalu lebat tetapi juga
nggak habis-habis amat, batang dan pelirnya aku sabun sampai bersih
habis. Aku semprotin sedikit Polo Aqua agar ada nuansa harum, terus
pake celana jeans dan kaos, terus pake jaket. Aku masukin kondom
kedalam dompet. Dan segera naik motor dan meluncur ketempat kost
Ratih.
Sampai disana sekitar 19.20-an, aku langsung masuk kehalaman kostnya
dan parkir motor didepan kamarnya. Aku ketuk pintu perlahan.
“Ratih, ini aku!â€
“Sebentar!†terdengar suaranya dari dalam kamar. Aku tunggu sebentar
dan pintu terbuka. Yang pertama kulihat wajahnya yang manis tersenyum
dan menarik tanganku masuk. Aku ikut saja. Pintu ditutup dibelakangku
dan belum sempat berkata apa-apa dia mendorongku kepintu dan meraih
pundakku dan melumat habis bibirku. Agak beberapa lama aku merasakan
betapa ganas bibirnya melumat bibirku. Aku memegangi pinggulnya dan
merasakan hangat tubuhnya mengalir lewat tanganku. Didadaku terasa ada
dua tonjolan kecil yang keras dari putingnya yang menembus bajunya,
dia nggak pake BH. Aku pun nggak merasakan pinggiran celana dalamnya
ditanganku. Jadi tubuhnya hanya terpisah oleh kain tipis denganku. Aku
menggerakkan kedua tanganku turun dan menakupkan telapak tanganku
dipantatnya dan meremasnya. Terasa gerakan mengejang perlahan.
Sementara itu kontolku udah langsung in dengan tegak dan keras didalam
celana dalamku.
“Sebentar, sabar ah!†aku menarik bibirku dari lumatannya dan
memandanginya lembut.
“Jahat kamu mas!â€
“Ini aku udah disiniâ€
“Ayo kekamar!â€
Aku mendorong tubuhnya dan tertahan tangannya yang sedang mengunci
pintu.
“Motorkuâ€
“Biarin aja!, nggak ada yang perduli kok!â€
Aku mendorong tubuhnya dan merangkulnya sambil berjalan perlahan masuk
kekamarnya. Kamarnya cukup bersih, ranjangnya berseprei warna biru
bermotif kotak-kotak kecil warna putih. Disandaran ranjangnya
tersampir beberapa dalemannya.
“Langsung?†aku bertanya perlahan.
“Iya, mas Ari lepas dulu deh bajunya!â€
Tak ada pilihan lain, aku lepas celana, terus kaos dan jaket, sehingga
hanya bercelana dalam saja. Tampak batangnya udah mengeras miring.
Ratih tertawa kecil melihatku.
“Udah keras ya mas?â€
“Iya, udah dari kemarin lho! Kamu sih†Ratih mendekatiku dan merangkul
bahuku perlahan sehingga perlahan-lahan tubuhnya merapat kedada
telanjangku. Terasa ketika pinggulnya merapat ketubuhku ada sesuatu
yang memisahkannya yaitu batang kontolku. Aku meletakkan kedua
tanganku dipunggungnya melewati dibawah ketiaknya. Aku mencium
bibirnya perlahan dan mulai melumatnya. Bibir bawahnya agak tebal
sehingga enak banget dikulum, dimain-mainin. Sementara itu tanganku
mulai menggeranyanginya, aku temuin resluitingnya dan aku tarik
kebawah sehingga tanganku merasakan hangat punggungnya. Aku tarik
terus resluitingnya sehingga mentok kebawah pas diarea dekat ujung
pantatnya. Aku telusupin tanganku masuk kebawah pakaiannya dan
langsung meremas pantatnya itu dan menariknya keatas dan kebawah
sambil meremas-remasnya. Perlahan-lahan aku merasakan kain pakaiannya
meluncur turun kelantai ketika tangannya dibahuku ia turunkan sehingga
perlahan-lahan batas diantara kami mulai terbuka. Tangannya langsung
mencari kontolku dan tanpa tunggu waktu menarik celana dalamku kebawah
sehingga tiba-tiba kurasakan udara dingin AC serta hangat perutnya
dibatang kontolku. Dia menarik tubuhnya dari dekapan dan meletakkan
telapak tangannya dibatang kontolku dan menggerakkannya seperti
meremas yang berakibat kepala batangku terasa mentok besarnya.
Tiba-tiba dia menarik tubuhnya kebawah dan berlutut didepanku sehingga
batang kontolku pas berada didepan wajahnya. Aku memandangi wajahnya
dan berkata.
“Kamu mau?†nggak aku terusin karena konteks kita sama sehingga nggak
perlu selesain kalimatku untuk menunjukkan apa yang kumau.
“Kok wangi? Habis dilulur ya?â€
“Nggak kok, cuman tadi barusan dari salon, untuk dimasker!â€
“Punya kamu mantap banget deh mas, baru kali ini aku lihat sedekat
iniâ€
“Oh ya?†sambil berkata begitu aku menggerakkan tubuhku sehingga
mendekatkan kepala kontolku dalam genggamannya itu kebibirnya. Dia
tidak menghindar, sehingga aku berpikir dia mau melakukan fellatio
kepadaku. Ratih masih menggenggam batang kontolku dengan kuat, tapi
dia tidak juga mendekatkan bibirnya kepadanya. Dia malah mengangkat
batangnya keatas sehingga kepala kontolku mengarah kerambutnya. Aku
memegangi kepalanya perlahan dan mengelus rambutnya dengan lembut.
“Ayo Rat, tunggu apa lagi?†kataku sambil mendesakkan pinggulku lebih
dekat lagi kewajahnya. Ratih menggerakkan batang kontolku kebawah lagi
sehingga kepala kontolku lagi-lagi menghadap pas dibibirnya. Dia
kemudian mengeluskan kepala batangku kepipinya sehingga aku bisa
merasakan kehalusan kulit pipinya disekujur kepala kontolku. Akibatnya
kepala kontolku menjadi semakin mengeras seiring dengan gesekan halus
disekujur kulit penisku yang kasar berkerut-kerut. Aku melihat matanya
terpejam, adegannya mirip-mirip iklan sabunnya Lidya Kandow yang
mengeluskan sabun kepipinya, tapi sabunnya digantikan oleh kontolku.
Bukan itu saja, Ratih menggesekkan pipinya maju mundur sehingga kepala
penisku sampai ke daun telinganya dan sebagian rambut yang
menutupinya. Sementara itu bibirnya jadi mendekat kearea jembutku. Dia
mendongak masih dengan kontolku dipipinya.
“Aku suka yang rambutnya jarang-jarang kayak gini lho mas, kesannya
bersih tapi masih macho! Mirip-mirip dagunya Brad Pitt!â€
“Jadi doi mirip Brad Pitt dong?â€
Ratih melihat kontolku dan berkata
“Iya ya, tapi Brad Pitt pasti lebih alus kulitnya!†sambil dia
menggerakkan tangannya keatas sehingga mengelus batang kontolku yang
penuh urat. Rasanya greng banget merasakan elusannya itu.
“Tapi sama-sama berototnya khan?†kataku sambil agak sedikit tergial.
Sementara itu Ratih terus menggerakkan tangannya mengocok batang
kontolku. Setiap gerakannya ikut menarik kulit kontolku, mungkin itu
dikarenakan dulu aku sering sekali onani tanpa pakai pelumas, hanya
menggocok secara ‘garingan’, sehingga lama-kelamaan seakan-akan
seperti memisahkan antara kulit penis dan batang didalamnya (meskipun
secara fisik kontol yang kayak gini nggak menyenangkan untuk dilihat
karena terkesan kendor, tapi secara seksual rasanya enak sekali,
karena kulit-kulitnya yang menggelambir menjadi penggesek yang nikmat
bagi dinding-dinding lubang vagina. Jadi teman-teman cowok yang punya
adik laki-laki yang udah mulai gede, ajarin deh onani secara
‘garingan’ ini, dijamin bahagia hidup pasangannya
kelak…he…he…becanda nih!â€)..
“Mas?â€
“Iya …. He emm?â€
“Kamu sering ngocok ya?â€
“Dulu iya, sekarang kalo perlu aja!â€
“Oh begitu ya? Kalo kamu lagi begituan suka bayangin siapa sih?â€
“Kamu!â€
“Yang bener?â€
“Ya kadang-kadang kamu, Desy, Bu Ika, sama yang lain-lain. Tapi kamu
yang paling sering, nggak percaya?â€
“Nggak! Apa coba yang dibayangin dari aku?â€
“Aku suka bayangin kamu tidur telanjang bulat nggak pake baju sama
sekali, terus kamu menggeliat sehingga ….. begitu seterusnya deh!
Malu nyeritainnya!â€
“Ada yang bener nggak?â€
“Ternyata banyakâ€
“Misalnya?â€
“Ternyata kamu emang bener-bener hebat, bukan hanya dikhayalan ajaâ€
“Oh iya?â€
“Sumpah!â€
Ratih terus mengelus-elus batang kontolku sehingga mulai kurasakan
selangkanganku mengedut setiap kali tangannya bergerak mentok
kepangkal penisku yang menarik seluruh kulit batang penisku dan
mengeraskan kepala kontolku sepenuhnya serta membersitkan cairan
bening diujung lubangnya. Aku mengira dia akan segera memasukkannya
kedalam bibirnya ketika dia mengarahkan kepala kontolku pas didepan
bibirnya sehingga aku pun mendesakkan pinggulku maju secara agak
memaksa karena nafsu yang udah memuncak. Tapi ternyata aku salah,
ketika aku mendesak maju dia malah mengangkat kepala batangku sambil
sedikit menjerit sehingga wajahnya menabrak bagian bawah batang
kontolku dan bibirnya menabrak pas dipangkal batangnya.
“Ayo Rat, lakukan deh!â€
“Apa mas?â€
“Ayo masukin kemulut kamu deh, aku udah nggak kuat lagi nih!â€
“Nggak mau!â€
“Ayo dong Rat, cobain deh!â€
“Nggak mau, jijik!â€
“Nggak apa apa kok, bener!â€
“Sekali nggak tetap nggak, Ratih pake cara Ratih sendiri aja ya?â€
“Sekali aja deh Rat, please!â€
“Kita nggak jadi begituan deh†Ada wajah ngambek diwajahnya. Aku
panik, kalo dia emang bener-bener berubah pikiran, khan sayang banget.
Vagina sedahsyat itu masa harus dilepaskan. Akhirnya dengan
menghilangkan keinginan untuk dioral, aku berkata. “OK, deh!â€
“Nah gitu dong! Mas Ari nikmati aja ya, biarkan Ratih beraksi!†Sambil
berkata begitu dia menarik kontolku sehingga otomatis seluruh tubuhku
ikut tertuntun dan berdiri membelakangi ranjang, terus dia mengangkat
kontolku keatas sehingga seluruh tubuhku ikut tertekuk kebelakang
terus hingga akhirnya aku berbaring terlentang di pinggir ranjang,
separuh tubuhku diatas ranjang separuhnya lagi menjuntai dilantai.
Batang kontolku mengacung tegak keatas masih dalam genggamannya. Aku
nggak punya ide apa yang akan dilakukan Ratih terhadapnya. Aku hanya
bisa memandanginya dan merasakan tonjolan putingnya keras dan hangat
dipaha bagian dalamku.
“Ayo Rat, kamu mau ngapain tadi? Udah nggak sabar nih!â€
“Pertama kali Ratih mau bikin api, Mas Ari rasain aja ya!†sambil
berkata begitu dia menakupkan kedua telapak tangannya dan menjepit
seluruh kepala dan sebagian batang kontolku diantaranya. Perlahan-
lahan dia menggerakkan kedua tangannya seperti layaknya gerakan
membuat api dari kayu (tahu khan gerakannya, jangan ditiru lho!). Aku
tiba-tiba merasakan rasa yang aneh, bukan nikmat tapi aneh. Kepala
penisku rasanya seperti sedang dikucek. Beberapa lama Ratih
melakukannya semakin lama semakin cepat. Lama kelamaan bagiku rasanya
udah mengganggu.
“Kok rasanya nggak enak, Rat?â€
“Ya, ini khan baru permulaan, pokoknya Mas Ari rasain aja, enak atau
nggak enak?â€
“Mending kamu gigit aja deh, Rat!. Sekalian!â€
“Tuh khan, maksa deh, dibilangin nggak mau! Nanti juga masuk, tenang
aja deh kamu mas!â€
“Iya deh, terus sekarang mau diapain lagi?â€
“Sekarang bikin api lagi tapi caranya beda!â€
“Terserah kamu deh Rat!â€
Ratih mengusap kepala penisku sambil bergerak mengocok perlahan,
sehingga akibatnya keluar cairan bening yang banyak sekali dari
lubangnya membasahi (tepatnya: melumasi) telapak tangan kanannya.
Kemudian tangan kirinya digenggamkannya mantap kesekujur batang
kontolku tepat diarea sebelum kepalanya. Sementara itu tangan kanannya
terbuka kearah bawah dan mulai bergerak memutar sehingga mengosok
kepala kontolku dengan pelumas dari cairan tadi. Pertama-tama rasanya
geli, terus lama-kelamaan emang mulai terasa panas yang enak, mungkin
akibat gesekan itu. Aku mulai merasakan pantatku mengetat, pahaku
mengejang dan menjepit tubuh hangat diantaranya. Aku pun mulai
mendesah merasakan aktivitasnya itu. Ternyata permainan kedua Ratih
ini terasa luar biasa. Aku seperti terasa akan kencing tapi bukan oleh
air kencing, seperti sesuatu sedang berputar-putar diselangkanganku.
Sebagian adalah rasa nikmat, sebagiannya lagi rasa panas, sisanya aku
tidak tahu. Aku mulai sedikit bangkit dan menjamah rambutnya, wajahnya
sedang serius menggerakkan tangannya dengan konstan.
“Kamu……. kok…… tahu ….sih?â€
“Dari website!†(buat teman-teman cowok yang ingin nyobain, ini aku
nemuin alamat www.jackinworld.com. Pertama sih mau nyari metode
masturbasi untuk cewek, eh nggak tahunya pengin juga nengok yang buat
cowok, ternyata berguna banget!)
“Aduh, Rat!†tanpa bisa kukontrol aku menjatuhkan tubuhku kembali ke
ranjang. Sementara itu Ratih terus mengesek ujung kepala penisku
dengan telapak tangannya dengan konstan. Waktu berlalu dan hampir dua
menit itu terjadi, aku mulai merasakan sesuatu mendesak-desak naik.
Pasti Ratih merasakannya ditangan kirinya yang menggenggam batang
kontolku, terbukti dengan gerakannya turun dan cengkeramnya sekarang
berada dipangkal batangku. Sementara itu tangan kanannya mulai
bergerak cepat dan semakin cepat berputar-putar menimbulkan energi
panas dan energi seksual yang luar biasa dimulai dari kepala kontolku
dan mengalir disaluran batang kontolku dan menyebar keseluruh area
selangkanganku, menimbulkan rasa kejang dipaha dan perutku,
menggelitik pantat dan akhirnya……
“Rat,……….. aku keluar!â€
“Udah tahu, idih mas Ari ah!†Ratih mungkin merasakan otot mengedut
dan paha mengejang yang biasanya mendahului ejakulasi seorang pria,
sehingga dia dengan pas menjepitkan dengan kuat tangan kirinya
dipangkal batang kontolku sehingga ketika pas orgasme dan ejakulasi,
kontolku hanya berkedut-kedut saja, tidak menyemprotkan cairan karena
tertahan oleh jepitan kuat Ratih di pangkal batangnya. Jepitan itu
juga menyebabkan kepala kontolku membesar maksimal sampai berwarna
merah keras. Sementara Ratih terus memutar-mutarkan telapak tangan
kanannya mengalirkan kenikmatan tiada tara tanpa ejakulasi kepadaku.
Aku sendiri hanya bisa melenguh kuat ketika mengalami itu semua,
pahaku kujepitkan ketubuh hangatnya, ada rasa hangat ketiaknya yang
dibagian atas pahaku.
“Ratih, ….. OOOHHHH…..!†aku melenguh sejadi-jadinya ketika puncak
yang datang itu seperti berputar balik ketika menemui hambatan dari
dipangkal batang kontolku dan mengoyak-ngoyak bagian dalam tubuhku
terutama di area selangkanganku.
Ketika Ratih melepaskan putarannya tangan kanan dikepala kontolku, aku
menyaksikan batang kesayanganku itu memerah dan membesar maksimal.
Tampak warna licin disekujur ujungnya, lubangnya tampak terbuka
sedikit. Yang terlihat sekali adalah denyutannya yang terlihat dengan
bergeraknya perlahan-lahan secara berkala. Sementara tangan kirinya
masih mantap menggenggam dan menjepit lubang dipangkal batangnya. Aku
merasakan campuran antara rasa nikmat yang aneh karena tidak dibarengi
dengan ejakulasi dan rasa panas akibat gesekan telapak tangannya tadi.
Ternyata kontolku tidak sekuat yang aku kira. Dibawah jepitan tangan
kirinya yang terus kuat aku mulai menyaksikannya melemas, ukurannya
mulai mengecil dan beberapa saat kemudian tampak lunglai digenggaman
tangan kirinya.
Aku bangkit sehingga terduduk, sementara kedua pahaku masih menjepit
tubuhnya yang mulai terasa berkeringat, meskipun ruangan itu dingin
oleh AC. Aku pegang kepalanya perlahan dengan lembut dan mengelus-elus
rambutnya. Tangan kirinya ia lepaskan dari kontolku. Ketika
dilepaskan, sedikit kedutan lembut mengiringi keluarnya sedikit cairan
putih dari ujung lubangnya. Aku sedikit tergial karenanya.
Aku menarik tangannya sehingga dia berdiri didepanku diantara kedua
pahaku. Aku melihat payudaranya yang kecil dihiasi putingnya yang
besar tampak mengacung dengan kuat. Meskipun warna kulitnya nggak
putih-putih amat, tapi terawat sekali sehingga halus terasa. Didepanku
pas tersaji perutnya yang sedikit berlemak tapi sintal sekali.
Pusarnya tampak sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan membentuk aliran
kebawah dan semakin tampak ketika bersambung dengan bulu-bulu yang
lebih tebal dibawahnya. Ya, jembutnya meskipun tak terlalu lebat tapi
terlihat sekali kontras dengan kulit diarea selangkangannya itu. Aku
meletakkan kedua tanganku memegang pantatnya yang memang padat sekali
dilihat dari dekat. Ratih meletakkan kedua tangannya dipundakku,
wajahnya udah mulai terlihat jauh lebih nge-seks dibandingkan beberapa
saat tadi. Sepertinya keceriaannya yang selalu bisa menutupi
kondisinya yang nyata, tak bisa lagi ditutupinya saat itu. Matanya
menatapku dengan penuh harap. Aku yang masih dalam kondisi setengah
matang karena orgasme garingan tadi, mulai mencoba melakukan sesuatu.
“Kamu duduk disini gih!â€
Aku menuntunnya menduduki pahaku. Ratih dengan perlahan membuka
pahanya dan meletakan tubuhnya menduduki pahaku. Aku merasakan sesuatu
yang panas tapi basah diselangkangannya menempel dipahaku yang penuh
bulu. Ratih bergerak-gerak demi merasakan bulu-bulu pahaku menyentuh
daging vaginanya. Aku tersenyum memandanginya dan mendekati wajahnya
sambil berkata perlahan menggoda.
“Udah panas?â€
“He eh!â€
“Aku pulang dulu deh kalo gitu!â€
“He ….. jahat!†kali ini nadanya penuh dengan kemanjaan nyaris
seperti rengekan. Aku tertawa kecil dan mencubit perutnya. Dia
bergerak-gerak atau mungkin tepatnya menggerak-gerakkan pinggulnya
menggesek-gesekkan vaginanya ke pahaku. Lagi-lagi aku tertawa.
“Udah nggak kuat lagi?â€
“Ayo dong mas!â€
Aku menarik tubuhnya hingga berdiri dan merebahkannya di tempat tidur.
Separuh tubuhnya aku biarkan dipinggiran ranjang. Begitu berbaring,
tak perlu lagi bantal dibawah pantatnya untuk membuat selangkangannya
menggunduk setinggi itu. Pantatnya sendiri udah mengganjal gundukan
vaginanya menjadi setinggi itu. Sekarang gantian aku yang berlutut
diantara pahanya. Aku buka keduanya lebar-lebar, yang kiri aku bentang
kearah kiri sementara satunya aku angkat tinggi-tinggi kearah kanan.
Ketika terbuka, tercium segera bau khas itu semerbak memenuhi ruangan.
Aku melihat pemandangan didepanku dan terpesona. Gerumbulan rambut
jembutnya berakhir diarea sebelum vaginanya dan tumbuh memutarinya
dikiri dan kanan vaginanya. Beberapa helai berkelompok terkena cairan
bening. Ditengahnya tampak sekumpulan daging yang hangat itu. Warnanya
coklat tua sewarna dengan kulit ujung sikunya tapi lebih gelap lagi.
Diantaranya terlihat warna-warna licin kemerahan sewarna dengan bagian
dalam mulutnya. Kontolku yang tadi melemas mulai terasa tegang lagi.
Aku agak takjub karena itu terjadi hanya kurang dari semenit setelah
orgasme tadi.
Aku membuka perlahan-lahan bagian itu dan menemukan helai-helai bibir-
bibir vaginanya. Aku menjembengnya perlahan dan menemukan warna daging
basah kemerahan didalamnya. Diujung helaian itu tampak sebentuk bulat
klitorisnya yang tampak merah tua. Aku dekatkan wajahku dan mencoba
menjilat bentuk itu. Perlahan sekali dengan gerakan dari bawah keatas
aku merasakan halus permukaan klitorisnya yang sudah dilumuri cairan
bening itu dipermukaan lidahku. Rasanya seperti ……… coba deh
teman-teman cowok cari buah klengkeng bergaris tengah kecil saja,
terus kupas kulitnya dan coba jilat buahnya itu perlahan, kira-kira
kayak gitu deh cuman yang ini lebih empuk dan agak berbau. Seirama
dengan gerakan lidahku itu aku merasakan otot bagian dalam pahanya
mengejang, begitu juga dengan selangkangannya sehingga sekilas
terbentuk tulang-tulang selangkanya menonjol dari tubuhnya yang
sintal. Aku coba membuat lagi gerakan dari bawah ke atas seperti tadi,
juga dengan perlahan-lahan tapi kali ini dengan lebih menekannya lagi.
Lagi-lagi aku merasakan kejangan seperti tadi. Aku angkat wajahku dan
mencoba menengok wajahnya. Ratih sedang memandangi langit-langit
kamarnya. Mulutnya terbuka sebagian, kedua tangannya terangkat keatas
sehingga menampakkan kulit ketiaknya yang bersih dari bulu. Putingnya
tampak tegak lurus keatas seperti stupa candi Borobudur. Aku tersenyum
dan menggodanya.
“Ngliatin apa mbak?â€
Dia melirikku dengan sudut matanya dan tersenyum masam, sambil
berbisik
“Hngggg …. ah mas Ari. Hayo terusin dong …… mas!â€
Dengan masih memandangi wajahnya, aku menjembeng vaginanya dengan
tangan kananku dan dengan jari telunjuk dan tengahku aku mencoba
menggosok klitorisnya lagi perlahan sekali. Wajahnya langsung berubah
seketika, matanya terpejam, dari mulutnya keluar suara mendesah halus.
Kaki kanannya yang tadi terangkat keatas tiba-tiba menghantam bahuku
ketika gosokan jemariku terpeleset oleh licinnya pelumas dipermukaan
klitorisnya. Aku sendiri merasakan paha kirinya disebelah tubuhku
bergetar karenanya. Lagi-lagi aku tertawa kecil, dan mencoba
menggodanya lagi.
“Rat!†Ratih membuka matanya kembali dan memandangiku. “Berapa 24
dikali 54?†Hitungan yang sulit tentu saja bagi seseorang yang lagi
terangsang berat macam begitu. Teman-teman bisa coba deh, tanyain tuh
cewek atau cowok kamu pas lagi gituan sama kamu dengan pertanyaan
semacam itu, dijamin pasti nggak bisa jawab. Kali ini bukan suara
merajuk lagi yang keluar dari bibirnya tapi udah merengek minta
dimasuki. Tak perlu pemanasan lagi bagi kontolku demi mendengar suara
merdu nan merangsang itu. Doi langsung tegak lurus mendongak keatas.
Aku segera mengatur posisi diatas tubuhnya diantara pahanya. Aku buka
pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul ‘welcome’.
Kali ini aku bisa melihat dengan jelas ‘pintu’nya yang berupa celah
yang diapit oleh dua bibir-bibir yang bergelambiran. Pantesan yang
pertama dulu sulit dimasuki, barangkali saat itu aku mendorong
kontolku sehingga melipat bibir labianya menutupi lubang masuknya.
Kali ini aku pastikan aku tidak akan mengalami kesulitan serupa.
Dengan dua tangan aku buka lipatan bibirnya itu dan dapat kulihat
celahnya itu tampak penuh cairan licin. Aku dorongkan saja pinggulku
sehingga kontolku pas menumpang diatasnya. Dengan satu tangan aku
menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan
kepalanya pas berada didepan celah lubangnya itu. Dengan satu sentakan
perlahan aku dorongkan kepala kontolku memasukinya. Sekian centi
memang lancar saja kepalanya masuk, tapi pas sekitar 4 atau 5 cm
kedalamannya tiba-tiba lubangnya menyempit sehingga seperti mengerem
masuknya kontolku. Kali ini aku yang tergial demi merasakan sedikit
demi sedikit kontolku mulai terjepit oleh himpitan lubangnya itu.
Hebatnya meskipun sempit, kontolku maju terus meskipun perlahan,
mungkin karena licinnya cairan yang keluar tersebut. Yang berubah
hanya akibat yang ditimbulkannya bagi tubuhku.
Sampai setengah panjangnya aku menyodokkannya dengan perlahan-lahan.
Begitu melewati ‘cincin’ sempit tadi, aku mendesakkannya dengan kuat
sehingga batangku masuk seluruhnya diiringi rasa nikmat yang teramat
sangat. Aku sempat merebahkan dadaku diatas perutnya demi merasakan
nikmat itu. Begitu juga dengan Ratih, kakinya menegang kuat, tangannya
menggapai kepalaku dan menjambak rambutku kuat-kuat.
“Maaasss….!!!! hhhggg!â€
Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda
perlahan-lahan. Aku merasakan bahwa beberapa tusukan lagi akan bisa
membuatku ejakulasi dan aku nggak ingin meninggalkan Ratih kembali
dengan ketidaktuntasan. Ketika mulai reda aku mencoba menariknya
perlahan. Tidak ada bedanya antara cepat atau lambat, masing-masing
mempunyai sensasi berbeda tapi dengan rasa yang sama-sama nikmat.
Ketika tinggal kepalanya saja yang terjepit aku kembali diam merasakan
sesuatu mengalir mendesak selangkanganku. Kayaknya aku nggak akan
sanggup membuatnya orgasme dengan kontolku saja.
“Rat!â€
Ratih menengok dan memandangi penuh harap.
“Kayaknya aku akan keluar deh, kalau aku masukin lagi!†Terpaksa aku
berterus terang daripada nanti malu. Ratih memandangiku mencoba
mencerna perkataanku. Beberapa saat kemudian dia berkata.
“Mas Ari……. langsung cepet ….aja.. ya …!†Kayaknya dia udah
nggak tahan lagi dan nggak punya pilihan lain. Terpaksa, keluar cepet
atau tidak, aku tarik tubuhnya kepinggir ranjang sehingga area
vaginanya pas dipinggir ranjang. Kakinya masih terangkat sendiri
keatas sehingga semakin mendongakkan selangkangannya. Aku dorongin
lagi kontolku kuat-kuat menghunjam ke kedalaman vaginanya dan
berhenti. Aku letakkan tanganku diantara kedua ketiaknya terus aku
luruskan kakiku sehingga tubuhku lurus membentuk sudut dengan kontolku
pas menghunjam vaginanya pada sudut yang sesuai. Kakinya terus
kurasakan dijepitkannya kepinggulku. Aku menghitung
satu…dua…tiga… dan mulai menarik kontolku dan menghunjamkannya
kembali dengan sekuat tenaga dan tanpa menghentikannya di setiap
gerakan. Tidak terlalu cepat karena hambatan dari daya cengkeram
vaginanya tapi cukup kuat dan konstan. Aku menghitung gerakanku
seperti saat melakukan aerobic. Satu … dua … tiga … empat ….
lima … enam … tujuh … delapan …. satu … dst. Setiap kali
dengan gerakan menghentak yang semakin kuat. Ternyata nasehatnya boleh
juga. Meski masih merasakan nikmat itu, aku tidak lagi merasakannya
sekuat tadi. Aku terus bersemangat menggenjot. Entah udah berapa kali
hitungan satu sampai delapan aku lakukan. Aku hanya merasakan tubuhku
mulai memanas dan keluar keringat, demikian juga Ratih yang kurasakan
basah dibagian dalam pahanya. Untungnya ranjangnya ternyata bagus juga
konstruksinya sehingga tak terlalu bersuara kecuali sedikit suara duk-
duk-duk setiap kali pinggulku menghunjam dalam-dalam menghantam bagian
selangkangannya. Cuman suara Ratih jadi berisik sekali, demikian juga
suara vaginanya yang mulai berkecipakan ‘riang’ memenuhi kamarnya itu.
“Nggak…..ada…. yang….. dengar …. ya? ….. hhhhh …..
kamu…. berisik…. banget!†sambil bergerak aku mencoba berkata-
kata, jadinya agak sedikit tergagap-gagap. Sambil memandangiku,
wajahnya yang bergerak-gerak seirama dengan gerakanku, menggeleng-
geleng. Kembali beberapa saat kemudian suaranya berisik.
“Ssssss….hhhh….ooohhhh…..!†Hangat nafasnya memenuhi wajahku
yang udah mulai memerah. Sedikit demi sedikit diantara gerakanku aku
merasakan kontolku mulai terasa panas. Mungkin produksi pelumasnya
udah mulai berkurang. Tapi karena itu juga rasa nikmatnya jadi
melonjak tinggi-tinggi, sehingga bagiku terasa jelas dibagian mana aku
berada. Hanya sekian saja dari puncak membuatku terus dengan sisa-sisa
tenaga menggenjotnya kuat.
Tanpa kusadari waktunya, tiba-tiba Ratih mencengkeramkan tangannya
dibagian samping dadaku sehingga kurasakan kukunya menggores kulitku
kuat, aku rasakan perih tiba-tiba. Yang dahsyat, lubang vaginanya
tiba-tiba kurasakan menjepit penisku kuat-kuat, bukan sekali tapi
seperti gerakan tangan suster yang sedang memompa alat pengetes
tekanan darah (tahu khan?), beberapa kali dengan sangat kuat, dengan
timing yang tepat pula, yaitu setiap gerakan mengempis pas dengan
gerakanku menarik. Jadinya seperti memijat-mijat dengan kuat.
“Mas……hhhhh…OOOOOHHHHH!!!†Suaranya yang keluar tak kalah
dahsyatnya. Mungkin karena sifat kelembaman, gerakan tubuhku tidak
terhenti oleh kejadian itu. Jadi terus aku terus menggenjot ditengah-
tengah orgasmenya itu. Apalagi kurasakan puncak udah dekat sekali.
Kurasakan tubuhnya yang menegang sekian lama diantara genjotanku yang
semakin kuat saja menyambut puncak yang semakin dekat.
Tiga …… Empat …. lima…. 6.7.8.9.10……… Aku tiba-tiba
merasakan aliran spermaku tanpa bisa kutahan menyemprot kuat kedalam
liang vaginanya mengiringi rasa nikmat luar biasa yang kudapat. Tiba-
tiba pula denyutan vaginanya yang baru saja sekian detik yang lalu
kurasakan, kini kurasakan lagi seiring dengan mengalirnya semprotan
spermaku didalam tubuhnya. Tampaknya Ratih mengalami lagi orgasme,
semacam orgasme bayangan yang biasanya menyertai sekian detik setelah
yang pertama terutama jika terjadi jeda sekian detik saja dengan
orgasme sang pria dan orgasme yang pertama belum lagi reda, biasanya
karena rasa hangat akibat sperma menyentuh dinding-dinding rahim atau
karena gerakan menyentak yang biasa dilakukan dengan sangat kuat oleh
pihak pria yang sedang ejakulasi (peristiwa ini bukan karangan, ini
pernah kualami, rasanya luar biasa karena lebih lama dan terasa
diseluruh tubuh dibandingkan yang pertama).
Aku terus menggenjot dengan kuat menghabiskan ‘cadangan amunisi’ yang
aku punya sampai aku merasakan kontolku udah seperti kehilangan
tegangan. Aku langsung ambruk menimpa tubuhnya, kontolku masih
menancap penuh, kakiku langsung berlutut. Tubuhku udah basah kuyup
oleh keringat. Mungkin orgasme dengan berkeringat seperti itu memang
jauh lebih nikmat karena setelahnya ada perasaan gerah tapi lega. Yang
tiba-tiba baru kusadari, aku merasakan tubuh Ratih tegang. Kakinya
bahkan masih tegang menekuk meskipun udah merebah tertimpa tubuhku.
Mungkin saja dia mengalami ekstase. Dengan sisa-sisa tenaga aku
bangkit sehingga penisku tercabut. Mudah saja karena udah lemas. Aku
menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Ratih terlentang, tangannya
terangkat keatas dua-duanya. Wajahnya terangkat keatas, matanya
terbuka sedikit dan memandang dengan kosong kelangit-langit, bibirnya
terbuka sedikit, dadanya naik turun dengan agak cepat tapi teratur.
Kakinya bahkan tak menutup, terbuka lebar kekiri dan keatas sehingga
selangkangannya yang udah nggak karuan bentuknya, penuh cairan dan
rambut-rambutnya bergumpal-gumpal lengket, terlihat jelas, tampak
merah tua dan masih merangsang. Bekas genjotan kontolku tadi terlihat
dari masih terbukanya celah lubang vaginanya, nggak lebar tapi
menampakkan kedalamannya. Aku menggariskan kuku telunjukku mulai dari
lutut menelusuri bagian dalam pahanya yang basah sampai kearea dekat
vaginanya. Benar juga, aku merasakan tubuhnya bergetar cepat diiringi
suara lenguhan perlahan. Kakinya perlahan sekali bergerak menutup,
tapi hanya sedikit gerakan terus berhenti lagi, sehingga
selangkangannya masih terbuka lebar. Aku menggariskan lagi kukuku
memutari area vaginanya. Kembali tubuhnya bergetar cepat. Aku pernah
membaca bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi ekstase seperti
itu, rangsangan biasa akan terasa luar biasa dan bisa memperlama
ekstasenya, bahkan usapan halus rambut diputing bisa membuatnya
bergetar hebat oleh rasa nikmat. Ekstase sendiri itu adalah kondisi
orgasme yang grafiknya bukan seperti gunung (naik tinggi terus
langsung turun), tapi seperti bentuk lunas perahu dibalik (naik terus
berhenti dipuncak ketinggiannya sampai beberapa lama baru turun). Aku
ingin betul-betul memberinya kepuasan terhebat dalam hidupnya, jadi
selama Ratih masih ‘belum sadar’ dari ekstase-nya itu aku ingin
memberinya sensasi-sensasi. Dengan mengabaikan awut-awutannya area
selangkangannya, aku membuka kembali bibir-bibir labianya dan
menemukan klitorisnya berwarna merah gelap, jauh lebih gelap dari
tadi. Aku menjilatnya perlahan-lahan dan kembali merasakan getaran
hebat seperti menggigil dipahanya, membuatku terus memutar-mutar
lidahku dan kadang-kadang mencucukkannya secara kontinyu dan konstan
ke klitorisnya. Getaran-getaran menggigilnya terasa kuat diselingi
gerakan menggelinjang tak terkontrol. Aku ingin menyodokkannya
kontolku kembali kedalam liang vaginanya, tapi apa daya doi udah
tergolek lemas, meskipun aktivitasku mulai membangkitkan lagi
gairahku.
Akhir kata, malam itu aku sanggup mempertahankan ekstasenya sampai
hampir satu jam. Keesokan harinya aku tidur semalam suntuk, nggak
kuliah. Ketika lusa harinya aku mencoba menelponnya, aku dapat kabar
bahwa Ratih masuk rumah sakit, katanya doi mengalami shock. Aku jadi
was-was jangan-jangan terjadi sesuatu dan itu karena perbuatan kami
kemarin, walaupun pas aku pulang kemarin Ratih masih sanggup
mengantarku sampai pintu gerbang kostnya. Ternyata Ratih hanya
mengalami penurunan tensi saja, dan kata dokter itu akibat aktivitas
yang melelahkan. Sambil menceritakan itu Ratih sesekali tersenyum
sambil melirikku.
Kejadian itu adalah yang terakhir antara aku dan Ratih karena beberapa
minggu kemudian pacar Ratih telah kembali kekota kami. Sesekali kami
saling kontak lewat email atau telpon, tapi tak satupun pernah
mengungkit-ngungkit peristiwa hebat itu.
—–
Demikianlah teman-teman karanganku, mohon maaf jika ada deskripsi atau
uraian yang salah. Cuman emang sensasional sekali membayangkan apa
yang dirasakan oleh pasangan kita ketika sedang bersenggama dengan
kita. Untuk diketahui, setelah menulis cerita ini habis-habisan aku
menghabiskan tenagaku untuk …… ah enggak enak kalo diceritain. Ini
ada advis untuk kamu-kamu yang cowok untuk membuat pasangan kamu
bahagia.
Kalo kamu lagi senggama dan pas timingnya seperti tadi, yaitu kamu
orgasme duluan atau malah belum sama sekali, sedangkan cewek kamu udah
sampai (kamu pasti bisa ngerasainnya khan?). Sebelum dia selesai dari
orgasmenya segera cabut penis kamu (artinya saat itu dia sedang
meneruskan rasa nikmatnya tanpa penis kamu) terus coba rangsang secara
manual (jangan dengan penis), misalnya kayak tadi goreskan kuku kamu
dibagian dalam pahanya dari arah lutut ke arah vaginanya, atau
langsung gosok klitorisnya perlahan-lahan, jangan lakukan itu dengan
cepat karena akan mempercepat selesainya orgasmenya. Nah ceritanya
mungkin saja cewek kamu itu tipenya yang kalo orgasme dan ditengah-
tengahnya rangsangannya dihentikan, dia tidak dapat menyelesaikan
sendiri orgasmenya, tapi rasa nikmatnya berhenti dititik dimana dia
mendapatkannya tadi. Saat itu rasanya seperti nggantung tapi oleh rasa
nikmat yang tinggi. Rangsangan dari kamu yang pelan-pelan akan
mempertahankan rasa nikmatnya tadi pada titik yang konstan tapi
tinggi. Seberapa lama dia mampu bertahan di’ketinggian’ itu,
tergantung seperti apa cewek kamu itu. Jadi bisa berbeda-beda untuk
masing-masing orang.
Advis ini datang dari pengalaman pribadiku jadi kemungkinan
berhasilnya amat besar. Kadang-kadang masalahnya justru apakah kamu
sanggup berhenti ketika cewek kamu sedang orgasme yang biasanya saat
itu kamu sendiri juga sedang ‘megap-megap’.
OK deh, Selamat berjumpa dilain cerita.