Archive for December, 2008

Modalku Disewa Perawan Tua – 2

Modalku Disewa Perawan Tua – 2

Dari bagian 1

Karena penasaran dan semakin tidak mampu menahan kerinduannya terhadap modal pokokku itu, akhirnya ia merangkulku dengan erat sekali, lalu membalikkan tubuhku ke bawah, lalu ia segera bangkit mengangkangiku, dan buru-buru ia mencari benda yang kupersewakan itu, apalagi sejenak ia rasakan sentuhannya tadi, mungkin kenikmatannya tidak bisa diukur.

Aku hanya pasrah membiarkan ia mencari kenikmatannya sendiri, lagi pula aku sejak tadi leluasa mempermainkannya dan bermain-main ke seluruh tubuhnya. Kini giliran Ani yang memainkan peranannya. Dengan kepala yang bergerak tak beraturan seolah sedang mabuk, Ani sedikit jongkok lalu meraba ke belakang mencari modalku yang sejak tadi berdiri tegang menunggu sentuhan tangan halus Ani, akhirnya Anipun menemukan dan meraihnya. Pegangannya erat sekali seolah ia tak mau lagi melepaskan dan dimundurkan pantatnya ke belakang, lalu mengarahkan ujung penisku ke lubang vaginanya yang tidak sabar lagi menunggu.

“Tidak ingin main-main dulu dengan modalku sayang? Melihat, mengocok dan mencium atau memasukkan ke mulutmu misalnya?” tanyaku merayu agar ia memainkan dulu penisku itu sebelum ia masukkan ke lubang akhirnya.

“Nanti ronde berikutnya sayang, aku passti melakukan apa yang kamu minta dan memakan ssekalipun. Tttapi aku saat ini sudah tak mampu lagi menahan nafsuku. Ingin rasanya aku segera menikmati puncak kenikmatan kita.. uuhh.. ehhmm.. hh..” jawabnya tersengat-sengat sambil menancapkan ujung kemaluanku ke lubang vaginanya.

Rasanya ia kesulitan sekali memasukkan, sehingga aku membantunya dengan membuka kedua bibir vagina mulusnya itu. Ke kiri dan ke kanan, bahkan memutar pinggulnya seiring dengan gerakan tangannya mengarahkan tongkatku, tapi tetap belum berhasil. Kemaluan Ani betul-betul sempit. Apa menyempit karena tuanya atau lama tidak berhubungan sex atau sama sekali belum pernah ditembus oleh kemaluan lain. Pertanyaan itu yang selalu mewarnai pikiranku.

“Begini sayang, silahkan baring terlentang, lalu ganjal bantal guling pinggulmu, lalu buka dengan lebar kedua pahamu. Aku akan mencoblosnya dari atas sambil kamu bantu membuka kedua bibir kemaluanmu, pasti berhasil,” perintahku setelah ia penasaran sekali ingin menikmati sentuhan modalku ke dalam vaginanya, namun ia sangat kesulitan. Ternyata usaha kami ini sedikit membawa hasil. Modalku sudah mulai masuk separoh setelah kami sepakat melakukan posisi seperti tadi, tapi ia sedikit berteriak kecil dan seolah menahan rasa sakit.

“Adduh, sakit sayang. Pelan-pelan sedikit dan ngocok terus,” jeritnya mengherankan karena ia merasa sakit dan minta pelan-pelan tapi tangannya menarik pinggulku lebih keras lagi dan memintaku mengocoknya terus, bahkan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi mengikuti gerakan pinggulku seolah takut merenggangkan kedua benda yang baru saja ketemu untuk melepaskan kerinduan sekaligus negoisasi transaksi sewa modal.

“Bagaimana sayang? Enak dan nikmat sekarang?” tanyaku ketika modalku sudah mulai amblas seluruhnya sambil tetap mengocok teratur vagina yang menimbulkan bunyi khas cik.. cakk.. cukk.. cekk.. itu.
“Aaahh.. uuhh.. uuhh.. Enak sekali sayang. Terus.. jberhenti.. uu.. mhh.. sstt..” jeritan kenikmatannya. Karena nikmatnya luar biasa, sehingga ia memutar lagi badanku dan kembali ia di atas mengangkangiku tanpa melepas modalku dari vaginanya. Ia bahkan naik turun seperti kuda lumping mengocok modalku yang berdiri dan kembali menimbulkan bunyi indah yang jarang terdengar.

Aku meraba dan meremas kedua payudaranya yang tertancap keras di dadanya sambil kubantu menggerakkan pinggulku agar permainan kami berjalan lancar dan memuaskan. Ani nampaknya senang sekali dengan posisi seperti ini. Ia melenggokkan kepala kiri kanan seolah terhibur dan santai menikmatinya, bahkan kerakan pantanya naik turun sangat teratur, sehingga bunyinyapun kedengaran indah dan teratur.

Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati gerakan teraturnya itu. Matanyapun terpejam seperti orang tidur, namun mulutnya sedikit menganga dan kadang menggigit bibirnya dan mengeluarkan ujung lidahnya.

“Ahh.. uuhh.. iihh.. hhmm,” nafasnya mulai cepat seiring dengan gerakan pantatnya. Tangannya yang tadinya bertumpu ke atas kedua pahaku dan kini pindah di atas kedua dadaku. Badannyapun sedikit membungkuk, lalu tiba-tiba gerakannya cepat sekali. Sangat cepat dan mukanya menghantam mukaku. Mulutnya segera menyentuh mulutku sambil ia menggigit sedikit bibirku, tapi aku biarkan saja, karena tidak terlalu sakit, malah semakin merangsangku.

“Aku nikmat sekali sayang. Ada yang memaksa mau keluar. Tahan yah, biar tidak bersamaan. Aku kesulitan mencabut kemaluanmu,” katanya terengah-engah. Nafasnya terputus-putus, sehingga kadang lama sekali baru tersambung seolah sesak nafas. Akupun mulai merasakan ada cairan hangat yang mengalir pelan-pelan ke batang penisku, tapi aku mencoba mempertahankannya agar tidak bersamaan sesuai permintaan Ani.

“Yach, aku coba menahannya sayang. Silahkan keluarkan saja, asal tidak beresiko buatmu,” jawabku sambil merasakan getaran sekujur tubuh Ani. Tiba-tiba ia meronta seolah histeris ingin berteriak menyatakan kalau ia betul-betul telah sampai ke puncak kenikmatan yang tiada taranya dan belum pernah dirasakan selama hidupnya.

“Aaaku.. ehh.. uuhh.. hhmm.. Ke.. luuar sayang,” ucapnya seolah tidak mampu mengeluarkan sesuatu katapun ketika persendiannya terkuras akibat cairan panas yang dimuntahkan dari mulut kemaluannya. Saat itu pula aku merasakan puncak getaran kemaluan Ani yang menjepit keras modalku, sehingga seolah diurut dengan daging empuk yang sempit. Sejenak terdiam dan terkulai di atas tubuhku dengan menindihku lemas. Tapi aku segera memutar tubuhnya ke bawah, sehingga aku kembali mengangkanginya, lalu mengangkat kedua kakinya sampai bersandar ke bahu lalu kutusukkan ujung modalku ke vaginanya yang basah dan terasa agak lembek, lalu kukocok keras-keras dan cepat sekali, hingga akupun merasakan cairan hangat keluar dari dalam batang kemaluanku. Sengaja aku percepat dan memuntahkannya agar Ani tidak tersiksa terus menerima tusukan penisku setelah ia terkulai lemas tanpa perasaan nikmat lagi. Kami betul-betul puas sepuas-puasnya tanpa sedikitpun kenikmatan yang kusisakan lagi, karena masih panjang waktu untuk melanjutkan ronde-ronde berikutnya.

Kini baru aku sadar kalau jam di dinding menunjukkan pukul 14.00 siang. Mataku tidak mau tertidur kali ini. Berbeda dengan peristiwaku yang lalu-lalu. Biasanya sehabis bertempur seperti ini, mataku langsung ngantuk dan tertidur pulas, tapi kali ini justru hilang rasa ngantukku dan semangatku tidak banyak menurun. Mungkin karena rasa penasaran ingin tahu siapa sebenarnya Ani ini. Vaginanya sempit sekali seperti gadis perawan saja. Tidak berbulu lagi. Usianya tidak sesuai bodi bagian dalamnya. Bahkan vaginanya mengeluarkan sepercik darah segar. Payudaranya masih keras dan indah sekali. Tanda tanya itulah yang membuatku tidak ngantuk. Aku ingin mengetahui ketahui dengan segera secara rinci pribadi Ani, tapi sayangnya ia nampaknya tidur pulas di sampingku dalam keadaan terlentang, sehingga masih nampak cantik kelihatan. Akibatnya dapat memancing geloraku kembali. Untung aku berpikir kalau masih panjang waktu, sebab jika tidak pasti aku segera mengganggu tidurnya dan menerjangnya.

“Tidak tidur sayang?” tanya Ani padaku sehingga menghentikan lamunanku.
“Mataku tak mau tertidur sayang. Aku tidak ngantuk rasanya,” jawabku sambil membalikkan tubuhku ke arahnya lalu memeluknya, mencium pipi dan bibirnya, merangkul tubuh telanjangnya dengan mengangkat pahaku ke atas pinggulnya.
“Aku mohon agar anda mau menceritakan siapa diri anda sebenarnya dan bagaimana status serta latar belakang kehidupannya. Mau khan?” pintaku sambil mengecup kembali pipinya. Iapun memeluku dan mencium keninku.
“Okelah kalau itu keinginanmu sayang. Aku sebenarnya tidak biasa bohong dan belum pernah membohongimu,” katanya terus terang sambil bercerita.

“Usiaku saat ini sudah 58 tahun, tapi belum pernah rasakan kenikmatan seperti yang baru kita rasakan bersama. Soalnya aku belum pernah kawin dengan laki-laki manapun, sehingga tubuhku tidak banyak berubah seperti yang kamu bayangkan. Aku pendiam dan jarang bergaul karena pengawasan orangtuaku dulu sangat ketat. Pacaranpun belum pernah, cuma pernah sekali vaginaku ini disentuh oleh penis laki-laki iseng, sayangnya tidak mampu membuatku nikmat, sehingga bayanganku terhadap kenikmatan dari laki-laki selalu jelek dan mengecewakan,” cerita Ani dengan serius sekali, namun sedikit tersenyum memandangiku terus. Lalu ia lanjutkan,

“Seorang sopir petek-petek pernah mengajakku melakukan hubungan sex di mobilnya ketika usiaku sekitar 17 tahun. Saat itu hanya aku sendiri penumpangnya setelah penumpang lainnya turun. Aku duduk di dekatnya saat penumpang semua turun karena takut sendirian di belakang. Sekitar jam 10 malam saat aku pulang kursus, tangan sopir itu tiba-tiba nakal memegang pahaku. Mulanya aku masih mampu menyingkirkan tangannya, tapi ketika tangannya meraih pinggir atas rokku, aku tak mampu lagi mengusir tangannya karena pegangannya kuat sekali. Aku hanya merapatkan kedua pahaku agar ia tidak memasukkan tangannya ke dalam rokku. Dasar laki-laki bernafsu bejat dan berkeinginan keras menggauliku, iapun tiba-tiba menghentikan mobilnya di jalanan yang sudah mulai sepi kendaraan. Aku mau teriak, percuma saja karena tak ada orang yang kelihatan, apalagi kaca mobilnya yang riben itu tertutup rapat. Aku tak kuasa menolaknya, sehingga ia menjepitku di atas kursi depan mobil, lalu menyingkap dengan paksa rokku lalu menarik celana dalamku ke bawah hingga terlepas. Ia keluarkan penisnya lewat resteling tanpa membuka celananya. Mulailah ia dengan leluasa menusuk vaginaku yang tertutup rapat lagi kering sebab aku tidak terangsang. Aku hanya pasrah menerimanya,” lanjutnya.

“Setelah ia lampiaskan nafsu bejatnya padaku dan menumpahkan sperma di vaginaku yang tertutup dan kering itu, ia lalu menancap mobilnya hingga di depan rumahku tanpa sepata katapun yang keluar dari mulutnya. Aku hanya menangis dan tak berani melaporkannya, lagi pula ia tak mampu jebol perawanku. Di atas tempat tidurku, semalaman aku berfikir kalau laki-laki itu egois untuk kesenangan sendiri, sex itu menyakitkan kemaluan wanita dan aku tak pernah tergiur untuk melakukannya. Tapi kenapa diusiaku seperti ini tiba-tiba aku ingin mencobanya kembali setelah ada laki-laki yang menawarkan modalnya untuk disewa. Mungkin karena tawaran itu memancing aku untuk menikmati seluruhnya dan siap memuaskanku, sehingga aku yakin disisa-sisa hidupku ini, masih bisa meraih kenikmatan hidup yang banyak orang alami dan nikmati,” cerita Ani panjang lebar seolah tidak kecewa saat ini setelah sebelumnya ia takut.

Barulah aku mengerti kalau orang yang baru saja kugauli dan kunikmati tubuhnya dengan leluasa adalah gadis perawan cantik dan mengesankan. Aku sangat beruntung menawarkan modalku. Tak pernah kubayangkan akan mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Dalam hatiku sekalipun Ani tidak membayar sewa modalku, aku siap melakukannya berkali-kali. Cuma aku tak mau juga menolak pembayarannya sebab aku butuh dan Anipun orangnya berada tanpa tanggungan. Aku memang sempat menerima bayaran lebih dari yang kuharapkan, selain uang juga kenikmatan batin. Kami lalu sepakat mandi bersama setelah menikmati makan siang yang kupesan lewat pegawai wisma. Kami sepakat akan melanjutkan pertarungan dalam kamar mandi dengan posisi dan model yang bermacam-macam.

Hanya saja aku belum sempat menulis ceritanya karena cerita ini sudah terlalu panjang nanti membosankan pembaca saja, apalagi bahasa dan jalan ceritanya kurang teratur, tapi yang penting bisa diketahui maksudnya.

*****

Saya putus dulu ceritanya sampai di sini. Nanti lain waktu, aku akan menyambungnya. Tapi bagi pembaca yang penasaran, mau tukar pengalaman dan ingin berkenalan, apalagi wanita yang mau menyewa modalku berapa saja asal memiliki kelengkapan wanita, khususnya alat sensitif, aku siap menyambutnya dengan senan hati. Silahkan hubungi emailku.

E N D

Lily Panther 20: Menembus Batas – 6

Lily Panther 20: Menembus Batas – 6

Dari bagian 5

Sodokan Dibyo dari belakang semakin lama semakin cepat dan keras, berkali kali penis Reno terpental dari mulutku saat kakaknya menghentak tubuhku. Cukup kewalahan aku menghadapi sodokan liar dari belakang sambil mengulum penis gede yang ada digenggamanku, justru aku lebih banyak memainkan lidahku menyusuri sekujur daerah kejantanannya.

“Bang gantian dong” pinta adiknya, meskipun mereka chinese, tapi Reno lebih sering memanggil kakaknya hanya nama atau Abang, mungkin karena mereka Chinese Medan.
“Sebentar lagi” balas kakaknya.

Beberapa saat berlalu, Dibyo masih belum ada tanda memberi giliran pada adiknya, tak mau menunggu lebih lama lagi, Reno bergeser ke bawah dan berlutut disamping kakaknya, menunggu giliran dan ternyata si kakak mengalah, dicabutnya penisnya dan dia bergeser sedikit memberi ruang adiknya untuk menyetubuhiku dari belakang. Dibyo tetap berada disamping adiknya yang tengah mengocokku sambil mengelu elus punggungku.

Beberapa menit berlalu, apa yang tidak kubayangkan sebelumnya terjadi, ternyata mereka bergantian mengocokku dari belakang. Beberapa menit Reno mengocokku lalu diberikannya kesempatan berikutnya pada kakaknya, begitu sebaliknya.

Aku yang mendapat kocokan berurutan dari dua penis yang berbeda dan saling melengkapi, tak ayal lagi menggeliat dan menjerit histeris dalam nikmat yang tak terhingga, apa lagi saat pergantian yang begitu cepat, hanya dalam hitungan detik penis yang mengisi dan mengocok vaginaku berganti, tentu saja otot vaginaku tak sempat berkontraksi menyesuaikan diri, tapi kedua penis itu saling melengkapi, menggesek daerah yang tidak tersentuh lainnya, sungguh pengalaman baru bagiku.

Desahan dan jeritan tak henti hentinya keluar dari mulutku, aku meracu dalam kenikmatan yang teramat sangat hingga tak dapat kubendung lagi ketika dorongan kuat dari dalam tubuhku menimbulkan denyutan denyutan hebat pada vagina, akupun orgasme tak lama kemudian, tak lebih dari 15 menit setelah mereka mengocok bergantian. Jeritan histeris orgasmeku hanya ditanggapi dengan senyum kemenangan, mereka meneruskan kocokannya tanpa menurunkan tempo permainan, entah sudah berapa kali bergantian.

“Kalau capek bilang aja, kita istirahat dulu” kata Reno sambil mengocokku, tentu saja aku tak mau, disamping tak ingin kehilangan kenikmatan yang sangat hebat ini, akupun gengsi untuk mengakuinya.
“Kalian memang kakak beradi gila” teriakku disela sela desahan.

Setelah berlangsung beberapa lama, kami berganti posisi. Kali ini aku diatas memegang peranan, kuminta mereka berjejer telentang, segera kunaiki tubuh Dibyo. Sedetik setelah penisnya melesak dalam vagina, aku langsung bergoyang pinggul dengan cepatnya, kami sama sama mendesis, tangan Dibyo meremas remas buah dadaku dengan kerasnya.

Tak lebih 3 menit saat Dibyo mulai mendaki menuju puncak kenikmatan, dengan gerakan spontan kucabut penisnya dan langsung duduk di atas adiknya, tak kuhiraukan teriakan protes darinya.

“Emang enaak” godaku sembari melakukan goyangan yang sama pada Reno, dan hal yang sama pula kulakukan padanya untuk berpindah lagi ke kakaknya. Memang nikmat tapi bagiku lebih capek karena harus berpindah dari satu ke lainnya, tapi sensasinya mengalahkan segalanya.

Setelah beberapa kali berpindah, Dibyo bangkit, berdiri dan menyodorkan penisnya di mulutku disaat aku tengah mendaki puncak kenikmatan bersama adiknya.

Inilah yang kutunggu sedari tadi, penis gede di vagina dan penis panjang di mulut, keduanya mengocokku bersamaan. Penis gede yang tertanam di vagina terasa agak menghalangi gerakanku tapi tak kuhiraukan, justru semakin nikmat rasanya, apalagi kocokan di mulut tak pernah berhenti sambil sesekali disapukan ke wajahku.

Dengan posisi ini ternyata aku juga tak bisa bertahan lebih lama, kenikmatannya terlalu sayang untuk ditahan tahan, dan jebollah pertahananku untuk kedua kalinya. Kulepas penis Dibyo dari genggamanku dan kutelungkupkan tubuhku di atas dada bidang Reno, ingin kunikmati denyutan orgasmeku dalam dekapannya. Seiring dengan habisnya denyutan di vaginaku, habis pula tenagaku, akupun terkulai lemas telentang disamping Reno.

Tanpa memberiku istirahat, Dibyo sudah ambil posisi bersiap melanjutkan gilirannya, tak dipedulikan isyarat kelelahanku, penisnya dengan mudah kembali mengisi relung relung vagina yang habis berdenyut hebat, dengan sisa sisa tenaga yang ada, kucoba mengimbangi kocokannya yang langsung keras dan tak beraturan.

Episode babak awal terulang lagi, bergantian kedua bersaudara itu mengocokku, akupun dengan cepatnya melambung setinggi awan kenikmatan, terlupakan sudah rasa capek yang menyelimutiku, rasanya ada tambahan energi yang timbul dari dalam didorong sensasi yang teramat hebat.

Jerit dan desahku kembali terdengar dengan keras lepas, antara besar pendek dan kecil panjang berurutan mengisi dan keluar masuk vaginaku, tak ayal lagi orgasmeku pun datang dengan cepatnya, entah untuk keberapa kali aku tak bisa menghitungnya lagi, apalagi mereka tak mempedulikan teriakan teriakan kenikmatan orgasmeku.

“Udah udah.. Istirahat dulu.. Ampun deh” desahku akhirnya harus mengakui kehebatan kedua bersaudara itu.

Dibyo yang sedang mengocokku menghentikan kocokannya dan mencabut keluar, tapi adiknya tak mau melihat liang vagina yang kosong, segera digantikannya posisi kakakknya. Dibyo bergeser ke atas, menyapukan penisnya yang penuh lendir vagina ke wajah sembari mengocok dengan tangannya. Tak lama kemudian, menyemburlah sperma mengenai wajah dan rambutku, dipaksakannya penis yang sedang berdenyut itu masuk ke mulutku, rasanya tak ada dayaku untuk menolaknya setelah apa yang telah kudapatkan darinya, dan masuklah penis dengan spermanya kedalam mulutku, sisa sisa sperma masih mengalir deras membasahi tenggorokanku, tertelan masuk.

Reno menghentikan gerakannya saat melihat bagaimana kakaknya mengeluarkan spermanya di wajah dan mulutku, namun dilanjutkan dengan sodokan yang semakin cepat. Tiba tiba dia menarik penisnya dan segera mengangkangkan kakinya di atas mukaku, meniru kakaknya, disapukan penis yang basah ke mukaku yang masih belepotan sperma Dibyo.

Ketika kumasukkan penis itu ke mulutku, langsung menyemprotkan sperma, tak ayal lagi hampir semua sperma yang disemprotkan tertelan ke masuk. Dibyo dan adiknya bersama sama menyapukan penis mereka yang mulai melemas ke wajahku dengan senyum kemenangan.

“Tak kusangka ternyata Lily yang kukenal selama ini begitu hebat di ranjang” komentar Reno sambil menyapukan penisnya.

Aku diam saja sambil menjilati sisa sisa sperma yang masih ada di batang penis mereka. Akhirnya kami bertiga terkulai lemas telentang berjejer di atas ranjang.

Berkali kali Reno memuji kehebatan permainan ranjangku dan berkali kali pula dia menyatakan ketakjuban dan kekagetannya melihat permainan yang aku suguhkan, hampir tak percaya dia melakukannya denganku, yang selama ini dianggap seorang yang cukup dewasa dan terkesan seperti orang rumahan, seperti dalam mimpi.

Tak mungkin percaya kalau tak mengalaminya sendiri, Dibyo hanya mengiyakan celotehan adiknya yang Play Boy itu, seperti anak mendapat mainan baru yang hebat.

Setelah beristirahat cukup lama, kami melakukannya lagi di sofa, hampir dengan pola permainan yang sama, bergantian berurutan, meski dengan posisi yang berbeda beda.

Kami melakukan 2 babak lagi sebelum Dibyo pulang meninggalkan aku dan adiknya bermalam di hotel, aku sangat tak keberatan menemani Reno hingga pagi dan kami memang menghabiskan sisa malam dengan segala nafsu birahi penuh gairah, seperti tidak bercinta dengan tamu melainkan dengan seorang pacar, apalagi postur tubuh Reno yang memang menggugah naluri birahi wanita normal.

Tak terhitung lagi babak demi babak yang kami lewati hingga kelelahan menjelang pagi bersamanya. Nafsu Reno sangatlah besar, sepertinya tak mau membuang kesempatan yang datang sekali seumur hidup, tak pernah dibiarkan aku sedetik menganggur, selalu saja dia minta lagi dan lagi, kalau aku menolak dia yang melakukan oral pada vagina, tentu saja gairahku segera timbul lagi untuk melayaninya.

Keesokan harinya setelah menjalani 1 babak saat bangun tidur, kami check out, dia mengajakku mampir ke rumahnya di kawasan Darmo Satelit yang juga rumah Dibyo karena dia memang masih tinggal bersama kakaknya itu, sebenarnya aku agak segan ke rumahnya, rasanya nggak ada muka untuk ketemu Wenny tapi Reno memaksaku dan berhasil meyakinkan kalau jam segini Wenny tidak ada dirumah.

Ternyata Wenny menyambut kedatanganku, rupanya dia sedang di rumah sehabis dari salon, dengan sumringah wajah cantik nan ceria itu mempersilahkan aku masuk setelah kami berciuman pipi, padahal semalam pipi itu berlumur sperma suaminya dan juga adik iparnya.

“Kudengar kalian bertiga semalam ada pesta di Sheraton, pestanya siapa sih?” tanyanya sambil lalu seraya membikinkan aku makan siang, dia tahu pasti aku menyukai Kwe Tiaw bikinannya.

Dibyo datang tak lama kemudian ketika kami tengah makan bersama, diapun ikutan makan siang, berempat kami mengelilingi meja yang penuh masakan bikinan Wenny, pasti dia tak pernah menyangka bahwa dua laki laki dirumahnya yang kini duduk dihadapannya telah meniduriku semalam, bersamaan malah.

Sehabis makan, Dibyo dan Wenny kembali pergi lagi meninggalkan aku dan Reno, sekali lagi kami melakukannya 1 babak di kamar Reno sebelum dia mengantarku pulang.

“Nanti aku transfer saja, bisnis is bisnis” kata Reno sebelum meninggalkanku.

Di kamar kos, aku ingin merenung tentang apa yang telah kuperbuat dengan kedua sobatku, tapi tak pernah terjadi renungan itu karena bookingan lain telah menunggu.

Itulah kedekatanku dengan keluarga Dibyo, suatu persahabatan yang diawali ketulusan tapi kini telah ternoda oleh bisnisku, aku merasa bersalah setiap kali melihat wajah innocent Wenny yang cantik. Tapi itu bukan salahku, tapi salah suami dan adik iparnya, aku toh hanya seorang call girl yang bersedia diajak ke ranjang oleh siapa saja yang bisa membayarku, hibur hatiku setiap kali perasaan bersalah menggelayut dihatiku. Dan prinsip itu semakin menyeretku semakin dalam ke pusaran persahabatan yang ternoda.

Tak terhitung lagi aku “berbisnis” dengan Dibyo maupun Reno ataupun keduanya, bahkan Reno dengan bangganya memperkenalkanku pada teman temannya, tentu saja menambah jaringan tamu langgananku.

Tak dapat kuhindari kalau kemudian Reno seperti ketagihan akan pelayananku, terutama dia sangat menyukai saat mengeluarkan spermanya di mulut dan wajahku, paling tidak seminggu sekali dia mem-booking-ku.

Hingga saat aku tinggal di Jakarta kini, kami sering berhubungan lewat telepon, terutama dengan Wenny, seakan dia tidak pernah tahu apa yang telah kuperbuat dengan kedua laki lakinya. Entahlah.

E N D

Aske Bidadari Yang Terluka – 1

Aske Bidadari Yang Terluka – 1

Nama saya Lia, Cecilia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang familiar dengan saya melalui kisah “Aske Yang Perawan” dan “Aske Dan Pegawai Baru” cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Aske.

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.

“Uhh..!!” akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
“Enaknya ngapain yach hari ini” pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

Kutatap wajahku dari cermin riasku.

“Lia.. Lia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?” gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

” Hmm.. Lumayan besar dan sekal” gumamku.

Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

“Huh.. Masa bodo amat” pikirku.

Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

“Ohh..” Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding liang vaginaku.

“Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali..” tubuhku menggeletar hebat.
“Sshh.. Ohh..” aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
“Ahh..” aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Aske sedang merayakan ulang tahunnya di perusahaan tempat kami bekerja dulu.

“Aske.. Bagaimana hidupmu sekarang..?” tanyaku dalam hati, aku jadi teringat kejadian 8 bulan yang lalu, saat kami di perkosa dan di gagahi oleh Alex dan Paul, setelah kejadian itu Aske langsung mengundurkan diri dari perusahaan, sepertinya dia mengalami trauma berat, dia tidak mau di hubungi oleh siapapun, termasuk olehku, berkali kali aku mencoba menelepon dan mendatangi rumahnya, tapi dia selalu mengelak dan berusaha untuk tidak menemuiku, kami kehilangan komunikasi sampai dengan saat ini.

Tiba tiba aku merasa sangat kangen kepada sahabatku itu, aku meraih handphoneku dan mencoba menghubunginya, berharap Aske tidak mengganti nomor HP-nya.

“Hallo..!!” terdengar suara riang dan renyah dari ujung sana.
“Hai Aske apa kabar?” seruku gembira, karena dia belum mengganti nomor HPnya, satu jam kami mengobrol dan saling melepas kangen, akhirnya kami sepakat untuk bertemu sore hari ini di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.

Hampir jam 6 sore dan kami sudah ngobrol cukup lama saat Aske memohon aku untuk ikut dengannya menghadiri acara pesta seorang rekanan kerjanya.

“Kak Lia.. Ikut yaa.. Aske mohon please..” pinta Aske dengan gaya kekanakannya, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
“Ya sudahlah.. Aku juga tidak punya acara hari ini” jawabku yang langsung di sambut dengan sorak riang Aske.

Acara itu sendiri diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Aske saat itu mengenakan gaun pesta panjang warna hitam dengan motif ukiran cina, Aske terlihat makin cantik dengan gaun itu, apalagi gaun itu lumayan ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi, sementara akupun mengenakan gaun biru panjang tanpa lengan dengan selendang biru muda transparan yang aku lingkarkan di pundakku.

“Haii.. Gimana, sudah beres semua?” tanya Aske ke beberapa orang laki-laki yang ada di depan lobi hotel.
“Beres Bu.. Semuanya lancar” jawab seorang dari mereka.

Terus terang aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, tapi pasti berkaitan dengan acara pesta, kan Aske event organizernya.. pikirku, sebelumnya Aske memang bercerita bahwa saat ini kegiatannya adalah menjadi event organizer untuk acara para konglomerat.

Kami sudah berada di dalam hall hotel tersebut, dan kami ikut hanyut dalam suasana pesta yang berkesan aristokrat, ada sekitar kurang lebih 60 orang laki laki dan perempuan yang berada di ruangan besar ini, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, makan, minum, ngobrol dan lain lain sambil diiringi alunan musik yang lembut, maklum, rata-rata mereka sudah berusia kurang lebih 40 tahunan.

Kusapukan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu, sambil meminum segelas wine, Aske memang pintar mengemas acara pesta, semuanya tampak sangat mewah dan terorganisir pikirku. Lalu Aske menyempatkan diri mengenalkanku ke beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kami.

“Selamat malam nona Aske..” tegur seorang laki-laki paruh baya.
“Eh Pak Yos.. Maaf saya datang agak telat.. Kenalkan ini teman kepercayaan saya.” jawab Aske sambil tersenyum ramah kepada laki laki itu yang ternyata adalah si empunya acara pesta tersebut.
“Lia..” ujarku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Kamu cantik sekali Lia..” jawab Pak Yos memujiku sambil tersenyum ramah, aku langsung mengucapkan terima kasih atas pujiannya tersebut.

Saat itu seorang laki-laki datang ke arah kami.

“Hallo, selamat malam semua, acara utamanya sudah akan di mulai, silahkan ambil tempat masing masing..” sapa orang itu sambil tersenyum.
“Ini Pak Pri.. Dia penanggung jawab acara ini”, ujar Pak Yos sambil mempersilakan kami mengikutinya.

Kami duduk di salah satu meja dan menyaksikan dan mendengarkan lagu lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi yang cukup terkenal. Aku masih duduk sambil memegang gelas wine, kepalaku sudah terasa agak berat dan pusing akibat terlalu banyak menenggak minuman tersebut, tak lama kemudian aku pun permisi untuk ke toilet.

“Ke.. Aku ke toilet dulu yach..” ujarku sambil berdiri.
“Aske temenin deh..” jawab Aske menawarkan diri.

Aske sibuk merapikan gaunnya, sementara aku masih memperhatikan wajahku di depan cermin toilet, kepalaku terasa makin berat akibat pengaruh wine tersebut.

“Aduh.. Kayaknya aku kebanyakan minum wine nih Ke..”, ujarku setengah menyesal kepada Aske.

Kami sudah akan ke luar dari toilet saat tiba tiba muncul dua orang laki-laki dan langsung masuk ke dalam ruangan toilet, kebetulan saat itu memang hanya kami berdua yang berada di toilet tersebut.

“Eh.. Bapak-Bapak salah masuk..” ujarku bingung, karena yang masuk itu Pak Pri dan Pak Yos, sementara Aske hanya diam saja sambil tersenyum ke arah mereka.
“Tenang Lia.. Kita cuma mau mencicipi tubuh kamu yang seksi itu kok” ujar Pak Pri sambil mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku, sementara Pak Yos mengunci pintu toilet dari dalam, seketika itu juga aku tersurut mundur berusaha mengelak dari terkaman Pak Pri. Hingga akhirnya tubuhku tertahan oleh washtafel yang berada di belakangku.

“Apa apaan ini.. Aske.. Hentikan mereka..!!” jeritku sambil berusaha mendorong tubuh Pak Pri yang saat itu sudah mendekap dan menggumuli tubuhku, sementara tangannya sibuk berusaha menyingkapkan belahan gaunku, saat itu aku memang mengenakan gaun panjang yang belahannya sampai ke pangkal pahaku. Tak lama setelah itu, Pak Yos dan Aske mendekatiku, mereka membalikan tubuhku dengan paksa hingga posisiku tengkurap di atas washtafel.

“Hentikan.. Aske.. Mau apa kalian..!!” jeritku sambil berusaha meronta dari himpitan tubuh Pak Pri yang menindihku dari atas, sementara Pak Yos memegangi kedua tanganku dengan erat sambil berusaha menciumi bibirku.
“Mmh.. Jangann.. Mmhh.. Hentikan.. Aske..!!” jeritku di sela sela mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku, saat kurasakan jari Aske mulai membuka resleting gaunku, lidah Pak Yos masih bermain-main di dalam mulutku saat Aske yang di bantu Pak Pri berusaha melepaskan gaunku, mereka menariknya dengan paksa melewati kedua tanganku, sehingga gaun bagian atasku merosot hingga sebatas perut.

Ke Bagian 2

Masalahku dan Ibu Mertuaku

  • December 31st, 2008
  • Posted in Sedarah

Masalahku dan Ibu Mertuaku

Sinopsis: Hidup di Villa Mertua Indah bersama istri yang sedang mengandung dan mertua yang menjanda memang kadang menimbulkan masalah. Apalagi bila ibu mertua berani menggoda menantunya untuk mengobati kesepiannya.

Aku tidak tahan lagi ingin menceritakan semua ini. Aku punya masalah yang sangat jarang terjadi. Aku sudah lama terjerat kasus ini dan selalu berusaha lepas tetapi selalu aku kembali terjerat dengan masalah ini seperti orang kecanduan.

Inti persoalannya adalah ibu mertuaku. Aku sudah menikah selama hampir 15 tahun dan dikaruniai 4 anak yang lucu-lucu. Sudah lama sebelum aku menikah dengan istriku ibu mertuaku sudah berstatus seorang janda yang relatif masih cantik dan memang kuakui tubuhnya menggairahkan.

Pada awal pernikahanku dengan istriku Yanti, segalanya begitu baik. Ibu mertuaku memang selalu berpakaian sopan dan tidak pernah menunjukkan hal-hal yang tidak baik. Tingkah lakunya selalu santun penuh sabar dan banyak memberikan pemikiran yang baik dan memang ibu mertuaku banyak disukai ibu-ibu RT di sekitar rumahnya.

Aku akui sampai sekarang memang aku belum mampu mempunyai rumah sendiri, sehingga sejak awal pernikahanku aku tinggal di rumah mertuaku. istriku adalah dua bersaudara, kakaknya juga perempuan ikut suaminya di pulau lain, sehingga memang ibu mertuaku kasihan kalau tinggal di rumah sendiri tanpa ada yang menemani.

Pada waktu itu memang aku selalu hormat pada ibu mertuaku dan aku juga cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah ibu mertuaku sehingga aku cepat diterima sebagai warga yang baik di situ.

Pada waktu itu aku sudah kerja di usaha garment. Letak kantor dan rumahku yaitu rumah ibu mertuaku sangat jauh, boleh dikatakan berbeda kota, sehingga aku selalu harus berangkat ke kantor pagi-pagi subuh. Hal ini memang sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang wajar.

Hari demi hari berjalan wajar dan istriku mulai mengandung anakku yang pertama. Setiap pagi apabila aku bersiap-siap pergi ke kantor selalu istriku belum bangun, bahkan sampai aku berangkat biasanya dia belum bangun. Tetapi ibu mertuaku selalu sudah bangun dan sudah rapi, dan membantuku dengan menyiapkan sarapan. Semuanya berjalan baik.

Sampai suatu pagi ketika aku bangun tidur, ibuku biasanya baru selesai mandi dan beres-beres rumah. Tetapi tidak seperti biasanya, sekali ini kulihat ibu mertuaku keluar dari kamar mandi hanya memakai kimono yang ketat. Peristiwa itu memang tidak terlalu menjadi perhatianku karena dia adalah ibu mertuaku.

Besoknya terjadi hal yang sama, ibuku keluar dari kamar mandi pada saat aku baru bangun dan duduk di ruang tengah, dan sekali ini belahan tengah kimono di dada agak sembarangan di tutup sehingga agak terbuka sedikit. Yang mengkhawatirkan adalah hal ini mulai mempengaruhi pikiranku, tetapi aku selalu berhasil mengusirnya. Anehnya peristiwa seperti ini, aku baru bangun dan ibu mertuaku yang ceroboh selalu terulang.

Dan yang lebih lagi beberapa minggu kemudian pada saat aku baru bangun ibuku seperti biasa keluar dari kamar mandi dan seolah menjadi kebiasaan aku selalu mencuri-curi lihat ke tubuh ibu mertuaku. Tapi sekali ini ibuku hanya memakai handuk yang dilingkarkan ke tubuhnya. Dan jelas handuk tersebut terlalu pendek untuk menutupi semua kulit putih mulus milik ibu mertuaku. Aku akui memang ibu mertuaku masih terbilang muda atau orang mengatakannya awet muda.

Ibu mertuaku hanya senyum-senyum tanpa bersalah lewat di depanku dan masuk ke kamarnya. Adegan handuk ini kembali menjadi rutin yang seolah-olah berbalas-balasan antara ibu metuaku yang sedikit-sedikit seolah berusaha “menunjukkan” dan aku yang sedikit-sedikit berusaha mencuri lihat.

Sampai suatu hari seperti biasa ibuku lewat di depanku dan masuk ke kamarnya dan memang pintu kamarnya tidak pernah di tutup rapat, selalu dibiarkannya agak rengga sedikit, seolah-olah lupa. Dan di dalam kamar ketika ibu mertuaku ganti baju di balik pintu sekali-sekali ibuku berjalan di kamarnya dari satu ujung ke ujung yang lain untuk mengambil sesuatu yang ketingalan di lemari, dengan hanya memakai celana dalam dan BH. Seolah-olah tidak ada yang melihat, tetapi kadang-kadang aku menangkap sudut matanya yang sekejap melihat seperti ingin tahu apakah aku memperhatikannya atau tidak.

Kadang-kadang di dalam kamarnya itu ibuku memijit-mijit kakinya yang memang mulus, seperti pegal atau apa aku tidak tahu. Sambil duduk di pinggir tempat tidur dan masih memakai handuk di tubuhnya ibuku memijit-mijit kakinya dan kadang-kadang mengangkatnya sedikit, dan kadang-kadang seperti tidak sengaja agak merenggangkan pahanya sehingga aku dapat melihat celah-celah di antara pahanya dalam kegelapan tertutup handuk. Kadang aku seperti melihat lirikan mata ibu mertuaku sekejap dan seolah merasa puas kalau mengetahui bahwa aku berusaha melihatnya di celah pintu yang agak renggang. Kejadian ini berulang. Dan keadaan sehari-hari memang tidak ada perubahan sehingga istriku juga tidak mengetahui apa-apa, terutama juga ibu mertuaku bertingkah laku biasa dan memang tidak ada apa-apa. Namun pikiranku melekat padanya dan tidak bisa melupakan kejadian-kejadian tiap pagi.

Kadang-kadang sambil memijit kakinya tiba-tiba ibu mertuaku mengangkat kakinya sebelah ke atas tempat tidur dalam posisi masih duduk di pinggir tempat tidur, sehingga terlihatlah segalanya walau hanya sebentar kemudian kakinya diturunkan lagi. Dan memang apabila keluar dari kamar mandi ibu mertuaku tidak pernah memakai baju dalam karena semua pakaiannya ada di kamar tidurnya. Dan setelah selesai berpakaian, ibu mertuaku selalu senyum dikulum, seolah senang melihatku setengah mati berjalan membungkuk-bungkuk dan aku melepaskan segalanya di kamar mandi.

Kejadian bermacam-macam sering terjadi dan segalanya jadi tidak wajar lagi. Kalau aku bersenggolan dengan ibu mertuaku selalu ada perasaan berdesir dan berdebar, tapi ibu mertuaku cuek-cuek saja. Demikian berlangsung terus aku sering “tidak sengaja” menyenggol ibu mertuaku dan ibu nertuaku kadang-kadang “tidak sengaja” menyenggolku, demikian terus sampai anakku lahir dan sampai ketika anakku berumur 4 bulan.

Pada suatu hari aku pulang kantor pagi-pagi karena aku akan mendapat shift malam karena ada order mendesak. Di rumah hanya ada ibu mertuaku karena istriku sedang pergi ke rumah uwaknya bersama anakku. Dan biasanya kalau istriku ke rumah uwaknya maka bisa sampai sore baru pulang. Aku memang berencana untuk membetulkan kabel listrik di rumahku yang masih kurang untuk lampu depan. Ketika aku berusaha memasang kabel yang ditembok di kamar kulihat ibu mertuaku sedang memasukkan baju-baju yang baru diseterika ke dalam lemari siteriku. Secara insting saja aku mengambil kabel di tembok di belakang lemari yang bergelantungan yang sudah kulepas dari atas dan secara tidak sengaja lenganku menyentuh bagian depan atas dada ibu mertuaku. Aku agak terkejut dan berusaha menarik tanganku tetapi batal karena anehnya ibu mertuaku tidak berusaha menggeser badannya supaya aku tidak terhalang, dan kembali sibuk dengan baju yang sudah diseterika.

Aku juga seperti pura-pura tidak tahu dan menarik-narik kabel itu sedemikian rupa sehingga lenganku bergesekan dengan dada ibu mertuaku. Jantungku berdebar-debar kencang, dan ibu mertuaku juga kulihat hanya membolak-balik baju yang sudah di lemari tanpa tujuan. Tiba-tiba ibu mertuaku memandangku tajam, hanya sebentar kemudian kembali sibuk dengan baju-baju di lemari.

Perlahan-lahan kutarik tanganku dan kupindahkan ke pundaknya untuk merangkulnya. Aku yakin ibu mertuaku bisa mendengar betapa jantungku berdegup-degup keras dan aku agak gemetaran. Ketika perlahan kurangkul, ibu mertuaku tidak bergeser atau berpaling, dia tetap saja sibuk dengan baju-baju di lemari.

Posisi berdiriku sekarang sedemikian rupa jadi berada agak di belakang ibu mertuaku dengan satu tangan merangkul pundaknya. Aku memandangi leher putih ibu mertuaku dari belakang, dan aku tidak tahan tiba-tiba kupeluk ibu mertuaku dan kuciumi tengkuknya bertubi-tubi. Aku tidak perduli ibu mertuaku merasakan tonjolan keras yang merapat di belakangnya karena aku memang sudah tinggi. Ibu mertuaku tiba-tiba bergerak menghindar dan pergi serta mengatakan, “Jangan Dang..,” sedikit ketus, tanpa memandangku. Ibu mertuaku kembali ke ruang tengah tempat dia sedang menyeterika bajunya.

Keadaan dalam rumah memang sepi dan semua pintu tertutup sedangkan jendela depan dengan gorden tipisnya tidak bisa dilihat orang dari luar. Aku sudah demikian tinggi dan seperti kerasukan setan sudah tidak perduli dengan kaidah apapun. aku pura-pura ke dapur seolah-olah mengambil sesuatu di dapur dan kembali ke ruang tengah dari arah belakang dari ibu mertuaku. Aku pandangi tubuh ibu mertuaku dari belakang, dan memang tubuhnya indah sekali di balik baju dan rok yang ketat yang dikenakannya.

Aku pegang pundaknya dari belakang dan pelan-pelan kuusap-usap pundaknya, dan ibu mertuaku diam saja, kemudian tanganku pelan-pelan kulingkarkan di perutnya, ibu mertuaku kupeluk dari belakang. Aku ciumi kembali tengkuknya dengan lembut, dan sekali ini aku dapat merasakan bahwa ibu mertuaku juga berdebar-debar sama seperti keadaanku. Ibu mertuaku berkata berkali-kali “Jangan Dang..,” namum sekali ini tidak ketus tetapi seperti berbisik dan suaranya agak gemetar.

Tanganku aku naikkan ke dada ibu mertuaku sambil tak henti-hentinya aku menciumi leher ibu mertuaku yang putih mulus. Aku remas-remas dadanya dan ibu mertuaku tidak melawan malahan badannya agak menggeliat-geliat dan berkali-kali berbisik “Dadaanng..” Dari situ tanganku terus berpindah ke bawah dan masih dalam posisi memeluk dari belakang. Keadaan itu terus memanas dan akhirnya terjadilah semuanya di situ di sofa dekat meja seterikaan, aku menyetubuhi ibu mertuaku dan ibu mertuaku membalasnya dengan lebih panas.

Demikianlah awal kejadiannya. Pada mulanya aku selalu menyesal atas perbuatan yang baru saja kami lakukan tetapi seperti daya magnet yang kuat, kejadian itu selalu berulang kembali.

Kami berkali-kali melakukan diam-diam dan selalu istriku atau tetangga-tetangga kami tidak ada yang mengetahuinya, dan ibu mertuaku begitu pandai menutupi segalanya seolah tidak ada kejadian apa-apa. Aku banyak belajar dari ibu mertuaku bagaimana menutupi dan berlatih “bersabar” untuk tidak melakukan kesalahan apapun di depan orang lain. Bagi orang luar yang melihatnya hubungan kami terlihat wajar, keluarga kecil yang hidup serasi bersama ibu mertuanya.

Pada setiap kesempatan aku hanya berdua dengan ibu mertuaku selalu saja seolah-olah kami tidak mau menyia-nyiakan waktu dan melakukannya dengan keras dan sangat cepat agar cepat selesai. Keadaan sembunyi-sembunyi ini seolah merasuki kami dan membuat ketagihan. Bahkan ketika kami semua di rumah dan istriku pergi sebentar untuk berbelanja di ujung gang rumah kami atau pergi sebentar ke rumah teman, kami segera melakukannya dengan posisi berdiri atau di tempat cuci piring ibu mertuaku membungkuk dan posisiku dari belakang, kadang tanpa membuka baju kami dan hanya dibuka di daerah tertentu secukupnya. Bahkan kadang ibu mertuaku tidak melepas baju atau apapun dan hanya aku singkapkan celana dalamnya ke samping sedikit tanpa dilepas. Kalau aku bandingkan yang aku lakukan bersama ibu mertuaku bahkan lebih gila dari pada melakukannya dengan istriku. istriku tidak pernah mau melakukan posisi 69, tetapi ibu mertuaku paling suka kalau permainan pembukaanya dengan 69. Hampir segala macam posisi sudah aku lakukan bersama ibu mertuaku, yang tidak pernah kulakukan bersama istriku. Tapi memang aku tidak pernah menuntut apapun dari istriku.

Dulu kadang-kadang aku dan ibu mertuaku senyum-senyum berdua dalam kegiatan sehari-hari atau kadang aku berbisik yang agak porno dan ibu mertuaku mencubitku dengan keras. Kadang-kadang dalam kesempatan duduk bersama di meja makan, tanganku bergerilya di bawah meja tanpa setahu istriku dan anak-anak, tetapi hal seperti ini sangat jarang aku lakukan karena aku dilatih untuk bersabar dan tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu.

Kalau dipikir-pikir aku melakukan hal itu dengan ibu mertuaku hampir di seluruh pelosok rumah pernah kami lakukan, mungkin ini karena selalu keadaanya darurat sehingga kami tidak memilih-milih tempat. Sepertinya aku menikmati itu semua, tetapi juga aku ingin lepas dari itu semua. Tapi anehnya hubunganku dengan ibu mertuaku dan istriku sehari-hari seperti tidak ada perubahan sedikitpun.

Pada awalnya hampir setiap minggu aku dan ibu mertuaku melakukannya minimum satu kali, dan yang paling nekad adalah ketika malam hari aku terbangun dan diam-diam pindah ke kamar ibu mertuaku dan melakukan segalanya, seolah-olah aku yakin istriku tidak akan terbangun, dan anehnya memang istriku tidak terbangun.

Kadang-kadang memang hampir ketahuan oleh istriku tetapi selalu aku atau ibu mertuaku menemukan kata-kata yang tepat untuk alasan atau membelokkan perhatian dan menutupi kejadian sesungguhnya. Kami seperti orang yang kerasukan, bahkan dalam perjalanan ke luar kota atau di rumah saudara kami sempat melakukannya di kamar mandi atau di manapun ada kesempatan hanya berdua dan tidak mencurigakan.

Sampai sekarang anakku sudah empat tetapi sekali-sekali kalau ada kesempatan aku dan ibu mertuaku melakukannya kembali. Ibu mertuaku selalu memuji-muji aku dan mengatakan aku hebat dan dia selalu terpuaskan dan klimaks. Aku tidak tahu apakah rasa puas ibu mertuaku adalah karena punyaku yang memang agak besar atau karena kondisi pesikologis kami yang melakukannya diam-diam sambil agak takut-takut yang membuat kami memang ingin cepat-cepat selesai setiap kali melakukannya. Dan kami seperti keranjingan atau ketagihan akan hal ini.

Tapi di samping itu semua aku tetap tidak bisa lepas dari rasa bersalah dan rasa berdosa yang selalu juga menghantuiku. Berkali-kali aku ingin lepas dari kebiasaan semua ini. Bahkan aku pernah ketus dan tegas menolak ibu mertuaku. Tetapi selalu dia dengan lemah lembut membujukku dan mengatakan apakah aku tidak kasihan kepadanya yang selalu membutuhkan itu. Dan aku demikian lemahnya sehingga selalu kembali terjebak dengan melakukan itu lagi.

Kadang aku marah pada diri sendiri, tetapi pada saat aku ingin melakukannya selalu lupa pada segala pemikiran ini dan selalu kembali melakukannya lagi.

Maafkan aku kalau aku cerita terlalu detail, karena aku masih dalam keadaan seperti keranjingan atau ketagihan dan seperti kerasukkan kalau mengenang segala detail itu. Kadang ini juga mengganggu kerjaku tetapi untunglah tidak ada halangan apapun.

Bagaimana caranya lepas dari semua ini. Aku sadar bahwa kami tidak bisa meninggalkan ibu mertuaku sendiri di rumahnya tetapi aku juga sadar dan berpikir tentang masa depan keluargaku dan anak-anakku. Apa yang sebaiknya aku lakukan.

TAMAT

Antara Jakarta dan Bandung 02

Antara Jakarta dan Bandung 02

Sambungan dari bagian 01

Perlahan, Merry membuka kancing depan celananya dan perlahan menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu dengan air mata meleleh di pipi Merry menarik turun celana dalamnya, sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Merry berusaha menutupi kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi Botak menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Merry menurunkan tangannya. Merry langsung menurunkan tangannya, dan sekarang Botak dan Hitam berjalan mengelilinginya mengagumi tubuhnya.

“Coba sekarang Non berlutut dan merangkak ke temen saya di sana!” perintah Botak, dan Merry menuruti perintahnya, ia merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam yang tinggi dan besar.
“Nah, sekarang coba Non, masukin punya teman saya itu ke mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo nanti di keluar, Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang kebuang. Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit. Kalo sampe kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!”

Merry kembali shock, ia belum pernah memasukkan penis ke dalam mulutnya. Perasaannya muak membayangkan memasukan penis ke dalam mulutnya, ia lebih ketakutan mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.
“Si, si, siap Tuan”, jawab Merry sambil meraih kancing celana Hitam.
“Tunggu”, tiba-tiba Hitam berkata, membuat Merry berhenti kebingungan.
“Minta ijin dulu dong Non!”.

Merry menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua orang itu. Ia takut sekali akan terus-menerus mengalami ini.
“Bo, bo, boleh saya jilat punya Tuan?”, Merry berusaha mengeluarkan suara ditengah isak tangsinya. Pipi Merry tampak berkilat-kilat basah oleh air mata.
“Yah, silakan deh”, jawab Hitam.
“Soalnya Non sopan sekali sih mintanya.” Jari-jari Merry gemetar berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah berhasil restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya. Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana tadi tidak bisa menahan apa yang ada di dalamnya. Celana dalam Hitam sudah turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam yang sudah tegang sekali. Di depan mata Merry, penis itu mengacung dengan panjang sekitar 25 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Penis itu tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya api unggun. Kepala penis itu sendiri berdiameter sekitar 8 cm. Hitam tertawa melihat wajah Merry memucat melihat penisnya.

“Lho, Non, katanya mau..”, kata Hitam tidak sabar. Tidak tahu bagaimana memulainya, Merry memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan mulai menciuminya. Merry terus menciumi selama beberapa saat, kemudian ia mengeluarkan lidahnya lalu ia menjilati batang penis Hitam. Sambil menelan ludah, Merry sekarang membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Hitam sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Merry terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang asin di ujung penis Hitam. Merry berusaha melupakan apa yang baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya menempel disekeliling penis tuannya yang baru.

Hitam mulai mengerang. Dengan tangan kanannya Merry memegang batang penis Hitam, sementara kepalanya bergerak maju mundur berirama dengan berusaha membuka rahangnya lebar-lebar agar giginya tidak bersentuhan dengan kepala penis Hitam. Bibir Merry terus menggosok-gosok maju mundur pada kepala dan batang penis Hitam, sedangkan lidahnya terus begerak menjilati dan membasahinya. Hitam sekarang semakin keras mengerang, Merry ketakutan mendengar erangan Hitam menyangka ia telah berbuat salah dan menyakitinya. Tapi Hitam terus membiarkan bibirnya menggosok-gosok penisnya. Terus, terus, terus sampai akhirnya.

Hitam tiba-tiba memegang rambutnya dan mendorong kepala Merry hingga wajah Merry bersentuhan dengan pinggulnya. Hitam menyemprotkan sperma masuk ke dalam mulut Merry. Merry belum pernah merasakan sperma sebelumnya, ia tak berdaya menelan semua cairan kental yang terasa asin yang dalam sekejap memenuhi mulutnya, dan dengan leluasa masuk ke dalam perutnya.
“aararaagghh!”, erang Hitam, sementara Merry kembali menangis tak berdaya berusaha menelan semua sperma yang terus keluar dari penis Hitam.
“Telen semua!, Semuaakkhahh!”.

Lalu pegangan Hitam pada rambutnya perlahan mengendor dan aliran sperma yang keluar melambat dan akhirnya berhenti. Selama beberapa saat Merry masih memasukan penis Hitam dalam mulutnya, takut akan berbuat salah dengan mengeluarkan penis si Hitam tanpa perintah. Tapi Hitam akhirnya menarik keluar penisnya dari mulut Merry. Merry langsung membungkuk terengah-engah menghirup udara, beberapa kali berusaha menelan sisa-sisa sperma yang masih menempel di lidah dan langit-langit mulutnya, dan Hitam yang juga terengah-engah, berusaha berbicara.
“Kita bener-bener nemuin emas di sini”, Ia tertawa.
Tubuh Merry berkeringat walaupun sebernarnya udara sekitar situ cukup dingin.
“Nona manis ini bener-bener hebat!”, lanjut Hitam.
“Oke nona manis”, Botak maju.
“Giliran saya sekarang!”, Melihat tidak ada yang bisa dilakukannya, dan berharap bila ia menuruti perintah mereka ia akan dibebaskan Merry berlutut di depan Botak dan berkata. “Tuan, bolehkan saya memuaskan Tuan?”.

“Tentu saja boleh!”, jawab Botak sambil menyeringai. Merry kembali membuka celana Botak dan tak lama kemudian keluarlah penis Botak di depan wajah Merry. Penis Botak tidak sebesar milik Hitam, tapi kepala penisnya sangat besar dan berwarna ungu. Merry melakukan kembali apa yang baru saja ia lakukan terhadap Hitam, menciumi, menjilati penis Botak sampai Botak mengerang mencapai puncak kenikmatan.
“aakkhh! aakkhh! Teruusshhkk! aakkhh! Botak berteriak dan spermanya keluar deras masuk ke mulut Merry. Sperma Botak terasa lebih pahit dari milik Hitam, tapi tidak sebanyak yang dikeluarkan oleh Hitam, Merry berusaha untuk menelan semua cairan kental pahit itu ke dalam perutnya.

Botak menarik keluar penisnya, sementara Merry tersungkur dan menangis tak berdaya, berharap mereka berdua puas dan melepaskan dirinya, tapi ternyata harapan yang sia-sia. Hitam berdiri di hadapan Merry, mata Merry terbelalak melihat penis Hitam sudah tegang dan mengacung kembali.
“Berdiri!”, perintah Hitam.
“Ya Tuan!”, Merry berdiri sambil menghapus tangis yang mengalir di pipinya.
“Naik ke belakang box dan berbaring telentang”.
“Iya Tuan, saya naik Tuan”, Merry naik ke belakang box.
Di lantai box itu sudah tergelar kasur tipis. Merry pasrah menyadari sekarang dirinya akan segera diperkosa oleh kedua orang itu. Sambil menangis Merry merangkak naik dan berbaring telentang di atas kasur, gemetar ketakutan dan kedinginan. Sekarang Hitam merangkak ke atas tubuh Merry, Merry ngeri, aku bisa sesak nafas jika ia menindihku. Tuhan, tolong saya Tuhan. Tapi yang dilihatnya cuma wajah Hitam yang menyeringai.

Hitam memajukan pinggulnya, dan Merry langsung menjerit kesakitan ketika kepala penis Hitam mulai membuka bibir vaginaya. Dia tidak pakai kondom, Merry tersadar, dia akan menghamiliku! Ketakutan akan dihamili oleh Botak, Merry terus menangis ketika penis Hitam terus masuk menyakiti vaginanya.
“Aduuhh, Sakiitt! Sakit Tuaan!, Merry menjerit-jerit.
“Tuhaan! Sakiitt!”, Tapi Hitam terus bergerak makin cepat dan keras, makin lama makin dalam penis Hitam masuk ke dalam vagina Merry. 10, 15, 20 dan 25 cm penis Hitam masuk!
“Saakiitt!”, jerit Merry.
“Ampuunn! Ampuunn!”.

Jeritan Merry hanya menambah semangat Hitam. Ia makin keras menghentak-hentak, pinggul dan pantat Merry terbanting-banting di lantai box. Penis Hitam hampir sebesar pergelangan langan Merry, dan seluruhnya bergerak keluar dan masuk vagina Merry yang masih sempit. Merry merasa bagian bawah dirinya seperti tersobek-sobek, tak terlukiskan sakit yang dirasakan oleh Merry, sakit sekali sehingga Merry merasa akan mati saat itu juga. Hitam terus memperkosa Merry, sampai Merry terlalu sakit dan lelah untuk bisa berteriak, tiba-tiba Hitam berguling dan mengangkat tubuh Merry hingga terbaring di atas perutnya. Merry terbaring terengah-engah dengan penis Hitam yang masih masuk seluruhnya. Hitam lalu memegangi pantat Merry dan mulai bergerak lagi, sekarang lebih perlahan tapi masih tetap menyakitkan. Merry masih menangis di atas dada Hitam, sementara Hitam terus memompa keluar masuk. Sebelum Merry berhasil bernafas dengan normal kembali, dirasakannya sebuah kepala penis mendorong tepat di liang anusnya yang kecil dan rapat.

“Ya Tuhan, ya Tuhan! Jangaann!”, Merry melolong ketika penis Botak mulai menembus masuk anusnya senti demi senti. Ya Tuhan, jangan Tuhan. Aku diperkosa dua orang sekaligus! Tolong Tuhan, jerit Merry dalam hati. Dengan satu dorongan final, penis Botak terbenam seluruhnya dalam anus Merry.
“aarrhhkkhh!”, Merry menjerit dan menjerit.
“Sakiit!, Sakiit! Sakiit! Ampuunn!”, Tapi Botak dan Hitam terus bergerak keluar masuk, sampai akhirnya Merry hanya bisa merintih “..sakit,.. Sakit,.. Sakit..”

Dan akhirnya Merry merasakan hentakan pinggul Hitam dan cairan hangat terasa memenuhi vaginanya. Hitam telah mencapai orgasme, Merry mengetahui itu dan ia menyadari dirinya akan hamil karena saat itu adalah saat suburnya. Merry sudah tidak mampu lagi bergerak ketika Botak, juga dengan keras dan brutal mencapai puncak dan meyemprotkan spermanya dalam anus Merry. Dan, kedua laki-laki itu dengan terengah-engah terbaring lemas dengan Merry tepat berada ditengah-tengah mereka. Perlahan Merry merasakan batang kejantanan yang masih bersarang di dalam liang kewanitaan dan juga duburnya telah mengecil, dan mereka terlelap kelelahan. Sedangkan Merry, jatuh pingsan di atas tubuh Hitam, dan ditindih oleh Botak, sementara sperma meleleh keluar dari vagina dan anusnya serta perlahan mengering.

Dengan tubuh berkeringat karena teriknya matahari, tubuh Merry terbaring di atas perutnya dengan tangan kaki terikat pada dua buah batang pohon. Sekarang ia berbaring seperti huruf X di atas rumput dan pasir. Ketika ia mengangkat kepalanya dilihatnya Hitam dan Botak ada di dekatnya, kembali Merry memohon-mohon untuk dikasihani, “Tuan, saya mohon Tuan, jangan sakiti saya lagi Tuan. Saya akan lakukan apa saja yang Tuan suruh. Saya janji Tuan!”.

Botak maju ke depan dan Merry langsung ketakutan melihat Botak memegang sebuah logam yang panjang dan lentur, mirip dengan sebuah antena radio mobil.
“Saya tau Non pasti nurut sama kita. Yang kita mau adalah denger nona manis dan cantik macem Non menjerit-jerit minta ampun”.
“Tapi kenapa Tuan?” tapi Botak cuma tersenyum. Merry langsung meronta-ronta ketika dirasakannya tangan Botak mengusapi pantatnya.
“Jangan! Ampuun, Jangan pecut Saya.., Tuann! Ampuun!”, Merry berusaha melepaskan diri dari ikatan.”Halus sekali”, Ia mendengar Botak berkata. Sebuah jeritan melengking ketika pecut logam tadi mendarat di pantat Merry.
“aaiaiaiaahh!”, Merry menjerit. Dan sekali lagi pecut itu mendarat dan jeritan terdengar lagi.

Sekitar sepuluh kali Botak mengayunkan pecutnya, tapi pada pecutan yang kelima Merry sudah tidak mampu lagi menjerit karena kehabisan tenaga dan nafas. Ketika tangan Botak kembali meraba pantatnya sakit kembali menyengat dan Merry merasakan darah meleleh mengalir turun keluar dari tempat Botak mengayunkan pecutnya.

Segera setelah itu, tangan Merry dilepaskan dari batang pohon dan diikat menjadi satu di depan. Sementara kakinya dilepaskan sama sekali. Lalu ia didorong hingga jatuh telentang dan saat itu juga dirasakannya cairan hangat kental jatuh di atas wajahnya. Ternyata dengan menyiksanya dengan pecut tadi Botak mencapai puncak kenikmatan dan menyemprotkan spermanya ke wajah Merry.

Setelah itu Merry ditarik berdiri, dan Hitam berkata, “Non, kita mau ngundang Non ke rumah kami. Sekitar 3 kilo dari sini. Di sana ada beberapa temen kami, yang tentu juga pengen berkenalan sama Non. Kami pikir mereka pasti suka sama Non, suka sekali malah!”.

Merry kembali gemetar dan pucat, mereka akan memperkosanya lagi, dan sekarang bukan hanya dua orang tapi banyak orang. Merry langsung jatuh berlutut.
“Jangan, saya mohon Tuan, jangan bawa saya Tuan! Jangan, ampun Tuan!” Merry berkata sambil menangis.
“Hush, hush, hush, inget kata saya. Non nurut apa yang kami bilang”. kata Botak sambil menarik tangan Merry untuk berdiri lagi. Merry tidak berkata-kata lagi, ia hanya masih terus menangis. Sementara itu Hitam mengikat tali yang ada di tangannya dengan sebuah tali yang lain dan ujung tali tersebut diikatnya ke bemper belakang mobil box mereka. Pertama Merry kebingungan melihat itu, tapi ia tersadar, “Jangan, jangan, saya tidak sanggup”.
Botak dan Hitam terus masuk ke dalam kabin box dan Botak berkata, “Cuma 3 kilo Non. Non pasti bisa”. Sambil tertawa ia menyalakan mesin. Merry berdiri dengan limbung karena kesakitan akibat pecutan Botak, berusaha menahan dirinya agar tidak ambruk jatuh. Box tadi maju dan tangan Merry tertarik ke depan, dan tubuhnya tertarik dan terbanting ke depan. Box itu berhenti, dengan putus asa Merry kembali berusaha berdiri. Box tadi mulai maju dan di belakang Merry mulai berlari kecil menyeberangi padang rumput yang berbatu dan luas, sambil menyeringai kesakitan, dengan tubuh telanjang, putus asa.
Merry berusaha menghilangkan pikiran itu, sementara box tadi terus melaju di terik matahari.

TAMAT

Lily Panther 20: Menembus Batas – 5

Lily Panther 20: Menembus Batas – 5

Dari bagian 4

Aku memejamkan mata sambil membuka kakiku lebar lebar menunggu apa yang akan terjadi, entah sakit entah nikmat. Rasa pedih mulai terasa ketika penis itu perlahan mulai melesak masuk padahal vaginaku sudah basah, dan semakin nyeri tak kala tertanam semua. Aku tak berani menggerakkan kakiku, penis itu terasa begitu mengganjal gerakanku di selangkangan. Perlahan Reno memulai gerakan memompa namun kuberi isyarat untuk menghentikan dulu.

“Sebentar, penuh nih” bisikku bercampur desah.

Namun dia hanya menurut beberapa detik, selanjutnya dia mulai gerakannya tanpa memperhatikan isyaratku. Gerakan memompa yang perlahan semakin lama semakin terasa nikmat, rasa nyeri berangsur menjadi nikmat dan semakin nikmat ketika dia mulai mempercepat gerakannya, aku sangat berharap dia bisa seperkasa kakaknya.

Begitu rasa nyeri hilang, jeritan kesakitankupun berubah menjadi jeritan kenikmatan, tubuh atletis Reno menempel erat di dadaku, ada rasa geli saat dada yang berbulu itu menyentuh putingku, tapi justru semakin menambah rangsangan, apalagi perutnya yang rata tak terasa mengganjal di perut. Kamipun semakin erat berpelukan saling mentransfer kenikmatan.

Sebenarnya aku agak keberatan ketika dia minta posisi dogie, aku masih ingin merasakan lebih lama dekapan tubuh atletisnya, jarang sekali mendapatkan cumbuan dan belaian laki laki seperti dia, apalagi dengan penis yang gede meskipun relatif pendek.

Begitu tubuhku nungging, segera Reno melesakkan kembali penisnya, kali ini tanpa rasa nyeri saat mulai menerobos menguak liang sempit vagina. Gerakan memompa Reno terasa begitu penuh perasaan meskipun terkadang diiringi sodokan sodokan keras, aku merasa dia begitu romantis saat menyetubuhiku. Rabaan dan ciuman di tengkuk mengiringi gerakan kami, akupun semakin menggeliat tak karuan.

“Sshh.. Aduuh.. Ennaak.. Truss.. Truss.. Yang keraass” tanpa malu aku mendesah memintanya lebih keras menyodokku, rasanya penis besar itu masih kurang masuk ke vaginaku, ada bagian lain di dalam yang belum tersentuh.

“Enak mana sama Dibyo” katanya tanpa memperlambat kocokannya.
“Enak.. Inii, lebih keraass” jawabku sejujurnya dan mulai meracu.

Tak lama kemudian aku sudah berada di atasnya, kutekankan pinggulku lebih dalam sekan hendak melesakkan penis yang tidak panjang itu lebih dalam lagi, alangkah enaknya kalau penis yang gede itu lebih panjang lagi, paling tidak sama dengan punya kakaknya, tapi itulah kenyataannya, gede tapi pendek tapi tetap saja enaak.

Kugerakkan tubuhku di atasnya dengan liar, antara turun naik dan berputar seperti hula hop, Reno merem melek sambil meremas remas buah dadaku. Kutatap wajahnya yang sedang mengerang kenikmatan, rasanya tak bosan menatap wajah imut dan dadanya yang bidang. Dan ternyata itu membawaku lebih cepat menuju puncak kenikmatan, tanpa bisa menahan lebih lama lagi, akupun menjerit dalam nikmatnya orgasme.

Sebenarnya aku nggak mau orgasme duluan, perjalanan masih panjang, masih ada Dibyo yang sebentar lagi datang, kalau sampai orgasme tentu energiku akan banyak terkuras dan akan kelelahan sebelum perjalanan berakhir. Tapi itu hanyalah keinginan, kenikmatan yang kudapat dari Reno terlalu sayang untuk ditahan tahan, dan terpaksa aku menyerah dalam pelukan dan kegagahan Reno.

Aku terkulai lemas dalam pelukan Reno, terbalaskan sudah kekecewaan pada tamuku sebelumnya, bahkan melebihi apa yang aku harapkan, begitu puas rasanya. Tapi ternyata Reno tak berhenti sampai disini, tanpa mempedulikan aku yang sedang lemas dalam dekapannya, dia membalik tubuhku dan langsung menindihnya.

Kembali tubuh kekar itu menghimpit nikmat tubuhku, kocokan Reno mulai cepat dan liar namun masih saja kurasakan penuh perasaan. Hanya beberapa kocokan kemudian, gairahku kembali naik dengan cepatnya, apalagi bibir Reno tak pernah lepas dari leher, dada dan bibirku.

Kedua kakiku naik di pundaknya, terasa kejantanannya semakin dalam melesak di vagina, lebih nikmat rasanya. Kuimbangi gerakannya dengan sebisa mungkin menggoyang pinggulku, tentu lebih susah dengan kaki di atas pundaknya. Kami berdua benar benar terhanyut dalam buaian birahi, terlupakan sudah Dibyo yang belum juga datang.

Akhirnya akupun untuk kedua kalinya tak bisa bertahan, kuraih orgasme kedua darinya, namun kali ini diapun menyusulku ke puncak birahi, hampir bersamaan kami saling memberikan denyutan. Sperma Reno terasa begitu banyak membanjiri liang vaginaku, kudekap erat tubuh Reno hingga kurasakan hembusan napasnya menerpa telingaku.

Ketika Reno turun dari tubuhku, penisnya tercabut keluar, vaginaku serasa kosong dan tetesan sperma sepertinya meleleh keluar membasahi sprei. Kamipun telentang berdampingan dengan napas yang masih senin kamis.

“Kamu hebat, 2 kali aku dibikin orgasme” kataku setelah beberapa saat terdiam sambil menumpangkan kepalaku di dadanya yang bidang.
“Kamu juga hebat, kalau cewek lain sudah terkapar minta berhenti” jawabnya ringan sambil membelai rambutku.
“Andai saja aku tahu kamu seperti ini, sudah sejak dulu aku melakukannya” lanjutnya.
“Tapi belum terlambat kan”
“Iya sih, tapi terlalu lama penantiannya”
“Penantian?”
“Iya, laki laki normal mana sih bisa tahan melihat penampilanmu yang selalu sexy dan ceria, pasti mereka punya fantasi terhadapmu kalau di ranjang, bahkan aku pernah berfantasi bercinta denganmu sambil main sama cewek lain”
“Ah yang benar!!” tanyaku terkejut.
“Sungguh dan aku yakin Dibyo juga sudah lama memendam keinginan mengajakmu ke ranjang tapi nggak ada keberanian saja”
“Dan sekarang?” tanyaku penasaran.
“Ternyata apa yang menjadi fantasiku, tidak ada apa apanya dibandingkan kenyataan barusan, jauh melebihi angan dan harapanku”

Sambil berbincang, kurasakan sperma Reno deras mengalir keluar tapi aku biarkan saja.

“Sekarang aku tak perlu lagi memimpikan kehangatan kamu, kalau aku pingin bisa booking kapan saja, dan kita masih tetap berteman, itulah enaknya setelah ini” lanjutnya.

Dibyo datang tak lama kemudian, setelah aku membersihkan tubuhku, Reno membuka pintu menyambut kakaknya, aku cuek saja telanjang di atas ranjang.

“Sorry aku telat” sapanya sambil mencium pipiku.
“Ah nggak apa kok” jawabku, malah kebetulan aku ada kesempatan bersama Reno lebih lama, lanjutku dalam hati.

Tanpa diminta lagi, Dibyo segera melepas pakaiannya hingga telanjang, terlihat kejantanannya yang setengah menegang, tampak kecil dan memanjang sungguh berbeda dengan adiknya.

“Belum terlalu terlambat kan” tanyanya sembari menghampiri dan mencium bibirku dan kubalas dengan lumatan pula, kali ini aku biasa saja melayani ciuman Dibyo, tak ada kecanggungan seperti saat pertama kali dulu.

Tubuhnya langsung menindihku, kamipun berpelukan sambil berciuman bertautan lidah, seolah saling menumpahkan rasa rindu yang hebat. Bibir Dibyo dengan cepatnya menyusuri tubuhku, turun terus, tak dihiraukan puting buah dadaku, hanya sedikit jilatan lalu terus turun ke perut namun kembali lagi ke atas.

Ketika bibirnya mencapai kedua putingku, kudorong kepalanya ke bawah, ke arah selangkangan. Aku mau merasakan jilatan Dibyo di vagina, dia belum melakukannya, ingin kubandingkan kemahirannya dengan si adik.

Ternyata permainan lidahnya tidak kalah hebat, bahkan lebih mahir dibandingkan adiknya, aku menggeliat kelojotan merasakan lidahnya menari nari dengan lincahnya diantara klitoris dan bibir vaginaku. Cukup lama kepalanya terjepit di antara kakiku, dan kalau tak segera kuhentikan bisa bisa aku mengalami orgasme hanya dengan permainan lidahnya, ini sungguh memalukan.

Dibyo tersenyum penuh kemanangan ketika aku minta dia segera memasukkan penisnya, namun bukannya segera memenuhi kemauanku, tapi malah telentang disampingku dan memintaku gantian mengulum kejantanannya.

Aku yang sudah terbakar birahi terpaksa memenuhi keinginannya, ketika aku tengah jongkok diantar kakinya, Reno yang sedari tadi duduk di sofa mengamati kami, sudah berada di sampingku, dia ikutan telentang di samping kakaknya dengan kejantanan yang sudah tegak menantang.

Sembari mengulum penis Dibyo, kuremas dan kukocok kejantanan adiknya, dua penis yang berbeda bentuk dan ukuran berada dalam genggaman kekuasaanku. Meskipun menyolok perbedaannya, tapi keduanya seakan saling melengkapi, yang satu besar dan pendek sedangkan lainnya kecil tapi panjang, kalau digabungkan tentu akan menimbulkan kenikmatan tersendiri.

Bergantian penis kakak beradik itu mengisi dan mengocok mulutku, mereka mendesis nikmat bergairah, akupun melayani dengan tak kalah gairahnya, perbedaan yang menyolok itu semakin menambah sensasi dan erotika pada diriku, bisa dibayangkan betapa nikmatnya kalau penis itu bergantian mengocok vaginaku, membayangkan saja aku sudah semakin terbakar nafsu.

“Siapa duluan” tantangku setelah aku telentang diantara kedua bersaudara itu, sengaja kubuat suasana lebih liar meskipun aku tahu pasti bahwa sekarang giliran Dibyo. Kalau disuruh pilih, aku lebih suka Dibyo duluan supaya masih bisa merasakan “kebesaran” kejantanan adiknya setelahnya. Harapanku terkabul ketika Dibyo sudah berada di antara kakiku.

“Jangan posisi gini dong, aku susah nih” kata Reno lalu dia minta kami untuk ber-dogie.

Reno duduk di atasku saat kakaknya berada di belakang, penisnya tepat berada di wajahku. Ketika kakaknya mulai mendorong masuk kejantanannya, masuk pula penis adiknya di mulutku, dua penis bersaudara yang berbeda itu mengisi kedua lubang kenikmatan tubuhku bersamaan dari arah yang berbeda. Dengan posisi seperti ini, aku lebih suka penis Dibyo yang dimulut dan adiknya di vagina, tapi itu tinggal tunggu waktu saja.

Ke bagian 6

Mamiku Sayang

  • December 31st, 2008
  • Posted in Sedarah

Mamiku Sayang

Salam bagi semua pembaca yang budiman dan salam kenal untuk semuanya, terutama pengurus yang telah setia membangun situs ini. Okey, saya kenalkan nama saya Bojach, atau sering dipanggil Jach. Saya asli Indonesia dari daerah Sumatera atau sering orang bilang orang melayu asli, kulit putih besih tinggi badan 178 cm. Itulah sedikit mengenai gambaran diri saya. Okey, saya langsung saja pada ceritanya.

Kejadian ini sudah mulai dari umur saya 16 tahun, sampai sekarang umur saya sudah 30 tahun dan saya belum menikah. Ceritanya bermula dimana saya memiliki satu keluarga kecil yang tinggal di daerah yang lumayan romantis. Ayah saya seorang pengusaha yang sukses di bidang nelayan dan dapat dikatakan sampai sekarang ayah saya mesih tetap menguasai di tempat tinggal saya sebagai orang terkaya di daerah Tanjung Balai, di Sumatera Utara. Mami saya memang dapat dikatakan paling dekat dengan saya dibandingkan dengan kedua kakak perempuan saya.

Kakak-kakak saya setelah tamat SMA langsung melanjutkan ke perguruan tinggi di Australia, jadi setelah saya menduduki kelas 2 SMA, kedua kakak saya sudah tidak menemani saya lagi. Sejak itu terpaksa saya hanya curhat dengan mami saya sendiri sampai dengan hal-hal yang terkecil sekalipun, semuanya saya bicarakan dengan mami.

Mami usianya waktu itu baru beranjak umur 35 tahun lebih, dimana ayah telah berumur 50 tahun. Umur mereka cukup berbeda jauh karena mami umur 17 tahun sudah menikah dengan ayah akibat dijodohkan orangtua. Kejadian ini sangat membingungkan saya hingga saat ini, dimana sampai sekarang saya tidak memiliki pacar satu pun dan tidak pernah terpikir oleh saya untuk mencarikan calon istri.

Waktu itu cuaca sangat dingin, gelap dan gerimis turun mulai dari malam sampai pagi harinya, terpaksa saya bermalas-malas tetap di tempat tidur dan seakan-akan enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Tidak terasa sudah pukul 9 pagi, dan biasanya sudah selesai makan pagi. Kebiasaan saya setiap hari Minggu adalah bangun agak kesiangan dan paling siang pukul 8 pagi. Sebenarnya setiap harinya saya harus sudah bangun jam 6 pagi dan langsung mandi dan pergi ke sekolah.

Berhubung hari ini hari Minggu dan terasa tempat tidur merayu untuk ditiduri terus, maka bermalas-malaslah saya hari ini. Terdengar mami saya memanggil dari luar.
“Jach.., bangun..! Udah makan belon..? Udah jam berapa ini..? Jach.. Jach.. Jach..!” kedengaran suara mami mulai mendekati kamar saya dan langsung masuk ke kamar saya yang biasanyatidak pernah terkunci.
“Jach..!” mami duduk di tepian tempat tidur dan langsung mengelus kepala saya, “Yo.. ayo.. bangun Nak Sayang, udah jam 9, kamu mandi gih baru makan..!”
“Ah.. malas Mam, mau tiduran dulu. Entar aja satu jam lagi ya..!”
“Udah Mami tungguin.., entar kamu bohong lantas tidur satu harian.”

Kemudian saya sedikit menggeser posisi tidur saya supaya mami bisa ikut tiduran. Sambil tiduran mami mencari-cari majalah yang mau dibacanya. Saya kelupaan kalau disitu ada Novel yang ceritanya agak ‘hot’, dapat dibilang hanya sekitar seks saja ceritanya. Ya.., terlanjur sudah keambil oleh mami. Saya biarkan saja dia membacanya, dan entah kenapa ada perasaan yang lain setelah mami masuk ke dalam kamar saya, seakan-akan gairah seks saya mulai menjalar menyelimuti tubuh. Bagaimana ini, repot jadinya, karena kebiasaan saya tidur hanya menggunakan piyama untuk tidur dan memakai selimut. AC di ruangan kamar saya mengigilkan badan, dan inilah penyakit saya, kalau situasi dalam keadaan dingin nafsu langsung naik dan meledak-ledak.

Posisi tidur saya waktu itu persis di samping mami dan bersenggolan dengan pahanya. Saya perhatikan mami makin serius membaca novel dan maklum tidak pernah membaca buku yang begituan. Dengan sedikit menggoda saya bertanya, “Bapa kemana Mam..?”
“Kamu macam tak tau aja, kan udah berangkat ke Kisaran, biasa ngantar Ikan. Paling-paling besok udah pulang.”
“Awas Mam, nanti tidak ada pelampiasannya, Papa kan tidak ada di rumah.”
“Enggak, Mama cuman pengen tau aja apa isinya, kok orang-orang pada senang membacanya.” jelasnya.

Sedikit posisi saya agak memeluk mami, maklum hal ini sering saya lakukan karena saya anak Mami dan dimanja, jadi hal ini tidak janggal lagi bagi saya dan mami. Terus entah kenapa, penis saya tepat menempel di samping kemaluannya, dimana mami saya posisinya agak miring menghadap saya. Dengan cuek saya ikutan membaca novel yang dibacanya. Posisi mami membaca telentang, dan agak miring menghadap saya.

Dengan sedikit menggoyang-goyangkan paha, terjadilah pergesekan antara paha saya dengan paha mami, dan hal ini tidak pernah kami lakukan. Sesuatu yang janggal saya rasakan, dimana kalau saya bermanja-manja selalu dalam keadaan memakai celana pendek, tapi dalam keadaan saya sekarang hanya menggunakan piyama tanpa memakai apa-apa, dan perasaan ini tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Mungkin ada setan yang melanda diri saya, batang kemaluan saya pun mulai membesar, dan mungkin mami merasakan itu, tapi dia tidak menghiraukannya, masih taraf wajar pikirnya. Sekilas saya melihat ke paha mami, dasternya tersikap, dan tetap mami tidak menghiraukannya. Dia masih menganggap saya anak kecil yang seperti dulu. Tidak sadarkah dia bahwa saya sudah 16 tahun, dan saya sedang mengalami masa pubertas pertama.

Sekarang keadaan semakin tidak karuan, dan timbul dalam pikiran saya untuk melanjutkan lebih jauh lagi dengan sedikit menggeser dasternya memakai paha saya. Dan alangkah terkejutnya saya bahwa mami tidak mengenakan celana dalam. Terlihat gundul di bagian bukit kemaluannya. Ternyata mami sangat rajin mencukur bulu kemaluannya, maklum dia sangat pembersih. Dengan pura-pura tidak tahu, saya menggeser lagi piyama yang saya pakai. Tersingkap dan terbebaslah penis saya.

Dengan sedikit berpura-pura lagi, saya mengambil bantal yang ada di seberang mami, dan secara otomatis batang kemaluan saya menempel persis di samping vaginanya. Setelah saya mengambil bantal saya tidak kembali lagi dengan posisi pertama, dan pura-pura bertanya.
“Serius kali Ma bacanya..!”
“Iya.., ini ceritanya lagi seru dan menarik.” katanya seakan tidak ada larangan darinya ketika saya sudah mulai jauh bertindak.
Dengan sedikit gerakan, saya menggesek-gesekkan penis saya. Meskipun batang kemaluan saya sudah langsung menempel persis di pinggir vaginanya, mami tidak merasakannya atau berpura-pura. Itulah yang berkecamuk dalam pikiran saya.

“Ah, bodoh amat..!” pikir saya waktu itu.
Dengan telaten saya terus menggesekkan, dan ternyata mami tahu kalau saya agak susah atau memang mami mau memiringkan badannya. Dengan posisi tadi mungkin mami pegal, kemudian mami meletakkan novel di bantal, dan otomatis dia semakin miring posisinya. Mami tidak berkata apa-apa sewaktu dia memiring sedikit lagi yang bertepatan dengan penis saya yang sudah tegang dari tadi seperti sebuah batang kayu. Sepertinya mami maunya tidak disengaja, atau mami juga menikmatinya. Sekarang tepatlah sudah batang kemaluan saya di belahan vaginanya dengan posisi saya masih memeluk bantal yang membatasi saya dengan buah dadanya. Saya sangsi kalau mami tidak mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi tidak ada tanda-tanda mami melarang perbuatan saya.

Sedikit demi sedikit saya menggesek-gesek terus batang kemaluan saya, dan terkuaklah bibir vaginanya. Terasa agak berlendir dan licin vaginanya, dan saya yakin mami pasti menikmati, tapi anehnya mami masih tetap serius membaca novel. Tidak saya hiraukan mami lagi sedang apa. Kemudian dengan sabar saya menggesek-gesekkannya lagi, dan terasa kepala penis saya mulai menerobos bibir vaginanya. Itu semua saya lakukan tanpa berbicara, dan seperti terjadi begitu saja, mungkin mami malu melakukan secara blak-blakan.

Dengan sedikit usaha saya memajukan pantat dan semakin nikmat rasanya, tapi kok agak susah ya masuknya, dimana ukuran kemaluan saya 18 cm panjangnya dengan diameter 3 cm. Tapi dengan dibantu cairan yang mulai keluar dari vagina mami menolong batang kemaluan saya masuk ke dalam dengan sedikit agak menggeser bantal yang saya peluk.
Setelah agak tersentak pantat saya, “Bless..!” masuk semua batang kemaluan saya dan mendiamkan sebentar untuk melihat reaksi mami. Eh ternyata mami masih tetap membaca novel yang ada di tangannya.

Dengan sedikit menarik pantat, anda dapat bayangkan posisi saya dengan gaya miring semakin membuat kami erat terhubung. Tetapi saya belum berani memeluk mami, terpaksa bantal lah yang menjadi pegangan saya. Terasa batang kemaluan saya dipijat-pijat, nikmatnya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Semakin lama penis saya semakin mudah saya maju-mundurkan. Badan mami tertahan dengan papan tempat tidur, jadi kami tetap dengan posisi semula. Terasa sudah lama saya menggesek-gesek dan memaju-mundurkan batang kemaluan saya di dalam vagina yang dulunya adalah tempat saya lahir.

Sudah 10 menit saya melakukannya, semakin licin vaginanya. Tercium bau vagina yang menggairahkan, dan mulai terasa ngilu di kepala penis saya, seperti mau meledak. Setelah sekali goyangan terakhir dan memasukkan dalam-dalam, badanku terasa seperti kesetrum listrik yang bertegangan tinggi.
“Coot.. crott.. croott..!”
Saya peluk bantal kuat-kuat dan tetap membenamkan batang kemaluan saya di dalam vaginanya, dan saya melihat wajah mami agak berkerut menahan nikmatnya. Terasa batang kemaluan saya seakan-akan dipijat dengan kuat, dan terasa ada yang menyiram dari dalam vaginanya. Anehnya batang kemaluan saya tidak langsung lemas, tetapi tetap tegang.

Dengan sedikit waktu untuk istirahat, saya mendiamkan batang kemaluan saya di dalam vagina mami selama 5 menit. Setelah rasa ngilunya hilang, baru penis saya mengecil dan saya cabut dari vaginanya. Saya melihat ke arah vaginanya, terlihat keluar sedikit air mani saya dan meleleh di bibir vaginanya.

Akhirnya mami bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar sambil berkata, “Jach udah tidur-tidurannya, udah jam 10 ini.., tadi janjimu kamu mau bangun jam 10, cepatan mandi dan Mama mau mandi juga, mau nyiapin makanmu..!”
“Bret..!” pintu kamar tertutup setelah itu.
Saya juga bangkit dari tempat tidur dan langsung mandi. Selasai mandi saya memakai celana pendek dan langsung menuju meja makan. Saya mendapati mami sudah duduk menunggu saya untuk makan. Sewaktu makan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara kami.

Setelah kejadian pagi itu terjadi, tidak ada perubahan antara hubungan saya dengan mami. Seperti biasanya, ayah saya telah kembali malam hari, tepatnya pukul 11 malam dan langsung tidur. Memang hal ini sudah merupakan kebiasaannya, tidak pernah punya waktu untuk keluarga, padahal situasi seperti inilah yang saya inginkan, dimana dapat berbincang-bincang dengan ayah atau semua keluarga. Memang dalam berbisnis ayah saya terbilang orang nomor satu di lingkungan saya.

Pagi itu cuacanya sedikit agak cerah dan matahari masuk ke dalam kamar saya karena kamar saya posisinya paling depan, sedangkan kamar mami berada di tengah rumah, dan memiliki kamar membelakangi terbitnya matahari. Terasa silau dengan sinar matahari membuat saya terbangun. Saya pun keluar dari kamar masih dengan menggunakan piyama biasa, tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Terus saya lihat seisi rumah, ternyata masih sepi. Saya lihat jam sudah menunjukkan jam 8 siang. Kebetulan bulan ini adalah hari lmamir panjang untuk naik kelas, pada waktu itu saya mau naik ke kelas 3 SMU.

Maksud hati sih masih mau tidur, tapi di kamar saya silau dengan sinar matahari. Gimana ya, mami belum kelihatan, berarti belum bangun. Terus saya berusaha melangkah ke dapur, ternyata juga belum saya jumpai, berarti benar mami masih tidur di dalam kamarnya. Saya mengarah ke kamar utama, ke kamar ayah dan mami yang lumayan besar. Saya langsung saja mencoba membuka pintu dengan menekan gagang pintu, eh pintunya tidak terkunci. Pelan-pelan saya buka pintu. Benar, terlihat mami masih tertidur pulas, dan saya langsung masuk. Saya menutup pintu kamar, takut nanti kelihatan pembantu, kan bisa berabe.

Kemudian saya mendekati tempat tidur mami, sekilas saya melihat sekeliling kamar tertata rapi, mami memang terkenal suka bersih-bersih. Dengan sedikit lembut saya menghempaskan pantat saya ke tepian tempat tidur, dan sebentar saya perhatikan mami yang sedang tidur nyenyak. Dengan sedikit agak manja saya mencoba membangunkannya.
“Mami.. Mami.., bangun dong..! Udah jam 8 pagi nih..!”
“Ah.., entar aja Jach.., Mami lagi ngantuk nih..!”
Mendengar jawabannya, saya jadi ikut tiduran di tempat tidurnya. Dengan sedikit iseng saya mulai kenekatan saya.

Pelan-pelan tetapi pasti, saya sikapkan daster mami dengan tangan. Oh.. oh.., dia tidak memakai CD lagi, terlihat bersih vagina mami. Batang kemaluan saya berdiri tegak dan langsung menyembul dari dalam piyama. Lima menit saya memandangi kemaluan mami sambil mengelus-elus penis yang sudah mulai tinggi tegangannya.

Kemudian saya mulai memeluk mami dengan posisi mami miring membelakangi saya. Sewaktu saya memeluk tubuhnya, dengan sedikit tenaga saya menarik tubuh mami, dan ternyata mami tidak melawan dan mengikuti kemauan saya. Sekarang mami menghadap saya sama seperti kemarin, hanya kemarin mami dalam keadaan terbangun, membaca novel dan saya tidak memeluk tubuhnya, tetapi sekarang saya memeluk tubuhnya. Posisi dasternya agak tersikap lebih ke atas. Saya mencoba mencari pengaitnya tapi tidak ketemu juga, ya sudah tidak usah terbuka semuanya, nanti takut mami marah pikir saya. Dengan posisi memeluk tubuhnya yang susu kenyalnya mengenai dadaku, saya tidak berani membuka dasternya, apalagi takut kedinginan gara-gara AC di kamar mami.

Sekarang nafsu saya sudah tidak tertahankan lagi, langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke bibir vaginanya, dan ternyata liangnya masih kering dan sedikit agak susah masuknya. Terpaksa saya hanya menggesek-gesek saja bibir kemaluannya. Terlihat oleh saya vaginanya mulai mengembang dan mengeluarkan cairan, langsung saja saya memasukkan penis saya. Sewaktu saya mendorong, terpleset. Setelah dengan susah payah menggesek-gesek, terlihat bibir vaginanya mulai mengeluarkan cairan sebagai pelumas. Mulai terasa seakan-akan batang kemaluan saya mau ditelan habis oleh vaginanya, dimana bibir vagina mami mulai kembang kempis.

“Ah.. ahk..!” geli sekali rasanya.
Ingin rasanya saya memasukkan cepat-cepat, tapi takut terpeleset lagi nanti. Memang agak kesulitan saya memasukkan penis saya. Disaat saya mulai berusaha memasukkan lebih dalam lagi, mami juga rupanya menikmati. Dengan pura-pura tidur dia sedikit merenggangkan pahanya dan memudahkan penis saya masuk lebih dalam lagi. Dengan sekali dorong, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang senggamanya. Saya diamkan agak lama dengan maksud mau melihat bagaimana reaksi mami. Saya sengaja tidak mau menggoyangkan pantat saya, dan ternyata terasa tanggung bagi mami. Kemudian dengan sedikit gerakan, mami memaju-mundurkan pantatnya. Melihat reaksinya, saya juga langsung memulai bergoyang dengan sedikit kelembutan. Secara tidak langsung saya memeluk mami, dan mami masih tetap menjaga sikap dengan tidak mau blak-blakan melakukannya.

Tidak perduli saya dorong badannya dengan posisi saya menindihnya, sedang batang kemaluan saya mulai terasa mengalami tegangan tinggi. Dengan posisi saya di atas mami yang dengan sikap merenggangkan kakinya lebar-lebar semakin cepat saya memompa, dan sekali-kali mami mengikuti irama dengan mengangkat pantatnya. Ada sekitar 20 menit saya melakukannya dan mulai terasa geli di ujung penis saya, dan “Cret.. cret.. cret..!” saya tumpahkan semuanya ke dalam kandungan mami dimana saya juga pernah dikandungnya.

Saya diamkan selama kurang lebih 5 menit. Karena takut mami merasa berat dengan badan saya, saya tetap memeluknya dengan posisi miring sekarang, dan batang keamluan saya masih tetap menancap di dalam vaginanya. Setelap 10 menit terasa penis saya masih tegang. Kembali dengan sikap yang sama kulakukan lagi sampai 3 kali hari itu. Setelah selesai saya tertidur, dan sewaktu saya bangun mami tidak ada lagi. Ketika saya cari-cari, dia sedang masak di dapur dan menegur saya.
“Udah mandi belon Jach..? Mandi gih..!” katany seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Memang mami sangat menikmatinya, begitulah kami melakukan hampir setiap hari dengan tetap mami menjaga sikap tidak mau melakukan secara terbuka.

TAMAT

Modalku Disewa Perawan Tua – 1

Modalku Disewa Perawan Tua – 1

Kisahnya, hanya berselang 4 hari setelah kuterima pembayaran sewa modalku dari Tia, aku kembali membuat jadwal pertemuan bersama Ani, setelah beberapa kali kami saling kontak lewat email seperti halnya ketika kami kontak dengan Tia sebelum peristiwanya berlangsung di penginapan itu. Kali ini sudah yang kelima kalinya kami saling tukar email, bahkan sampai kami saling tukar pengalaman sex dan foto. Kecuali alamat lengkap dan no. telpon kami tetap saling merahasiakan untuk menjaga kemungkinan yang terburuk bagi kami.

Ani nampaknya penuh pengertian dan tidak terlalu banyak menuntut sesuatu. Kebetulan sekali Ani setuju atas jadwal yang kutawarkan yaitu Hari Sabtu Jam 10.00 pagi, namun Ani yang kuserahkan untuk menentukan tempatnya, sebab kebetulan dia lebih tahu suasana di kota yang ingin kami jadikan tempat pertemuan untuk melakukan transaksi sewa modal. Sebut saja di wisma yang letaknya berada di ibu kota propinsiku, sementara aku tinggal di ibu kota kabupaten yang jaraknya ratusan km dari kota tempat tinggal Ani.

Dengan alasan urusan bisnis, akhirnya istriku mengizinkanku berangkat ke ibu kota propinsiku itu. Aku tidak bohong karena urusanku memang urusan bisnis bersama Ani, tapi bisnis gelap, porno dan terlarang. Karenanya aku tidak berani terus terang pada istriku bentuk dan jenis bisnis yang akan kulakukan, sebab jelas ia pasti marah dan tidak akan mengizinkanku kalau ia tahu bahwa aku akan melakukan transaksi sewa modal di kota tersebut, apalagi yang akan kusewakan itu adalah hak miliknya. Melalui mobil panther, aku bisa sampai ke tempat tujuan jauh sebelum jadwal waktu yang kami sepakati, karena memang saya berangkat sebelum jam 7.00 pagi. Karenanya, aku tidak perlu buru-buru, malah aku bisa lebih banyak istirahat sebelum tarnsaksi kami mulai.

Dengan menumpang pada mobil taxi, aku dapat dengan mudah menemukan alamat wisma yang telah disebutkan Ani lewat emailnya. Setelah kubayar dan masuk ke wisma tersebut, saya langsung ke bagian resepsionis untuk menanyakan kalau Ani sudah terdaftar sebagai tamu di wisma itu, sebab kebetulan kami sudah sepakat bahwa jika Ani yang datang duluan, ia akan menunggu di kamar wisma yang telah disewa, tapi jika aku datang lebih dulu, maka aku harus menunggu di ruang tamu sampai Ani datang. Namanya pun sudah disampaikan, yaitu tetap nama emailnya (Ani), sedangkan ciri-cirinya tidak perlu kuketahui sebab fotonya saya sudah lihat yang dikirim lewat email seperti aku juga telah kirimkan foto pribadiku. Setelah kuketahui kalau Ani belum datang sesuai hasil pengecekanku ke resepsionis wisma itu, aku langsung cari tempat duduk yang tersedia di ruang tamu, apalagi wisma itu nampaknya sepi sekali dan kurang sekali pengunjungnya, yaitu hanya satu dua orang saja yang berkeliaran.

Aku dengan sabar dan tenang menunggu saat-saat tibanya Ani di wisma itu sambil kunikmati sebatang rokok dan nonton acara TV yang ada di ruang tamu itu. Jantungku sedikit berdebar karena kami belum pernah ketemu langsung sebelumnya dan belum mengetahui persis bagaimana wajah dan kepribadian Ani yang sebenarnya, tapi tidak separah ketika aku mencari Tia sebagai wanita pertama yang akan menyewa modalku.

“Mudah-mudahan aku tidak salah. Betulkah anda ini yang bernama a..” belum selesai kulamunkan apa yang bakal kulakukan nanti jika ketemu dengan Ani, ternyata tiba-tiba seorang wanita di atas setengah baya (usianya kutaksir di atas 50-an tahun) muncul dengan tawa yang sedikit keras mendekatiku sambil mengacungkan tangannya ke mukaku. Ia tak sempat menyebut namaku secara lengkap sebab aku tersentak kaget sehingga aku spontan berdiri di depannya. Ia nampaknya yakin sekali dan seolah ia telah lama mengenalku, karena tanpa ragu-ragu ia langsung menegur dan mendatangiku. Atau mungkin karena tidak seorangpun lelaki yang duduk menunggu di dalam ruang itu kecuali aku, apalagi fotoku baru saja kukirimkan lewat email.

Tanpa sepata katapun yang mampu kukeluarkan dari mulutku, aku segera menyambutnya dengan sedikit senyum dan maju selangkah agar kami saling berdekatan sambil kutatap tajam muka dan kuamati seluruh tubuhnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Hatiku ikut berkomentar apa ini Ani atau bukan? kok tidak ada kemiripan dengan foto yang ia kirimkan padaku. Dalam fotonya itu nampak masih mudah dan sedikit gemuk serta putih, bahkan rambutnya sedikit panjang, namun tiba-tiba ia berucap,

“Anis khan? kok nampaknya tidak gembira atas pertemuan ini. Ada masalah apa Nis? Tidak yakin dan tidak percaya yah jika aku adalah Ani yang mengundangmu ke tempat ini?” tanya wanita itu seolah heran dan bingung melihat sikapku. Tapi aku cepat mengendalikan diri dan berusaha bersikap serius, gembira dan senang atas dirinya.

“Mmma.. maaf bu’, aku kira tadi petugas wisma ini yang muncul tiba-tiba di depanku tanpa kuketahui dari mana ia masuk. Ternyata ibu inilah yang selama ini selalu kurindukan, kuimpikan dan kutunggu-tunggu sejak tadi. Wah bahagia dan puas rasanya aku bisa bertemu dan mewujudkan impian ini menjadi kenyataan. Tapi..” belum aku selesai bicara dan merayunya agar ia senang, iapun tiba-tiba memotong ucapanku,

“Anda pasti tidak percaya kalau aku adalah Ani khan? Apalagi foto yang kukirimkan itu jauh berbeda dengan wajah dan penampilanku saat ini. Kebetulan foto itu adalah fotoku ketika aku masih muda dan masih banyak laki-laki yang mengejar dan merindukanku. Tapi terus terang kini aku sudah usia lanjut, wajah keriput, penampilan berubah dan rambutkupun tidak terurus lagi, karena aku yakin tidak ada laki laki-laki yang mau merayuku, apalagi melamarku,” katanya seolah mengerti dan menebak apa yang ada dalam pikiranku.

“Bagiku tidak jadi soal penampilannya, usianya, yang penting wanita asli yang bisa memanfaatkan modal yang pernah kuiklankan tempo hari, apalagi jika aku mampu memuaskannya, khan dapat sewa yang lumayan, ha.. ha.. ha..” jawabku sambil tertawa untuk membesarkan semangatnya.

Tanpa disadari kalau ada orang lain di ruangan itu, Ani tiba-tiba mengangkat kedua lengannya dan maju lebih dekat lagi ke arahku untuk merangkulku sebagai tanda kegembiraannya, tapi aku sedikit mundur dan menyadarkannya kalau ada orang lain yang memperhatikan kami, sehingga kuraih tangan kirinya lalu menarik dan menuntunnya ke meja resepsionis guna memesan satu kamar. Ia pun ikut dan mengerti maksudku, sehingga ia bergegas bertanya dan memesan satu kamar pada resepsionis, bahkan ia pesan kamar khusus yang sedikit terpisah dari kamar yang berisi lainnya.

Setelah itu, kami menuju kamar tersebut dengan diantar oleh petugas kamar. Setelah kami berada di dalam dan sama-sama memeriksa keamanan kamar serta kamar mandinya, kami lalu duduk di kursi dan saling memperhatikan. Aku berusaha membangkitkan gairah sexku dengan melupakan usia dan penampilannya yang kurang begitu menarik lagi. Aku berusaha menatap dan membayangkan kalau aku bisa main bersama dengan seorang gadis yang gambarnya terpampang di dinding kamar itu agar syahwatku bangkit.

“Sebelum kita memulai hajat kita di kamar ini, mungkin ada baiknya kalau kita bicarakan dulu apa yang menjadi keinginan kita masing-masing agar aku bisa melaksanakan kewajibanku,” kataku terus terang dan serius pada Ani sambil aku berusaha untuk tidak memandang wajahnya lagi.

“Itu soal kedua sayang, yang penting kita bisa saling menikmati dan saling memuaskan. Aku juga tidak mau puas sendiri tanpa anda puas. Tapi sekalipun anda tidak mampu memuaskanku, aku akan tetap berusaha memuaskanmu, bahkan membayar sewa modalmu melebihi dari apa yang kamu minta tempo hari melalui emailmu. Ok..?” sambutnya penuh pengertian.

Hanya dengan sekali mengeluarkan kalimat, aku langsung mendekatinya dan memintanya untuk berdiri buat memudahkan aku menjamah seluruh tubuhnya. Aku mencoba mengalihkan perhatian untuk tidak memikirkan usia dan wajahnya itu lagi dengan sedikit memejamkan mataku.

“Mau tidak ibu membantuku untuk membuka bajunya, biar aku lebih mudah memainkan perananku,” pintaku pada Ani. Aku tetap memanggil ibu pada Ani karena nampaknya ia tidak keberatan kupanggil demikian, sedang ia selalu memanggilku dengan kata kamu atau anda. Tapi tidak ada masalah. Soal panggilan dan peristilahan bahasa, kurasa tidak sampai mempengaruhi keinginan kami. Dalam keadaan tetap berdiri di depan tempat tidur, Ani lalu membuka bajunya dengan mengangkatnya ke atas, sebab kebetulan baju yang dikenakan saat itu adalah baju panjang sejenis daster, namun agak tebal dengan warna sedikit kebiruan bercampur hitam. Karenanya, ia tidak perlu lagi memakai celana panjang, karena bajunya menutup seluruh tubuhnya dari pergelangan kaki hingga ke bahu.

Aku tidak pernah membayangkan kalau tubuh bagian dalam Ani sangat mulus dan putih tanpa bintik hitam dan merah sedikitpun. Nampaknya ia rajin merawat tubuh bagian dalamnya. Aku sempat terperangah sejenak ketika bajunya terlepas dari tubuhnya, bukan hanya karena putih dan mulusnya kulitnya, tapi juga karena ia nampaknya sudah 100% persiapannya dari rumah. Ternyata Ani sama sekali tidak mengenakan BH dan celana dalam dari rumahnya, sehingga ketika ia melepaskan baju yang dipakainya itu, kontan saja jantungku berdebar melihat pemandangan yang indah sekali di depan hidungku. Apa yang kulihat, tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Payudaranya begitu indah tertancap di dadanya. Ukurannya sederhana sekali seolah payudara itu milik seorang gadis yang masih kurang tersentuh oleh tangan-tangan laki-laki. Nampak dari warna putingnya yang mungil itu agak kecoklatan nan mengkilap serta terlihat masih sedikit montok dan keras.

“Dddiikk.. Oh.. Bbbuu, ke..”panggilku gugup tanpa konsentrasi lagi.
“Ahh.. Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam,” katanya memotong ucapanku, karena aku sempat kebingungan dan tidak tahu apa yang akan kukatakan.
“Saat ini, kuserahkan seluruh tubuhku padamu. Terserah mau diapakan dan mau perlakukan apa saja diriku, aku pasrah demi kepuasan kita sayang,” lanjutnya sambil mendekapku dan menempelkan tubuh telanjangnya ke tubuhku sehinga terasa hangat sekali. Apalagi ketika Ani mengecup pipi dan bibirku yang dilanjutkan dengan isapan pada leherku, aku sedikit bergelinjang karena terangsang.
“Yuk.. Kita ke tempat tidur saja, biar lebih leluasa kita main-main,” bisikku ke telinganya sambil mengangkatnya ke atas kasur yang empuk.

Setelah kubaringkan di atas tempat tidur, aku segera mundur sedikit lalu membuka sendiri seluruh pakaianku kecuali celana dalamku. Secara perlahan tapi pasti, aku mulai mengangkanginya, menindihnya, lalu menjulurkan lidahku ke mulutnya. Anipun mengerti keinginanku, sehingga aku mudah memasukkan lidahku ke rongga mulutnya karena ia sedikit membuka mulutnya. Aku gerakkan kiri kanan dan memutar lidahku ke dalam mulutnya dan Anipun menyambutnya dengan lahap sekali, sehingga lidah kami saling beradu di dalam, bahkan kami saling gantian mengisap. Ani nampaknya sudah mulai terangsang, namun aku biarkan saja menikmati seluruh gerakan lidah, tangan dan pinggulku yang tidak mau tinggal diam.

“Buka celanamu sayang. Aku tak sabar lagi ingin menikmati sentuhan modalmu itu. Ayo.. Buka cepat,” bisiknya di telingaku sambil memegang pinggir celanaku.
“Tunggu sebentar sayang. Waktu kita masih panjang, biar kamu penasaran dulu. Aku mau menikmati dulu seluruh tubuhmu yang telanjang ini,”jawabku berbisik sambil meneruskan aksiku.

Kali ini aku jilati lehernya berkali-kali sehingga ia semakin menggelinjang seolah tidak mampu lagi menahan gelora syahwatnya. Setelah puas, aku sapu ke bawah dengan lidah hingga ke bukit kembar yang menantangku dan menyentuh dadaku sejak tadi. Aku julurkan lidahku sehingga menyentuh ujung putingnya yang bulat berwarna coklat muda. Terasa agak manis dan harum serta hangat. Kuputar ujung lidahku berkali-kali ke kedua putingnya itu secara bergantian. Ani hanya bisa melenguh dan uuhh.. mmhh.. hh.. aaiihh, suara nafasnya terus kedengaran, sampai-sampai terasa hangatnya di pipiku.

“Bagaimana sayang, enak, nikmat dijilatin ininya? Apa pernah dirasakan kenikmatan seperti ini dari suamimu?” tanyaku berbisik sambil menempelkan pipiku ke pipinya.

Ani hanya mengangguk sambil memejamkan mata, lalu aku kembali menyerang kedua payudaranya, baik dengan cara meremas-remasnya maupun dengan memasukkan ke mulutku, namun rongga mulutku tetap tidak mampu menampung semuanya. Ketika aku memutar-mutar lidahku seiring dengan berputarnya pinggulku di atas selangkangannya yang terbuka lebar tanpa penutup, sedikit mulai basah dan tanpa selembar bulupun yang tumbuh di atasnya, Ani semakin histeris ingin berteriak meminta agar aku secepatnya menyingkirkan kain yang menghalangi antara kemaluanku dengan kemaluannya, namun ia hanya melenguh keras dan mencoba meraba pinggir celanaku tapi tangannya kurang berhasil menurunkannya. Akhirnya ia mencoba mengangkat sedikit lutut kanannya lalu menjepitkan ujung kakinya ke pinggir atas celanaku, lalu didorongnya ke bawah hingga turun sedikit sampai pahaku. Aku kasihan melihat ia tersiksa.

“Tenang sayang. Aku akan membukanya sekarang, biar kamu menikmatinya,” kataku sambil membuka celana dalamku dengan tangan kiri tanpa kurobah posisi. Pinggulnya semakin bergerak kiri kanan atas bawah setelah ujung penisku yang berdiri keras sejak tadi menumbuk tepi vaginanya yang sedikit basah, apalagi tanpa dihalangi oleh selembar bulupun.

“Ayo.. cepat sayang. Aku sudah tidak mampu menahan lagi,” bisiknya.
“Apanya yang dipercepat sayang? Gerakan mulutku atau pinggulku?” tanyaku seolah tidak mengerti, padahal kutahu jika ia tidak sabar lagi menunggu sentuhan modalku ke kelentitnya yang mungil nan mengkilap itu.
“Uuhh.. Aaahh.. Ssstt.. Eeehh,” begitulah suara nafasnya yang keluar dari mulutnya secara berulang-ulang ketika aku mencoba mengarahkan ujung modalku ke pintu kenikmatannya. Apalagi ketika aku menyentuhkan ujungnya ke kelentitnya lalu menahan sejenak, ia semakin menggelinjang seolah mencari benda yang menyentuhnya tadi agar dapat bersentuhan seterusnya tanpa putus.

Ke bagian 2

Antara Jakarta dan Bandung 01

Antara Jakarta dan Bandung 01

Laki-laki brengsek!, Merry mengumpat seraya menekan pedal gas Cielonya dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju Bandung, tapi pikirannya masih mengingat kejadian siang tadi ketika ia melihat Rendy, tunangannya sedang menyuapkan sesendok makanan ke seorang wanita di sebuah caf

Minggu Penuh Sensasi

Minggu Penuh Sensasi

Pagi itu seperti biasa aku bangun pagi-pagi dan langsung berdiri didepan jendela sambil menatap rumah disebelah bawah. Dan tak berapa lama orang yang ditunggu keluar, orang itu memakai baju yang bagian pundak dan ketiaknya terbuka. Lalu dia mulai menyapu halaman rumahnya sambil membungkuk, sehingga sebagian payudaranya yang besar terlihat dari kaca aku berada. Melihat payudara yang selalu ditopang oleh BH hitam 36 B itu merupakan rutinitasku tiap pagi.

Tetanggaku itu biasa kupanggil tante Nita. Dia sudah menjanda sekitar 2,5 tahun dan memiliki dua anak. Joko, 6 tahun ikut bapaknya dan Dini, 3 tahun ikut tante nita. Tante Nita berprofesi sebagai guru TK dan dia sangat menjaga penampilan tubuhnya. Sehingga diusia 43 tahun dia terlihat 10 tahun lebih muda. Kalo artis dia seperti Betharia Sonataha yangdi usia kepala 4 tetap terlihat segar dan menggairahkan dan Chintami Atmanegara dengan payudara yang kencang dan merangsang. Dan namaku Sonny waktu itu berusia 22 tahun.

Hari itu hari Minggu jam 10:15. Karna bosan aku pergi kesebelah untuk main. Tante Nita berteman dengan ibuku sejak SMP sehingga hubungan kekeluargaan kami sangat kuat. Kupanggil nama Tante Nita dan Dini, tapi tidak ada yang jawab akhirnya aku cuek dan langsung masuk ke dalam. Aku biasa nemanin Dini main sambil sekalian ngintipin payudaranya tante Nita. Sampai ruang tengah kulihat TV masih menyala dengan Volume kecil dan tante Nita tidur dikasur depan TV itu. Waktu itu tante Nita memakai baju seperti kaos singlet laki-laki, warnanya coklat muda. Yang membuat aku menahan napas karna salah satu payudara tante Nita agak kelihatan karna kaosnya tersingkap keatas sebagian, sementara tangannya menjadi bantalan kepala. Setan masuk kepalaku, pelan-pelan aku maju untuk mematikan TV, setelah itu aku jongkk dengan posisi diatasnya. Kugulung sedikit lagi kaosnya, sehingga kini kedua payudaranya terlihat.

Belum pernah aku melihat payudara tante Nita sejelas dan sedekat itu. kuusap kedua payudaranya perlahan sementara mulutku menelusuri tiap jenjang lehernya. Kuteluspkan tanganku kedalam BHnya untuk meraih pentil payudara tante Nita. Saat tersentuh matanya tiba-tiba terbuka. Spontan tanganku menahan kedua tangannya, mulutku menyerbu mulutnya dan kakiku mengunci kakinya.

” Lepasin Son.. apa apaan ini..?? ” katanya berusaha berontak.
” Tante, Sonny akan muasin tante.. gak usah nglelawan ” satu tanganku turun dan memilin-milin salah satu puting susunya yang mulai mengeras.
” Aaakh.. tapi bukan kaya gini caranya son ” jawabnya dengan suara yang bergetar.
” Pokoknya tante rasakan dulu.. abis itu terserah tante aja” bisikku sambil menjilat lubang kupingnya.
” Ya udah terserah kamu aja ” katanya sambil membuang muka kesamping.

Kubuka kaos tante Nita dan kubaringkan lagi badannya setalh itu kusingkap BH hitamnya dan langsung kusedot kedua puting susu tante Nita yang kencang kemerah-merahan, sementara tanganku membuka celana dan CDnya. Kulihat vaginanya yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang lebat, kucium vaginanya dan tanganku meremas remas pantatnya. Pelan-pelan lidahku yang basah menelusup himpitan daging yang lembut dan meneyntuh kloritas didalamnya.

” aakh..mmh..aakkrrh ” tante Nita merintih menahan rasa nikmat yang sudah lama tidak dia rasakan. Tante Nita menggeliat liar, langsung kupegang pahanya. Kutarik lidahku dan kembali kucium sekitar vaginanya sampai tenang lagi. Kembali kumasukkan lidahku sampai menyentuh kloritasnya, tante Nita menggeliat tapi tidak seliar tadi. Kelihatannya tante nita sangat menikmati tarian lidahku dalam vaginanya, terlihat dari tangannya yang meremas remas puting susunya sendiri. rangsangan semakin kutingkatkan keseluruh bagian dalam vaginanya.

” oouuh.. yahh.. terus son” desah tante Nita yang sudah terangsang. Napasnya memburu tak karuan. Kadang-kadang kuhisap dengan tiba-tiba sehingga tante Nita menggeliat dengan cepat, tubuhnya naik turun bahkan berputar-putar mengikuti jilatanku. Beberapa menit kemudian tubuh tante Nita menegang danmenjepit kepalaku dengan sepasang paha mulusnya. Kedua tangannya mendorong kepalaku agar labih masuk kedalam vaginanya yang mengeluarkan cairan hangat.
” aakhh..oouhh..sshh ” rintihnya tak tertahan. dengan perlahan tante Nita mengendurkan jepitannya, aku berdiri untuk membersihkan wajahku kulihat tante Nita masih menikmati sisa orgasmenya. Pasti sudah lama vaginanya tidak dijilat seperti tadi pikirku tersenyum.

Saat aku kembali tante Nita berjalan terhuyung-huyung kekamarnya. Didepan pintu kusergap dia dan tanganku langsung meremas-remas susunya. Ia mendesah halus kemudian berbalikdan langsung menyerbu bibirku. Mulut kami berpagutan dan lidah kami berperang didalam sana. Sementara tangan tante Nita sibuk mempereteli baju dan celanaku sampai tak ada lagi benang ditubuh kami berdua. Setengah takjub tante Nita melihat penisku yang sudah membesar sempurna, dia meremas-remas penisku cukup lama sambil menjilatinya sampai akhirnya dia menelan habis semua batang penisku itu.

” Ooo.. aarghh.. yaah ” desahku saat tante Nia maju mundur mengulum penisku sementara lidahnya menari-nari disekitar penisku yang terkulum. Setelah beberapa menit kucabut penisku dan kutarik kepalanya dia terlihat kecewa.
” tante aku udah gak tahan ” bisikku sambil mengelus pantatnnya.
” ya udah .. tapi pelan-pelan aja ya ” sambil membuka agak lebar kedua pahanya.

Secara perlahan aku masukkan penisku kevagina tante Nita dengan dibantu kedua tangannya. Kurasakan sensasi yang luar biasa saat penisku mulai tenggelam didalam vagina tante Nita, otot-otot vaginanya terasa menekan-nekan penisku. Tante Nita cuma bisa mendesah menikmatinya. Kemudian dengan mengkakngkang lebar tante Nita biarkan aku leluasa menggenjot vaginanya. Keringatku bercucuran menyatu dengan keringatnya, mata tante Nita terpejam dan mulutnya mendesah tak karuan. Kenikmatan mulai menjalari tubuh kekarku, kukencangkan otot perutku penisku semakin keras memanjang.

” Aaah.. oough ” ia mengerang keras. bobot tubuhnya tak sanggup ditopang lututnya yang goyah oleh rasa nikmat yang tak terkira, aku terus menggerakkan pantatku maju mundur sambil mendengar suara keciprak lendir yang membanjiri vaginanya. Akhirnya dengan mengerahkan sisa tenagaku kusentakkan pantatku kedepan untuk membenamkan penisku sedalam-dalamnya dilobang vaginanya. Tante Nita kembali menjerit halus dan tubuh kami menyatu. Tangannya ketat memelukku kepalanya tersekat dibahuku sehingga jeritannya tersekat disana. Kurasakan gelombang nikmat orgasme merayapi tubuhku, kuremas kuat pantatnya tubuh kami diam membatu mereguk sisa kenikmatan.

setelah puas tante Nita menarikku berbaring menindihku. Kunikmati setiap sentuhannya pada badanku. Sekitar 15 menit kubaringkan dia kubuka pahanya lebar-lebar kumasukkan lagi penisku dengan cepat kelubang vaginanya dan tante Nita mendesah kecil. Dengan segera desahan itu menjadi erangan dan jeritan ketika aku mempercepat gerakan pantatku. Tangannya bergerak taktentu demikian pula kakinya yang mengkang lebar itu.

” aargghh.. oouuhh” jerit tante Nita. Tapi aku tak memperdulikan jeritannya itu, pantatku terus beraksi, penisku menerobos masuk ruang vaginanya. Kurasakan lahar panas dipenisku akan meledak. Maka kurankul pundaknya dan mulutku kubenamkan dileher tante Nita, dengan satu hentakan pantat yang keras kubenamkan penisku sedalam-dalamnya dilubang vaginanya. Pantatnya bergera hebat menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Pahanya membelit erat pinggangku dan mulutnya menjerit tak karuan kemudian gelombang orgasme melanda seluruh tubuhku. ” Crot..crot..crot” spermaku mengalir deras diliang vaginanya diiringi jeritan keras tante Nita.
” Tante sudah puas kan?” bisikku. Dia mengangguk dan akhirnya kami berdua tertidur tanpa sempat merubah posisi.