Archive for October, 2008
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selingkuh Hati – 3
Dari bagian 2
Santi mengangguk sambil tersenyum manis kepadaku, “Dari dulu aku memang sudah tertarik dan suka dengan kamu. Dimataku, kamu orangnya baik, calm, dan sopan. Aku juga sudah menduga bahwa kamu bisa bermain sex berulang-ulang tanpa letih. Terbukti kamu sudah orgasme 2 kali kamu malah terlihat segar. Kok, kamu bisa seperti itu sih, minum obat ya?”
Aku mendengarkanya sambil berulang-ulang mengecup lengannya dan kemudian membelai wajahnya kembali, “Minum obat? Obat apaa? Obat-abit? Hehehehe.. Enak aja. Aku kan nggak ada persiapan kalau akhirnya aku ML sama kamu? Eh, semalem aku sih emang minum obat diare..?” jawabku enteng.
“Eh, emang kamu kenapa?” tanya Santi kemudian.
“Sakit perut laa.. Emang sakit panu?”
“Sekarang masih nggak?”
“Nggak… Udah sembuh kok, kenapa?” tanyaku.
“Ooh.. Kirain masih sakit perut.. Bisa gawat! Kalo kamu orgasme, yang keluar bukan dari penis, tapi dari pantat! Kalo gitu kan, gue yang bingung, Hahaha..”
“Idiidih.., jorok amat sih, Lu!! Nggak disangka, cantik-cantik jorok, hahahaha”
“Ee.. Jangan asal ya! Gini-gini juga, Lu mau ama gue! Buktinya mau jilatin vagina gue.. Dari depan sama dari belakang, kan?”
“Habis.. aku kan emang pengen banget nyetubuhi kamu? Lihat pantat kamu aja aku udah horny.. Apalagi bersetubuh!”
Santi tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian aku bangun untuk meneguk segelas air yang tadi diletakkan di meja. Sementara Santi ke kamar mandi, aku yang sudah selesai minum mengikutinya. Di dalam kamar mandi, Santi membasuh vaginanya dengan air, kemudian mengeringkannya dengan handuk. Aku memperhatikannya dengan seksama. Setelah selesai mengeringkan vaginanya, aku menghampirinya. Dengan memberi kecupan mesra pada tengkuknya, aku berkata.
“San, aku mau lagi, boleh ya?”
Dengan posisi berdiri, aku sisipkan penisku yang sudah agak mengeras ke vaginanya dari belakang, sementara tanganku yang satu meremas payudaranya dari dalam bajunya. Setelah mengangguk, Santi merespon dengan menunggingkan pantatnya, dengan mengangkat satu kakinya ke kakus. Diiringi dengan desahan panjang.. Aku menggenjotnya perlahan-lahan. Desahan demi desahan mengiringi menit dan gerakan kami yang semakin kencang. Dalam posisi yang sama itu kami melewati kenikmatan bersetubuh dengan rasa sayang dan mesra.
Sambil berpegangan di pinggir bak mandi, Santi merespon setiap gerakan aku yang menyetubuhinya sambil meremas pantatnya yang kenyal. Akhirnya persetubuhan kami itu diakhiri dengan jeritan tertahan dari Santi yang merespon orgasmenya, sementara aku mendekapnya dengan erat saat aku merasakan orgasmeku dan menyemprotkan cairan cintaku di dalam vaginanya.
Santi menghempaskan tubuhnya di pinggir bak mandinya. Peluh dan rasa nikmat menjalar di tubuh kami berdua. Dengan penis masih tertancap di vaginanya, aku membelai lembut rambutnya dan memberi kecupan sayang ke pelipis kirinya. Santi berbalik dan mengecup lembut bibirku.
Setelah itu sambil memegang penisku, Santi berkata “Aku bersihkan, ya?”
Dengan tersenyum aku mengangguk. Kemudian Santi mengambil gayung dan mulai membersihkan penisku. Setelah mengeringkan dengan handuk, sambil berjongkok Santi mengocok penisku dengan perlahan, kemudian mengulumnya dengan lembut sekali. Aku menikmati permainannya dengan memejamkan mataku. Rasa nikmat dan geli menjalar di dalam tubuhku dengan cepat. Aku menariknya berdiri dan mencium bibirnya dengan dahsyat sambil memainkan klitorisnya. Kemudian menariknya kembali ke kamar tidur.
Di kamar, aku duduk di pingir tempat tidur dan menarik Santi agar duduk di pangkuanku. Santi mengerti dengan permainanku kali ini. Dengan segera mengambil posisi untuk duduk dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Sedikit-demi sedikit penisku amblas ke dalam vaginanya Santi yang duduk berhadapan denganku. Setelah masuk semua, aku mencium bibirnya yang indah itu dengan penuh nafsu dan bersemangat.
Santi merespon ciumanku dengan menyedot ujung lidahku, sambil berusaha melucuti kaosku. Akupun tidak ketinggalan, ikut pula dalam program pelucutan kaos. Setelah BH aku buka, maka terpampanglah Payudaranya yang indah. Tidak besar, tapi membuat nafsuku tambah bergelora. Walaupun ada sedikit lipatan-lipatan lemak di tubuhnya (karna kurang olah raga), nafsuku bertambah naik saat melihat tubuhnya bugil.
Sambil bergerak naik turun, tubuhnya tidak luput aku serang dengan remasan dan jilatan lidahku. Dengan tangan kiri meremas payudara kanannya, aku menyedot gemas payudara kirinya dengan memainkan putingnya dengan ujung lidahku. Kemudian, aku menjilati dan mencium setiap senti tubuhnya bagian depan sambil meremas pantatnya dari depan. Sementara Santi mengerakkan tubuhnya semakin liar, naik turun dan memutarkan pantatnya. Saat itu penisku seperti diremas dari atas, nikmat dan panas. Seiring dengan waktu, gejolak orgasmepun semakin dekat.
Gerakan-gerakan Santi yang dibuat semakin orgasmeku tidak tertahan. Dengan dekapan yang kencang pada tubuh Santi, aku merapatkan tubuhnya padaku sambil melepas orgasmeku yang kesekian. Setelah itu aku mencim leher dan bibirnya dengan mesra.
Aku tahu Santi belum sampai. Oleh sebab itu masih dalam pelukanku, aku mengangkat tubuhnya dan meletakkan di tempat tidur. Dengan gaya konvensional, aku setubuhi kembali tubuhnya dari atas. Tubuhnya yang indah, dan wajahnya yang cantik tidak membuat sulit menaikkan libidoku. Dengan memegang pergelangan tangannya di kiri dan kanan kepalanya, aku menjilati tubuhnya dan buah dadanya, tidak ketinggalan lengan dan ketiaknya.
Bunyi khas vagina yang becek karena cairannya dan spermaku, ditambah tubuhnnya yang berguncang karena sodokanku, menambah nafsu untuk menyetubuhinya kian memuncak. Santi yang telentang dengan kaki kakinya melebar, segera mengunci tubuhku rapat-rapat. Diiringi dengan desahan panjang dan erangan tertahan, iapun orgasme dalam pelukanku. Setelah reda, aku merapatkan kakinya didepanku. Sambil memeluk kakinya, aku menyetubuhinya untuk mendapatkan kenikmatan puncak. Dan terjadilah. Dengan melepas pelukanku pada kakinya dan memeluk tubuhnya rapat-rapat, cepat-cepat aku tekan penisku dalam-dalam pada vaginanya, dan menyemprotlah cairan cintaku dengan derasnya.
Masih dalam posisi memeluk, aku menciumnya kembali. Senyuman manispun terhampar diwajahnya, walau aku melihat ada rasa letih pada wajahnya. Aku mencium seluruh wajah dan dagunya, sambil berkata “Kamu letih sekali, San. Kamu istirahat dulu, yah?”
Santi merengut “Emang, kamu mau kemana, pulang?”
“Iyaa.. Udah mau malem, San. Nanti kalau malem-malem aku tiba-tiba berubah jadi semangka gimana?” kataku kemudian.
“Biarin!! Aku taruh aja di kulkas. Kan, aku bisa ngeluarin kapan aja aku mau..”
“Maksud kamu, aku harus tinggal disini, gitu?” kataku dengan lembut.
Santi diam mendengar pertanyaanku. Tiba-tiba tangannya bergerak, kemudian memelukku rapat-rapat.
“Santi, walau bagaimanapun aku harus tetap pulang, yah? Kapanpun kamu mau jalan atau bertemu, aku usahakan pasti datang, kok. Nggak enak, nanti kalau ketauan sama pacar kamu, gimana?”.
Perkataanku itu membuat pikiranku kosong beberapa saat. Sebenarnya aku berkata seperti itu dengan penuh pertentangan didalam batinku. Aku memang suka sekali dengan Santi sejak dulu. Tapi karena ia sudah punya tunangan dan kami beda prinsip, aku kemudian mundur. Oleh sebab itu akhirnya aku mengalihkan perhatianku kepada Anita, yang masih satu prinsip denganku. Walau akhirnya dia menikah dengan teman kuliahnya.
Walau dengan berat hati, akhirnya Santi mengizinkan aku pulang. Sebenarnya aku memang ingin sekali menerima tawarannya untuk menginap di kostnya. Tetapi ada banyak hal yang harus aku utamakan, tidak hanya sex atau perasaan sayangku padanya.
I long to know your touch. I wish to kiss your lips. I want you to be mine. I have no idea of how you feel. I am risking all, I know.
Setelah hari itu, aku masih sering bertemu dengan Santi di kantor. Baik di jam makan siang, atau setelah jam kantor, aku masih menyempatkan diri bertemu dengannya sesuai dengan janjiku. Hanya saja aku harus tetap menghilangkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Walau pada kenyataannya aku beberapa kali bermain sex dengannya, perasaan sayangku padanya, dapat aku pendam dengan nafsuku itu.
Beberapa kali aku menyetubuhinya setelah kejadian itu. Baik di kostnya atau di hotel dekat kantorku. Kalau keinginan kami sudah memuncak, pernah kami lakukan dikantor. Dengan menghadap ke kaca gedung, kami melakukannya dengan cepat sambil menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca. Sudah tentu kami melakukannya dengan posisi berdiri dan berpakaian lengkap! Hanya menyibakkan roknya (pernah dengan celana panjang) dan aku cukup membuka resletingku, aku menyetubuhinya dari belakang. Atau berhadap-hadapan dengan kaki Santi yang satu naik keatas kursi. Walaupun ruangan yang kami pergunakan adalah ruangan sisa tidak terpakai di belakang ruangan utama dan kedap suara, kami tetap merasa was-was dan hati-hati bila bermain sex.
Demikianlah pengalamanku dengan Santi, wanita yang pernah aku cintai sesaat walau masih tetap aku sayangi. Biarpun aku samarkan, aku rasa ia akan tahu siapa yang diceritakan diatas. Walaupun aku yakin dia tidak pernah membaca situs ini. Tetapi apabila membaca cerita ini, maafin aku yah..
Time has not diminished the feelings you create inside of me. My soul quivers when I think of our closeness, of our hearts entwined. I savor your touch. It awakens sensations that I thought could only belong to those discovering new love. I gave you all of me when we made our commitment to each other. I am yours, since then, until forever. I love you..
E N D
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selingkuh Hati – 2
Dari bagian 1
Kaki Santi bergerak-gerak perlahan karena ulahku itu. Sekali-kali ia mengangkat kepalanya melihat perlakuanku, kemudian meletakkan kepalanya lagi di tempat tidur. Tanggapannya itu membuat aku semakin berani. Setelah bergantian tangan kiri dan kananku memijat dan meremas, sambil menyentuhkan hidungku pada celana di posisi vaginanya berada dan menggigit-gigit kecil dengan bibir, aku memberanikan diri menurunkan celana pendeknya perlahan-lahan. Sambil telentang, Santi merespon dengan mengangkat pantatnya agar aku bisa mudah menurunkan celananya.
Akupun menurunkan celananya melewati kakinya yang terjuntai di lantai hingga lepas. Langsung aku mencium dan menjitai kakinya dari bawah hingga atas. Sambil kedua tanganku meremas pantatnya, aku menggigit dengan bibirku, vaginanya yang masih terbungkus celana dalam hitam. Itu pun tidak bertahan lama. Akupun menarik lepas celana dalamnya. Disini aku melihat pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Santi dengan vaginanya yang bebulu hitam, menambah voltase yang besar pada senjataku. Aku langsung horny berat..
Tanpa bersabar lagi aku serbu vaginanya dengan lidahku, sampai masuk jauh di dalam. Santi merespon dengan mengangkat pantatnya, dan memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil terpejam dan mendesah. Tanganku yang tadinya meremas-remas pantatnya, sambil mengelus-elus kulitnya bergerak keatas memasuki bagian atas dari dalam kaosnya. Akhirnya aku menemukan daging kenyal yang masih dibungkus bra, dibalik kaosnya. Sambil menjilati vaginanya, aku meremas kedua buah dadanya, yang hanya berukuran 34 itu setelah aku keluarkan dari sarangnya.
Lama aku menikmatinya sambil meremas dan mengelus-elus, karena aku ingin sekali memanfaatkan momen ini untuk selama mungkin, sampai aku puas. Karena hal seperti ini sudah lama aku inginkan. Jilatanku makin menggila, setelah Santi mendesah dan mengerang panjang. Sampai saat ia menjepit kepalaku dengan kakinya, sambil menjambak rambutku kearahnya. Santipun mendapat orgasmenya pertama. Vaginanya bertambah basah, dengan adanya lelehan cairan yang keluar.
Setelah jepitannya melemah, aku menyudahi jilatanku pada vaginanya dengan menciumi kedua pangkal pahanya dan perutnya. Setelah membersihkan mulutku dengan tisyu yang ada di samping tempat tidur, aku menciumi bibirnya. Memberi kecupan-kecupan mesra di bibir atas dan bawah..
“Kok, tadi nggak dilanjutin aja?” tanya Santi kepadaku.
“Dilanjutin gimana maksudnya, San?”
“Dimasukin aja, pasti kamu pengen kan?”
“Iya siih.. Sebenernya aku juga udah horny banget” kataku kemudian.
“Kenapa nggak? Nggak mau yah, sama aku? Kenapa? Aku ada yang kurang ya?” tanya Santi.
“Nggak, bukan itu.. Aku emang pengen banget ML sama kamu.. Dari dulu malah! Tapi aku takut bablas, kalo kamu hamil gimana?”
“Aku pake pengaman kok, pake spiral..” kata Santi.
“Hah.. Kamu pake KB? Tapi nggak ahh.. Malu, San. Aku sering terlalu cepet keluar”
“Malu? Kenapa mesti maluu.. Emang habis itu udahan? Pasti nggak kan?”
Aku heran dengan kata-kata Santi tersebut..
“Kok, kamu tahu, San? Emang kamu udah pernah ML sama siapa selain pacar Lu? ”
“Enak aja Lu.. Ini kali aja Gua bugil sama orang selain pacar Gua.. Ehh, kamu nggak cerita-cerita ke orang lain, kan?”
“Kejadian ini? Nggak lah!! Emang aku siapa.. Eh, untuk yang pernah melahirkan anak, vagina kamu kok masih bagus, sih?” kata aku kemudian. Santi terdiam.
“Kamu tahu dari siapa aku punya anak..?”
Walau aku kaget karena kelepasan ngomong dan takut Santi marah, dengan jujur akupun menjawab dengan hati-hati.
“Sebenernya aku udah memperhatikan kamu sejak kamu masuk pertama kali dengan Anita. Teman-temen waktu itu selalu mencemooh aku, karena menurut mereka Anitalah yang paling ‘wah’ daripada kamu, San. Tapi aku berpendapat beda, kamu yang lebih menarik perhatianku. Tapi setelah aku tahu kamu punya pacar yang sudah dipastikan akan menikahi kamu, ditambah aku tahu kalo kamu sudah punya anak darinya, aku sedikit kecewa. But, it’s okay.. Aku seneng juga kok bisa berteman saja..”
Tidak disadari pembicaraan kami membahasakan diri menggunakan bahasa yang lebih dekat, tanpa menggunakan Gua dan Lu, tapi dengan aku dan kamu. Itupun aku mulai sadar setelah kami berbicara lama.. Kami terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Santi bangun dan mendekati aku yang duduk di pinggir tempat tidur sampingnya. Sambil mengecup bibirku, ia meraba dan meremas senjataku dari balik celana.
“Aku oral yah, kamu mau, kan?” tanya Santi.
Aku tidak menjawab, hanya merespon kecupannya. Sambil duduk dilantai dihadapanku, Santi membuka celanaku satu persatu. Setelah bugil senjataku yang sudah setengah berdiri karena remasannya tadi, diciuminya. Setelah sekali-sekali dikocok, Santipun mulai mengulum lembut penisku. Wahh, rasanya geli dan nikmat sekali. Sedikit demi sedikit libidoku naik ke puncak. Sambil dikulum, tanganku mengelus leher dan buah dadanya dari atas.
Walau masih menggunakan kaos, aku tidak mengalami kesulitan untuk melakukan remasan dan sentuhan pada kulitnya. Tidak berapa lama kemudian darahku bergejolak rasa nikmat sudah menjalah hingga keujung penisku. Akupun orgasme dengan memuntahkan sperma banyak sekali pada Santi. Karena aku sempat memberitahu, cairan cintaku menyembur pada kaos, dan sedikit kena pada rambutnya. Nikmat sekali..
“Terima kasih, yah..” kataku sambil mengecup manis pada kening dan bibirnya.
Sambil bersendau gurau, aku membersihkan cairan cintaku yang melekat pada kaosnya dan rambutnya dengan tisyu. Setelah itu aku ke kamar mandi untuk membersihkan penisku.
Setelah menggunakan kembali celana dalamku dan keluar kamar mandi, aku melihat Santi tidur tengkurap di tempat tidur dengan menggunakan kaosnya, ia sudah menggunakan kembali celana dalamnya yang hitam. Sambil menghampirinya, aku bertanya.
“San, kok seksi gitu gayanya? Kalo mau tidur, aku pulang aja yah?”
“Nggak, kok.. Aku cuma nunggu kamu keluar kamar mandi. Mau pijetin Gua lagi, nggak?”
Tanpa disuruh dua kali aku sudah naik ke atas tempat tidur. Dengan posisi menduduki bawah pantatnya, aku mulai memijatnya. Dimulai dari kedua pergelangan tanganya di samping kepalanya, turun ke bahu. Sampai punggungnya, aku menyempatkan untuk meremas kedua buah dadanya yang terhimpit kasur. Walaupun terbungkus kaos, aku tidak mau meremasnya dengan kencang. Perlahan, tapi aku dapat merasakan daging dibalik kaos dan bra-nya. Setelah itu turun ke bawah lagi, memijit perutnya dan meremas pantatnya. Terus turun kebawah untuk memberi pijatan pada kakinya yang diakhiri pada telapak kakinya.
Dari kaki, tanganku merambat naik untuk memberi pijatan-pijatan halus pada kedua kaki, paha dan pantatnya. Setelah pijatan berkali-kali pada pantatnya, dan memberi elusan lembut pada vaginanya dari balik CD, tanpa persetujuan Santi, aku menurunkan celana dalamnya sambil memberi kecupan pada paha dan kaki bagian belakang hingga celana dalamnya terlepas.
Nafsuku naik, ketika aku melihat vaginanya mengintip dibawah belahan pantatnya. Tanpa membuang waktu, dengan tidur tengkurap pula aku segera menjilatinya dari belakang. Diikuti dengan merenggangkan kakinya kesamping kiri-kanan, suara desahan Santi muncul ketika lidahku menyentuh permukaan vaginanya. Sambil menjilati, tanganku bergerilya keatas, meremas pantatnya dan mengelus punggung bawahnya.
“Uhh… Ahhss.. Ahh.. Ssh..” desahan Santi makin cepat, tatkala bongkahan pantatnya makin dinaikan.
Libidoku naik pol!! Aku segera bangun dan membuka celana dalamku. Dengan senjata yang mengacung keras, aku arahkan dengan cepat ke vaginanya. Setelah menggesekan di vagina dan duburnya, aku masukkan penisku ke vaginanya perlahan-lahan sekali.. Nikmat sekali, hingga berdiri bulu romaku. Akupun menyetubuhi Santi dengan posisi tengkurap. Perlahan, aku masukkan penisku.
“Ahh, aa.. aduuh.. Uuh” kata Santi.
“Maaf, Santii.. Gua nggak kuat.. Aku pengen menyetubuhi kamu, yah.. Sebentar aja.. Hh..” kata aku kemudian.
“Aduh, enak banget.. Ahh..”
Akupun mulai memaju-mundurkan penisku perlahan-lahan. Setelah itu aku merebahkan diatas dan sejajar dengan Santi. Sambil menyusupkan tanganku didalam kaosku, aku menyetubuhinya sambil meremas payudaranya dari balik branya. Remasan demi remasan, sodokan demi sodokan aku berikan kepada Santi. Nikmat sekali persetubuhan kami saat itu. Aku melakukannya sambil sesekali menciumi leher dan bibirnya apabila kepalanya berpaling kesamping.
Beberapa saat kemudian, Santi yang sudah memuncak pada saat aku menjilati vaginanya, mendongakkan kepalanya sambil menaikkan pantatnya untuk memberi jalan penisku agar lebih masuk lagi.
“Aahh.. kuu.. Keluaarr..” desah Santi.
“Akku jugga.. h ” kataku yang sudah dari tadi menahan gejolak orgasmeku.
Dengan posisi mendekap dari belakang, akupun memuntahkan sepermaku di dalam vaginanya, yang disusul kemudian dengan orgasme Santi. Rasa nikmat menjalar pada kami berdua, tatkala memuntahkan cairan kami masing-masing. Persetubuhan yang kami lakukan memang singkat, tapi menimbulkan kenikmatan tersendiri. Terlebih aku, yang memang sudah menginginkan menyetubuhi Santi dari dulu.
Rasa puas, nikmat dan sayang menyatu dalam tubuhku, seolah tidak ingin lepas, aku mendekapnya sambil terus memberi kecupan-kecupan pada bibir, pipi dan lehernya. Kemudian aku merebahkan badanku disampingnya.
Sambil tersenyum maniis sekali, Santi membelai dadaku yang masih terbungkus kaos dan berkata, “Sayang, kamu cape nggak? Kalo cape istirahat disini aja, yah?”
Aku membalasnya dengan membelai wajahnya yang manis itu sambil menjawab, “Nggak, aku malah bahagia bisa berbagi rasa dengan kamu hari ini. Kamu senang nggak?”
Ke bagian 3
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selingkuh Hati – 1
Setelah kejadianku beberapa bulan yang lalu (baca: Perselingkuhan istri muda 1-3), aku masih melakukannya beberapa kali sampai kami benar-benar menghentikannya. Walaupun demikian kami masih tetap berkomunikasi, walau dalam batinku kadang-kadang menginginkannya, aku tetap harus menghormatinya dan hubungannku hanya sebatas teman kerja biasa. Untuk itu aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannku untuk tidak sesering mungkin bertemu dengannya.
Di kantorku ada seorang temanku yang juga merupakan teman dekat Anita, Santi namanya. Mereka berdua bergabung dengan perusahaan kami berbarengan. Oleh sebab itu mereka berdua memang sudah dekat sajak pertama masuk kerja. Dibandingkan dengan Anita, Santi memiliki tubuh yang sedikit tinggi dan langsing. Berparas manis, malah aku terkadang memandangnya sebagai wanita yang cantik. Berambut sebahu dan bergelombang. Walaupun tidak memiliki buah dada yang besar, tetapi bila sedang berjalan, seksi sekali.
Sama dengan Anita, aku dengan Santi memiliki hubungan yang dekat. Malah aku rasa lebih dekat dibandingkan dengan Anita. Aku sering memijatnya di jam kantor, apabila Santi merasa pegal dan letih. Pada saat memijatnya itu, aku sering sekali memperhatikan buah dadanya yang tidak besar, tetapi ingin sekali aku menyentuhnya. Hmm..
Seringnya aku bercanda atau memijatnya, membuat suasana kantor aku menjadikan hal yang biasa untuk dilihat. Walaupun ada sorot-sorot mata tajam kecemburuan, terutama laki=laki yang menyukai Santi. Tetapi kami acuh saja, karena kami berdua menganggap hanya teman biasa dan tidak ada perasaan sesuatu apapun antara satu dengan yang lain. Sampai suatu saat..
Santi tinggal di kost sejak dia kuliah. Berasal dari NTB, dan orang tuanya masih tinggal di sana. Suatu hari, akhir pekan di bulan Mei lalu, aku di telpon untuk segera datang ke kost-nya di bilangan Menteng.
“Ada apa sih, San?” tanyaku.
“Tolongin Gua dong, Gua nggak bisa ngeluarin DVD dari komputer. Kemaren karena hang, Gua matiin aja. Tapi sejak itu dvd-rom Gua nggak bisa dibuka. Hari ini Gua harus balikin dvd ke rental” katanya kemudian.
“Emang kagak bisa dipaksa? Setahu Gua ada lubang kecil di depan yang bisa dicolok untuk bisa dibuka dengan manual, lubangnya kecil, kamu sodok aja pake lidi atau kawat kecil, atau klip kertas kamu lurusin dulu..”
“Woi.. Lu mau bantu Gua kagak? Gua nggak mau maksa dvd-rom Gua.. Ntar Gua kena pidana perkosaan Lu mau tanggung jawab?” jawabnya ketus.
“Sett, dah ni bocah!! Galak amat sih Lu??”
“Emang!!” katanya kemudian.
“Ya udah.. Gua kesana. Eh, depan kost Lu udah nggak ada beling kan? Kalo masih ada tolong sapuin dulu, yah? Ntar kaki Gua luka..” kataku.
“Emang Lu kesini nyeker, kagak pake alas kaki?? Cepet kesini, bawel!!”
Tak lama setelah itu akupun meluncur ke arah menteng.
Sesampainya di depan kost Santi, terlihat sepi sekali. Berkali-kali aku ketuk-ketuk pagar, tetapi nggak ada sahutan. Santi memang berada di lantai 2 dan posisi kamarnya ada di belakang, jadi wajar bila tidak mendengar ketukan aku. Tidak sabar karena matahari mulai terasa panas, aku telpon Santi melalui HP.
“Woi, San.. Gua di depan nih, bukain pagar dong?”
“Iyaa.. Sebentar, Gua turun” kata Santi yang kemudian langsung mematikan HP.
Tidak lama kemudian dia datang dan langsung membukakan pagar.
“Sepi amat sih, San? Pada kemana orang-orang?” tanya aku.
“Adaa, kok. Mungkin mereka nggak denger aja. Teman kost banyak yang keluar. Kalo si Mbak (pembantu) ada dibelakang” jawab Santi.
Setelah menutup pintu pagar, Santi masuk ke dalam diikuti aku dari belakang. Hari itu, Santi menggunakan celana pendek gombrong diatas dengkul dengan kaos warna putih. Aku terus mengikutinya sambil memperhatikan tubuhnya yang berjalan dengan gemulai, memperlihatkan lekuk badan dan bongkahan pantatnya yang bulat. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghampiri komputernya, dan membuka perlengkapanku yang sudah aku persiapkan dari rumah.
Akhirnya aku dapat mengeluarkan secara manual dvd dari dalam. Setelah aku hidupkan, aku mencoba dvd-rom untuk memastikan drive tersebut bisa tetap digunakan seperti semula. Setelah yakin semuanya beres. Akupun berniat pamit pulang.
“Emang ngapain Lu pulang buru-buru? Ngapel juga nggak, kan?”
“Iyaa, sih.. Gua cuma nggak enak aja lama-lama disini. Nggak enak sama temen-temen kos yang lain. Lagian ntar laki Lu dateng gimana?”
“Temen kost yang lain dilantai 2 pergi keluar.. Tahu kemana. Kalau cowok Gua lagi ke Medan.”
Konon dengan pacarnya ini Santi pernah hamil dan memiliki anak diluar nikah, karena hubungan mereka ditentang keluarga. Tetapi karena sesuatu hal, keluarganya menutupinya karena sampai saat ini mereka belum menikah. Walau mereka sudah pacaran sejak SMA.
“Mending Lu bantuin Gua bersih-bersih kamar..” kata Santi kemudian.
“Bersiin kamar Lu? Emang apanya lagi yang dibersihin?” aku menjawab sambil celingak-celinguk sekeliling kamar.
Memang banyak sekali barang-barang yang menumpuk di kamar kos Santi. Tetapi semua ditata apik, dan tidak ada sedikitpun kotoran yang terlihat. Akupun menghampiri kamar mandinya yang terletak didalam kamar. Itu pun terlihat bersih. Sementara Santi memperhatikan aku dengan heran.
“Apanya yang dibersihin sih? Oo, maksud Lu barang-barang ini mau ‘dibersihin’, dikeluarin gitu?” tanya aku kemudian.
“Bukan!! Maksud Gua Lu bantuin ngangkat ni barang-barang. Gua mau bersihin di belakangnya. Keliatannya sih bersih, tapi hanya di atas doang. Gua mau bersihin barang diatas lemari itu” Santi menerangkan sambil menunjuk barang-barangnya diatas lemari. Memang banyak sekali barangnya. Dan aku baru memperhatikan ada sedikit debu, dan sarang laba-laba disana.
“Woi..,. Ditanya malah bengong! Males yaah? Hahahaha..”
“Ayoo, laah.. nggak, Gua tadi baru liat ada sarang laba-laba.. Ternyata Lu penyayang binatang juga, toh? Ngerajutin sarang di atas lemari..”
“Cerewet amat sih!! Udah sekarang kita mulai..” kata Santi.
“Ehh.., disini ada minum nggak? Nanti kalo Gua haus gimana?” kata aku kemudian.
“Ya ada donk. Emang Gua kos di sini kagak pernah minum? Dikira Gua onta, cuma minum sekali terus tahan 2 hari puasa!! Di kulkas ada tuh.. Kalo mau, tapi self service yah!”.
Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan Santi, sementara Santi melotot menahan kesal melihat kelakuanku itu. Kamipun mulai bekerja. Sambil sesekali terbatuk-batuk karena debu diatas lemari ternyata banyak sekali, kami bergotong royong melakukan proyek pembersihan. Aku bertugas mengangkat barang-barangnya, sementara Santi yang bertugas membersihkan.
Di saat tertentu berulang kali buah dada Santi terlihat olehku. Yang membuat aku tambah bersemangat kerja, walau terbatuk-batuk diterjang oleh badai debu. Akhirnya setelah hampir satu setengah jam, kamipun selesai. Aku duduk di lantai bersandar pada tempat tidurnya untuk melepas lelah. Tak lama kemudian Santi membawa 2 gelas minuman, dan menyodorkan satu gelas kepada aku.
“Eh, katanya self service? Ini gelas isinya?” tanyaku.
“Minyak rem..!” kata Santi sengit.
Sambil tertawa aku menerima gelas yang disodorkan, minum sedikit, dan meletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian aku berdiri dan berjalan kebelakang kamar.
“Ehh, mau kemana Lu? Di kasih minum malah kabur” tanya Santi.
“Minjem kamar mandi Lu.. Gua mau cuci steam nih. Muka Gua lengket” Jawabku.
“Jangan ngabisin sabun Gua, yah? Kalo makenya banyak, pake sabun colek aja, atau pake yang di kotak plastik aja, ada rinso..”
“Terus, habis itu di gilis ama mesin, kan?!? Emang, muka Gua, muka dandang apa?”
Santi tertawa mendengar jawabanku, sementara aku mulai membilas mukaku kemudian membersihkannya dengan sabun muka milik Santi.
Setalah aku itu, aku kembali ke kamarnya. Aku melihat Santi sedang menonton DVD Lord of the ring yang tadi macet di komputernya. Mungkin karena takut macet lagi, dia menonto dengan player DVD. Saat itu Santi menonton sambil memijat-mijat kakinya sendiri.
“Kenapa kaki Lu, San?” tanya aku kemudian.
“Rada pegel nih..”
“Sini Gua pijitin.. Eh, mau nggak?”
“Ya, mau laa.. Pake nanya segala.. Dikantor aja mau, apalagi kalo lagi bener-bener butuh?”
Aku pun segera ambil posisi. Santi duduk dilantai dengan bersandar pada tempat tidur, sementara aku disamping kakinya. Sambil memijat, aku bertanya “Emang Lu belon nonton film ini?”
“Udah yang depan doang yang belakang-belakang belum, karena macet Gua belum sempet nonton lagi”
Kami tidak banyak bicara, terutama Santi karena asik menonton film yang diputarnya. Sesekali dia meringis menahan sakit pijatanku. Setelah kedua kakinya aku pijat, Santi minta punggungnya juga aku permak. Posisipun kami rubah, sekarang aku di belakang Santi. Sambil menonton acara film aku melakukan pijatan dari bahunnya, turun ke pinggang, kemudian ke bahu lagi. Terakhir baru dari bahu turun ke telapak tangan.
Karena yang ditonton sesi yang terakhir, film yang diputar ternyata tidak lama. Setelah Santi mamatikan DVDnya, dia mengubah channel lokal dan kembali menghampiriku. Kali ini dia tidak duduk di lantai, tapi di pinggir tempat tidurnya.
“Pijetin kaki Gua lagi doonk? Ntar balik ke punggung lagi yah?”
“Iyaa.. Tapi Lu jangan moloor.. Nanti Gua pulang gimana?”
“Emang kenapa, Lu mau Gua anterin pulang kerumah?”
“Kagaak.. Maksudnya, masa Gua ngucluk keluar kos sendirian..”
“Nggak laah.. nggak tidur kok. Udahlah.. Ayoo doonk” pinta Santi kemudian.
Akupun mulai memijat kakinya satu persatu. Sambil memijat dan dipijat, kamipun mengobrol masalah kantor dan pengalaman-pengalaman yang pernah kami lalui masing-masing. Sambil sesekali melihat acara di TV bila ada yang menarik. Karena posisi Santi duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki menapak di lantai sedangkan aku duduk di lantai menghadap kakinya, membuat aku pegal, aku membalikan badanku, untuk bersandar di tempat tidur. Dengan posisi itu aku bisa melihat TV tanpa memalingkan kepala, karena letak TV berada di depan Santi. Tetapi kondisi ini mengharuskan kepalaku di depan selangkangan Santi.
“Sorry San, rada pegel leher Gua. Nggak Papa kan? Kaki Lu di naikin di pundak Gua aja” tanya aku kemudian.
“Nggak Papa.. Malah enak bisa nindih pundak Lu.. Hehehe.”
Sambil nonton dan mengobrol aku pijat kakinya dari bawah keatas, kiri dan kanan. Entah sadar atau tidat, sesekali Santi merapatkan selangkangannya di belakang kepalaku. Tetapi karena aku nggak enak, aku nggak mau berbuat banyak. Takut Santi nggak suka dengan ulahku. Terakhir, setelah aku memijat dari atas dengkul hingga mata kaki, aku pijat telapak kakinya. Setelah selesai, aku kembali memijat keatas kedua kakinya, sambil membalikkan badanku, agar aku bisa memijat kedua kakinya dengan kedua tanganku. Begitu aku membalikan badan, aku melihat Santi sudah merebahkan badannya di tempat tidur.
“San, udah enak kakinya? Mau diterusin atau nggak?” tanyaku.
“Terusin dulu dong..?” pinta Santi.
Akupun meneruskan pijatanku hingga pangkal pahanya. Tetapi aku nggak berani terlalu lama berada disitu. Aku menaikkan tanganku hingga keperutnya, kemudian turun lagi ke kaki. Karena Santi diam saja, aku mulai memberanikan diri untuk memasuki celah kakinya yang terbungkus celana pendek. Itu pun nggak lama, takut Santi marah karena ulahku. Tidak terasa ulahku itu membuat aku panas juga.
“San, mau dipijat mana lagi?” tanya aku sambil memasuki celah celananya.
“Terserah.. Deh, yang mana?”
“Kalo yang tengah?” tanya aku dengan ceroboh, yang membuat aku menahan nafas menanti jawabanya..
“Terserah..”
Hawa yang panas diluar bertambah panas mendengar jawaban Santi demikian. Kedua tangankupun bertambah nakal memasuki celah celana pendeknya lebih dalam. Yang satu kearah bawah memijat bongkahan pantatnya, yang satu memijat pangkal pahanya didepan vaginanya. Sesekali aku melakukan elusan di vaginanya yang masih tertutup celana dalam dengan menggunakan kelingkingku.
Ke bagian 2
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selingkuh Dengan Istri Teman
Minggu, 24 Oktober 2004
“Hallo?”, kataku ketika telepon sudah tersambung.
“Hallo?”, terdengar suara wanita menjawab.
“Ini pasti Bu Novianti, ya? Saya Roy Takeshi, Bu..”, kataku.
“O, Pak Roy.. Apa kabar?”, tanya Novianti ramah.
“Baik, Bu.. Bisa bicara dengan Pak Yoga, Bu?”, tanyaku.
“Suami saya sejak kemarin malam pulang ke Semarang, Pak..”, kata Novianti.
“O begitu ya, Bu.. Well, kalo begitu saya pamit mundur saja, Bu..”, kataku cepat.
“Sebentar, Pak Roy!”, kata Novianti menyela.
“Ya ada apa, Bu?”, tanyaku.
“Tidak ada apa-apa kok, Pak. Hanya saja rasanya kita sudah lama tidak pernah bertemu”, katanya.
“Betul sekali, Bu. Kebetulan saja saat ini sebetulnya saya ada perlu dengan Pak Yoga tentang masalah bisnis kami, Bu”, kataku.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Roy?”, tanya Novianti serius.
“Mm.. Kayaknya tidak ada, Bu. Terima kasih..”, kataku lagi.
“Sekarang Pak Roy sedang dimana?”, tanyanya kian melebar.
“Saya sedang di jalan, Bu. Tadinya mau ke rumah Ibu. Tapi ternyata Pak Yoga tidak ada di rumah..”, kataku seadanya.
“Kesini saja dulu, Pak Roy!”, ajak Novianti.
“Gimana, ya?”, kataku ragu.
“Ayolah, Pak Roy.. Teman suami saya berarti teman saya juga. Please..”, pintanya.
“Baiklah, saya akan mampir sebentar..”, kataku setelah berpikir sejenak.
“Okay.. Saya tunggu, Pak Roy. Bye”, kata Novianti sambil menutup telepon.
Segera aku menuju ke rumah Yoga, teman bisnisku. Di teras sebuah rumah di kawasan Cipinang Indah, tampak seorang wanita tersenyum ketika aku mendekat. Novianti, sekitar 27 tahun, wajah lumayan enak dipandang. Kulit putih, postur tubuh sedang saja. Yang membuatku suka adalah tubuhnya yang seksi terawat. Aku kenal dia sekitar satu tahun yang lalu ketika aku mengantar Yoga suaminya, pulang dari urusan bisnis.
“Silahkan masuk, Pak Roy”, katanya sambil membuka pintu rumahnya.
“Terima kasih”, kataku sambil duduk di ruang tamu.
“Mau minum apa, Pak?’, tanyanya sambil tersenyum manis.
“Apa saja boleh, Bu..”, jawabku sambil membalas senyumannya.
“Baiklah..”, katanya sambil membalikkan badan dan segera melangkah ke dapur.
Mataku tak berkedip melihat penampilan Novianti pagi itu. Dengan memakai kaos tank-top serta celana pendek ketat/hot span, membuat mataku dengan jelas bisa melihat mulusnya punggung serta bentuk dan lekuk paha serta pantat Novianti yang bulat padat bergoyang ketika dia berjalan.
“Maaf kelamaan..”, kata Novianti sambil membungkuk menyajikan minuman di meja. Saat itulah dengan jelas terlihat buah dada Novianti yang cukup besar. Darahku berdesir karenanya.
“Silakan diminum..”, katanya sambil duduk.
Kembali mataku selintas melihat selangkangan Novianti yang jelas menampakkan menggembungnya bentuk memek Novianti.
“Iya.. Iya.. Terima kasih..”, kataku sambil meneguk minuman yang disajikan.
“Sudah lama sekali ya kita tak bertemu..”, kata Novianti membuka percakapan.
“Betul, Bu. Sudah sekitar enam bulan saya tidak kesini..”, jawabku.
“Senang rasanya bisa bertemu Pak Roy lagi..”, kata Novianti tersenyum sambil menyilangkan kakinya.
Kembali mataku disuguhi pemandangan yang indah. Bentuk paha indah Novianti membuat darahku berdesir kembali. Ini perempuan kayaknya bisa juga.., pikiranku mulai kotor.
“Hei! Pak Roy lihat apa?”, tanya Novianti tersenyum ketika melihat mataku tertuju terus ke pahanya.
“Eh.. Mm.. Tidak apa-apa, Bu..”, jawabku agak kikuk.
“Hayoo.. Ada apa?”, kata Novianti lagi sambil tersenyum lebar. Aku suka tatapan matanya yang terkesan binal.
“Saya suka lihat bentuk tubuh Ibu, jujur saja..”, kataku memancing.
“Memangnya kenapa dengan tubuh saya?”, tanyanya sambil matanya menatap tajam mataku.
“Mm.. Nggak ah.. Nggak enak mengatakannya..”, jawabku agar dia penasaran.
“Tidak enak kenapa? Ayo dong Pak Roy..”, katanya penasaran.
“Sudah ah, Bu.. Malu sama orang.”, kataku sambil tersenyum.
“Iihh! Pak Roy bikin gemes deh..”, katanya sambil bangkit lalu menghampiri dan duduk di sebelahku.
“Saya cubit nih..! Ayo dong katakan apa?”, katanya sambil mencubit pelan tanganku.
“Yee.. Ibu ternyata agresif juga ya?!”, kataku sambil tertawa.
“Tapi suka, kan?”, katanya manja.
“Iya sih..”, kataku mulai berani karena melihat gelagat Novianti seperti itu.
“Kalau begitu, ayo dong Pak Roy kasih tahu ada apa dengan tubuh saya?”, tanya Novianti agak berbisik sambil tangannya ditumpangkan di atas pahaku. Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum sambil mataku tajam menatap matanya.
“Ihh, kenapa Pak Roy tak mau jawab sih?”, suara Novianti terdengar pelan sementara matanya menatap mataku.
Beberapa saat mataku dan mata Novianti saling bertatapan tanpa bicara. Sedikit demi sedikit kudekatkan wajahku ke wajahnya. Terdengar jelas nafas Novianti menjadi agak cepat disertai remasan tangannya di pahaku ketika bibirku hampir bersentuhan dengan bibirnya.
“Tubuh Ibu seksi..”, bisikku sambil menempelkan bibirku ke bibir merahnya.
“Mmhh..”, desahnya ketika kukecup dan kulumat perlahan bibirnya.
Tak kusangka Novianti membalas lumatan bibirku dengan sangat panas dan liar. Lumatan bibir, hisapan dan permainan lidahnya benar-benar membuatku bergairah. Apalagi ketika tangan Novianti dengan berani langsung memegang dan meremas celana bagian depanku yang sudah mulai menggembung.
“Mmhh..”, desahnya ketika tanganku mulai meraba buah dadanya yang cukup besar menantang.
“Kita pindah ke kamar saja, Pak Roy..”, bisiknya sambil bangkit dan menarik tanganku.
“Oke..”, jawabku sambil meremas pantatnya.
Segera kuikuti Novianti ke kamarnya sambil sesekali memegang dan meremas pantatnya. Di dalam kamar. Novianti tanpa segan lagi langsung melepas semua pakaiannya hingga dengan jelas aku bisa menyaksikan betapa seksinya tubuh dia. Aku suka buah dadanya yang cukup besar dengan puting susu kecil berwarna agak coklat. Apalagi ketika melihat memeknya yang dihiasi bulu yang tak terlalu banyak tapi rapi.
“Ayo dong lekas buka pakaiannya..”, kata Novianti ketika melihatku belum membuka pakaian.
“Tubuh Ibu sangat bagus..”, kataku tersenyum sambil membuka pakaianku.
“Apa yang Pak Roy suka?”, tanya Novianti sambil menghampiri dan membantu membuka pakaianku.
“Saya suka ini..”, kataku sambil meremas buah dadanya lalu meraba memeknya.
“Ihh, nakal..!!”, katanya sambil memegang dan mengelus kontolku yang sudah mulai tegang. Kurengkuh belakang kepalanya lalu segera kulumat bibirnya, Novianti pun segera membalas lumatanku sembari tangannya makin keras meremas kontolku.
“Uhh..”, desah Novianti ketika tanganku meremas buah dadanya dan sesekali memainkan puting susunya.
Sambil berdiri kami berciuman dan saling raba apa pun yang mau diraba, saling remas apapun yang mau diremas. Sampai beberapa saat kemudian, kudorong dan kurebahkan tubuh mulus telanjang Novianti ke atas ranjang.
“Oww.. Pak Roy! Enakkhh..”, desah Novianti keras ketika bibirku menyusuri belahan memeknya sementara tanganku memegang dan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Ohh..”, jerit Novianti sambil menggelinjang ketika lidahku menjilati kelentit dan lubang memeknya bergantian.
Tubuh Novianti makin bergetar dan melengkung ketika sambil kujilat kelentitnya, kumasukkan jariku ke lubang memeknya. Terasa di jariku jepitan-jepitan pelan lubang memeknya ketika jariku kukeluarmasukkan perlahan.
“Oohh..”, jerit Novianti makin keras serta dengan keras menjambak kepalaku dan mendesakkan ke memeknya.
“Aku mau keluarrhh, Royyhh..”, jerit Novianti sambil menggerakan dan mendesakkan memknya ke mulutku.
“Oohh!! Nikmaatthh..!!”, jerit Novianti ketika mendapatkan orgasme, lalu tubuhnya melemah. Aku bangkit lalu kutindih tubuhnya.
“Bagaimana rasanya, Bu?”, tanyaku sambil mengecup bibirnya. Novianti tidak menjawab pertanyaanku, tapi membalas kecupanku dengan lumatan ganas walau mulutku masih basah oleh cairan memeknya sendiri.
“Gantian, Pak..”, kata Novianti sambil tersenyum lalu bangkit.
“Mm.. Enak, Bu..”, kataku ketika kontolku dikocoknya sambil sesekali Novianti menjilat kepala kontolku.
“Uhh..”, desahku ketika terasa mulut dan lidah Novianti dengan hangat melumat dan menghisap kontolku.
Jilatan dan hisapan Novianti sangat terasa nikmat. Sangat lihay sepertinya Novianti dalam hal ini. Apalagi ketika lidah Novianti dengan tanpa ragu menjilat lubang anusku berkali-kali sembari tangannya tak henti mengocok kontol. Apalagi ketika ujung jarinya dimasukkan ke lubang anusku, lalu mulutnya tak henti menjilat dan menghisap kontolku.
“Novii.. Enakk bangett..”, kataku sambil terpejam lalu memegang kepalanya. Kemudian kugerakkan kontolku keluar masuk mulutnya.
“Uhh.. Enak sekali, Nov..”, kataku sambil meremas rambut Novianti.
“Sudah deh.. Naik sini!”, pintaku. Novianti menurut.
Setelah menghentikan hisapannya, dia segera bangkit lalu segera naik ke atas tubuhku. Kemudian dengan satu tangan dipegang kontolku lalu diarahkannya ke lubang memeknya. Bless.. Tak lama memeknya sudah mulai digerakkan ketika kontolku sudah masuk.
“Sudah lama saya memimpikan bisa bersetubuh dengan Pak Roy..”, kata Novianti sambil tetap menggerakan pinggulnya turun naik di atas kontolku.
“Memangnya kenapa, Bu.. Mhh..”, kataku sambil meremas kedua buah dadanya yang bergoyang seiring gerakan tubuh Novianti yang bergerak turun naik dengan cepat.
“Mmhh.. Karena.. Mmhh.. Karena sejak pertama kita bertemu, saya sudah suka dengan Pak Roy. Saya tertarik pada Pak Roy.. Mmhh..”, kata Novianti sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum lalu membalas kecupannya sambil meremas pantatnya.
“Ohh, Pak Roy.. Enak sekali rasanya..”, bisik Novianti sambil mempercepat gerakannya.
“Ohh.. Sayaanngg.. Ohh..”, jerit Novianti sambil tubuhnya bergerak makin cepat seperti meronta. Sampai akhirnya, serr! Serr! Serr! Novianti mencapai orgasme.
“Ohh..”, jerit Novianti sambil mendekap erat tubuhku sambil mendesakkan memeknya ke kontolku. Tubuhnya bergetar dan meronta merasakan nikmat yang amat sangat.
“Ohh.. Pak Royy.. Enak sekali..”, bisik Novianti sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum sambil membalas kecupannya.
“Mau posisi apa, sayang?”, tanya Novianti sambil tetap berada di atas tubuhku.
“Posisi kesukaan Ibu Novi apa?”, aku balik bertanya.
“Doggy style.. Mau?”, tanya Novie sambil tersenyum lalu mengecup bibirku.
“Whatever you want..”, jawabku.
Novianti bangkit lalu mulai nungging di pinggir ranjang. Tampak jelas memeknya merekah merangsang.. Segera kuarahkan kontolku ke lubang memeknya, lalu bless.. Bless.. Aku mulai memompa kontolku dalam-dalam di memeknya. Rasanya sangat nyaman dan nikmat.
“Ohh.. Enak banget memekmu..”, kataku sambil meremas pantat Novianti.
“Mmhh.. Kapanpun Pak Roy mau, akan saya berikan.. Mmhh..”, kata Novianti sambil menoleh ke arahku, sementara pantatnya digoyang dan diputar mengimbangi pompaan kontolku.
“Remasshh.. Remass buah dada saya, Pak Royy..”, desah Novianti sambil meremas buah dadanya sendiri.
Aku pun segera menuruti kemauannya. Sambil memompa kontol, tanganku segera memegang, meremas buah dada dan memainkan puting susu Novianti bergantian.
“Ohh.. Ohh.. Nikmaatthh..”, jerit lirih Novianti sambil memegang tanganku yang sedang meremas-remas buah dadanya.
“Ohh.. Enak sekali, sayang..”, kataku sambil mempercepat gerakan kontolku karena sudah mulai terasa ada sesuatu yang ingin keluar seiring rasa nikmat yang aku rasakan.
“Keluarkan saja di dalam memekku, sayang..”, kata Novianti sambil mempercepat goyangan pantatnya.
Kupercepat kontolku keluar masuk memeknya sambil meremas buah dadanya, lalu tak lama kemudian kudesakkan kontolku ndalam-dalam ke memeknya.. Croott! Croott! Croott! Air maniku menyembur sangat banyak di dalam memeknya seiring rasa nikmat dan nyaman kurasakan. Aku terus desakkan kontolku dalam-dalam ke memeknya sampai kurasakan air maniku habis keluar. Dan akhirnya aku merebahkan diri di samping tubuh molek Novianti.
“Pak Roy hebat.. Saya puas..”, kata Novianti sambil meraba kontolku yang mulai lemas.
“Ibu juga hebat, memeknya sangat nikmat..”, kataku balas memuji.
“Kapan pun Pak Roy mau, saya akan selalu penuhi keinginannya..”, kata Novianti sambil tersenyum lalu mengecup bibirku.
“Kapan pun Ibu perlu saya, just make a call..”, kataku sambil membalas kecupannya.
“Saya mau mandi dulu, Pak Roy.. Mau ikut?”, tanya Novianti manja sambil bangkit dan turun dari ranjang.
“Mandi bareng wanita cantik siapa yang mau nolak?”, kataku sambil bangkit pula.
“Ihh! Genit!”, katanya sambil mencubit tanganku.
“Kalau sudah kena air dingin, bisa ada ronde kedua dong..”, bisik Novianti sambil memeluk tubuh telanjangku.
“Siapa takut..”, jawabku sambil mengecup bibir ranumnya.
Novianti, saya sayang kamu..
E N D
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selingkuh
Panggilanku Pink usiaku 23 tahun, teman-temanku semua mengatakan diriku cantik, terbukti bila aku berpergian terutama ke Mall hampir semua cowok memandangku kagum, tinggiku 170 cm, memang cukup tinggi untuk ukuran wanita, bodiku sedang-sedang aja, gaya berjalanku tak kalah dengan peragawati yang berlenggok diatas catwalk.
Singkat cerita pada suatu hari cowokku tertimpa musibah, Hari ditahan disebuah Polres dikota S karena ulahnya yang jelek suka mabuk-mabukan membawa petaka, dini hari sepulang dari sebuah Discotheque Hari cowokku dijalan terlibat cekcok dengan seseorang, rupanya Hari tidak terima dan membuntuti orang tersebut sampai di rumahnya.
Tidak cukup sampai disitu, ternyata Hari paginya kembali kerumah orang tersebut menteror dengan melembar petasan, akibatnya sang pemilik rumah yang belakangan kukenal bernama Sonny melapor ke polisi, ternyata No Pol mobil Hari sempat dikenal oleh Satpam rumah Sonny yang ternyata seorang pengusaha yang cukup dikenal dikota S dan punya pengaruh cukup besar.
Sore hari itu juga Hari diciduk Polisi saat keluar dari bengkel, setelah semalaman diintrogasi keesokan harinya aku datang menjenguk Hari dikantor Polisi, saat itulah aku bertemu dengan Sonny, orangnya cukup ganteng, badannya sangat atletis saat bersalaman dengannya hatiku tiba-tiba berdebar, tangannya menggenggam erat tanganku saat berjabat tangan, seakan tidak ingin melepas, matanya memandangku tajam.
Kami duduk berhadapan dikantor Polisi, mata Sonny terlihat berusaha melirik pahaku yang mulus, hari itu aku memakai rok mini yang bawahannya lebar, akibatnya saat aku duduk dikursi jadi cukup sulit untuk menutupi bagian bawah tubuhku, apa lagi saat kusilangkan kakiku, maka secara tidak sengaja hampir seluruh pahaku terbuka lebar.
Pemandangan ini rupanya tidak disia-siakan Sonny, matanya terus menatap bagian bawah tubuhku, akhirnya sengaja aku duduk seenaknya dihadapannya sambil membaca majalah sambil menunggu Hari diperiksa Polisi, sebentar-sebentar kutukar posisi menyilang kakiku, pada saat itu aku tahu pasti CD-ku akan terlihat dengan jelas oleh Sonny yang duduk didepanku.
Hari akhirnya harus ditahan kecuali ada pencabutan laporan dari Sonny dan ada surat perdamaian, Sonny menyatakan akan pikir-pikir dulu, akhirnya oleh Polisi aku dan Sonny dipersilakan pulang karena Hari akan dilanjutkan untuk diperiksa lebih intensif lagi, kami keluar beriringan, di halaman parkir Sonny berbasa basi menanyakan aku pulang naik apa.
Saat itu aku memang rencana pulang naik Taxi, Sonny menawarkan untuk mengantar aku karena ternyata rumahnya searah dengan rumahku, terus terang aku senang karena sejak pandangan pertama hatiku sudah tertarik dengannya, pikiran kotorku saat itu sudah menerawang, bagaimana seandainya tubuh atletis ini bugil dihadapanku, bagaimana bentuk kontolnya? Dan bagaimana jari tangannya yang kekar itu mengelus kemaluanku?
Dalam perjalanan pulang kami tidak banyak bicara, kami hanya sempat bertukan No HP, sesampai di rumah aku langsung ke kamar melepas semua pakaianku di kamar, dengan tanpa sehelai pakaianpun aku memandang diriku di cermin, kupandang buah dadaku yang ranum dicermin, kemudian aku masuk kekamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi tiba-tiba HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk, ternyata dari Sonny, pesannya singkat mengajak aku bertemu, hatiku berdegup dan segera kubalas, aku menyetujui dan Sonny akan menjemputku 30 menit lagi, akupun sibuk memilih baju yang akan kupakai, akhirnya kupilih terusan ketat dengan bagian bawah cukup mini warna krem.
Sonny datang tepat waktu dan kami menuju coffe shop sebuah hotel berbintang untuk membicarakan kasus Hari, rupanya caffe shop hari itu cukup ramai, dengan alasan takut dikenal orang dan kurang privasi maka Sonny menawarkan untuk ngobrol dikamar saja, entah setan apa yang mempengaruhiku, akupun menyetujui, akhirnya Sonny ke recipsionist memesan kamar dan kami menuju kekamar yang telah dipesan.
Didalam kamar ternyata pembicaraan kamipun sudah tidak kepersoalan Hari, Sonny justru melontarkan banyak kata rayuan, Pink! Wajahmu sangat cantik, tangannya meraih tanganku dan meremasnya, ada aliran hangat mengalir ketubuhku melalui jari-jariku yang diremas Sonny. Akupun merasa Horny.
Tak cukup sampai disitu, Sonnypun melai meraba lenganku sambil berkata kulitmu halus, duduknyapun mulai mendekat disampingku, entah mulai kapan akhirnya bibir kamipun sudah saling berpagutan, Sonny mencium habis bibirku, dan aku yang sejak tadi sudah tertarik dengannya membalas ciuman Sonny penuh gairah, lidah kami saling bergantian masuk kedalam mulut kami masing-masing.
Tangan Sonny tidak tinggal diam mulai menjamah dan meraba seluruh bagian tubuhku, menambah gairahku dan tanpa terasa CD-ku mulai basah tepat dibagian Vaginaku, pakaian yang kukenakan dilorotnya dari atas bagian lengan sehingga payudaraku yang memang tidak ber BH menyembuk keluar, diremasnya sebentar kemudian Sonny melalapnya denga rakus kedua payudaraku secara bergantian.
Serangan Sonny ini kubalas dengan meremas-remas kontolnya dari luar celana, dapat kurasakan betapa besar kontol Sonny, jilatan-jilatan Sonny di kedua payudaraku semakin hebat sehingga membuatku tidak tahan, akhirnya kusuruh dia membuka seluruh pakaiannya, Sonny menurutiku membuka pakaiannya hingga sisa CD yang tersisa, dari balik CD-nya dapat kulihat onggokan besar batang kemaluannya, ukuran panjangnya normal tapi besarnya yang menurutku tidak normal, sangat besar sekali sehingga saat kugenggam rasanya tanganku tidak cukup menggenggamnya.
Sonny kembali melakukan serangan dengan melumat bibirku, leherku, telinga hingga lidahnya memasuki lubang telingaku, kembali keleher dan berhenti di payudaraku dengan gigitan kecil terus Sonny menjilati tubuhku, terus kebawah hingga pusarku, aku menggelinjang kegelian, Sonny terus menjilati tiap jengkal tubuhku sambil merosotkan pakaianku hingga tersisa G Sring yang kupakai, tangannya mengelus ujung CD-ku yang sudah basah kuyup sejak tadi.
Bibir Sonny terus menurun kebawah tepat diselangkanganku, tangannya menarik tali G Stringku hingga CD-ku yang minim terlepas dan bulu-bulu tipis dikemaluankupun tampak dengan jelas, bibir Sonnypun langsung menjelajah ke seluruh bagian vaginaku, klitorisku dijilatinya dan lidahnya memainkan turun naik.
“Uu.. Uuh! Uu.. Ooffp! Ee.. Naak! Auu.. Uuf! Terus Sonn..!”
Aku sudah seperti kesetanan akibat permainan lidah Sonny yang terus menyapu rata vaginaku sambil sebentar-sebentar menghisap klitorisku, cairan bening yang mengalir deras dari dalam lubang kemaluanku dihisap habis olehnya.
Aku dibuat benar-benar hampir pingsan dibuatnya, akhirnya kuraih kontolnya yang besar dan kuarahkan ke vaginaku, Sonny menurut aja, sepertinya dia juga sudah tidak tahan lagi, batang kemaluannya luar biasa besarnya namun karena vaginaku sudah luar biasa basahnya karena nafsu maka walau kemaluan Sonny cukup besar bisa masuk juga.
Clep..! Clep..! Slop..! Keluar masuk, genjotannya makin kasan membuat diriku hampir pingsan mengalami kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya, 15 menit kemudia kamipun orgasme yang bersamaan.
Sonny rupanya belum puas sampai disini, dicabutnya kontolnya yang besar itu dari liang vaginaku, iapun langsung mengarahkan bibirkan ke vaginaku, kembali vaginaku dijilat habis dan dihisap sehingga air mani kami berdua yang tadinya meluber di dalam vaginaku habis dihisap dan ditelannya.
Lidahnya dijulurkan dan ditusuk-tusukkan kedalam liang vaginaku dan didalam liang vaginaku lidahnya yang panjang sengaja dimainkan sehingga akupun tak tahan hingga pantatku terangkat, klitorisku pun tak luput dari serangannya, gigitan kecil kurasakan beriringan dengan jilatan lidahnya bergantian dengan hisapan mautnya, luar biasa..!
Lebih dari setengah jam Sonny mengulum bibir vaginaku dan memainkan klitorisku, saat lidahnya menjilat klitorisku dua jarinya ditusuk-tusukkan ke dalam liang vaginaku sehingga akupun mengalami orgasme yang ke dua kalinya, dan tak setetespun cairan kenikmatan yang keluar deras dari liang vaginaku dibiarkan tersisa, semua habis dihisap dan ditelan Sonny.
Puas menjilat dan menghisap vaginaku, bibir Sonny mulai naik menjilat pusarku, naik lagi ke dadaku, ke dua buah payudara ku, leherku dan berakhir dibibirku, yang dibawa kurasakan benda tumpul kontol Sonny mulai menekan-nekan bagian luar vaginaku, gila! Demikian bathinku, selesai orgasme ternyata batang kemaluan Sonny masih tetap berdiri tegak, memang selain besarnya yang luar biasa, kemaluan Sonny juga sangat keras bagaikan batang kayu.
Akhirnya ujung kontolnya sudah tepat berada didepan liang vaginaku, hanya dengan sekali dorongan Blees..! Ambles sudah setengah batang kemaluannya masuk kedalam liang vaginaku, ditarik dan dorong lagi, hanya dengan dua kali pompa masuk semua batang kemaluannya kedalam vaginaku, kedua kakiku diangkat keatas sehingga batang kemaluannya lebih leluasa ambles kedalam vaginaku, rasanya seaskan tembus ke ulu hatiku, yang kurasakan adalah sensasi yang luar biasa.
Entah berapa ratus kali enjotan kontol Sonny keluar masuk dalam liang vaginaku hingga akhirnya kembali kami orgasme bersamaan, Sonny mengalami dua kali orgasme dan gilanya aku mengalami total lima kali orgasme termasuk orgasme saat dijilatnya.
Aku memang sudah bukan perawan lagi karena Hari sudah sering menyetubuhiku sejak pacaran, dan Hari pula yang memerawaniku, namun sensasi yang kudapat dari Hari dan kenikmatan yang Hari berikan padaku jauh dibandingkan dengan kenikmatan yang kudapat dari Sonny, feelingku pada Sonny saat pertemuan pertama memang tepat, serangannya luar biasa apa lagi jilatan lidahnya yang sangat sensasional.
Bagi pembaca wanita yang ingin merasakan sensasi Sonny dan pengen kenalan dengan Sonny bisa kontak emailku. Nanti email anda akan saya forward ke Sonny, bila Sonny berkenan akan kuminta untuk menghubungi anda, silakan rasakan sensasi jilatannya yang luar biasa, bukan hanya dari cerita yang pernah kurasakan.
Inilah kesan dan cerita yang kualami sesungguhnya, namun sayangnya aku kurang pandai dalam menuangkan dalam bentuk cerita, tapi cerita ini benar terjadi, buat Sonny yang namanya sudah kusamarkan, bila membaca cerita ini, aku sangat merindukan jilatanmu sayang.
E N D
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selembut Nafsu Wanita
Di suatu desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Ryan Wilantara. Ia sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojeg. Pasa awalnya pengalaman sebagai tukang ojeg biasa-biasa saja bahkan lancar-lancar saja. Tetapi lama kelamaan pengalamannya semakin pahit. Hal itu ditandai dengan semakin sepinya penumpang tetapi persaingan tetap ada.
Untuk mengubah nasibnya, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Untuk modal tersebut Ryan terpaksa menjual motor milik satu-satunya itu. Akhirnya terjuallah motor Ryan seharga 5 juta kepada tetangganya yang kebetulan sedang membutuhkan motor.
Dengan modal sebesar itu jadilah Ryan pergi ke kota untuk mengadu nasib. Saat tiba di kota Ryan mencari kontrakkan yang cocok untuknya. Setelah cukup lama mencari, ia mendapatkan kontrakan dengan biaya sebesar Rp 150.000/bulan. Untuk ukuran Jakarta biaya tersebut termasuk murah.
Setelah resmi menempati kontrakan itu datanglah seorang gadis tetangganya untuk berkenalan.
“Hai..” sapa gadis itu.
“Hai juga..” balas Ryan.
“Aku baru melihatmu di sini.”
“Ya memang saya baru datang dari desa untuk mengadu nasib di kota ini.”
“Ooh dan siapa namamu?”
“Namaku Ryan, panggil saja aku Ryan. Dan namamu..?”
“Namaku Melisa, panggil saja aku Lisa.”
Setelah itu cukup lama mereka berbincang-bincang mengenai diri dan pengalaman mereka.
“Lis, nanti sore kamu ada acara.?”
Lisa berpikir sejenak.
“Tidak, memangnya ada apa?”
“Aku mau mengajakmu untuk membeli mebel.”
“Ya, bisa nanti aku, kau ajak.”
Saat ini waktu sore pun tiba. Ryan dan Melisa pergi ke toko mebel sambil berbincang-bincang. Ryan membuka pembicaraan.
“Lis, aku saat ini menganggur dan ingin mencari pekerjaan. Apakah engkau punya informasi lowongan kerja?”
“Kalau di tempatku ada yaitu sebagai security, kamu mau?”
“Memangnya kerjamu dimana sih?”
“Aku bekerja sebagai DJ di sebuah diskotik.”
“Kalau ada lowongan di sana tolong bantu aku dong.”
“Ya, akan aku usahakan.”
Pada suatu saat dengan usaha Lisa, Ryan di panggil oleh manager diskotik untuk wawancara. Dan wawancara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Selain itu Ryan juga di terima untuk bekerja di discotik itu.
Ryan mulai bekerja pada esok malam yang kebetulan berbarengan dengan sahabat barunya, Lisa.
Hari pertama Ryan mulai bekerja pada pukul 6 sore sampai pukul 4 pagi. Begitu juga untuk hari-hari berikutnya. Kebetulan pada jam kerja itu berbarengan dengan Lisa sehingga mereka bisa berangkat bersama-sama.
Di discotik itu Ryan berkenalan dengan Herman sebagai kepala security. Malampun semakin larut tetapi pengunjung semakin ramai. Saat itu datanglah seorang wanita cantik berambut panjang mengunjungi diskotik tersebut. Ia datang sendirian dengan wajah yang murung yang mungkin di sebabkan karena kesepian.
Kemudian wanita itu menghampiri di mana Ryan dan Herman berada.
“Maaf, adakah yang bisa menemaniku?”
Atas permintaan wanita itu Ryan dan Herman saling tatap. Lalu Herman memberi kode agar Ryan yang memenuhi permintaan wanita itu. Ryan pun setuju karena Herman merupakan atasannya. Kemudian wanita itu menggandeng Ryan untuk menuju ka lantai discotik untuk berdansa. Musik mengalun lembut dan wanita itu mendekap erat tubuh Ryan. Dan wanita itu berkata:
“Aku baru melihatnu di sini.”
“Ya, saya memang orang baru di sini.”
“Kenalkan, namaku Sarah dan siapa namamu?”
“Panggil saja aku, Ryan.”
Kemudian metreka kembali berdekapan erat sampai alunan musik selesai. Setelah itu Sarah kembali berbicara kepada Ryan.
“Ryan pas libur kerja maukah kau main ke rumahku.”
Ryan berpikir sejenak.
“Mungkin bisa tetapi jam berapa?”
“Kira-kira jam 9 pagi lah.”
“Ya, akan saya usahakan untuk mengunjungi rumahmu.”
“Ohh, terima kasih Ryan.” Ucap Sarah sambil mengecup pipi Ryan dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan ke telapak tangan Ryan. Ryan berusaha untuk menolak tetapi sarah terus memaksanya. Akhirnya Ryan pun terpaksa menerima uang dari Sarah.
Setelah Sarah pergi keluar dari diskotik itu, Ryan memghampiri Herman untuk melaporkan kejadian yang baru dialaminya.
“Bang Herman tadi wanita itu memberiku uang sebanyak ini.”
“Ooo, itu memang rejekimu, maka terimalah dan aku minta satu lembar untuk beli rokok.”
Dan Ryan pun memberikannya dengan senang hati. Selain itu Ryan juga memberikan beberapa lembar uang tersebut kepada Lisa saat sampai di rumah kontrakannya. Dan Lisa pun sangat senang menerimanya. Beberapa hari kemudian Ryan teringat janjinya kepada Sarah untuk main ke rumahnya. Memang pada waktu yang lalu Ryan juga diberikan kartu nama dari Sarah.
Untuk menepati janjinya Ryan jadi pergi menuju rumah Sarah yang alamatnya sudah tertera di kartu nama dari Sarah. Dengan menggunakan angkutan umum, Ryan sampai di suatu pemukiman elit. Kemudian Ryan mencari rumah yang tertera di kartu nama tersebut. Setelah mencari-cari, Ryan menemukan rumah yang akan dicari. Saat Ryan sampai di pintu gerbang rumah Sarah, pintu pagar itu terbuka secara otomatis. Ternyata Sarah sudah menunggu di teras rumahnya.
Ryan sangat kagum dengan rumah Sarah, karena rumah itu sangat besar dan mewah. Halaman rumah itu cukup luas dengan aman yang sangat indah. Sarah menyambut mesra kedatangan orang yang dinantikannya, yaitu Ryan.
“Hai Ryan. Akhirnya kau datang juga.”
“Engkau sudah lama menungguku?”
“Belum kok baru 5 menit aku menunggumu di sini, ayo kita ke dalam sekarang. Aku sudah menyiapkan santapan untukmu.”
Akhirnya Ryan mengikuti Sarah untuk masuk ke dalam rumah gadis itu. Ryan sangat kagum dengan perabotan yang ada di rumah Sarah, semuanya serba lux dan sangat indah di pandang mata. Setelah itu mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Ternyata hidangan yang sudah dipersiapkan oleh Sarah cukup banyak yang membuat Ryan cukup terkejut.
“Wah, banyak sekali hidangan ini. Apakah ini hanya untuk kita berdua?”
“Ya, ini untuk kita berdua, memangnya kenapa?”
“Terus terang hidangan ini sangat banyak. Apakah kita berdua sanggup untuk menghabiskannya?”
“Kalau tidak habis, tidak apa-apa. Kan nanti bisa dihangatkan jika kita ingin makan lagi.”
“Oh ya Sarah.”
“Ya ada apa, sayang?”
Di rumah sebesar ini kamu tinggal dengan siapa?”
“Di sini aku tinggal sendirian dengan 2 orang pembantu.”
“Berarti apakah kamu tidak kesepian?”
“Aku memang kesepian Ryan. Dan aku sangat berharap engkau mau tinggal bersamaku di sini.”
“Waduh bagaimana ya. Aku saat ini masih bingung dan saya tidak enak dengan anggapan orang, karena kita ini bukan apa-apa dan baru berkenalan.”
“Walaupun begitu aku mohon padamu Ryan agar engkau mau tinggal bersamaku di sini untuk mendampingi aku yang setiap saat kesepian.”
Ryan semakin bingung dengan permohonan Sarah itu antara menolak atau menerima, dalam diri Ryan masih perang batin.
“Atau kalau engkau tak mau tinggal di sini bagaimana kalau engkau aku belikan sebuah rumah supaya aku bisa bebas untuk mengunjungimu”
“Wah jangan Sarah itu sama saja engkau membuat hutang budi kepadamu”.
“Aku ikhlas kok yang penting kita bisa bertemu setiap saat.”
Setelah makan siang selesai, mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Sarah membuka pembicaraan kembali.
“Ryan, ikut aku yuk!”
“Kemana?”
“Pokoknya ikut deh.”
Akhirnya Ryan mengikuti Srah untuk menuju keruang tengah. Di ruang tengah itu Sarah menyalakan TVnya yang cukup besar sekaligus VCD playernya. Ryan melihat Sarah memasukkan sekeping vCD ke playernya. Dan Sarah kembali mendekati Ryan untuk duduk di sampingnya sekaligus untuk menonton film dari TV itu.
Ternyata dari tangan di TV itu Ryan cukup terkejut karena yang di tampilkan adalah tayangan yang sangat vulgar. Tak lama kemudian Sarah bangkit untuk menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian Sarah kembali muncul dari kamar dan memakai daster sutera tang sangat tipis dan tak ada pelapis tubuhnya selain daster itu. Kemudian Sarah mendekati Ryan yang sudah bangkit gairahnya karena menyaksikan tayangan vulgar dari TV itu.
“Ryan..
“Ya..
“Kita ke kamar yuk.”
Bagai kerbau dicucuk hidungnya Ryan mengikuti Sarah untuk menuju ke kamarnya. Saat sampai di kamar, Sarah langsung mengunci pintu kamar. Ryan sangat kagum dengan keadaan di kamar itu. Kamar yang cukup luas, bahkan melebihi luasnya rumah kontrakan Ryan dan berisikan perabotan yang sangat mewah. Kemudian Sarah mengajak Ryan untuk ke ranjang tidurnya yang mewah dan empuk itu.
Didekat ranjang mewah itu Ryan dan Sarah saling berhadap-hadapan. Saling pandang. Dan Sarah langsung memeluk Ryan denagn hangat dan Ryan pun memeluknya. Saat berpelukan Ryan membelai rambut Sarah yang hitam mengkilat dan panjang tergerai itu. Kemudia Ryan mencium bibir Sarah yang sejak tadi merekah. Dan Sarah pun membalas denagn melumat bibir Ryan dengan hangat. Ketika mereka saling mempermainkan lidahnya, wanita kaya yang kesepian itu benar-benar melambung perasaannya.
Karena mereka sudah tak tahan lagi, Sarah melepaskan gaun tipisnya dan sekaligus melepaskan pakaian Ryan. Lalu Sarah terlentang di atas ranjang mewah dan menantikan pelukan Ryan. Kemudian Ryan memeluk tubuh itu. Menyentuh payudaranya yang ranum dan lembut kulitnya.
Ryan mencium bibir itu kembali. Lidahnya mempermainkan rongga mulut Sarah. Menggelitiknya dan menimbulkan rasa nikmat. Sarah memang masih perawan, dan Sarah dengan antusias menangkap lidah Ryan dengan lidahnya. Permainan yang panas itu terus berlanjut. Puas mencium, Ryan dengan lidahnya menyapu sepanjang leher. Sehingga membuat Sarah menggelinjang.
“Oohh, Ryan..”
Ryan hanya tersenyum saja. Dengus nafasnya kini terasa di telinga dan lidahnya menggelitik di lubang telinga itu. Kemudia Ryan mencucup puting susunya.
“Oohh..
Ryan tersenyum. Lidahnya mempermainkan puncak payudara itu. Kemudian menghisap-hisapnya.
“Ryan..”
Puas menghisap-hisap puting susu Sarah, Ryan menjilati kulit lembut sepanjang perut. Kemudian turun ke bawah, dan singgah di bukit kecil dengan rerumputan yang menghitam. Bau wangi khas parfum dan shampo membuat Ryan betah di tempat itu. Ia menciumi rerumputan itu.
“Oohh..”, desah Sarah kenikmatan.
Sejuta keindahan terasa menyatu. Kenikmatan tiada tara. Kenikmatan yamg luar biasa. Akibatnya seluruh tubuhnya gemetar hebat.
“Ryan..”
“Ya?”
“Tak tahan nih..”
Ryan tersenyum. Ryan tahu Sarah masih perawan dan alat kemaluan Ryan sudah menegang sejak tadi dan siap untuk menghujam. Ryan mencoba benda itu untuk masuk ke dalam liang vagina yang tampak mulai basah dan lembab itu.
Ia tekuk kaki Sarah yang cantik. Ia lebarkan pahanya sehingga lubang dalam liang vagina itu menganga di depan senjata pamungkasnya. Dan ia mulai masuk. Mulai menekan. Tetapi sering terpeleset. Beberapa kali ia coba, tapi gagal lagi.
Akhirnya kedua tangan Sarah membantu melebarkan bibir vaginanya. Dan Ryan memasukkan senjata meriamnya, menekan dengan tubuh. Dan akhirnya melesak ke dalam, setelah Sarah menggerakkan pantatnya sedikit. Dan terdengar pekik tersentak.
“Oouwww..!”
Sarah memeluk tubuh Ryan, matanya berkaca-kaca.
“Kenapa?” tanya Ryan lirih.
“Sakit.”
“Aku hentikan ya.”
“Jangan Ryan walau sakit tapi enak kok.”
“Benar?”
“Ya.”
Lalu Ryan melanjutkan menusuk vagina Sarah dengan senjatanya secara pelan-pelan. Ryan tahu bahwa selaput kesucian Sarah telah pecah. Pastilah darah perawan itu akan jatuh ke sprey, menetes dan ia melihat Sarah menahan rasa sakit.
Namun di sisi lain ia kepuasan di wajah itu, maka ia kemabli menggerakkan senjatanya yang terlanjur menghujam ke dalam gua lembab itu, perlahan saja. Kemudian menekannya lagi, dan begitu seterusnya. Sarah merasa ada sesuatu yang bergerak cepat dan menggetarkan seluruh sendi darahnya. Dan mengalir dengan bergolak dahsyat.
“Oohh..”
Desah Sarah merasakan kenikmatan. Begitu juga dengan Ryan, gerakannya makin cepat dan makin bertenaga, akhirnya ia mencengkeram bahu Sarah dan memeluk wanita itu. Keduanya melenguh dahsyat. Berbarengan dengan itu cairan kental dan hangat menyembur dari lubang meriam Ryan dan dinding rahim Sarah.
Dengus kepuasan terasa sekali dari hidung Ryan. Begitu juga dengan hempasan nafas Sarah. Dan Ryan menggelosor di sisi Sarah, dan melihat ada apa di bawah pantatnya. Ia melihat ada bercak darah sedikit di atas sprey yang sudah acak-acakan tak karuan itu.
E N D
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selamat Tinggal Dunia Breaker
Kejadiannya sudah berlangsung agak lama, tapi masih terbayang di dalam benakku untuk berbagi cerita dengan penggemar 17tahun.com. Aku tinggal di sebuah kota A untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Di kota ini aku diperkenalkan dengan suatu alat komunikasi yang sebenarnya sering dipergunakan namun hanya sebatas keperluan saja. HT nama alat itu atau disebut juga Handy Talky dan temanku menyarankan untuk ikut di sebuah frekuensi yang frekuensinya adalah **.*** (edited) MHz. Aku dipinjamkan alat tersebut selama 1 bulan lebih dan kerjaanku dari hari ke hari adalah ngebrik dan ngebrik terus karena alat ini lumayan juga jangkauannya bisa mencakup hampir seluruh kota A. Memang dengan bantuan sebuah antena yang kuletakkan di atas genting kost-kostan, pesawat ini mampu menjangkau seluruh breaker-breaker yang ada di kota tersebut.
Pada suatu malam di saat frekuensi sedang sepi dan aku pun sedang tiduran di ranjang dengan pesawat tetap kunyalakan, terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil “Konteek.. breeaker..” begitulah wanita itu memanggil. Dan dengan sigap aku terima panggilan wanita itu dan yang aku tanyakan dia sedang mencari siapa, ternyata dia hanya mencari rekan buat ngobrol, akhirnya kami sepakat pindah channel lain yang kira-kira orang lain tidak banyak yang mendengar alias mojok.
Dari hari ke hari kami mojok, sampai pada suatu malam sekitar jam satu kami melakukan bercinta di udara dimulai dengan aku memberikan sebuah kecupan dan dia membalas kecupan ke seluruh tubuhku sampai.. “Ini buat di bawah pusarmu, muaach,” aku kaget tak kusangka dia berkata itu, dan mulailah burungku menegang dan seolah-olah menyuruhku untuk melanjutkan sampai mencapai klimaks. “Oooh lagi dong, sekalian aja dikulum,” dan dia pun memberikan suara setuju dan memerintahkanku membuka celana dan mulailah dia mengeluarkan suara seolah-olah sedang mengulum burungku. “Mmmh.. muach.. mmh.. muaach..” sampai burungku tak kuat lagi, dan secara otomatis pula tanganku sudah mengelus-ngelus burungku sampai akhirnya..
“Sayaang.. aku pengen keluar..”
“Keluarkan aja.. biar aku telan..” ujarnya.
Dan..
“Crot.. cret.. croot..”
Keluarlah maniku membasahi karpetku sebagian persis di depan pesawat ngebrik.
Begitulah kegiatan bercinta lewat udara yang sampai sekitar 1 minggu. Hampir tiap hari aku lakukan, sampai pada suatu hari di siang hari ketika itu aku sedang asyik-asyiknya bercengkrama di pesawat dengan teman-temanku dan dia memanggilku untuk segera bergeser ke frekuensi yang sudah kami sepakati. Ternyata dia mengajak aku untuk “kopdar” alias ketemu di darat di suatu tempat yang kami sepakati. Tempat tersebut bertempat di suatu mall yang dijamin ramai oleh para pengunjung dan dia memberikan ciri-cirinya untuk disesuaikan dengannya pada saat ketemu. 1 jam kemudian aku telah sampai di mall tersebut dan langsung menuju ke McD dan mulai mencari-cari ciri-ciri yang dia sebutkan tadi. Ternyata di sebuah bangku ada seorang wanita muda seumuran denganku yang sedang duduk sendirian dengan minuman Fanta di meja, yang aku perkirakan sesuai dengan cirri-ciri yang dia sebutkan tadi.
“Vinna yah..?” aku coba menyapa dengan keragua-raguan dan dia pun menoleh.
“Irfan..?” dengan muka yang gembira dia menyapaku.
Mmmh manis juga nih cewek, tinggi 160 cm, rambut sebahu, kulit kuning terawat, dadanya aku taksir 34B, beratnya sekitar 45 kg, aku pun merenung sambil memperhatikan cewek di hadapanku ini.
“Duduk Fan..!!” sambil memberikan tangannya untuk bersalaman.
Aku pun balas memberi tangan kepada dia, namun sengaja aku berjabat tangan dengan dia cukup lama, sambil mengelus-ngelus punggung tangannya dengan jempol kananku merasakan kehalusan tangannya sambil melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di pergelangan tangannya.
“Mau pesan apa?” setelah melepaskan tangannya dia basa-basi bertanya, sambil agak berbisik.
“Belum saatnya dan nggak di sini..”
Aku pun balas berbisik,
“Jadi enaknya dimana?”
Dia pun tersenyum dan akhirnya kami pesan makanan, dan kembali lagi kami menuju meja tadi. Sambil memakan makanan yang sudah kami pesan, kakiku sudah mulai menunjukkan kenakalannya mengelus-ngelus betis Vinna yang kebetulan menggunakan rok panjang sampai mata kaki sehingga kalau Vinna berdiri, terlihat sangatlah anggun. Vinna terlihat diam saja seolah-olah tidak memperdulikan apa yang dirasakan, hanya sesekali dia melirik padaku sambil tersenyum genit dan makin membuatku melakukan gerilya kaki menuju betisnya.
Setelah selesai makan kami pun sepakat pergi jalan-jalan ke suatu tempat, kebetulan Vinna membawa kendaraan roda empat. Setelah di dalam mobil kami pun ngobrol kesana-kemari sampai Vinna menanyakan sesuatu kepadaku sambil memegang tanganku.
“Fan.. kaki kamu nggak pernah sekolah yah Fan..?”
“Hehehe.. abis kakiku udah nggak kuat ngeliat kaki kamu yang indah..”
“Kita cari tempat yuk..!” sambil mendekatkan mukanya ke arahku.
“Oke.. muaacch,” langsung aku sambar bibirnya yang merangsang itu.
Mendapat ciuman tersebut Vinna hanya tersenyum, dan aku pun makin berani di kala traffic light merah, aku melumat bibirnya sambil meraba pahanya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir mobil. Kadang-kadang aku pun meraba dadanya sehingga Vinna merem melek keenakan. Akhirnya kami pun sampai di tepi pantai, lalu aku parkirkan mobil menghadap pantai yang kira-kira cukup sepi untuk bercinta.
“Gimana kalo di sini?” Vinna mendekat padaku dan melumat bibirku sehingga aku langsung memeluk dia dan membalas ciumannya. “Oooh Fan.. tiap malam aku horny berat niih, kamu pinter membuat aku merasa puas ketika kita lagi mojok, Faan,” aku tak sempat merespon kalimat itu, aku sudah sibuk melumat, menjilat lehernya, kupingnya dan mulai menciumi dadanya sambil tanganku tak henti-hentinya meremas payudaranya yang masih tertutup bajunya. Akhirnya kami pun berpindah ke posisi jok mobil belakang, dan mulailah aku membuka kemeja yang digunakan Vinna, satu per satu kancingnya aku buka, dan respon Vinna pun membuka kaosku sambil sesekali mengelus dadaku yang sedikit berbulu. “Faan.. buat aku puas Faan.. mmh,” sambil memeluk eratke tubuhku. Kubalas pelukan itu dengan tanganku membuka kancing pengait BH-nya dan terbukalah dua buah gunung yang indah, halus, dengan puting yang memerah dan “Oooh.. Vinn, muaach.. muaach.. mmh,” aku pun dengan penuh gairah merasakan kehalusan gunung itu sambil sesekali menjilati puncak gunung itu dan reaksi Vinna begitu terangsang oleh perlakuanku itu, matanyamerem-melek, dan dari mulutnya terdengar desahan yang sangat menggairahkan.
Aku tekan-tekan mukaku ke kedua gunung itu, merasakan, menikmati, melumat kehalusan gunung nan indah itu, makin lama gunung itu makin mengeras, mengeras dan mengeras, dan secara bergantian Vinna menciumi dadaku dengan lembutnya, bibirnya yang mungil dan pipinya yang halus merambah dadaku dan sesekali melumat puting susuku sehingga membuatku kegelian dan semakin bergairah.Dan Vinna kembali menciumi tubuhku yang atas, bibir, leher, pipi, dan sebagainya yang membuat aku semakin bergelora. Tanganku pun tak tinggal diam mencopoti rok yang dipakai Vinna, dan tak lama kemudian terlihatlah paha mulus, putih, dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu rambut kecil yang indah, dan langsung tanganku mengelus-ngelus paha Vinna nan indah tersebut. Vinna semakin bernafsu dan tanganku mulai mengelus-ngelus celana dalamnya Vinna yang agak basah karena terangsang berat. Lalu Vinna menyuruh aku melucuti semua pakaianku, akhirnya aku pun telanjang bulat dan Vinna pun melepas celana dalamnya dan mulai lagi kami saling memeluk, mencium, merasakan kehalusan tubuh masing-masing pasangannya, dengan sesekali burungku aku gesekkan ke rambut kemaluannya sehingga membuat Vinna menggelinjang keenakan, “Ohh, mmh,” sampai akhirnya dia kejang mengalami orgasme yang sangat didambakannya.
Dia pun tergeletak lemas dengan tubuh yang masih membujur telanjang dan aku bertanya,”Vinn, kamu masih perawan?” Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa dia masih ingin menjaga keperawanannya dan aku pun menyanggupinya dan memang aku masih perjaka juga, dalam arti belum pernah alat kelaminku masuk ke alat kelamin wanita. Aku pun kembali mencium bibir mungilnya dan kembali berpagutan saling mencium, meraba, memeluk dan menggesek-gesekkan alat kelaminku ke bibir kemaluannya sambil merasakan hangatnya bibir kemaluan yang ditumbuhi bulu-bulu halus terasa geli, hangat, halus pahanya, dan oohh.. dengan variasi-variasi yang aku miliki Vinna pun kembali mengejang dengan matanya tetap terpejam dan rangkulan pahanya kepinggangku semakin erat, Vinna mengalami orgasme lagi, “Mmmh Fann.. ooh aku keluar lagi.. mmhh,” dan Vinna pun kembali lunglai mengatur nafas dengan mata yang tetap terpejam, sementara aku tetap menikmati halusnya tubuh Vinna yang dimilikinya mengelus pahanya yang mulus, mencium dadanya yang membusung, melumat bibirnya dan seterusnya.
Dengan variasi-variasi yang aku miliki yang tidak akan kusebutkan di sini. Mungkin Vinna merasa bahwa aku belum mendapat kepuasan maksimal dan dia mencoba meraih alat vitalku dan mulai mengocoknya dan selanjutnya mengulumnya. “Oooh nikmat banget Vinn..” sementara posisi sekarang sudah 69, aku tetap mengusap-ngusap paha Vinna yang mulus. Dan tak lama kemudian aku merasakan akan ada yang keluar dari alat vitalku, seolah-olah mau meledak dan.. “Oooh Viinn, sayaang aku keluaarr..” tepat mengenai mukanya dan sebagian lagi masuk ke mulutnya, dan aku lemas, alatku mengecil setelah tangan Vinna lepas.
“Ma, kasih yah Vinn..”
“Mmh, lain kali nggak usah di pesawat break lagi yah.”
Aku pun tersenyum dan mencium Vinna dengan lembut.
“Gimana Vinn.. suka?”
“Thanks yah.. kamu tetap menjaga keperawananku.. dan aku tetap puas.”
Akhirnya kami pun berpakaian dan tetap sepakat untuk melakukannya lagi nanti dan tetap menjaga keperawanan dan keperjakaan masing-masing dengan saling mengingatkan pada saatnya kami akan melakukannya lagi. Tak terasa keringat kami sudah membasahi jok mobil belakang, namun Vinna bilang tidak apa-apa, setelah selesai berpakaian, mobil langsung aku luncurkan ke jalan besar dan kami makan dulu di sebuah kafe dekat-dekat pantai sambil mengobrol tentang dunia breaker dan kami sepakat untuk berhenti dari dunia “ngebreak” dan akan dilanjutkan ke dunia petualangan yang lebih real namun tetap menjaga status kami sebagai perawan dan perjaka.
Sampai di tempat yang dituju akhirnya aku pamit pulang dan tak lupa kutinggalkan nomor HP-kukalau-kalau butuh bercinta denganku lagi walaupun hanya lewat pesawat telepon, dan Vinna pun memberikan kecupan mesra kepadaku dan berjanji besok malam akan meneleponku untuk bercinta lagi, yang jelas melalui pengalamanku di pesawat “ngebreak” sangatlah tidak masalah melalui pesawat telepon. Kritik, saran mengenai tulisan, dapat di alamatkan ke e-mailku terutama bagi para perawan yang masih ingin menjaga keperawanannya.
TAMAT
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selamat Datang Kedewasaan
Memang kalau aku ingat masa-masa puber pertama, aku sering tersenyum-senyum sendiri, menertawakan Nafsu seks-ku yang tidak kunjung padam. Bayangkan saja, Dalam sehari bisa 3 s/d 6 kali aku onani. Setiap ada kesempatan pasti langsung aku melakukannya, tidak peduli tempat dan waktu. Melihat paha sedikit, langsung saja senjataku mengeras dan tidak akan tidur jika belum dilepaskan lewat onani.
Di sekolah (Waktu itu aku SMP), di rumah, Otakku tidak pernah lepas dari keingintahuan akan artinya seks. Bagaimana nikmatnya berciuman?, Bagaimana nikmatnya mengelus buah dada wanita?, dan bagaimana jika senjataku terbenam di dalam kemaluan wanita? Bagaimana rasanya mengulum puting buah dada?, Bagaimana rasanya menjilati kemaluan wanita? Semua menjadi beban pikiranku dari hari ke hari. Paling pelampiasanku hanyalah membaca buku porno stensilan. Sambil membayangkan pelakunya adalah aku, tanganku dengan terampil melakukan kegiatan mengocok dan mengurut batang senjataku, sampai spermaku keluar. Tapi anehnya meskipun sudah keluar 3 kali tapi kalau buku yang aku baca belum selesai, tanganku tidak akan diam dan senjataku tidakakan lelah memuntahkan isinya keluar berapa kalipun. Padahal kalau sekarang boro-boro bisa 5 atau 6 kali, 2 kali saja rasanya sangat lelah. (Kenapa ya?)
Sampai suatu saat, keingintahuanku tentang seks, sedikit demi sedikit mulai kuketahui dan rasakan. Pada saat-saat sekolah, kebetulan sekali aku dikaruniakan Tuhan otak yang lumayan cemerlang. Aku selalu mendapatkan ranking pertama di kelas, meskipun juga aku mendapatkan ranking pertama dalam kebadungan. Entah sudah berapa kali aku tertangkap membawa Stensilan, rokok, bahkan ganja. Hukuman paling berat paling hanya skorsing seminggu, tapipernah juga aku disuruh keliling kelas perkelas sambil disuruh membaca stensil dan merokok, dengan membawa papan nama yang dikalungkan di leherku dengan tulisan spidol “JANGAN CONTOH AKU”. Tapi kebengalanku tidak membuat teman-temanku menjauh. Bahkan bermodalkan dengan ranking pertamaku, teman sekelasku yang mempunyai adik yang masih di SD, memintaku untuk memberikan les private di rumahnya.
Perlahan tapi pasti anak buah lesku semakin banyak. Pada akhir bulan aku bisa mengantongi Rp 300.000,- jumlah yang cukup besar buatku waktu itu, dan pada saat terima amplop gaji yang kesekian kalinya, aku mulai mewujudkan cita-cita puberku untuk menikmati indahnya seks denganseorang wanita, dari pada habis buat minum-minum dengan teman, toh tak ada salahnya aku mencoba.
Aku ingat sekali waktu itu, malam Minggu aku sedang ngumpul dengan teman-temanku sambil bergitar dan menenggak minuman keras di pinggir jalan. Tiba-tiba gerimis datang, kami semua berlarian berteduh di salah satu warung. Jam baru menunjukan pukul 22:00 tapi temanku satu persatu bubar, mungkin karena cuaca yang kurang bagus. Biasanya pasti sampai matahari terbit baru pada bubar. Aku yang rumahnya paling jauh tidak ada teman. Tinggallah aku sendirian berdiri. Rokok yang kuhisap dan minuman yang masuk ke dalam kerongkonganku tidak dapat menghalau dinginnya malam. Pikiranku semakin mengembara akan arti sebuah seks. Aku segera menyetop sebuah bajaj yang kebetulan lewat. Aku minta diantar ke Lokasi WTS kelas teri Kali Jodoh (Rumahku memang tak jauh dari lokalisasi tersebut).
Gerimis ternyata tidak menghalangi para pencari dan penjual kenikmatan bertransaksi. Suasananya masih ramai seperti pasar. Aku segera turun dari bajaj dan berjalan kaki menelusuri kompleks. Banyak sekali wanita yang asyik mengobrol, bercanda, dandanannya yang medok dan norak jelassekali, rata-rata usianya sebaya dengan mamaku. Aku terus melangkahkan kaki di tengah gerimis. Sesekali ajakan mampir berseliweran di kanan-kiriku. Aku mencoba bersikap dewasa padahal jantungku sudah bergemuruh tak karuan. Memang badanku ternasuk bongsor, sehingga orang tidak akan menyangka bahwa aku masih SMP kelas II.
Sampai lelah kakiku, aku belum menemukan wanita yang usianya muda. Aku segera menghentikan langkahku begitu kutemui warung rokok. Sambil aku membeli rokok, aku mencoba bertanya di mana ada wanita yang muda. Penjual rokok itu memberitahukan jalan kepadaku. Ternyata aku harus turun dulu dari jalan utama, melewati lorong sempit yang sumpek, akhirnya aku menemukan sekumpulan wanita muda. Baru saja aku mau menegur, mereka berebutan menarik tanganku. Aku yang memang baru pertama kali pasrah saja dan tidak dapat berbuat apa-apa, hingga akhirnya seorang wanita setengah baya melerai mereka, dan menyerahkanku kepada seorang wanita yang cukup cantik, katanya namanya Lita, sedangkan wanita yang melerai tadi adalah Mami/germo mereka. Lita membimbingku memasuki kamar sempit yang hanya berisi tempat tidur single yang sudah bau apek, dan seember air plus gayung. Aku yang waktu itu memang baru pertama kali sama sekali tidak perduli dengan keadaan kamar tempurnya, yang ada diotakku adalah bahwa sebentar lagi aku merasakan nikmatnya seks.
Lampu remang-remang jelas sekali membentuk keindahan tubuh Lita yang mulai membuka bajunya. Jantungku semakin keras berdebar. Tanpa basa-basi lagi Lita mulai menggerayangi tubuhku, baju dan celanaku langsung dilepasnya. Tidak ada pemanasan. Lita yang kini hanya mengenakan BH, dan celana dalam langsung saja menyerangku dengan kelihaiannya, Tanpa sadar aku sudah telanjang bulat. Lidahnya menari-nari di dadaku, tangannya mengocok lembut senjataku yang sudah mengeras. Kenikmatan yang timbul akibat perlakuan lita membuat seluruh tubuhku bagai dialiri setrum, dan pada saat senjataku dimasukkan ke dalam mulutnya, aku sudah tak tahan lagi, kusemprotkan seluruh spermaku ke dalam mulutnya. Lita langsung mengenakan pakaiannya kembali, aku terkejut dan menariknya.
“Belum Mbak,” kataku setengah membentak.
“Lho, bukannya Mas sudah keluar?” balas Lita.
“Iya, tapi kan belum dimasukin,” sergahku.
“Memangnya masih bisa,” bisik mesra Lita menggodaku.
Aku kala itu agak bingung dengan pertanyaannya, sekarang sih aku mengerti arah pertanyaannya.Aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dengan rakus.
“Pela-pelan dong Mas!” protesnya.
Aku tak perduli lagi, tanganku langsung meremas buah dadanya, BH-nya segera kulepaskan, senjataku yang masih tegang menyodok-nyodok perutnya. Kulumat puting buah dadanya dengan lidahku. Lita menarik kepalaku. “Mas, jangan dihisap! Saya masih menyusui..” Aku tak peduli, imajinasiku di stensilan semua kupraktekkan, bahkan tanpa jijik aku menjilati kemaluannya. Baunya sungguh sangat tidak enak, tapi nafsuku kala itu mengalahkan semua perasaan jijik.
Perlahan kulihat Lita mulai terbawa nafsu, mungkin akibat perlakuanku yang mencumbunya habis-habisan yang tidak pernah didapatinya selama ini. “Achh, Mas! terus.. enak..” desahnya lirih.Aku semakin semangat. Tiba-tiba Lita menggenggam senjataku dan langsung membimbingnya ke lubang kemaluannya. Jantungku berdebar semakin keras. Inilah saat pertama kali senjataku terbenam ke dalam kemaluan seorang wanita. “Tekan.. Mas!” Aku langsung menekan kemaluanku sampai amblas”Achh..” Lita menjerit. Aku mulai menaikturunkan pantatku. Imajinasiku sebagai seorang lelaki perkasa membawa langkahku untuk mencoba semua gaya dalam teori, depan, samping, belakang semua kupraktekan. Lita pandai sekali mengimbangi gerakanku. Goyangan pinggulnya yang lincah semakin membuat suasana menjadi panas. Aku bertahan dengan imajinasiku untuk tidak keluar sebelum wanita keluar. Ternyata berhasil. Seluruh tubuhku sudah penuh dengan peluh, akhirnya entah menit keberapa, Lita histeris, seluruh tubuhnya mengejang dan bergetar dengan hebat. Ternyata dia orgasme. Aku merasakan lubang kemaluannya semakin becek. Aku berkonsentrasi penuh mendaki puncak kenikmatan, gerakan pantatku semakin cepat, dan tak beraturan. Aku mulai merasakan spermaku sudah di ujung senjataku. Lita semakin lincah menggoyangkan pinggulnya. Akhirnya dengan sekali sentakan ke dalam, amblaslah seluruh batang senjataku di dalam lubang kemaluan Lita. Seluruh tubuhku merinding merasakan ejakulasiku yang pertama di dalam lubang kemaluan seorang wanita. Aku terbaring diam mengatur jalan pernafasanku.
“Mas, baru pertama, ya?”
“Lho, kok Mbak tahu?”
Lita hanya tersenyum, lalu beranjak membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya kembali. Sesuai kesepakatan awal, aku menyerahkan uang atas kenikmatan yang kubeli. Namun sungguh diluar dugaan, Lita menampik uangnya.
“Mas, tidak usah bayar, Aku senang kok!”
“Tapi, besok-besok mampir lagi ke sini ya”
Lita lalu keluar kamar meninggalkanku seorang diri. Aku termenung membayangkan hal yang baru saja terjadi. Sungguh nikmat sekali bersetubuh dengan wanita. Gratis lagi! Besok lagi ah! aku bergumam dalam hati. Aku segera mengenakan pakaianku kembali. Gerimis di luar ternyata telah berubah menjadi hujan deras. Aku tak peduli lagi. Aku berlari, berlari dan terus berlari dari kompleks lokalisasi itu. Dengan badan basah kuyup aku berjalan menuju rumahku. Hujan deras sama sekali tak kurasakan, yang ada di pikiranku hanyalah satu, Bersetubuh itu nikmat. Sampai tak terasa aku tiba di depan rumahku.
Di kamarku, aku merenungi kembali. Perjakaku diambil seorang WTS. Dan rasa nikmat saat senjataku masuk ke dalam kemaluan seorang wanita terus terbayang. Aku merasa diriku telah Dewasa, karena telah melakukan hal yang masih dalam angan-angan pria seusiaku. Aku tersenyum membayangkan itu. Tanpa sadar tanganku kembali mengocok senjataku yang kian mengeras. Makin lama kocokanku makin cepat, hingga memancarlah lahar panas ke atas perutku. Aku tak mempedulikannya. Mataku terpejam, menikmati tidur malam yang indah. Selamat datang kedewasaan.
TAMAT
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selalu Menyimpannya Untukmu 02
Sambungan dari bagian 01
Bagian 4
Sore itu begitu terik. Ray melonjorkan kakinya di depan teras, pikirannya masih terasa sedikit di awang-awang. Pemuda itu tersenyum mengingat gadis yang baru saja menghilang di tikungan jalan. Satu hal yang mungkin tak bisa dimaafkannya adalah betapa tadi siang gadis itumenjejali mulutnya dengan daging kelapa muda, di saat ia memang sedang mencoba melupakan Enni dengan gayanya sendiri. Tapi Ray bisa memaafkannya saat mendadak gadis itu mengangkangkan kakinya dan menduduki kepalanya. Kelapa Saliva Muda. Ray terkekeh. Catat itu. Setidaknya itu menu baru yang bisa membuatnya sedikit sadar. Lagipula gadis itu sudah mengantarku pulang walau ia sedang sakit.
Ray memandang ke kejauhan. Matanya menangkap genio merah yang begitu dikenalnya. Ketua OSIS itu membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah Ray dengan seksama, seakan memastikan pemuda itu sudah cukup sadar dari mabuknya. Ray balas menatap mata itu dengan melotot dan berseru pelan, “Boo!!”
Andre tertawa dan mendudukkan dirinya di sebelah Ray.
“Bisa saja kamu.” Ray tesenyum dan memandang ke jalan.
“Ketahuan?”
“Seperti biasa,” Andre menopangkan tangannya ke ubin, “Mereka curiga. Tapi lebih memilih untuk mengangkat tangan jika menghadapi alasan-alasan legalmu.”
“Hehehe. Dasar manusia-manusia pengecut.”
“Hush. Jangan berkata demikian.”
Sifat itulah yang cukup untuk membuat Ray merasa sebal dengan sahabatnya yang satu itu. Sementara kata ’sok alim’ tak pernah masuk dalam kamusnya. Mungkin Ray hanya berteman dengan Andre karena pemuda itu seorang ketua OSIS, kapten tim basket, anggota paskibraka, dan sama sekali bukan teman yang memalukan untuk diajak menggoda gadis-gadis. Walau toh pada kenyataannya Andre lebih banyak diam daripada ngoceh tak karuan seperti dirinya.
“Ray.”
“What?”
Bagian 5
Nora menangis. Entah mengapa ia tak mampu menahan air matanya yang membanjir keluar saat pemuda itu tersenyum menatapnya sambil mengulurkan lengannya. Nora tak pernah merasa sebahagia itu dalam hidupnya. Tawa yang mengiringi air mata itu seakan merupakan perwujudan beban yang selama ini selalu menghimpit batinnya. Pemuda itu mendekap Nora dengan hangat, menempelkan pipinya ke pipi gadis itu dan membisikkan kata-kata yang bagaikan angin surga yang menghembus hati si gadis. “Aku selama ini masih mengharapkanmu.”
Ya Tuhan, apakah semua ini hanya mimpi?
Nora tak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk menimpali pernyataan yang terlalu membuai itu. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan mengecup kening Nora, membisikkan kata-kata itu lagi, “Aku sudah memaafkkanmu sejak dulu.” Dan kenangan-kenangan itu berlalu, berlari, dan terhempasmelebur seakan diterjang oleh banjir air kehangatan dan kemesraan yang menyejukkan hati Nora.”Maafkan aku.. maafkan..a..” Pemuda itu mengangkat dagunya dan mengecup bibirnya. Lembut sekali. Dan bahkan Nora rela mengesampingkan semua ideologi kesopanan sebulan yang selama ini selalu dipegangnya erat-erat dalam berhubungan dengan setiap lelaki. Kecupan ini begitu didambakannya. Siang dan malam. Pagi dan petang. Dalam setiap mimpi-mimpinya. Angannya.
Ya Tuhan, biarkanlah masa-masa ini kekal.
Satu hal yang Nora percaya. Ia sudah merasa lelah untuk berlari. Ia sudah merasa terlalu capai dengan pemuda-pemuda lain yang hanya mampu memberikan kehangatan, namun tak mampu meluluhkan hatinya. Karena Nora yakin seperti ia percaya, bahwa ia mencintai pemuda yang sekarangmendekapnya ini. Persetan dengan semua alasan belas kasihan dan ketampanannya. Yang penting pemuda ini ada di sini. Saat ini. Untuk memaafkan Nora dan memiliki hatinya. Memiliki? Benar. Nora akan menyerahkan bahkan kehidupannya untuk pemuda yang satu ini.
Ya Tuhan, komitmen ini dariku.. untuknya.. atas nama-Mu.
Bagian 6
Masih 1997, lima tahun tiga bulan berlalu.
Sentuh aku sesukamu. Nora mendesah saat jemari pemuda itu mendekap payudaranya. Gadis itu membalas kuluman si pemuda di bibirnya. Begitu hangat. Begitu mesra. Bora menggeliat, tangannya bergerak dan membuka kancing baju pemuda itu.
Ya Tuhan, terima kasih.
Pemuda itu membiarkan bajunya terlepas dan terjatuh melewati kakinya. Nora memejamkan matanya dan mengangkat kepalanya saat pemuda itu mengangkat kausnya melewati lengannya yang terangkat ke udara. Pemuda itu menciumi leher jenjang si gadis dan menelusurinya sampai ke permukaan payudara si gadis. Nora mendesah dan mengecup ubun-ubun pemuda itu. Lidah pemuda itu menyusup ke balik bra-nya dan menyentuh sedikit puting susunya. Nora menahan nafasnya, memudahkan pemuda itu untuk melepaskan pengait bra-nya.
Ya Tuhan, terima kasih.
Nora membiarkan pemuda itu menindih tubuhnya. Gadis itu membuka pahanya, pemuda itu menyusupkan tubuhnya. Lidah pemuda itu memainkan puting susu si gadis dengan gerakan yang perlahan tapi cukup untuk membuat desahan itu keluar dari bibir Nora. Pemuda itu mengangkat tubuhnya dan menempelkan bibirnya di bibir gadis di bawahnya, sementara jemarinya memainkan bibir vagina si gadis. Nora mengulurkan tangannya dan menggenggam batang penis yang menegang itu. Angannyamelayang seiring nafsu yang semakin bergejolak di benaknya.
Ya Tuhan, terima kasih.
Pemuda itu menarik celana dalam Nora dengan perlahan tapi pasti, membiarkan Nora jengah dalam ketelanjangannya. Jemari pemuda itu kembali memainkan bibir vagina Nora, membuat gadis itu menggelinjang dan terengah-engah. Nora mempererat genggamannya pada batang penis pemuda itu, menariknya seakan berusaha memasukkan batang penis itu ke dalam liang vaginanya yang masih perawan. Sesuatu yang gadis itu percaya pasti sering diimpikan pemuda-pemuda satu sekolah di kamar mandi saat bermasturbasi. Pemuda itu menopang tubuhnya dengan lengannya. Menatap wajah Nora dan melihat air mata gadis itu yang menitik ke pipinya. “Are you sure about this?” bisik pemuda itu. Nora memejamkan matanya, bibirnya sedikit membuka. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
Ya Tuhan, terima kasih.
Pemuda itu mengangkat tubuhnya dari tubuh Nora. Nora menunggu, sedikit merasa tegang mengira-ngira perasaan apa yang akan muncul pada dirinya atas kepasrahannya. Nora memejamkan matanya rapat-rapat dan mengangkat lengannya. Nora menunggu batang penis itu menekan di liang vaginanya. Menunggu rasa sakit yang sering didengungkan orang-orang. Menunggu keperawanannya diambil pemuda impiannya.
Akhirnya.
Akhirnya mimpinya yang terindah tergapai.
Ya Tuhan, terima ka..
“Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?”
Berulang-ulang di telinganya.
Sejak saat itu.
Selamanya.
Bagian 7
Sebuah penutup
Pemuda berambut sebahu itu menghisap rokok di jepitan bibirnya dalam-dalam. Matanya menerawang entah kemana. Hari itu pikirannya benar-benar jernih. Terutama sejak Enni mengobrak-abrik kamarnya dan membuang semua makanan anak sesat yang ia miliki dan tentu saja ia takkansanggup untuk menyakiti gadis yang begitu ia kasihi.
“Kamu mendengar, Ray?”
Ray menatap wajah Andre. Dan sekejap kemudian pemuda ini merasa ketakutan oleh senyuman yang mengembang di bibir sahabatnya. Perasaan horror ini membuat bulu kuduknya berdiri.
“Ya.”
Andre menghela nafasnya dalam, memalingkan wajahnya ke arah pekarangan. Tapi senyuman itu belum juga hilang. Sebuah senyuman kepuasan dan kemenangan. Ray membiarkan suasana hening itu menambah kesan perasaan hatinya yang tercekam oleh aura horror di antara dirinya dan sahabatnya.
“Dan aku punya sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.”
“Ah?”
Ray tercekat. Aku.. aku..
“Terima kasih, Ray.” Dan Andre menjatuhkan kepalanya di bahu Ray yang hanya bisa terdiam.
Aku Ray.
Membantu kelahiran monster ini tanpa sadarku.
Bagian 8
Bagian yang terhilang
Pemuda itu menghela nafasnya sebelum mulai bertanya. Ray hanya bisa cengengesan menatap wajah Andre yang berkerut-kerut.
“Sejauh mana pengertianmu tentang wanita?”
Ray terkekeh dan menjawab sekenanya, “Sampai aku bisa menceramahi kakekku sendiri.”
Tapi Andre tak tertawa sama sekali.
“Bagaimana cara menyakiti seorang wanita?”
“Perkosa lalu ditinggal.”
Andre mengerenyitkan alisnya.
“Yang tidak beresiko?”
Ray meruncingkan bibirnya, sejenak pikirannya yang masih sedikit kacau mengingat-ingat beberapa peristiwa yang sempat masuk di beberapa media massa.
“Dihamili lalu ditinggal?” ucapnya beberapa saat kemudian.
“Masih banyak single parents, Ray.”
Mendadak Ray menegakkan posisi duduknya, tangannya mengacung di sisi kepalanya dengan sikap konyol, “Aku tahu!!”
“Apa?” Andre menatap Ray dengan penuh rasa ingin tahu.
“Tapi ini ra-ha-si-a,” Ray mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatnya.
Andre menunggu dengan tidak sabar.
“Buat ia tergila-gila padamu, rayu ia sampai ia rela untuk menyerahkan dirinya padamu, telanjangi ia, goda ia, buat ia terengah dan bernafsu, berikan padanya harapan yang muluk tentang perwujudan cinta, dan tinggalkan ketelanjangannya! Renggut harapan itu darinya. Voila, gadis itu akan terluka sampai ke akhir hayatnya.”
Ray tertawa terbahak-bahak, begitu bangga pada dirinya.
Andre tersenyum.
Dahulu,
Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku AKAN menyimpannya untukmu.
dan sekarang,
Aku tahu aku anak seorang pengusaha terpandang.
Aku tahu aku tampan, gagah bagaikan pangeran dalam dongeng.
Aku tahu aku menakutkan dengan reputasi yang melekat padaku.
Aku tahu aku menggilakanmu atas semuanya itu lewat suratmu.
Aku tahu aku MASIH menyimpannya untukmu.
“Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?”
Berulang-ulang di telinganya..
Sejak saat itu..
Selamanya..
TAMAT
- October 31st, 2008
- Posted in Umum
Selalu Menyimpannya Untukmu 01
Anak lelaki yang duduk di bangku panjang itu menghirup udara lembab pagi hari yang terasa menyegarkan. Helaan nafasnya terkadang menyelingi tolehan kepalanya. Jelas sekali anak itu menanti seseorang. Anak itu menengok jam tangannya dan menggoyangkan kakinya menutupi rasabosannya. “Baru lima belas menit. Aku tidak boleh mundur sekarang,” desahnya lirih berusaha menenangkan hatinya. Bapak penjaga sekolah melirik dari seberang dan tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Pagi-pagi benar anak itu sudah membangunkannya untuk membuka gerbangsekolah. Menunggu cewek? Sebuah alasan yang cukup bisa dimakluminya sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah pasti pernah muda. Lagipula apa lagi yang dipikirkan seorang anak di masa beranjak gede selain lawan jenisnya. Pemikiran yang cukup sempit itu membuatnya tertawa.
Anak lelaki itu menggeliatkan tubuhnya. Benaknya mulai gelisah. Sekali lagi perutnya memprotes sambal pindang yang terlewatkan tadi pagi. Anak itu memegangi perutnya yang berlipat, merintih pelan. Dalam hatinya ia berjanji, seandainya gadis kecil itu menerima cintaku, aku akan diet mati-matian. Tidak bahkan lalap terong akan kutelan. Aku ingin terlihat keren untuknya. Aku ingin ia tidak malu apabila jalan bergandengan denganku. Aku ingin supaya anak-anak lain memandangku dengan iri. Aku ingin..
Dan anak lelaki itu tersenyum melihat sosok yang muncul dari balik gerbang. Bapak penjaga sekolah mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Matanya menatap puas ke arah sampah-sampah plastik dan dedaunan yang terbakar di depan matanya. Setidaknya satu tugas selesai pagi ini. Tangannya bergerak lagi menusukkan patahan sapu itu ke onggokan yang terbakar, memastikan tidak ada bagian yang tak terjamah api. Sudut matanya menangkap langkah gontai itu. “Dik, mau ke mana?” Anak lelaki itu hanya menatap sayu dan tersenyum. Ia tak mungkin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia tak mungkin menceritakan betapa tawa gadis itu seperti serpihan kaca paru-parunya yang pecah dan mengoyak hati di bawahnya. Ia tak mungkin menceritakan kesia-siaan penantiannya dan segala rencana yang sudah begitu indah terbayang di benaknya setiap malam menjelang tidur.
“Ngaca dulu dong. Emang lo pikir lo sape?”
Berulang-ulang di telinganya. Senyuman anak itu menghilang seiring buliran air mata yang jatuh di pipinya. Kakinya terangkat dan ia berlari, membiarkan tas itu memukul-mukul punggungnya, meninggalkan bapak penjaga sekolah yang berseru memanggil, meninggalkan kepahitan yang menyelubungi tempat itu.
Aku tahu aku anak lusuh yang miskin.
Aku tahu aku buruk, gendut seperti babi.
Aku tahu aku tak pandai berkelahi.
Aku tahu aku menyukaimu dalam khayalku.
Aku tahu aku..
..AKAN MENYIMPANNYA UNTUKMU.
Bagian 1
1997, lima tahun berlalu
Jangan sampai ia melihatku. Nora menempelkan tubuhnya ke sisi tembok. Gadis itu menahan nafasnya, walau sebenarnya ia tahu bahwa pemuda itu takkan bisa mendengarnya. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Nora mendekap tas itu erat-erat di dadanya. Sebentar lagi ia akan muncul.
Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.
“Ray, kamu serius hendak pulang?”
Pemuda pertama yang berambut sebahu dengan pakaian serabutan itu hanya menampakkan barisan giginya.
“Tentu saja. Lagipula untuk apa aku terus di sini? Mem-bo-san-kan.”
Pemuda yang kedua yang tampak lebih rapi menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesah, “Pokoknya ini yang terakhir untuk kamu.”
Ray tertawa renyah, mengambil kertas kecil di tangan Andre dan mengacungkannya di depan wajahnya sendiri, “Thanks, Bro. I’ll pay you later.”
Andre menatap punggung sahabatnya. Sekali lagi ia menggelengkan kepalanya melihat gerakan kaki yang menyilang saat berlalu itu.
“Benar-benar seorang anak yang meresahkan.”
Sekarang ia harus mengembalikan bundel surat ijin itu ke ruang tata usaha sebelum ada yang merasa curiga.
Ya Tuhan, mohon jangan sampai ia melihatku.
Nora menatap Ray yang berlalu seperti seekor pinguin, menunggu sampai pemuda itu menghilang ke arah kantin. Gadis itu memastikan langkah kaki Andre yang menjauh sebelum berani menyembulkan kepalanya dari balik tembok. Tulang-tulangnya terasa begtu lemas. Tanpa ia sadari air mata menitik di pipinya. Gadis itu mengusap matanya dengan punggung tangannya dan mulai melangkah menuju ke kelas. Hatinya benar-benar kacau saat itu. Nora tak menghiraukan sapaan teman-temannya dan langsung menuju ke arah bangkunya. Gadis itu mendudukkan dirinya dan membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya. Beberapa anak mulai merasa heran dan berkasak-kusukdengan kelompoknya masing-masing.
“Nora, kamu tidak apa-apa?”
Nora menegakkan punggungnya dan menghapus air mata yang baru saja mengalir di pipinya.
“Ah, hanya sedikit masalah di rumah.”
Ya Tuhan, mohon hilangkan perasaan ini dari hatiku.
Bagian 2
“Kamu benar-benar gila, sayang.”
Ray terkekeh dan melingkarkan tangannya di bahu Wulan.
“Kan harus ada yang menemanimu saat kamu sakit.”
Gadis itu tertawa renyah dan membiarkan pemuda itu mengecup bibirnya dan mengurangi sedikit rasa pening yang menusuk kepalanya. Ray melumat bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Mendadak Wulan mendorong pundak pemuda itu menjauh.
“Kamu barusan makai?”
Ray terkekeh dan berusaha mengecup bibir gadis itu sekali lagi.
“Kan lebih enak begini. Lebih hot, bukan?”
“Sinting kamu. Aku tak pernah suka sisi gilamu yang satu ini.”
Gadis itu mendorong tubuh Ray menjauh. Namun Ray lebih sigap dan lebih kuat darinya. Tangan pemuda itu menggamit pergelangan tangan Wulan dan menariknya sampai terjatuh di sofa.
“Hey,” Ray mendesis, “Aku tidak bolos hanya untuk kembali lagi ke sekolah.”
Wulan merasakan nafas Ray yang menghembus di wajahnya. Jemari pemuda itu mulai merangkak dari perutnya dan membuat gerakan melingkar yang lembut di payudaranya.
“Hentikan, Ray,” desah gadis itu saat bibir si pemuda menyentuh bibirnya. Namun Ray seakan tak mendengarnya. Pengaruh ‘daun’ itu lebih kuat dari akal sehatnya. Tangan pemuda itu menyusup ke balik jubah mandi si gadis dan memainkan payudara gadis itu dengan telapak tangannya. Wulan mengeluh dalam lumatan bibir pemuda yang kini sudah setengah di atas tubuhnya.Ray menikmati tubuh mungil yang menggeliat di bawahnya. Dengan cekatan Ray melepas kancing-kancing di bajunya sendiri dan membuangnya ke lantai. Wulan menarik kepalanya dan menikmati lidah Ray yang menelusuri lehernya, belahan buah dadanya, dan dengan cara yang aneh berhasil membuka ikatan jubah mandinya. Pemuda itu mendesah dan tersenyum saat mendapati kenyataan bahwa gadis itu tidak mengenakan apapun di balik jubah mandinya selain sebuah celana dalam tipis berwarna biru muda.
Wulan semakin menggeliat ketika lidah dan bibir pemuda itu memainkan puting payudaranya dengan gerakan yang liar, tangan gadis itu melingkar di leher Ray dan bergerak meraba punggung telanjang pemuda itu. Ray menelusuri garis tengah gadis di bawahnya, memasukkan lidahnya kelubang pusar si gadis, membuat gadis itu menggelinjang kegelian, dan mengecup lipatan paha si gadis yang masih tertutup kain tipis berwarna biru muda. Wulan mendesah saat pemuda itu mengigit kemaluannya. Ray merasakan kain itu menjadi sedikit basah dan ia tersenyum. Pemuda itumenjulurkan lidahnya dan memainkan bibir vagina si gadis yang menempel di balik kain celana dalamnya yang basah, sementara tangannya melepas kan celana abu-abunya berikut celana dalamnya sendiri.
“Nggak, ah.” Wulan menggelengkan kepalanya saat Ray bangkit dan mendudukkan tubuhnya di samping gadis itu. Ray mengerenyitkan alisnya sedikit kecewa. Namun Ray bukan seorang pemuda yang bisa ditolak begitu saja, apalagi dalam kondisi tak karuan seperti saat itu.
“Ayo, dong,” Ray mendesah manja sambil memainkan batang penisnya yang menegang. Wulan menggigiti bibir bawahnya sambil menatap batang kejantanan dalam genggaman pemuda itu.
“Aku masih sakit, Ray.”
Ray benar-benar gelap. Jemarinya bergerak melingkari punggung leher si gadis dan menekan kepala si gadis ke dalam pangkuannya.
“Aku tahu,” desis pemuda itu, “Dan ini adalah obat yang paling mujarab, bahkan untuk batuk rejan sekalipun.”
Wulan melipat alis matanya, namun bibirnya menemukan ujung penis itu. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, namun kecupan lembut dan bisikan “Please,” yang didengarnya membuat bibirnya membuka. Ray mendesah saat ujung penisnya memasuki rongga mulut gadis itu. Pemuda itu menggunakan tangannya menarik dan menekan kepala gadis di pangkuannya, Wulan mengerang dan sedikit terbatuk.
“Ray, sudah deh. Kepalaku pusing.”
Ray menyengirkan mulutnya.
“Sedikit lagi.” Dan tangannya kembali menekan kepala si gadis.
Beberapa saat kemudian pemuda itu mengangkat kepala si gadis dari penisnya dan menyemburkan spermanya. “Gila. Cepat sekali.” Mau tak mau Wulan tertawa. Ray tersenyum dan sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Ternyata pengaruh daun itu benar-benar menguras daya tahannya. Tapi tubuhnya benar-benar lemas sekarang.
Wulan tersenyum dan meraba pipi pemuda yang sudah memejamkan matanya itu dengan lembut. Keinginan kewanitaannya sedikit mengajukan protes, namun Wulan sadar tak ada gunanya menghadapi Ray yang sedang dalam kondisi ‘tak karuan’ seperti saat itu. “Dasar cowok tampan yang bandel.” Gadis itu mencubit pipi pemuda yang terlelap itu sebelum melangkah menuju kamar mandi. Dalam hati ia bersyukur karena Ray mudah terlelap. Seandainya Ray meminta yang lebih daripada itu, entah apa yang harus dilakukannya. Mungkin sebaiknya ia menelepon Enni nanti malam, danmeminta gadis itu untuk kembali pada mantan kekasihnya yang berubah brutal ini. Tapi siapa lagi yang akan memberinya kenikmatan dan kenangan-kenangan indah seandainya Ray benar-benar pulang? Wulan tersenyum saat memasukkan sikat gigi itu ke dalam mulutnya.
Bagian 3
Nora memandang sekali lagi kata-kata yang terangkai di secarik kertas di hadapannya. Dalam hati ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri.
Ya Tuhan, akankah ia memaafkan diriku?
Sekilat ingatan tentang proses perubahan seorang lelaki yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri melintas di benaknya. Dalam penyesalannya selama bertahun-tahun ini, pertanyaan yang sama selalu berulang-ulang di kepalanya, membuatnya menjadi ketakutan dan gelisah saat menatap sosok lelaki itu, bahkan dalam jarak seratus meter pun.
Ya Tuhan, mengapa aku menyesal sekarang?
Aku mencintainya. Kata-kata itu juga selalu terngiang di telinganya. Dan kata-kata itu meluncur dari bibirnya sesaat sebelum dan sesudah ia terlelap dalam mimpi-mimpi buruknya. Pemuda itu begitu menawan, begitu tinggi di atasnya, begitu menggoda untuk digapai. Jauh lebih menggodadari pemuda-pemuda lain yang mengobral cinta untuknya. Namun apa yang telah dilakukannya? Ia telah menyebabkan pemuda itu kehilangan perasaannya. Ia telah menyebabkan pemuda itu begitu menderita dalam kesendiriannya. Yang (mungkin) hanya Nora dan pemuda itu sendiri ketahuidisaat-saat pemuda itu hanyut dalam kesendiriannya di sudut-sudut tergelap kamarnya. Nora bisa membayangkannya. Gadis itu seakan bisa menatap air mata yang mengalir di pipi pemuda itu saat mengenang dirinya. Dan Nora kini begitu mencintainya. Air mata gadis itu menetes di atas kertas.
“Benarkah aku mencintainya,” gadis itu mendesah dalam kegalauannya. Apakah perasaan ini timbul dari sebuah perasaan bersalah yang terpupuk selama bertahun-tahun? Apakah perasaan ini timbul setelah ia menyadari kelelakian pemuda itu yang mulai tampak di masa-masa beranjak dewasanya? Salahkah aku kalau aku dulu begitu menganggap rendah padanya? Pertanyaan demi pertanyaan mengiang lagi. Dan kali ini Nora sudah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri mimpi-mimpi buruk itu. Dengan secarik kertas di genggaman tangannya.
Ya Tuhan, tunjukkanlah kebenaran itu padaku.
Bersambung ke bagian 02