Archive for October, 2008

Selingkuh Hati – 3

Selingkuh Hati – 3

Dari bagian 2

Santi mengangguk sambil tersenyum manis kepadaku, “Dari dulu aku memang sudah tertarik dan suka dengan kamu. Dimataku, kamu orangnya baik, calm, dan sopan. Aku juga sudah menduga bahwa kamu bisa bermain sex berulang-ulang tanpa letih. Terbukti kamu sudah orgasme 2 kali kamu malah terlihat segar. Kok, kamu bisa seperti itu sih, minum obat ya?”

Aku mendengarkanya sambil berulang-ulang mengecup lengannya dan kemudian membelai wajahnya kembali, “Minum obat? Obat apaa? Obat-abit? Hehehehe.. Enak aja. Aku kan nggak ada persiapan kalau akhirnya aku ML sama kamu? Eh, semalem aku sih emang minum obat diare..?” jawabku enteng. “Eh, emang kamu kenapa?” tanya Santi kemudian. “Sakit perut laa.. Emang sakit panu?” “Sekarang masih nggak?” “Nggak… Udah sembuh kok, kenapa?” tanyaku. “Ooh.. Kirain masih sakit perut.. Bisa gawat! Kalo kamu orgasme, yang keluar bukan dari penis, tapi dari pantat! Kalo gitu kan, gue yang bingung, Hahaha..” “Idiidih.., jorok amat sih, Lu!! Nggak disangka, cantik-cantik jorok, hahahaha” “Ee.. Jangan asal ya! Gini-gini juga, Lu mau ama gue! Buktinya mau jilatin vagina gue.. Dari depan sama dari belakang, kan?” “Habis.. aku kan emang pengen banget nyetubuhi kamu? Lihat pantat kamu aja aku udah horny.. Apalagi bersetubuh!”

Santi tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian aku bangun More >

Selingkuh Hati – 2

Selingkuh Hati – 2

Dari bagian 1

Kaki Santi bergerak-gerak perlahan karena ulahku itu. Sekali-kali ia mengangkat kepalanya melihat perlakuanku, kemudian meletakkan kepalanya lagi di tempat tidur. Tanggapannya itu membuat aku semakin berani. Setelah bergantian tangan kiri dan kananku memijat dan meremas, sambil menyentuhkan hidungku pada celana di posisi vaginanya berada dan menggigit-gigit kecil dengan bibir, aku memberanikan diri menurunkan celana pendeknya perlahan-lahan. Sambil telentang, Santi merespon dengan mengangkat pantatnya agar aku bisa mudah menurunkan celananya.

Akupun menurunkan celananya melewati kakinya yang terjuntai di lantai hingga lepas. Langsung aku mencium dan menjitai kakinya dari bawah hingga atas. Sambil kedua tanganku meremas pantatnya, aku menggigit dengan bibirku, vaginanya yang masih terbungkus celana dalam hitam. Itu pun tidak bertahan lama. Akupun menarik lepas celana dalamnya. Disini aku melihat pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Santi dengan vaginanya yang bebulu hitam, menambah voltase yang besar pada senjataku. Aku langsung horny berat..

Tanpa bersabar lagi aku serbu vaginanya dengan lidahku, sampai masuk jauh di dalam. Santi merespon dengan mengangkat pantatnya, dan memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil terpejam dan mendesah. Tanganku yang tadinya meremas-remas pantatnya, sambil mengelus-elus kulitnya bergerak keatas memasuki bagian atas dari dalam kaosnya. Akhirnya aku menemukan daging kenyal yang masih dibungkus bra, More >

Selingkuh Hati – 1

Selingkuh Hati – 1

Setelah kejadianku beberapa bulan yang lalu (baca: Perselingkuhan istri muda 1-3), aku masih melakukannya beberapa kali sampai kami benar-benar menghentikannya. Walaupun demikian kami masih tetap berkomunikasi, walau dalam batinku kadang-kadang menginginkannya, aku tetap harus menghormatinya dan hubungannku hanya sebatas teman kerja biasa. Untuk itu aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannku untuk tidak sesering mungkin bertemu dengannya.

Di kantorku ada seorang temanku yang juga merupakan teman dekat Anita, Santi namanya. Mereka berdua bergabung dengan perusahaan kami berbarengan. Oleh sebab itu mereka berdua memang sudah dekat sajak pertama masuk kerja. Dibandingkan dengan Anita, Santi memiliki tubuh yang sedikit tinggi dan langsing. Berparas manis, malah aku terkadang memandangnya sebagai wanita yang cantik. Berambut sebahu dan bergelombang. Walaupun tidak memiliki buah dada yang besar, tetapi bila sedang berjalan, seksi sekali.

Sama dengan Anita, aku dengan Santi memiliki hubungan yang dekat. Malah aku rasa lebih dekat dibandingkan dengan Anita. Aku sering memijatnya di jam kantor, apabila Santi merasa pegal dan letih. Pada saat memijatnya itu, aku sering sekali memperhatikan buah dadanya yang tidak besar, tetapi ingin sekali aku menyentuhnya. Hmm..

Seringnya aku bercanda atau memijatnya, membuat suasana kantor aku menjadikan hal yang biasa untuk dilihat. Walaupun ada sorot-sorot mata tajam kecemburuan, terutama laki=laki yang menyukai Santi. Tetapi More >

Selingkuh Dengan Istri Teman

Selingkuh Dengan Istri Teman

Minggu, 24 Oktober 2004

“Hallo?”, kataku ketika telepon sudah tersambung. “Hallo?”, terdengar suara wanita menjawab. “Ini pasti Bu Novianti, ya? Saya Roy Takeshi, Bu..”, kataku. “O, Pak Roy.. Apa kabar?”, tanya Novianti ramah. “Baik, Bu.. Bisa bicara dengan Pak Yoga, Bu?”, tanyaku. “Suami saya sejak kemarin malam pulang ke Semarang, Pak..”, kata Novianti. “O begitu ya, Bu.. Well, kalo begitu saya pamit mundur saja, Bu..”, kataku cepat. “Sebentar, Pak Roy!”, kata Novianti menyela. “Ya ada apa, Bu?”, tanyaku. “Tidak ada apa-apa kok, Pak. Hanya saja rasanya kita sudah lama tidak pernah bertemu”, katanya. “Betul sekali, Bu. Kebetulan saja saat ini sebetulnya saya ada perlu dengan Pak Yoga tentang masalah bisnis kami, Bu”, kataku. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Roy?”, tanya Novianti serius. “Mm.. Kayaknya tidak ada, Bu. Terima kasih..”, kataku lagi. “Sekarang Pak Roy sedang dimana?”, tanyanya kian melebar. “Saya sedang di jalan, Bu. Tadinya mau ke rumah Ibu. Tapi ternyata Pak Yoga tidak ada di rumah..”, kataku seadanya. “Kesini saja dulu, Pak Roy!”, ajak Novianti. “Gimana, ya?”, kataku ragu. “Ayolah, Pak Roy.. Teman suami saya berarti teman saya juga. Please..”, pintanya. “Baiklah, saya akan mampir sebentar..”, kataku setelah berpikir sejenak. “Okay.. Saya tunggu, Pak Roy. Bye”, kata More >

Selingkuh

Selingkuh

Panggilanku Pink usiaku 23 tahun, teman-temanku semua mengatakan diriku cantik, terbukti bila aku berpergian terutama ke Mall hampir semua cowok memandangku kagum, tinggiku 170 cm, memang cukup tinggi untuk ukuran wanita, bodiku sedang-sedang aja, gaya berjalanku tak kalah dengan peragawati yang berlenggok diatas catwalk.

Singkat cerita pada suatu hari cowokku tertimpa musibah, Hari ditahan disebuah Polres dikota S karena ulahnya yang jelek suka mabuk-mabukan membawa petaka, dini hari sepulang dari sebuah Discotheque Hari cowokku dijalan terlibat cekcok dengan seseorang, rupanya Hari tidak terima dan membuntuti orang tersebut sampai di rumahnya.

Tidak cukup sampai disitu, ternyata Hari paginya kembali kerumah orang tersebut menteror dengan melembar petasan, akibatnya sang pemilik rumah yang belakangan kukenal bernama Sonny melapor ke polisi, ternyata No Pol mobil Hari sempat dikenal oleh Satpam rumah Sonny yang ternyata seorang pengusaha yang cukup dikenal dikota S dan punya pengaruh cukup besar.

Sore hari itu juga Hari diciduk Polisi saat keluar dari bengkel, setelah semalaman diintrogasi keesokan harinya aku datang menjenguk Hari dikantor Polisi, saat itulah aku bertemu dengan Sonny, orangnya cukup ganteng, badannya sangat atletis saat bersalaman dengannya hatiku tiba-tiba berdebar, tangannya menggenggam erat tanganku saat berjabat tangan, seakan tidak ingin melepas, matanya memandangku tajam.

Kami duduk berhadapan dikantor Polisi, mata Sonny terlihat More >