Archive for September, 2008

Namaku Elang 01

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Namaku Elang 01

Namaku Elang. Usiaku saat ini awal tiga puluh. Bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. Aku punya pengalaman yang ingin kuceritakan dan persembahkan kepada pengunjung setia cerita dewasa.

Pagi itu awal Mei, pukul 7:00, aku mendapat telepon yang tak kuduga-duga di kantor. (Memang aku biasa datang pagi untuk menghindari macet).
“Hallo, siapa nih?”
“Hai, lupa sama aku ya?”
“Iya, siapa ya?”
“Coba tebak. Masih ingat Ilen?”
“Ilen?”
“Iya. Yang tinggal di Wastu Kencana, Bandung.”
“Oh, yang anak Inggris?”
“He eh. Tapi kamu bukan dia. Karena aku kemarin ketemu dia di Bandung.”
“Makanya. Tebak siapa aku. Ilen is the clue. Aku sobat baiknya. Anak Inggris juga.”
Aku mencoba mengingat-ingat suaranya. Tapi tetap saja tidak ingat. Iyalah, mana aku ingat anak-anak angkatan 91. Lain jurusan lagi.
“Sombong. Lupa ya sama aku?”
“Aku nyerah deh.”
“Ini Srida.”
Srida. Emh, aku ingat dia.
“Hai! Dimana kamu sekarang.”
“Di kantor. Aku kerja di Jakarta sekarang.”
“Dimana?”
Dia menyebutkan nama sebuah bank asing dari Amerika yang sangat terkenal.
“Hebat kamu. Boleh dong aku ambil kredit? Di bagian apa kamu?”
“Cuma di bagian Telemarketing. Tapi lumayan deh.”
“Dapat teleponku dari Ilen ya?”
“He eh. Tiap pagi kutelepon dia. Dari kantor.”
“Enak banget. Di kantorku, telepon lokal saja dibatasi.”
“Iya. Di sini sih mau interlokal berjam-jam juga boleh. Khan bagian tele, apalagi aku dateng pagi banget. Maklum, numpang kakak.”
“Sama. Emh, senang sekali dapat telepon dari kamu.”
“Lang, tidak nyangka kamu ada di sini juga. Kemarin-kemarin sih aku ada lihat kamu di TV. Hebat kamu.”
“Biasa saja. Lagian kenapa baru sekarang telepon?”
“Barusan aku dapet dari Ilen.”
“Sering balik ke Bandung?”
“Tiap minggu. Jumat pulang, Minggu atau Senin pagi kembali ke Jakarta.”
“Gila. Nggak capek?
“Abisnya bosen. Tidak punya teman sih.”
“Sekarang khan ada aku.”
“Iya deh.”

Kami pun berbincang di telepon sampai pukul 8.00. Saat dia harus benar-benar bekerja. Sedang jam kerja kantorku pukul 8:30. Kami bicara banyak. Soal pengalaman masa kuliah dulu. Kenanganku muncul setelah telepon ditutupnya.

Srida. Gadis itu teman kuliahku di Fakultas Sastra. Hanya kami beda jurusan. Aku di Perancis, sedang dia di Inggris. Terus terang dulu aku naksir dia. Anaknya manis, pendiam, berkulit putih. Dengan berat dan tinggi badan proporsional. Wajahnya mirip Shinta Bella dimixed dengan Cornelia Agatha. Pokoknya oke banget. Dia sejurusan dengan Ilen, teman baikku waktu Opspek dan telah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dulu aku pernah minta tolong pada Ilen untuk membantuku mendekatinya. Tapi aku hanya diberikan telepon dan alamat Srida saja. (Nantinya aku tahu kalau Ilen itu menaruh harapan kepadaku. Pantas Ilen ‘dulu’ kayaknya menggodaku setiap kali main ke kostku). Dulu aku pernah menelepon Srida beberapa kali. Biasa, merayu. Tapi dia tidak bergeming. (Nantinya aku juga tahu kalau dia mengira aku tidak serius, dan menyangka aku playboy tengil. Padahal suwer; dia benar! Hahaha!). Ya sudah akhirnya kami nggak jadian. Aku tetap sebagai playboy, dia setahuku pacaran dengan anak angkatan 90.

Sebenarnya aku waktu kuliah di Sastra itu sudah kerja di perusahaan familiku, asli karena kebisaanku, bukan KKN dan juga kuliah di D3 Tehnik Informatika swasta. Iseng dan penasaran saja untuk kuliah di dua tempat. Apalagi di Sastra khan rata-rata banyak ceweknya. Jadi ya itu, playboy kampung ini makin betah saja. Di kampus, aku cukup populer dengan panggilan Abang. Iyalah, aku tua-an, sudah kerja, dan berasal dari Kalimantan. Karena sudah kerja, sudah punya cukup uang. Makin banyak saja cewek-cewek yang lengket denganku. Credit card can buy everything, man. Utamanya pada tahun awal 90-an. So, aku bisa dengan mudah pilih-pilih cewek. Dan lagi tampangku tidak malu-maluin deh buat digandeng. Tidak sombong, korbanku sudah banyak! Aku jahat ya. Tapi akhirnya kutakluk juga dengan seorang gadis, adik tingkatku. Yang akhirnya menjadi istriku tercinta.

Aku ngelantur ya? Bosen? tidak apa-apa. Aku bingung juga buat cerita. Aku bukan pengarang sih. Aku cuma mencoba menceritakan ulang pengalamanku.

Aku lanjutkan ya.
Sejak pagi itu. Srida menelponku paling tidak tiga kali sehari. Pagi-pagi seperti tadi, siang saat makan siang. Dan sore sebelum pulang kantornya. Rata-rata tiap kali menelepon satu jam sampai satu setengah jam. Gila ya? teman-teman kantorku juga bingung. Kenapa aku jadi males makan keluar pada jam istirahat. Aku pasti hanya nitip, atau pesen delivery saja. Mereka mulai curiga. Apalagi atasanku, perawan(?) tua yang ceriwis dan nyinyir. Beberapa bahkan langsung menebak aku selingkuh. Ooops, lupa ceritain kalau aku itu sebenarnya sudah tunangan dengan Venus.

Aku senang mendengar suara manja Srida di telepon. Sungguh. Dia sudah berubah. Bukan Srida yang dulu selalu ogah-ogahan menerima telepon. Yang tertutup dan pendiam. Dia total berubah. Dia bahkan memanggilku sayang. Dan tak malu-malu menyambut rayuan dan gurauanku. Bahkan yang agak-agak miring. Kadang aku berpikir ini semua karena kisah lama yang terulang. Rasa cinta yang mendadak datang kembali. Gila, kenapa dia muncul sekarang. Saat tanggal pernikahanku sudah ditetapkan. Sering juga aku merasa ini hanya perasaan senang, mendapat kembali kawan lama.

Bosen? tidak apa-apa kalau pembaca bosen, silakan lewati saja cerita ini. Lucunya, sampai berhari-hari kita telepon-teleponan saja. Aku sibuk, dia tidak bisa keluar kantor. Padahal jarak kantorku dengan Kuningan (kantor Srida) tidaklah bisa dikatakan jauh. Paling setengah jam pakai mobil. Srida selalu mengajak bertemu. Tapi karena rasa cintaku pada Venus (tunanganku) aku selalu menolak. Srida belum kuceritakan kalau aku sudah bertunangan November 1997 lalu. Teleponnya, selain ke kantor juga sekali-sekali ke rumah atau ke HP-ku. Tapi tak pernah lama. Paling hanya menyampaikan kesepiannya di Jakarta yang tanpa teman itu.

Saat kerusuhan 14 Mei, aku terpaksa menginap di kantor. Srida beberapa kali menelponku, mengatakan dia akan pulang cepat. Dan kalau bisa akan pulang ke Bandung. Srida akan kembali hari Senin, sebab kantornya memutuskan untuk meliburkan karyawannya.

Senin tanggal 18 Mei sore aku mendapat telepon dari Srida. Dia mengatakan sedang berada di RS Harapan Bunda. Ternyata keponakannya diopname karena menderita kelainan pada jantungnya. Dia memintaku untuk menjumpainya di sana.

Mulanya aku tidak mau, sebab setelah beberapa hari tidak mendapat teleponnya, walaupun ada rindu, aku sadar kembali bahwa aku telah punya tunangan dan akan menikah dalam beberapa bulan. Namun akhirnya rayuannya dan rasa penasaranku membuat luluh tekadku. Sepulang kantor, aku pun menuju ke RSHB. Sempat celingukan karena sedikit lupa akan rupa dan sosoknya. Kucoba hubungi HP-nya sedang dipakai. Akhirnya aku melihat seorang gadis sedang duduk di ruang tunggu apotik. Ah itu dia. Gadis itu pun melihatku. Tersenyum manis. Aduuh, cantiknya. Benar, wajahnya tambah manis, body-nya lebih kurus dari yang kuingat, namun sangat montok. Tak puas-puas kupandangi dia.
“Elang!” Dia memanggilku.
“Hai!” Hanya itu yang sanggup kukatakan.
Dengan segera dia berdiri menyongsongku. Menyalamiku dan menyodorkan pipinya. Ah, aku cukup kaget. Perasaan dulu dia nggak begini. Mungkin karena dia merasa telah akrab kepadaku melalui telepon-telepon kami. Kupandangi dia lekat-lekat. Tubuhnya hanya dibaluti kaos tipis merk Playboy berwarna putih, sedang bawahannya dia memakai rok pendek yang menampakkan kakinya yang bagus dan panjang mulus itu. Aku dapat melihat sekilas bra hitam yang dipakainya, menonjolkan sepasang buah dada yang menantang, ranum.

“Lama ya, nungguin aku?”
“Nggak juga. Kamu tidak berubah banyak, Lang. Hanya tampak lebih matang.”
“Kamu yang berubah.”
“Apanya?”
“Semuanya. Lebih, apa ya?” aku sempat terdiam, “Menggiurkan.” Dia hanya tersenyum.

Dia mengajakku duduk, kemudian mulai bercerita soal keponakannya yang masih balita itu. Aku mendengarkan sambil sesekali menatap erat wajahnya. Dalam hati, aku harus mengakui kalau dia tambah cantik. Sungguh! Rambutnya yang ikal dipotong sebahu. Modern style. Tampaknya dia sadar kalau kupandangi.

“Hei!” sentaknya.
“Apaan?” Tanyaku.
“Matamu itu.”
“Salah sendiri. Kenapa kamu tambah cantik.”
“Sudah merayunya. Biasanya cowok kalau habis merayu lalu minta yang nggak-nggak.”
“Tapi kalau aku yang minta diberi khan?”
“Mintanya apaan dulu.”
“Disun.”
Dia mencubitku.
“Macem-macem saja. Entar pacarmu marah. Siapa tuh, si kaca mata itu?”
Aku cuma diam, lalu sadar, dia mesti tahu tentang Venus.
“Venus? baik.”
“Nah itu. Mending kita telepon Ilen sekarang.”
“Yuk!” Kugaet tangannya.

Sambil berjalan tanganku beralih, memeluk pinggangnya yang ramping. Dia tak menolak. Tanganku tetap di sana, bahkan saat menelepon Ilen dari telepon kartu. Iyalah, kalau pakai HP bisa berapa? Interlokal khan kalau ke Bandung. Itu saja ngabisin kartu teleponnya sekitar 40 pulsa dan punyaku yang masih 230-an. Masalahnya, Ilen itu bawel banget orangnya.

Sehabis itu kami makan malam di kantin RS. Aku sebelumnya mengajak Srida ke caf

Nafsu yang Tak Tertahankan Lagi

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Nafsu yang Tak Tertahankan Lagi

Saya adalah salah satu wanita muda yang berumur 20-an bekerja pada satu perusahaan swasta yang ternama di Jakarta Barat, daerah Kota. Rambutku hitam sebahu. Wajahku lumayan, banyak orang yang mengatakan aku cantik. Sepanjang umur ini, terus terang aku senang melakukan masturbasi dan belum mempunyai pacar sampai sekarang ini. Aku sering nonton blue film dan sering membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi itu, tapi aku masih belum berani ambil keputusan tapi rasanya gatal seks tiap malam tak kusadari aku membuka baju sampai telanjang bulat dan melakukan masturbasi dalam keadaan mengangkang di atas ranjang dengan bantal guling di gosokkan ke bibir vaginaku sampai mencapai orgasme.

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah seorang teman sekantorku, seorang pemuda yang umurnya kira-kira sebaya denganku sebut saja namanya Irwan. Ia adalah seorang yang sangat rajin di tempat kerjaku, aku sangat menyenangi dirinya, ingin jadi pacarnya. Aku suka merasa horny kalau membayangi disetubuhi oleh laki-laki itu. Nah waktu aku sampai pintu rumahnya di daerah Gajah Mada, yang membukakan adalah adiknya, terus aku tanya di mana kakakmu terus dia bilang di atas loteng kamar, adik laki-lakinya tidak mengantarku, dia lagi asyik nonton TV. Aku langsung bergegas ke atas. Aku melihat suatu pemandangan yang sangat membuatku merasa basah. Kulihat Irwan sedang dalam posisi senggama di atas membelakangiku, tangannya memeluk sesuatu dan badannya maju mundur dengan irama yang bersamaan. Aku langsung bengong tidak pernah saya lihat begituan, cuma pernah lihat di blue film. Rupanya dia sedang onani juga. Aku langsung tidak tahan rasanya kubuka baju kantorku dan rok ketatku kulepas dan kuhempaskan ke lantai.

Dadaku yang cukup indah dan vaginaku yang penuh bulu ini langsung terbuka tanpa sehelai baju yang menutupi. Aku langsung bergegas ke kamarnya kupanggil namanya dia menoleh. “Linda?” kuterjang dia, satu tanganku memegang batang penisnya dan ingin menghisapnya. Tapi entah kenapa penisnya itu sudah mengeras sekali dan mendadak keluar cairan berwarna putih karena masturbasi tadi. Aduh cairannya itu ke wajahku. Hidungku yang mancung merasakan bau yang menambah suasana nafsu. Kuhisap penisnya sampai bersih tak kupedulikan rasa sperma itu. Ini yang kutunggu-tunggu sejak berumur 15 tahun yaitu nge-seks sama orang yang aku suka dan berisi. Dari umur 16 tahun aku suka bikin laki-laki nafsu terhadapku. Dengan memainkan mata ke arah mereka dan melakukan action yang bikin mereka tegang dan aku sangat enjoy ini tapi mereka itu cuma laki-laki ABG yang seperti anak-anak kecil. Kuhisap penisnya, tangannya menjambak rambutku keras-keras. Rambutku jadi terurai berantakan. Dia menarik penisnya lalu menggencetku dan mengincar payudaraku dan menghisapnya dengan penuh nafsu seperti seorang bayi yang netek terhadap ibunya. Lidahnya menggeliat-geliat bikin aku merasa geli. Mataku terpejam kegelian rasanya nikmat sekali dibanding masturbasi. Tangannya yang satu lagi meraba vaginaku yang sudah basah, langsung aku mendesah pelan sambil memencet-mencet penisnya yang sudah seperti rudal scud yang siap diluncurkan. Dia menjilati pinggangku yang ramping juga selangkanganku. Aku mendesah pelan tak terasa suaraku keluar, “Sudah Irwan sudah.. aku tidak tahan nih”, kupeluk tubuhnya erat-erat kugigit lehernya, aku mendesah rasanya nikmat sekali. Makin erat pelukanku tanpa kusadari penisnya yang siap meluncur itu masuk ke dalam vaginaku yang terbuka lebar. Bress, aku menjerit tanganku memeluk pinggangnya erat-erat. Satu tangan lagi mencakar cakar punggungnya. Dia memajukan penisnya maju-mundur maju-mundur terus aku merasa kenikmatan tiada tara, tanganku pasrah tidak memeluk pinggangnya lagi aku sudah dalam posisi setengah telentang. Dia langsung mencabut penisnya. Aku langsung terhempas di atas ranjang dengan bercak darah di selimut yang berwarna putih. Irwan langsung memegangku dengan tangannya yang kekar dia memintaku agar mengarahkan pantatku ke arahnya. Loh aku bingung kenapa? maklum saja blue film yang aku tonton biasanya tidak ada anal sexnya. Dia tanpa banyak bicara lagi menancapkan penisnya dari belakang. Aku menjerit keras sekali sambil teriak, “Ampunn Wan argh.. eeuhh.” Aku merasakan sesuatu keluar dari penisnya, cairannya banyak sekali aduh nikmatnya.

Kami berdua mendengar suara kaki naik ke atas loteng siapa gerangan? “Adiknya!” yang umurnya kira-kira 20 tahun, wah dia kaget melihat posisi kita yang seperti begini, Irwan tetap tenang ia bertanya kepada adiknya, “Hey Johny, ini yang dinamakan ngewe beneran.” Dia langsung melongo, Nafsuku tambah muncak lihat satu lagi jejaka muda didepanku ini. Mataku memandang tajam kearahnya tanganku memberikan hint supaya dia maju mendekatiku seperti terhipnotis. Kucoba memberikan dia senyum yang menantang, kudekati dia tapi aku sudah tidak kuat rasanya tenagaku banyak habis waktu sanggama sama Irwan tadi, langsung si Johnny tanya sama Irwan, “Boleh nih kak?” tapi Irwan masih terbaring lemas di ranjang tak berenergi lagi. Aku langsung berbisik, “Ayo say.. cobalah!” Dia lebih ganteng dari kakaknya sedikit dengan tubuhnya yang atletis. Johny meraba-raba tubuhku dari bahu, pinggang sampai selangkangan, waktu dia raba selangkanganku dia langsung bilang, “Wah Kakak baru main pertama kalinya ya.” Aku langsung mengiyakan, tanganku tanpa basa-basi lagi meremas penis yang di balik celananya. Dia juga no mercy langsung melepaskan baju dan celananya, gila panjang penisnya, sayang saya tidak bawa penggaris. Dia tidur telentang juga di ranjang, aku berada di atasnya. Aku disetubuhi juga olehnya sampai habis basah semua ranjangnya. Aku mendesah keenakan waktu dia mengeluarkan maninya. Tak terasa sudah Irwan terbangun ia kaget sekali melihat adiknya menyetubuhiku. Dia langsung berteriak marah dan menyalahkan adiknya.

Aku membela adiknya walau kurasa diriku terlalu letih, aku berkata bahwa aku bersedia kawin dengan Irwan, aku mencintaimu sejak dulu aku senang keluargamu, aku senang melakukan ini. Dia memelukku menciumku membelai rambutku dan seluruh tubuhku. Dia juga senang sama aku sejak tahun lalu di ruang kantor, cuma dia seorang lelaki yang pemalu alias tidak berani first action, dia ingin sekali kawin dengan seorang wantia karir. Aku balik memeluknya dan menciumnya juga, “Aku sayang kamu, Linda”, Johnny langsung minta maaf padaku katanya dia khilaf terhadap ini, ia berkata ia ingin sekali punya pacar. Setelah ini ia bergegas ke dapur dan memasak makanan malam dan kami makan malam bersama. Akhirnya Johnny kukenalkan dengan adik perempuanku yang umurnya sama dengannya mereka jatuh cinta dan mencintai satu sama lain dan hubunganku dengan Irwan sekarang adalah suami istri yang harmonis kami mempunyai seorang bayi laki-laki yang berumur 5 bulan.

Aku menulis ini bersama suamiku di tengah malam mengenang masa lalu yang indah yang penuh dengan kenangan yang selalu terbayang di hatiku.

TAMAT

Nafsu yang Mengatasnamakan Cinta

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Nafsu yang Mengatasnamakan Cinta

Sebelum aku memulai ceritaku ini maka pertama sekali aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada bekas teman wanitaku yang menjadi objek dalam cerita ini. Bukan maksudku untuk merendahkannya, hanya tak enak rasanya jika aku hanya menjadi penikmat 17tahun.com tanpa berusaha untuk memperbanyak perbendaharaannya.

Kejadian terjadi sekitar tahun 1995, ketika itu aku duduk di semester V di sebuah PTN di Medan. Aku, mahasiswa yang tinggal pada rumah kost di sekitar kampus PTN tersebut. Aku berasal dari desa yang cukup populer sebagai pemasok mahasiswa-mahasiswa handal ke berbagai PTN di Indonesia. Jarak desaku sekitar 5 jam perjalanan dari Medan, dan kami biasanya untuk pulang menggunakan jasa angkutan mobil yang sekaligus mengantarkan koran untuk daerah tersebut, jadi berangkatnya sekitar jam 2 dini hari dan sampainya sekitar jam 7 pagi. Saat itu aku bermaksud untuk pulang ke desaku karena ada urusan yang hendak dikerjakan. Setelah memesan mobil untuk pulang (biasanya kami tinggal menelepon mobil untuk dijemput pada dini harinya) aku bersiap-siap untuk berangkat dan sekitar jam 01.30 WIB. Mobilnya datang kemudian aku naik dan hendak duduk di depan samping Pak supir, tetapi aku melihat sudah ada seorang gadis yang duduk di sana, jadi kuurungkan niatku untuk duduk di sana dan memilih untuk duduk di belakang.

Sebenarnya sih aku kenal dengan gadis itu karena berasal dari daerah yang sama, tetapi supaya tidak dikira rakus cewek maka aku agak menghindar. Setelah selesai menjemput semua calon penumpang maka mobil yang kami tumpangi meluncur ke kantor harian surat kabar tersebut untuk mengambil koran yang akan dikirimkan ke daerah. Di kantor harian itu tempat duduk di depan masih tetap di tempati oleh gadis itu seorang diri, sementara di belakang sudah sudah diisi oleh berbagi macam jenis orang, maka kuputuskan duduk di samping gadis itu dan setelah mobil kami meluncur ke arah luar kota aku pun mulai membuka percakapan dengan gadis di sampingku.

“Nama kamu Oeli kan,” kataku membuka percakapan.
“Lho kamu kok tahu..” katanya menjawabku sambil tersenyum.
Lalu mulai rayuan mautku di dalam mobil itu sementara si supir tersenyum-senyum mendengarkan rayuanku. Dan setelah ngobrol ngalor-ngidul plus perhatian dengan pegang tangan sambil pura-pura tidur, kemudian setelah kira-kira jam 06:00 pagi setelah matahari menampakkan sinarnya yang perkasa kebetulan cahayanya langsung dari depan sehingga agak menyilaukan kami. Dengan lembut dan penuh perhatian kucoba kututupi matanya dari sinar yang menyilaukan dengan telapak tanganku sambil kami terus bercerita dan bercanda. Dan dengan style yang menyakinkan setelah aku mengantongi alamat dan nomor teleponnya di Medan maka aku pun menjanjikan pertemua-pertemuan berikutnya.

Singkat cerita, setelah kami telah sama-sama kembali ke Medan maka aku segera menghubunginya lewat telepon dan memulai rayuan-rayuanku dan mengundangnya datang ke tempat kostku. Pada suatu hari seteah janjian si Oeli benar-benar datang ketempat kostku. Kemudian aku duduk di tepi tempat tidur dan si Oeli duduk di karpet di kamarku, setelah puas ngobrol, kemudian aku tiba-tiba mencium pipinya sambil mencoba merayu, “Matamu bagus ya Li..” si Oeli tersenyum dan aku pun mulai mengelus dan meremas tangannya, tetapi secara tiba-tiba dia memalingkan wajahnya dan berkata, “Apaan sih maksudnya, baru kenalan kok udah pegang-pegang,” dan aku berkata, “Sebenarnya si aku suka sama kamu sejak kita pertama ketemu.” Lalu dia tersenyum dan mengangguk seteju ketika kutawarkan untuk pacaran dengannya. Lalu dengan tiba-tiba kukulum bibirnya dan si Oeli-nya membalas dengan keahlian yang cukup bagus. Wah maniak juga nih cewek, pikirku dalam hati. Kemudian setelah menutup pintu kamar dan kebetulan tempat kost sedang sepi.

Aku melanjutkan aksiku dan kembali mengulum bibirnya dan memainkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Terdengar nafasnya agak terengah karena ciuman yang agak panjang yang kami lakukan, lalu mata kami saling menatap dan saling tersenyum kemudian kupagut lagi bibirnya sambil kali ini tanganku mulai menggerayangi tubuhnya. Mula-mula kuelus rambutnya dan turun ke leher dan lebih turun lagi sampai aku mengenai pangkal dadanya. Si Oeli mulai tersengal-sengal nafasnya sambil tangannya pun memeluk erat leherku. Tanganku pun semakin turun sampai ke puncak payudaranya dan berhenti di sana sambil mengelus-elus pelan, sehingga dia tampak semakin menggelinjang menahan nafsu. Pelan-pelan sambil terus menciumi bibir dan lehernya kulepaskan satu persatu kancing bajunya sambil mengajak dan merebahkannya di ranjangku.

Setelah kancing bajunya terlepas aku melihat payudarnya yang lumayan montok (ukuran Bra-nya 34B) aku kemudian menyusupkan tanganku dibalik BH-nya dan berupaya menggapai putingnya. Wajah si Oeli terlihat semakin bersemu menahan nafsu dan kelihatan suasana di mulutnya semakin dingin menahan getaran nafsunya yang mulai memuncak seiring dengan kunaikan BH-nya ke atas payudaranya, sehingga payudaranya menyebul ke atas dengan puting yang mencuat dan telah agak mengeras. Kemudian kukulum pelan puting susunya sambil kuhisap pelan dan berganti-ganti si Oeli mulai mengerang-erang, “Ooh.. ooh..” sambil dia menekan kepalaku untuk lebih keras menghisap putingnya. Tanganku tidak tinggal diam, mulai membuka restleting jeans-nya dam mulai menyusupkan tanganku ke dalam CD-nya. Aku merasakan bulu yang agak kasar, nafasku dan nafasnya mulai tak terkendali. Kulepaskan pengait BH-nya dan kutarik turun celana jeans-nya tetapi CD-nya tetap kubiarkan dan aku pun mulai melepaskan semua pakaianku, tinggal ber-CD saja. Permainan kembali kami teruskan, “Payudaramu bagus yach..” kataku sambil kukecup pelan putingnya, dia menggelinjang, “Oohh..” erangnya dan kembali kukulum bibirnya. Pelan-pelan lidahku turun menjilati sekujur tubuhnya dari leher ke balik telinga. Erangannya semakin terdengar, “Ohh.. Ohh..” dan turun terus sampai di puncak dadanya kuhisap pelan. Kubiarkan sebentar, lalu turun lagi keperut sampai ke pusarnya lalu kumainkan lidahku di sana sambil tanganku menyusup kebalik CD-nya dan mendapatkan sudah ada cairan yang membasahi kemaluannya.

Setelah “foreplay”-nya kuanggap cukup, aku kemudian menarik turun CD-nya, Dengan perlahan si Oeli berkata, “Kok dibuka..” tetapi matanya menyiratkan keinginan yang dalam untuk menuntaskan permainan ini. Dia juga mengangkat pantatnya supaya CD-nya dapat dengan mudah kuturunkan. Kubuka CD-ku sendiri dan memamerkan kemaluanku sebentar dengan cara mengelus-elus sehingga semakin tampak berkilat dan memerah. Kucium kembali bibirnya dan kuhisap kembali puting susunya berganti-ganti sambil aku berusaha melebarkan posisi pahanya dan bersiap menusukkan batang kemaluan ke lubang kemaluannya. Kusibakkan perlahan mulut kemaluannya dengan kepala kemaluanku. Kurasakan agak licin di sana. Kubiarkan agak lama memainkan kepala kemaluanku di mulut kemaluannya sampai erangannya terdengar agak keras dan kepalanya menjadi liar bergerak kesana kemari, “Ahh.. ahh..” erangnya. Lalu dengan kekuatan penuh kudorongkan batang kemaluanku untuk mengoyak belahan kemaluannya (kukira si Oelinya masih perawan) ternyata batang kemaluanku hanya mengalami sedikit hambatan, itupun mungkin karena batang kemaluanku yang ukurannya agak besar, sekitar 17 cm dan diameternya 4 cm.

Lalu aku dengan agak semangat mulai menaik-turunkan pantatku dan kurasakan kemaluannya menjepit kuat batang kemaluanku dan si Oeli pun mulai menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakan pantatku sambil aku terus menciumi wajahnya dan mengulum bibirnya serta tanganku meremas-remas payudaranya berganti-ganti. Tiba-tiba gerakan si Oeli tak terkendali dan mencengkeram tubuhku sangat kuat. Sementara kakinya dilipatkan ke punggungku sambil berteriak keras, “Aku sampai.. aku sampai.. Ahh.. ahh..” Sekitar 15 detik kemudian dia agak tenang tetapi kurasakan semakin basah dan licin di dalam kemaluannya dan aku juga merasakan lubang kemaluannya sangat kuat meremas batang kemaluanku ketika dia orgasme tadi. Lalu kucabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya dan aku lap dengan CD si Oeli. Kemudian aku berbaring menghadap ke atas dengan kemaluan yang mencuat ke atas dan dengan perlahan tapi pasti si Oeli berjongkok di atas perutku sambil memegangi batang kemaluanku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Setelah dia mendudukiku pelan-pelan kemudian dia bergerak naik-turun yang kuimbangi dengan memutar-mutar pinggulku. Tampak dia semakin bersemangat dan “Ohh.. ahh.. ahh..” erangannya semakin lama semakin cepat, “Ahh.. ah.. hh..” dan aku pun merasakan seakan ada yang akan meledak dari dalam tubuhku, “Oh.. ohh..” kayuhannya dipercepat dan tiba-tiba dia menjerit histeris menindih tubuhku sambil menekan pantatnya kuat, “Aahh.. aahh..” dan pada waktu yang bersamaan aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa, “Crrett.. crreet.. creett.. creett..” Aku menumpahkan spermaku di dalam lubang kemaluannya seiring remasan lubang kemaluannya yang kurasakan mencengkram batang kemaluanku.

Sejurus kemudian kami sama-sama diam tak bergerak menikmati surga dunia yang baru kami rasakan. Si Oeli tetap berbaring di atas tubuhku dengan peluh yang membanjiri kedua tubuh kami. Kukecup bibirnya dengan mesra sambil kuucapkan, “Terimakasih ya Sayang..” Oeli tersenyum sambil membalas kecupanku. Demikianlah sejak saat itu kami melakukan senggama tidak kenal waktu baik di kamar kostku ataupun di rumahnya. Kami juga sering melakukan senggama di kampus, yaitu di tempat-tempat duduk di taman-taman kampus yang kalau malam hari sangat sepi yang tentunya “fast sex” atau si Oeli sekedar menghisap kemaluanku. Dengan bergabungnya aku di 17tahun.com maka sekaligus aku membuka diri kepada teman-teman yang ingin kenalan denganku dapat menghubungiku melalui e-mailku. Khususnya untuk cewek atau wanita yang berdomisili di kota Medan dapat menghubungiku untuk berkenalan dan berkonsultasi mengenai apa saja. Dengan senang hati aku akan menanggapinya. Kutunggu!

Sambungan dari bagian 01

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Sambungan dari bagian 01

Cukup lama kami berdansa dan entah sudah berapa lagu kami lewati bersama namun aku tidak ingin segera mengakhiri foreplay ini karena aku ingin Susi lebih dapat menikmati keromantisan ini lebih lama lagi. Aku membimbingnya ke arah Sofa dan kududukkan Susi di pangkuanku, kami pun semakin tenggelam dalam suasana, namun aku tetap berusaha menguasai diri. Pangkal penisku tepat bersentuhan dengan vaginanya yang terasa sudah amat merekah karena rangsangan hebat dan lelehan mani Susi semakin deras terasa menetes ke “telor”-ku. Cumbuan demi cumbuan dan rabaan serta sentuhan sudah kulakukan terhadap Susi. Bibirku sudah pindah ke arah dada Susi kukulum payudara yang kiri dan tangan kananku memilin puting yang kanan, punggungnya aku beri sentuhan dengan tangan kiriku. Susi semakin tak mampu menguasai birahinya yang sudah di ubun-ubun tubuhnya menggelinjang hebat.

“Ooogghh.. aahhkkhh.. please.. masukin.. mass.. sshh,” desis Susi sambil menjambak rambutnya sendiri. Bibirnya mendesis tubuhnya ia jatuhkan ke belakang dan bertumpu pada lenganku. Kesempatan itu kugunakan untuk melirik ke arah vaginanya yang merekah menebar bau semerbak, aku tertegun sejenak karena sebelumnya aku belum pernah melakukan ini terhadap istriku atau wanita lainnya. Namun aku yakin (seperti di cerita-cerita situs ini) jika kujilat vagina Susi hal ini akan mampu membuat Susi menggapai orgasmenya lewat hisapanku nanti.

“Soonnhh.. cepp.. peethh.. issepphh..” rengek Susi terengah-engah saat aku mulai mencumbui bagian bawah perutnya yang indah.
Aku tak menjawab namun segera kududukkan Susi di sofa, kedua pahanya kuletakkan di pundak dan mulailah aku dengan jilatanku di vagina Susi. Vaginanya harum bentuknya pun begitu indah dan masih sempit rambutnya tercukur bersih.
“Ssshh.. oouuwww.. aagghh.. pleasee..” pinta Susi diikuti penekanan kepalaku ke arah selangkangannya.
Sekejap kemudian aku memainkan kasarnya permukaan lidahku untuk menjilat bibir minoranya yang merekah dan Susi hanya bisa menjerit lirih menahan orgasmenya yang begitu cepat datang. Sudah tiga bulan, pantas saja sekejap sudah mencair birahi wanita ini, bathinku dalam hati. Aku menyambutnya dengan patukan dan juluran lidahku di dinding rahimnya lalu kukeluar-masukkan lidahku bak penis selagi memompa vagina secara teratur dan lembut.

“Aaawwuughh.. aaghh.. aaghh.. sshh.. Maasshh..” Susi mengawali orgasmenya dengan jeritan panjang.
Aku menyambutnya lagi dengan menghisap vaginanya dalam-dalam, aku sundut-sundut dengan interval yang lembut teratur. Dan benar dugaanku kali ini, orgasmenya yang kedua segera menyambung membuatnya semakin ngilu dan geli yang amat sangat.
“Aaagghh.. kuu.. llaaghh.. gii.. aakkhh..” Susi mendongak, kedua tangannya mencengkeram erat sofa.
“Ogghh.. Masshh.. aaghhghh.. aakkhh.. aahhghh..” Susi mendesah mengakhiri orgasmenya.

Aku berhenti untuk membersihkan mukaku dan menjilat sisa-sisa mani Susi yang terlihat meleleh menetes hingga anusnya.
“Mass.. aakhh.. please,” pinta Susi kegelian saat aku membersihkan sisa maninya di sela-sela labia minora-nya. Aku kembali duduk di sofa dan mendudukkan Susi di pangkuanku, dan sebelum duduk Susi ambil ancang-ancang untuk menancapkan penisku.
“Slerrphh.. aakgghh.. hangatthh..” suara penis membongkar vagina dan desahan Susi bersamaan 3/4 penisku dengan mudah tenggelam menjejali vagina Susi.

Susi duduk tegak, kedua tangannya membelai rambutnya, matanya terpejam menggigit bibir bawahnya, kemudian ia buka mulutnya saat mendesah bergantian, pinggulnya digoyangkan perlahan sesekali dan pada saat yang tepat ia hentakkan ke pangkal penisku. 16,5 cm penisku telah masuk mengisi rongga rahimnya membuat sensasi kehangatan dan nikmat bercampur jadi satu.
“Oookkhh.. hangatthh.. aakkhh.. Masshh.. puassinnhh.. aku..” pinta Susi diiringi dengan gerakan naik-turun pinggulnya seperti seorang joki.

15 menit berlalu, tampaknya Susi masih tenggelam dalam alunan sorgawinya dan kuperhatikan dari tadi matanya tampak terpejam menikmati sensasi ini. Aku sendiri mengimbangi goyangan Susi dan menunda ejakulasiku, karena aku amat kasihan melihat Susi yang haus akan kenikmatan birahi.Aku berusaha menambah rangsangan dengan menggesekkan telunjukku ke anus Susi yang sebelumya kubasahi dengan ludahku. Tepat saat ujung telunjukku memasuki anus Susi, Susi tampak sedikit terkejut dengan membuka matanya lebar-lebar dan sekejap kemudian terpejam dan tubuhnya menegang.

Wajahnya menyeringai, kedua tangannya mencengkeram punggungku erat-erat dan menarik tubuhnya menjauh dariku, tampaknya moment inilah yang Susi tunggu sejak tadi.
“Ngghh.. aagghh.. aakhh.. aakkh aahhgghh..” Susi mulai mendapatkan orgasmenya yang nyata yang ia pendam selama tiga bulan.
Pinggulnya ia goyangkan keras tak beraturan demikian pula hentakan pinggulnya dan beruntung rambut kemaluanku sudah aku cukur bersih sehingga terbebas dari rasa sakit akibat himpitan saat vagina menghujamnya. Lelehan maninya sampai ke pangkal telunjukku yang diam di anusnya kemudian telunjukku yang sudah licin tadi kutusuk-tusukkan lebih keras dan dalam di rongga anusnya. Susi semakin menghentak dan bergelinjang tak karuan menyambut orgasmenya yang keempat.

“Aaargghh.. aagghh.. oohhgghh.. aakk.. akkhh.. kell.. luaarr aaghh..” Susi menjerit keras menggapai orgasmenya kali ini.
Vaginanya terasa hangat dan terasa lebih menggelembung dari pada tadi.
“Ooghh.. oommpphh.. aagghh..” desah Susi tampak lega mengakhiri orgasmenya.
Aku sengaja menunda orgasmeku agar weekend kali ini betul-betul lain dari yang lain bagi Susi. Lalu kurengkuh kepalanya, kemudian kukecup mesra bibirnya, kulepas, lalu kutatap lembut wajahnya, ekspresi kepuasan terpencar dari sudut matanya yang bening. Masih tetap menancap penisku di rahimnya, kemudian kami berdekapan mesra lama sekali.

“Sus..” tanyaku.
“Hem eemhh.. makasih Mas Sony,” jawab Susi puas.
Karena capek Susi melepas gigitan vaginanya dan menghempaskan dirinya di sofa.
“Aahgghh..” lega dan tiga menit Susi pun tertidur di sofa lalu aku mengambil selimut hangat untuk Susi.
Setelah mengambil handuk dan mencuci penisku dengan shower hangat di kamar mandi, aku mengambil sleeping jas-ku, kemudian menghampiri Susi di sofa. Kubelai lembut Susi dan kuletakkan kepalanya di pahaku. Aku terdiam menikmati senja yang mulai gelap, tak kulihat lagi indahnya bukit di seberang hotel yang tampak hanya lampu kerlap kerlip di kejauhan. Karena udara semakin dingin menusuk ke tulang rasanya maka aku menggotong Susi ke tempat tidur dan kudekap hangat ia di dadaku di balik kehangatan selimut kami.

Tiga puluh menit Susi terlelap, belum ada tanda-tanda ia terjaga membuatku sedikit gelisah karena penisku kembali tegak berdiri.
“Mmmpphh.. ooaakhh ampph.. hahh..” Susi tampaknya terjaga dan ia kaget mendapati penisku mengeras.
“Sebentar Yach Mas, aku ke kamar mandi dulu, entar gantian Mas aku puasin,” kata Susi datar seraya berlari kecil ke kamar mandi.

Aku kemudian melepas sleeping jas-ku dan mengelus-elus penis kebanggaanku yang kokoh berdiri tegak. Dari kamar mandi Susi menghampiriku dan menepis tanganku dari penisku dan kini mulut mungil Susi mulai mengulum kepala penisku. Batang penisku ia kocok-kocok lembut terkadang ia remas hingga ke kedua biji kemaluanku.
“Oookhh Suss.. sshh..” aku hanya dapat mendesis menikmati kocokan tangan lembut ini.
“Oookkhh.. lebih kerass.. ssaayy..” ceracauku tak karuan karena ejakulasiku tertunda.
Susi lebih keras lagi mengocok dan diselingi kuluman-kuluman di sepanjang batang penisku.

Kulihat Susi menggengam batangku dan terlihat kepala penisku menyembul di antara genggaman tangannya. Ujung lidah Susi beradu dengan ujung kemaluanku tepat di lubang sperma penisku dan Susi mematuk-matukkan lidahnya tepat di situ, rasanya badan ini bergetar hebat dan ngilu yang amat sangat. Kedua pahaku otomatis terbuka lebar dan Susi menempatkan tubuh rampingnya di antara kedua pahaku. Aku semakin tak tahan dengan permainan Susi, kucengkeram erat rambutnya menahan rasa geli.
“Suusshh.. ooghh.. Suss..” aku mendesis berusaha menahan laju spermaku.
“Bocorin saja Mas.. ayo sayang..!” kata Susi sambil melihat ke wajahku yang sedang kelojotan kemudian meneruskan patukan lidahnya yang semakin nakal dipadu dengan kocokannya yang lembut.

Aku melirik ke arah Susi, tampak wajahnya puas mengerjaiku kali ini.
“Aaakhh.. Susshh.. mmpphh..” desahku menikmati permainan oral Susi.
Aku semakin tak tahan dengan sensasi yang dibuat Susi apalagi ia melakukannya juga dipadu dengan pilinan lembut jemari kirinya di puting susuku. Aku berusaha mati-matian menahan laju spermaku, namun usahaku itu sia-sia, tiga detik kemudian aku melenguh panjang menyambut sensasi yang segera datang.
“Suuss.. hisapphh.. Sayy.. aku mauu.. kell..” pintaku tak sabar.
Susi tanggap, kemudian menghisap dalam-dalam kepala penisku, sedetik kemudian.. “Arr.. aakhh.. aakkhh.. aakhh..” aku terpekik melepas semburan maniku di mulut mungil Susi.

Ditelannya semua spermaku hingga ke tetes terakhir dan penisku semakin terasa kasat dibuatnya. Masih tetap ia kocok penisku sehingga tetap pada kondisi tegang terus meski sudah menyemburkan mani kental. Apalagi sudah dua bulan tidak bersarang, pastilah burungku akan menegang sampai menemukan sarangnya.

Aku kemudian mengulum bibir Susi sementara Susi masih mengelus penisku dengan lembut. Susi rupanya ingin menikmati seks ini dengan alami karena ia merebahkan dirinya di sampingku, lalu aku melingkarkan pahaku di atas kedua pahanya. Bibirku kini sudah berada di puting kiri Susi untuk mengerjakan tugas berikutnya, yaitu menggigit-gigit kecil disertai remasan-remasan.
“Mpphh.. oowwghh.. mm.. Maashh..” tampaknya birahi Susi mulai bangkit dari tidurnya.
Tangan Kiriku juga tak tinggal diam untuk memilin puting kanannya.
“Aaaww mmpphh.. sshh.. Mass.. kamu hangat sayang..” puji Susi ketika aku mulai menindih tubuhnya dan mencumbui kedua ketiaknya secara bergantian.
“Oooghh.. aahhgghh.. kamu jantan Sayangg.. aku mencintaiimu,” Susi terus memujiku, tampaknya permainan lembutku membuatnya lupa diri.

Dari rabaan telunjukku tampaknya Susi sudah siap jika penisku membongkar rahimnya lagi karena sudah lembab.
“Aku masukin yach Say..” tanyaku.
Susi lalu mencumbui aku dengan lembut namun telapak tangan kanannya meremas pantatku lalu menekannya.
“Blesshh..” dengan mudah masuk seluruh batang penisku karena vagina Susi sudah lembab dan licin akan sisa-sisa spermaku sore tadi.
“Maasshh.. aakk,” Susi mendesah panjang menyambut kehangatan yang mulai menjalar ke semua rongga rahimnya.

Kami bercumbu bersama tanpa melakukan goyangan, namun sesekali aku memainkan otot penisku di liang vagina Susi membuat Susi kelojotan menahan geli bercampur nikmat.
“Aaahh mmphh.. aah sshh.. aaghh.. ooghh.. nikmath..” desah Susi.
Kami masih bergumul dalam irama syahdu diiringi desah kelembutan nafas, entah nafsu atau cinta aku pun tidak peduli. Badan Susi semakin menghangat tanda-tanda ia menjelang puncak nafsunya. Aku mulai memompa penisku lembut dalam irama teratur semetara kedua tanganku memilin dan meremas kedua bukit indahnya.

Tubuh Susi semakin terhentak kala tempo permainan hentakanku semakin kutambah, hal ini karena sensasi yang aku rasakan juga semakin nikmat. Penisku terasa tergigit oleh labia minora-nya kala aku menusukkan penisku dalam-dalam dan terasa terhisap kala aku menarik penisku. Pompaan penisku semakin kencang sampai badan Susi terhentak, namun Susi hanya merengek manja, melenguh, mendesah dan menjerit lirih kala sedikit gesekan penisku membuat vaginanya ngilu.

15 menit berlalu, kepalanya kulihat mulai menoleh ke kiri dan ke kanan tak beraturan, wajahnya memerah oleh birahi, tubuhnya terasa lebih hangat dan vaginanya mengempot teratur. Tubuhnya lalu menegang, kedua tangannya lantas dibuka lebar-lebar ke atas, berpegangan pada sisi tempat tidur untuk bersiap-siap melepas orgasmenya yang akan dahsyat. Aku membantu menstimulasi gesekan penisku dengan klitorisnya yang kenyal di bagian tubuh lain, aku mencumbui kedua ketiak Susi bergantian. Susi merasakan terbang di langit yang tinggi beralaskan putihnya mega yang menyelimutinya dan shatin tempat tidur ini memberi inspirasi seolah kami bercumbu di awan yang lembut.

“Sus.. I love you..” bisikku spontan kala mendapati wajahnya yang cantik rupawan, memang dia adalah tipeku, tipe-tipe wanita langsing seperti dia.
“Ahhghhku.. juhhggaa.. Masshh,” Susi membalas cumbuanku dengan buas.

Kali ini Susi diam membisu dan tubuhnya mulai menegang, diam dan matanya terpejam memancarkan ekspresi mendalam. Aku lalu melesakkan dalam-dalam penisku terasa mentok sampai ke dasar dan aku diamkan di sana sambil aku mainkan otot-otot penisku. Sedetik kemudian datanglah apa yang Susi rindukan, “Maasshh.. aagghh aaghh aakkhh.. aahkkuu.. ssaamm..” Susi mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang. Putingnya kini aku gigit-gigit kecil dan lereng bukit payudaranya aku remas lembut dan tampak Susi masih mendesah meregang orgasmenya yang pertama.

Stimulasi di putingnya membuatnya menggapai orgasmenya yang kedua dan ketiga secara bersamaan.
“Ooouugghh.. aakku.. lahhggi.. aagghh..” Susi menggelinjang tak karuan.
Tangannya mencakar punggungku menahan geli bercampur yang amat sangat kala aku semakin cepat memompa lagi penisku. Cairan mani Susi yang banyak menyebabkan bunyi-bunyi saat penisku menghujam vagina Susi dan semakin melicinkan tusukanku saja, dan yang kutunggu segera tiba.

“Susshh.. aahku.. mmpphh..” gumamku sambil menggenjot penis dan meremas puting Susi.
“Masshh.. aagghku.. jugaa..” balas Susi.
“Oouumpphh.. aa.. aa.. aaghh,” teriak kami bersamaan, persetan dengan orang lain yang mendengarnya.
Maniku mengalir deras bersamaan dengan Susi yang kurasakan hangat di sepanjang batang penisku. Kami pun terbawa arus orgasme bersama yang sensasional bergumul, mencumbui, menggigit kecil bergantian dan nikmat “langit tujuh” bagi Susi sudah ia dapatkan dan juga aku.

Susi masih tetap dalam dekapanku dan tak ingin kulepaskan untuk selamanya saat penisku terlepas dari gigitan vaginannya. Aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:00 malam dan itu berarti kami sudah bercinta lebih kurang 5 jam sejak sore tadi. Kami lalu berendam di bath tub hangat dan tidak melewatkan satu ronde di sana sebelum kami keluar bersama mencari makan dan minuman energy serta gingseng.

Setelah itu kami kembali ke hotel lagi dan menghabiskan malam dengan berbagai gaya bercinta seperti yang kami lihat di channel video kamar kami sampai jam 03:00 pagi, setelah itu kami tertidur karena lelah. Dua hari kami habiskan menguras mani kami masing-masing sebelum akhirnya kami berpisah di Surabaya.

Para pembaca, nafsu memang bukanlah cinta karena seseorang bisa bilang cinta saat diselimuti nafsu, demikian pula sebaliknya. Salam bagi semua dan semat beraktivitas apa saja, mau diteruskan beronani atau bermasturbasi ria silakan.

TAMAT

Nafsu Bukanlah Cinta 01

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Nafsu Bukanlah Cinta 01

Pembaca yang budiman, kisah ini adalah setengah nyata, jika ada kesamaan nama maupun tempat pasti hanya kebetulan saja.

Tanggung jawabku sebagai seorang Shipping Manajer menyebabkan aku punya banyak relasi bisnis dari perusahaan perusahaan pelayaran maupun perusahaan angkutan lainnya. Namun ada satu rekanan bisnisku yang akan kuceritakan dalam kisah ini. Sebut saja Susi, begitu nama sales executive dari sebuah pelayaran di kota S, bertinggi badan kurang lebih 165 cm, dengan postur tubuh proporsional dan busung dada 36. Hidungnya mancung dan rambut hitam ikal sebahu. Perusahaannya memang bonafide, sehingga beberapa pekerjaan skala besar dapat terkirimkan dengan baik. Jujur saja dalam hati kecil ini juga kagum pada kecantikan Susi dan sebagai lelaki normal yach secara tak sengaja melihat sisi dalam pahanya saat disilangkan yang membuat seonggok daging kenyal disela-sela pahaku, “unjuk diri”.

Sebagai relasi yang baik Susi terkadang mengajak lunch di luar ataupun hanya memberiku cindera mata atau selepas kerja kami nongkrong di kafe musik. Pada saat itulah Susi bertanya banyak tentang diriku dan kujawab semua dengan benar, aku memang suka berterus terang termasuk keadaan diriku yang sudah berkeluarga yang mempunyai seorang putra 2,5 tahun dan istriku sedang mengandung 8 bulan. Akhirnya aku pun tahu bahwa Susi adalah menjadi simpanan boss-nya bule asal Amerika yang bernama Richard, namun kini telah meninggalkan Indonesia karena sudah diganti oleh GM baru asal Indonesia. Mata Susi tampak menerawang jauh dan angannya terbang ke Amerika sana namun dia tersadar itu tak mungkin lagi menikmati kebersamaan mereka lagi.

Tepat liburan umum di bulan Januari lalu Susi meneleponku dan mengajak ke Batu, katanya sich dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-29 dan untuk menemaninya (biasanya Susi menghabiskan weekend di sana bersama Richard).

“Mas Sony mau nggak temenin aku ke Batu nanti di acara ultah-ku?” tanya Susi di telepon.
“Emang acaranya apaan?” selidikku.
“Ah.. udah dech pokoknya temenin aku yach, please..” rengeknya setegah memohon.
“Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please.. kali ini saja!” pintanya.

Lelaki mana yang sanggup menolak kamu Sus, wajahmu yang cantik, bodi kamu punya, bibir tipis nan sensual waah segalanya deh, bathinku dalam hati. Aku tersadar saat Susi menyambung pembicaraannya lagi.
“Atau aku mesti bilang ke Mbak Santi istri Mas..” imbuhnya.
“Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke..”
Buru-buru aku menyergahnya. Sabtu malam ini kami ngobrol berdua dengan istriku dan aku bohong padanya kalau aku besok malam harus menemani tamu Technical Advisor-ku dari Jepang termasuk mencarikan hiburan buat tamuku juga.

Sabtu pagi aku berpamitan pada istriku dan memacu Capella kesayanganku ke arah Malang, aku sendiri sekarang tinggal di Gresik. Namun sebelum itu aku menjemput Susi di rumah kontrakannya di kawasan Surabaya Barat. Selang lima menit aku pencet bel keluarlah Susi mengenakan stelan span deep marine dan atas you can see biru muda, sebuah pemandangan yang amat serasi dan indah.

Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol ringan soal pekerjaan dan kami bersenda gurau di antaranya. Aku tahu Susi adalah wanita yang amat kesepian, aku juga terkadang kasihan melihatnya. Meski dia sukses di kariernya tapi di lain pihak di juga butuh pendamping yang mengisi kekosongan jiwanya.

“Mas Sony, sebelumnya aku minta maaf kalo permintaanku kali ini menyita waktu untuk keluarga Mas,” Susi mulai membuka pembicaraan.
“Aku sukses dalam berkarierku dan hidup mewah karena support besar company Mas Sony, khususnya Mas Pribadi dari Mas,” kata Susi, (ini karena perusahaanku merupakan big customer bagi dia).”It’s OK,” jawabku.
“Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah dua hari ini berarti buat kekosongan hidupku,” pinta Susi.
“Hiburlah aku yang kesepian Mas,” pinta Susi lagi.
Cihuy.. sorak aku dalam hati.

Setelah check in kami lantas menuju ke paviliun paling ujung yang mempunyai view sangat indah berpagar bukit dan taman anggrek nan segar dipandang mata. Hawa dingin ini membuatku sedikit malas untuk melakukan aktivitas dan kami menghabiskan kurang lebih satu setengah jam untuk ngobrol. Yach hitung-hitung sekaligus pendekatan kepada Susi karena selama ini hanya sebatas hubungan kerja atau formal bukan suasana privacy seperti saat ini.

Jam tiga sore badanku mulai gerah dan rasanya ingin mengajak Susi berenang di kolam air hangat di Hotel tersebut. Kami pun berenang bersama dan rasanya sungguh nikmat, hangat dan segar.
“Mas Sony masih kelihatan gagah yach,” puji Susi saat aku istirahat sebentar dan duduk di tepian kolam.
“Ah Masak sich?” sahutku.
Sepintas aku menangkap gerakan bahwa matanya tertuju pada selangkanganku yang memang sudah hampir 1,5 bulan tidak pernah lagi bersarang. Meski lagi mengkerut akan tetapi dengan celana renang ketat ini pastilah menonjol testisku. Kulihat Susi sedikit menahan nafas karenanya.

Kami lantas berenang dan berenang lagi sampai badanku terasa sedikit capai. Aku lantas berhenti dan melilitkan handukku menuju ke kursi di pinggiran kolam, lalu kuteguk air mineral ukuran setengah liter itu sampai habis. Susi sendiri masih asyik berenang dan tak kusangka tubuhnya yang biasa dibalut jas kerjanya itu kelihatan ramping dan mulus sekali. Aku berdiri melakukan gerakan pelemasan kecilku sambil menikmati tubuh mulus Susi dan Susi semakin merasa aku perhatikan semakin terkesan dibuat-buat gerakannya memancing birahiku.

Aku kemudian rebahan kembali di kursi dam melemaskan ototku, Susi sebentar kemudian naik menyusulku mengambil tempat di sampingku.
“Sus..” panggilku yang aku buat-buat semesra mungkin.
“Hem..” sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.
Dan perlahan namun pasti penisku mengeras menyembul di bawah belitan handukku, lalu aku sedikit naikkan pinggulku agar Susi juga dapat menikmati apa yang ia inginkan sesaat lagi.
“Ada apa Mas..?” tanya Susi sedikit serius namun matanya melirik ke arah penisku yang sudah setengah mengeras.
“Enggak, cuman aku melihat hari ini kamu lebih seksi,” rayuku.
“Emm.. gimana yach kalo si kekar dan si seksi bersatu yach..” tanya Susi mengerlingkan mata kirinya.
“Pengin tau jawabnya? Hayo kita ke markas,” ajakku seraya membimbingnya berdiri.

Kami lantas berjalan bergandengan menuju paviliun kami menginap.
“Emh belum-belum khok udah loyo,” ejekku kepada Susi dan berlari kecil meninggalkannya.
“Eh sialaan..” teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu.
“Mas Sony, gandeng doong..” rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.
Kami pun bergandengan mesra bak orang pacaran dan semua terjadi spontan. Aku tak ingat lagi istri dan anakku di rumah saat ini, yang kuinginkan hanyalah kenikmatan dan kehangatan tubuh Susi untuk melampiaskan libidoku.

Kami memasuki paviliun itu dan duduk di sofa besar menghadap ke arah bukit indah. Matahari serasa mengintip kami dari balik bukit itu dan enggan menutup tirai hari ini dan dilain pihak kami sudah ingin segera menikmati malam indah nanti. Kami duduk berdampingan menikmati alunan musik lembut dan pemandangan yang mempesona di bukit sana.
“Lis, aku sebenarnya.. sedikit.. emmhh..” kataku ragu.
“Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun,” kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.
“Lagian nggak mungkin karena aku tahu Mas Sony punya keluarga yang bahagia,” imbuh Susi.
“Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya,” bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.

Aku kemudian mendekap Susi, terasa hangat dan lembut tubuh indah ini lalu kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan penuh arti, kulihat dari tatapan matanya Susi sudah betul-betul horny demikian pula aku yang sudah 2 bulan lalu tidak mengasah batang pejal kebangganku. Sekejap bibir kami mulai menyatu dalam alunan kemesraan berselimut hasrat bergelora. Ujung lidah kami bergantian menggelitik rongga mulut kami masing-masing.
“Mass.. oohh puaskan aku yach sayang,” rengek Susi di sela-sela desah nafasnya yang memburu deras.
“Segera sayang, saatnya sebentar lagi tiba. Aku akan membawamu ke langit tujuh,” bisikku sambil melepas satu persatu kain di tubuhnya.

Udara dingin yang bersentuhan langsung dengan pori-pori Susi menambah sensasi dan rindu akan sentuhan dan juga rabaan-rabaan maupun jilatan sekujur tubuhnya. Kali ini aku akan memperlakukannya bak seorang putri maka akan berbahagialah Susi dalam dua hari ini. Setelah memakaikan dia sleeping jas, aku kemudian mengajaknya berdiri di dekat jendela menikmati senja nan indah dan syahdu ini, aku mendekapnya dari belakang dan belakang telinganya mulai kusentuh dengan ujung lidahku.

“Mass.. oogghh..” Susi hanya bisa mendesah dan mengesek kedua pahanya.
“Sudah Berapa lama Say..” bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.
“Tiga bull.. aa.. aahh.. gellii,” pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
Wajah penuh gairah itu mendongak ke arahku dan kulumat bibirnya sementara tanganku mulai menanggalkan semua yaang tersisa di tubuhnya.
“Masshh.. oogghh.. mmpphh,” Susi menceracau sambil melucuti pakaianku.
Kami sudah telanjang bulat bersama sambil berdansa seirama alunan musik hotel, tubuh kami menyatu dan saling dekap dalam kelembutan dan kehangatan birahi dan tetap berdansa dalam irama kelembutan.

Tangan Susi melingkar di tengkukku dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya, namun kemudian kuturunkan ke arah bongkahan pantatnya dan meraba serta meremas lembut. Pada saat itulah Susi melepaskan bibirnya untuk melenguh sejenak menikmati rabaan serta sentuhanku. Penisku sedari tadi mengeras tegak itu menempel di perut Susi membuat sensasi kehangatan di antara kehangatan tubuh kami.

Bersambung ke bagian 02

My First Sex Life – 2

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

My First Sex Life – 2

Dari bagian 1

Setelah masuk ruang tamu, langsung aku jatuhkan Siska di sofa dan langsung aku serang dia. Aku cium bibirnya dan dia membalas dengan ganasnya, lidah kami saling berbelit dan menimbulkan suara menambah terangsangnya kita berdua. Siska mulai mendesah akibat rangsangan yang diterimanya.

“Aahh.. Dre slurrp.. Slurrp”

Kemudian ciumanku beralih ke lehernya dan terus ke belakang telingganya dan terakhir berhenti di lubang telinganya, dan ternyata Siska menyukai apa yang aku lakukan. Terbukti nafas Siska mulai tidak beraturan dan meracau.

“Say.. Lidahmu kerasa enak banget.. Aah.. Shh.. Shh..”

Tangan Siska tidak tinggal diam, langsung menyerang ke kontolku dan mengelus-elus dibalik celana jeansku. Sedangkan tanganku membuka bajunya dan bhnya, maka tampaklah susu 36b dengan puting merah merekah dengan lingkaran puting yang tidak terlalu besar. Langsung saja aku menjilat puting susu sebelah kanan secara lembut dan aku berikan gigitan ringan pada putingnya.

“Aah.. Aahh.. Say kamu nakal, masak kamu nenennya kayak gitu?” kata Siska memohon ke aku.

Sedangkan susu yang sebelah kiri aku remas pelan-pelan dengan tangan kiriku. Susu Siska kenyal dan padat membuat aku suka untuk berlama-lama di susunya. Kemudian gantian susu yang sebelah kiri aku manjakan dengan lidahku dan yang sebelah kanan aku remas-remas dengan lembut.

Siska kemudian membuka celana jeansku dan langsung memeloroti cdku dengan ganasnya, lalu Siska minta untuk bermain 69, tetapi aku enggak menghiraukan permintaannya, yang kemudian aku lanjutin jilatanku turun kebawah sambil membuka roknya yang super mini.

Setelah roknya aku buka tampak G-String hitam dengan renda dipinggirannya membuat aku semakin horny. Bau tempek khas wanita tercium olehku, tapi bau tempek Siska bercampur seperti bau buah strawbery. Aku sempat bengong dengan keindahan yang aku lihat. Siska berkata.

“Kok dilihat saja sih, ayo aku sudah enggak tahan nih..” dengan berkatanya Siska, langsung aku jilatin disekitar selangkangannya sampai benar-benar basah oleh air liurku.
Kemudian Siska memohon, “Say.., ayo masukkan saja kontolmu aku sudah enggak tahan ini” tetapi aku tetap tidak menghiraukan omongannya.

Lidahku kemudian mulai menjilati labia mayoranya, pelan kemudian aku tarik hingga bunyi slurrp..

“Aah.. Shhs.. Sshhs..” desahan Siska akibat perbuatanku.

Perhatianku kini tertuju pada klitorisnya yang sudah menonjol besar, langsung aku jilat pelan-pelan dan agak kusentil-sentil klitorisnya.

“Say, enaak.. Terus.. Lebih Ken.. Ceng lag aah.. Aah.”

Siska memohon ke aku sambil tangannya menekan kepalaku sudah lebih menempel pada tempeknya. Tapi aku tetap menahan kepalaku, biar sensasinya semakin membuat Siska mengawang-awang. Kemudian lidahku mulai menusuk-nusuk tempeknya sambil tanganku memainkan klitorisnya, dan enggak lama Siska mengejang sambil berteriak.

“Say.. Ak.. Keluar.. Aah.. Sshsh.. Oohhohh.. Kaa.. Mu naakkal”

Cairan yang keluar banyak banget sampai meleleh keluar dan langsung aku jilat habis semuanya. Belum sempat Siska beristirahat langsung aku tusuk-tusuk lagi tempeknya dan aku sentil-sentil klitorisnya dengan tanganku, sampai Siska memohon.

“Ampun say.. Ak.. Istrirahat dulu.. Lemes aah.. Aah.. Badanku”

Tetap aku tidak menghiraukan permohonannya, aku jilat tempeknya hingga batas lubang anusnya, sedangkan tanganku meremas-remas susunya. Hal ini membuat Siska ON lagi dan langsung berontak dan tangannya memegang kontolku dan memasukkan ke mulutnya, mengerti akan keinginannya maka posisiku aku ubah menjadi 69. Siska di bawah dan aku di atas. Lama style ini kami pakai, lalu aku mulai ambil inisiatif untuk memulai permainan ini.

Aku suruh Siska terlentang dan secara otomatis Siska mengkangkangkan kedua kakinya selebar-lebarnya, dan tampak tempek Siska yang sudah merah merekah serta basah oleh cairanya sendiri dan air liurku. Langsung dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku dan ternyata tidak mengalami kesulitan, dengan perlahan aku maju-mundurkan kontolku dan diimbangi oleh Siska yang menggoyang pantatnya kekanan dan kekiri. Gerakan ini kita lakukan semakin lama semakin cepat.

“Say.. Ak.. u mau ke.. luaar..” kata Siska.

Aku mengetahui bahwa Siska mau sampai ke puncak klimaksnya, langsung aku keluarkan kontolku, kontan Siska langsung bengong dan cemberut.

“Kok dikeluarkan Dre..? Aku sudah mau keluar nih..” kata Siska.
“Sebentar.. Entar pasti lebih enak kok..” kataku.

Kemudian aku mengangkat kedua kakinya ke depan lalu menyilangkannya, setelah itu aku masukkan kontolku lagi dan..

“Say.., kontolmu nggaruk tempekku.. Enaak.. Men.” Siska meracau.
“Aahh.. Sshshss.. Sis tempekmu benar-benar enaa.. kk” desahku mulai tidak karuan.

Walaupun villa kita udaranya benar-benar dingin, tetapi keringat kita semakin banyak dan saling bercampur, kemudian kaki Siska aku tahan dengan tubuhku dan tanganku meraba susunya yang bergoyang kanan-kiri seirama dengan gerakan tubuh Siska.

“Say.. Genjot yan.. g keraas.. Sampai men.. Tok” Siska semakin menjadi.
Kuremas-remas susu Siska dengan keras, “Aahh.. Say shshssh sakit tapi ennaak” kata Siska.
“Say.. Sayy.. Saay aak.. u keluuaar” jerit Siska dibarengi dengan menjepitnya tempeknya, membuat aku semakin kelojotan.
“Aahh.. Sis jepitan tempekmu enaak bangeet” kataku.

Jepitan tempek Siska tidak berhenti-henti sampai sekitar 2 menitan dan Siska langsung terkulai lemas. Karena aku belum keluar, langsung aku tarik Siska ke pingiran sofa dan aku suruh dia untuk menungging. Tapi Siska sudah lemas dan berkata.

“Say.. Aku nyerah seluruh tenagaku habis”

Enggak perduli akan keadaan Siska, maka aku pegangi tubuhnya supaya agak nungging dan kemudian aku masukkan kontolku yang masih menegang, Siska menjerit.

“Aah.. Say ampun-ampun kakiku sudah tidak kuat lagi”.

Melihat hal itu aku jadi iba dan akhirnya aku duduk di sofa dan Siska aku pangku sambil memasukkan kontolku ke tempeknya. Ternyata style ini membuat Siska menjadi ON lagi dan langsung meggoyang dan memutar. Bunyi “cplok-cplok” antara pantat Siska dan kontolku semakin kencang membuat aku semakin terangsang. Putaran Siska membuat kontolku serasa di peras dan semakin terasa spermaku semakin menuju pada titiknya dan siap untuk disemburkan.

“Say.. Ak.. u mau keluar, keluarin dimana?” tanyaku.
“Di dalam saja, sebentar lagi aku juga keluaar.. Barengan ya” jawab Siska.

Tidak lama Siska mengejang sambil menjerit.

“Kelu.. aar aku say.. Aahaahh.. Shssh aahh”

Tak lama aku pun memuntahkan spermaku “Crot.. Crot.. Crott”

Saking banyaknya cairan Siska dan spermaku sampai keluar dari tempeknya Siska dan meleleh di lubang anus Siska dan ada yang jatuh ke sofa. Kami berdua pun langsung lemas dengan posisi aku memangku Siska, dan kami pun tertidur disofa dengan posisi bugil serta tidak memperhatikan keadaan sekitar.

Begitu hawa semakin dingin dan menusuk tulang, akupun terbangun begitupun juga dengan Siska dan kita langsung mandi air hangat. Malam itu kita main sampai 5 kali dan kita pulang pada hari esoknya pukul 10 pagi..

*****

Mungkin buat pembaca kisah nyataku kurang begitu menarik, apabila ada saran atau kritik untuk ceritaku silakan email aku. Masih banyak cerita kehidupan sexku, baik dengan anak SMA sampai dengan Tante girang pun aku pernah, nantikan kisahku selanjutnya.

Buat cewek-cewek, Tante-Tante yang mau kenalan, curhat, atau sekedar jalan-jalan (not for sex) silakan email aku, pasti akan aku bales.

E N D

My First Sex Life – 1

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

My First Sex Life – 1

Aku ucapkan terima kasih kepada 17Tahun.com yang telah mau memuat cerita kehidupan sex ku, yang dimana 17Tahun.com sudah aku kenal lama dan baru kali ini aku dapat menceritakannya. Nama, alamat dalam cerita ini telah aku samarin, supaya menjaga privasi dari para pelaku yang ada dalam cerita ini.

*****

Cerita ini bermula ketika aku berumur 21 tahun, oh ya namaku Andre dengan ciri-ciri fisik, tinggiku 169 cm dan beratku 65 kg. Aku keturunan chinese dan belanda. Sekarang umurku 25 tahun.

Waktu itu aku mau berenang dengan temanku di Water Park Kenjeran (masih baru buka, jadi masih bersih). Kita berlima berangkat pakai mobilku, setiba di sana kita langsung ganti pakaian dan senam-senam dikit biar enggak kram. Setelah itu kita langsung berenang dan lomba kecepatan, tiba-tiba aku kaget banget sewaktu lomba secara enggak sengaja aku menyenggol orang dan kontan saja aku berhenti lalu minta maaf. Tetapi waktu aku sadar ternyata yang aku senggol ternyata cewek cakep dan seksi pula.

Usut punya usut akhirnya aku kenalan dengan cewek itu dan namanya Siska, teman-temanku yang tahu kalau aku lagi ngobrol dengan siska, langsung saja datang ke tempat aku dan siska ngobrol. Dan mereka minta dikenalin dengan siska. Tapi yang mengejutkan ternyata siska enggak mau kenalan dengan teman-temanku ( dalam batinku berkata “Kaciaan deh lu”).

Ciri-ciri siska membuat semua mata laki-laki pasti tertuju dengan dia, gimana nggak pakaian renang yang dipakai bikin jakun pria pasti naik turun. Siska pakai pakaian renang model ikat leher, terus bhnya hanya menutupi pentil serta lingkaran disekitar pentilnya. Sedangkan celana renangnya model “One Slice Cut”, gimana enggak bikin kontol cowok jadi ngaceng melihat pemandangan bukit gundul dan menggunung. Setelah lama berenang dengan siska, akhirnya aku tukeran no HP dengan siska.

Besoknya aku telpon siska dan ngajak dia jalan-jalan, siska setuju dengan ajakanku. Dan aku janjian dengan dia jam 4 sore untuk jemput dia dirumahnya didaerah Dharmawangsa. Jam 3 aku sudah siap-siap untuk jemput siska, setiba dirumahnya aku langsung telpon hpnya dan ia bilang akan segera turun, sedangkan aku disuruh masuk dulu. Enggak seberapa lama aku melihat siska turun dan langsung aku bengong melihat dandanannya yang membuat kontolku menjadi berdiri. Pakaiannya putih tipis model turtle neck dan dipadu dengan rok mini (mini sekali) warna putih, sehingga aku bisa melihat celana dalam serta bhnya dia pakai. Oh ya ukuran bhnya adalah 36b, tinggi 165 dan siska memiliki kaki yang panjang (kata orang, kalau kakinya panjang nafsu sexnya tinggi). Akhirnya kita masuk mobilku dan langsung aku tanya.

“Mau jalan kemana”
“Terserah kamu Dre.. Yang penting kita seneng,” kata siska.
“Gimana kalau ke Tretes?” kataku.
“Enak juga, boleh deh,” kata siska.

Langsung saja aku tancap gas dan masuk tol jurusan Malang. Selama perjalanan kita bercanda dari yang ringan sampai yang berbau sex, ternyata dia suka banget kalau ngomongin yang berbau sex.

“Hehehehe bisa ni anak aku pakai” dalam hati aku berkata.

Dalam perjalanan Siska sudah mulai berani cubit-cubit pahaku dan puting susuku, terus aku bilang.

“Wah curang masak aku dicubitin melulu, mentang-mentang aku lagi nyetir,” kataku.
“Kalau mau bales siapa takut, palingan enggak berani”kata siska menantang aku.

Langsung saja aku cubit pentil susunya yang masih terbungkus BH berwarna hitam dan berenda. Begitu aku cubit, ternyata siska tidak ada penolakan dan langsung saja aku mencoba untuk meraba pahanya yang keliatan putih mulus, karena roknya yang super mini. Sewaktu aku meraba pahanya, ternyata siska langsung mendesah “Aah.. Ssh”, dalam hatiku wah siska sudah horny.

Ternyata siska cukup berani, dia langsungnya meraba kontolku yang masih terbungkus celana jeans dan CD. Enggak lama dia meraba, langsung celana jeansku dibuka dan ditariknya CD ku sampai sebatas paha. Begitu tangannya menemukan kontolku, dia langsung mengelus-elus dengan lembutnya.

“Oogh.. Enak Sis, lebih enak lagi kalau pakai mulut kamu Sis, mau enggak?” kataku.

Siska diam saja dan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan, Siska kemudian tiduran di pahaku dan langsung memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Gerakan lidahnya cukup lincah dan mahir dalam memanjakan kontolku, sampai buah zakarku pun dia emut dengan lembutnya, seperti sedang makan pentol bakso dengan saos ABC (hehehe). Kegiatan siska membuat aku hampir kewalahan, lalu aku menyuruh dia untuk menaikkan kakinya sehingga aku dapat meraba tempiknya, siska pun menuruti dan tanpa dikomando dia mengkangkangan kakinya selebar-lebarnya. Begitu indah pemandangan yang aku lihat, CD model G-string yang dipakai membuat aku semakin horny.

Tanganku ternyata enggak mau ketinggalan, langsung saja tanganku mengelus-elus gundukan yang merekah itu. Klitorisnya yang sudah tegang tak lupa aku raba dan aku jepit dengan dengan 2 jariku, kontan siska berteriak.

“Aah.. Dre terus puter yang kenceng, puaskan aku Dre..”

Kemudian aku masukkan jari tengahku ke dalam tempeknya, yang ternyata sudah basah kuyup oleh cairannya sendiri, terus aku keluar masukkan dan sekarang 2 jari yang masuk, dan siska semakin meracau tidak karuan.

“Dre.. Yang kenceng sayang, masukkan sampai njedokk aahh.. Ohh god”

Untung saja jalan di tol arah ke Malang enggak macet sehingga aku enggak perlu bingung untuk gonta-ganti perseneling mobilku. Kuluman siska tidak mau kalah, kontolku sudah mengkilat oleh ludahnya serta cairan kontolku, secara otomatis bunyi kulumannya membuat aku hampir keluar.

“Slurrp.. Slurrp cepok.. Cepok.., enak banget kontolmu Dre kayak pisang raja nangka” kata siska, memang sih bentuk kontolku agak melengkung seperti pisang dengan panjang sekitar 16 cm dengan diameter 3 cm (kira-kira).

Sedangkan tanganku terus mengocok tempeknya, dan 2 menit kemudian tempeknya menjepit 2 jariku dan badannya mengejang dengan kencang, membuat mobilku agak sedikit oleng, untung jalan tol enggak terlalu ramai. Siska menjerit.

“Dre.. Aku keluaar.. Aah.. Aah.. Uuuh”

Jepitan tempeknya kenceng banget dan cairannya keluar, dan langsung aku seka dengan tanganku dan tubuh siska lemas setelah 3 menitan dia mengejang. Sisa cairan yang menetes keluar langsung aku masukkan kemulutnya dan ia membersihkan semuanya dengan lahap dan sampai bersih. Kemudian siska berkata.

“Andre sayang.. Makasih ya.. Enak banget kocokan jarimu di tempekku, jarang aku bisa keluar kalau dengan jari saja, biasanya aku pakai kontol-kontolan baru bisa keluar”
“Sekarang aku yang puasin kamu ya..” kata siska.

Siska langsung memegang kontolku dan dikulumnya kontolku dengan ganas, beda dengan tadi yang lemah lembut.

Aku mendesah, “Sis.. Enak sayang, aah..”

Kontolku yang dari tadi sudah tegak berdiri, mendapat serangan beruntun dari mulut siska membuat aku kewalahan, dan langsung aku minggirkan mobilku ke bahu jalan dan aku menyalakan lampu hassard. Begitu mobilku sudah di bahu jalan, langsung saja kursiku aku mundurkan dan aku tidurkan, biar posisinya lebih enak. Siska mengerti kondisiku yang sudah hampir sampai puncaknya, maka semakin dikencangkannya kulumannya ke kontolku.

Bunyi “Ceplok-ceplok, Slurrp.. Slurrp” dari gerakan siska membuat aku kewalahan. 2 menit kemudian aku mengerang.

“Siiss, aah.. Eh. Eh.. Ak.. Kelua.. R”

Spermaku langsung ditelan habis dengan siska, kepala kontolku dijilatin terus oleh siska, membuat aku kegelian tidak karuan dan aku menyuruh Siska.

“Stop Sis, stop Sis geli banget”
Kemudian siska tertawa, “Hahahaha tapi enakkan”
“Ya enak, tapi nanti saja enaknya dilanjut” kataku sambil mengedipkan mata.
“Ye, ya harus dilanjutin kalau enggak aku bisa marah dengan kamu sayang..” kata siska, sambil mencium pipiku.

Tak terasa aku sudah mau keluar tol arah Malang, kemudian aku lihat jam sudah 5.30.

“Gila 1 jam setengah, biasanya cuman 3/4 jam,” kataku ke Siska.
“Kan kita ada perjalanan tambahan.. Hihi” kata siska, sambil membersihkan mulutnya yang belepotan dengan cairannya sendiri sama spermaku serta membetulkan rok serta pakaiannya yang awut-awutan akibat “perjalanan tambahan” tadi.

Pintu tol keluar jurusan Malang sudah di depan mata, kemudian aku membayar 400 ribu. Setelah keluar pintu tol, kita bercanda-canda lagi dan kita semakin mesra saja. Sesampai di Tretes, seperti biasa orang-orang pada nawarin villa “Villa villa, villa Mas”. Sebenarnya aku punya villa di daerah tretes, cuman aku enggak mau ke sana entar ketahuan penjaga villaku dan cerita dengan ortu ku kalau aku bawa cewek ke villa, bisa runyam enggak karuan.

Setelah kita sudah dapat villa 1 rumah (plus ruang tamu dan halaman bermain), kita langsung duduk-duduk di bungalow sambil nikmatin pemandangan. Siska aku pangku dan dia duduk membelakangi aku, sambil bercanda dan cubit-cubitan membuat kontolku berdiri lagi, karena gesekan antara pantatnya dengan kontolku. Siska terasa sekali kalau ada perubahan pada kontolku, kemudian dia berbalik dan berbisik dengan aku.

“Gimana kalau main lagi, soalnya aku juga sudah ingin ngerasain kontolmu kalau masuk ke tempek ku”

Langsung saja aku gendong dia di belakang punggungku dan dia pun bergelayutan layaknya orang yang sedang honey moon. Selama aku gendong dia ke dalam villa, siska menjilati leher dan belakang telingaku hingga aku kegelian dan terangsang berat. Lalu aku bilang.

“Awas ya nanti kalau sudah di dalam, aku bikin kamu sampai minta ampun-minta ampun”
“Hehehheheh, macak cih takuut” katanya.

Ke bagian 2

Kutelusuri jalanan Kota S yang sudah 2 tahun aku tinggalkan, masih tidak banyak perubahan yang berarti, melewati jalan protokol yang dihiasi beberapa hotel bintang lima, sepanjang jalan BR hingga EM. Melintas di depan Hotel H, S dan W semuanya mengandung banyak memory di kota ini. Sopir mobil sewaan nyerocos tak karuan menerangkan seluk beluk kota ini

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Kutelusuri jalanan Kota S yang sudah 2 tahun aku tinggalkan, masih tidak banyak perubahan yang berarti, melewati jalan protokol yang dihiasi beberapa hotel bintang lima, sepanjang jalan BR hingga EM. Melintas di depan Hotel H, S dan W semuanya mengandung banyak memory di kota ini. Sopir mobil sewaan nyerocos tak karuan menerangkan seluk beluk kota ini

Sementara pikiranku melayang beberapa tahun yang lalu, saat itu musim hujan Desember 1996 di sela gemericik gerimis hujan, aku masih ingat betul tanggalnya 27 karena saat itu ada perayaan Natal yang disiarkan secara sentral oleh seluruh TV. Melalui Alex, aku dikenalkan seorang cewek sesuai yang aku idamkan, tinggi, putih dan tentu saja cantik, meskipun dadanya tidak sebesar yang aku dambakan, tetapi 34B bukanlah ukuran yang kecil, tinggi 167 cm ditambah dengan sepatu hak tingginya menambah pesona sexynya.

“Hi, Lily,” katanya saat dia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
“Henri,” balasku menyambut uluran tangannya.
Cantik sekali dengan potongan rambut shaggy-nya, celana jeans dan kaos press body orange tidak bisa menyembunyikan potongan lekuk tubuhnya yang aku taksir sekitar 25 tahun umurnya. Malam semakin merangkak naik, gerimis di luar benar-benar mengundang kehangatan, begitu juga percakapan kami sepertinya sudah kehabisan topik umum.

“Kita ke kamar yuk,” ajaknya sambil tatapan matanya penuh arti.
“OK, oh ya Alex, urusan dengan kamu besok aja ya,” kataku sambil menggandeng Lily ke arah lift.
Dia berjalan di sampingku sementara kupeluk pinggangnya dengan mesra, sungguh serasi dengan tinggiku yang 180 cm, membuat semua orang melirik ke arah kami. Kamar 815 terletak di ujung koridor, jalan koridor terasa tidak sepanjang tadi siang saat aku check in di hotel ini. Kubuka kamar hotel, masih tercium bau asap rokok sisa aku merokok tadi siang. Rupanya Room Boy belum membersihkan kamar yang sudah aku tinggal sejak tadi sore, sehingga kamar tidur kelihatan tidak rapi.

“Kamu habis main tadi siang ya?” godanya setelah melihat keadaan dalam kamar.
“Ah enggak, Room Boynya saja yang malas ngeberesin” sanggahku, “lagian lebih baik energinya disimpan untuk real fight,” lanjutku.
“Emang mau fight dengan siapa?” godanya lagi.
“Ya dengan siapa yang mau dan yang ada, dan sepertinya sudah ada di kamar ini,” godaku balik sambil merebahkan badanku di ranjang.
Kunyalakan rokok Gudang Garamku untuk menghilangkan nervous-ku (itu biasa aku lakukan) sementara dia mengeluarkan Marlboro putih dari tas Channelnya.
“Boleh aku merokok?” tanyanya dan tanpa menunggu jawaban dariku, dia sudah menyelipkan sebatang rokok di bibir merahnya dan segera menyalakannya.
Kutarik lembut tangannya ke arahku, dia duduk di tepi ranjang, dapat kucium parfum Issey Miyakenya semerbak di sekeliling tubuhnya, menambah gairahku semakin menaik tinggi.

“Dasar hidung bodoh, masak tidak bisa mencium parfumnya sejak di lift,” umpatku dalam hati.
Kutarik lagi tubuhnya supaya lebih mendekat, dia rebahkan kepalanya di dadaku, kembali rambutnya semerbak wangi, tanganku mulai bergerak mengusap punggungnya, kemudian kusisipkan dibalik kaos orange-nya sehingga aku bisa merasakan halusnya kulit punggungnya yang putih mulus.
“Aku lepas kaosnya ya, kainnya ini kasar,” Kemudian dia bangkit berdiri menghadap jendela dan membelakangiku, menyingkap kaosnya ke atas dan melipatnya di sofa, selanjutnya dilepasnya pula celana jeansnya sehingga aku bisa melihat pasangan pakaian dalamnya hitam dengan renda renda hijau.

Meskipun masih kulihat dari belakang, tapi aku sudah tidak bisa menahan gejolak di dalam ini, dia begitu sexy. Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arahku, oh very very sexy, it’s perfect. Kulit tubuhnya yang putih mulus hanya berbalut bikini semakin menonjolkan potongan body sexy-nya, buah dadanya yang putih terlihat sebagian menonjol dibalik BH semakin membuat penisku tidak mau dikontrol lagi. Sungguh pemandangan yang begitu indah.
“Lho, koq belum dilepas Bang?” tanyanya (aku tak mau dipanggil Pak, supaya tidak terlalu resmi).
“Eh eh,” aku sampai terbengong karena terpesona keindahannya.
“Aku lepasin ya, nanti kusut bajunya,” katanya sembari mendekat ke arahku.
Perlahan dia membuka kancing bajuku, terus celanaku sehingga tinggal cuma celana dalamku saja, kelihatan sekali tonjolan di selangkanganku.

Aku masih terbengong menikmati cantiknya wajah dan keseksian tubuhnya, lalu dia menciumi mukaku, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, kutarik tubuhnya sehingga menindih tubuhku, buah dadanya terasa menempel didadaku. Kami berciuman, sementara tanganku mulai meraba tali BH dibelakang dan melepas kaitannya, terus terang tanganku agak gemetaran sehingga perlu perjuangan untuk melepas kaitan di punggungnya.
“Ah Abang nakal,” desahnya disela sela ciuman kami, tapi dia tidak perduli ketika BH-nya aku tarik ke samping sehingga terlepas dan kulempar ke sofa.
Terasa buah dadanya menempel langsung ke dadaku, betapa hangatnya tubuhnya, dia terus menciumiku, kemudian turun ke leher, hingga sampai ke dadaku, dijilati dan diisapnya puting sebelah kananku (merupakan titik rangsangan paling sensitif bagiku).
‘Gila, ganas juga ini cewek’ pikirku sambil memainkan puting buah dadanya.

Hot banget, aku sudah tidak tahan lagi, ingin kubalikkan tubuhnya dan gantian untuk menikmati keindahannya tubuhnya. Tapi sebelum itu terlaksana, dia langsung turun kebawah, menarik celana dalam Jockey putih ku, sehingga nongollah penis yang dari tadi tertekan celana dalam.
“Wow very big, very very big,” gumamnya sambil memegang penis 17 cm-ku.
Terlihat tangan putihnya begitu mungil dan sangat kontras dengan penisku yang kecoklatan. Dikocoknya penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mengusap pangkal penis dan kantong pelir dibawahnya, sambil dia duduk di antara selangkanganku yang aku buka lebar. Sekarang terlihat begitu jelas bentuk buah dadanya begitu jelas, begitu indah dan padat lagi.
“Tetekmu bagus,” kataku sambil menggumam tidak jelas.
Dia terus melihatku sambil tersenyum manis, aku gemes melihat bibirnya yang indah itu, tanpa sadar bahwa barusan aku mengulum bibir itu.
“Terima kasih,” katanya sambil terus mengocokku, hingga keluar cairan putih bening karena begitu terangsang.
Tiba tiba dia menunduk dan menjilat kepala penisku yang basah itu terus turun ke pangkal penis selanjutnya turun lagi hingga mendekati anus.
“aahh” aku menggeliat kegelian atau keenakan atau apa aku sudah tidak tahu lagi mengatakannya.

Akhirnya aku tidak tahu lagi ketika tersadar bahwa penisku sudah didalam mulutnya, kulihat kepalanya turun naik seirama keluar masuknya penisku dalam mulutnya, aku tahu dia kesulitan memasukkan semua penis itu kedalam mulutnya sehingga hanya separo yang bisa keluar masuk, tapi aku sudah tidak perduli lagi, kupegangi kepalanya sambil mendorongnya supaya penisku bisa masuk lebih dalam lagi.

Setelah beberapa saat, dia naik keatas dan rebah disebelahku, menarikku ke atas tubuhya.
‘Nah sekarang giliranku’ pikirku sambil melepas celana dalam hitam-hijaunya.
Kulihat cairan di bagian dalamnya, rupanya dia sudah begitu terangsang. Aku naiki tubuhnya, kuciumi wajahnya dan lagi aku kulum bibir yang begitu merangsang, kemudian aku kulum telinganya. Dia menggeliat kegelian dan mulai mengerang keenakan sambil tangannya memainkan dan mengocok penisku yang sudah makin mengeras seolah mau meledak.
“Ouuhh ya,” desahnya di telingaku, aku terus menjilati leher jenjangnya sambil tanganku mulai memainkan bibir vaginanya, basah.
Aku jilat putingnya yang kemerahan terus mengulumnya kemudian pindah ke puting satunya terus pindah lagi, begitu seterusnya.
“Ayo Bang, masukin, sudah nggak tahan nih,” pintanya sambil mendesah.
Tak tega juga aku melihatnya (atau mungkin lebih tepat tak tahan kali), kemudian aku atur posisi tubuhku diantara kakinya yang sudah dibuka lebar, dia menekuk lututnya ke atas dengan posisi siap menerima. Aku gesek gesekkan penisku di bibir vaginanya yang sudah basah, kemudian perlahan lahan kumasukkan ke dalam. “aahh pelan bang,” desahnya. Sedikit demi sedikit kumasukkan, tapi belum sampai setengah kucabut, kumasukkan lagi dan kucabut lagi, begitu terus sampai semua 17 cm penisku tertanam kedalam.

Aku diam sesaat sebelum mulai mengocok vaginanya, sambil merasakan kenikmatan jepitan dan pijatan didalam. Gila, penisku rasanya dipilin pilin didalam. Kemudian kutarik perlahan sampai hampir keluar dan kumasukkan lagi sampai pangkal penisku begitu seterusnya. Beberapa kali dia mengubah posisi kakinya, mulai diangkat keduanya dan diletakkan di bahuku, lalu kaki kanan ditekuk keatas sampai hampir menyentuh kepalanya, kemudian menjepit pinggangku begitu seterusnya sambil tak lupa aku terus mengulum kedua putingnya secara bergantian ketika posisiku memungkinkan. Setiap posisi kaki yang berbeda memberikan efek jepitan vagina yang berbeda (bagi yang pernah merasakannya pasti mengerti).

Merasa sperma udah di ujung penis, aku cabut keluar kemudian kubalikkan dia hingga tengkurap dan kutarik pantatnya keatas sehingga posisinya nungging dengan bibir vagina tepat di depan penisku yang masih tegang. Terlihat raut mukanya seakan akan mau protes merasakan kenikmatan yang terputus, tetapi aku jawab dengan menusukkan penisku ke vaginanya dengan keras, rupanya dia tidak menyangka akan mendapat gerakan begitu keras menghunjam di vaginanya sehingga dia cuma bisa mengerang, “Auu” sembari kepalanya mendongak sesaat dan tangannya meremas seprei ranjang. Buah dada yang menggantung tentunya tidak bisa ku sia siakan, kubungkukkan tubuhku untuk meraih tetek yang indah itu, sebagai pegangan kutarik kebelakang sehingga penisku makin masuk ke dalam menyentuh ujung dinding vagina yang dalam (rahim?) seolah ujung penis yang keras ini terkena benda yang ada di dalamnya.

Beberapa saat kemudian dia sudah bisa mengikuti irama goyangan pantatku, sehingga dia sudah bisa mulai menikmatinya. Akhirnya aku keluar meskipun belum orgasme (harap dibedakan antara keluar dan orgasme, bagi yang tahu dan mengalami pasti paham perbedaan antara orgasme dan keluar) tak lama kemudian kurasakan tangannya mencengkeram tanganku dengan kencang sambil mengerang.
“Aaauuhh Bang” erangnya sambil menutup mata dan menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, kurasakan denyutan didalam vaginanya, dia sudah orgasme, kucabut penisku yang sudah basah.

Karena aku belum orgasme, game is not over yet, kutarik tubuhnya kearahku sehingga kami berdua dengan posisi jongkok di atas lutut, dengan dorongan sekali lagi kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah, dia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahku, kaget karena tidak menyangka akan kuperlakukan seperti itu, dia terus mengerang tak jelas. Aku paling suka melihat expresi cewek yang sudah orgasme tapi terus di entot, mungkin anda tahu sendiri bagaimana rasanya kalau sudah orgasme tetapi masih terus dikerjain sama cewek, antara geli, enak, nggak enak pokoknya kayak gitu lah.
“Aaah Abang naakaall,” teriaknya, tapi beberapa saat kemudian dia juga mulai ikut menggoyangkan iramaku.
Hingga akhirnya aku benar-benar orgasme setelah keluar beberapa kali, dan ku semprotkan sperma tetesan terakhir di dalam vaginanya. Kami berdua kemudiah telentang kecapekan di ranjang, kulihat langit langit kamar hotel seperti puas menikmati pertunjukan kami, tangan Lily masih memainkan penisku yang sudah mulai lemas, tak terasa 45 menit sudah permainan ini.

Malam itu kami masih bisa main dua kali lagi dengan berbagai posisi yang mungkin sebelum ketiduran. Ketika bangun kulihat dia sudah mandi dan mengenakan pakaiannya yang sexy, dengan koran dan kopi disebelahnya, tapi perasaanku sudah tidak seperti kemarin, karena aku sudah melihat dan menikmati tubuh sexy dan kemontokan di balik kaus ketatnya. Aku tersenyum puas.

Setelah aku mandi dan bersiap ke kantor, kuselipkan amplop di tas Channelnya dengan sepengetahuan dia sebagai imbalan atas servisnya semalam. Lily adalah memang seorang gadis panggilan freelancer.

Lamunanku buyar ketika mobil sewaan memasuki area Airport J, jam tanganku menunjukkan pukul 8:30 malam, berarti masih 30 menit menunggu pesawat dari Jakarta. Sambil menunggu dimobil kunyalakan lampu baca diatas dan kubaca Post, koran sore. Tapi kembali kenangan masa lalu menyelinap lagi dikepalaku.

Setelah pertemuan itu, aku sering memakai jasa dia, baik di Kota S ataupun saat keluar kota, tidak jarang aku booking dia untuk temanku yang datang dari Jakarta atau client kantor (akan diceritakan di lain kesempatan).

Karena sering ketemu, akhirnya kami menjadi akrab dan berpacaran sehingga sifatnya sudah bukan bisnis tetapi sudah kebutuhan suka sama suka. Pada pertengahan April 1997, atas saranku dia pindah kost yang lebih baik (terutama bagi kami berdua) dan sejak saat itu aku lebih sering nginap di tempat kostnya dia dari pada di Mess. Saat di tempat kost dia baik menginap atau tidak, bukan hal asing bagiku untuk mengantar dia ke hotel apabila ada bookingan, pada awalnya sih kacau perasaan ini tetapi setelah beberapa kali akhirnya bisa menyesuaikan apalagi kalau dia cerita bagaimana dia berhubungan sex dengan tamunya barusan, aneh memang tetapi aku sangat menikmati ceritanya, bisa membuat semakin horny. Tamu-tamunya adalah dari kalangan atas mulai dari pengusaha sampai pejabat bahkan beberapa menteri orde baru (sebagaian masih menjabat hingga sekarang) menjadi tamu langganannya (Kisah-kisah petualangan dia akan diceritakan pada kesempatan lain, apabila cerita ini dianggap layak diteruskan).

Kami memang punya agreement bahwa kalau aku lagi menginap di tempatnya, maka tidak boleh dia menerima bookingan Over Night, kalau short time bebas tanpa batasan terserah kekuatan dia, rekor tertinggi saat aku mengantarnya melayani tamu adalah 7 atau 8 tamu dalam satu hari. Mungkin ada dari pembaca yang pernah membookingnya, ceritanya bisa dikirim di 17Tahun.com ini juga.

Empat bulan kemudian tepatnya Agustus 1997, aku dipindahkan ke Kantor Pusat Jakarta dia aku beri kebebasan untuk ikut atau tetap di Kota S dan akhirnya dia ikut ke Jakarta. Selama di Jakarta dia aku bebaskan boleh menerima tamu seperti di Surabaya asal jangan teman sekantor atau rekanan kerjaku. Tapi selama di Jakarta dia sudah tidak lagi mau melayani tamu yang mau mem-booking-nya (sejauh yang saya tahu)

Akhirnya, 10 November 1997 kami menikah secara resmi dan dia menyatakan berhenti dari pekerjaannya, meskipun sebenarnya aku tidak melarang karena aku juga menikmati sensasi saat dia main sex atau tepatnya di entot oleh orang lain (sampai sekarang)

“Pak.. Pak, pesawat terakhir dari Jakarta telah datang,” kembali lamunanku buyar oleh teguran sopirku.
Aku bergegas ke pintu kedatangan, gerimis dan tak lama kemudian muncullah sosok yang aku tunggu, sosok yang tinggi jangkung dengan pakaian yang ketat bersepatu hak tinggi sungguh anggun berjalan diantara penumpang lainnya, dialah Lily, istriku tercinta, masih tetap seperti dulu senang menarik perhatian orang, dengan bangga dan mesra kugandeng dia memasuki mobil dan segera meluncur ke luar kota menjenguk keluarganya.

My Customer

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

My Customer

Kejadian ini kira-kira seminggu yang lalu. Aku bekerja di bagian EDP sebuah perusahaan swasta di daerah Kuningan, Jakarta. Untuk sambilan aku juga punya usaha kursus private komputer. Siang itu Ibu Vivi, salah satu klien telepon. Katanya dia belum tahu juga cara mengirim e-mail. Maklum baru sekali aku mengajarinya. Dari pembicaraan disetujui untuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerja jadi interpreter bahasa Jepang.

Jam 18.45 aku sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilangan Benhil. Tidak lama dia nongol di Lobby dengan masih memakai pakaian kerjanya, dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa ganti baju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Tidak lama masalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa tidak clik “send & receive”.

Kemudian dia minta diajari browsing memakai Explorer. Berhubung dia jarang memakai komputer, maka dia terlihat kaku cara memegang mouse-nya. Entah apa sebabnya aku bermaksud memberinya contoh, eh tangan dia masih memegang mouse. Yah tangannya keremas oleh tanganku yang kekar dan keras. Aduh.., halus juga tangan Ibu Vivi. aku buru-buru menarik tanganku, tidak enak takut dikatakan kurang ajar. Suaminya adalah teman bosku. Kalau dilaporkan bisa-bisa aku dipecat. Dia melepaskan mouse, dan gantian aku yang memegang mouse-nya sambil memberitahu dia tentang perbedaan bentuk kursor.

Aku belum menyuruhnya mencoba, eh.. tangannya langsung memegang mouse yang masih aku pegang. Yah tahu sendiri kan tanganku yang dia pegang. Aku ingin melepaskan tapi sayang karena halus sekali telapaknya. Dan bau parfumnya juga lembut, membuatku betah di dekatnya. Aku biarkan saja. Aku pikir dia akan melepaskan tanganku, eh.. ternyata tidak lepas juga tanganku dari genggamannya. Malah tanganku dielus-elus dengan lembut. Maklum tanganku bulunya juga lumayan lebat.

Aku beranikan diri untuk menegurnya, “Ibu.., sebentar lagi Bapak pulang..”. Belum sempat berkata banyak, jari telunjuk tangan satunya diletakkan di depan bibir sambil, “psst..”, dan kata dia, “Hari ini dia ke bini tuanya..”. Aduh rejeki nomplok nih, kataku dalam hati. Tapi aku pura-pura tidak berminat. Meski dalam hati sudah suka sekali.

Tanganku yang masih memegang mouse masih di elus. Kebetulan aku duduk di sebelah kanannya, jadi tangan kiriku bebas. Dan lagi kursinya tidak memakai tangan-tangan. Makin nikmat saja. Tangan kirinya mengelus tangan kiriku dan diangkatnya, dan ditaruh di atas pahanya yang putih dan mulus. Meski dia tidak memakai rok mini, tapi karena duduk, ketarik juga ke atas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna.

Setelah meletakkan tanganku, tangan Ibu Vivi bergerak lagi ke tengkukku, dan dielusnya. Wow.., kini makin panas badanku. Secara refleks tanganku juga membalas aksinya, dan kuelus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin ke atas menuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak ke atas terdorong tanganku. Makin ke atas makin mulus. Kuusap pangkal pahanya dan matanya mulai nanar.

Ibu Vivi sebenarnya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Tingginya juga tidak sampai 160 cm. Kalau berdiri dia tidak lebih tinggi dari pundakku. Cuma body-nya sungguh menggiurkan dan kulitnya juga putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse. Kasihan dia, cuma jadi istri muda. Jadi jatah batinnya tidak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 th, hampir sebaya aku.

Kini tanganku sudah hilang di dalam rok kerjanya, mengusap-usap pangkal pahanya. Kemudian dia berdiri di depanku yang masih duduk. Lalu kancing bajunya dibuka semua. Tapi bajunya tidak dilepas. Dia tarik tanganku, dipindahkannya ke pinggangnya. Kaus dalamnya kuangkat, dan perutnya yang putih bersih pun terpampang di depanku. Kuciumi perutnya dan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Kedua tangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya.

Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkat lebih ke atas, dan tampak BH-nya menyangga bukit yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus dan ukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya di depan, jadi tanpa usaha lebih keras aku sudah bisa melepas BH-nya. Bukit kembarnya tersaji jelas di depanku. Sedikit kendor, tapi masih oke.

Aku sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibir dan lidah. Sementara tangan kananku melintir putingnya yang satu lagi. Seperti mencari gelombang radio. Betul juga.., tidak beberapa lama terdengar desis seperti gelombang FM stereo. Tanganku yang satu lagi menyusup ke dalam roknya dan meremas-remas pantatnya yang juga sudah agak turun. Maklum lah sudah hampir 30 th umurnya.

Tangan Ibu Vivi (Oh ya aku tetap panggil dia Ibu karena dia customerku) yang satu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkanganku. Penisku yang sudah tegang tampak jelas menonjol dari balik celanaku. Itu yang menjadi sasaran akTVitasnya. Bahkan zipperku sudah dia turunkan, jadi tampak jelas ujung moncong meriamku dari balik celana dalamku.

Karena dielus terus penisku bertambah panjang sampai ukuran maksimalnya. Kira-kira 2 centimeter di bawah pusar. Tangannya pun sudah masuk ke dalam CD-ku dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujung penisku keluar dengan sendirinya dari balik CD-ku. Akupun tidak mau kalah, tanganku yang di pantatnya, aku pindah aktivitasnya ke sela-sela pahanya. Dari CD-nya sudah terasa kalau vaginanya sudah basah. Aku tarik sedikit CD-nya ke bawah, dan dengan sedikit digeser ke samping, aku sudah bisa memegang belahannya. Lalu kuusap-usap dengan jari tengah. Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar, “Ssst.., uuhh.., uhh.., sst”.

Dengan dibantu jari telunjuk, aku pegang clitorisnya yang kebetulan agak panjang dan kupilin nakal. Gerakan badan Ibu Vivi makin keras dan kepalanya sering ditarik ke belakang. Badannya bergetar. Suaranya makin seru, untung di apartemen, jadi tdak terlalu gaduh karena jauh dari tetangga.
“Yan.., lepasin celanaku.., aku sudah nggak tahan”, bisik Ibu Vivi. Dengan patuh aku penuhi permintaannya. Sementara tangannya sibuk melepas sabukku dan memelorotkan celanaku serta CD-ku sekaligus hingga lutut. Dia agak terkejut melihat penisku.
“Kamu punya ukuran boleh juga.., dari pertama kamu ke sini sudah kuperhatikan, makanya aku pingin”, katanya setengah sadar setengah terdengar.

Sementara CD-nya sudah tergeletak di lantai. Aku masih duduk di kursi tanpa sandaran tangan. Kuangkat roknya dan aku cium pahanya. Bahkan aku sempat kasih tanda merah di kedua pangkal pahanya. Dia sudah tidak sabar lagi, tanpa memberiku kesempatan untuk melepaskan celana secara sempurna, dia sudah memegang ujung penisku dan dibimbingnya menuju lubangnya yang basah dan hangat. Serta berbulu sedikit pada bagian atasnya saja.

Pelahan tapi pasti Ibu Vivi menurunkan pantatnya, “Bless”. Matanya terbelalak merasakan batang penisku menyusup dengan hangat ke lubang vaginanya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah

Musim Panas di Los Angeles 03

  • September 30th, 2008
  • Posted in Umum

Musim Panas di Los Angeles 03

Sambungan dari bagian 02

Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sayuran. Perutku dengan kurang ajarnya berkeruyuk. Kulihat Jeanne sibuk menyiapkan makanan dan menata meja makan. Kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang. Kucium balik telinganya sambil tanganku dengan nakalnya meraba dadanya.
“Do you need help, Sweety?” bisikku pada telinganya.
Jeanne menepiskan tanganku dan membalikkan badannya.
“No thanks Honey. Just wait there, watch TV or something. It’ll be a moment and not too long.”
“Okay..”
Aku berjalan menuju baby grand piano yang ada di sudut ruangan. Kumatikan suara TV yang sedang menyiarkan berita CNN melalui remote control.
“Sweety.. this one is for you!” kataku sambil mulai memainkan tuts-tuts piano.
Aku memainkan sebuah lagu melalui denting piano. Malam itu (atau lebih tepatnya pagi dini hari) kulewati dengan makan bersama Jeanne (masakannya enak lho!) dan aku menginap di apartemennya.

Pagi itu aku bangun dengan pikiran yang berkecamuk. Jeanne masih tidur di dekapanku. Aku bisa merasakan hembusan napas halusnya. Berbagai macam perasaan silih berganti menerpaku. Aku merasa bahagia, sedih, senang, susah, gembira, dan entah apa lagi. Sukar sekali untuk bisa mengatakannya. Pikiranku melayang ke masa laluku.

Aku dilahirkan tahun 1969, anak tertua dari 2 bersaudara. Adikku, perempuan, lahir 3 tahun kemudian setelah aku (dia sudah menikah dan berputra seorang sekarang). Ayahku adalah seorang pegawai negeri. Aku benci ayahku! Dia bukanlah seorang bisa dijadikan contoh dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Ayahku sering sekali memarahi ibuku di depan anak-anaknya. Bahkan terkadang tak segan-segan menempeleng ibuku! Tak jarang pula aku harus menerima hajaran dari ayahku kalau aku berusaha melindungi ibuku. Tapi apa dayaku, waktu itu aku masih kecil. Di kantornya, ayahku pun bukan orang yang dihormati. Tentu saja orang akan “hormat” di depan dia. Dia adalah seorang koruptor dan tukang main perempuan! Aku pun sebetulnya malu untuk menceritakan tentang dia.

Makanya, tak heran apabila aku tumbuh menjadi anak jalanan. Aku tumbuh menjadi anak yang nakal. Sangat nakal! Walaupun demikian, aku tetap punya prinsip. Aku berprinsip untuk tidak “melukai” diriku sendiri. Itu sebabnya aku tidak merokok, tidak minum minuman keras dan tidak berurusan dengan narkotik (walaupun nantinya aku menjadi salah seorang pengedar). Beberapa kali ayahku harus “menebusku” di kantor polisi atas tingkah lakuku yang sudah termasuk tindakan kriminal.

Akhirnya saat UMPTN tiba. Aku ingat akan kata-kata ibuku yang memintaku untuk belajar sungguh-sungguh, demi diriku sendiri dan demi ibuku. Aku turuti kata-kata ibuku. Tuhan memang memberiku otak yang encer. Aku diterima di perguruan negeri paling bergengsi di Indonesia. Berangkatlah aku ke Bandung.

Di kota ini aku tambah liar, bagaikan kuda yang lepas dari ikatan. Bayangkan, tidak ada yang perduli, kost dan hidup sendiri, punya banyak uang (yang aku tahu itu adalah uang haram hasil korupsi ayahku), mau apa lagi? Di kota ini pertama kali aku kehilangan keperjakaanku oleh seorang gadis manis yang tadinya cuma iseng aku pacari (dan dia aku perawani). Namanya Yolanda. Aku panggil dia Yo, saat itu dia kuliah di perguruan negeri lain yang juga ada di Bandung. Aku kenal dia pertama kali waktu aku jalan-jalan di Cihampelas. Setelah berkenalan, aku sering menelepon dia. Kami banyak ngobrol dan aku semakin tertarik dengan dia (walaupun dengan niat cuma iseng). Yo mempunyai darah Belanda dari ibunya. Dia berambut panjang, berkulit kuning langsat dan bermata coklat. Tidak terlalu tinggi, hanya rata-rata tinggi perempuan Indonesia.

Setelah sekitar 2-3 bulan, aku “jadian” dengan Yo. Aku tahu, Yo sangat mencintaiku. Suatu hari, Yo datang ke tempat kost-ku di daerah Bukit Dago. Dia datang sambil menangis (karena suatu hal yang membuatnya demikian). Aku mencoba untuk menghiburnya, memberikan dukungan dan menyatakan bahwa ada orang yang mencintainya. Entah siapa yang memulai duluan, akhirnya kami terlibat dalam suatu ciuman yang mesra, hangat dan sangat intim. Yo mendesah. Mungkin saat itu situasi sangat mendukung. Aku menggerayangi tubuh Yo, dan dia tidak menolak. Selama ini kami belum pernah berciuman seperti saat itu. Tanganku menyusup ke bajunya setelah kancing-kancingnya aku lepaskan. Bra yang dikenakan Yo berwarna krem, berukuran 34B. Kuraba dan kuremas perlahan buah dada Yo yang kanan. Dia mengerang. Mulut kami masih berciuman. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku berhasil melepaskan “atribut” atas Yo, sehingga Yo telanjang dada. Kucium buah dada Yo yang putingnya berwarna coklat muda.

Kukulum dan kuhisap putingnya sambil kuremas-remas dengan tanganku. Waktu itu aku sangat berdebar-debar dengan pikiran yang tidak karuan. Banyak pertanyaan silih berganti di kepalaku, tapi tidak kuperdulikan. Aku pikir, kapan lagi? Yo mendesis dan mengerang saat buah dadanya aku “kerjai”. Akhirnya, kami berdua sama-sama telanjang bulat. Bagiku, inilah pertama kalinya aku melihat tubuh mulus seorang perempuan secara nyata. Selama ini aku hanya mengetahuinya dari buku, majalah, atau film. Gerbang kewanitaan Yo ditumbuhi rambut-rambut halus yang lebat sekali dan ia memiliki gundukan mons pubis yang membukit. Pinggulnya benar-benar seperti “bodi gitar”. Yo terbelalak melihat batang kelelakianku yang tegak tegang dan besar mengacung dan berdenyut-denyut. Dia menarik selimutku dan menutupi tubuh telanjangnya. Badannya bagus dan mulus! Aku memeluknya.

“Frank.. aku pengin, tapi aku takut!” kata Yo.
“Aku sayang kamu Yo.. Aku juga pengin. Pelan-pelan ya..”
“Aku pengin memberikan ini buatmu, Frank!”

Pelan-pelan, kucumbu Yo dan kurasakan gerbang kewanitaannya sudah sangat basah ketika jari-jari tanganku bermain di sana. Kuarahkan batang kelelakianku ke arah gerbang kewanitaan Yo. Yo membuka pahanya. Perlahan kumasukkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Yo. Tidak berhasil! Susah sekali! Seret dan meleset. Aku mencoba beberapa kali. Setelah kupikir sudah pas pada lubangnya, aku tusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Yo. Yo memekik dan menangis di pelukanku. Kurasakan ada cairan hangat mengalir di batang kemaluanku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju-mundur (waktu itu pengetahuanku tentang seks sangatlah minim, hanya lewat majalah dan video porno) seperti yang kulihat di film porno. Yo memelukku semakin erat dan air matanya mengalir. “Frank.. Sakit! Sakit sekali!” katanya di antara sesenggukannya.

Kukecup Yo dan kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya. Aku melihat batang kemaluanku “berdarah” dan beberapa bercak darah menetes ke sprei tempat tidurku. Darah perawan Yo! Yo dengan tertatih-tatih bangun dan menuju ke kamar mandiku. Dia melap liang kemaluannya dengan tissue. Kuhampiri dia dan kupeluk dia. Kucium. Hari itu aku “tuntas”-kan dengan “self-service” di kamar mandi karena aku tidak tega melihat Yo kesakitan. Akhirnya kami berdua tidur telanjang berpelukan setelah kuganti sepreiku.

Aku dan Yo akhirnya bisa melakukan hubungan seks dengan nyaman dan kami berdua bisa menikmatinya setelah kami melakukan yang ke-3 atau ke-4 kalinya (aku lupa). Akhirnya aku jadi sangat mencintai Yo dan dia juga demikian. Dia sangat sabar dan dia pula yang membuatku untuk mulai “bertobat” dari segala kenakalanku. Aku berubah karena Yo.

Hingga suatu hari, aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan dan membuat tubuhku lemas dan aku sempat mengalami pukulan yang telak. Yo meninggal dunia karena kecelakaan. Dan yang membuatku semakin menyesal adalah aku tidak sempat melihat jenazahnya, karena telah dikuburkan di sebuah pemakaman umum di Jakarta. Aku mendengar kabar ini sepulangku dari latihan survivalku selama seminggu. Begitu aku mendengar kabar ini dan aku sadar dari rasa terkejutku, aku segera berangkat ke Jakarta dengan motorku dan kularikan motorku dengan kecepatan sangat tinggi. Bayangkan, saat itu Bandung-Jakarta kutempuh hanya dalam waktu kurang dari 2 jam! Baru kuketahui dari keluarganya bahwa Yo telah dimakamkan. Aku segera menuju makamnya yang masih basah dan penuh dengan taburan bunga. Aku menangis di sana hingga tak terasa aku tertidur dan dibangunkan oleh orangtua penjaga makam.

“What’s the matter, Honey..?” tiba-tiba pertanyaan Jeanne mengagetkan aku dan menyadarkanku pada situasiku yang sekarang. Jeanne memandangku dengan penuh tanda tanya dan ia mengusap dadaku, kemudian mencium dadaku. Kucium kening Jeanne dan aku menarik napas panjang. “Why are you crying..?” Jeanne mengusap setetes air mata yang menetes dari mataku saat bertanya kepadaku. Aku tersenyum padanya. “I just have a feeling about how happy I am now!” kataku sambil mengecup kening Jeanne. Maafkan aku Yo, kataku dalam hati. Aku jatuh cinta pada perempuan ini. Semoga kamu berbahagia di alam sana, batinku.

“I’m still tired, Frank. I want to continue my sleep,” kata Jeanne, dan dia memelukku semakin erat. Kuelus rambutnya. “It’s all right, Baby.. Go back to sleep. I’m fine.” Kulirik jam dinding di kamar Jeanne yang samar-samar kulihat menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Aku sendiri pun masih malas beranjak dari tempat tidur, lagipula hari ini adalah hari libur.

Kembali pikiranku melayang dan melamun. Setelah ditinggal oleh Yo untuk selamanya, aku sempat seperti orang linglung yang kehilangan semangat kira-kira selama 2-3 bulan. Orang yang menyadarkanku adalah kakak seperguruanku yang sangat perhatian dengan diriku. Dia mengetahui perubahan pada diriku. Akhirnya, dia berhasil meyakinkanku untuk “get over it” dan “get real” dengan situasiku. Katanya lagi, Yo akan sangat marah dan kecewa bila laki-laki yang dicintainya ternyata sangat lemah. Aku sempat marah padanya dan kutantang dia berkelahi. Tentu saja dia menolak, tapi kupaksa karena aku sudah mata gelap. Rupanya dia memang jagoan (biarpun dia kelihatan seperti biasa saja). Dengan mudah aku dikalahkannya dan aku dilumpuhkan hanya dengan 2 kali totokan 2 jarinya. Dia menasihatiku seperti dia menasihati adiknya. Aku sadar dan bisa mengerti. Dari dia aku belajar silat dengan giat dan tekun untuk mengisi hari-hariku di samping belajar lebih sungguh-sungguh pada pelajaranku di bangku kuliah.

Di tahun yang sama, petaka datang lagi. Ayahku menceraikan ibuku karena dia kawin lagi dengan perempuan lain. Aku sangat marah saat itu. Kudatangi ayahku di kantornya dan kuhajar dia hingga bibir dan hidungnya pecah berdarah. Sampai-sampai aku harus diamankan oleh para satpam kantor ayahku karena aku mengamuk.

Akhirnya aku dikirim oleh ibuku ke Amerika Serikat dengan biaya dari harta pembagian ayahku. Aku hanya dibiayai untuk semester pertama, selanjutnya, aku harus membiayai hidupku sendiri. Ibuku “menantang”-ku dan aku menerima tantangannya untuk bisa hidup dan survive di negeri orang. Setelah kutunjukkan kemampuanku pada semester pertama kuliah, akhirnya semester berikutnya aku mendapatkan beasiswa. Untuk hidup, aku bekerja apa saja dan di mana saja. Di negeri orang inilah aku mengenal arti hidup sesungguhnya. Karena keberuntunganku, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan engineering. Dari situlah aku mulai menata hidupku dan bisa seperti sekarang.

Aku masih ingat pertama kali aku melihat Jeanne. Waktu itu aku lagi duduk-duduk di sebuah bangku putih panjang di Palm Court di UCLA setelah selesai kuliahku hari itu. Entah mengapa aku begitu tertarik dengan dia yang melenggang tepat di depanku. Baru kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi dari jurusanku juga.

Aku tersadar dari lamunanku saat Jeanne melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya memunggungiku. Aku mendesah pelan, dan tersenyum sendiri. Kupeluk Jeanne dengan mesra dan kulanjutkan tidurku.

TAMAT