Archive for August, 2008
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Indahnya Pelabuhan Singapura
Perkenalkan nama saya Agus dan saat ini saya bekerja sebagai IT specialist di salah satu perusahaan IT terkemuka di Singapore. Saya sangat betah bekerja di perusahaan ini karena lingkungannya yang sangat international. Sebagai informasi, kantor saya mempunyai kurang lebih 90 karyawan yang berasal dari 25 negara.
09.15, Mei 2000
Raffles Place, Singapore
Ketika sedang asyik-asyiknya mengecek email, saya melihat Andrew, Manajer Personalia perusahaan tempat saya bekerja berjalan masuk ke ruangan kantor. Nah yang menarik tentu saya bukan Andrew, melainkan sesosok cewek yang berjalan di belakang dia.
Saya memperhatikan Andrew memperkenalkan cewek tersebut ke rekan kantor saya dan saya langsung menebak bahwa dia adalah karyawan baru.
“This Martha, our new employee in Marketing” demikian Andrew memperkenalkan saya. Saya memperkenalkan diri saya dan menjabat erat tangannya yang putih mulus.
Mata saya dan mata Martha bertemu, saya melihat sorot mata yang tajam dan ada kejenakaan disana. Dia berasal dari Indonesia lulusan Australia. Nantinya saya tau kalau dia berumur 31 tahun, lahir di Jakarta, sekolah dan tinggal selama hampir sepuluh tahun di Australia, dan memakai bra 34B hehehe, apa hubungannya ya?
Karena kita berdua sama-sama berasal dari Indonesia, akhirnya persahabatan terbina di antara. Bermula dari ajakan makan siang, nonton, makan malam, dsb. Sayangnya Martha sudah berkeluarga. Suaminya adalah Singaporean dan berumur sekitar 40 tahun. Mereka adalah typical keluarga yang mempunyai pikiran yang modern dalam arti mereka tidak saling mengikat dan memutuskan untuk tidak mempunya anak.
Saya sudah berada di Singapore selama 2 tahun, berumur 30 tahun dan barusan putus dengan pacar saya karena alasan klasik: jarak. Tinggi badan saya 178 cm dengan berat badan sekitar 72 kg.
Karena berada saya di negeri orang, saya sering merasa sangat kesepain. Hidup di negeri kecil seperti Singapore kadang sangat membosankan, tidak ada yang bisa dikerjakan kalo lagi liburan. Kalo weekend paling nonton dan clubbing.
Waktu terus berjalan dan saya sudah mengenal Martha kurang lebih dua tahun. Hubungan baik terus berkembang, bukan saya dengan Martha, melainkan juga dengan suaminya. Saya diperkenalkan ke suaminya tahun lalu dan semenjak itu sering keluar makan malam bersama atau main golf bersama. Bahkan beberapa kali saya menginap di condo mereka di fifth avenue, salah satu kawasan terelit di Singapore.
Dari hubungan ini saya akhirnya tahu kalo hubungan Martha dengan suaminya ngga sebaik yang mereka tunjukkan ke orang luar. Mereka mempunyai hobby yang sangat berlainan, Martha seorang kutu buku dan sangat feminim sedangkan suaminya seorang yang sangat gemar berolah raga dan berpetualang. Setiap dua minggu suaminya meninggalkan Singapore menuju Malaysia untuk balapan mobil ataupun ke Thailand/Indonesia untuk menyelam.
Saya sendiri memiliki sifat yang agak pendiam dan kutu buku. Jadinya jauh lebih cocok kalo bersama Martha karena kita memiliki hobbi yang hampir sama.
Minggu, 09.15, Mei 2002
Raffles Place, Singapore
Hati saya setengah mengumpat ketika harus masuk kantor di hari minggu untuk menyelesaikan salah satu proposal. Selesai melakukan lari pagi, sarapan, dan mandi saya akhirnya berada di kantor.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 ketika saya mendengar seseorang membuka pintu kantor. Heran juga ada yang senasib dengan saya. Hati saya tertawa gembira ketika melihat Martha berjalan masuk kantor…. Hehe…. Ada temen buat ngobrol.
“Wah, tumben hari Minggu masuk” sapa Martha ramah.
“Iya, sialan nih, tapi udah hampir selesai kok, ngapain kamu ke kantor?” balas Saya.
Ternyata dia datang untuk mengambil kunci lemari rumah yang tertinggal di kantor. Akhirnya kita memutuskan untuk mengobrol di ruangan meeting yang menghadap pelabuhan. Martha mempersiapkan kopi dan teh di pantry.
Sungguh suasana yang sangat romantis, kantor kita berada di lantai 45 di salah satu gedung tertinggi di jantung kota Singapore. Meliat laut yang biru dan kapal yang lalu lalang memberikan suasana yang sangat damai.
Ketika Martha berdiri di dekat jendela, saya tidak bisa menahan diri saya untuk memeluknya dari belakang. Dia tidak menolak sama sekali. Memang saya pernah memeluknya beberapa di diskotik sebelum ini.
Saya mencium rambutnya yang wangi dan memeluk erat pinggangnya. Pinggulnya yang montok mendesak adik saya yang udah terbangun.
“Bagus sekali ya viewnya?” kata saya. Dia cuman diam.
Tangan saya lalu menyingkap rambutnya ke samping dan saya memberanikan diri saya untuk mengecup bagian belakang lehernya.
“Ah.. geli ah!” kata Martha tapi tidak berusaha untuk menghindar. Merasa dikasi angin, saya meneruskan ciuman saya ke lehernya yang putih. Pada saat yang bersamaan jari tangan saya menyusuri perutnya yang dasar menuju gunung kanannya. Jari tangan saya mengelus buah dadanya yang masih tertutup kaos dan bra.
Tiba-tiba Martha membalikkan tubuhnya dan mengarahkan mulutnya ke mulut Saya, jadinya kita sekarang ciuman dari mulut ke mulut. Saya bisa merasa ciumannya yang lembut, perlahan Saya menjulurkan lidah ke Saya ke mulutnya. Lidah saya diisap pelan dan digigit perlahan.. nikmat.
Saya lalu menggerakkan tangan saya ke pipinya yang mulus, dan saya elus.. Perlahan tangan saya turun ke lehernya dan ke arah payudaranya. Saya remes perlahan payudaranya dan terdengar nafas dia yang mulai memburu. Saya menggerakkan jari saya mencari puting susunya.. Setelah beberapa lama, akhirnya saya temukan juga lalu saya pelintir kayak memutar mur.. Ahh.. Martha mendesah..
Cukup lama kita berciuman, mungkin sekitar 10 menitan. Ketika tangan saya mencoba menarik kaosnya ke atas, dia mendorong tubuh saya. Sedikit kaget, saya memandang dia.
“Tutup pintunya dulu say” kata dia. Haha…. Tanpa menunggu perintah dua kali saya menutup pintu ruangan meeting dan berjalan ke arah dia kembali.
Tanpa menunggu aba-aba, jari saya mulai menarik kaosnya keatas. Martha, cuman menatap saya dengan tatapan mata yang begitu sayu. Setelah koasnya, tangan saya beralih ke belakang bra-nya untuk membuka kaitan bra tsb. Martha cuman tersenyum dan menggerakkan tangannya utk membuka bra tsb. Tentu aja dia berhasil.. Akhirnya terpampang lah sepasang buah dada nan indah di depan saya. Nggak terlalu besar, tp masih mancung dan pentil yang munggil berwarna coklat muda.
Dengan gerakan ekspress, saya membuka baju dan jeans saya. Meliat saya membuka jeans, Martha juga melepaskan jeans nya dan memamerkan celana dalamnya yang berwarna hitam.
Dalam keadaan berdiri, kita berciuman kembali dan sekarang ciuman saya mengarah ke leher, lalu naik ke belakang telinganya, turun lagi ke payudaranya, lalu ke perutnya yang langsing.. Dan terus ke paha dalamnya.. turun lagi ke lututnya.. saya gigit perlahan lututnya.. Martha cuman mendesah.. jilatan saya sekarang naik lagi menuju kawasan segitiga emas.
Saya menarik celana dalamnya ke bawah dan bulu-bulunya yang tidak terlalu lebat langsung menarik perhatian saya. Kemudian dengan perlahan, saya membaringkan Martha di meja meeting.
Saya kembali mencium lutut dan paha dalamnya kemudian naik menuju daerah dia yang paling pribadi. Saya mencari setitik daging yang agak tersembunyi, lalu saya menggerakkan
lidah saya ke arah daging tersebut.
Akibatnya sungguh dahsyat. Martha menggerakkan pahanya mengepit kepala saya dan menaikkan pinggulnya. Hidung dan mulut saya terbenam di kue bolunya. Enak sekali, anget dan wangi.
Kemudian setelah kepitan pahanya agak mengendur, lidah saya di arahin ke arah lobang surganya dan saya keluar masukin lidah saya di sana.. ahh .. ahh.. Martha mendesah. Saya bisa merasakan daerah kewanitaannya semakin lembab dan basah.
Cukup lama lidah saya bermain di daerah kewanitaanya, menyusui dindingnya yang lembut. Merasa bahwa Martha sudah cukup terangsang, saya merangkak naik ke atas meja dan mengarahkan adik saya ke daerah pribadi dia. Saya menggesek-gesekkan kepala adik saya ke daerah sensitif dia dan secara perlahan memasukkan adik saya menuyusuri terowongan dia yang sudah basah. Akhirnya saya memulai memompa, masuk keluar, masuk keluar. Semakin lama makin cepat. Terasa sangat nikmat.
Mata Martha yang bagus menatap saya dengan nanar. Jari-jarinya menggenggam erat lengan saya.
“Enakk Guss, enak..” Martha mulai menjerit.. Saya kemudian memperlambat pompaan saya sebagai gantinya saya mengganti jurus putaran sejuta nikmat saya. Saya memasukan penis saya sampai mentok, lalu saya tarik sedikit dan saya putar pinggul
saya..
“Ahh..” Martha memeluk saya dan mencakar punggung saya.. “Saya keluar Gus.. ” Martha meronta-ronta ketika hampir mencapai puncak kenikmatannya.. akhirnya
terasa kakinya dan tubuhnya mengenjang.. Martha sudah mencapai klimaksnya
Saya tersenyum dan mencium dia.. mengelus rambutnya.. setelah beristirahat selama tiga menit, saya mulai menarik penis saya dan memasukkannya kembali.. dalam waktu singkat birahi Martha bangkit kembali.
Kita turun dari meja dan saya meminta dia untuk menungging. Martha mengikuti petunjuk saya sambil membungkuk tiduran di atas meja, dari belakang saya mengarah torpedo saya dan mulai menggoyang. Capek deh dengan posisi demikian. Sodokan saya semakin cepat dan kadang saya juga membungkuk untuk mencium leher dia dan meremas buah dadanya. Lima menit kemudian, sodokan saya semakin cepat dan saya merasakan goyangan Martha yang semakin buas, akhirnya dengan teriakan yang lumayan keras, kita mencapai puncak bersama.
Abis itu saya merangkul dia dan dalam keadaan telanjang kita melanjutkan perbincangan kita sambil memandang indahnya pelabuhan Singapura. Kadang saya mikir kalo ada kapal lewat dan ada yang iseng menoropong gedung perkantoran, pasti dech orang tersebut akan ngiri setengah mati ke kitanya.
Bulan lalu Martha memutuskan untuk berhenti kerja dan ikut suaminya untuk imigrasi ke Australia dan saya akhirnya sendiri lagi. Tidak ada yang tau ketika berada di ruangan meeting, pikiran saya selalu melayang ke kejadian malam minggu tersebut.
Sekian pembaca, jika ada komentar dari anggota, harap di sampaikan melalui 17Tahun.com Private Message Box saya (teteshujan1).
TAMAT
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Indahnya Pantai Parangtritis
Sewaktu kuliah di Kota Y, tahun 1997 aku punya kenangan indah di kota ini. Aku kenal dengan seorang gadis yang bekerja di salah satu kios buku di mana aku sering membeli atau hanya sekedar melihat-lihat buku serta mencari bahan untuk kliping.
Aku sempat pacaran dengannya dan menyimpan kenangan indah. Namun sejak dia menikah, maka aku jarang ketemu, bahkan sampai aku lulus kuliah dan sekarang telah bekerja tak tahu di mana dia berada. Tulisan ini kubuat untuk mengenang Sri yang telah “Memperjakai” aku, untuk pertama kalinya aku melihat susu dan memek yang sebenarnya. Biasanya aku melihat kedua benda tersebut di majalah atau BF.
*****
Awalnya aku membeli buku di kawasan shopping centre, konon karena harga buku disana rata-rata lebih murah 20% bila dibanding dengan harga toko buku dengan judul dan penerbit yang sama, bahkan ada sampai selisih 30%. Bagi mahasiswa harga itu sangat menarik, karena bisa menghemat uang saku. Dari diskon beli buku itu dapat untuk nambah jajan atau kegiatan lain.Terlebih lagi kiriman wesel dari orang tua kadang terlambat.
Dari seringnya buku itu aku menjadi kenal dengan salah seorang SPG kios buku A di Shoping Centre. Bahkan kalau aku cari buku (kadang hanya lihat-lihat doang) dan memilih-milih agak lama begitu kadang aku dibelikan minuman entah itu es jeruk atau es teh tergantung apa yang dia pesan. Pernah suatu hari ketika aku cari-cari buku pas pada waktu itu SPG yang kemudian kukenal dengan nama (sebut saja Sri) tengah makan siang, maka aku pun dipesankan makan siang berupa nasi bungkus, entah sebabnya apa aku juga tidak tahu. Tawaran makan siang pun dengan senang hati “Terpaksa” kuterima, walau perut belum lapar. Entah kenapa, aku hanya tidak ingin membuat Sri kecewa.
Akhirnya Sri pun sangat akrab denganku, kadang kami bercanda di kios. Di kios itu hanya ada dua SPG. Dari informasi teman SPG-nya (sebut saja Lastri) aku tahu bahwa dia memang sudah lama putus hubungan pacarnya. Dari perkenalan itu tak disangka-sangka ternyata tanggal dan bulan kelahiranku sama persis dengan dia, hanya tahunnya yang berbeda. Aku lebih tua 4 tahun.
Akhirnya aku dan Sri pun “resmi” berpacaran. Tak apalah dapat layang-layang putus, yang penting kami sama-sama suka. Dengan adanya Sri aku kadang menjemput dia kalau pulang kerja sekitar jam 20.00 dan mengantar sampai ke kostnya yang sebenar tidak jau, kira-kira hanya 10 menit perjalanan kaki. Biasanya kalau tidak saya jemput Sri pulang bareng teman SPG-nya itu yang juga kost satu kamar dengan Sri. Kamar kostnya cukup luas dengan dua tempat tidur. Lastri teman SPG-nya juga sudah punya pacar namanya sebut saja Untung yang bekerja sebagai keamanan kawasan itu. Akupun lantas juga kenal sama Untung. Kadang kalau aku menjemput Sri, maka Lastri pun di antar oleh Untung.
Kalau aku sedang apel ke kostnya Sri dan Untung pun sedang apel ke Lastri biasanya Sri mengajakku ke ruang tamu. Demikian pula sebaliknya. Namun kadang kalau aku apel ke kamar kostnya, Lastri sering keluar kamar dan menonton TV di kamar yang empunya rumah. Di kamar kost itu hanya ada dua tempat tidur, dan meja rias, tidak ada meja atau kursi lain sehingga kalau aku masuk kamarnya ya duduknya di tempat tidur.
Pada suatu saat, pas hari Sabtu, kios tutup agak awal sekitar jam 18.00, saya dan Untung sama-sama menjemput pacar masing-masing, dan pulang bareng. Entah sengaja atau tidak maka kami pun besama-sama masuk ke kamarnya. Untung berada di tempat tidur Lastri dan aku pun duduk-duduk di tempat tidur Sri. Kami saling cerita, ngobrol, bergurau dengan pacar masing-masing. Lastri dan Untung yang telah lebih dulu pacaran ternyata sudah tidak canggung lagi melakukan ciuman atau belaian, bahkan peting, dan necking di depan kami. Tentu saja membuat kami yang baru pacaran agak malu. Namun dengan ucapan mereka yang mengatakan tak usah malu, kan udah punya pasangan masing-masing, maka kami pun melakukan hal yang sama. Kebetulan hari itu yang punya rumah sedang pergi keluar kota, sehingga di rumah itu tak ada orang selain kami berempat, sehingga waktu itu kami lebih leluasa berpacaran.
Pada mulanya aku dan Sri hanya berpelukan, berciuman. Entah mengapa ada rasa yang mendorong untuk lebih saling menikmati, maka tak ayal lagi berlanjut dengan cumu mesra, dan akhirnya pakian kami sudah tak rapi lagi. Sri kemudian menutup pintu dan jendela. Maka kami pun mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh kami hingga tinggal CD saja yang masih tersisa. Nampak Sri yang beperawakan kecil ternyata punya susu yang cukup montok. Demikian pula Lastri juga mempunyai payudara yang cukup besar, karena memang badannya lebih besar dari Sri. Karena Lastri dan Edi sudah saling pagut, saling peluk, saling remas, maka tak ayal lagi membuat aku dan Sri juga melakukan hal sama.
Tiba-tiba aku punya ide untuk merasakan tubuh Lastri yang lebih bahenol, maka aku pun berkata kepada Untung, “Mas Untung, gimana kalau kita tukar tempat, sebentar saja”
“Apanya yang ditukar” sahutnya bengong.
“Itu lho.. susunya” sahutku lagi sambil tersenyum.
Untung mikir sebentar dan lalu berkata” Kalau Lastri mau, bolehlah!”
Akhirnya Sri kusuruh pindah ke ranjangnya dan Lastri pun pindah ke tempatku. Lalu Lastri mulai kucumbu, kucium, kupeluk. Sambil terus mengelus, meraba tubuhnya. Dan akhir sampai dibukit yang cukup besar dan kiranya mulai menegang. Tanganku berhenti sebentar dibukitnya yang kenyal, kemudian mulai kuremas-remas dengan kedua tanganku dari arah belakang. Lastri mulai melenguh kenakan.
“Oh.., terus-terusin.., teruus” Lastri terus merengek.
Kemudian dia berbalik dan tangannya juga mulai mememeluk tubuhku semakin erat. Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman, melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama. Diranjang sebelah Untung melakukan hal yang sama dengan pacarku Sri. Aku kadang melirik ke Sri, dan rasanya mulai cemburu melihat Untung mengemut-emut, menyedot-nyedot susu pacarku. Kadang kulihat Untung mengobok-obok memek Sri walaupun masih memakai CD. Namun kecemburuanku ini kulampiaskan pada Lastri. Cukup lama kami “Pesta nude kecil” malam itu, sampai tak terasa sudah pukul 21.00 dan kami harus segera meninggalkan tempat kostnya. Walaupun kami tidak sampai melakukan ML, namun kami pulang dengan rasa amat senang.
Pada akhir bulan Sri mengabari aku bahwa ia akan libur 4 hari. Biasanya kalau dia libur Sri pulang ke rumah orangtuanya di Purwareja. Karena hari pertama itu hari Sabtu maka aku punya usul agar pulangnya ke desa ditunda hari Minggunya.
“Ada apa Mas?” tanyanya
“Aku ada ide, kalau you mau, nanti kuajak kamu ke Pantai Parangtritis, nginap disana semalam, baru esok hari kamu pulang” ujarku.
Dengan agak ragu Sri pun lalu mengangguk setuju. Akhirnya Sabtu siang habis kuliah aku dan Sri pun dengan berboncengan sepeda motor menuju Pantai Parangtritis. Saat melewati warung makan aku menawari Sri untuk makan siang dulu namun Sri menolak, oleh karenanya aku hanya menitipkan motor di warung itu.
Siang itu di Pantai sungguh sangat cerah, bahkan senderung panas, namun angin bertiup cukup kencang sehingga dapat mengurangi rasa panas. Aku dan Sri jalan menelusuri pantai dengan bergandeng tangan, dan kadang kupeluk mesra. Karena merasa panas maka aku dan Sri istirahat di gubuk yang tersedia di pinggir pantai.
Kulihat pemandangan laut luas dengan deburan ombak besar yang menakjubkan. Saat aku menghadap ke timur kulihat bukit yang tinggi yang menghijau nan indah. Ketika menghadap ke utara aku melihat banyak gubuk di atas bukit, maka aku pun mengajak Sri untuk naik ke bukit tersebut. Lalu kami berdua naik ke bukit tersebut melalui jalan setapak. Sampai di atas ternyata di atas sana juga banyak orang terutama pasangan muda-mudi dan kiranya mereka juga berpacaran. Bahkan mobil bisa naik sampai ke puncak bukit. Mereka pada duduk-duduk menghadap ke selatan dan memandang keindahan laut selatan dari atas bukit, sungguh sangat indah. Disini tidak terlalu panas karena ada pepohonan yang bisa untuk berteduh.
Aku dan Sri pun lalu duduk-duduk namun agak jauh dari mereka, masih malu, karena memang baru pertama ke tempat itu. Tiba-tiba kami didatangi seorang perempuan setengah tua yang menawarkan tikar dengan bahasa Jawa untuk duduk-duduk (lesehan: Jw).
“Ngersake tikar Om, (Ind: mau pakai tikar)?” katanya.
“Berapa sewanya, Mbok?” tanyaku.
“Namun setunggal ewu kemawon (Ind: hanya seribu rupiah)” katanya.
Tanpa kutawar lalu kubayar kepada pemilik tikar itu.
“Eh, Mbok, kalau gubuk kecil itu untuk apa? tanyaku lagi.
“Menawi meniko kagem istirahat (Ind: kalau itu untuk istirahat)” katanya lagi.
“Istirahat siap?” tanyaku lagi.
“Nggih sinten sing purun ngginakaken (Ind: ya siap yang mau menggunakan)” katanya.
“Meniko nggih disewa-aken (Ind: itu ya disewakan), lanjutnya lagi.
Aku lalu melirik ke Sri, “Gimana dik, kita coba?” tanyaku.
Sri lalu mengangguk.
“Kalau gubuk berapa Mbok? tanyaku.
“Namung kalih ewu (Ind: hanya dua ribu)” jawabnya.
Setelah melakukan transaksi kemudian kami berdua masuk ke gubuk kecil hanya berukuran kira-kira 1 x 1,5 meter. (Dikemudian hari terkenal dengan nama “Gubuk Cinta”). Tentu saja tanpa lampu dan yang agak membuat ngeri adalah dindingnya hanya dari anyaman daun kelapa sehingga cukup mudah untuk diintip, namun juga cukup mudah mengetahui kalau ada yang ngintip. Kalau dilihat sambil jalan sepintas ya cukup rapat, dan tak kelihatan kalau di dalam ada yang sedang indehoi (bercumbu).
Di dalam gubug yang sempit itu kami saling beciuman, berpelukan. Sri kemudian mulai membuka jaketnya, selanjutnya you can see-nya, sehingga dibalik BH-nya yang berwarna krem terlihat bukit-bukit yang menantang untuk di kemot-kemot. Sri kemudian juga membuka jaket dan hem yang kupakai. Sri membiarkab saja ketika aku mencopot kait BH-nya sehingga tampaklah pemandangan indah, dua bukit kembar yang berwarna kuning langsat, montok, dan tentunya sangat menggairahkanku. Aku langsung saja menciumnya, lama kami berciuman, saling pagut. Sri menjulurkan lidahnya kedalam mulutku, dan aku pun membalasnya dengan semangat. Kupeluk dia dan lalu kuremas-remas susunya yang montok.
“Oh.., Mas.., oh.., oh.. Mas” ia mulai melenguh.
“Terus Mas.., pakai liah Mas” pintanya lagi.
Aku pun trus mencium, dan mengemot-emot susunya bagai bayi yang kehausan dan menetk ibunya.
“Enak Sri? tanyaku.
“Enak, Mas, teruss.. terus.. ach, uogh”.
Entah untuk beberapa lama aku mengemut-emut susu itu, akhirnya Sri minta untuk disudahi. Kemudian Sri pun melolos sabukku, lalu mencopot kancing celanaku, dan membuka ritsluitingnya. Tersembulah batang kemaluanku yang telah menegang. Sri pun lalu mengelus-elus dan mengocok-ngocok kontolku yang semakin memerah dan semkain tegang. Ueenak sekali rasanya. Ini untuk pertama kali burungku dilihat gadis.
“Iiih, Mas, besar sekali, mengerikan!” katanya.
“Masak sih, biasa-biasa” saja sahutku.
“Aku takut Mas kalau ini masuk ke..” dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Setelah agak lama kok hanya dielus-elus saja maka aku berkata kepadanya, ” Sri emut Sri!”
“Hah.. apa Mas!” dia agak terkejut mendengar perintahku.
“Emut Sri, kulum, sedot-sedot adikku itu” kataku lagi.
Sri agak ragu melakukannya.
“Nanti kalau..”
“Kalau apa?” tanyaku lagi.
“Nggak apa-apa Sri, jangan takut”
Akhirnya Sri pun mengemot-emot, memainkan lidahnya dikepala kemaluanku dengan semangat.
“Oh.. Sri, terus Sri, teruuss.. enak Sri, teruuss.. aku akan keluar Sri!”
Dan crot, crot, crot.. Muncratlah spermaku dalam mulutnya dan sebagian lagi mengenai wajahnya yang cantik. Aku hanya memejamkan mata keenakan.
“Enak Om?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk, tanpa berkata-kata lagi.
“Bersihkan Sri, telan saja” dan tanpa berkata lagi Sri pun mengulum-ulum batang kemaluanku, menjilat-jilat membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel sampai bersih, sih.
“Ouch.. ouch.., Sri” aku mendesah keenakan.
Pembaca, peristiwa itulah untuk pertamakalinya aku memuntahkan sperma dari kemaluanku alias “Diperjakai” oleh gadis yang bernama Sri.
Setelah merapikan pakaian aku dan Sri pun segera meninggalkan Gubug Cinta dan turun menuju tempat titip motor serta menikmati makan siang agak sore. Lagi asyknya menikmati makan siang, tiba-tiba pemilik warung itu menawarkan kamar untuk istirahat.
“Mau istirahat, Nak?” tanyanya.
Pemilik warung yang ini bisa bahasa Indonesia.
“Berapa semalam Bu?” tanyaku.
“Hanya Rp 15.000″ katanya lagi.
“Ah mahal. Rp 10.000 saja ya” aku mencoba menawar.
Dan setelah berpikir sebentar pemilik warung itu menyetujuinya. Aku dan Sri langsung masuk kamar dan tidur-tiduran. Akhirnya pun tidur sungguhan dan ketika bangun hari sudah menjelang malam.
Sri masih tidur, kukecup keningnya, kucium pipi dan bibirnya. Dan ketika kuremas-remas buah dadanya dia menggeliat dan membuka matanya.
“Jam berapa Mas?” tanyanya.
“Jam 20.00″ sahutku.
Sri segera membasuh muka dan kuajak untuk menikmati suasana malam pantai, namun hanya di warung, tidak sampai ke pinggir laut. Ketika jam menunjukkan pukul 21.30, kuajak lagi dia ke kamar.
“Sri, yuk kita lanjutkan, yang tadi siang” kataku.
Sri pun mengangguk dan kugandeng dia ke kamar. Setelah di kamar kami berdua langsung melakukan kissing, necking, dan petting. Lalu Sri pun berinisiatif membuka bajuk, lalu celanaku. Aku pun segera membuka bajunya, mencopot BH-nya dan CD-nya. Hatiku berdebar melihat pemandangan indah itu untuk pertama kalinya. Batang kemaluanku telah menegang, mengacung, siap menyerbu.
Kini aku dan Wiwik telah sama-sama telanjang bulat. Kudekati dan kubaringkan Dia dari arah kepala kucium mulai keningnya, matanya, bibirnya, susunya, terus turun ke pusar dan akhirnya tepat di vaginanya kilik-kilik dengan lidahku. Kukecup-kecup memeknya, kusedot-sedot lubang kewanitaanya.
Sri pun menjerit-kerit, “Ouh.. Ouh.. Mas Mas.. terus teruss Mas”.
Dan tak lama kemudian mengalir lendir dari vaginanya. Sri telah orgasme. Setelah berhenti sebentar lalu kupermainkan lidahku dibibir vaginanya, menjilat-jilat klitorisnya dan lidahku terus mengobok-obok vaginanya. Dan tak lama kemudian mengalir lagi cairan hangat dari vaginanya. Sri telah orgasme lagi.
Setelah istirahat sebentar aku berbalik dan kemudian perlahan-lahan kubuka pahanya yang putih mulus dengan selangkangan yang sangat menantang. Perlahan-lahan kumasukkan batang kontolku keliang senggamanya. Bless.. bles.. bles. sedikit demi sedikit masuklah kumasukkan batang kontolku dan akhir semua batang kontolku. Masuk ke dalam memeknya. Kuangkat sedikit lalu kusodokkan lagi, terus dan terus.
“Pelan Mas, sakit” rintihnya.
“Masukkan lagi Mas, kentot lagi Mas”
Segera kugenjot lagi kontolku dalam vaginanya, terus dan terus..
“Ouh.. Ouh.. Maas. Maas.. aku akan keluar lagi Mas..”
“Ouh Sri.. Oh.. Sri,.. aku akan keluar Sri” kita bareng-bareng Sri dan Aku dan Sri mencapai puncak bersama-sama.
Malam itu kami bermain sangat puas. Kemudian kami tidur sampai pagi. Setelah kami berdua mandi dan sarapan pagi, segera berkemas meninggalkan Pantai Parangtritis Kami segera melesat langsung ke terminal bus. Sesampai di terminal bus Sri terus naik bus jurusan desanya, tanpa banyak bicara kami segera berpisah.
Seminggu kemudian aku ke tempatnya bekerja, namun dia belum masuk. Dua minggu, tiga minggu dia belum masuk juga. Sebulan kemudian ada kabar dari teman SPG-nya bahwa dia akan menikah minggu depan. Aku sangat terkejut, terperanjat, sangat tidak percaya, namun setelah temannya menunjukkan surat, aku pun akhirnya percaya bahwa Sri benar-benar akan menikah.
Aku tak tahu harus bagaimana mengucapkan terimakasih ataukah meminta maaf, karena sampai sekarang aku belum bertemu dengannya. Yang jelas Pantai Parangtritis meninggalkan kenangan yang indah bagiku.
E N D
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Implementasi Dengan Pembaca – 2
Dari Bagian 1
Jari-jari tangan sinto terus bergerilya di selangkanganku, bibir vaginaku dielus naik turun sementara jari telunjuknya terus memilin-milin klitorisku bagaikan mata bor hingga aku merasakan kegelian yang bercampur nikmat, dadaku terdorong ke depan hingga payudaraku menyentuh dan menggesek dadanya yang bidang. Aku tidak memakai bra sehingga payudaraku hanya terpisah oleh T shirt dan hem Sinto yang tipis saja. Ada kenikmatan saat puting susuku menyentuh dada Sinto.
Tak lama kemudian aku pun melenguh bagai anak sapi, kepalaku tertarik ke belakang karena menahan nikmat, dadaku semakin menekan ke depan, dan.. Ada muncratan dari dalam liang vaginaku. Aku pun mengalami orgasme saat jari-jari Sinto mulai dimasukkan ke dalam liang vaginaku. Sinto mengetahui apa yang baru saja kualami, maka dengan sengaja jarinya memainkan klitorisku dengan semakin intens, gesekannya kurasakan semakin liar dan semakin menambah kenikmatan, rasanya mengalir ke puncak kepalaku dan berhenti tepat di atas ubun-ubunku.
Selesai memuaskanku dengan jarinya, Sinto bukannya segera mencuci tangannya yang belepotan dengan air cintaku, tapi jarinya malah dijilati satu persatu seakan mendemonstrasikannya padaku. Selesai membayar bill, Sinto membisikkan ajakan ke telingaku..
“Yuk, kita teruskan di Hotel, Lia..!”
“Jangan sekarang dong!”, tolakku dengan halus.
“Kita kan baru saja berkenalan dan baru kali ini kita bertatap muka, lain kali aja ya..”, demikian alasanku.
Rupanya Sinto memang sangat matang dan dewasa. Dia dapat mengerti perasaanku, namun aku yang justru tidak tega melihat ekspresi wajahnya. Walau dia pandai menutupi kekecewaannya tapi aku masih dapat merasakannya. Untuk menutupi kekecewaannya, kutawarkan sebuah solusi..
“Gimana kalau kita sama-sama ke Galaxy Mall. Kuparkir mobilku di sana, kemudian aku naik mobilmu. Kita jalan-jalan keliling kota?”, usulku.
“OK”, Sinto menyetujui usulku.
Lalu kami akhirnya beriringan menuju ke Galaxy Mall yang jaraknya sekitar 500 meter dari Calvados. Setelah memarkir mobilku, aku masuk ke dalam mobil Sinto.
“Kita kemana nich?”, tanyanya.
“Kemana aja deh asal jangan check in ke hotel”, jawabku.
Sinto akhirnya mengarahkan mobilnya ke arah luar kota Surabaya. Dalam perjalanan, hanya tangan kanannya saja yang memegang kemudi, sementara tangan kirinya terus bergerilya di selangkanganku. Mobilnya memang automatic sehingga Sinto tidak perlu menggunakan tangan kirinya sepenuhnya untuk mengemudi. Kaca film mobilnya cukup gelap ditambah dengan suasana di luar juga sudah gelap, saat itu jam di mobilnya sudah menunjukkan pukul 19.30 hingga semua ini membuat semua aktifitas kami tidak dapat terlihat dari luar. Rok miniku sudah tersingkap ke atas hingga CD-ku yang mini terpampang menantang dengan jelas.
Elusan tangan Sinto di sekitar vaginaku dapat kurasakan sekali, kedua kakiku sengaja kubuka lebar-lebar agar lebih memudahkan aktifitas tangannya. Tanganku tidak mau kalah, segera kubuka kancing celana Sinto, gespernya kuturunkan ke bawah. Rupanya Sinto juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan, diperosotkannya celana jeans dan CD-nya sehingga batang kemaluannya yang sudah tegang sejak tadi menyembul keluar. Wauw..! Ukuran diameternya lumayan besar, hampir sama dengan ketimun yang biasa kupakai masturbasi di tempat kerjaku (bagi pembaca yang belum pernah membaca ceritaku yang lalu, silakan membacanya), walaupun ukuran panjang penis Sinto menurutku normal-normal saja, sekitar 17 centimeter. Kugenggam lembut dan kukocok-kocok naik turun sehingga Sinto pun merasakan kenikmatan permainan jari-jariku. Sambil menempuh perjalanan, tangan kami masing-masing melakukan kesibukan.
Tak terasa mobil sudah sampai di Bundaran Waru, dan kami terus meluncur ke arah kota Sidoarjo. Sampai di pertigaan Aloha, Sinto membelokkan mobilnya ke kiri menuju arah Juanda yang jalannya cukup lebar. Kurang lebih beberapa ratus meter kemudian Sinto menyalakan lampu sign ke kiri dan mobil pun dibelokkan masuk ke jalur lambat. Di tempat yang agak lapang dan sepi mobil di hentikan tetapi mesin dan AC tetap dihidupkan. Setelah berhenti, Sinto memundurkan bangku dan tempat sandarannya, kemudian bangku dan sandaran tempat dudukku pun dimundurkannya pula. Rupanya Sinto benar-benar penasaran dan ingin melanjutkan permainannya, walau sudah kutolak check in di hotel, tapi rupanya Sinto tidak kekurangan akal, karena di tempat sepi ini dia pikir juga bisa menuntaskan keinginannya.
Sinto segera mencium dan melumat bibirku, tangan kanannya menyusup ke dalam T Shirtku, jari-jari tangannya langsung meremas-remas payudaraku yang sudah mengeras sejak tadi. Puting susuku dipelintir-pelintir hingga menimbulkan rasa nikmat. Darahku mengalir cepat dalam tubuhku, disingkapnya T Shirtku ke atas hingga payudaraku yang indah tersembul keluar dengan ujung putingnya yang mencuat ke atas langsung dijilatnya bergantian.
Tangan kanannya memerosotkan CD-ku. Aku pun pasrah saja sambil sedikit mengangkat pantatku sehingga dengan mudahnya CD tersebut meluncur ke bawah dan kubantu dengan ujung kakiku untuk melepasnya. Sekarang tubuh bagian bawahku pun sudah tidak ditutupi oleh sehelai benangpun. Rok miniku telah tersingkap ke atas sehingga Sinto dengan bebasnya memandangi bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar kemaluanku.
Sambil menyempurnakan posisinya, dengan sedikit menungging Sinto mengarahkan kepalanya ke selangkanganku. Bibirnya langsung menyerbu klitorisku hingga aku sedikit tersentak kegelian. Aku pun tak mau tinggal diam, kuraih batang kemaluan Sinto yang jaraknya sudah dekat dengan mukaku. Rupanya tanpa kusadari, sejak dari tadi Sinto diam-diam juga sudah melepaskan celana dan CD-nya sehingga bagian bawahnya juga sudah telanjang. Terus terang ingin sekali rasanya aku mengulum batang kemaluan Sinto, namun aku masih malu-malu dan gengsi, bukannya aku belum pernah melakukan hal itu, tapi mengingat masa perkenalanku dengan Sinto yang masih baru dan baru sore ini kami bertatap muka, apa lagi perkenalan kami dikarenakan saya sebagai penulis cerita di 17Tahun.com yang kebetulan dibaca oleh Sinto.
Tetapi pada akhirnya kenikmatan jilatan lidah Sinto di bibir vagina dan klitorisku akhirnya dapat menjebolkan pertahananku. Gengsi yang tadinya kusimpan akhirnya jebol juga, batang kemaluan Sinto bukan lagi hanya kumainkan dengan tangan, kini bahkan langsung kuarahkan ke dalam mulutku. Kukulum kepala penisnya, batang kemaluannya kukocok-kocok lembut dengan irama yang teratur karena aku tahu bahwa ini akan membuat kenikmatan tersendiri bagi Sinto yang terus menjilat vaginaku, lidahnya dijulurkan dan diusap-usapkan di celah belahan vaginaku, sementara jari tangan kirinya menggesek-gesek klitorisku.
Cukup lama kami saling melakukan oral sex dengan posisi 69 di dalam mobil, sampai akhirnya aku mengalami puncak kenikmatan kembali. Rasanya aku sudah hampir mencapai orgasme yang kedua kalinya hingga kulumanku pada penis Sinto pun semakin dahsyat dan kocokanku pun juga semakin cepat. Jari tengah dan jari telunjuk Sinto tiba-tiba ditusukkan semakin dalam ke liang vaginaku, dikocok-kocokkannya keluar masuk sambil bibirnya tetap menghisap klitorisku, sesekali dijepit dengan kedua bibirnya sambil digesek-gesekkan ke kiri dan kanan. Oouuw! Aku tak sanggup mengulum penis Sinto lagi, hanya tinggal tanganku saja yang tetap mengocok-ngocok secara teratur hingga tak lama kemudian cairan putih kental muncrat keluar dari batang kemaluan Sinto, jumlahnya cukup banyak dan rasanya hangat menyembur wajahku, tapi kukocok terus dan terus dan terus..!
Akhirnya aku pun mengalami hal yang sama, permainan dua jari Sinto yang dimasukkan ke dalam liang vaginaku ditambah jilatan lidahnya pada klitorisku membuat badanku kembali menggigil dan kejang karena mengalami kenikmatan surga dunia. Aku kembali orgasme yang ke dua kalinya. Sinto ternyata juga pandai melakukan jilatan pada vaginaku, jilatannya tak kalah dahsyatnya dengan Sonny yang pernah kuceritakan pada kisahku yang terdahulu. Kalau tadi sperma Sinto muncrat keluar menyembur wajahku, lain lagi dengan cairan cintaku yang muncrat mengalir keluar dari liang vaginaku dengan derasnya dan langsung dijilat habis oleh Sinto, bibirnya menyapu rata bibir vaginaku sambil menghisap semua cairan yang keluar hingga benar-benar bersih dan kering kembali. Setelah kami sama-sama mencapai puncak kepuasan, kubersihkan wajahku dengan tissue yang ada di mobil sinto. Gila..! Banyak juga sperma yang disemburkan Sinto hingga membuat wajahku penuh dan belepotan oleh spermanya.
Setelah selesai berbenah dan merapikan pakaian kami masing masing, Sinto pun menjalankan mobilnya kembali ke arah dalam kota. Sambil meluncur aku membersihkan wajah dan selangkanganku dengan tissue. Lalu kusandarkan kepalaku ke samping lengan Sinto. Mobil pun meluncur santai menuju ke Galaxy Mall. Kami tidak banyak berbicara dalam perjalanan pulang.
Tangan kiri Sinto membelai rambut kepalaku dengan mesra sambil sesekali mencium kepala dan keningku. Sesampai di Galaxy Mall aku pun turun menuju mobilku yang sejak tadi kuparkir di sana. Pertokoan sudah sepi karena sudah hampir tutup semua. Sebelum berpisah, kami berjanji akan saling kontak melalui telepon. Sinto juga berpesan padaku, mempersilakanku jika kejadian petang ini akan di tuangkan untuk 17Tahun.com, dia hanya meminta agar identitasnya disamarkan.
*****
Demikianlah kisah pertemuanku dengan salah seorang pembaca dan penggemar tulisanku di 17Tahun.com. Tadinya aku tidak sengaja menemukan situs ini karena seseorang telah iseng mengirimkan URL situs ini ke emailku, tetapi ternyata setelah kucoba mengakses dan membaca isinya, darahku pun mendesir membaca cerita-cerita yang ada di dalamnya. Pertama kucoba untuk iseng-iseng menulis pengalamanku, kini bukan hanya aku jadi keranjingan menuliskan pengalamanku untuk dimuat di 17Tahun.com, tapi aku bahkan mendapatkan seorang teman kencan yang cukup gagah dan ganteng.
Buat seseorang pembaca yang berinisial S dan kusamarkan namanya menjadi Sinto, kuyakin kamu pasti juga akan membaca pengalaman manis kita yang telah kutuangkan menjadi cerita ini dan kukirimkan ke 17Tahun.com, thanks for the dinner and part time lover!
E N D
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Implementasi Dengan Pembaca – 1
Dari sekian banyak email yang masuk ke mail box-ku ternyata hanya ada dua email yang dikirim oleh cewek, yang satu menegurku dengan sopan, meminta agar aku tidak meneruskan kontak dengan suaminya, kubalas emailnya sambil menanyakan siapa nama suaminya, karena terus terang aku tidak kenal dan tidak tahu yang mana suaminya.
Memang kuakui ada beberapa email yang kubalas dan ada beberapa orang yang sempat kontak per telepon denganku setelah memenuhi semua persyaratan yang kuajukan, namun emailku belum mendapat balasan hingga aku juga tidak tahu yang mana suaminya? Yang satu lagi dari cewek, inisialnya LW, dia menyatakan bahwa dia juga pernah mengalami dijilat vaginanya oleh cowoknya, jilatannya tak kalah hebatnya, demikian tuturnya dalam email.
Selebihnya email yang masuk ke mail box-ku dari cowok-cowok yang iseng dan main langsung mengajak kenalan dan making love, ha.. ha.. ha..! Emangnya dikira aku cewek murahan yang bisa langsung diajak ke tempat tidur. Walaupun aku suka dan menikmati sex namun aku bukanlah cewek murahan apa lagi harus dibayar untuk itu, aku mau karena berdasarkan suka sama suka, karenanya dari email yang masuk semua kujawab, namun bila ingin berlanjut untuk berkenalan dan mengobrol, aku punya kiat tersendiri untuk menyeleksi mereka dan rata-rata mereka rontok semua karena takut tertipu atau memang hanya iseng saja. Dari yang bisa memenuhi persyaratanku, baru kuajak ngobrol dan berkenalan, jumlahnya tidak banyak, dan ada juga beberapa yang sudah bertukar foto melalui email.
Namun di antara semua itu, ada seorang yang sudah berjalan agak jauh, kunamakan saja Sinto yang usianya 40 tahun, sudah beristri dan punya dua orang anak. Sinto adalah seorang pengusaha muda yang punya hobby mengakses 17Tahun.com. Dia membaca tulisanku dan mengirim email padaku, kubalas dan kuberikan persyaratan yang langsung dipenuhinya hingga kemudian kuizinkan dia meneleponku.
Kami mengobrol beberapa kali via telepon juga bertukar foto melalui email sampai akhirnya kami pun janjian untuk jumpa darat (ketemuan). Aku memilih tempat bertemu di Restaurant Calvados yang letaknya di ujung perempatan Jalan Kertajaya Indah dekat Galaxy Mall, Surabaya. Kami pilih di Calvados karena dekat dengan rumahku yang terletak di kawasan Kenjeran dan juga kebetulan rumah Sinto juga terletak di sebuah perumahan mewah di sekitar sana.
Kami janjian bertemu jam 5 sore. Setelah selesai mandi aku pun sibuk memilih busana yang akan kukenakan. Sudah pernah kuceritakan pada ceritaku terdahulu, aku tidak memiliki busana yang anggun karena memang aku lebih suka memakai pakaian yang sexy mengimbangi tubuhku yang memang juga sexy. Sore ini kupakai T Shirt ketat tanpa lengan hingga T Shirt yang kupakai melekat dengan tubuhku, tentunya tanpa BH membungkus payudaraku yang ranum dan sintal, ini juga karena sesuai dengan apa yang pernah kuceritakan pada kisahku terdahulu, yaitu bahwa aku sejak kecil tidak suka memakai bra hingga sampai saat ini aku tidak memiliki sebuah BH-pun di rumah. T Shirt yang kupilih berwarna krem dengan rok mini warna yang sama untuk bawahannya. Rok mini yang kupakai juga berwarna krem kombinasi coklat muda kotak-kotak.
Kali ini aku agak sedikit bingung memilih CD yang akan kupakai, bukan karena warnanya karena aku mempunyai banyak CD dengan berbagai macam warna, aku ingin memakai warna krem juga supaya matching, namun modelnya aku hanya punya dua macam, yang satu model G String yang sering kupakai dalam ceritaku terdahulu, yang satu lagi model berenda, semuanya berbentuk mini dan tipis sekali, hingga bila dikenakan seakan-akan tidak memakai CD.
Sore ini kupilih yang berenda saja, bentuknya berupa renda ukuran sejari melingkari pinggangku, di bagian belakang seukuran satu jari pula turun melingkari selangkanganku melalui lipatan pantatku yang sintal, terus ke depan dan di bagian pangkal pahaku tersambung dengan secarik kain sutera tipis selebar dua jari dan bila dikenakan hanya mampu menutupi tepat bagian liang vaginaku, sexy dan merangsang sekali saat aku memakainya.
Bulu-bulu kemaluanku terurai keluar dari CD yang kukenakan hingga akan membuat rangsangan tersendiri bagi cowok yang melihatnya. Rok yang kupakai mini sekali dengan bawahan yang cukup lebar hingga pahaku yang mulus dengan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus terlihat. Aku juga tidak terbiasa menggunakan make up. Ketiakku kuoles sedikit parfum ditambah lipstick tipis warna netral mengoles bibirku yang mungil agar selalu terlihat basah hingga membuat semua cowok ingin mencium dan mengulum bibirku.
Tepat jam 5 sore aku tiba di Calvados yang masih sepi karena memang baru buka. Rupanya Sinto sudah duduk di terasnya sambil merokok. Walau kami sebelumnya belum pernah bertemu muka tapi aku yakin kalau cowok itu Sinto karena wajahnya pernah kulihat di foto yang dikirimnya via email, tapi untuk lebih meyakinkan diri, kucoba menghubungi HP-nya secara missed call.
“Hi.. Sinto!” Sapaku.
“Hallo..! Wah..! Kamu ternyata memang sangat cantik sekali, fotonya sudah cantik, tapi orangnya jauh lebih cantik lagi”, demikian puji Sinto sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.
“Ayo kita masuk, di dalam sejuk ber-AC”, ajaknya.
Kamipun masuk ke dalam memilih ruangan di dalam yang ada VIP roomnya. Walaupun VIP Room di Calvados bukan untuk pribadi karena bisa dipakai oleh tamu lain secara bersamaan, namun tempatnya lebih terisolir, apa lagi sore itu belum ada tamu lain selain kami, maka suasananya jadi lebih mendukung untuk kami berduaan saja.
Kami memesan menu dan minuman yang sama, steak dan orange juice. Sambil menunggu hidangan, kami mengobrol mulai dari yang sekedar basa basi sampai ke materi tulisanku di 17Tahun.com. Biasanya kalau orang lain sedang berduaan duduknya selalu berhadap-hadapan dengan dibatasi meja, tetapi kali ini Sinto sengaja memilih duduk di samping kananku.
Saat duduk, rok miniku jadi lebih terangkat ke atas lagi hingga memamerkan pahaku yang mulus sedikit berbulu tadi hingga membuat mata Sinto sering kali memandang ke bawah, apa lagi saat kupangkukan kaki kananku ke kaki kiri, membuat sebagian pangkal pahaku bagian luar terbuka lebih lebar lagi dan membuat mata Sinto yang duduk di samping kananku lebih rajin memandang ke bawah.
“Ayo..! Lihat apa matanya!”, godaku.
“Lia, terus terang aku jadi terangsang melihat kecantikan dan penampilanmu”, jawab Sinto terus terang.
Memang aku dapat melihat kejujuran kata-katanya dari tonjolan yang tersembul dari dalam jeans yang dia pakai. Kami makan sambil mengobrol memperbincangkan tulisanku di 17Tahun.com. Selesai makan, Sinto meminta tambahan segelas orange juice sebelum melanjutkan obrolan kami.
Tentang tulisanku di 17Tahun.com, kuceritakan bahwa itu memang semua pengalamanku, hanya pada tulisan pertama aku menambahkan sedikit variasi sehingga mengaburkan identitasku, karena aku masih belum berpengalaman dan masih takut, namun ceritanya semua benar-benar kualami. Untuk cerita yang kedua dan ketiga aku sudah tidak memakai variasi lagi karena aku sudah menikmati tulisanku.
Setiap kali menulis, aku merasakan suatu kelegaan karena dapat mengungkapkan apa yang pernah kualami. Sinto pun terkagum-kagum dengan penjelasanku. Sambil mengobrol, tiba-tiba tangan kirinya diletakkan di pahaku tepat di bawah rok miniku hingga aku dapat merasakan kulit telapak tangan kirinya menyentuh langsung pahaku. Aku merasakan ada aliran aneh menjalar dari pahaku naik ke atas dan berhenti di kudukku, aliran aneh tapi nikmat.
Melihatku diam saja, tangan Sinto lebih berani lagi, kini sudah mulai sedikit membelai, keempat jarinya mulai jari telunjuk hingga jari kelingking turun memasuki pahaku bagian dalam, ibu jarinya tetap berada di atas pahaku, aku merasakan sedikit geli namun aku menikmatinya.
“Hayoo..! Tangannya mulai nakal yaa..” seruku pura-pura merajuk.
“Lia.., pahamu mulus sekali hingga membuatku terangsang”, kata Sinto.
Belum sempat kujawab, tangan kiri Sinto berpindah ke tengkukku. Ditolehkannya kepalaku ke kanan dengan lembut. Begitu kepalaku tertoleh ke kanan, wajahnya sudah berada tepat di hadapanku. Mulutnya langsung menyerbu bibirku. Dengan penuh nafsu Sinto menciumku, bibirku yang tipis mungil dilumatnya, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku yang kubalas dengan hisapan dan sebaliknya juga kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya hingga kami pun saling berpagut.
Sementara posisi tangan kirinya di pahaku tadi digantikan oleh tangan kanannya, rupanya suasana restaurant yang sepi apalagi VIP Room, hingga tidak ada orang lain selain kami berdua, benar-benar dimanfaatkan oleh Sinto. Para waiters semua berada di luar saat telah selesai melayani kami, seakan mereka sengaja memberikan kesempatan pada kami untuk berduaan saja di dalam.
Tangan kanannya langsung diletakkan sedikit menyusup ke dalam rok miniku, jarinya bergerak meraba-raba kesana kemari membuatku horny sekali. Susupannya makin ke atas, bawahan rok miniku yang lebar membuat tangan kanannya leluasa bergerak di dalam rok miniku. Kedua kakiku makin merenggang menerima kenikmatan itu, CD-ku sudah mulai basah mengeluarkan cairan birahi dari liang vaginaku, aku mengalami horny berat.
Jari-jari tangan Sinto menyusup lebih ke atas ke arah pangkal pahaku, terus mengelus vaginaku dari luar CD hingga membuat CD-ku yang tipis dan mini makin basah saja hingga dapat kurasakan cairan sedikit kental mengalir deras dari dalam liang vaginaku. Bibir dan lidahku pun makin menjadi mengulum bibir Sinto karena menahan ledakan dahsyat yang seakan ingin meletus menyembur keluar melalui rahimku menuju liang vaginaku.
Jari Sinto kini mulai menyusup sela-sela CD-ku seakan ingin merasakan sentuhan langsung kulit dan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekitar selangkanganku. Jari Sinto menggosok-gosok bibir vaginaku dari atas ke bawah terus menerus sambil sesekali dengan sengaja disentuhkan ke klitorisku. Aku pun merasakan rangsangan yang hebat sekali hingga dadaku tertahan ke depan dan payudaraku tertempel di dada Sinto yang lapang. Ini juga membuat kenikmatan tersendiri bagiku, karena payudaraku yang makin keras akibat terangsang mengalami sentuhan langsung karena hanya dibatasi T Shirt yang tidak terlalu tebal.
Ke Bagian 2
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ilalang Patah 02
Sambungan dari bagian 01
Tanganku bergerak tanpa terencana mengelus lehernya. Ika membalas dengan menekan punggungku. Mungkin itu tanda dia terpengaruh. Ada urat kecil yang berdenyut cepat di lehernya. Matanya menutup membuka dengan ritme tidak teratur begitu tanganku mulai turun. Aku memperhatikan dada putihnya yang seperti membesar dan keras. Daerah itu kubelai sekelilingnya. Gerakan ini membuat tekanan di punggungku makin kuat. Perlahan tapi pasti, jariku menelusup ke balik bra-nya. Dia melenguh tertahan. Tangannya pindah memeluk leherku. Kakinya juga bergerak menyilang saling himpit. Tidak dapat menahan diri, bra-nya kugeser naik. Ah, bukit kembar putih seperti salak terkupas kulitnya itu amat memikat. Seperti inikah dada seorang gadis? desahku dalam hati.
Tiba-tiba Ika bergerak. Tangannya menutup dua bukit kembarnya.
“Risih dilihat-lihat,” ringisnya, tapi lebih mirip senyum.
Kususupkan tanganku ke belakang tubuhnya dan melepas pengait bra. Kulepas hati-hati, berharap dia tidak melarang. Ika menatap tajam begitu kuraih tangannya ke leherku. Kini dari pinggang ke atas, tubuhnya terbuka. Dalam keadaan begitu, Ika lebih mirip bayi cantik yang menggemaskan. Dia memperhatikanku melepas kaosku sendiri. Kami sudah sama-sama tidak berpenutup dada saat aku setengah telungkup di atas tubuhnya.
Kembali kukecup dua kelopak matanya yang segera menutup. Turun ke hidung hingga akhirnya menempel di bibirnya. Dalam posisi begitu, dadanya yang berukuran standar itu menempel lekat di dadaku. Sambil menyibak dan menggigit-gigit kecil bibirnnya, kugoyang pelan dadaku hingga bukit kembarnya juga ikut terbawa.
Kecupanku turun ke leher. Turun lagi dan akhirnya bibirku bermain-main di sekeliling gundukan dadanya. Belahan dada Ika memiliki aroma yang khas. Di situ kubenamkan wajahku dan menghirupnya dalam-dalam seolah ingin memindahkan seluruh aroma itu ke dadaku. Pipiku jadi terhimpit dua gundukan halus itu. Begitu lidahku bermain-main di puting susunya yang berwarna ungu kecoklatan dan tegang, dua tangan Ika menekan kepalaku seperti melarangku berhenti. Lenguhannya terdengar lagi, panjang pendek. Dua puting itu basah oleh lidahku.
Saat puting susunya kuemut sambil sesekali mengisap dan menggigitnya pelan, tanganku memilin, mengusap dan menarik-narik pelan puting yang satunya. Kali ini lenguhan Ika agak keras dan tekanan tangannya juga menguat.
Semenit kemudian, tanganku bergerak ke bawah sementara lidahku tetap di atas. Jari kananku berputar-putar dan mencucuk-cucuk pusarnya. Di situ Ika menggeliat-geliat dan merintih. Tanganku terus ke bawah, menarik reslueting turun. Sesaat ia tegang, tapi akhirnya pahanya membuka memudahkanku menurunkan resluiting. Ikat pinggangnya gampang dilepas hingga dengan cepat telapak tanganku kemudian mendarat penuh di antara pahanya yang membusung. Daerah yang terbungkus CD itu terasa hangat. Aneh, pikirku. Kok, panas?
Aku tidak berniat melepas celana panjang dan CD-nya. Telapak tanganku menempel lama di situ, merasakan kehangatan yang empuk dan ajaib itu. Tubuh Ika meliuk-liuk kusentuh di dua tempat begitu. Dia berusaha menahan rintihannya, tapi sesekali terlepas juga. Ekor mataku melihat dia berusaha membasahi bibir dengan lidahnya. Seperti kehausan.
Tidak cukup, telapak tanganku kutekan ke dalam hingga daerah yang gemuk itu seperti melebar, lalu jari tengahku membuat gerakan menggaris, ke atas ke bawah. Aku tahu, tepat di tengah gundukan hangat itu ada lekuk belahan memanjang. Lama-lama CD di lekukan itu basah dan agak lengket. Rintihan Ika mulai bergelombang. Daerah pusarnya juga turun naik seperti ombak. Napasnya mulai megap-megap.
Sambil tanganku terus melakukan gerakan turun naik dan sesekali mengilik bagian atas yang ada klentitnya. Pilinan, gigitan dan sedotanku pada puting susunya juga kuperkuat. Rasanya aku tidak habis pikir kenapa semua itu kulakukan. Mungkin pengaruh bacaan dan film yang pernah kutonton.
Sedikit kesadaran menghampiriku. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku berhenti. Tubuhku kutarik ke atas dan mengecup keningnya tulus. Geliatnya juga berhenti dan kelopak matanya membuka. Aku merasa dia penasaran. Tapi aku jadi kasihan. Rasa sayangku melebihi gairahku saat itu. Kulihat di keningnya ada bintik-bintik keringat. Ah Ika, desahku dalam hati. Aku mencintaimu, tapi kenapa aku melakukan ini padamu? Penuh rasa penyesalan, aku membaringkan tubuh di sampingnya. Lama kami terdiam dengan tatapan ke langit-langit kamar.
“Ika gemetaran Kak.” bisiknya parau.
Tanganku bergerak ke bawah menaikkan celana dan CD-nya.
“Maafkan aku, Ik.” bisikku pelan di telinganya.
Ia menengadah dan kudapati matanya berlinang.
“Ika berharap jadi adikmu Kak,” jawabnya, juga pelan. “Mestinya Ika tadi tidak buka baju. Jadinya begini deh.” dia meringis kecut.
“Kakak juga nggak bisa tahan diri. Penasaran, sih.”
“Kakak pernah begini?”
Aku menggeleng keras. “Cuma pernah lihat di film aja. Pernah juga baca novelnya. Jadinya ya, pengen rasa betulan, hihi.”
“Sama seperti tadi?” dia mendelik nakal.
Cepat-cepat kuraih bra dan kemeja lalu mengancingnya. Geloraku naik lagi begitu menyentuh dadanya kembali. Tapi aku menguatkan diri untuk tidak terpengaruh. Ika tersenyum-senyum menatapku.
“Ika tadi cuma pengen buka baju aja. Kalau Kakak terus ke bawah, Ika akan larang. Tapi kok Ika nggak mampu larang ya? Rasanya Ika keenakan. Pengen terus.”
“Itu bahaya banget, Ik.”
“Kok, Kakak bisa nahan diri ya?”
Aku tertegun. Iya ya? ulangku dalam hati.
“Mungkin aku ingat kamu akan jadi adikku.”
Aku mencium keningnya, lagi.
“Kalau Papamu tau, bukan cuma perang dunia yang terjadi. Armageddon, malah.”
Ika meringis. Dia meraih kaosku dan memakaikan ke tubuhku. Tangannya sempat mencubit putingku yang dilingkari bulu-bulu halus. Aku memekik kecil lalu mendorongnya. Kulumat sekali lagi bibirnya sebelum akhirnya melompat turun.
“Jam empat, Ik. Mandi yuk..!”
“Kakak duluan gih. Ika nyusul. Beresin sprei dulu.”
Kamar mandi kututup tapi tidak kukunci. Aku yakin Ika menyusul. Aku juga yakin dapat menahan diri menghadapinya. Kubuka pakaian dan menyisakan CD. Tidak biasanya aku mandi begitu. Tapi aku risih kalau polos di depannya. Ika menyusul dengan lipatan handuk dan beberapa potong pakaian. Cepat-cepat aku masuk bathtub. Ika juga menyisakan CD-nya dan masuk. Aku menelan ludah melihatnya.
“Tubuhmu indah Ik,” sambutku meraih pinggang dan menuntunnya duduk membelakangiku.
“Kamu juga atletis, Kak.”
Aku menyiram dan mulai menyabuninya. Menyentuh daerah dadanya, Ika rebah di dadaku.
“Ihh..!” tiba-tiba ia memekik.
Tangannya mencari-cari bagian bawah tubuhku. Sebelum kusadari, ia sudah memegang daerah rahasiaku dan menggenggamnya.
“Jangan..!” sentakku panik. “Bahaya Ik.”
“Hihihi. Besar, ya..” ia terkikik dengan wajah merah melepas genggamannya. “Tegang, ya..?”
Aku tahu dia penasaran. Tapi ia tidak boleh kubiarkan. Bisa-bisa aku tidak mampu menahan diri.
Melampiaskan rasa penasarannya, dia berbalik menunduk di dadaku dan mengecup kuat hingga membekaskan tanda merah. Sesaat aku tergetar. Kususupkan kepalaku ke dadanya dan balas mengecup satu setengah senti dari putingnya. Ika menggeliat-geliat. Ditekannya kepalaku kuat-kuat ke dadanya. Kutau dia terangsang hebat. Timbul pikiran untuk menyusupkan tanganku ke balik CD-nya. Tapi aku khawatir tidak dapat menahan diri. Akhirnya kubalikkan lagi tubuhnya. Kusabuni seluruh tubuhnya pelan. Tanganku gemetar di pangkal paha. Cepat-cepat kupindahkan ke dadanya. Daerah lembut kenyal itu kubelai sambil sesekali menekan. Ika tersenyum memeluk leherku. Kulihat dia keenakan tapi dapat bersikap wajar.
Tidak puas-puasnya aku memandang dan membelai dada indahnya. Ia menyadari itu dan mengatupkan mata.
“Gadis yanng sempurna,” ucapku dalam hati tidak bosan-bosannya.
“Ika seperti mau pipis, Kak.” bisiknya tiba-tiba.
Pinggul dan betisnya bergerak-gerak, sementara lengannya erat menekan lenganku.
“Eh?!” Aku tertegun kaget. Mau pipis? Jangan-jangan dia mau orgasme. Menurut yang kubaca, orgasme adalah puncak kenikmatan seks.
Weeh, kulihat gerakan Ika semakin tidak terkendali, sementara tanganku tanpa sadar menekan dan menggoyang buah dadanya agak cepat. Dua jari telunjukku menjepit putingnya.
“Aaah.. Emmh.. Kak,” dia merintih membuat tanganku bergerak turun ke bawah. Di segitiga pengamannya, telapakku menekan kuat. Itu membuatnya makin menggelinjang. Aku tambah yakin dia mau orgasme.
Tangan kanannya pindah ke tepi, mencengkeram bathtub, sementara yang kiri turun menempel di tanganku yang masih menekan CD-nya. Ditempeli begitu, jari tengahku kugerakkan membentuk garis ke atas dan ke bawah. Tangannya juga ikut terbawa. Ah, rintihan dan geliat tubuhnya mempengaruhi ‘adek kecil’-ku yang terbawa gerakan pinggulnya. Rasanya seperti mau pipis juga. Hey, seperti inikah rasanya kalau mau orgasme? Saya sudah berulang-ulang orgasme lewat mimpi. Tapi nyata-nyata seperti ini adalah hal baru. Jadi ini adalah pengalaman pertama.
Kulihat kening Ika berkerut dengan kepala yang bergoyang gelisah ke kiri dan kanan. Tangannya yang menempeli tanganku kunaikkan ke dada yang satunya, lalu kembali ke bawah. Dengan kebebasan begitu, jari tengahku kugerakkan makin cepat dengan tekanan yang lebih kuat. Tangan yang di dada juga bergerak meremas memilin makin gemas.
Gerakan Ika tambah liar di antara rintihannya yang tertahan-tahan. Aku juga merasa di tengah tubuhku seperti ingin melepas sesuatu yang mendesak-desak. Tubuhku terasa bergetar, entah karena getaran tubuhku atau getaran tubuh Ika.
“Emh.. Mhh.. Mhh.. Kaak..!”
“Yaa.. Emhh.. Emhh..” rintihan Ika menulariku.
Keringat keluar deras di keningnya dan keningku. Matanya tertutup rapat dengan hidung kembang kempis dan napas megap-megap. Aku merasa tidak jauh beda dengannya.
Tiba-tiba di tengah gerak tanganku yang turun naik, Ika mencengkeram kuat tanganku di bagian atas CD-nya. Kupikir itu daerah klit-nya, sebab terasa ada tonjolan kecil seperti butir jagung, tapi lebih kecil lagi. Kupaksakan turun agak ke bawah dan menekan kuat di situ. Gerakan tubuh Ika membuatku terangsang hebat. Tiba-tiba tangan kiriku mencengkeram dan meremas kuat bukit dadanya, sementara jari tengahku tertekan kuat di belahan paling bawah CD-nya. Aku menggeletar hebat dipengaruhi sesuatu yang menderu deras di ‘adek kecil’-ku.
Aliran deras itu mendesak kuat dan.. jebol! Aku megap-megap ingin berontak. Gerakan itu menyebabkan jariku tegang dan menusuk kuat hingga masuk hampir setengahnya bersama CD Ika. Saat itu juga Ika memekik gemetar dan menggelepar-gelepar. Rupanya dia tiba di puncak menyusulku.
“I.. Ik.. Ika.. pipis Kaak..! Ah.. ah.. aahh..!”
Tanganku seperti mau patah dicengkeramnya. Di antara sisa-sisa orgasmeku, aku merasa jari tengahku panas dijepit kuat oleh belahan agak bawah di antara pahanya. Ada kedutan yang keras. Sungguh kuat dan menjepit. Lama-lama kian melemah.
Ika dan aku sama-sama terkulai lemas. Kami menentramkan perasaan dan mengatur napas yang masih memburu. Tiga menit kemudian, Ika berbalik memelukku, menelusupkan kepalanya di leherku.
“Ika lemas, Kak.” bisiknya lemah.
Aku menggigit-gigit bahunya pelan. Coba me-replay perasaan yang kurasakan. Ajaib nan nikmat.
“Ika seperti terbang,” bisiknya lagi. “Enak banget.”
Aku terdiam. Ika mungkin tidak tahu kalau aku juga mencapai klimaks. Mungkin karena pengaruh geliat tubuh dan rintihannya. Atau mungkin karena sudah tegang sejak beberapa jam lalu. Atau karena yang kuhadapi adalah Ika, gadis yang telah lama memikatku ini. Atau mungkin karena ketiga-tiganya.
Ika menggeliat linglung, melepaskan diri dari dekapanku. Aku ikut bangkit. Kuraih dan mendekap tubuhnya di bawah shower yang mengguyur kami.
Jam lima sore di teras, kulihat mata Ika yang malu-malu seperti dipenuhi bintang. Dengan rambut masih agak basah begini dia kelihatan lebih cantik. Duduk bersisian begitu, membuat beberapa tamu hotel mencuri-curi pandang ke arah kami. Aku senyum-senyum bingung, tidak tahu persis apa yang ada di benakku. Di sisi lain aku bahagia, di sisi lain aku merasa malu dengan perasaan berdosa. Ah, sepertinya rasa malu lebih mendominasi perasaanku.
“Kita telah melakukan kesalahan, Ik.”
“Jangan disebut-sebut lagi Kak. Ika malu.”
“Iya, tapi mengenai ini Kakak nggak bakal lupa.”
Ika tidak menjawab, hanya mencubit pahaku pelan.
Kami kembali pulang hanya dengan satu trophy. Ika meraih nomor tiga dalam LKTI itu. Aku hanya dinilai berbakat. Aku memang gagal, tapi yang kualami dengan Ika lebih bernilai daripada sebuah trophy. Kuakui itu membuatku merasa dikejar-kejar perasaan malu dan berdosa, tapi di sisi lain itu adalah hal terindah sejak aku mengenal dunia.
Di sekolah, kami memang akrab. Tapi tidak beda jauh dibanding hari-hari sekolah sebelumnya. Malah terkesan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal aku ingin sekali dapat mendekapnya lagi, walaupun hanya menghirup aromanya.
Suatu hari ia datang ke rumahku. Aku senang sekaligus bingung melihat wajahnya disaput kabut.
“Papa dapat promosi Kak. Terpaksa pindah dan Ika harus ikut.”
Berita itu seperti memaku tubuhku ke kursi. Aku hanya terdiam dan tertegun menatapnya. Air matanya turun dan membasahi pipi mungilnya. Khawatir kepergok Mama, aku hanya mengecup dan memeluknya singkat.
Itu hari terakhir aku bertemu dia. Sampai lima bulan kami masih berkirim surat. Tapi setelah itu, setelah dia mengatakan akan dipindahkan lagi, aku dan Mama juga pindah. Pamanku di Manado yang panggil. Beliau pengusaha sukses. Sampai aku selesai SMU, menyelesaikan diploma teknik sipilku, kerja di kontraktor tiga tahun dan kini sedang cari S1 di teknik arsitektur sebuah Universitas swasta di Ujung Pandang, aku tidak dengar lagi beritanya. Dimanakah kau Ika?
Ika, cerita ini khusus untuk kamu. Tahukah kamu bahwa aku tidak mau menjadi kakakmu? Aku ingin kamu jadi istriku! Tahukah kamu bahwa tidak ada nama gadis lain selain kamu di hatiku? Di lebaran kemarin ini, aku ingin minta maafmu atas kesalahanku waktu itu. Andai kamu sekarang sudah jadi milik orang lain, masih bolehkah kita bertemu walau hanya sekedar menatap dan mencium aroma harum rambutmu? Ah, dimanakah kau Ika sayang..?
TAMAT
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ilalang Patah 01
Pertama melihatnya, hatiku seperti hilang setengah. Energiku down sampai 25 persen hingga harus bertumpu di kursi. Tatapanku menghujam tepat di matanya yang menatapku. Lalu tatapanku berpendar ke seluruh permukaan wajahnya. Tak terkata betapa memikatnya Tuhan menciptakan gadis kecil ini. Ibarat hasil maha karya sempurna yang tak ternilai. Mungkin yang dapat kugambarkan hanya warna pipinya yang putih dengan semburat rona ungu dan bibirnya yang merah bak jambu air yang menantang untuk digigit.
Aku dibebani tugas menjadi ketua panitia penyambutan siswa baru. Padahal aku baru juga naik ke kelas dua. Seandainya dapat memilih, aku memilih tidak ingin jadi panitia apapun. Aku lebih suka memanfaatkan waktu luang untuk mengurus kebun coklat peninggalan ayah yang tidak seberapa. Lumayan untuk tabungan dan keseharianku dengan Mama. Tapi tugas adalah tanggung jawab, apalagi ini dengan restu Kepala Sekolah. Repotlah aku mengurusi dua ratusan anak-anak yang baru melepas seragam putih biru itu. Dan saat itulah dia datang!
Melihatnya, aku seperti melihat sesuatu yang seperti ‘milikku’. Seandainya dia sebuah mainan, maka aku sangat ingin memilikinya. Andai dia permen, maka aku ingin mengemutnya. Atau misalnya dia boneka, maka aku ingin memeluknya. Atau mungkin dia aroma udara, maka aku ingin menghirupnya dalam-dalam hingga dia tinggal sepenuhnya dalam diriku.
Tapi keinginan itu tinggal keinginan. Dia seperti bulan yang mustahil kuraih. Teman-teman mengakui aku menarik. Tapi semua itu hampir tidak ada artinya dibanding dia. Dia cantik lahir bathin, kaya dan putri tunggal Bupati, serta cerdas. Kecerdasannya dapat dilihat saat setahun kemudian kami sama-sama masuk final Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional wilayah timur.
Masuk final berarti kami akan melakukan perjalanan dan harus menginap sedikitnya dua malam untuk masing-masing dua kali persentase. Di hotel, kami mengambil dua kamar. Satu untukku dan Pak Yamin, satunya lagi untuk ibu Hana dan dia. Lucunya, ternyata dua official kami, Pak Yamin dan Bu Hana sementara dalam proses ’saling mendekat’.
Melewati dua hari yang melelahkan, kami memutuskan menambah waktu dua hari untuk menunggu pengumuman hasil. Mungkin juga menjaga jangan sampai ada pemberitahuan berikut. Tapi menambah waktu berarti ada waktu jalan-jalan. Lalu siang jam satu, official kami mengajak nonton di Twenty One. Tapi kurasa itu hanya basa-basi. Aku menolak dan lebih memilih jalan dengan Ika (nama gadis itu) lihat-lihat buku di Gramedia. Ika sepakat, tapi setelah mereka berangkat, Ika malah menerobos ke kamarku.
“Aku mau tidur di sini,” ucapnya ringan.
“Cewek masuk kamar cowok nggak baik dilihat orang,” celetukku asal.
Ia tidak menjawab. Malah mengunci pintu dan memasukkan anak kunci ke sakunya. Tubuhnya dihempaskan ke kasur. Nampaknya dia betul-betul ingin tidur.
Tidak lama dia pulas dengan irama napas yang teratur. Wah, tidur kok di sini, pikirku. Dia juga kan punya kamar. Kalau begini, aku tidak bisa keluar. Aku tidak mungkin mengambil anak kunci di sakunya. Apalagi di saku depan. Memikirkannya saja sudah tidak mungkin.
Menunggu setengah jam lebih, aku ikut mengantuk. Mungkin kami memang butuh istirahat setelah dua hari memforsir tenaga dan pikiran. Hati-hati aku berbaring di sebelahnya setelah sebelumnya memasang guling sebagai pembatas. Rasanya deg-degan juga tidur di sebelah gadis yang telah lama memikat hatiku ini. Tapi perasaan ingin ‘memilikinya’ telah lama kukubur. Mungkin itu yang membuatku cepat terlelap.
Aku terbangun setelah merasa pipiku hangat dan pinggangku terbebani sesuatu. Aku kaget bukan kepalang menyadari pipi Ika yang menghangatkan pipiku. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Terasa betul napasnya hangat. Di bawah, betisnya melingkari pinggangku. Pangkal pahanya bersandar tepat di pinggang sebelah kiri. Hangat.
Aku grogi bukan main. Seumur-umur, baru ini pipiku berdekatan dengan pipi cewek. Badanku rasanya bergetar. Mungkin kalau cewek lain, aku masih bisa tenang. Tapi ini, Ika! Gadis yang telah mencuri setengah dari hatiku. Tak bisa berbuat lain, aku diam saja. Tapi menghayati ke-’diam’-an dalam suasana begitu, menimbulkan perasaan intim di hatiku. Tidak mampu kutahan, tanganku bergerak membelai rambutnya yang hitam lebat dan beraroma.
Aromanya! Ah, ini menyebabkan aliran darahku mengalir deras dan berpusat di tengah tubuhku. Ada yang tegang di antara degup jantung yang cepat. Aku mulai mengerti diriku saat lengan Ika tiba-tiba mendekap lebih erat. Ia menyeruakkan kepalanya di leherku. Kulirik matanya, kelopaknya tertutup. Ia tetap tidur.
Lamat-lamat kupikir, boneka yang kudamba itu kini dapat kupeluk dan aroma udara itu kini dapat kuhirup! Sekilas peringatan bahwa ini bukan sewajarnya, aku langsung menarik tangan. Saat itu juga kelopak mata Ika berkerjap-kerjap membuka. Ekspresi pertamanya adalah bingung. Serta merta dia menarik diri. Mungkin sadar kalau dia yang mendekapku, dia mendesah lirih dengan wajah memerah.
“Maaf Kak. Ika kira Mama.”
Tadinya aku ingin minta maaf. Tapi melihat ekspresinya, aku jadi ingin mencubitnya. Tapi aku tidak berani. Aku malah tertawa sampai badanku terguncang-guncang.
“Puas ya, bikin orang kayak guling,” candaku.
“Ih, Kakak!” teriaknya tertahan.
Lalu tanpa kuduga dia kembali mendekapku dan menyembunyikan wajah di leherku, sementara kakinya disusupkan di antara kakiku yang miring. Aku kegelian. Tapi satu yang tidak kuperhatikan dari tadi adalah sesuatu yang empuk menyentuh dadaku. Dua bukit kembar itu terasa betul. Kedekatan yang hampir menyatu ini betul-betul membolak-balikkan pikiranku. Darahku yang tadi mengalir deras, kini tambah deras. Aku diam menikmati sensasi baru itu.
Ekor mataku menangkap gerak jam dinding. Jam dua lewat empat puluh menit. Hmm, mereka pasti pulang sore atau malah malam, pikirku mengingat dua official kami. Tidak mungkin dua orang yang lagi kasmaran itu hanya nonton saja. Paling disambung JJS (Jalan-Jalan Sore) atau camilan entah di mana.
Sementara berpikir, tanpa kusadari tanganku bergerak memeluk pinggang Ika. Tubuhnya seperti mau hilang dan menyatu dengan tubuhku. Aku memang lebih tinggi. Dikeloni begitu, Ika malah tambah merapatkan tubuhnya.
“Hihihi, ah,” aku kegelian merasa hembusan napasnya di leherku. Bulu romaku merinding.
“Geli, ah..” ringisku sambil mengubah letak kepalanya. Tapi jariku tidak sengaja malah menyentuh bibirnya.
Spontan dia menengadah dengan mata berkerjap-kerjap indah. Sungguh, caranya menatap dari jarak sepuluh senti itu membuatku ingin menyentuh bibirnya lagi. Tapi tatapan jernihnya sangat polos dan mengundang perasaan sayang.
Perlahan gelora dalam tubuhku berkurang. Tinggal degup jantungku yang malah bertambah. Rasanya aku seperti sedang memandang seorang ‘adik’ yang hanya untuk disayang. Sedikit beda barangkali, karena ada juga perasaan ingin ‘menyentuhnya lebih dalam’.
Ika masih menatapku saat jariku bergerak menyentuh bibir mungilnya. Kubelai pelan kelopak yang mengatup itu penuh perasaan. Lembut, kenyal dan agak lembab. Bibir yang sempurna, bisikku dalam hati. Tiga kali kuusap-usap ke kiri dan kanan hingga sesekali tersibak, Ika menggeser naik badannya hingga wajah kami hampir sejajar. Lagi-lagi kurasakan dadanya menekan erat di dadaku. Kembali getaran aneh menyelimutiku. Kulirik dadanya, ia ikut melirik dan mendapati kancing kemeja atasnya terlepas.
“Eh..?” dia tersentak.
Ternyata kancingnya tanggal. Kembali aku terguncang oleh tawaku sendiri. Wajahnya memberenggut kesal. Dia membalik badan membelakangiku.
“Peluk Ika dong Kak,” pintanya sambil meraih lenganku melingkari lehernya.
“Ika enak tidur kalau dipeluk begini,” sambungnya.
Wah! Dipeluk? Aku gregetan bukan main. Tadi saja sudah bikin gemetar, padahal tidak sengaja. Lha, ini?
“Kamu sering dipeluk begini?” tanyaku, terlepas begitu saja.
Diam-diam ada perasaan lain di hatiku. Seperti tidak rela dia dipeluk orang lain. Hmm, rasa cemburukah ini?
“Iya, tapi sama Mama aja. Papa ngomel-ngomel kalau Ika minta dikelonin ama dia. Heran, Papa kok gitu ya?”
“Ya, tentu aja,” ringisku, tapi hanya dalam hati.
Ini anak polos amat, sih? gerutuku. Hampir 16 tahun masih ‘bloon’. Mungkin dia belum banyak tahu seperti aku yang juga masih hijau.
“Kakak belum pernah dengar kamu pacaran, Ik?” tanyaku mengikuti caranya menyebut diriku ‘kakak’. Tanganku menyentuh pipinya. Uh, halus dan nyaman sekali!
“Bakal ada perang dunia kalau Papa dengar Ika pacaran. Makanya Ika nggak mau pacaran. Lagian, perasaan, Ika belum butuh tuh. Kalau.. Uffhh..” Ika meniup tanganku yang turun ke bibirnya.
Tanganku disorong ke bawah, tapi justru menyentuh bukit kembarnya yang empuk.
“Eh?!” spontan ia memekik pelan. Tubuhnya dihadapkan ke badanku.
“Kak.” bisiknya dengan tatapan menghujam mataku. “Kok Ika merinding ya?”
“Merinding?”
“Iya. Tuh, lihat..!” dia menyodorkan lengannya.
“Waktu dada Ika kesentuh tadi, badan Ika seperti kena stroom. Kenapa ya?”
“Masak sih?”
“Iya. Coba, satu kali lagi.”
Wah! Menyentuh dadanya? Ini sih bahaya! Tapi aku tidak dapat berpikir lagi. Tangan kananku bergerak menyentuh gundukan padat berukuran standar yang masih terbungkus itu. Tapi yang kurasa tidak seberapa kecuali bukit berlekuk. Coba kutekan sedikit. Hm, kenyal sekali.
“Tuh, lihat. Merinding kan?” Ika menatapku. “Tapi menyenangkan, hihihi.”
Dia mengetatkan pelukannya hingga pipi kami bersentuhan lagi. Sepertinya dia merasakan getar kewanitaannya dan ingin menikmatinya. Bukit dadanya ditekan kuat ke dadaku. Terdengar suara napasnya agak memburu. Tapi itu bukan hanya napasnya. Napasku juga menjadi pendek-pendek seperti kekurangan oksigen. Baru kusadari kalau sesuatu di bawah perutku menegang dan terasa sakit karena terkungkung celana. Aku menarik badan sedikit dan memperbaiki posisi. Ika memperhatikan wajahku yang meringis.
“Kenapa Kak?”"Nggak. Cuma bikin nyaman aja,” elakku.
Aku tidak mau dia tahu kalau aku sedang tegang.
“Kamu pernah dicium, Ik?”
“Udah. Sering, malah. Di pipi. Eh, Ika pernah lihat orang ciuman di bibir. Hani juga ama Mila pernah begitu. Enak, kali ya?”
“Nggak tau. Nggak pernah, sih.” Aku tersenyum kecut. “Mau coba?” tanyaku, asal.
Entah dari mana ide konyol itu.
Ika berpikir sesaat lalu mengangguk. Wah, busyet! Kulirik matanya menutup. Aku coba mengingat-ingat bagaimana cara orang berciuman. Bayangan film dan novel-novel yang pernah kubaca tidak dapat tergambar jelas. Akhirnya aku berimprovisasi membayangkan seandainya posisiku berada di posisinya, kira-kira apa yang menyenangkan?
Mungkin merasa kelamaan, mata Ika membuka lagi. Saat menutup kembali, kelopak matanya itu yang kukecup pertama baru kemudian mencari bibirnya. Terasa napasnya menghantam leherku. Lengannya menekan erat lenganku. Asyik juga, pengalaman mendebarkan nih, pikirku sesaat.
Dua kelopak bibirnya ingin kuemut sekaligus. Tapi tidak. Pertama menelusuri kelopak atas dan kelopak bawah dengan lidahku, sekedar membasahi. Setelah menempel hangat dengan bibirku, baru aku menyibaknya. Lidahku sedikit masuk dan menggigit-gigit pelan sambil sesekali menghisapnya. Bibir Ika yang tipis penuh dan lembut itu terasa segar dan manis. Ika sepertinya cepat paham. Ia melakukan apa yang kulakukan. Tapi posisi miring membuatku kram. Setelah melepas lenganku dari bawah tengkuknya, aku menggerakkan badan ke atasnya, tapi tetap masih miring. Bukannya membantu, dia malah mendorong tubuhku dan menarik diri agak jauh. Ia bangkit tersenyum sambil berkerjap-kerjap indah.
“Ternyata rasanya seperti itu ya..?” ucapnya tanpa memandangku.
Tatapannya menerawang seperti kembali menghayati apa yang baru dirasakannya. Suasana itu membuatku diam. Aku merasa bagai dalam mimpi. Sungguh, ini pengalaman pertama yang takkan pernah kulupa, sampai kapan pun.
“Apa yang kamu pikirkan, Kak?” suara Ika terdengar normal.
Melihat caranya menatapku, aku sadar kalau seluruh hatiku sudah menjadi miliknya. Aku mencintaimu Ika, batinku.
“Kamu cantik,” elakku, bernada canda.
“Mhuumm..”
Tok! Tok! Tok!
Eh?! Refleks kami menoleh ke pintu. Jangan-jangan.. mereka, wah! Dengan anggukan, Ika mengerti aku menyuruhnya membuka pintu sementara aku merapikan bantal dan sprei yang kusut.
Syukur! Ternyata resepsionis hotel. Laki-laki setengah baya itu tersenyum melihat baju kami yang kusut. Tapi dia tidak perlu curiga berlebihan. Aku yakin dia pasti tidak akan berprasangka kami berbuat yang aneh-aneh.
“Ada telepon dari official kalian,” ucapnya santai. “Mereka akan pulang malam. Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh lah.”
Aku mengangguk sebelum ia menarik daun pintu. Ika hanya menggerendelnya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Hampir setengah empat, sekarang. Di pinggir jendela aku menemukan kesadaranku kembali dengan utuh, merasa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan.
“Tidak baik kita berduaan di kamar begini.” ucapku tanpa berani memandangnya.
Tapi aku merasa yakin Ika memperhatikanku. Dia mendekat dan menatap persis di depan mataku. Kulihat ada kabut di pandangannya, tapi dalam waktu singkat berubah penuh bintang. Lenganku ditarik dan kami duduk di tepi tempat tidur. Apa lagi nih, tanyaku dalam hati. Tapi dia hanya tersenyum-senyum dalam sekian detik.
“Ika merasa punya seorang Kakak, sekarang. Mmm.. Kakak kandung, maksud Ika,” ucapnya bergetar.
Aku ingat dia anak tunggal. Tapi jadi kakak kandung? Tunggu dulu!
“Mau kan, Kak?”
“Apa kewajibannya?”
“Kewajiban? Yee..” Ika menggelitikku.
Tidak tahan, aku balik menggelitiknya. Jadinya tempat tidur berantakan.
Kami bermain seperti anak kecil. Sekali waktu dia menindihku, sekali waktu aku yang menindihnya. Kecapekan, Ika merebahkan tubuhnya di dadaku. Wajah kami sedemikian dekat hingga hembusan napas kami bertabrakan. Seperti menghadapi kaca kristal yang rapuh, jemariku bergerak hati-hati merapikan anak-anakan rambut di keningnya yang berkeringat kecil.
“Kewajiban kakak yaa.. keloni Ika begini.” ucapnya tiba-tiba.
Senyum tipisnya seperti penuh harap. Aku jadi ingat sesuatu.
“Munurutmu kita bisa menang di LKTI ini?”
Ika mengerutkan kening. “Nggak tau. Ika nggak yakin sih. Tapi Ika nggak nyesel ikut ini. Kan malah dapat Kakak, hihi..”
“Rival kita berat-berat. Kakak juga nggak yakin.” Aku ikut pesimis.
Sebuah pikiran konyol melintas. Dua tanganku turun ke bawah sikunya hingga menyentuh bukit kembarnya dari sisi luar. Ika menatapku tajam.
“Ik.., Kakak juga gemetar menyentuh ini,” bisikku hampir tidak kedengaran.
Aku ingat dia tadi bilang merinding, entah kalau kali ini. Dia menggeser tubuhnya, berbaring di sebelahku. Lengan kiriku terhimpit tepat di dada kanannya. Khawatir dia tidak nyaman, kutarik lenganku. Tatapannya kali ini tidak terfokus. Masih penasaran, tangan kananku menyentuh dada kirinya yang membusung. Agak grogi, tapi aku menguatkan hati. Ika diam saja. Aku coba mengelus bukit kecil yang masih terbungkus itu. Tapi dia bangkit duduk.
“Ika lepas kemeja ya? Ika pengen tau bagaimana rasanya.”
Tanpa tahu harus menjawab apa, kubiarkan dia melepas kancing kemejanya satu persatu. Jantungku berdegup kencang melihat pemandangan indah kulit putih Ika yang terbuka perlahan. Dadanya masih terbalut bra putih, tapi itu cukup membuat ‘adek kecil’-ku terbangun. Ia melempar kemejanya ke kursi lalu kembali rebah di sampingku. Matanya berbinar-binar. Karena rasa penasaran? Ah, aku tidak punya waktu memikirkan perasaannya. Aku sendiri sibuk menata perasaannku yang bergolak.
Bersambung ke bagian 02
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ide Busuk Rudi
“Santi, panggil karyawan baru kita.” Ujar seorang direktur kepada sekretarisnya.
Di depan meja bos itu duduklah seorang wanita cantik yang tak lain adalah istri bos sendiri, Bu Santi.
“Pa, sudah saya bilang AC kita ini sudah lama tak berfungsi, kenapa tidak dibenarkan juga?” Ujar wanita itu dengan pelan.
“Sabar Ma, besok juga tukangnya datang, kalau Mama kepanasan buka saja kemeja Mama.”
Lalu dengan terburu-buru wanita itu melepas kemejanya dan ditaruhnya di sebuah sofa empuk di depannya. Terlihatlah tanktop berwarna merah muda yang sangat kontras sekali dengan tubuh wanita itu. Dan setiap pria yang melihatnya pasti akan menelan ludah karena tidak tahan. Payudaranya yang berukuran 36b itu yang terbungkus BH bermotif berbunga seakan-akan ingin keluar dari tanktop itu. Sungguh pemandangan yang indah. Setelah itu masuklah seorang pemuda yang berumur sekitar 40-an dengan kulit hitam dan kumis yang tebal.
“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dengan sopan.
“Rudi, saya membutuhkan file-file yang kamu ketik sekarang juga, tapi kenapa kamu malah menguncinya dengan password?” Tanya direktur itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah laptopnya.
Kantor itu memang berteknologi tinggi sehingga semua ketikan dari sekretarisnya hanya dikirim lewat file-file saja.
“Maaf pak, boleh saya lihat?”
Lalu direktur itu pun mempersilahkan Rudi duduk di kursinya.
“Sebentar Rud saya ingin ke kamar mandi sebentar” Ujar bos itu.
Dalam ruangan itu tinggallah Rudi si manusia bejad yang haus sex dengan istri bos yang masih muda dan cantik itu. Tentu saja mata Rudi tak pernah lepas dari tonjolan payudara di hadapannya itu. Berkali-kali ia menalan ludah melihat kedua payudara yang indah itu. Dia membayangkan bagaimana kalau dia bisa meremas-remas dan menghisapnya.
Tentu dia tak akan puas satu ronde saja. Tapi itu adalah istri bosnya sendiri. Sambil terus mencoba membongkar password yang dia sendiri sudah lupa, ia terus memperhatikan kedua paha mulus milik istri bos itu yang sedang membaca majalah sehingga tidak tahu bahwa ada mata liar dan nakal sedang menatap tubuhnya dengan penuh nafsu birahi. Sesekali wanita itu menyilangkan kakinya bergantian dan paha mulus itu sangat menggoda. Nafsu pria bejad ini. Dan eh ternyata dia ingat passwordnya dan berhasil membukanya. Tapi setelah dia menatap tubuh wanita yang ada di depannya, dia langsung menemukan ide bagus untuk menikmati tubuh indah istri bosnya itu. Dan beberapa lama kemudian masuklah si bosnya itu.
“Kenapa lama sekali sih Pa? Saya sudah bosan nih nunggunya. Sudah dulu ya Mama mau pulang dulu.” ujar wanita itu dengan sedikit kesal.
“Maaf Ma, tadi itu ada sekretarisku yang komputernya hang sehingga aku harus ikut turun tangan. Bagaimana Rud, apakah kau sudah bisa membuka file-file itu?”
“Wah bos saya butuh program pembongkarnya, Saya sudah lupa passwordnya nih.”
“Wah bagaimana sih kamu, sudahlah saya ada programnya nanti malam saja kau kerumahku.”
“Baik bos.” Ujarnya sambil tersenyum licik.
“Sini Rud, saya ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Ada apa bos?” tanya Rudi dengan penasaran.
“Bagaimana sih supaya saya mempunyai tubuh seperti kamu, tegap dan kekar? Istri saya selalu ingin tubuh yang kekar dan bukan tubuh gendut seperti saya ini. Istriku tidak mau saya ajak begituan tiap hari. Padahal setiap malam saya selalu horny.”
“Wah bagus dong kalau begitu.” Ujarnya dalam hati.
Rudi ini memang anak buah kesayangan bos jadi kalau ada apa-apa dia selalu curhat padanya.
“Begini bos, kalau anda ingin mendapatkan variasi yang berbeda dalam bersetubuh, anda harus merangsang istri anda dulu. Nih kebetulan saya bawa bubuk perangsang, masukkan ke dalam minuman istri bos dan dijamin dia akan seliar macan ketika di ranjang.” Otak busuk Rudi terus berputar.
“Wah, terima kasih ya Rud.”
“Saya mau keluar sebentar ya, tolong kau matikan komputerku.” Perintah bos itu.
“Nah sekarang tinggal menjalankan ide utama.” Pikir Rudi.
Lalu dia mengeluarkan sebuah disket dan lalu memasukkannya ke komputer bos itu.
“Lalu pukul 21.00 malam ini. Ya sudah selesai tinggal menjalankan rencana terakhir dan wanita itu akan dalam pelukanku.”
Benar-benar busuk rencananya. Dengan keahliannya bermain komputer, dia mendapatkan wanita-wanita cantik. Bagaimana bisa?
Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 dirumah bos yang mewah itu, sang istri yang cantik sedang duduk membaca majalah kesukaannya dan beberapa saat kemudian terdengarlah bunyi bel, Ting-tong.
“Eh papa, ayo masuk pa.” Sang istri menyambut bos itu dengan bahagianya dan makan malam bersama.
Si bos sudah tidak tahan lagi dan ia memasukkan bubuk itu ke dalam minuman istrinya dan sejam kemudian ia akan merasakan hangatnya tubuh wanita cantik nan seksi itu. Lalu dengan tidak sabar masuklah bos itu ke dalam kamarnya. Lalu beberapa saat kemudian masuklah sang istri dengan wajah memerah dan segera mengganti pakaiannya dengan daster tipis yang memamerkan puting payudaranya. Karena ia tidak ber-BH. Lalu si bos langsung mencium lehernya yang jenjang itu, meraba-raba payudara istrinya yang montok dari luar dasternya sambil sesekali meremasnya. Ah.. Ah..
“Benar-benar hebat obat si Rudi” Pikir bos itu.
Lalu si bos melorotkan dasternya hingga lepas dan meraba-raba paha mulus sang istri. Sambil mulutnya mengulum dan menghisap payudara kiri istrinya.
“Ahh.. Pa..” Istrinya menggelinjang keenakan. Dan putingnya sudah semakin mengeras karena kulumannya. Lalu si bos memasukkan jari-jarinya ke dalam vagina istrinya.
“Ahh.. Ahh.. Paa..”
Tak lama kemudian berderinglah HP si bos dan di layarnya tertulis no HP sekretarisnya. Karena si bos lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarga, ia pun mengangkat HPnya.
“Bos, semua komputer kita terkena virus! File-file tidak dapat dibuka!” teriak wanita itu dengan panik.
“Apa??” Teriak si bos yang membuat istrinya kaget.
“Baik saya akan langsung ke sana.”
“Ada apa sih pa? Nanti saja deh, aku lagi horny nih.”
“Nanti saja Ma, ini sangat penting dan ini menyagkut masa depan perusahaan kita.”
Sambil mengambil satu CD antivirus, bos itu pun melesat dengan mobilnya. Dan sesaat kemudian terdengarlah bunyi bel, yang tak lain adalah Rudi. Ting tong.
“Maaf bu, saya disuruh bapak mengambil program pembongkar password di komputer bapak.”
Lalu istri bos itu menuntun masuk si Rudi ke komputer yang ada dalam kamar mereka. Sambil berjalan, Rudi terus memperhatikan tubuh mulus istri bos yang memakai piyama dan ketika berbicara dengannya ia dapat melihat kedua puting payudaranya yang berwarna merah muda. Ah.. Seksi sekali tubuh bosku ini. Ujarnya dalam hati. Dan ia terus mengikuti istri bos itu masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar ia terus memperhatikan lekuk tubuh istri bosya yang mulus itu. Ah.. Tidak sabar rasanya ingin menikmati tubuh istri bosku ini.
Lalu wanita itu duduk depan komputer dan membuka komputernya. Rudi yang ada di belakangnya mencuri-curi pandang ke arah payudaranya. Dan ah.. Aku berhasil. Payudaranya indah sekali tanpa BH dengan puting merah muda. Benar-benar besar sekali. Sambil duduk wanita itu menggesek-gesek kemaluannya yang sudah basah itu akibat pengaruh obat itu. Dan Rudi pun mengambil bangku dan kemudian duduk di samping istri bos tersebut dan sambil terus memperhatikan paha wanita cantik dan seksi yang terpampang di depannya. Ahh.. Sexy sekali. Lalu ia memberanikan diri menggeser duduknya dan paha mereka pun saling bersentuhan. Dan ohh. Luar biasa pahanya. Dan ia memberanikan diri untuk memegang paha bosnya itu.
“Jangan Mas, nanti suamiku pulang.”
Tanpa penolakan yang serius. Rudi terus mengelus paha bosnya itu dari lutut sampai pangkal pahanya dan meraba-raba payudaranya dari luar.
“Tak apa-apa bu, saya hanya ingin membantu menyelesaikan nafsu ibu yang tertunda tadi.”
“Tapi hanya peting saja ya.”
“Iya bu.”
Dan Rudi terus menyingkap daster istri bos itu, sambil meremas dan menghisap payudara istri bosnya dari luar dasternya. Dan ia pun mencuri kesempatan untuk melepas daster bosnya itu dan berhasil, ia lalu memeluk istri bos itu keranjangnya dan lalu menghisap serta meremas-remas payudaranya.
“Akhirnya..” Ujarnya dalam hati, ia terus meraba paha mulus bosnya itu yang tadi siang hanya dapat ia pandangi.
Dan dengan pelan dan tanpa ketahuan oleh istri bosnya ia melepas baju dan celana panjangnya dan dengan leluasa ia pun menghisap mengulum serta menggigit kedua puting payudara bosnya yang sexy itu. Tubuh istri bosnya itu bergetar karena keenakan. Lalu ia perlahan membuka CD bosnya dan kemudian meraba-raba vagina istri bosnya yang sudah basah sambil memasukkan jarinya ke dalamnya.
“Ohh.. Ouhh.. Jangan disitu Rud, ahh.. Nikmatt.. Nya.. Ouhh”
Ia pun melahap vaginanya dari atas sampai bawah.
“Ohh.. Ouuhh.”
Lalu ia membungkuk dan menjilat vagina istri bosnya itu dengan penuh bernafsu.
“Ouhh.. Slepp.. Ahh Rud..”
Lalu ia mengeluarkan penisnya yang berukutan big size itu yang sudah berdiri dengan kencangnya.. Dan perlahan memasukkannya. Ahh.. ia pun menggenjot vagina istri bos itu dengan sangat cepat karena dia tahu bosnya akan segera pulang dan 15 menit kemudian ia pun memuntahkan spermanya yang sudah 2 bulan ditampungnya dalam kantung mani hitam itu. Setelah wanita itu 3 kali klimaks, ia pun menghentikannya..
“Ohh.. Nikmat sekali Rud, kamu memang hebat.”
“Jangan bilang-bilang hal ini ke bapak ya bu.”
“Tentu Rud, kapan aku bisa bermesraan denganmu lagi?”
Lalu Rudi pun pulang dengan sejuta kenikmatan melandanya. Benar-benar bejad dia itu. Dia dapat mendapatkan semua wanita yang dia mau dengan akal busuknya itu.
*****
Demikian cerita saya. Mohon maaf kalau cerita saya kurang menarik. Bagi Anda sekalian yang memiliki hobi seks dengan jenis seperti diatas silahkan e-mail saya.
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ida, Teman Kakakku
Ini adalah kisah pengalamanku bersama seorang gadis cantik, yang sebut saja namanya Ida. Aku pertama kali mengenalnya ketika aku diajak pergi ke rumahnya oleh kakakku. Waktu itu kulihat dia mengenakan kaos oblong yang cukup ketat berwarna hijau dan sebuah celana pendek jeans.
“Hm.., cukup seksi juga ni anak.” batinku.
“Ida, ini adikku, Doll.” kata kakakku.
Aku langsung menjabat tangannya. Ternyata tangannya halus juga.
“Mbak, yang bener, masa ini adik Mbak? Kok agak beda?” katanya.
“Wah, kelihatan beda ya..? Emang kok semuanya bilang kalo adikku ini beda dengan aku, ya? Padahal ini adik kandungku lho..,” kata kakakku.
“Wah! Sialan juga ni anak. baru kenal udah bilang kayak gitu.” batinku rada dongkol.
Memang sih, kalau dilihat-lihat aku agak berbeda dengan Mbakku, tapi itu kan wajar, karena dia cewek, dan aku cowok. Apalagi aku lebih tinggi sekitar 20 cm, sehingga kalau aku jalan bareng dengan kakakku sulit dicari mana kakak, dan mana adik.
Aku adalah serang cowok dengan tinggi 175 cm dan berat 68 kg. Kata orang sih aku emang tidak terlalu ganteng, tapi manis. Biar begitu, aku banyak yang ngantri lho.. (he he). Aku sempat mencuri pandang ketika dia sedang asyik ngobrol dengan kakakku. Kulihat anaknya lumayan. Wajahnya manis, dan juga dapat dibilang cantik. Yang bikin tambah menarik adalah body-nya itu lho. Bikin nggak tahan! Payudaranya yang cukup montok, ukuran sekitar 35A. apalagi dengan kaosnya yang ketat itu. Wah, bikin hati orang deg-degan melihatnya. Pahanya juga tidak kalah seksi. Dengan dibalut sebuah celana pendek jeans yang ketat, benar-benar memperlihatkan paha yang putih mulus dan pinggul yang benar-benar seksi.
Ketika aku menatap wajahnya, dia malah sedang menatapku, sehingga kami beradu pandang selama beberapa saat, membuatku tambah grogi.
“Ada apa Doll? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” katanya.
Aku langsung salah tingkah, apalagi penisku sudah mulai mengeras.
“Huu, dasar ini si Doll. Nnggak bisa ngeliat cewek mulus sedikit aja, langsung deh matanya jelalatan!” kata kakakku.
“Abisnya kalian asyik ngobrol sendiri. Aku jadi nggak ada kerjaan deh.” kataku memberi alasan.Ida hanya tersenyum saja, “Ya udah.., kamu ikutan ngobrol bareng kita disini.”
Begitulah, kemudian kami larut dalam obrolan kami. Dari situ kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi teknik lingkungan yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, angkatan 2001 (mahasiswa baru), satu kampus dengan kakakku. Itulah sekilas tentang pertemuanku dengan Ida, seorang cewek yang memberi sebuah pengalaman tentang sex.
Ketika aku hendak mudik bareng kakakku, aku sempat kaget dengan seorang gadis manis yang berdiri di terminal bus. Ternyata gadis itu adalah Ida. Dia membawa sebuah tas ransel dan sepertinya dia hendak bepergian juga. Ketika ditanya, ternyata dia ingin ikut kami pergi ke kota kelahiran kami. Wah, pucuk dicinta ulam tiba, batinku.
“Aku bosan berada di yogya, panas dan sumpek! Aku pengen ke kotamu. Sekalian refresing menenangkan pikiran sehabis ujian. Bolehkan?”
“Tentu boleh dong, asal entar jangan nyesel. Soalnya kotanya kecil.” kataku.
Dan ternyata kakakku juga tidak keberatan. Maka jadilah kami bertiga mudik bersama.
Sepanjang perjalanan kami ngobrol bersama. Ternyata dia lagi marahan dengan pacarnya. Oleh karena itu dia sengaja kabur untuk menghindari ketemu dengan cowoknya itu.
“Jangan-jangan, kamu ikut dengan kami tanpa seijin dia dulu, ya?” kataku yang sebenarnya kecewa berat karena dia sudah punya pacar, padahal aku akan bahagia banget kalau dia mau jadi pacarku.
“Ah..! Ngapain ngomong-ngomong dulu sama dia. Emang dia bosku apa, sampai ngatur-ngatur aku..!” katanya.
“Setuju..!” kata kakakku ikutan ngomong.
Begitulah, tanpa terasa kami sampai juga ke tempat tujuan.
Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk kamar dan tertidur lelap. Hari esoknya kami bertiga keliling-keliling kota dan bersenang-senang. Kami jalan-jalan di sepanjang pantai sambil mejeng, siapa tahu dapat gandengan. Kami berada di kota kelahiranku selama empat hari. Hari terakhir kami putuskan untuk berada di rumah saja, untuk mengisi tenaga buat perjalanan kembali ke Yogja, karena hari-hari sebelumnya sudah kami isi dengan jalan-jalan ke seluruh tempat wisata di kota kelahiranku.
Pagi itu aku bangun agak kesiangan. Keadaan rumahku pagi itu sangat sepi. Aku melihat kakakku sedang tertidur di sofa. Kedua orangtuaku sedang pergi ke kantor masing-masing seperti biasanya. Aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Ketika aku membuka pintu kamar mandi, aku sangat kaget ketika melihat Ida yang ternyata juga sedang mandi. Ida juga sangat kaget, apalagi saat itu dia sedang asyiknya membersihkan kemaluannya. Aku saat itu hanya bisa terbelalak melihat tubuh mulusnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang aduhai itu.
Aku melihat kedua gunung kembar yang montok dan kencang yang tidak pernah tersentuh tangan jahil, putih mulus dan mengkilat indah sekali, dengan kedua puting susu kecoklatan. Aku menurunkan pandanganku ke bawah, sehingga melihat dua buah bukit yang ranum merekah kemerah-merahan yang di atasnya ditumbuhi bulu-bulu halus bagaikan hutan cemara, membuatku sangat tegang dan tidak kuasa menahan hawa nafsu yang demikian besar. Aku langsung masuk ke kamar mandi dan menubruknya. Aku memeluknya dengan erat lalu mulai menciuminya secara bertubi-tubi. Ida meronta-ronta dengan perlakuanku itu.
“Doll..! Apa yang kau lakukan..? Jangan..! Uugh..! Lepaskan..! Kalau tidak, aku akan teriak..!”
Ida meronta-ronta sambil berusaha mendorongku untuk lepas dari pelukanku. Tapi usahanya sia-sia, karena aku terus mendekapnya sekuat tenaga, sambil tanganku membungkam mulutnya takut kakakku bangun.
“Tenanglah Ida! Orang lain tidak akan tahu, karena hanya kita berdua saja yang ada di rumah ini. Sedangkan kakakku sedang tertidur pulas. Salahmu sendiri tidak mengunci kamar mandi.” kataku sambil terus memeluknya dan membungkam mulutnya dengan mulutku.
Ida yang tadinya terus meronta-ronta, akhirnya pertahanannya agak mengendur dan membalas ciumanku. Ciumannya tidak kalah dahsyat dengan ciumanku sambil memelukku dengan erat. Akhirnya kami berdua melumat bibir kami selama beberapa lama. Sambil melumat bibirku, Ida lalu mulai mengangkat kaosku dan menurunkan celana pendekku. Aku yang belum puas melumat bibirnya lalu kulanjutkan dengan menciumi lehernya dan kujilati bagian belakang telinganya.
“Aa.. ah.. sst.. aahh..!” desahnya, membuatku semakin terangsang.
Kemudian aku menurunkan kepalaku, lalu kupandangi dua buah payudara yang sudah kencang, yang kelihatan sangat menantang untuk dibelai. Aku langsung mendaratkan bibirku pada belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraih kedua gunung kembar itu lalu kujilati kedua putingnya bergantian kiri dan kanan sambil meremas-remas payudara yang satunya. Puting susu itu kupelintir dengan mulutku sambil menghisapnya, dan sesekali menggigitnya perlahan, seperti yang kulihat di film-film porno. Perlakuanku ini membuat payudaranya menjadi sangat kencang dan membuat tubuh Ida menggelinjang tidak karuan sambil terus mendesah menahan nikmat.
“Aahh.. sst.. aah.. enak sekali Doll.. aahh..!”
Aku tidak menghiraukan desahan menahan nikmatnya Ida, dan terus melakukan aksiku yang menggebu-gebu. Kemudian kuturunkan kepalaku sehingga wajahku tepat berada di depan vagina Ida. Kucium perlahan-lahan, segar sekali baunya.
“Aaahh.. Doll..!” desahnya sambil mengangkat pantatnya.
Aku lalu membuka celah di antara kedua bukit dengan menggunakan kedua jari telunjuknya. Disitu kulihat vagina Ida yang dindingnya berdenyut-denyut sambil mengeluarkan cairan. Kusentuh cairan itu, agak lengket. Lalu aku menjulurkan lidahku ke dalam liang vaginanya, lalu kusapu seluruh permukaan dinding kemaluan Ida dengan lidahku, membuat Ida menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan sambil tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku seakan-akan tidak pernah akan melepaskannya.
Matanya merem melek menahan nikmat, dan mulutnya tidak henti-hentinya mendesah.
“Aah.., sstsst.. mmhh.. aahh.. sst! Ya.., disitu Doll..! Eennaak.. Doll..! Geli.. tapi enak..! Mmmh..!” desahnya ketika kujilati daging yang timbul sebesar kacang kedele di dalam vaginanya, yang baru-baru ini kuketahui namanya klitoris.
“Enak ya, Ida. Vaginamu enak rasanya, Da..!” kataku yang terus menjilati liang vaginanya.
Sesaat kemudian tubuh Ida menggelinjang semakin cepat.
“Oohh.., Doll..! Aku mau keluar, aku tak tahan lagi.., aooh.. sst aah..!” Ida mendesah panjang, dan dari dalam kemaluannya keluar cairan bening yang cukup banyak, sehingga masuk dan tertelan olehku.
Aku cukup kaget karena belum pernah menelan cairan tersebut. Ternyata rasanya enak juga. Aku sudah dari tadi menahan tegangku ini, dan adik kecilku ini sudah menegang dan mengintip dari balik celana dalam. Langsung saja aku melepas CD-ku dan meminta Ida untuk berbaring di bathub. Semula Ida ragu ketika matanya melotot melihat penisku yang besar dan panjang itu. Penisku itu memang ukurannya diatas rata-rata.
Aku yang sudah tidak tahan lagi untuk merasakan hangatnya liang vagina seorang perempuan, lalu merebahkan tubuh bugil Ida di atas bathub, dan membuka kedua pahanya leber-lebar. Seketika itu aku melihat kedua bukit yang kemerah-merahan merekah membuatku semakin terangsang untuk menyeruaknya dengan batang kemaluanku ini. Kemudian kusejajarkan tubuhku dengan tubuhnya sambil mengarahkan kepala penisku ke liang vaginanya. Kusentuhkan kepala penisku dengan vaginanya, rasanya hangat.
“Pelan-pelan ya, Doll..!” katanya dengan pandangan yang memelas.
“Tentu dong, Sayang..!”
Kemudian kutekan tubuhku pelan-pelan, ternyata susah sekali untuk dapat masuk. Entah berapa kali penisku terpeleset. Aku sampai kehabisan akal, sempit sekali vaginanya. Tapi aku langsung mendapat ide dengan melumasi penisku dengan sabun. Ida hanya memandangiku sambil tersenyum geli.
Kemudian kucoba lagi mengarahkan penisku, lalu menekannya pelan tapi pasti, ternyata berhasil. Ujung kepala penisku sudah masuk sedikit sekali. Kulihat dia meringis, kutahan sampai dia tidak meringis lagi. Lalu kutekan lagi, nah sepertiganya sudah masuk. Dia meringis lagi. Lalu kutarik perlahan, kutekan, kutarik, kutekan perlahan dengan penuh perasaan tapi pasti. Kulihat sudah setengahnya masuk.
“Aduuhh.. caakit, Doll.., sst.. uhh..!” jeritnya.
Aku juga merasa ngilu pada penisku. Lalu kudiamkan sebentar, kemudian kutarik perlahan-lahan, maju-mundur sambil kuciumi lehernya dan belahan dadanya.
“Ahh.. eennakk.. terruss.. Dooll.. aahh.. ohh.. sshhsh.. yang daallaamm.. Doll..!”
Kemudian langsung kutekan dengan sekuat tenaga, sehingga penisku ini masuk dan seperti menembus sesuatu, “Bless..”
“Aduhh.. sakiitt.. duuhh..!” teriaknya, tapi langsung kubungkam mulutnya dengan mulutku dan melumat bibirnya dengan penuh perasaan sayang, takut kalau teriakannya itu membengunkan kakakku yang sedang tertidur.
“Duhh.. Dooll.. pelan-pelan dong.., kan sakit, adduhh..!” katanya dengan suara yang lirih.
Aku kasihan padanya. Kemudian aku menciumui bibir, leher dan payudaranya untuk menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh Ida akibat selaput daranya berhasil kurobek. Kemudian Ida mulai tenang dan mendesah nikmat, dan tangannya mendekapku dengan erat.
Lalu aku mulai menarik penisku dan menekan perlahan-lahan sekali.
“Ahh.. ennakk.. Doll.. terus..! Ahh.. oohh..!” desahnya.
Aku menekan pantatku maju mundur, dan terasa vaginanya semakin licin, sehingga aku semakin leluasa menggerakkan penisku semakin cepat. Terasa vaginanya berdenyut-denyut seperti memijat penisku, dan tidak mau lepas ketika kutarik. Sungguh luar biasa nikmatnya. Aku semakin mempercepat gerakanku dan kurasakan vaginanya semakin becek. Demikian juga Ida, mulai mengimbangi gerakanku. Dia menjepit pinggangku dengak kedua pahanya dan bergerak naik turun. Pantatnya sesekali bergerak ke kiri dan ke kanan sehingga penisku seperti terpelintir rasanya. Kepalanya juga bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan sambil terus mandesah.
Kulihat payudaranya bergerak naik turun, sehingga langsung kulumat kudua susu yang semakin besar dan keras itu.
“Aahh.. terruss.. Dooll..! Terus..! Yang daleemm.., aahh.. oohh.. nikmat.. oh.. shsshh.. aahh..!” desahnya tidak karuan.
Gerakan kami yang sangat erotis itu mengeluarkan bunyi becek yang membuat kami semakin menggebu-gebu untuk melampiaskan seluruh nafsu birahi kami yang sudah memuncak.
“Cleepp.. cleepp.. blueess.. crott.. clepp..” kurang lebih begitulah bunyinya.
Kami terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan sampai keringat membasahi kedua tubuh bugil yang sangat erotis. Akhirnya setelah lima belas menit, Ida semakin cepat gerakannya dan jepitannya semakin kuat.
“Aku mau keluar.. nih Dooll.. sudah tak tahann.., aahh..!” dia melenguh panjang sambil mendongak ke atas sambil menekan pantatnya keras-keras.
Kemudian dia terkulai lemas di sisi bathub, tapi tangannya masih memelukku. Dia hanya dapat mendesah dan matanya merem-melek menahan nikmat ketika penisku kuhunjamkan, sambil dadanya naik turun.
Aku kemudian mempercepat gerakanku. Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan kalau penisku akan memuncratkan sesuatu.
“Aku mau kkeluar nih Iddaa..!” kataku.
Aku kemudian hendak menariknya, tapi dia menahan sambil menjepit dengan pahanya. Dan kembali merangkulku dengan erat.
“Ayoo.. keluarkan.. sajaa.. Dooll.. nggak.. pa-pa.. ahh..!” katanya menahan nikmat.
Karena sudah tidak tahan lagi, langsung kumuncratkan air mani ke dalam liang vaginanya.
“Oouughh.. ahh..!” desahku menahan nikmat yang tiada duanya di muka bumi ini.
“Crott.. Crott.. serr..!” sekitar 6 atau 7 kali lahar panas membasahi liang vagina milik Ida, sampai ada yang meleleh keluar vagina yang tidak mampu menahan seluruh air maniku.
Sejurus kemudian kami berdua terkulai di bathub kelelahan. Kemudian aku membuka keran dan membasuh tubuh kami dengan air yang segar sekali rasanya. Lalu kami pun mandi bersama. Kubasuh tubuh mulus Ida dan kusabuni dia dari atas sampai ujung kaki. Kusabuni kedua payudaranya yang montok itu sambil kuremas-remas, sehingga kembali mengencang.
“Idih.. dari tadi kok cuma kamu yang aktif Doll, aku juga pengen dong..!” pintanya.
Dia lalu menyabuni penisku sambil mengocoknya, sehingga mulai mengeras dan tegak berdiri di depan wajahnya. Matanya melotot melihat burungku itu.
“Wah.., besar sekali burungmu ini Doll.. pantas saja aku tadi terasa sangat sakit dan perih..!” katanya sambil terus mengelus-elus penisku itu.
“Tapi nikmat sekali kan kalo sudah masuk..?” kataku.
“Iya.., enaknya bukan kepalang..!” timpalnya.
“Apalagi kalo kamu menghisapnya. Aku akan sangat suka sekali.” kataku.
Kemudian dia terdiam sambil menatap burungku itu. Dan disiramnya burungku itu dengan air, kemudian mulai menciumnya dan diteruskan dengan menjilati kepalanya, ke batang kembali ke kepala. Kemudian dia mengemut biji kemaluanku. Uuhh.., nikmat sekali rasanya. Dan dilanjutkan dengan megulum kepala penisku.
“Aahh.. oohh.. enak sekali.., terus Ida..!” desahku keenakan ketika penisku dikulumnya.
Dia seperti anak kecil yang asyik mengulum permen. Kemudian dijilatinya batanganku sampai ke bawah. Kadang-kadang diurut menggunakan gigi, disedot, wah seperti melayang-layang aku dibuatnya.
Kemudian dia menatapku sambil membuka mulutnya lebih lebar, dan mulai memasukkan penisku dan berusaha menelannya. Lalu maju-mundur sambil terus menatapku, sabil menghisapnya. Persis seperti adegan di vCD-vCD porno.
“Aahh.. nikmat.. nahh.. begitu.. terus Ida.. yang kuat..!” kataku.
Lama-kelamaan hisapannya semakin kuat. Aku memegang kepalanya dan menekan untuk menelan lebih dalam lagi. Hebat juga. Hampir seluruh penisku masuk ke mulutnya. Tapi kemudian dia tersedak, tapi tidak berhenti menghisap penisku maju mundur, semakin kuat.
Aku tidak tahan dengan gerakannya itu, lalu muncratlah air maniku ini untuk yang kedua kalinya.
“Crrott.. croot.. swerr..!” karena saking banyaknya, sampai tidak muat di mulutnya, dan sampai tertelan olehnya.
“Gimana rasanya Ida, enak..?” tanyaku.
“Enak juga.. agak asin.” katanya sambil terus berusaha menelannya.
Aku kasihan melihatnya, sehingga kubantu dengan melumat bibirnya.
Setelah mandi bersama, kami menuju kamar masing-masing dan tertidur lelap. Sampai sekarang kejadian itu hanya kami saja yang mengetahuinya. Dan sekarang di Yogja kami sudah resmi berpacaran dan sering mengulanginya baik di kontrakkanku maupun di rumahnya, bila rumahnya sepi.
TAMAT
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ida, Responden Pertamaku – 2
Demikian asyik dan seriusnya memperagakan aksinya di depan saya mengenai persetubuhannya di kolom jembatan bersama dengan pacar atau calon suaminya waktu itu, sehingga Ida tidak terpokus lagi pada pertanyaan dan permintaan saya tadi, malah ia mejawab lebih dari yang kuminta yakni dengan cepatnya berdiri dan melangkah ke pintu lalu mengunci rapat-rapat. Saya heran dan gembira, karena tindakannya mulai mengarah kepada apa yang saya niatkan yakni menikmati tubuhnya yang ramping dengan kulit yang putih mulus itu.
Kegembiraan saya itu bertambah ketika Ida tiba-tiba memegang tangan kanan saya dan menuntun saya masuk ke kamar tidurnya. Setelah kami berdua berada dalam kamarnya itu, Ida dengan cepatnya mengunci pintu kamar, lalu kembali menarik tangan saya hingga kami duduk berdampingan di tepi rosban tempat tidurnya. Saat itu saya hanya nurut dan diam seribu bahasa mengikuti aksinya.
Tidak lama setelah itu, Ida tiba-tiba berdiri di depan saya sambil berkata, “Jika kakak serius ingin mengetahui jawabanku atas pertanyaan Kak tadi, maka inilah jawabannya.. ” kata-kata itu diucapkannya dengan tegas sekali, namun sedikit berbisik sambil mempreteli sendiri pakaian yang dikenakannya seolah ia ingin membuka seluruh pakaiannya sekaligus.
Ketika Ida sudah bugil sambil berdiri di depan saya, kontan saja saya ikut berdiri dan langsung meraih kepalanya dan menariknya ke depan sehingga bibir kami saling bersentuhan, berpagutan, bahkan saling mengisap bibir dan lidah tanpa kami bicara sedikitpun. Kebisuan kami itu berlangsung agak lama, namun tangan, bibir dan seluruh tubuh kami sangat aktif menjalankan aksinya masing-masing, termasuk dengan gegasnya Ida mempreteli seluruh pakaian yang menutupi tubuhku, sehingga kami berpelukan dalam keadaan sama-sama bugil. Setelah puas berpagutan dan berpelukan, saya lalu melepaskan pagutan itu dan memindahkan mulutku ke kedua payudara mulus dan putihnya yang tertancap ke depan dan sedikit mengeras, namun ukurannya cukup sederhana. Maklum ia belum pernah meneteki seorang bayi, bahkan belakangan baru saya tahu kalau suaminya pun sangat pasif ketika bersetubuh dengannya, sehingga teteknya itu jarang sekali disentuh oleh mulut suaminya.
Hampir seluruh tubuhnya saya jilati mulai dari bagian atas hingga ke bagian bawa. Ketika saya mengisap puting susunya, Ida menggelinjang-gelinjang kegelian bercampur nikmat, sesekali ia mengeluarkan nafas terengah-engah sebagai tanda nikmat yang dirasakannya. Mungkin karena nikmat yang dirasakannya tak tertahankan lagi sampai-sampai ia meraih rambut kepalaku lalu menggigit-gigitnya dan menarik-narik dengan mulutnya. Isyarat itu mendorong saya untuk menghentikan mengisap kedua teteknya, namun kali ini saya alihkan jilatanku ke perut dan turun ke selangkangannya bahkan sempat saya dengar suara dari mulutnya..
“Aduhh Kak, rasanya enak sekali aku ngga tahan lagi nih”, sehingga saya tambah bergairah dan mulai tak terkontrol nafasku, apalagi ketika ia meraih kontolku yang sejak tadi mengeras dan berdiri. Meskipun ukuran kontolku itu tidak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil untuk ukuran penis Indonesia. Semakin saya percepat jilatanku pada lubang memeknya yang sedikit berbulu itu, namun agak montok, Ida juga semakin mempercepat dan memperkuat tarikan tangannya pada kontolku, seolah ia mau membawa lebih dekat dengan memeknya.
Ketika kumasukkan lidahku lebih dalam ke lubang memeknya yang basah itu, ia sempat melenguh, “Aahh.. sstt” hanya itu suara yang sempat terdengar di telingaku, namun pada saat saya sedikit menggigit-gigit kelentitnya yang mungil dan indah dipandang mata itu, ia tiba-tiba berteriak agak keras sambil tertawa kecil..
“Uuhh.. aahh.. mm.. saa.. kiit.. Kak.. ha.. hah.. hah” suaranya tiba-tiba seolah ia mengeluarkannya tanpa disadari.
Untung waktu itu tidak ada orang lain yang mendengarnya, sebab jika ketahuan kami bisa malu dan dibunuh oleh tetangga dan dilaporkan pada suaminya Ida. Kebetulan tetangga kami pada keluar ke tempat kerjanya, sedang istri saya lagi ke pasar belanja.
Karena kami mulai terasa capek dan nampak tak mampu lagi menahan gejolak nafsu birahi dari dalam, maka setelah puas menjilati memeknya dan tarikan tangan Ida atas kontol saya semakin keras, saya lalu menggotong Ida yang sedang bugil itu ke tempat tidurnya, lalu meletakkan tubuhnya di atas kasur sambil dengan terlentang dan secara pelan-pelan saya renggangkan kedua pahanya yang sedang menjepit memeknya yang basah.
Ida nampaknya lemas sekali dan tidak bergerak sedikitpun seolah ia pingsang, namun matanya sedikit terbuka memperhatikan gerakan saya dan seolah mengharapkan sekali agar saya mempercepat masuknya kontol saya ke memeknya, meskipun ia tidak mampu lagi berkata-kata. Sikap seperti itu tentu saja saya bisa baca atas dasar pengalaman saya dengan istriku setelah ia terangsang sekali. Pelan tapi pasti, sambil memagut kembali bibir Ida dan meremas susunya, kontolku ikut aktif maju ke depan hingga sedikit menyentuh bibir vagina Ida yang sudah mulai licin, basah dan agak menganga menunggu tancapan kontolku, seolah kontolku itu melihat sehingga tanpa bantuan kedua mata kepalaku kontol itu bisa menemukan sendiri sasarannya dengan tepat.
“Kak, masukkan cepat donk, dorong lebih keras lagi biar amblas seluruhnya” demikian secara tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Ida ketika ujung kontolku mulai bergeser 1 cm masuk ke lubang paginanya sambil ia tarik pinggulku erat-erat seolah ia ingin memaksakan kontolku masuk sekaligus. Namun, karena menurut Ida kontolku agak lebih besar daripada kontol suaminya, maka wajar saja bila mulanya kami agak kesulitan memasukkannya dengan cepat sesuai harapan Ida, melainkan memerlukan kesabaran, kerjasama yang baik dan teknik yang tepat.
Setelah saya maju mundurkan dan gerakkan ke kiri dan ke kanan yang dibantu pula oleh Ida dengan gerakan yang sama, akhirnya sedikit demi sedikit kontol itu mampu menembus lubang memek Ida yang paling dalam. Begitu dalamnya menancap, sehingga Ida sempat mendorong pinggul saya karena merasa sedikit kesakitan ketika saya mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi lalu mendorong dengan kerasnya kontol saya ke dalam memeknya. Terasa memang ujung kontol saya menyentuh sesuatu dalam vagina Ida. Namun, hal itu tidak mengurangi kenikmatan persenggamaan kami, melainkan semakin nikmat, terbukti dari suara kami saling memburuh dan bergantian keluar sebagai tanda nikmat.
Semakin lama gocokan kontol saya atas memek Ida semakin cepat dan semakin nikmat pula, hingga pada menit 30 sejak masuknya kontol saya pada lubang vagina Ida, saya merasakan ada gejolak yang memaksa dari dalam kontol saya.
“Bagaimana Ida, enak? apa masih lama bisa bertahan?” tanya saya pada Ida ketika mulai terasa ada aliran hangat yang menelusuri batang kontolku.
“Ra.. raa.. sanya, sudah mau keluar nih, percepat gocokannya Kak” jawab dan pintanya sambil memeluk erat pinggul saya.
“Boleh saya keluarkan di dalam memekmu?” tanya saya dengan cepat sebelum betul-betul aliran itu tiba pada puncaknya.
“Di dalam saja Kak, siapa tahu saya bisa membuahi spermamu, biar saya punya anak” jawabnya dengan penuh harap sambil memelukku dengan eartnya seolah takut saya keluarkan di luar.
Beriringan dengan pintanya pada saya tadi, Ida terasa gemetar dan sedikit menggigit leherku, dan pada saat itu pula saya merasakan ada cairan hangat yang lepas dari ujung kontolku, sehingga terasa pertemuannya dan kenikmatannya tidak dapat saya gambarkan dan menyetarakan dengan kenikmatan sebelumnya. Sungguh betul-betul puncak kenikmatan, sorga duniawi dan segalanya dalam hidup saya, entah menurut Ida.
Walaupun kami sudah sama-sama mencapai puncak kenikmatan itu, tapi rasanya kami tidak ingin saling melepaskan rangkulan kami, entak kenapa, tapi yang jelas, saya baru kali ini merasakan puncak persetubuhan dengan perempuan yang luar biasa nikmatnya, hanya sayangnya Ida adalah istri orang lain dan bukan ditakdirkan jadi pasangan sex saya seumur hidup. Di samping itu, saya sedikit menyesal menyemprotkan sperma saya ke dalam vagina Ida tanpa sadar betul, sebab jangan-jangan betul apa yang diharapkan Ida menjadi kenyataan yakni menjadi janin, bisa-bisa ketahuan suami Ida yang sudah lama berusaha menghamili istrinya, namun tidak pernah jadi kenyataan. Tapi jika hal itu terjadi, Ida pasti cari akal untuk meyakinkan suaminya kalau anak yang dikandungnya itu adalah berkat usaha mereka berdua. Setelah keputusan itu muncul di pikiranku, saya lepaskan pelukanku dan mencoba istirahat sejenak dengan harapan saya akan lanjutkan ronde berikutnya, sebab posisi atau gaya sex yang sempat kami peraktekkan tadi baru satu macam, sementara masih banyak gaya-gaya yang akan kutunjukkan Ida.
Belum saya berhenti berfikir dan menikmati istirat, kami terpaksa mendadak berdiri dan buru-buru mengenakan pakaian kami masing-masing, karena tiba-tiba suara istriku dari rumah terdengar “Mana Bapak, cari Bapak nak, mungkin ada di rumah tetangga” kata istriku sepulang dari pasar yang membuat kami kaget dan takut kalau-kalau ketahuan, apalagi Ida menutur dengan rapat pintunya setelah sebelumnya jarang ia menutupnya.
Tanpa kami mencuci dan membersihkan kemaluan kami yang berlepotan dengan sperma, Ida dan saya segera bangkit, lalu Ida buru-buru membuka pintunya. Setelah ada isyarat dari Ida bahwa aman di luar, maka saya segera meraih berkas wawancaraku lalu keluar dengan biasa-biasa dan langsung ke rumah. Setelah istriku menanyakan dari mana saya tadi, maka saya hanya beralasan bahwa saya hanya sekedar jalan-jalan keliling kompleks rumah saya. Tiba di rumah, saya langsung masuk ke kamar memeriksa celanaku kalau-kalau ada noda sperma yang melekat, namun tidak sedikitpun kecuali hanya ada basah sedikit pada celana dalamku, itupun tidak sampai dapat diketahui oleh istriku. Baru kuingat sesaat setelah kami menyelesaikan permainan tadi, saya sempat melapnya dengan kain Ida yang ada di dekat kasurnya.
Dalam pikiran saya di rumah bahwa muda-mudahan Ida masih mau dan bersedia mengulangi persenggamaan itu pada waktu-waktu yang akan datang, tentunya pada saat suaminya tidak ada di rumah. Dalam hatiku meyakinkan bahwa pasti Ida tidak menolak sebab ia betul-betul merasakan kepuasan yang luar biasa tadi, yang menurutnya belum pernah dirasakan dari suaminya. Walaupun wawancaraku terputus sebelum seluruh pertanyaan saya ajukan dan dijawab oleh Ida, namun cukup memuaskanku, bahkan itulah harapan utama saya melakukan wawancara, pengumpulan data hanyalah alasan yang saya buat-buat, sebab itu bisa saja saya rekayasa, lagi pula karya ilmiah Ati tinggal di print. Sebelum saya mewawancarai wanita lain, saya akan berusaha menuntaskan semua gaya sex yang saya ketahui terhadap Ida, apalagi masih banyak pertanyaan saya yang tersisa belum saya ajukan pada Ida pasti ia bersedia jika ada kesempatan kelak.
Memang betul cita-citaku itu dapat terlaksana dengan Ida tidak lama setelah peristiwa yang pertama itu, bahkan berlanjut pada beberapa wanita pilihan saya yang lainnya. Tapi saya belum sempat mengisahkannya pada dalam cerita ini, sebab terlalu panjang untuk diceritakan. Untuk itu, bagi teman-teman yang berminat membacanya, silahkan tunggu lanjutannya pada episod dan kesempatan berikutnya, saya jamin lebih menarik dan lebih seru lagi. Jika ada di antara pembaca yang ingin berkenalan denganku atau mau mengoreksi atau mengomentari kisahku ini, silahkan hubungi emailku di: sappa_nyameng@telkom.net, saya akan berusaha membalasnya.
E N D
- August 31st, 2008
- Posted in Umum
Ida, Responden Pertamaku – 1
Para penggemar cerita porno yang budiman. Perkenalkan, nama saya Aidit. Usiaku saat ini 38 tahun dengan tinggi badan 165 cm, berat badan 59 kg, warna kulit antara putih dan hitam, rambut hitam lurus. Saya tinggal pada salah satu kota Kabupaten di Sulsel bersama seorang istri dan 3 orang anak. Sehari-harinya saya bekerja sebagai pengelola jasa, khususnya di bidang pengetikan komputer dan penyusunan karya ilmiah.
Ceritanya begini. Pada bulan Agustus tahun 2001 yang lalu, saya kebetulan menerima pesanan karya ilmiah dari seorang mahasiswi pada salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota tempat tinggal saya, judulnya “PACARAN SEBELUM KAWIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KERHARMONISAN RUMAH TANGGA”. Sesuai perjanjian saya dengan mahasiswi tersebut (namanya panggil saja ‘Ati’), bahwa pengumpulan data-dada yang akan dimuat dalam karya ilmiah itu menjadi tanggung jawab Ati selaku mahasiswi yang akan mempertanggung jawabkan isinya di depan penguji.
Setelah Ati mengajukan proposal atau draft karya ilmiah yang telah saya susun sesuai pesanannya dan telah mendapat persetujuan dari ketua jurusan dan dosen pembimbingnya, saya lalu meminta dia untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan judulnya itu, baik dengan cara mencari buku-buku rujukan maupun dengan cara melakukan penelitian melalui wawancara dengan beberapa orang yang telah berumah tangga, terutama terhadap mereka yang kebetulan pacaran sebelum nikah. Meskipun sebenarnya banyak buku-buku yang berkaitan dengan judul tersebut, namun selain saya ingin mengetahui fakta-fakta di masyarakat tentang pengaruh pacaran sebelum nikah, juga untuk memanfaatkan judul itu agar saya bisa mengorek pengalaman berpacaran dari beberapa orang yang telah menjadi suami istri.
Setelah berjalan sekitar 2 minggu, Ati datang ke rumah membawa beberapa buku rujukan, namun ia tidak membawa sedikitpun data hasil wawancara dengan orang lain sesuai permintaan saya, dengan alasan ia merasa malu, segan dan tidak mampu wawancara, padahal daftar pertanyaannya telah saya berikan sejak awal.
“Aduh Kak, saya kesulitan memperoleh data wawancara, karena saya merasa malu dan takut tidak dilayani orang, apalagi saya ini kan masih gadis” katanya sambil meletakkan beberapa buku rujukan karya ilmiahnya di depan saya.
“Ngga apa-apa jika memang hal itu masih agak sulit adik dilakukan, saya maklumi alasannya itu kok, apalagi adik tidak dibekali izin penelitian dari pemerintah, bisa-bisa adik disangka punya maksud lain. Nanti kita lihat bagaimana caranya yang terbaik agar penyusunan karya ilmiah ini tetap berjalan sesuai rencana” demikian kata saya sambil mencoba menenangkan perasaannya agar ia tidak merasa putus asa.
Hanya dalam tempo 3 minggu saya sempat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah itu, namun saya masih tetap tidak print, karena rencana ujian meja Ati masih jauh yakni nanti pada Bulan Oktober 2001 (masih berkisar 2 bulan lagi). Saya terus mencari akal bagaimana caranya agar keinginan saya tadi bisa terwujud. Saya mencoba menghubungi di rumahnya lewat telepon dan minta agar dia datang ke rumah saya guna membicarakan masalah kelanjutan penyusunan karya ilmiah itu. Setelah Ati datang ke rumah saya pada hari itu juga, saya menawarkan bantuan.
“Bagaimana jika saya sendiri membantu adik melakukan wawancara dengan beberapa kenalan saya, yang kebetulan saya ketahui telah pacaran sebelum nikah? apakah adik tidak keberatan?” begitulah tawaran saya pada Ati ketika kami duduk bersama pada ruang tamu di rumah saya, apalagi Ati nampak bingung dan kesulitan memperoleh data wawancara waktu itu.
“Justru saya sangat setuju Kak, dan berterima kasih pada Kak atas kesediannya membantu saya. Saya bersedia memberikan segala biaya yang Kak butuhkan selama dalam proses penelitian wawancara itu”. Dimikian jawaban Ati atas tawaran saya itu, seolah dia sangat gembira dan bersemangat mendukung tawaran saya itu.
Ati adalah anak satu-satunya perempuan dari 3 bersaudara. Dia anak seorang pengusaha beras yang tergolong kaya di daerah kami, sehingga tak heran bila Ati bersedia membayar biaya-biaya yang saya butuhkan dalam proses penyusunan karya ilmiahnya. Karenanya, saya berani menawarkan bantuan kepadanya, selain untuk memperoleh maksud tertentu saya itu juga untuk memperoleh tambahan penghasilan dari Ati. Bahkan Ati sempat menawarkan kendaraan sepeda motor Honda Supra yang dipakainya kepada saya untuk saya gunakan selama proses wawancara di lapangan, tapi saya tidak menerimanya karena saya masih punya sepeda motor sendiri yang bisa saya gunakan dalam proses wawancara itu, lagi pula biar Ati merasa berutang budi pada saya nantinya.
Setelah saya membuat Surat Kuasa Penelitian dan minta tanda tangannya, Ati lalu pamit untuk pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, sayapun mulai bereaksi. Mula-mula saya datangi tetangga dekat yang saya kenal pacaran sebelum nikah dengan membawa sejumlah pertanyaan spekulatif yang bisa menjebak para responden. Tentu saja saya terlebih dahulu mempersiapkan beberapa kriteria responden dan syarat-syarat wawancara, termasuk usianya tidak terlalu lanjut, punya penampilan yang menarik, punya waktu dan kesempatan yang banyak untuk diwawancarai, jujur, terbuka, tidak terlalu ketat kontrol dari suaminya sebab obyek penelitian saya, khusus bagi wanita saja serta beberapa syarat lain yang bisa mewujudkan impian saya, termasuk salah satu syarat utamanya adalah bersedia menandatangani kesepakatan rahasia wawancarapa pada siapapun, khususnya kepada suami mereka.
Hampir semua responden yang saya wawancarai merasa senang dan tidak menolak ketentuan wawancara yang saya ajukan, sebab mereka itu rata-rata kenalan saya, bahkan ada di antara mereka bekas pacar atau sahabat saya, sehingga tanpa saya janjikan apa-apapun mereka nampaknya tetap bersedia untuk diwawancarai dan ingin agar wawancara itu berjalan lama dan berulang-ulang kali, apalagi kami lakukan rata-rata di tempat khusus yang sengaja saya sediakan untuk wawancara, termasuk di kamar-kamar penginapan atau hotel dan di rumah-rumah sahabat saya.
Ida (nama samaran) adalah wanita berusia 35 tahun sebagai responden yang pertama kali saya wawancarai. Dia kebetulan tetangga dekat saya, yang sehari-harinya saya temani ngobrol tentang berbagai hal, termasuk soal berpacaran, meskipun suaminya selalu di sampingnya, tapi dia orangnya suka humor, terbuka dan lugu, bahkan seringkali humor soal-soal porno, termasuk hubungannya dengan suaminya. Pada hari itu, suaminya kebetulan ke kota Makassar mengikuti pertemuan organisasi usaha yang dikelolanya (sebutlah pelatihan) selama beberapa hari. Tentu saja kesempatan seperti itu yang saya tunggu-tunggu.
“Ida, kemana suaminya kok ngga kelihatan?” tanya saya ketika saya sedang menemuinya di depan rumah kami sambil berpura-pura tidak tahu, meskipun sebelum suaminya berangkat ke Makassar sempat kami bincang-bincang mengenai rencana keberangkatannya itu.
“Ke Makassar Kak Dit, kebetulan dia dapat rekomendasi dari Depnaker untuk ikut pelatihan selama sepekan di Makassar” jawabnya.
Setelah kami bincang-bincang sebagaimana layaknya tetangga dekat, saya lalu menyampaikan maksud utamaku padanya.
“Mau ngga Dik Ida membantu saya, sebab kebetulan saya mempunyai masalah yang berkaitan dengan profesi saya, dan nampaknya adik Ida merupakan salah seorang yang dapat saya harapkan membantu menyelesaikannya” tanya saya pada Ida dengan santai sambil saya sedikit tersenyum padanya.
“Masalah apa Kak Dit, mudah-mudahan saya bisa dan mampu membantu, apalagi kita ini kan sudah seperti keluarga atau saudara sendiri” katanya lebih lanjut.
“Ngga berat kok, hanya saya butuh informasi yang jelas dari adik Ida”, kata saya terus terang padanya.
“Tentang apa itu Kak Dit? saya rasanya kurang banyak mengetahui informasi” tanyanya seolah bingung dan serius ingin mengetahui masalahku.
Setelah saya melihat Ida kebingungan dan seolah ingin cepat mengetahui masalah saya yang perlu bantuan dari dia, saya lalu mengajak masuk ke rumahnya dengan alasan kurang sopan jika saya menyampaikannya di luar rumah. Ia pun bergegas masuk dan mempersilahkan saya duduk di kursi plastiknya yang ia telah siapkan. Setelah kami duduk berhadap-hadapan, sambil meletakkan di atas meja beberapa lembar kertas yang saya bawa, seperti surat kuasa penelitian dari Ati, ketentuan wawancara dan lain-lainnya, saya lalu berkata terus terang padanya.
“Begini Dik Ida, ada seorang Mahasiswi yang sedang saya susun karya ilmiahnya, yang kebetulan kesulitan mendapatkan data-data wawancara tentang judulnya, sebab berkaitan dengan masalah kehidupan suami istri, maklum ia masih gadis. Jadi terpaksa ia minta tolong dan menguasakan pada saya untuk mengambil data-data dari beberapa orang yang telah berkeluarga, termasuk adik Ida, siapa tahu mau berbaik hati memberikan informasi yang jelas, jujur, terbuka dan penuh keikhlasan” demikian penjelasan saya secara rinci terhadap Ida.
Mendengar penjelasan saya itu, dia tiba-tiba tertawa kecil lalu diam sejenak seolah ragu dan malu mengutarakan soal-soal kehidupan rumah tangganya. Namun, setelah berfikir sejenak dan mempertimbangkan tawaran saya itu, akhirnya dia meraih dan membaca lembar per lembar kertas yang saya letakkan di depannya itu tanpa bersuara sedikitpun.
Setelah dia baca dan paham isinya, dia lalu berkata, “Ngga apa-apalah, asalkan Kak mau merahasiakan pada suami saya dan pada orang lainnya tentang informasi yang saya berikan mengenai kehidupan rumah tangga kami bersama suami. Kebetulan Ida hanya sendiri di rumahnya waktu itu, sebab ia belum dikaruniai seorang anak, meskipun telah beberapa tahun menjalani kehidupan rumah tangga dengan suaminya.
Setelah menyatakan kesediaannya dan menandatangani perjanjian wawancara yang saya sodorkan, Ida lalu bertanya, “Apa yang ingin Kak Dit tanyakan pada saya, silahkan diajukan satu-persatu, nanti saya berikan jawaban seadanya” katanya.
Saya mulai membuka susunan pertanyaan yang telah saya sediakan sebelumnya dan mulai mengajukan pertanyaan pada dia secara berurutan. Dari 27 nomor pertanyaan yang saya siapkan, hanya 11 pertanyaan yang sempat saya ajukan dan dijawab oleh Ida pada waktu pertemuan pertama itu, sebab Ida nampaknya terlalu serius menjawab dan mencermati makna pertanyaan saya, sehingga kondsi wawancara kami seolah dipengaruhi oleh suasana lain yang tiba-tiba menyerang konsentrasi berpikir kami, khususnya pada pertanyaan yang ke 11.
“Karena adik Ida menjawab tadi bahwa sebelum nikah dengan suaminya, adik telah bersetubuh beberapa kali dengan calon suaminya di bawa kolom jembatan, bagaimana awal kejadiannya saat itu? tolong dijelaskan satu persatu mulai dari pertama kali bersetubuh hingga yang terakhir kalinya sebelum nikah, termasuk proses selama berlangsungnya persetubuhan anda, misalnya waktu calon suami adik itu memegang tangan adik, mencumbu, memeluk, meremas payudaranya, membuka kancing baju dan celana dalam adik, memasukkan penis dan menggocok memek adik serta posisi yang diterapkannya hingga adik mencapai puncak persetubuhannya” itulah rentetan pertanyaan dan permintaan akhir saya pada Ida saat itu dalam poin 11, sambil meminta ia sedikit memperagakan di depanku.
Ida adalah sosok wanita yang cukup mulus dan nampaknya memiliki gairah seks yang tinggi serta sedikit agak simpatik pada saya selama ini sebagaimana nampak dari perbincangan kami sehari-hari. Tidak heran jika ia rela dan tidak segan-segan menuruti semua permintaan saya saat itu, termasuk ia menunjukkan sedikit aksinya di depan saya seolah ingin merangsang saya, meskipun sejak awal saya memang telah terangsang akibat pakaian yang dikenakannya agak tipis dan sedikit ketat, terutama celana kain yang dikenakannya sedikit ditarik agak ke atas sehingga ujungnya berada di atas lututnya. Tangan saya ikut lebih memperjelas ucapkanku dengan sengaja menunjuk dan menyentuh bagian-bagian yang kminta untuk diperagakan sedikit, sehingga wawancara kami waktu itu berjalan semakin tak karuan namun cukup seru.
Ke bagian 2