Archive for July, 2008
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Basket Ball Girl
Hi, Kembali aku akan menceritakan pengalamanku di sekolahku. Mungkin Anda sudah melihat cerita SCHOOL LOVERS milikku. Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku yang tak kalah menarik dengan cerita itu. Namaku Alex. Aku sekolah di salah satu SMU terkemuka di Semarang.
Dua bulan setelah aku menikmati threesome-ku bersama Fanny dan Christina, aku menambah lagi daftar cewek yang pernah bercinta denganku. Ketika itu, sekolahku sedang mengikuti persiapan untuk lomba basket HEXOS Cup. Sebagai pemain inti tentu saja aku mengikuti program latihan yang diberikan oleh pelatih. Kami diharuskan menginap di sekolah untuk suatu latihan. Yah, terpaksa aku menginap juga di sekolah. Ternyata yang menginap tidak hanya tim basket putra tetapi juga tim basket putri. Dalam hati aku bersorak gembira karena di tim basket putri di sekolahku terdapat banyak cewek cantik. Apalagi pakaian tim cewek memang sangat sexy. Memang mereka bisa main basket, cuma yang bisa bermain bagus hanya satu atau dua orang saja. Aku datang ke sekolah pukul 16:00 WIB. Setelah menaruh tasku di kelas, aku segera bergabung dengan teman-temanku.
Saat itu langit masih agak terang, sehingga aku masih bisa bermain di lapangan basket yang outdoor. Latihan berjalan seperti biasa. Pemanasan, latihan lay-up dan permainan. Seperti biasa, putra dan putri dicampur. Jadi di satu tim terdapat 3 cowok dan 2 cewek. Aku main seperti biasa tidak terlalu ngotot. Saat itu tim lawan sedang menekan timku. Vinna sedang melakukan jump shoot, aku berusaha menghalanginya dengan melakukan blocking. Namun usahaku gagal, tanganku justru menyentuh bagian terlarangnya. Aku benar-benar tidak bermaksud menyentuh dadanya. Memang dadanya tidak terlalu besar namun setelah menyentuhnya kurasakan payudaranya sangat kenyal. Lalu aku meminta maaf kepadanya. Vinna pun menerima maafku dengan wajah agak merah. Setelah itu giliran timku melakukan serangan. Lagi-lagi aku berhadapan dengan Vinna. Aku berusaha menerobos defend dari Vinna. Namun tak sengaja aku menjatuhkan Vinna dan aku dikenai personal foul. Aku mencoba membantu Vinna berdiri. Kulihat kakinya berdarah, lalu kutawarkan untuk mengantarkannya membesihkan luka itu. Vinna pun menerima ajakanku. Kami pun berjalan menuju ke ruang guru yang jaraknya memang agak jauh dengan lapangan basket. Vinna berjalan tertatih-tatih, maka kubantu ia bejalan. Saat itu sekolahku sudah kosong semua, hanya tinggal kami tim basket dan karyawan sekolah.
Sesampainya di ruang guru, aku segera mengambil peralatan P3K. Kubasahi luka di paha kiri Vinna dengan perlahan. Sesekali Vinna mendesah kesakitan. Setelah kucuci lukanya, kuberi obat merah dan kuperban kakinya. Saat menangani lukanya, baru kusadari bahwa Vinna juga memiliki kaki yang menurutku sangat sexy. Kakinya sangat panjang dan mulus. Apalagi dia hanya mengenakan celana pendek. Kuarahkan pandanganku ke atas. Dadanya tidak terlalu besar, namun cukuplah bagi cewek berusia 16 tahun. Oh ya.. Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus panjang sebahu, kulitnya putih mulus, dia Chinese sepertiku. Tingginya 172 cm dan beratnya kira-kira 50 kg.
Tiba-tiba kudengar erangan Vinna yang membangunkanku dari lamunanku.
“Ada apa Vin?” kutanya dia dengan lembut.
“Kakiku rasanya sakit banget.” jawabnya.
“Di mana Vin?” tanyaku dengan agak panik.
“Di sekitar lukaku..”
Kupegang daerah di sekitar lukanya dan mulai memijatnya. Penisku lama-lama bangun apalagi mendengar desahan Vinna. Tampaknya ini hanya taktik Vinna untuk mendekatiku. Aku pun tak bisa berpikir jernih lagi. Segera saja kulumat bibir Vinna yang indah itu. Vinna pun tak mencoba melepaskan diri. Ia sangat menikmati ciumanku. Perlahan, Vinna pun membalas ciumanku. Tanganku mulai merambah ke daerah dadanya. Kuraba dadanya dari luar bajunya yang basah oleh keringat. Vinna semakin terangsang. Kucoba membuka bajunya, namun aku tidak ingin buru-buru. Kuhentikan seranganku. Vinna yang sudah terangsang agak kaget dengan sikapku. Namun aku menjelaskan bahwa aku tak ingin terburu-buru dan Vinna pun dapat memahami alasanku walaupun ia merasa sangat kecewa. Kemudian aku membantunya kembali ke lapangan. Sebelum kembali ke lapangan aku mencium mulutnya sekali lagi. Kami pun berjanji untuk bertemu di ruang kelas IB setelah latihan selesai. Dalam hati aku berjanji bahwa aku harus merasakan kenikmatan tubuhnya. Sisa latihan malam itu pun kulakukan dengan separuh hati.
Setelah latihan, kami semua mandi dan beristirahat. Kesempatan bebas itulah yang kami gunakan untuk bertemu. Di ruang kelas itu kami saling mengobrol dengan bebas. Aku pun tahu bahwa Vinna belum pernah memiliki pacar sebelumnya dan kurasa dia menaruh hati padaku. Perasaanku padanya biasa-biasa saja. Namun mendapat kesempatan ini aku pun tak ingin melewatkannya. Kami pun mengobrol dengan santai. Vinna pun bermanja-manja denganku. Kepalanya disandarkan ke bahuku dan aku pun membelai rambutnya yang wangi itu. Entah siapa yang memulai, kami saling berpagutan satu sama lain. Bibirnya yang hangat telah menempel dengan bibirku. Lidah kami pun saling beradu. Kuarahkan ciumanku ke bawah. Kupagut lehernya dengan lembut sehingga Vinna mendesah. Tanganku mulai aktif melancarkan serangan ke dada Vinna. Kurasakan payudara Vinna mulai mengeras. Kusingkap T-Shirt pink miliknya dan terlihatlah payudara Vinna terbungkus Triumph 32B. Ketika aku akan melancarkan seranganku, Vinna tiba-tiba melarang. Kali ini dia yang belum siap. Rupanya ia ingin melakukannya secara utuh denganku di suatu tempat yang pantas. Aku pun memahami maksudnya. Akhirnya kami hanya berciuman saja.
Keesokan harinya, kami kembali melakukan latihan basket. Namun Vinna hanya melakukan latihan ringan saja. Pukul 13:00 kami boleh pulang ke rumah masing-masing. Kutawarkan tumpangan kepada Vinna. Aku memang membawa mobil sendiri ke sekolah. Kuantarkan ke rumahnya di sebuah jalan besar. Sesampainya di sana, aku diajaknya masuk ke rumahnya. Aku tahu bahwa Vinna tidak tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk mengurus bisnis mereka. Vinna memang anak orang kaya. Pertama-tama aku minta ijin memakai kamar mandinya untuk mandi sejenak. Setelah selesai, aku menunggu di kamarnya. Kamarnya cukup luas. Suasananya pun cukup enak. Aku kini mengerti mengapa Vinna tak ingin melakukannya di kelas. Vinna juga sedang mandi rupanya. Memang cewek kalau mandi itu agak lama.
Tak lama, Vinna keluar dari kamar mandi dengan mengenakan T-Shirt Hello Kitty berwarna biru muda dengan celana pendek. Lalu kami pun berbincang-bincang. Aku pun memuji kecantikannya. Setelah agak lama berbincang, kami saling memandang dan kami pun mulai berciuman. Ciuman kali ini sangat kunikmati. Kuraba dengan lembut payudara Vinna. Kemudian kubuka baju Vinna dan terlihatlah BH hitam membungkus payudara yang sangat indah. Aku termenung sejenak lalu mulai melepas pakaianku dan pakaiannya. Aku sudah telanjang sedangkan Vinna masih mengenakan pakaian dalam berwarna hitam. Kulanjutkan ciumanku di dada Vinna. Vinna melenguh perlahan menikmati perlakuanku.
Perlahan-lahan kuarahkan mulutku di antara dua belahan pahanya yang mulus. Lalu kusentuh permukaan celana dalamnya yang sexy dengan ujung lidahku. Badan Vinna seperti mengejang perlahan. Kuliarkan lidahku di celana dalamnya. Vinna pun mendesah nikmat karena lidahku mengenai klistorisnya. Kulepas BH dan CD-nya hingga tampaklah sesosok tubuh yang sangat indah dan proporsional. Tubuhnya tak kalah dibandingkan Fanny maupun Christina (baca: SCHOOL LOVERS).
Kembali aku mempermainkan buah dadanya. Buah dadanya sudah mulai menegang dan bentuknya pun menjadi sangat indah walaupun tidak besar. Kugigit-gigit lembut putingnya yang menegang keras. Kuturunkan ciumanku ke arah rambut-rambut halus yang tertata rapi di bagian bawah tubuhnya. Kucium harum khas kemaluan Vinna. Kujulurkan lidahku masuk ke dalam belahan kemaluannya dan berusaha menemukan klistorisnya. Ketika kutemukan daging kecil itu, Vinna mengeluarkan desahan-desahan yang sangat merangsang diriku. Aku semakin bergairah untuk merasakan sempitnya kemaluannya. Kemaluannya terus kulumat dengan lidahku. Tak lama kemudian, kurasakan kepalaku dijepit oleh kedua belah paha Vinna. Badan Vinna mulai mengejang, melonjak dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Vinna telah mencapai orgasme pertamanya bersamaku. Kubiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa menit dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Kemudian Vinna terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya tadi. Ia sangat menikmati orgasme nya tadi.
Memahami kebutuhanku, Vinna kembali aktif. Vinna meraih batang kemaluanku dan menyentuhkan lidahnya ke kepala penisku. Kurasakan hisapannya masih malu-malu. Tapi terus kumotivasi dia dengan ucapan-ucapan kotor. Dan usahaku berhasil. Lama-lama Vinna tidak lagi merasa canggung. Hisapannya mulai membuatku mendesah. Ukuran mulut Vinna pas sekali dengan lebar penisku. Jadi kenikmatan yang kudapat sangatlah nikmat. Aku pun tak mau diam. Kuraih kedua paha Vinna dan kubenamkan kepalaku diantaranya. Sehingga kami membentuk sikap 69. Rangsangan-rangsangan yang telah menjalari tubuh kami berdua rupanya sudah semakin hebat dan tak dapat ditahan lagi. Vinna bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman sejenak.
Aku bertanya, “Vin, aku masukkan ya?” Dengan lemah, Vinna pun menganggukkan kepala. Kubaringkan tubuhnya ke ranjang, kuangkat kedua belah tungkainya yang muluh ke bahuku. Kuarahkan kepala kemaluanku menuju ke arah kemaluannya. Lalu kumasukkan kepalanya dahulu ke dalam milik Vinna. Rupanya kemaluan Vinna sangat sempit. Tidak dapat kumasuki. Vinna mendesah kesakitan sambil melonjak ketika aku mencoba menekannya. Sebenarnya aku senang mendapat vagina yang begitu sempit. Namun aku sangat kesulitan memasukkannya. Aku sudah sangat bersusah payah melakukannya. Aku sangat berhati-hati dalam melakukannya, karena aku tak mau menyakiti Vinna. Aku merasa kasihan pada Vinna. Vinna terpaksa harus menahan gejolak nafsu dalam dirinya karena hal ini. Wajahnya terlihat sangat menderita. Terpaksa kuambil jalan pintas. Kumasukkan sekali lagi kepala kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Vinna dan kudorong sekuat tenaga, namun gagal. Justru aku kesakitan sendiri. Vinna pun menjerit kesakitan. Kucoba menenangkannya sebentar. Lalu kucoba lagi.
Setalh 5 menit akhirnya berhasil. Penisku ternyata dapat masuk seluruhnya ke dalam milik Vinna. Dapat dikatakan sangat pas. Kurasa milik Vinna sangat dalam, karena dari semua cewek yang pernah ML denganku, vaginanya tak ada yang dapat menampung milikku. Paling-paling hanya 3/4-nya. Mungkin karena Vinna itu tinggi sehingga vaginanya juga dalam.
Setelah masuk semua, kudiamkan beberapa saat agar Vinna terbiasa. Lalu penisku mulai kutekan-tekankan perlahan-lahan. Vinna masih mendesah kesakitan. Walau penisku dapat masuk semuanya tapi ini sangat terasa sempit. Lama-lama kugerakkan agak cepat. Vinna sudah dapat mengikuti permainanku. Ia sudah dapat mendesah nikmat. Klistorisnya tergesek terus oleh milikku. Setelah agak lama, kuganti posisi. Aku berada terlentang di ranjang dan Vinna berada di atasku menghadap ke arahku. Dengan posisi ini, Vinna dapat mengatur sendiri kecepatan penisku. Vinna menggerakkan sendiri pantatnya. Aku pun menaikkan pantatku saat Vinna menurunkan pantatnya. Tanganku pun berada di kedua bukit kembarnya. Sensasi ini sungguh luar biasa. Vinna sangat menikmati permainan ini. Vinna mendesah lantang dan ia bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin melelahkan, sampai akhirnya Vinna mengejang dan membusurkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk memperlama waktu orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat. Aku menatap wajahnya yang menunjukan rasa bahagia.
Setelah memulihkan tenaga sesaat. Kembali aku melakukan permainan. Kali ini doggy style. Kubimbing ia pada posisi itu. Aku berdiri di belakangnya dan menusukkan penisku ke dalam miliknya. Kugerakkan penisku perlahan, namun lama-lama semakin cepat. Vinna berulangkali mendesah sambil mengucapkan kata-kata kotor yang tak dapat kubayangkan mampu keluar dari mulut gadis cantik seperti dia. Sampai akhirnya aku merasakan spermaku sudah mengumpul di penisku. Kukatakan padanya aku hampir orgasme. Dia pun hampir orgasme. Kupercepat laju penisku di dalam vaginanya. Kubuat agar Vinna keluar terlebih dahulu. Vinna pun meraih orgasmenya yang ketiga. Kubiarkan penisku di dalam vaginanya untuk menambah sensasi baginya, walau aku harus mati-matian menahan laju spermaku agar tidak muntah di dalam. Kemudian, kucabut penisku dan kumasukkan dalam mulutnya. Spermaku ternyata tidak mau keluar. Vinna pun berinisiatif mengulum penisku. Tak lama kemudian, spermaku muncrat di dalam mulutnya. Spermaku keluar banyak sekali. Vinna kaget, namun ia segera menelannya. Kami diam sesaat. “Vin, kamu masih kuat untuk main lagi?” tanyaku nakal. “Tentu donk..” jawabnya mesra. Vinna memang memiliki stamina yang kuat. Walaupun tubuhnya telah basah oleh peluh keringat, ia masih belum capai.
Setelah penisku kembali tegang, aku duduk dan Vinna duduk di atasku. Kumasukkan kembali penisku ke dalam vaginanya. Kali ini sudah tidak sesulit tadi walaupun masih agak rapat. Kugoyangkan pantatnya untuk meraih kenikmatan. Kugesek-gesek klistorisnya dengan penisku. Vinna kembali bergairah menyambutnya. Lalu kucoba menusukkan penisku keras-keras. Rasanya sungguh luar biasa. Vinna sangat menyukai tusukan itu. Ketika spermaku sudah mengumpul lagi, aku berganti posisi. Vinna kutidurkan terlentang lalu aku tengkurap di atasnya. Kugerakkan pantatku naik turun dengan cepat. Namun Vinna kurang menyukai posisi ini. Kuanjurkan dia untuk tengkurap di atas ranjang dan aku di atasnya. Seperti kura-kura saling menumpang. Kumasukkan penisku ke dalam liang kenikmatannya. Vinna kembali merasakan rasa puas. Kugerakkan penisku dengan cepat. Vinna akhirnya keluar juga untuk yang keempat kalinya. Aku pun mengeluarkan spermaku lagi di kedua belah dadanya. Kami pun tertidur selama beberapa jam. Ketika aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 19:30. Aku pun mencoba bangkit dari ranjang. Vinna pun terbangun. Saat itulah Vinna mengungkapkan perasaannya padaku. Kuterima cintanya dengan tulus. Kami pun berpacaran. Setelah 5 bulan berpacaran, kami pun putus dengan baik-baik. Tapi aku tetap menyukainya. Vin, di mana pun kamu, kalau kau membaca cerita ini. Ingatlah selalu kepadaku!
Jika ada saran, kritik dan tanggapan dari para pembaca, silakan hubungi penulis via e-mail.
TAMAT
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Bangkitnya Nafsu Asmara
Para pembaca, kenalkan namaku Mifta. Aku adalah seorang janda, umurku saat ini 30 tahun kurang 2 bulan. Aku akan menceritakan pengalamanku, yang tiada siapa pun yang tahu, hanya pada pembacalah aku bagi kisahku ini.
*****
Enam tahun yang lalu aku resmi bercerai dengan suamiku, karena dia tak bertanggung jawab dan berpaling pada wanita lain. Kalau kuingat saat itu, betapa hatiku terasa hancur berkeping. Setelah mengetahui kalau suamiku tak setia dan main gila dengan wanita lain di belakangku.
Semenjak aku menjanda, aku tak mau berkenalan dengan lelaki manapun, karena aku takut jatuh hati dan hal yang telah aku alami terulang lagi. Karena kupikir setiap lelaki itu sama saja, suka menyakiti perasaan wanita yang begitu lembut, dan suka meremehkan wanita.
Akhirnya aku sangat benci pada setiap lelaki. Aku tutup pintu hatiku untuk setiap lelaki yang menaruh hati padaku. Bahkan boleh dikatakan rasa cintaku sudah mati dan kukubur dalam dalam. Hal seperti itu sampai berlangsung lima tahun. Sampai akhirnya, aku mengenal seorang lelaki keturunan India, Roy namanya.
Tiga tahun lamanya sudah aku mengenal dia, tapi hanya sebatas kenal saja. Aku sangat kagum dengan penampilannya. Setiap gerak gerik dan segala tingkah lakunya sungguh membuatku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Kejujuran dan tingkah lakunya yang sopan dan juga tutur sapanya yang lembut sungguh membuatku semakin kagum padanya.
Lama kelamaan seperti ada perasaan yang lain di hatiku. Seakan-akan ada bara asmara yang timbul di hatiku. Perasaan asmara yang sekian lama mati kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Apabila aku sedang melihat Roy, hatiku terasa begitu syahdu, dan kalau lama tak melihat dia hatiku terasa sangat rindu.
Aku sangat heran, kenapa bisa jadi begini. Aku sudah berusaha membuang perasaan asmaraku pada Roy, tapi aku tak mampu. Kebaikan dan kejujuran Roy telah mampu membangkitkan asmaraku yang telah sekian lama mati. Lama kelamaan benih-benih asmara di hatiku tumbuh dengan suburnya, sehingga aku tak mampu membendungnya lagi.
“Apakah Roy juga merasakan seperti yang aku rasakan?”, batinku bertanya tanya.
Akhirnya kuputuskan untuk mengirimikan email padanya. Ternyata emailku mendapat jawaban seperti yang aku harapkan. Aku gembira sekali karena aku mendapatkan tanda lampu hijau. Sungguh aku tak menyangka messageku mendapat sambutan hangat. Maka di setiap kesempatan aku selalu saling berkirim email dengan Roy. Kata-kata manis dan mesra juga kata-kata asmara dan hasrat selalu kubaca di mailbox-ku. Perkataan cumbu rayu saling membalas.
Sampai suatu hari di rumah Roy, tepatnya di Hayes, keadaan di rumahnya sangat sepi dan sunyi. Hanya aku dan Roy saja. Saat itu pukul sepuluh pagi. Aku dan Roy berada di ruang tamu. Kami berdua mengobrol ngalor ngidul dan akhirnya Roy memasukkan DVD. Dia memasukkan film porno yang berjudul ‘Ice Woman’.
Aku duduk di karpet dekat Roy, sambil menyaksikan permainan di layar televisi. Setelah kurang lebih sepuluh menit film berputar, aku melihat duduk Roy mulai gelisah. Aku merapatkan dudukku ke Roy. Kini aku dan dia duduk sangat rapat, dan sekarang tangan Roy mulai nakal, jari-jarinya mulai merayap ke dadaku dan akhirnya menyusup ke balik bajuku, kemudian menyusup ke dalam BH-ku mencari puting payadaraku.
“Mifta, sudah lama aku ingin bercinta denganmu sayang?” katanya penuh nafsu.
“Aku juga Roy” kataku.
“Mifta sayang, bolehkah aku minta tubuhmu sekarang?” katanya.
“Tentu saja Roy, aku kan juga menginginkan kamu?” jawabku.
“Aku buka pakaianku ya?” katanya.
“Baiklah sayang” kataku.
Kemudian Roy melepaskan pakaiannya satu persatu termasuk CD-nya, sehingga dia kini sudah telanjang bulat. Betapa mataku sangat terbelalak ketika melihat kontol Roy yang sudah berdiri dengan gagahnya dan juga sangat besar. Bulu kudukku merinding takut, melihat besarnya kontol Roy itu. Dan aku tertegun sejenak.
“Ada apa mifta?” katanya.
“Tidak ada apa apa” jawabku gugup.
“Aku buka pakaian kamu ya?” katanya.
“Silakan sayang” kataku.
Kemudian Roy melepaskan pakaianku satu persatu, termasuk BH dan CD-ku, sehingga aku sekarang telah betul-betul bugil. Tangan kanan Roy terus mempermainkan puting payudaraku, sedangkan tangan kanannya mempermainkan klitorisku. Lidah Roy tak tinggal diam, dia terus beraksi menjilati leherku dengan sangat lihai sekali. Aku tak tinggal diam, tanganku melingkari kontol Roy yang besar dan mengocoknya. Tangan Roy terus menggelitik klitorisku, sehingga membuat aku menggelinjang keenakan.
“Terus.. Roy, ee.. nak.. sekali rasanya Roy,” kataku tak karuan.
“Kocokanmu juga enak Mifta,” katanya juga.
Rasa geli dan nikmat yang kurasakan betul betul membuatku tak tahan.
“Roy, masukkan sekarang ya? Aku sudah tak tahan?” pintaku.
“Baiklah Mifta, aku juga sudah tak tahan.” katanya.
Kemudian kontol Roy diarahkannya ke memekku, tanganku membimbingnya supaya tak meleset. Sedikit demi sedikit Roy menekan kontolnya ke memekku. Rasanya sedikit sakit, tapi bercampur nikmat.
“Mifta, memekmu sangat seret dan enak sekali!” katanya.
“Apa betul Roy?” kataku. Memang memekku terlalu kecil untuk ukuran kontol Roy yang besar itu. Sungguh aku tak menyangka memekku yang kecil mampu menampung kontol Roy yang begitu besar.
Setelah kontol Roy masuk semuanya, Roy mulai menggenjotnya perlahan-lahan. Aku pun ikut menggoyangkan pantatku seirama dengan gerakan Roy. Kadang kadang aku memutar pantatku sehingga rasanya lebih nikmat menurut Roy. Rasa enak dan nikmat yang kami rasakan sungguh tiada bandingannya. Sedikit demi sedikit Roy mempercepat gerakannya dan nafasnya mulai terengah-engah tak teratur. Aku pun tak tinggal diam, kuangkat pinggulku supaya kontol Roy dapat masuk lebih dalam.
“Mifta, aku tak tahan dan mau keluar,” katanya.
“Sebentar ya? Aku juga mau sampai,” kataku. Kemudian kami saling berpacu dan akhirnya..
“Mifta, aku keluar,” katanya.
“Aku juga, kita keluarkan sama sama ya?” pintaku.
“Kamu siap?” tanyanya.
“Ya, aku siap,” jawabku.
Lalu akhirnya kami sama sama mencapai nikmat yang selama ini belum pernah kami rasakan. Kami berdua sama-sama lemas, seakan kehabisan tenaga. Lalu kami beristirahat sejenak, baru kemudian tangan Roy mulai nakal lagi. Dia mulai mempermainkan putingku sehingga nafsuku kembali bergairah. Bibir kami kembali berpadu, dan tangan kami sama sama liar. Kontol Roy sudah berdiri tegak lagi bagai pentungan yang siap memukul mangsa.
“Mifta, aku mau lagi sayang?” pintanya.
“Aku juga Roy,” jawabku setuju.
Roy kembali mengarahkan kontolnya ke memekku lagi. Tanganku kembali membantunya supaya lebih mudah masuk. Setelah kontol Roy betul betul masuk, Roy mulai menggenjotnya. Kali ini genjotan Roy lebih bersemangat. Setelah sepuluh menit Roy menggenjot kontolnya, Roy membalikkan tubuhku.
“Ganti posisi ya Mifta? Aku sedikit letih.” katanya.
“Baiklah Roy, aku bersedia,” jawabku. Kemudian aku menggerakkan pinggulku ke atas dan ke bawah, kadang kadang kuputar-putar.
“Aauuhh.. Mifta.. Enak.. Sekali,” kata Roy.
Aku terus menggoyangkan pinggulku ke atas dan ke bawah tanpa menghiraukan racauan Roy. Kali ini kami berdua sama-sama bertahan lebih lama. Setelah aku letih berada di atas, kini kami mengubah style.
“Mifta, style doggy ya?” pintanya.
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau mari kita coba,” jawabku.
Kami melakukan gaya doggy, ternyata gaya ini rasanya sangat enak dan nikmat sekali. Dulu aku tak pernah melakukan gaya seperti ini. Roy terus menggenjot kontolnya dengan begitu bersemangat.
“Roy, kontol kamu enak sekali,” kataku.
“Apa benar Mifta?” jawabnya.
“Memang ini benar, dan aku tak bohong,” jawabku.
Rasa nikmat yang kurasakan semakin memuncak. Genjotan Roy pun semakin tak karuan, sekarang gerakan Roy sudah mulai cepat. Aku pun menggerakkan pinggulku seirama dengan gerakan Roy. Akhirnya Roy mencabut kontolnya dari memekku, dan memintaku telentang. Setelah aku telentang, Roy naik ke atasku dan kembali memasukkan kontolnya ke memekku dan menggenjotnya. Kini genjotan Roy semakin mantap dan terasa sangat dalam dan sangat enak sekali. Roy mempercepat gerakannya.
“Mifta, aku mau sampai,” katanya.
“Aku juga Roy,” jawabku. Kami berdua berpacu dalam nikmat, dan akhirnya..
“Aku keluar lagi sayang,” katanya.
“Aku juga Roy,” jawabku.
Akhirnya kami berdua sama sama mencapai puncak kenikmatan dan keluarlah lahar dari kontol Roy juga dari memekku. Dan kami berdua sama-sama lemas dan terkulai di atas karpet. Setelah kami melepas lelah, kami pergi mandi supaya badan kami nampak segar. Sehabis mandi, kami berdua duduk-duduk di sofa sambil berbincang.
“Mifta, kalau kapan kapan kamu mau, bilang saja ya?” kata Roy.
“Memangnya kamu mau lagi?” kataku.
“Ya pastilah! Siapa yang mau mau nolak nikmatnya memek kamu yang seret itu?” katanya.
“OK, kalau aku mau, aku akan beritahu kamu” jawabku.
Akhirnya setiap ada kesempatan selalu kupergunakan untuk bercinta dengan Roy. Kadang kadang seminggu sekali dan kadang kadang lima hari sekali, aku bermain cinta dengannya. Hal tersebut sampai sekarang masih tetap berlanjut.
*****
Begitulah para pembaca, kejujuran dan kelembutan perkataan Roy, mampu membangkitkan hasrat asmaraku yang selama ini hampir musnah. Bahkan sudah hampir mati.
Buat Roy, kalau kamu kebetulan sedang membaca ceritaku ini, semoga kamu mengetahui betapa aku sangat cinta kamu, tapi aku tak pernah mengatakannya padamu, karena itu tidak mungkin. Dan betapa aku selalu merindukanmu Roy! Roy, bacalah ceritaku ini sambil hayatilah isinya. Dan baru kemudian kamu akan tahu isi yang terkandung di dalamnya.
Dan bagi para pembaca, semoga kalian sedikit terhibur dengan kisahku ini, walau tidak begitu seru. Aku memang tidak pandai menambahi ataupun mengada-ada. Itu semua kutulis menurut aslinya saja. Mungkin para pembaca sekalian kurang bernafsu di saat membaca kisahku ini. Tapi hanya itu saja yang dapat saya persembahkan untuk kalian semua.
Kalau di antara pembaca ada yang ingin berkenalan denganku, silakan kirim email untukku, pasti secepatnya akan kubalas walaupun aku begitu sibuk. Salam untuk semua pembaca.
E N D
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Bandung Lautan Birahi
Meskipun telah belasan tahun meninggalkan Bandung keterikatanku kepada kota kembang itu tidak begitu saja lepas, terutama setelah kegagalan rumah tanggaku. Dalam setahun aku sempatkan 2-3 kali berkunjung ke Bandung bernostalgia bersama kawan-kawan yang tetap bertahan tinggal disana selepas kuliah. Walaupun kesemrawutan kota Bandung agak mengurangi kenyamanan namun tetap tidak mengurangi keinginanku untuk berkunjung. Banyak perubahan terjadi, Jl. Dago-juga daerah2 yg aku sebut kota lama-Cipaganti, Cihampelas, Setiabudhi, Pasteur dan daerah lainnya yang hancur keasriannya demi “pembangunan” namun ada dua hal yg masih bertahan, makanannya yang enak dan bervariasi dan..wanitanya yang terkenal cantik. “Di Bandung, beberapa kali kita melangkah akan selalu bertemu wanita cantik” anekdot kawan-kawan dan itu hampir sepenuhnya benar.
Oktober 1998 dengan kereta Parahyangan siang aku berangkat ke Bandung, liburan “nostalgia” selalu aku lakukan saat weekday menghindari hingar bingar Bandung saat weekend. Setelah menaruh tas bawaanku, menghempaskan tubuh dibangku dekat jendela dan langsung membuka novel John Grisham kegemaranku. Belum lagi selesai membaca satu paragraph aku dikejutkan sapaan suara halus: “Maaf, apakah tidak keberatan kalau kita bertukar bangku?” aku menengadah, kaget dan terpana! begitu mengetahui si pemilik suara. ” Hmm..sure..ehh maaf..tidak, maksud saya tidak apa-apa” jawabku dengan gagap.
Dia cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia lebih kurang 170, putih, postur yang proporsional dengan rambut hitam lurus sebahu bak bintang iklan shampoo! Umurnya kira-kira sekitar akhir 20an mengenakan baju krem ketat dan celana hitam yang juga ketat sehingga menonjolkan semua lekak-lekuk tubuhnya! Saat aku berdiri bertukar bangku, semilir tercium aroma parfum lembut yang entah apa merknya, yang pasti pas sekali dengan penampilannya.
“Maaf mengganggu kenyamanan Anda tapi saya seringkali tertidur dalam perjalanan, kalau dekat jendela lebih mudah menyandarkan kepala” Ia menjelaskan sambil meminta maaf.
“Ngga apa-apa kok” sahutku, bagaimana mungkin menolak permintaannya gumamku dalam hati. Setelah selesai merapihkan bawaannya Iapun duduk dan membuka Elle edisi Australia yang dibawanya. Kamipun tenggelam dengan bacaan masing-masing. Ingin rasanya aku menutup John Grisham-ku dan memulai pembicaraan dengannya namun melihat Ia begitu asik dengan Elle-nya niat itu pun aku urungkan. Kesempatan itu muncul saat pesanan makanan kami tiba,
“Suka juga roti isi” tanyaku membuka pembicaraan
“Iya, entah kenapa aku suka sekali roti isi di kereta, padahal rasanya biasa-biasa aja” jawabnya
“Mungkin suasana kereta membuatnya enak” lanjutku sekenanya
“Mungkin, oh ya Mas kenalkan saya Vini” sambil menjulurkan tangannya
“Reno, ngga pake Mas” sahutku sambil menyambut tangannya
“Hihihi” tawanya renyah “Kamu lucu juga, dalam rangka apa ke Bandung”
“Main-main aja kangen sama Bandung dan kawan-kawan” jawabku.
“Vini sendiri ke Bandung dalam rangka apa” tanyaku.
“Tugas kantor” jawabnya singkat tegas sepertinya enggan untuk menceritakan pekerjaannya.
“Tinggal dimana Vin di Bandung” Ia menyebutkan salah satu hotel berbintang di Dago
“Lho kok sama? aku juga di kamar 313″ suatu kebetulan yg mengejutkan
“Oh ya?!! satu lantai pula” ujar Vini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Selepas makan kami tidak lagi membuka bacaan masing-masing, obrolan-obrolan mengalir dengan lancar diselingi dengan joke-joke nakal yang ternyata disukainya. Perbendaharaanku yang satu ini cukup lumayan banyak, sisa perjalanan rasanya seperti hanya kami yang ada dikereta. Vini bahkan tidak lagi malu untuk memukul pundak atau mencubit kecil lenganku manakala ada joke yang “sangat” nakal. Tanpa terasa kami tiba di stasiun Bandung tepat jam 16.30, kami naik mobil jemputan hotel sambil terus bercengkerama dengan lebih akrab lagi.
Di hotel kami berpisah, kamarku dikanan lift sementara Vini dikiri. Dikamar aku langsung merebahkan diri membayangkan Vini dan mengingat-ingat semua kejadian di kereta, di mobil dan di lift aku memutuskan untuk mengajaknya makan malam atau jalan-jalan bahkan kalau bisa lebih dari itu. Karenanya aku urungkan menghubungi kawan-kawanku. Dan terlelap dengan senyum terukir di bibirku.
Jam 19.00 aku dikejutkan oleh dering telepon, belum lagi ‘napak bumi’ aku angkat telepon
“Hallo” jawabku dengan suara ngantuk.
“Hi Ren tidur ya?sorry ganggu” terdengar suara halus diseberang.
Vini!! langsung aku bangkit “Is ok, aku juga niatnya bangun jam segini tapi lupa pesan di front office tadi” jawabku. “Ada apa Vin?”
“Kamu jadi ngga ketemuan sama kawan-kawan Ren?”
“Hmm..aku belum sempat call mereka, ketiduran”
“Gimana kalau malam ini datang sama aku, soalnya aku ngga jadi dinner meeting”
“Sayangkan dandananku kalau harus dihapus” lanjutnya dengan tawanya yang khas
Aku shock mendengarkan ajakannya sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa
“Halloo..anybody home? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan
“Ooohh maaf..kaget..soalnya surprise..kaya ketiban bulan, diajak datang bidadari” jawabku. “Dasarr..kamu tuh..ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, casual aja ya” menutup pembicaraan.
Tidak usah disuruh dua kali akupun langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ’sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Vini mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan. “Hii..kok bengong lagi sih” tegur Vini menyadarkan aku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap soto sulung dan sate ayam dipojok jl. Merdeka kami lanjutkan menghabiskan malam disalah satu kafe di daerah Gatsu, Vini memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Vini memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu band memainkan lagu yang disukainya Vini turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat (bukan di dance floor)-lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan-buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan..”Ehh..” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu Vinilah yang memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirku..Malam yang indah.
Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel Vini menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Vini memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spion. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.
Kamipun bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan di taksi, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Reno..eehh..” desahnya. Keluar lift Vini menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Vini langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal. Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Vini sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu-walaupun masih terbungkus-membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahh..Ren..”desah Vini kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehh..aahh..” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.
Lidahnya semakin turun kedadaku sementara jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan.. lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar jalang, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terus Vin..teruss..ahh..” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Vini semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Vini meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus CD dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam CD dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat..dan..akhirnya..lidahnya berputar-putar disana.
“..aakhh..sshh..”desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakar. “Enakk Vin..
aahh..kamu pintar sekalii..hisap cantik..hisapp..” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.
Vini mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya..hanya sebatas itu!dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar..serangan ganda!!sunguh nikmatt!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Vini menggerakan ritme kocokannya. “Nikmat Vin..ahh..lagi..lebih cepat..oohh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.
Kuangkat tubuhnya dan kupeluk mesra. “Suka?”bisiknya bertanya. “Suka sekali..kamu hebat..” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooohh..” erang Vini. Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan bra 34b-nya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeehh..Reno..” lenguh Vini dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhh..akkhh..”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaghh.. Ren..aauuhh..kamu ganaas..”jeritnya.
Puas melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah CD mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi CDnya sehingga menyentuh daging lembut basah.
“Renoo..uugghh..”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.
Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaa..Renoo..” jerit Vini tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshh..eehh” desis Vina merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya. Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Vinipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Renoo..stopp..aahh..aku ngga tahann..”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godd..Renn..shhff..pleasee..stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya.
Akupun berdiri mengikuti keinginannya kurebahkan tubuhnya ditempat tidur dan kamipun bergumul saling memagut, menghisap dan meremas-remas bagian-bagian sensitif kami. “Sekarang Ren..sekarang.. pleasee..”pintanya berbisiknya. Aku merayap naik ketubuhnya, Vini membuka lebar kedua kakinya Iapun menggelinjang merasakan kepala kejantananku memasuki mulut kewanitaannya, kuhentikan sebatas itu dan mulai menggerakannya keluar masuk dengan perlahan. “Ooohh yaa..Renn..enakk..” Vinipun mulai mengayunkan pinggulnya mengikuti gerakan-gerakanku, sementara mulutku tidak henti-hentinya mengulum buah dadanya.”Aagghh..terus Ren..lebih dalamm..aagghh..” pintanya, kutekan batang kemaluanku lebih dalam dan..”Ssshh..”desisku merasakan kenikmatan rongga kewanitaanya yang sempit meremas-remas sekujur batang kemaluanku.”Aaaugghh..punya kamu enak Vin..” akupun semakin kencang memacu tubuhku membuat Vini semakin mengelepar-gelepar.
“Ahh..oucchh..nikmat Ren..sshh..”desahnya merasakan gesekan-gesekan batang kejantananku di dinding kemaluannya. Saat kami merasakan nikmatnya kemaluan masing-masing, tak henti-hentinya kami saling menghisap, memagut bahkan mengigit dengan liarnya..dan.. “Ugghh..Renn..fuck me..fuck me hard..I’m comingg honey..” tubuh Vini mengejang dan tangan serta kakinya memeluk tubuhku dengan kencang “Ouchh..oohh..aku keluar Renn..aaghh..” Iapun kejang sesaat kurasakan denyut-denyut di kewanitaannya dan..tubuh Vinipun lungai.
“Maaf Ren aku duluan..ngga tahan, habis udah lama ngga..” bisiknya, aku masih diatasnya dengan kemaluan yang masih terbenam didalam kewanitaannya. “Ngga apa-apa Vin cewekan multiple orgasm, masih ada yang kedua dan seterusnya kok..” jawabku menggoda. “Memangnya kuat..?” tantangnya. “Lihat aja nanti..”membalas tantangannya. “Ihh..itu sih doyan ..” seru Vini manja sambil mencubit pinggangku. Kubalas cubitannya dengan memagut lehernya dan menjilat telinganya sementara pinggulku mulai berputar-putar perlahan.”..Mmhhff..”kupagut bibirnya, lidah kamipun saling bertaut, meliuk dengan panasnya. Birahi kamipun kembali membara, tekanan pinggulku dibalasnya dengan putaran pinggulnya membuatku melayang-layang. “Shhff..agghh..ouch..” desahanpun tak tertahan keluar keluar dari mulutku. Dengan bahasa tubuh Vini mengajak pindah posisi, Ia diatas memegang kendali.
Vini menekan kewanitaanya dalam-dalam-sehingga kejantananku menyentuh ujung lorong kenikmatannya-dan mengayunkan pinggulnya mundur-maju. Semakin lama ayunannya semakin cepat, tak kuasa aku menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku.
“..teruss Vin..aahh..lagi Vin..oohh..punya kamu enak..”rintihku. “..punya kamu juga Renn..oucchh..want me to fuck you hardd..mmhh..” tidak perlu jawabanku, dengan di topang tangannya Vini membungkuk tambah mempercepat ayunannya. Buah dadanya yang indah berayun-ayun, kuremas-remas dan yang lainnya kulumat dengan rakus. “Ouchh..Rennoo..nikmatt..lumat semua Renn..auuhh..” jerit Vini sambil merendahkan tubuhnya memudahkan aku melumat buah dadanya membuat ayunan pinggulnya semakin tidak terkendali, tidak berapa lama kemudian tubuhnya kembali mengejang, Vini menekan dalam-dalam kewanitaannya menelan seluruh batang kenikmatanku. “Renn..aku keluarr lagi..AAKKHH..” teriak Vini, tubuhnya pun rubuh diatasku cairan kenikmatannya kurasakan membasahi kejantananku.
Vini rebah diatasku tubuhnya bagai tidak bertulang, hanya desah napasnya menerpa dadaku. Beberapa menit kemudian suaranya memecah kesunyian “Punya kamu masih keras Ren..belum keluar?”
“Aku tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir” bisikku sambil mengecup pipinya.
“Mmmhh..” Vini bergumam “Aku juga..”bisiknya sambil mengigit mesra leherku lalu mengecup bibirku. Hanya beberapa saat, gigitan dan kecupan mesra itu kembali menjadi pagutan birahi.
Kamar itupun kembali dipenuhi suara-suara erangan dan desahan kenikmatan duniawi, kejantananku yang masih berada didalam kembali merasakan bagaimana nikmat yang diberikan oleh kewanitaannya. Aku bangun sambil mendorong tubuh Vini sehingga kami berada dalam posisi duduk, satu tanganku memeluk punggungnya, tangan lain meremas-remas buah pantatnya yang bulat padat. Gerakan-gerakan pinggulnya membuat rongga kenikmatannya seakan melumat seluruh batang kejantananku, “Agghh..sshh.. Reenn..” rintihannya membuat birahiku tambah memuncak. Kubalas gerakannya dengan menggoyang-goyangkan pinggulku sambil kuhisap putingnya dalam-dalam.”Reenn..achh..shh..fuck me..hardd..”
Kurasakan gerakan tubuh Vini semakin menggila dan bukan cuma itu bibirnya semakin mengganas memagut bahkan menggigit bibir, telinga dan leherku. Akupun tidak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan oleh Vini, kurebahkan tubuhnya dan segera menindihnya, kakinya melingkar di pinggulku dan kamipun kembali mendaki puncak kenikmatan. Batang kejantananku tak henti-henti menikam-nikam lubang kenikmatan Vini dengan keras, Ia tidak tinggal diam, diputar-putar pinggulnya seirama tikaman-tikamanku “Aghh..ngg..sshh..Vinn..nikmat sekali..putarr teruss Vinn..”pintaku merintih-rintih. “Auugghh..Renn..tekan yang dalamm ..” kami tenggelam dalam gelimang birahi yang memuncak..dan..”Vini..akuu mau keluar..”kurasakan kejantanku bertambah besar. “Yess..yess..I’m coming too honey..” kami berpelukan dengan kuatnya dan secara bersamaan mengejang. “AAKKHH..punya kamu enak sekalii Vinn..”pekikku, kutekan dalam-dalam kejantananku dan cairan kenikmatanku pun menyembur keluar membasahi relung-relung kewanitaannya, “Aauughh Renn..nikmatt..sshhekallii..AAKKGGHH..” Kamipun terkapar lemas.
Setelah malam panjang yang indah itu kami tak henti-hentinya mengulangi lagi di hari-hari berikutnya, bukan hanya di tempat tidur, tapi semua sudut dikamar hotel itu bahkan kamar mandipun menjadi saksi bisu birahi kami. Bandung kembali memberi coretan khusus dalam hidupku membuat keterikatanku semakin besar yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.
Oleh: doi_dio@yahoo.com [Penulis bintang 1, mengkontribusikan antara 5 s/d 14 cerita] <<-Prev |
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Balas Dendam – 2
Dari bagian 1
Kurasakan kedua tangan Ali merengkuh diriku. Satu bergerak ke atas payudaraku dan yang lain melingkar di pinggangku. Dengan lembut, tangan Ali meremas buah dadaku sementara yang satunya bergerak lincah menarik ristluting sehingga blouseku merosot jatuh ke lantai. Bibir Ali mencium bibirku dengan hangat. Lidahnya menjulur mencari-cari lidahku. Kembali kurasakan tali kutangku terlepas dan jatuh mengikuti blouseku yang sudah berserakan di lantai. Buah dadaku langsung tumpah ke depan karena bebannya yang terlalu berat. Aku paling bangga dengan bentuk buah dadaku yang cukup besar, menggelantung indah. Begitu kenyal, tegak berdiri. Aku selalu rajin merawatnya.
Bibir Ali mulai turun ke arah leherku, sambil berbisik betapa indahnya bentuk payudaraku. Aku melenguh merasakan sensasi luar biasa dari rayuan mesra dan cumbuan hangat teman sekuliah suamiku ini. Bibrinya terus merambah ke bawah, mengecupi seputar buah dadaku. Aku bagai tersengast listrik kala mulutnya mulai menyedot puting susuku sambil meremas-remas buah dadaku. Tangan satunya lagi berusaha memelorotkan celana dalamku. Mataku terpejam sambil merasakan hisapan mulutnya pada putingku satu per satu. Jemari tangannya tidak tinggal diam. Bergerak lembut ke atas perut, terus turun ke selangkangan. Mengelus-elus lembut bulu-blu lebat kemaluanku. Lalu ujung jarinya mulai menyentuh kelentit yang berada di atas bibir kemaluanku. Nafasku tersengal-sengal, apalagi ia mulai merekahkan bibir kemaluanku yang sudah mulai basah.
“Ayo cepat! Aku nggak tahan lagi,” pintaku dengan suara serak berharap-harap.
“Nggak perlu buru-buru. Lebih lama lebih enak,” bisik Ali kembali.
Kurasakan bibir Ali bergerak turun, menciumi perutku. Lalu lidahnya terasa menjentik-jentik kelentitku sementara mulutnya mengemot seluruh kemaluanku. Aku merasakan cairan hangat mulai membasahi memekku, mengalir ke bawah. Pinggulku bergoyang liar mengikuti irama cumbuan Ali di selangkanganku. Mencari-cari kenikmatan yang begitu kudambakan sejak dahulu.
“Oohh, sekarang! Masukin cepaatt!” pekikku tak kuat menahan siksaan ini.
Kali ini Ali mau mendengarkan permintaanku. Ia bangkit berdiri sejajar denganku. Kedua kakiku di bukanya lebar-lebar. Kurasakan batang kontolnya menggesek pahaku. Pantatku mengayun ke belakang mencari-cari batangnya.
“Tenang saja. Nggak akan kemana-mana kok,” kata Ali yang membuatku semakin tersiksa.
Ali menggesek-gesekkan ujung kontolnya di sepanjang bibir memekku. Sepertinya ia ingin melicinkan jalan masuk. Lalu kurasakan kepalanya ditekan dan sedikit demi sedikit mulai melesak ke dalam liangku. Aku jadi tak sabaran. Sekuat tenaga kudorong pantatku ke belakang sambil menarik pantatnya sehingga tak ayal lagi batang kontol Ali langsung terbenam seluruhnya, sampai-sampai kurasakan buah pelernya menampar buah pantatku.
Kedua tangannya mencengkeram pinggulku, menahan tubuhku sebentar dan kemudian menidurkanku di ranjang dengan posisi tengkurap, sementara pantatku terangkat ke atas. Kepala kontolnya masih terbenam dalam liangku. Ia mulai bergerak kembali. Kontolnya menusuk-nusuk, keluar masuk liangku. Bergerak cepat sekali sampai-sampai aku mulai merasakan desiran kuat dari dalam diriku. Pinggulku bergerak liar mengikuti irama gerakannya dan mencari kepuasan yang belum pernah kurasakan dari seorang lelaki.
Keliaran gerakanku membuat Ali tak sanggup menandingi dan tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tiba-tiba saja kurasakan semburan kencang cairan hangat berkali-kali menyirami seluruh liang memekku. Ali memang tidak dapat disalahkan. Ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk memuaskanku.
Ali langsung tergolek lemas di atas tubuhku, sementara aku berkutat sendiri dalam kekecewaan. Kemudian Ali menggulirkan tubuhnya dari atasku. Kontolnya tampak sudah lemas namun masih mengeluarkan sisa-sisa spermanya, mengalir menelusuri lembah di antara buah pantatku dan berjatuhan ke atas ranjang.
“Maafkan aku,” kata Ali lesu.
“Tadinya kuberharap bisa membawamu ke puncak kenikmatan.”
“Untung ada saya,” tiba-tiba terdengar suara Bobi dari belakang Ali.
Aku melirik ke atas dan mataku langsung terpana ke arah selangkangannya.
Hampir-hampir aku tak percaya dengan mataku sendiri. Aku segera membalikan tubuhku hingga terlentang agar bisa memandang dengan jelas batang konotl miliknya yang luar biasa. Jarang-jarang ada lelaki yang memiliki kontol sepanjang itu, jeritku dalam hati. Dengan refleks, kedua tanganku menutupi selangkanganku. Oh tak mungkin, bisa robek liangku nantinya. Ah jangan! Jeritku dalam hati.
“Jangan dekat-dekat! Pergi sana.. nggak mungkin.. oh aku tak sanggup,” pekikku panik melihat batang yang ia acungkan ke arahku.
Panjangnya sampai ke atas perut. Lingkarannya saja demikian besar, sampai-sampai tangan Bobi sendiri tidak bisa memegang seluruhnya. Kedua buah pelernya menggelantung seperti buah kelapa kecil. Moncong kepalanya nampak mengkilat, membuat batang itu tampak semakin besar. Bobi tersenyum bangga melihat diriku yang ketakutan oleh “kebesaran”, miliknya.
“Kelihatannya ia takut., Al. dia nggak tahu kalau lubangnya itu elastis. Pasti muat,” kata Bobi kepada Ali.
“Lagi pula aku sudah siapkan ini.”
Bobi mengeluarkan sebuah tube berisi jelly pelicin dan mengusapkannya ke seluruh batang kontolnya.
“Hati-hati, Bob. Jangan sampai menyakitinya,” kata Ali dengan perasaan iri melihat kejantanan temannya itu.
“Tenang saja. Kita cari jalan yang mudah, biar dia sendiri yang datang padaku,” kata Bobi seraya berbaring di ranjang.
Batang kontolnya dia acungkan ke atas sambil menambah jelly hingga benar-benar licin. Benar juga, pikirku. Kalau aku di atas dapat mengontrol sesukaku. Jelly itu pasti membantu banyak, lagipula bila sakit, tinggal lepaskan saja. Dengan malu-malu, kusentuh batang itu. Kontol Bobi langsung bereaksi begitu terkena sentuhan tanganku. Telapak tanganku tak mampu memegang seluruh batangnya. Kukocok perlahan, naik turun. Nampak cairannya mulai menetes dari ujung kepalanya. Aku coba untuk menciumnya. Terasa asin namun memberikan rangsangan yang luar biasa. Aku jadi penasaran.
Kemudian aku naik ke atas ranjang dengan posisi jongkok mengangkanginya. Batang kontolnya menempel di atas perutku. Posisinya masih terlalu tinggi. Aku jadi berpikir, batang sepanjang ini mana bisa masuk. Untunglah Ali datang membantu. Ia angkat tubuhku, lalu menurunkannya ketika batang Bobi sudah tepat berada di antara liang memekku. Bobi ikut membantu dengan membuka bibir memekku lebar-lebar.
“Turunkan. Pelan-pelan..”, katanya kepada Ali.
Liang memekku sudah terbuka lebar-lebar. Tubuhku turun perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit ujung kontolnya mulai melesak ke dalam. Terasa batang mirip pemukul base ball ini dijejalkan secara paksa. Aku mencoba mengangkangkan kedua kakiku selebar-lebarnya. Aku melenguh merasa kesakitan. Tetapi nampaknya aku tak perduli dengan rasa sakit ini dan membiarkan tiang pancang itu terus terbenam.
“Aduuhh.. jangaan.. nggak bisaa!”
Ali terus menekan tubuhku ke bawah. Aku memekik kesakitan. Liang memekku serasa dibelah, dibuka lebar-lebar menyambut tusukan batang itu. Rahangku serasa kaku diaktupkan sedemikian rupa untuk mengalihkan siksaan ini. Mataku terpejam rapat-rapat. Sementara Ali terus menekan tubuhku hingga akhirnya terdengar ia tertawa senang.
“Yaa.. udah masuk semuanya,” teriaknya girang sambil melepaskan tekanan tangannya paa tubuhku.
Kubuka mataku dan melirik ke bawah. Kulihat batang besar itu menancap habis. Liang memekku sepertinya sudah habis batas bukaannya. Ujung moncongnya sampai terasa ke ulu hati, memenuhi seluruh rongga rahimku. Aku yakin kedua lelaki itu pasti melihat bagaimana ekspresi wajahku ketika kulihat liang memekku disumpal benda raksasa. Tadinya aku khawatir menemukan cucuran darah akibat tusukan benda itu.
Bobi nampak terlihat santai. Kedua tangannya diletakan di belakang kepalanya seperti bantal dan tersenyum kepadaku seakan terhibur. Aku mulai terbiasa dengan keberadaan benda besar di dalam diriku, meski dengan susah payah.
“Ouhh.. oh.. oohh..”, aku melenguh tak henti-hentinya setiap kali batang Bobi bergerak keluar masuk.
Tubuhku bergerak naik sampai batas kepala kontolnya. Kulihat ke bawah jauh sekali jaraknya. Aku tak bisa membayangkan berapa senti panjang kontol milik Bobi ini. Lalu tubuhku turun perlahan sampai semuanya terbenam dan begitu seterusnya dengan kecepatan semakin lama semakin cepat.
“Ayo goyang terus!” teriak Bobi dari bawah sana.
Pantatku turun naik dan bergoyang-goyang mengimbangi tusukannya. Pengalaman yang luar biasa ini memberikan kenikmatan yang lain dari pada yang lain. Rasanya aku tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tangan Bobi meremas-remas buah dadaku dan menciuminya. Menyedot habis putingku. Aku tepaksa merebahkan tubuhku di atasnya karena lemas terus-terusan berjongkok. Kurasakan bibirnya menciumi seluruh wajah dan tubuhku. Batangnya yang keras bagai besi baja itu menggesek habis seluruh dinding liang memekku. Aku menggerinjal saking nikmatnya.
Baru kali ini aku merasakan nikmatnya bersetubuh selama 6 tahun menikah. Rasanya aku menjadi kaku oleh sensasi-sensai luar biasa yang menggerayang ke sekujur tubuhku. Mendadak semuanya menjadi kabur, aku sudah tak tahu lagi berada di mana sampai akhirnya kurasakan ledakan-ledakan beruntun dari dalam tubuhku. Oh sungguh luar biasa! Ledakan itu terus berlangsung. Aku mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya dalam bercinta. Rasanya jauh sekali bila dibandingkan dengan permainan tanganku sendiri saat bermasturbasi.
Sensasi itu semain bertambah saat tubuh Bobi mengejang. Kurasakan batangnya semakin mengeras dan membesar. Mendadak kurasakan semburan kencang cairan hangat menyirami seluruh rongga mememku. Rasanya aku bisa mencapai puncak kembali dengan sensasi ini. Dan benar saja kembali tubuhku bergetar kencang diiringi ledakan-ledakan, namun tidak sekencang sebelumnya.
Aku terkulai lemas tak berdaya. Mataku terpejam erat sambil memeluk tubuh kekar Bobi. Hatiku tak henti-hentinya memuji kejantanan lelaki ini. Benar-benar memberikan kepuasan yang luar biasa. Sambil berbaring, aku melirik ke samping melihat Ali sambil duduk di kursi mengocok kontolnya sendiri.
Aku menyuruhnya untuk mendekat kepadaku. Ali datang sambil memegang kontolnya diarahkan ke mulutku. Aku langsung menghisapnya sambil mengocok. Dua tiga kali kocokan dibarengi jilatan lidahku, Ali mencapai puncaknya dan menyemburkan cairan hangat dan kental ke seluruh wajahku. Ia pun terkulai jatuh ke atas tubuh kami.
Kami terkulai lemas bertumpukan di atas ranjang dengan wajah memperlihatkan kepuasan. Dalam hati aku berterima kasih kepada mereka berdua yang telah memberikan pengalaman baru dalam hidupku.
Ternyata masih ada kenikmatan di luar sana, pikirku dalam hati ketika sudah berada di rumah. Kulihat di samping, Numan suamiku tergolek tidur pulas, sementara aku tengah berpikir kapan lagi bisa bertemu Bobi sambil mempermainkan kartu namanya di tanganku.
E N D
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Balas Dendam – 1
Seminggu yang lalu, Nurman dan aku datang menghadiri pesta ulang tahun Kristi. Selama di pesta, aku telah minum dua gelas lalu ngobrol bersama Ali, suami Kristi, untuk melepaskan kepenatan yang kualami selama minggu-minggu ini. Ali ternyata pria yang baik. Kurasa ia tidak cocok beristrikan Kristi yang memiliki gaya hidup bebas, selalu mencari kesempatan menggoda pria lain.
Suasana terasa santai diiringi alunan musik yang lembut. Ali menceritakan pekerjaannya sebagai seorang salesman mobil dan gossip-gosip yang sering terjadi di lingkungan pekerjaannya. Ketika kami asyik ngobrol, aku sempat melihat Numan pergi keluar bersama Kristi. Aku curiga. Lalu permisi kepada Ali untuk ke belakang, padahal sebenarnya aku mengikuti kemana Numan dan Kristi tadi pergi. Aku mengendap ke arah dapur dan benar saja kulihat Numan dan Kristi sedang berciuman di dalam sana. Hatiku panas melihat mereka berselingkuh, tetapi aku terpaksa menahan diri karena tak mau terjadi keributan di pesta ini dan mempermalu diri sendiri.
Aku hanya bisa menyuruh Numan untuk menghentikan semua itu, lalu aku pergi meninggalkan mereka kembali bergabung dengan yang lain sambil menenangkan diri. Kristi memang wanita jalang, aku pernah melihatnya berjalan-jalan di sekitar rumahnya hanya dengan mengenakan kutang dan celana dalam saja, padahal saat itu ada tukang taman yang sedang bekerja. Kelihatannya Kristi sudah biasa melakukan itu dengan Numan.
Ali segera menghampiriku begitu aku kembali dan bertanya “Apa Kristi dengan Numan? Aku sudah curiga selama ini,” lanjutnya mulai kelihatan marah.
“Mungkin mereka kebanyakan minum saja,” kataku menenangkan suasana agar tidak terjadi perkelahian di antara mereka.
“Jangan berbohong. Aku tahu wanita macam apa dia. Ia memang suka sekali berselingkuh, bertelanjang di hadapan orang lain. Kamu tahu nggak, ia baru mau bercinta denganku kalau ada yang menonton.”
“Akh masa sih?” tanyaku tak percaya.
“Masa aku bohong. Mau bukti, ayo deh kita lihat lagi mereka,” ajaknya untuk membuktikan.
Ali menarik lenganku sambil memberi isyarat untuk tidak gaduh. Kami berjalan menaiki tangga ke loteng, lau menuju ke kamar mandi, pintunya tidak tertutup rapat. Kudorong perlahan dan kusaksikan di dalam sana Kristi sedang memegang kontol Numan.
“Aku minta kalian segera keluar dari rumah ini,” kata Ali dengan geram.
Setelah peristiwa itu, Numan dan aku jarang berbicara. Ia pun kelihatannya tak meu lagi bercinta denganku. Aku pun demikian dan merasa lebih suka dengan keadaan seperti ini. Terus terang saja, kehidupan seks kami kurang begitu membahagiakan. Numan adalah tipe lelaki yang egois. Ia bercinta hanya demi kepuasan sendiri. Sudah menjadi kebiasaannya kala bercinta dengan gaya “tembak langsung”. Tak ada cumbu rayu. Tak ada sentuhan lembut dan mesra. Ia langsung tancap, dua-tiga menit kemudian terkulai lemas dan tertidur meninggalkan diriku yang gelisah tak terpuaskan. Akhirnya aku jadi terbiasa setelah bercinta dengannya segera pergi ke kamar mandi dan berjuang sendiri untuk mencapai kenikmatan.
Suatu pagi ketika aku masih bermalas-malasan di ranjang, telepon berdering dan kudengar suara Ali di sana.
“Begini, kurasa kita harus berbicara. Bagaimana kalau nanti siang kamu datang ke kantorku dan makan siang barengan?” ajak Ali.
Rupanya ia masih mempermasalahkan peristiwa itu. Aku segera mengiyakan dan setuju untuk bertemu dengannya di rumah makan dekat tempat kerjanya. Kuperhatikan wajah Ali ketika kami sudah berada di sana. Berwajahnya tampan. Tubuh nya atletiis. Rambutnya lebat dan hitam legam mesti kuperhatikan ada beberapa helai rambutnya yang sudah memutih. Usianya memang tak jauh berbeda dengan suamiku, karena mereka adalah teman sekuliah.
Ali nampak tegang. Beberapa kali ia meneguk minuman beralkohol. Ia pesan beberapa gelas lagi. Meski sudah cukup banyak, kelihatannya ia masih bisa mengontrol diri. Aku minta supaya dia berhenti minum.
“Aku ingin menenangkan diri setelah peristiwa itu. Kamu pun pasti demikian,” jawab Ali.
“Minum sedikit khan nggak apa-apa. Sekali-kali.” Katanya enteng meski wajahnya nampak menegang.
Lalu ia ngoceh kesana-kemari mengenai tingkah laku istrinya yang selalu berselingkuh, termasuk dengan suamiku. Aku lalu mengutarakan juga permasalahan kehidupan kami. Kukatakan bahwa Numan telah bermasalah sejak perkawinan kami.
“Percayalah, aku ini temanmu. Utarakanlah apa yang menjadi uneg-unegmu,” usulnya. “Aku tak akan bercerita kepada siapa-siapa.”
Ia lalu memesankan minuman untukku. Begitu hawa hangat mengalir ke sekujur tubuh, aku seakan lepas dari suatu belenggu. Bibirku dengan lancar berceloteh tak karuan, menceritakan kehidupan perkawinan kami, termasuk kehidupan seks yang sebelumnya tak pernah kuungkapkan kepada siapapun juga. Anehnya aku tak merasa malu ataupun takut menceritakan hal yang paling intim ini. Entah karena pengaruh minuman atau rasa percayaku kepada Ali, yang menurutku pantas untuk menampung segala kegundahanku selama ini. Sebaliknya, aku merasa beban yang menyesak di dadaku bobol. Aku merasa plong. Terbebas dari tekanan.
“Aku mengerti. Dia memang lelaki yang selalu mementingkan diri sendiri. Tak pernah mau tahu masalah orang lain,” kata Ali menanggapi keluhanku.
Tadinya aku berpikir ia akan menertawakanku atau setidaknya melecehkanku. Tapi tidak. Ia justru begitu prihatin dan terus-terusan mencoba menghiburku dengan kata-katanya yang bijak dan penuh kelembutan sehingga aku merasa semakin percaya padanya. Aku terus mengeluarkan uneg-unegku, sampai-sampai aku berani menceritakan bagaimana suamiku di ranjang. “Selama enam tahun pernikahan kami, aku tak pernah merasakan orgasme setiap bercinta dengannya,” kataku tiba-tiba. Aku sendiri heran mengapa ucapan itu sampai meluncur dari mulutku.
“Apa pernah.. nggh.. kamu berpikiran untuk mencari pria yang dapat memberikan kepuasan padamu,” tiba-tiba Ali bertanya seprti itu.
“Aku yakin, kau dapat dengan mudah mendapatkannya. Kamu cantik dan menarik. Seksi lagi,” lanjutnya entah memuji atau apa.
Aku sendiri terhenyak mendengar ucapannya. Tapi aku tidak marah, malah menanggapinya dengan bercanda pula. “Apa ini sebuah tawaran?” balasku sambil mengerling padanya.
“Kurasa aku tidak mengada-ada. Kamu bisa membalas dendam perlakuan Numan padamu dan aku bisa melakukan yang sama atas perlakuan Kristi padaku,” balas Ali.
Entah kenapa sebabnya begitu obrolan ini sudah mengarah kepada perselingkuhan, aku jadi semakin berani. Tanpa sadar, kuteguk lagi minuman beralkohol di hadapanku.
“Oopps, jangan banyak-banyak,” kata Ali mengingatkan.
“Itu kuat sekali.”
“Nggak apa-apa. Aku ingin tahu rasanya yang kuat,” balasku semakin genit.
Aku sendiri kaget dengan ucapanku sendiri. Apa ini karena pengaruh alcohol? Atau..? Akh entahlah.
Rupanya Ali dapat menangkap isyarat dalam ucapanku.
“Aku memang tak sekuat itu, seperti lelaki-lelaki yang lain saja. Tapi kalau kau ingin yang benar-benar kuat dan jantan, ada temanku Bobi. Ia seorang akuntan,” kata Ali tanpa tedeng aling-aling, layaknya seorang germo yang tengah menawarkan gigolo kepada wanita kesepian. Seperti diriku?
Sambil meneguk kembali minumanku aku langsung menjawab, “Kurasa kalian berdua saja sekaligus,” kataku tanpa tedeng aling-aling juga.
“Kamu serius? Kukira bercanda,” kata Ali setengah percaya.
“Kalau aku sudah memutuskan, apapun akan kulakukan. Dengan kalian berdua atau aku mencari yang lain,” jawabku meyakinkan.
“Ok, ok. Aku mau. Tunggu sebentar di sini,” kata Ali buru-buru untuk kemudian keluar memanggil temannya.
Kulihat Bobi ternyata pria yang biasa-biasa saja. Dari penampilannya tidak mengesankan ia seorang pemuas wanita kesepian. Tubuhnya memang kekar. Kuperhatikan otot-otot lengan atasnya menyembul dari balik kemejanya. Ia katanya sering fitness dan bermain bola. Usianya kutaksir sekitar 25 tahunan. Aku agak kecewa juga. Tapi segera kuhilangkan kesan itu. Bisa saja penampilan membuktikan lain. Dan aku harus membuktikan bahwa ia memang lain dari pada yang lain.
“Halo, sayang. Kenalkan aku Bobi,” sapanya penuh percaya diri seakan aku ini pasti menyukainya.
Tanganku segera menyambut uluran tangannya. Kurasakan telapak tanganku tergenggam habis olehnya. Hatiku berdesir membayangkan betapa besarnya bagian yang lain selain tangannya.
“Apakah kalian berdua mampu menangani permasalahanku?” tanyaku bercanda hanya untuk mengalihkan perasaanku yang tak menentu akibat rencana perselingkuhan ini.
“Kelihatannya tidak juga.”
“Kuberikan apa yang kau butuhkan,” jawab Bobi meyakinkan.
“Hey, aku dulu. Baru kamu, Bob,” protes Ali dengan cepat.
“Aku dengar kamu sampai berkali-kali dengan Hanny katanya. Bisa-bisa aku nggak kebagian nanti..”
“Stop, stop,” kataku menyela. “apa kalian akan ngobrol di sini terus?” sepertinya aku yang jadi tak sabaran.
“Ok, kalau begitu kita kerurmahku saja. Dekat dari sini. Dari pada sewa hotel,” kata Bobi buru-buru.
Akhirnya kami berangkat ke rumah Bobi. Selama 10 menit dalam perjalanan, hatiku gelisah, deg-degan. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi nanti. Seumur hidup baru kali ini aku melakukan perselingkuhan. Itupun baru mau. Semasa gadispun aku tak pernah berkencan dengan macam-macam lelaki karena begitu pacaran langsung kawin. Aku ini tipe wanita kuno, yang tak pernah mengikuti pergaulan masa kini.
“Eh, begini. Beri kesempatan untuk berpikir,” kataku kepada mereka.
“Kamu nggak batalin, khan,” Tanya mereka berbarengan.
“Nggak, nggak. Tolong tunjukin kamar mandi dan beri waktu sebentar,” jawabku segera.
Kulihat kamar itu besar sekali. Kamar mandi berada di pojoknya. Terdengar alunan lembut suara musik.
“Kamu suka tempat ini?” Tanya Ali persis di belakangku.
“Suka sekali, tapi beri waktu sebentar biar aku merasa nyaman,” kataku.
“Biar aku saja yang memberikan kenyamanan padamu,” bisik Ali seraya merangkul tubuhku dari belakang.
Ke bagian 2
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Balada Para Ibu Rumah Tangga – 3
Dari bagian 2
Aku masih di kota M dan masih kuliah. Pagi ini aku kedatangan pasangan suami istri, Toto dan Juminah, mereka datang dari kampung yang letaknya sekitar 25 Km dari rumah kontrakanku. Katanya sih mereka tahu aku bisa ngobatin penyakit secara supranatural dari tetangga mereka, Pardi. Aku sendiri lupa apa pernah ya aku ketemu orang namanya Pardi atau tidak. Singkatnya, pasangan Toto yang sopir truk antar pulau dan Juminah yang pembantu rumah tangga itu datang padaku dengan keluhan pingin cepat dapat anak.
“Benar lo Mas, berapapun biayanya saya usahakan asal kami bisa punya momongan. Wong kami ini sudah tujuh tahun kawin lo Mas,” Toto memohon mohon padaku diruang tamu, sementara Juminah hanya ikut manggut-manggut setiap suaminya bicara.
Toto adalah pria bertubuh ceking dan usianya sekitar 40 tahunan, sedangkan Juminah walau agak kampungan dan lusuh tapi terlihat jauh lebih muda dengan usia sekitar 29 tahunan. Body Juminah yang agak gemuk terlihat serasi dengan tinggi tubuh yang lebih tinggi 5 cm dari Toto.
“Emangnya seminggu berapa kali kalian melakukan hubungan badan,” setelah puas menilai penampilan dua tamuku itu, aku pun mulai meluncurkan pertanyaan dengan mimik serius.
“Eh.. Anu Mas. Kadang-kadang dua kali seminggu, atau malah kadang dua minggu sekali, soalnya saya ‘kan sopir truk antar kota Mas. Kadang saya nginap diluar kota, jadi nggak sempat gituan,” Toto menjawab malu-malu, Juminah malah tertunduk habis.
“Oh.. Begitu toh. Pantas kalian susah dapat momongan, wong jarang kumpul dan kerja berat terus sih,” aku berujar sambil menenggak kopi pagiku.
“Oke sekarang kalian tenang saja, biar aku bantu masalah kalian. Nah sekarang kalian masuk ke kamar itu dan tunggu aku ya,” pintaku pada tamuku sambil menunjuk kamar praktikku.
Beberapa menit setelah mereka masuk, aku langsung nyusul, di kamar itu aku duduk di kursiku sementara mereka di kursi tepat depanku yang dihalangi meja kerjaku.
“Begini Mas Toto, ini kan untuk kebaikan kalian berdua jadi kumohon jangan rikuh dan risih dengan ruwatan pengobatan yang akan kulakukan ya, bagaimana? bisa apa nggak?,” tanyaku.
“Oh.. Monggo saja Mas, kami memang siap apa saja untuk dapat anak kok,” Toto menjawab.
“He-eh Mas kami siap kok,” Juminah menimpali.
“Kalau begitu sekarang kalian buka baju dan ganti pakai sarung ini ya, terus tiduran di dipan itu,” kuberi dua lembar sarung bermotif bunga dan menunjuk dipan di kamar praktikku. Pasangan dari kampung itu nurut saja dan sekejap kemudian sudah berbaring berdampingan di dipan, hanya pakai sarung tok.
Aku berdiri mendekati pasangan yang sudah pasrah itu, mereka kuperciki air kembang sambil merapal mantra seadanya dibibir.
“Sekarang tolong kalian bersetubuh ya, iya bersetubuh, main, ngeseks..,” perintahku disambut keheranan keduanya.
Tapi mereka tak punya pilihan, toh mereka butuh bantuanku. Toto langsung saja membuka sarungnya dan mempreteli sarung Juminah hingga keduanya bugil tulen. Bibir Toto yang agak monyong langsung nyosor menciumi sekujur tubuh Juminah, sedangkan tangannya mulai gerilya di bagian vagina istrinya itu.
Wah, pemanasan seks pasangan ini rupanya kurang ahli, pantas saja sudah dapat anak. Lima menit kemudian Toto main tancap saja, padahal penisnya yang imut belum tegak benar sehingga kelihatan agak susah menembus vagina Juminah yang masih kering belum terpacu birahi.
“Duuhh belum Mas, susah sekali masuknya,” Juminah menggerutu tapi tetap aku dengar.
Toto tak peduli dan terus menggenjot pantatnya, menggesek gesek penisnya yang masih layu ke permukaan vagina Juminah dengan napas memburu, nafsu benget.
“Ohh yess.. Ahh,” Toto sudah tamat sebelum penisnya belum masuk utuh ke vagina Juminah, ia langsung KO dan menggelepar disisi istrinya.
“Wah.. Wah.., Mas Toto ini gimana sih. Bagaimana mau punya anak kalau sperma sampeyan nggak nyiram rahim Mbak Jum. Payah sampeyan ini Mas,” kataku memberi komentar.
Toto dan Juminah kembali duduk dihadapanku dihalangi meja, lalu kujelaskan bagaimana proses pembuahan yang dibutuhkan rahim wanita sebelum akhirnya hamil dan melahirkan.
“Mas Toto kulihat burungnya kurang kuat ya, kok baru gesek-gesek sudah KO. Tuh Mbak Jum belum rasain apa-apa. Iya kan Mbak?,” Juminah tertunduk malu mendengar pertanyaanku, Toto malah garuk-garuk kepala, mereka masih pakai sarung tok.
“Terus gimana caranya Mas supaya aku dapat momongan toh,” Toto bertanya.
“Caranya ya perbaiki mutu seks kalian itu, terutama Mas Toto, burungnya harus kuat sehingga nyembur pejuhnya di dalam vaginanya Mbak Jum, gitu loh. Selain itu nanti kuberi ramuan,” kataku menjelaskan.
“Anu Mas, punya Mas Toto memang nggak bisa lebih dari itu kok, padahal sudah minum banyak jamu, tapi begitu terus,” Juminah menyelaku.
“Ya mau bagaimana lagi wong memang begitu,” Toto protes.
“Oke-oke, supaya Mas Toto lebih sip, gimana kalau aku contohkan cara main yang tepat, biar pas dan cepat dapat anak,” aku menawarkan. Mereka saling pandang kemudian memandangku lagi.
“Terserah bagaimana baiknya Mas,” Toto dan Juminah menjawab hampir serentak.
“Oke sekarang Mas Toto duduk disini dan Mbak Jum silahkan tiduran lagi di dipan,” perintahku.
Toto duduk dikursi tadi, Juminah sudah berbaring berbalut sarung sebatas dada, aku mendekati dan mencipratkan air kembang ke sekujur tubuhnya.
“Begini Mas Toto, perhatikan cara menaikan birahi istri pada langkah pertama,” kataku seraya menurunkan kain sarung Juminah sampai ke perut. Aku duduk disamping Juminah yang tiduran, lalu kuraba-raba dua gundukan di dada Juminah, meski sudah tujuh tahun kawin, rupanya susu 36B Juminah masih kencang kayak perawan.
“Ihhss geli Mas.. Aku malu ah..,” Juminah menepis tanganku, tapi kemudian membiarkan lagi tangan itu beraksi.
“Mas jangan cemburu ya ini untuk kebaikan sampeyan juga kan,” kulanjutkan aktifitasku dan Toto hanya manggut-manggut memberi restu. Kini bibirku mulai aktif menjilati susu Juminah bergantian kanan dan kiri. Hisapan dan jilatan terus kulakukan sampai lima menit lamanya.
“Hsshh aauuhh.. Emmffhh maasshh.. Aahkk,” Juminah mendesis dan menggeliat-geliat karena hisapanku di susunya, tangannya malah sudah mendekap kepalaku seperti enggan kalau kulepas hisapan itu.
“Gimana Mbak Jum? enak?,”
“Ehmm iiyah Mas,” Juminah menatapku sayu, wajahnya cukup manis kalau begitu, rasanya mirip artis Denada Tambunan, body gemuknya pun mirip waktu Denada belum diet (Sorry ya kalau Dena ikut baca, abis emang mirip sih).
“Nah Mas Toto sekarang lihat nih tahap kedua merangsang birahi istri,” aku mengambil posisi jongkok tepat diantara dua paha Juminah yang ngangkang. Vagina Juminah sepintas kelihatan jorok, apalagi bulunya hitam, panjang, sembrawutan lagi. Kuusap pelan bagian sensitif Juminah dari bawah ke atas dan terus begitu beberapa kali.
“Auuhh mashh geliih ahhss,” pinggul Juminah naik turun mengikuti tanganku yang mengusap vaginanya.
Saat cairan kental mulai membasahi bagian itu, aku langsung merunduk dan menciumi bibir vagina Juminah, aroma vagina cewek kampung memang asyik dan alami. Kugunakan lidahku menjilati bibir dan klitoris vagina Juminah, membuat Juminah kalang-kabut dan menggelinjang tak karuan. Kuintip mulut Juminah sedikit terbuka dan merintih-rintih, rambutku dijambak-jambak Juminah. Sementara Toto serius melihat bagaimana istrinya sedang kubuat birahi tinggi. Gerakan tubuh Juminah yang agak gemuk membuat dipan bergerenyit, kreyat-kreyot, tapi makin asyik. Aku sendiri mulai merasa birahi, penisku mulai tegang dan mendesak CD yang kupakai. Hampir 10 menit kujilati vagina Juminah, sampai kurasakan dua pahanya keras menjepit kepalaku dan jambakan pada rambutku makin kencang.
“Aahhss aahhdduhh.. Iihhss.. Mmmff..,” Juminah sampai pada orgasmenya, gerak pinggulnya menghentak-hentak kepalaku yang dijepit pahanya, lalu jepitan itu lunglai, Juminah lemas.
“Gimana Mbak Jum, ringan rasanya?” aku bertanya sambil melepaskan pakaianku sampai bugil juga.
“Iyaah mass agak ringan, enak sekali rasanya,” Juminah masih menatapku dengan birahinya.
“Nah Mas Toto, sekarang lihat tahap terakhir ya. Bagaimana caranya masukkan penis ke vagina supaya cepat hamil,” aku berkata pada Toto yang tetap serius memperhatikan.
Juminah terbaring pasrah dengan dua paha mengangkang lebar, vaginanya yang kuyup jelas terlihat karena bulu lebatnya lusuh oleh cairan vaginanya. Penisku yang sudah maksimal berdiri kusisipkan di bibir vaginanya dan tubuhku mulai menindihnya, susu Juminah kembali jadi sasaran jilat dan hisapku.
“Sabar ya Mbak Jum, pasti tak buat kamu ketagihan,” bisikku di telinga Juminah.
“Uhh mass, teruskan apa maumu mass..,” Juminah tak sabar menunggu penisku menembus vaginanya. Bless.. Jleepp, penis kudorong masuk menembus vagina Juminah yang masih terasa rapat dan nikmat, Juminah merintih tertahan merasakan benda yang masuk tak seperti yang selama ini dirasakan dari Toto.
“Eh Mas Toto, kok bengong. Nah ini Mas caranya yang betul, tuh lihat burungku masuk utuh ke vaginanya Mbak Jum,” aku memberi tahu Toto, dia manggut-manggut saja dan melongo melihat istrinya kelepar-keleper kubuat.
“Ahhyoo mass.. Aku ngghhaakk kuaatt, ohh..,” pinggul Juminah terus naik mendesak penisku supaya bergerak di vaginanya. Kupeluk tubuh gemuk Juminah, kugenjot penisku, kepala Juminah bergerak tak beraturan, rintih dan desahnya makin menjadi-jadi.
“Enak Mbak Jum.. Hehh, enaak ndaak mBHaak,”
“Iyahh oosshh.. Eenhhaak, teruusshh mashh aauhh,”
“Mmmffhh ehmnnff,” bibir Juminah yang agak tebal tapi seksi kulumat habis, aku jadi nafsu banget dengan bau keringat ketiak Juminah yang khas kampung itu. Kugenjot makin kuat dan makin teratur, Juminah pontang-panting mengimbangi gerakanku dengan menggoyang pinggulnya.
Permainan kami cukup panjang tapi Juminah belum kelihatan menyerah, posisi segera kuubah, kubalik tubuh kami sehingga Juminah yang jadi menindih tubuhku.
“Mas Toto, kalau lagi main, burung sampean nggak bisa masuk, gini cara yang tepat supaya imbang,” kataku, Toto masih saja manggut-manggut, terpesona melihat bagaimana istrinya yang kini menggenjot aku.
“Duuhh.. Iisstthh, kokhh tambah ennahkk begini.. Masshh.. Auhh,” Juminah kini bagai joki diatas penisku, tubuhnya yang gemuk dan lemak pahanya membuat kenikmatan yang asyik di penisku, aku menarik tubuhnya sampai dia merunduk dan menyasar lagi susu ranumnya dengan isapan lidahku.
“Ayoo Mbaak Jum, ambill nikmatnya Mbak..,”
“Ahh.. Enghh.. Mmmffhh, ohh iyakhh mashh.. Akuu enaakkhh.. Mahhss.. Ahhss,” goyang pinggul Juminah makin menekan penisku, makin lama gerakannya makin kuat. Wajah Juminah semakin ayu dalam keadaan seperti itu, mata sedikit terpejam, bibir terbuka mendesis, kepalanya gerak kanan kiri diatas tubuhku.
Kurasa vaginanya makin membasah, ini saat yang tepat meghajarnya hingga puncak pikirku. Sekejap aku ubah posisi kami lagi, dengan berputar kekiri kini tubuhku kembali diatas tubuh Juminah, tanpa memberi kesempatan padanya, aku terus menggenjot penisku menghujam-hujam vaginanya.
“Aaahh.. Akuu piipisshh mashh.. Ouhh.. Emhhff.. Ohhss..,” tubuh Juminah kejang, dinding vaginanya berkontraksi berkali-kali dalam genjotan penisku, sampai akhirnya kepala Juminah lunglai, menandakan orgasmenya sudah utuh dan tuntas. Toto terpana melihat raut puas istrinya, sementara aku masih teratur menggenjot tubuh Juminah.
“Ahh Mas To.. Ini puncak namanya aauhhkkhh..,” kurasa cairan spermaku tak mungkin kubendung lagi, kutarik penisku dari liang nikmat Juminah, dan sekejap semburan spermaku tumpah membasahi perut Juminah.
“Uhh.., itu namanya pejuh Mas, dan itu harus ditumpahkan didalam vagina Mbak Jum, supaya hamil. Kalau Mas To tumpahnya diluar terus kapan hamilnya Mbak Jum,” aku bangkit menyuruh Toto melihat sperma kentalku diperut Juminah.
“Lohh kok nggak ditumpahin didalam saja Mas, biar dia hamil,” Toto benar-benar blo’on.
“Wah Mas ini gimana. Kalau spermaku masuk ke vagina Mbak Jum dan Mbak Jum hamil, berarti itu anak ya anakku jadinya, bukan anak sampeyan, gimana sih,” cerocosku sambil kembali mengenakan pakaian, mereka juga kembali pakai pakaian masing-masing.
Setelah itu, kami basa-basi sejenak, dan kubuatkan ramuan kuat untuk Toto supaya greng kalau tempur sama Juminah. Mereka kemudian pulang dan menyisipkan uang pecahan ribuan yang jumlahnya sampai lima puluh lembar.
Oh ya, sejak itu, kira-kira sebulan kemudian pasangan itu datang lagi dan minta diajari lagi begituan. Aku kembali senang bisa bersetubuh dengan Juminah yang sintal dan montok, dan Toto senang bisa belajar memuaskan istrinya. Kabar terakhir yang kudengar, tiga bulan kemudian Juminah hamil. Entah itu anak siapa, soalnya waktu datang kedua kali aku tumpahkan spermaku dalam vagina Juminah, habis nggak tahan sama rintihannya itu. Tapi aku tetap berharap anak itu anak Toto, hasil sperma Toto. Sejak dikabari aku kalau Juminah hamil, mereka tak lagi datang padaku, karena kusarankan supaya mereka kontrol ke puskesmas saja untuk kehamilan Juminah.
E N D
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Balada Para Ibu Rumah Tangga – 2
Dari bagian 1
Malam itu aku baru saja happy-happy dengan Johan dan Aris, teman kampusku. Kami bertiga menghabiskan belasan botol bir pilsener untuk merayakan ultah Aris di rumah Aris. Aku pulang dengan pandangan yang agak goyang, tapi sampai juga dengan selamat di rumah kontrakanku tepat jam 10 malam.
Sehabis mandi dan makan mie rebus, aku menikmati tayangan sinetron humor di sebuah saluran televisi di ruang depan. Rumah kontrakanku memang kecil, tipe 21, hanya ada kamar tidur, ruang praktekku, dan secuil ruang depan atau ruang tamu. Sisanya ya.. dapur dan kamar mandilah. Waktu itu jam sudah beranjak ke angka 10 lewat 30 menit malam, tiba-tiba bel pintu berbunyi.
“Permisi Mas Billy.., Mas.. permisi,” terdengar suara anak lelaki dibalik luar pintu. Aku langsung membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.
“Eh Maman, ada apa Man malam-malam begini?,” tanyaku pada Maman, anak kelas tiga SD yang termasuk tetanggaku.
“Anu Mas.., Mbak Ais pingsan. Saya disuruh bapak minta tolong sama Mas Billy ngobatin Mbak Ais,” kata Maman sambil memegangi tanganku. Maman adalah anak Pak Budi, pegawai negeri yang rumahnya hanya berselat delapan rumah dari rumah kontrakanku. Sedangkan Ais yang disebut Maman, ialah Aisyah, kakak perempuan Maman yang sudah kelas dua SMU.
“Oke-oke.., Maman pulang duluan ya, nanti Mas Billy susul,” pintaku padanya. Maman pulang, sementara aku menyiapkan peralatanku mulai minyak gosok, body lotion dan kembang, lalu akupun menuju rumah Pak Budi.
“Ini lho Dik Billy, Ais mendadak pingsan habis makan malam tadi. Saya jadi khawatir, mana bapaknya lagi dinas luar kota lagi,” Ibu Budi langsung menyampaikan ketakutannya waktu aku datang.
“Lho kata Maman tadi bapak yang nyuruh saya datang, kok dinas luar gimana sih Bu?,” aku jadi sedikit bingung juga.
“Iya tadi waktu Ais pingsan, saya telepon bapaknya dan dia yang suruh minta bantuan Dik Billy,” jelas Ibu Budi.
“Oh gitu, sekarang Ais mana? Biar saya lihat keadaannya,”
“Ada Dik di dalam kamarnya, ayo saya antar,” Ibu Budi bangkit dan mengantarku kekamar Ais. Istri Pak Budi masih terlihat seksi walau usianya sudah masuk 37 tahun, apalagi malam itu hanya pakai daster longdres yang tipis. Lekuk tubuh dan kulitnya yang putih membayang jelas, soalnya aku jalan tepat di belakangnya waktu menuju kamar Ais.
Kulihat Ais terbaring lemas di kamarnya, setelah kupegang dahinya kupastikan Ais hanya masuk angin. Ditemani Bu Budi aku menyelesaikan tugasku menyadarkan Ais dari pingsan, caranya sangat mudah bagiku, dengan minyak gosok kuurut beberapa urat dibelakang tengkuk Ais. Tak lama setelah itu, Ais sadar dan membuka matanya.
“Wah pintar sekali ya Dik Billy ini,” pujian Bu Budi langsung mengalir begitu Ais bisa duduk ditepi ranjangnya.
“Ah Ibu ini, saya hanya kebetulan punya kelebihan kok. Nah sekarang Ais minum air hangat yang banyak ya, biar punya tenaga,” kataku mengajurkan. Wajah Ais hampir sama cantiknya dengan Bu Budi, tapi bodynya masih belum terbentuk dengan dada yang tampak kecil.
“Makasih ya Mas, jadi ngerepotin,” Ais melempar senyum manisnya padaku. Setelah itu aku bangkit dan duduk di ruang tamu, sedangkan Bu Budi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Ais.
“Gimana Dik Billy? Apa penyakit Ais nggak berbahaya toh,” Bu Budi bertanya dengan mimik serius menghampiriku dan duduk dikursi tepat dihadapanku, usai mengantar segelas teh ke kamar Ais. Pertanyaan yang lucu, tapi kupikir membawa cukup celah bagiku untuk melancarkan aksi usilku.
“Sebenarnya ada yang mengkhawatirkan Bu..,” sengaja tak kuteruskan kalimatku supaya Bu Budi bingung dan panik.
“Menghawatirkan bagaimana toh? Tolong dong disembuhkan sekalian biar nggak nakutin gitu lo,” benar dugaanku, Bu Budi langsung panik dan mengharap jawabanku. Aku langsung pasang wajah serius dan mendekatkan wajahku dengan cara sedikit menunduk di meja penghalang duduk kami berdua. Melihat itu Bu Budi juga segera merunduk mendekati wajahku untuk mendengar penjelasanku.
“Begini Bu, pengamatan batin saya, Ais bukan hanya masuk angin biasa tapi ada orang iseng yang coba mengguna-gunai dia. Mungkin pacarnya, atau mungkin lelaki yang cintanya ditolak Ais, Bu,” kataku.
“Ah masak sih Dik? Terus bagaimana dong,” Bu Budi semakin merunduk, sehingga aku bisa melihat bongkahan pangkal susunya yang masih kencang dibalik daster tipisnya.
“Ibu tenang saja, saya pasti bantu. Tapi syaratnya agak berat Bu, saya harus meruwat beberapa bagian tubuh Ais secara langsung,” aku menjelaskan.
“Meruwat gimana sih,” Bu Budi semakin bingung.
“Maaf ya Bu, tapi saya harus mengeluarkan guna-guna dari bagian vital Ais, payudara dan vaginanya. Tapi saya juga nggak tega, nanti dia malu lagi,” wajahku seperti orang yang sedang berpikir.
“Apa ngak ada cara lain Dik, selain itu. Ais pasti nggak mau loh,” jawab Bu Budi bermimik bingung.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Bu Budi. Jam kulihat sudah menunjuk angka 11.30 malam didinding ruang tamu.
“Ada Bu cara lain, namanya transformasi. Saya bisa melakukan ruwat itu dengan media tubuh lain yang golongan darahnya sama dengan Ais. Dik Maman golongan darahnya apa Bu?” tanyaku memancing.
“Wah.., sayang sekali Maman darahnya B. Tapi kalau saya bisa nggak Dik? Saya juga B sama kayak Ais,” pancinganku rupanya membawa hasil. Setelah itu, aku mengarahkan dan menjelaskan bagaimana proses ruwat yang nantinya akan kulakukan pada Bu Budi. Dengan kepala manggut-manggut, Bu Budi akhirnya paham dengan penjelasanku.
“Sebenarnya risih juga sih, tapi gimana lagi ya demi Ais? Iya deh Dik, terserah Dik Billy yang penting Ais sembuh total,” katanya pasrah.
Waktu itu Ais dan Maman sudah tidur, dan Bu Budi bersamaku beranjak ke kamar tidurnya untuk melakukan ruwatan itu. Sampai di kamar itu, Bu Budi langsung berbaring di ranjang dan aku duduk di tepi ranjang sebelah kiri.
“Sekarang Ibu konsentrasi dan tujukan pikiran ke Ais ya,”
“Ehm.. iya Dik, saya coba,” Bu Budi yang terpejam ternyata semakin cantik, wajahnya mirip artis Nani Wijaya di masa muda dulu. Kutelusur pandanganku dari wajah hingga ujung kaki Bu Budi, bodynya pun masih sangat bagus mirip gadis 24 tahunan dengan buah dada yang lumayan dan kulit mulus betisnya yang putih. Aku mulai beraksi, tanganku mulai mengusap-usap kening, pipi, dan leher Bu Budi, itu kulakukan sekitar lima menit lamanya.
“Sekarang buka matanya Bu,” pintaku segera diikuti Bu Budi.
“Maaf ya Bu, saya harus teruskan prosesnya. Mungkin Ibu agak rikuh, tapi saya sudah sering melakukan seperti ini kok, jadi Ibu nggak usah khawatir ya, soalnya memang begitu caranya,”
“Duh gimana ya Dik..? tapi nggak usah cerita ke bapak ya kalau prosesnya seperti ini,” Bu Budi nampak bersemu rikuh, mungkin dirinya mulai berpikir sesaat lagi lelaki yang bukan suaminya ini akan melihat seluruh lekuk tubuh dan bagian vital yang selama ini hanya untuk Pak Budi.
“Iya Bu, itu sudah kewajiban saya kok,” aku lalu meminta Bu Budi menanggalkan Bra dan Cd nya, sedangkan daster tipisnya sengaja kusisakan untuk menutup rikuhnya. Bu Budi kembali terpejam, dan perlahan aku membuka dua kancing daster bagian atasnya dan menurunkan daster itu sebatas perut, membiarkan buah dada Bu Budi yang syuur itu bebas keluar. Ternyata benar dugaanku tubuh Bu Budi memang sangat mulus dan terawat, putih dan tak bercacat dengan postur proporsional.
“Maaf ya Bu,” aku langsung mengusap sekitar buah dada Bu Budi dengan usapan tangan searah jarum jam. Bu Budi tak bersuara, tapi keningnya sesekali berkerut ditengah usapan-usapan lembut tangan kananku didadanya.
Usapan kunaikan menjadi remasan kecil dan mulai menyentuh puting susunya, kadang kucubit kecil puting susu itu membuat Bu Budi menggelinjang menahan geli, tapi tetap tak bersuara.
Setelah mengusapi buah dadanya, aku mulai mengusap bagian betis Bu Budi dan terus naik ke paha hingga daster bagian bawah tersingkap naik dan berkumpul ditengah perutnya. Kini, pemandangan dihadapanku benar-benar menggoda kejantananku. Bu Budi juga ternyata memiliki vagina yang indah dihiasi bulu tebal yang dicukur rapi 2 cm panjangnya.
“Sekarang Ibu boleh buka mata,” kataku.
“Terus apa lagi Dik,” tanya Bu Budi dengan raut memerah bertambah rikuh padaku.
“Maaf Bu, sekarang tahap utamanya, saya harus menyedot guna-guna di tubuh Ais dengan media tubuh Ibu. Ibu bisa tahan kan? Paling prosesnya hanya makan waktu 15 menit. Tapi tahap ini Ibu ngak boleh tutup mata,” jawabku meyakinkannya.
“Iya deh Dik.. tapi tolong cepetan ya, saya rikuh nih,” Bu Budi menjawab pasrah.
Dengan menatap wajah Bu Budi yang bersemu merah aku mulai mendaratkan bibirku diputing susu kanan Bu Budi, susu terdekat pada posisi dudukku disisi kiri ranjang. Putting yang ranum kemerahan itu kujilati perlahan lalu kuhisap-hisap beraturan.
“Hsst uuhh.. Dik,” suara tertahan Bu Budi terdengar waktu hisapanku agak kuat diputing susunya. Putting susu kiri pun jadi sasaran hisap dan jilat selanjutnya, sementara kedua tanganku memeganggi susu seksi Bu Budi sambil terus menghisap dan menjilat bergantian susu itu.
“Uhh.. gelii Dik..,” Bu Budi mengelinjang saat isapan dan jilatan dikedua susunya kupercepat ritmenya, tangannya meremasi sprei ranjang.
“Tahan sebentar lagi ya Bu, hampir selesai dibagian ini. Kalau tidak tuntas nanti Ais nggak sembuh total,” kataku menghIburnya. Aku mengambil dua tangan Bu Budi dan meletakkannya agar mendekap bahu dan leherku, Bu Budi menurut, dan aktifitasku kulanjutkan lagi menjilat dan menghisap susunya.
Napas Bu Budi mulai tersengal dan remasan tangannya dibahuku semakin lama semakin kuat menahan geli yang sangat disusunya.
“Mffhh oouhh..,” Bu Budi mulai menggeliat-geliat mengikuti irama jilatan di susunya. Kupandang wajahnya, ternyata sorot matanya mulai redup khas wanita yang dilanda birahi. Tak mau hilang kesempatan, tangan kananku segera merayap menjelajahi perut dan pahanya. Bu Budi semakin terpojok, tangan kananku kini sudah mulai mengusap usap paha bagian dalam Bu Budi, kakinya merenggang dengan posisi lutut kaki kanan dinaikan sehingga tanganku lebih leluasa menggerayangi paha bagian dalam itu. Sesekali jemariku menyentuh bibir vagina Bu Budi, dari situ aku tahu Bu Budi sudah dirasuki birahi yang sangat, kurasakan tanganku menyentuh cairan kental yang sudah membasahi vaginanya.
“Oke Bu, sudah selesai di bagian dada. Sekarang tahap utama kedua, saya harus menghisap dan mengeluarkan guna-guna di tubuh Ais lewat kemaluan Ibu. Ibu tahan ya,” Kulihat Bu Budi sudah pasrah benar, dengan pandangan sayu ia hanya bisa mengangguk. Aku pun segera beralih posisi dan jongkok tepat disela kedua kakinya yang sudah tertekuk naik. Vagina Bu Budi memang sudah basah, tapi dua bibirnya masih sangat ranum dan terlihat kencang. Setelah membersihkan vaginanya dengan ujung sprei yang berhasil kuraih, aku lalu mulai menjilati vaginanya.
“Aauuhh.. iihh.. geelii Dik, saya nggak tahan,” Bu Budi pekik tertahan dan tangannya meremasi kepalaku di selangkangannya.
“Tenang dulu Bu, saya harus cari posisi guna-gunanya. Agak geli Bu ya,” aktifitas sengaja kuhentikan dan mengajak Bu Budi bicara.
“Ehhmm he-eh Dik, geli sekali, soalnya saya nggak pernah dijilatin gitu itunya,” Bu Budi bicara dengan suara serak dan napas tersengal, aku lanjutkan lagi aktifitasku. Aku yakin ini pengalaman baru buatnya karena Pak Budi tak pernah melakukan foreplay semacam ini setiap kali ngeseks dengan istrinya ini. Cairan asin yang keluar dari vagina Bu Budi semakin banyak, dan kini pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama jilatanku. Sambil melakukan itu kuintip wajah Bu Budi yang sudah total birahi, kepalanya bergerak-gerak tak beraturan setiap kali jilatan dan isapan kusasarkan di klitoris vaginanya bersamaan rintihan yang semakin tak karuan dari bibirnya.
Penisku sudah berdiri tegak, apalagi melihat gerakan dan mendengar rintihan Bu Budi yang kian erotis. Sambil aktifitas kubuka celanaku sebatas paha sehingga penisku yang berukuran lumayan panjang dan besar meloncat kegirangan.
“Bu.., guna-gunanya hampir keluar, tapi harus dicungkil dari dalam vagina dengan jari atau alat lain,” aku hentikan jilatanku, dengan segera menaikkan posisi tubuhku. Posisiku seolah menindih tubuhnya tetapi tubuh kami tak bersentuhan karena kutopang dengan dua tanganku.
“Bagaimana Bu?,” sebelum Bu Budi bereaksi aku bertanya dengan wajah sudah demikian dekat dengan wajahnya.
“Terserah Dik, lakukanlah.. mffphh,” diluar dugaanku, Bu Budi ternyata agresif menyambar bibirku dengan kuluman yang penuh nafsu. Topangan tanganku terlipat sehingga tubuh kami langsung saling tindih, dalam posisi itu kuusahakan celanaku lepas total dari kaki, dan berhasil. Kini penisku yang mengacung tepat berada dibelahan bibir vagina Bu Budi. Ciuman bibir kami masih berpagut sedangkan pinggul Bu Budi mulai mendesak-desak naik mencari batang kenikmatanku.
Sengaja keadaan itu kugantung, aku ingin ia menrengek dan meminta agar aku menyetubuhinya.
“Mnffh.. uuhhm, ayo Dik cungkil guna-guna itu..,” Bu Budi melepas pagutan bibirnya dan merengek padaku.
“Maaf Bu.., tapi apa Ibu nggak marah nih,” gurauku.
“Ayoo Dik Billy, udah kepalang tanggung lagipula.. oughh.. asstt,” belum selesai bicara, Bu Budi langsung kuserang dengan ciuman di bibir, leher dan susu bergantian, sementara ujung penisku yang sudah terjepit sebagian di bibir vaginanya kutekan masuk sampai amblas. Bleess.. jleepp.. jleepp. Bu Budi menyambut penisku dengan goyangan pinggulnya yang erotis, baru kali ini kurasa vagina wanita yang berkontraksi sebelum ia orgasme, orang bilang empot-empot.
“Ouuhh Dik.. aahh, eenaak Dik aeehh..,” Bu Budi menceracau dan tangannya mengoyak-koyak baju yang masih kukenakan. Ritme pompa penisku kutingkatkan cepat dan teratur dengan dua tangan menopang tubuh bagian atasku. Bu Budi semakin hilang kendali, kepalanya bergerak kanan-kiri, gyang pinggulnya semakin liar seirama rintihannya yang makin kacau pula.
15 belas menit berlalu, dan kurasa Bu Budi sudah hampir tiba pada puncaknya.
“Aaahh Dik, saya mau keluar Dik..,” Bu Budi bergerak semakin cepat dibawah kendali penisku. Sebelum dia mencapai orgasmenya, penisku secepat mungkin kutarik keluar sekaligus menjauhkan diriku dari tubuhnya.
“Ouhhgghh.. ohh, kenapa berhenti Dik? Ayo dong teruskan, saya hampir sampai,” Bu Budi merengek dengan wajah yang masih penuh birahi.
“Maaf Bu, tapi sudah selesai ruwatnya. Guna guna di tubuh Ais sudah keluar melalui ruwat tadi, kan kita melakukannya untuk mengobati Ais,” kataku padanya.
Bu Budi tersentak sadar, mungkin dia kecewa juga telah hanyut dalam birahi tadi. Tapi tak lama kemudian meluncur cerita dari bibirnya yang tipis, katanya Pak Budi tak pernah memberikan kepuasan seksual yang maksimal, meskipun hubungan seks mereka lakukan dua hari sekali.
“Bu.. apa Ibu mau kita lanjutkan lagi?,” aku mengusap lembut dahi Bu Budi.
“Kalau Dik Billy nggak sudi, ya sudah nggak apa kok,” Bu Budi menampakkan raut kecewa.
“Bukan begitu Bu. Saya mau lanjutkan asal kita berdua telanjang bulat, dan tolong Ibu bayangkan bahwa saya adalah Pak Budi, supaya nggak rikuh Bu,” kataku seraya melepas luruh dasternya yang terkumpul di bagian perut, aku pun menanggalkan bajuku.
Kami kembali saling pagut, dan saling tindih. Penisku langung kuhujamkan ke vaginanya dan kami kembali larut dalam permainan seks tengah malam. Sampai akhirnya,
“Ahh oohh.. ngghh ahh,” Bu Budi mengerang kuat mengigit bahuku saat serangan orgasme tiba pada vaginanya. Kontraksi vaginanya terasa jelas menjepit-jepit penisku yang masih aktif. Genjotan kunaikkan lebih kuat dan cepat, membuat Bu Budi benar benar tuntas orgasme. Tak lama berselang, aku pun tiba pada puncak nikmatku.
“Ihh.. ohh sayang..,” tubuhku tegang dan penisku terhentak hentak berkali kali dalam vagina Bu Budi sambil menyemburkan sperma. Aku lunglai dan mengambil tempat disisi kiri Bu Budi, kami kelelahan tanpa sadar saling berpelukan dan akhirnya lelap tertidur.
Waktu terjaga jam sudah menunjuk angka 07.30 Wita, suara di luar kamar Bu Budi terdengar menandakan Maman dan Ais sudah bangun. Aku dan Bu Budi segera merapikan diri dan mengenakan pakaian kami, lalu keluar menuju ruang depan.
“Sudah baikkan rasanya Dik Ais?,” aku langsung bertanya pada Ais yang memandang heran ke arah kami di ruang depan. Gawat pikirku, pasti Ais mengetahui apa yang terjadi dan akan melaporkannya pada Pak Budi nantinya.
“Ohh, ini lo sayang, Mas Billy ngobatin kamu dengan ruwat khusus, jadi harus nginap di sini untuk begadang semalam suntuk. Ibu menemani ngobrol,” Bu Budi seakan tahu sorot curiga di mata Ais.
“Ehmm, maaf ya Mas Billy, Ais jadi ngerepotin,” untunglah Ais bisa dikelabui, kalau tidak berabe juga dong. Setelah basa-basi sebentar, aku lalu pulang ke rumah kontrakanku dan siapkan diri ke kampus lagi pagi itu. Entah kapan aku bisa menyetubuhi wanita semacam Bu Budi lagi.
E N D
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Balada Para Ibu Rumah Tangga – 1
Netters 17tahun.com, pengalamanku ini dibagikan sekedar untuk tukar cerita.
*****
Dikampungku aku biasa dipanggil Billy. Maklum postur tubuh yang tinggi besar dan wajah mirip londo membuat orang kampung mengidentikanku dengan turunan londo.
Sejak umur 15 tahun, aku dianggap orang kampungku sebagai anak yang punya kelebihan supranatural. Tak heran sejak umur segitu aku sering bergelut dengan hal yang sifatnya mistis, meskipun sebenarnya aku sendiri tak yakin aku bisa. Misalnya aku sering dimintai tolong sembuhkan orang kampung yang sakit perut, sakit bisul, muntah-muntah, atau sakit ringan lainnya. Dan entah kenapa tiap obat yang aku anjurkan pada mereka kok kebetulan menyembuhkan penyakitnya.
Sekarang ini usiaku 24 tahun, sedang kuliah di kota M dan tetap saja banyak yang percaya aku mampu dalam hal supranatural. Dikota M aku juga terkenal bisa menyembuhkan banyak penyakit, malah urusan seks yang dingin atau tak kunjung dapat momongan bisa langsung kontak aku di kota itu.
Suatu siang sehabis kuliah, aku kedatangan pasien wanita Susi namanya. Susi ini tahu alamatku diantar Retno, teman sekampusku yang dulu pernah kutolong waktu sakit malaria kronis dan sembuh.
“Tolong saya Mas Billy, suami saya kok suka jajan di luar dan nggak perhatian lagi sama keluarga,” kata wanita beranak satu itu padaku. Sebenarnya aku bingung juga mau bilang apa, tapi karena dia memelas begitu aku jadi nggak tega. Susi aku suruh masuk kamar praktekku, sedangkan Retno tunggu diruang tamu rumah kontrakanku.
“Begini Mbak Susi, untuk menolong orang saya harus tahu ukuran baju, celana dan sepatu orang itu. Jadi berapa ukuran Mbak,” kataku setelah kami duduk berhadapan dihalangi meja kerjaku.
Susi yang bertubuh agak pendek tapi seksi itu jadi bingung dengan pertanyaanku.
“Ehmm, anu Mas, berapa ya ukurannya.. tapi baju M celana 28 dan sepatu 37 mungkin pas Mas,” jawabnya masih bingung juga.
“Oke-oke kalau nggak tahu pasti biar tak ukurkan ya,” kataku sambil mengambil penggaris ukur dari kain.
Seperti penjahit baju yang terima pesanan aku mulai mengukur bagian tubuh Susi mulai bahu, dada, perut, pinggang, pinggul, plus kaki.
“Nah sekarang sudah ada ukuran pastinya, saya bisa bantu masalah Mbak,” kataku, yang kelihatan membuat Susi berbinar karena merasa akan tertolong.
Susi pun mulai menceritakan perilaku Anto, suaminya. Sejak menikah dan punya anak, Anto masih setia, tapi beberapa bulan ini Anto mulai suka keluyuran dan suka jajan pada wanita lain.
“Saya jadi bingung Mas, kalo saya marah dia malah ancam mau cerai. Saya takut kalau dicerai Mas, bagaimana nasib anak saya,” keluh wanita berkulit sawo matang itu.
“Ya sudah, itu masalah sepele kok Mbak. Nanti Mbak saya kasih susuk pemikat sukma supaya suaminya nempel terus kayak perangko,” ucapku sekenanya. Kemudian aku menyuruh Susi menanggalkan seluruh pakaiannya termasuk pakaian dalamnya dan hanya menggunakan sarung bermotif kembang yang telah kusediakan untuknya.
Meski sempat ragu tapi Susi melakukannya juga. Sementara aku menyiapkan berbagai perlengkapanku, mulai kembang dan air dalam baskom, serta jarum susuk yang memang sudah lengkap tersedia di ruang praktekku.
“Nah sekarang Mbak berbaring di dipan itu ya, dan jangan banyak bergerak. Pokoknya konsentrasi pikiran pada suami Mbak dan sebut terus namanya,” perintahku pada Susi. Bagai dicocok hidung Susi menurut saja dan segera berbaring di dipan dengan mata terpejam.
Untuk sesaat aku memperhatikan tubuh Susi dari kursi praktekku. Wow, boleh juga tubuhnya, bahenol walau agak mini. Aku menyiapkan kembang dalam baskom berisi air dan mendekati Susi yang terbaring di dipan kayu.
“Sabar ya Mbak, sebentar lagi kita mulai pengobatannya,” kataku meyakinkan Susi.
Susi masih terpejam ketika kucipratkan air dan kembang yang kusiapkan tadi ke sekujur tubuhnya. Sengaja aku merapalkan mantra yang tak jelas dengan mulut komat-kamit persis dukun sungguhan.
Lalu setangkai kembang ditanganku kuusap-usapkan di wajah Susi dengan irama usapan yang searah jarum jam. Kulihat reaksi diwajah Susi menahan geli ketika kembang itu mulai kuusapkan di bagian leher dan terus turun kepangkal dadanya yang terbungkus sarung.
“Nah sekarang buka matanya Mbak,” perintahku.
“Sudah selesai belum Mas Billy?,” tanyanya tetap terbaring di dipan.
“Oh ya belum toh. Bagaimana Mbak ini maunya cepat, ini kan proses pasang susuk Mbak nggak boleh buru-buru. Kalau nggak cocok bisa fatal akibatnya,” ujarku sekenanya.
“Terus sekarang apalagi Mas?,” Susi makin penasaran.
“Maaf Mbak ya, sekarang Mbak turunkan sarung itu sebatas perut supaya saya bisa mendeteksi aliran darah Mbak. Biar susuknya tepat pasangnya gitu loh,” kataku. Susi sempat melotot heran bercampur jengah, tetapi dia nurut juga menurunkan sarung yang membungkus tubuhnya sampai keperut dengan wajah malu-malu. Wah, boleh juga payudara wanita ini, kalau dikasih Bra kira-kira ukuran 36B lah, lumayan masih padat walau sudah beranak satu. Susi kembali terpejam, dan aku kembali mengambil kembang dan mencipratkan airnya ke arah buah dada dan perut Susi. Dengan kembang yang sama aku usap-usapkan di daerah dada dan perut Susi. Tubuh Susi mengelinjang kegelian waktu usapanku mulai menyentuh puting susunya.
“Oke.. boleh buka matanya Mbak,” kataku setelah puas mengusap susu Susi dengan kembang.
“Wah, Mas kok lama sekali sih prosesnya,” protes Susi, tapi tetap terbaring diranjang.
“Gimana ya jelaskannya Mbak, soalnya aliran darah Mbak aneh sih. Ini saja masih perlu deteksi lagi supaya ketahuan aliran darah aslinya. Tapi kalau Mbak mau stop ya terserah, saya tak bisa bantu lagi, gimana?,” balasku dengan mimik serius.
“Iya deh saya pasrah, tapi sekarang apa lagi?,” tanya Susi lagi.
“Maaf lagi ya Mbak, sekarang jalan satu-satunya supaya aliran darah Mbak kelihatan, Mbak harus tangalkan sarung itu. Telanjang bulat Mbak,” pintaku dengan nada yang kubuat serius.
Meski kaget dan hendak protes, tapi Susi akhirnya nurut juga. Sarung yang dikenakannya ditanggalkan dan dibiarkan luruh kelantai, dan ia kembali berbaring di dipan kayu dengan mata terpejam.
Sekarang aku yang jadi bingung dan blingsatan melihat sesosok wanita bugil tanpa busana dihadapanku. Tubuh Susi benar-benar menggairahkan, rasanya bodoh betul si Anto, suaminya itu, kok nggak bersyukur punya istri semolek Susi ini.
Aku kembali menghampiri Susi dengan kembang dan air di baskom. Perlahan kembali kuusap-usapkan kembang itu dari wajah, leher, dada, dan perut Susi. Usapan-usapan erotis di bagian atas tubuh Susi membuat wanita itu menggelinjang menahan geli. Napas Susi pun mulai cepat memburu, biasanya dalam fase seperti itu, seorang wanita sedang dilanda gejolak yang mengarah birahi.
Usapanku mulai merambat turun ke arah paha, tapi belum menuju selangkangan Susi.
“Nah ketemu Mbak, sabar ya. Sudah ketemu nih tempat pasang susuknya,” kataku memberi harapan.
Kembang di tanganku kembali kuusapkan di daerah paha bagian dalam dan sesekali naik menyentuh bibir vagina Susi. Gerakan mengusap seperti itu kulakukan berulang ulang di daerah yang sama, sampai akhirnya jarak kedua kaki Susi mulai merenggang. Bukan main gundukan kemaluan Susi, bulunya jarang dan bibir vaginanya kelihatan masih ranum. Aku sendiri kehilangan konsentrasi gara-gara melihat pemandangan itu. Kini kembang ditanganku aku buang dalam baskom, dan usapan di tubuh Susi kugantikan dengan tangan kananku. Susi masih terpejam dan napasnya semakin tak beraturan ketika sentuhan tanganku menjelar di atas tubuh bugilnya.
“Uhh Mas, dimana sih tempat pasang susuknya? Saya nggak kuat begini terus,” Susi bertanya dengan mata tetap terpejam.
“Iya Mbak, tenang ya, ini sudah ketemu,” kataku sambil menghentikan sentuhan tangan tepat di selangkangannya. Tanganku mulai memainkan bibir vagina Susi dengan tempo yang teratur dan ritme naik turun. Susi kelihatan sudah terpengaruh, nafsunya gesekan tanganku di bibir vaginanya diimbangi gerakan pinggulnya searah gerakan tanganku.
“Ohh.. geli sekali Mas disitu,” Susi mulai menceracau sendiri, napasnya semakin tak beraturan.
Aku sendiri sudah tak bisa menahan nafsuku, perlahan aku buka kedua kakinya semakin lebar sehingga gundukan vaginanya terlihat makin jelas. Cairan vagina Susi semakin banjir dan tubuhnya mengejang kecil saat jemari tangan kananku menjepit-jepit klitorisnya. Wajah Susi benar-benar enak dilihat dalam keadaan seperti itu, mata terpejam dan bibir saling memaggut menahan geli dan nikmat gesekan jariku di vaginanya.
“Oke Mbak sebentar lagi ya, sekarang Mbak tahan ya saya akan pasang susuknya,” pintaku.
Jari tengahku kumasukkan perlahan ke liang vagina Susi, lalu kutarik lagi keluar secara perlahan pula. Itu kulakukan berkali-kali dan terus-menerus.
“Engghh.. isshhtt.. ,” Susi melenguh, pinggulnya semakin liar bergoyang dan berputar.
Susi sudah dalam kendaliku secara total, posisi tanganku di vagina Susi kini kuganti dengan jilatan lidahku di daerah vital Susi itu. Kami sudah sama sama di atas dipan itu, hanya bedanya aku masih lengkap berbusana, sedangkan Susi bugil total. Reslueting celanaku kubuka, sejak tadi aku memang sengaja tak pakai CD sehingga penisku langsung meloncat keluar begitu kancing dan reslueting celana kubuka.
“Usshh Mas.., saya nggak taahann lagi,” kaki Susi menjepit kepalaku di selangkangannya, pinggulnya naik turun mendesak-desak mulutku yang menjilati klitorisnya.
Aku bangkit mengambil posisi tepat diatas tubuhnya, bibir Susi yang menceracau langsung kusumpal dengan bibirku. Saat ini Susi terbelalak membuka matanya, tapi belum sempat bereaksi apa-apa, penisku yang sudah tegang dan tepat di pinggir bibir vagina Susi segera aku benamkan keliang nikmat Susi yang sudah licin basah. Bless..!
“Nghh duhh Mass, ohh..,” Susi mendesis saat penisku menembus bibir vaginanya dan masuk ke liang nikmatnya. Susi tak menolak kehadiran penisku di vaginanya. Aku berhasil menyetubuhi pasienku lagi.
“Tahan Mbak ya.. memang begini aturan prosesnya. Yang penting rumah tangga Mbak selamat ya,” ujarku sambil menggenjot pinggulku di atas tubuh Susi. Tubuh Susi yang cukup mungil bagiku yang jangkung membuat aku dengan leluasa menggenjotnya dengan posisi konvensional. Penisku berkali-kali menghujam vagina Susi membuat wajah Susi semakin terlihat ayu menahan kenikmatan dari penisku.
Sampai belasan menit berlalu dengan posisi itu, akhirnya kurasakan tubuh Susi mengejang sesaat dan terasa pula denyutan kontraksi otot vaginanya pada batang penisku yang masih tegang.
“Ouhhss.. eehgghh,” Susi rupanya sudah sampai klimaks, tubuhnya semakin tegang dan pinggulnya mendesak naik seperti ingin terus merasakan sensasi orgasmenya. Beberapa detik kemudian, aku pun merasa aliran darahku mengumpul di bagian pangkal penisku, dan croot.. croot.., kumuntahkan spermaku di dalam vagina Susi sementara tubuh tegangku mendekap erat tubuh Susi yang sudah lunglai.
“Sudah selesai Mbak Sus.., sekarang suamimu pasti tak akan jajan di luar lagi. Susuk pemikat sukma itu sudah kutanam di rahimmu Mbak,” kataku seraya meraihnya bangkit dari dipan kayu.
Setelah berpakaian kami kembali duduk di kursi dihalangi meja kerjaku.
“Maaf ya Mbak kalau prosesnya agak seronok begitu,” aku melihat Susi agak kikuk setelah sadar bahwa kami baru saja melakukan hubungan seks yang hangat.
“Ehm nggak apa Mas, yang penting rumah tangga saya utuh. Terima kasih Mas,” Susi lalu bangkit dan menyodorkan uang pecahan seratus ribu padaku.
“Oke Mbak, mudah-mudahan khasiat susuknya manjur ya. Nanti kalau masih ada keluhan, Mbak boleh konsultasi lagi kesini,” kataku. Susi kemudian keluar kamar dan bersama Retno, mereka pulang, meninggalkanku sendiri.
Entah susukku itu manjur atau kebetulan, sejak saat itu Susi tak pernah lagi kembali. Hanya sempat sekali dia kembali dan minta dipasang susuk pelaris warung karena ia mau buka usaha warung makan. Nah untuk kali itu meski susuknya tak kupasang di vagina, tapi Susi sendiri yang minta supaya dipasang seperti susuk pertama, biar khasiatnya ampuh katanya.
Ke bagian 2
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Bagaimana Rasanya Permainan Dia ?
Merupakan suatu kehormatan buat saya ketika salah seorang teman baik saya beberapa hari yang lalu memperkenalkan dua orang artis dan aktor sinetron yang sudah punya nama kepada saya. Beberapa sinetron yang mereka bintangi masih ditayangkan di beberapa stasiun TV saat ini.
Kepada Mas “X” dan Mbak “Y”, dengan segala kerendahan hati, saya penuhi janji saya untuk membuat cerita tentang anda berdua. Suatu kehormatan besar buat saya karena Mas dan Mbak mempercayakan kisah anda berdua untuk saya reka menjadi satu cerita. Dengan segala kerendahan hati pula saya minta maaf atas pelayanan saya yang seadanya kepada Mas dan Mbak tempo hari, tapi di lain pihak saya secara terbuka ingin mengatakan: beginilah Roy Takeshi..
*****
Untuk kalangan tertentu, Jakarta dengan segala pernak pernik yang gemerlap adalah merupakan suatu tempat terindah yang bisa membahagiakan dan menyenangkan hati mereka. Entah itu bersifat semu atau tidak. Hal ini berlaku juga untuk sepasang kekasih yang benar-benar ingin mengisi hidup dengan kesenangan dan kebahagiaan sesuai dengan cara pikir mereka. Hidup di lingkungan yang serba mewah dan pergaulan yang bebas membuat pengaruh yang kuat dalam kehidupan mereka berdua. Hidup bersama tanpa ikatan mereka lakukan sampai saat ini.
“Kok pagi begini kamu sudah berdandan rapi, sayang?” tanya Riko sambil masih berbaring di tempat tidur.
Matanya agak susah dibuka karena masih mengantuk.
“Sudah bangun sayang..” kata Vivi sambil duduk di tepi ranjang lalu mengecup pipi Riko.
“Aku lupa kasih tahu bahwa hari ini aku ada shooting di Puncak, mungkin selama 2 hari,” kata Vivi lagi sambil mengusap-ngusap punggung Riko.
“Aku sudah minta tolong Andi untuk antar aku ke lokasi..” kata Vivi lagi.
“Oke. Have fun ya..” kata Riko sambil membuka matanya lalu tersenyum.
“Thanks. Aku pergi ya, sayang,” kata Vivi sambil mengecup bibir Riko.
Vivi lalu meninggalkan Riko di apartemen mereka. Vivi ditemani Andi segera meluncur menuju Puncak untuk melakukan jadwal shooting sinetron Vivi.
“Jadinya berapa hari kamu di Puncak, Vi?” tanya Andi sambil menyetir, “Dua hari saja kok..” jawab Vivi.
“Tenang saja, semuanya akomodasi aku siapkan deh buat kamu,” kata Vivi sambil melirik ke Andi.
“Bukan soal itu, Non.. Masalahnya adalah Puncak itu kalau malam sangat dingin,” kata Andi sambil tersenyum.
“Ada akomodasi penghangat badan tidak?” kata Andi lagi sambil tertawa.
Vivipun ikut tertawa.
“Ada-ada saja kamu ini, Andi,” kata Vivi sambil tetap tertawa.
“Nanti aku deh yang jadi penghangat badan kamu..” kata Vivi sambil melirik Andi.
“Ah kamu.. Kamu tuh pacar si Riko, mana mungkin aku bisa dapat kamu,” kata Andi.
“Kamu tidak akan bisa mendapatkan aku.. Tapi bisa merasakan aku..” kata Vivi sambil tersenyum melirik Andi.
“Mana bisa?” tanya Andi tak percaya.
“Dengar Andi, diantara aku dan Riko sudah ada komitmen untuk hidup bersama tapi tidak untuk mengekang keinginan masing-masing..” ungkap Vivi.
“Kami saling membebaskan kok,” lanjut Vivi.
“Aku tahu dan Riko juga suka terus terang kalau dia jalan atau main dengan wanita lain..” kata Vivi lagi.
Andi diam mendengarkan.
“Aku juga demikian..” lanjut Vivi sambil menatap Andi.
“Tenang saja, An..” kata Vivi sambil tersenyum sambil mengelus paha Andi.
“Ya okelah kalau begitu,” kata Andi sambil tersenyum pula.
“Dasar buaya!” kata Vivi sambil tertawa.
Siang itu sampai malam, Vivi melakukan tugas dan kewajibannya untuk menyelesaikan shooting.
“Pulang, An..” kata Vivi sambil masuk ke mobil.
“Aku sangat capek, pengen istirahat..” sambung Vivi lagi.
“Siap, boss..” kata Andi.
Mereka segera menuju satu villa kecil yang sudah mereka booking jauh dari tempat menginap para crew film.
“Aku mau mandi air hangat..” kata Vivi setiba di villa.
“Yuk, An.. Mandi bareng sambil pijitin aku,” ajak Vivi sambil melepas semua pakaiannya.
“Ayo, siapa takut..” jawab Andi sambil melepas semua pakaiannya juga.
“Hii.. Kontol kamu mengkerut kecil.. Lucu!” kata Vivi sambil memegang kontol Andi.
“Ye, dasar bego! Ini karena kedinginan! Nanti kalau sudah bangun, kamu bisa lihat sendiri..” kata Andi sambil meremas buah dada Vivi.
“Ya sudah, yuk ah cepat mandi..!” kata Vivi sambil segera masuk ke kamar mandi.
Mereka berdua lalu mandi bersama di bawah siraman shower.
“Sudah lama sekali aku ingin seperti ini..” kata Andi sambil menyabuni tubuh Vivi dari belakang.
“Mm.. Kenapa tidak minta.. mmhh,” kata Vivi ketika tangan Andi menyabuni sambil meremas buah dadanya.
“Karena aku takut ditolak..” bisik Andi sambil terus meremas buah dada dan memainkan puting susus Vivi yang licin oleh sabun.
“Mmhh.. Mulai sekarang tidak usah takut lagiihh,” desah Vivi sambil memejamkan matanya.
“Ini apa yang menyodok pantat?” kata Vivi sambil tanganya meraih kontol Andi yang tegang menyodok pantatnya.
“Kan aku sudah bilang, bukti kalau kontol aku sudah bangun kamu akan suka..” bisik Andi sambil satu tangannya turun ke memek Vivi.
“Oww! Enak, An..” kata Vivi ketika jari Andi menggosok-gosok kelentitnya.
Sementara tangan Vivi tak henti mengocok kontol Andi.
“Jilatin memek aku, An..” desah Vivi.
“Oke.. Tapi bersihkan dulu sabunnya ya..” kata Andi.
Tak lama setelah mereka membilas sabun di tubuh mereka masing-masing, Andi berjongkok di depan Vivi. Wajahnya tepat di depan memek Vivi.
“Ohh..” desah Vivi ketika lidah Andi mulai menjilat belahan memeknya sambil melihat ke bawah ke wajah Andi yang menyusup ke selangkangannya.
“Ohh..” desah Vivi lagi sambil terpejam menengadahkan wajahnya ketika kelentitnya dijilat dan dikulum oleh lidah dan mulut Andi.
Vivi menggoyangkan memeknya seiring jilatan-jilatan dan hisapan Andi pada memeknya. Sementara Andi terus memainkan lidahnya sambil tangannya mengocok kontolnya sendiri.
“Terus, Ann.. Teruss.. Aku mau keluarrhh!!” jerit Vivi tertahan sambil memegang kepala Andi lalu mendesakkan memeknya ke wajah Andi.
“Ahh.. Ohh,” jerit Vivi sambil agak kelojotan merasakan rasa nikmat yang amat sangat seiring menyemburnya air mani di dalam memek.
Andi bangkit lalu memeluk pinggang Vivi, kemudian dilumat bibir Vivi dengan liar. Vivi membalas lumatan Andi dengan liar pula sambil tangannya memegang dan meremas pantat Andi.
“Angkat satu kakimu, Vi..” bisik Andi dengan suara serak karena desakan nafsu sambil mengarahkan kontolnnya ke memek Vivi.
Vivi menurut, diangkatnya salah satu kakinya agar kontol Andi mudah masuk ke memeknya dalam posisi berdiri. Tak lama, bless.. Kontol Andi sudah masuk ke dalam memek Vivi. Vivi segera menurunkan kakinya dan agak berjinjit mengimbangi tinggi tubuh Andi.
“Ohh, enak sekali, Vii..” bisik Andi sambil mengeluarmasukkan kontolnya.
“Ohh..” desah Vivi sambil memegang dan mendesakkan pantat Andi agar lebih dalam menyetubuhinya.
“Dari dulu aku ingin menyetubuhi kamu, Vi..” bisik Andi sambil memompa kontolnya.
“Mulai sekarang, kapanpun kamu mau.. mmhh.. Tinggal bilang sajaahh..” desah Vivi.
“Ganti posisi, Vi..” kata Andi sambil mencabut kontolnya dari memek Vivi.
“Berbaliklah..” kata Andi.
Vivi lalu berbalik membelakangi Andi. Andi lalu mengarahkan kontolnya ke lubang memek Vivi dari belakang sambil berdiri. Bless.. Kontol Andi kembali memasuki lubang kenikmatan yang selama ini diidamkannya.
“Ohh, Andi.. Enakk..” desah Vivi ketika tangan Andi meremas kedua buah dadanya dari belakang.
“Enak, sayang..” bisik Andi sambil mempercepat gerakan kontolnya tanpa mengehentikan remasan tangannya pada buah dada Vivi.
“Enakkhh..” bisik Vivi sambil terpejam.
Tangan Vivi meraih satu tangan Andi lalu membimbingnya menuju memeknya. Andi mengerti apa keinginan Vivi.
“Ohh, Andiihh..” jerit lirih Vivi ketika jari Andi menggosok-gosok kelentitnya.
“Teruss.. Terusshh..” jerit lirih Vivi semakin keras.
“Aku mau keluar lagiihh..” jerit Vivi.
“Ohh.. Ohh..” jerit Vivi sambil mendesakkan pantatnya sehingga kontol Andi masuk lebih dalam ke memeknya seiring dengan menyemburnya air mani yang kedua kali dalam memek Vivi.
“Aku juga mau keluar, Viihh..” bisik Andi sambil mempercepat gerakkannya.
“Ohh..” desah Andi.
Tak lama Andi segera melepas kontolnya dari memek Vivi.
“Isep, Vi..” bisik Andi dengan suara serak.
Vivi lalu berjongkok. Setelah mengocok kontol Andi beberapa saat, mulutnya langsung melahapnya. Jilatan dan hisapan mulut Vivi membuat Andi terpejam sambil memompa kontolnya pelan ke mulut Vivi.
“Aku mau keluar, Vii..” kata Andi.
Crott! Crott! Crott! Air mani Andi muncrat banyak di dalam mulut Vivi. Sebagian meleleh keluar dari sela bibir Vivi. Vivi dengan tenang menelan air mani Andi sampai habis. Kecuali yang meleleh keluar, dibersihkannya dengan tangan. Setelah bangkit, Vivi langsung memeluk Andi dan melumat bibirnya. Andi membalasnya dengan hangat. Begitulah, selama dua malam itu Andi dan Vivi memacu birahi saling melampiaskan birahi tanpa ada beban perasaan. Setelah selesai shooting, Vivi langsung pulang ke apartemennya.
“Gimana shootingnya?” tanya Riko sambil memeluk Vivi lalu mengecup bibirnya.
“Lancar..” kata Vivi sambil tersenyum.
“Dengan siapa kamu melewati dinginnya malam di Puncak?” tanya Riko.
“Aku menghabiskan waktu dengan Andi, sayang..” kata Vivi sambil mengecup bibir Riko.
“Bagaimana permainan dia?” tanya Riko.
“Memuaskan.. Sangat memuaskan..” jawab Vivi sambil tersenyum.
“Kamu sendiri?” tanya Vivi tanpa melepas rangkulannya pada leher Riko.
“Aku mengundang Angela ke sini..” kata Riko.
“Bagaimana rasanya?” tanya Vivi sambil tersenyum.
“Dua malam yang luar biasa..” jawab Riko.
“Aku jadi pengen tahu..” kata Vivi, “Kita cerita sambil make love, yuk..” ajak Riko.
“Ya, sayang.. Aku pengen make love dengan kamu sekarang,” jawab Vivi.
“Aku rindu padamu..” kata Riko lagi.
“Aku juga rindu padamu..” kata Vivi sambil melumat bibir Riko.
*****
Saya persembahkan cerita ini untuk Mas “X” dan Mbak “Y” juga sebagai hadiah hari jadi hubungan anda berdua yang ke-3.
E N D
- July 31st, 2008
- Posted in Umum
Baby Sitterku Sayang
Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.
Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku.
“Maaf yah, gue mau ke belakang dulu..”
“Ya.. ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah”, jawab keempat temanku.
“Ya, nanti kututup rapat”, jawabku.
Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Hmm.. hmm, Mas Ton”, Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.
“Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?” tanyaku keheranan.
Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.
Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah terhadap Mbak Marni.
“Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala.”
“Hmm.. hmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny”, jawabnya.
“Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny”, ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di lantai atas.
Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, “Mbak Marni, kamu ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?” tanyaku.
“Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny.”
“Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas”, tanyaku dan memang Mbak Marni ke atas tanpa membawa minuman.
“Hmm.. Hmm..” ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.
Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.
“Sini Mbak”
“Lebih dekat lagi”
“Lebih dekat lagi dong..”
Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di selangkanganku.
“Mas Tonny mau apa”, tanyanya.
“Mas, mau diapain Mbak”, tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke selangkanganku.
“Udah, jangan banyak tanya”, jawabku sembari aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.
“Jangan Mas.. jangan Mas Tonny”, pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.
“Jangan Mas Ton, jangan.. jangan..” tolaknya tanpa menampik tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.
Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.
“Jangan.. jangaan Mas Tonny”
“Akh.. akh.. jangaan, jangan Mas”
“Akh.. akh.. akh”
“Jangan.. Mas Tonn”
Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. “Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan ber..” tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. “Ohk.. ohk.. ohk..” desahan nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.
“Okh.. okh.. Mbak.. Mbaak”
“Teruss.. ss.. Mbak”
“Mass.. Mass.. Tonny, saya tidak kuat lagi”
Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.
“Mbak, dibuka yah celananya.” Mbak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil anjingku.
“Shs.. shss.. sh”
“Cepat dibuka”, pinta Mbak Marni.
Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.
“Massh.. Mass..”
“Mbak mau kelluaar..”
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “keluar”, tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi kemaluanku tegang. “Slepp.. slepp” Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.
“Mass.. Mass pellann dongg..” Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang surganya. “Sleep.. sleep” dan, “Heck.. heck”, suara Mbak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. “Mass.. Mass.. pelaan..” Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. “Heck.. heck.. heck.. tolong.. tollong Mass pelan-pelan” tak lama kemudian, “Mas Tonny, Mbaak keluaar laagi” Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, “Croot.. croot” spermaku masuk ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.
Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu aku keluar tadi. “Tonny.. tolong bukain dong, pintunya” Maka cepat-cepat kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh mamaku lalu kusuruh pulang.
Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah merenggut keperawanannya.
“Mbak, maafin Tonny yah!”
“Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok”
“Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir tetangga”, jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni bersedia melakukannya.
Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.
Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.
TAMAT